Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Categories:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-08-25
Words:
5,254
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
42
Bookmarks:
5
Hits:
560

The Day I Realize That Life Is So Much Better With You

Summary:

meski umurnya sudah dua puluh dua, gunwook masih mampu menemukan bahagianya di diri gyuvin. dan ada usia yang ingin ia langgengkan bersama gyuvin.

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

gunwook tidak pernah tahu bahwa keinginannya untuk hidup hanya nyala sebatas sampai ia berusia dua belas tahun.

karena, ibuk bilang, gunwook masih bisa hidup seutuhnya sebagai manusia paling tidak sampai usianya delapan belas nanti. paling tidak, sampai ia selangkah menuju dewasa. paling tidak, sebelum dia paham bagaimana dunia bergerak dan sebesar apa gravitasi yang menekan manusia untuk punya keinginan mati.

tapi, ibuk juga selalu bilang, bahwa di sana, di perapian rumah mereka yang sederhana dan selalu hangat. ibuk dan bapak akan selalu menjaga perapian di sana agar senantiasa nyala. agar gunwook tetap tahu seribu satu cara untuk tetap hidup selayaknya manusia meski ia tak lagi berusia delapan belas. meski ia sudah dewasa. meski ia sudah berkeluarga.

di usia dua belas, keinginan untuk hidup yang semestinya masih bisa panjang umur hingga enam tahun ke depan, tergilas habis bersamaan dengan jasad ibuk dan bapak yang ditemukan gunwook di pinggir jalan.


di usia dua belas, ada rumah baru yang menanti gunwook. rumah yang lebih ramai sebab diisi oleh anak-anak seusianya.

paman mengantarkan gunwook sampai ke depan gerbang. lalu, ketika ada wanita paruh baya yang menyambut mereka dengan hangat; meraih satu tas besar berisi baju gunwook, paman memberikan satu kecupan di pipi anak berusia dua belas itu dengan bisikan maaf yang tidak pernah bisa gunwook hitung.

gunwook tidak lugu untuk tahu bahwa rumah dengan halaman luas dan kebisingan asing yang biasanya hanya gunwook temui di sekolah itu ialah panti asuhan. pun gunwook tidak sepenuhnya terlelap ketika ada pertikaian antara paman dan istrinya tengah malam perihal bagaimana mereka akan mengasuh gunwook setelah ibuk dan bapak meninggal.

tidak ada banyak pertanyaan maupun sanggahan yang gunwook beri ketika paman mengajaknya berbicara. meski berkali-kali ia bertanya dan meyakinkan gunwook bahwa anak itu boleh menolak. barangkali, adik dari ibuk itu lebih hancur ketika ia harus melepas gunwook. barangkali, ia menginap semalaman di makam ibuk karena merasa bersalah sebab tidak bisa membesarkan gunwook.

namun, suasana panti asuhan itu tidak seburuk yang gunwook kira.

bangunan tua itu mengerikan di beberapa sisi. ada cat yang mengelupas juga sudut dinding yang berlumut. mungkin jika hujan, sebagian tempat perlu ditadahi wadah agar titik air yang menetes tidak menenggelamkan tempat tinggal itu. tapi, lantai yang terbuat dari kayu menghantarkan hangat di permukaan kaki gunwook alih-alih dingin. aroma nasi hangat dan sop sayur merintihkan rindu yang tak ada habisnya. dan kamar di mana gunwook akan menetap bukanlah ruang yang akan menjaganya sendirian.

ada dua ranjang di mana salah satunya dipenuhi tumpukan baju serta mainan, dan yang satunya lagi tertata rapih dengan sprei putih hangat juga bantal. ruang kamar yang minimalis. tapi ruang kamar itu tidak menjaga gunwook sendirian.

bunda, begitu wanita yang menyambut tadi meminta dirinya dipanggil, meneriakkan dengan lembut sebuah nama yang tidak pernah gunwook dengar. lalu, beberapa saat kemudian, ada derap langkah kaki yang tidak datang dari sepasang melainkan dua pasang. mereka berlarian kecil di lantai kayu yang menimbulkan nyaring yang tidak pelan.

dan seperti menjawab tanya pada kepala gunwook, nama yang bunda panggil kini datang. entah yang mana. apakah pemuda jangkung dengan mata bulat, atau justru anak berusia lima tahun di genggamannya.

“gunwook, ini gyuvin yang jadi teman sekamar kamu. dia cuma terpaut satu tahun lebih tua. nanti, gyuvin yang akan ajak gunwook berkenalan dengan teman-teman di sini.”

gyuvin, pemuda jangkung dengan mata bulat itu, mengulurkan tangan. senyumnya sumringah dengan raut ramah yang tidak mampu gunwook bahasakan.

“park gunwook,” sambut yang lebih muda, mengenalkan diri.

“aku gyuvin.”

“gyuvin...?” ada jeda yang menengahi mereka sebab hening yang sengaja gunwook buat menuntut lebih lanjut nama pemuda itu. seakan mengerti apa yang gunwook pinta, yang lebih tua tergelak sejenak.

“gyuvin aja,” simpulnya. “di sini kami tidak pakai nama keluarga.”

gunwook punya banyak pr hari itu. salah satunya ialah beradaptasi dengan lingkungan baru yang tidak pernah ia kenal. salah satu lainnya adalah terjaga tengah malam, mencoba melepas pelan-pelan eksistensi ibuk dan bapak yang masih lekang di benaknya.


menjadi teman sekamar gyuvin justru membuat gunwook jauh lebih dalam mengenali entitas itu dibandingkan bagaimana seharusnya ia mengenal lingkungan panti asuhan secara komprehensif.

gyuvin adalah anak laki-laki paling tua di panti. ia juga penghuni paling lama di sana. barang kali, dua poin itu yang menjadikan gyuvin sebagai tangan kanan bunda dalam mengurus adik-adiknya yang lain.

gyuvin akan bangun paling pagi bahkan sebelum ayam bersuara. ia akan menyisir satu per satu kamar anak-anak, mengecek apakah ada satu dari mereka yang masih terjaga atau mengompol lantaran terlalu takut pergi ke kamar mandi kala malam.

anak paling muda di sana, yang selalu mengekori gyuvin bahkan di hari ketika gunwook datang, kadang kala menyusup masuk ke dalam selimut dan terlelap memeluk gyuvin. namanya yujin jika tanpa nama keluarga. dan gunwook khawatir jika yujin memang adik kandung gyuvin.

“bukan kok,” gyuvin menjawab pertanyaan itu sambil menjemur sprei putih milik kalei. semalam, kalei muntah dan gyuvin perlu mengurusnya selagi gunwook menuruni tangga dan memanggil bunda. gunwook di belakang membantu mengangkat pakaian kemarin sore yang sudah kering. “orang tua yujin datang dan menitipkan yujin waktu aku sudah di sini. jadi bisa kupastikan kalau kami gak sedarah.”

rahang gunwook jatuh ke bawah. dan agaknya gyuvin kelewat peka untuk menyadari jika ada pelajaran baru yang perlu ia beri kepada gunwook siang itu.

“gak semua anak di sini sudah yatim piatu secara harfiah, tau,” terang gyuvin. “banyak yang menitipkan anak ke sini karena mereka memang gak mampu secara ekonomi. kalau orang tua yujin karena keduanya mau jadi tenaga kerja asing ke luar negeri.”

“berarti mereka gak bisa diadopsi?” tanya gunwook. meski matanya cuma mampu menatap punggung gyuvin yang masih sibuk menjemur, ia bisa menangkap gelengan singkat sebagai jawaban yang lebih tua.

“tetap bisa kok,” jawaban itu terjeda sejenak. mungkin karena fokusnya yang terbelah antara sprei, gunwook, juga yujin kecil yang berlarian di antara jemuran kain putih yang basah. “mereka berharapnya juga anak-anak di sini bisa hidup dan diadopsi dengan keluarga yang lebih baik.”

gunwook menjilat bibir bawahnya. “kalau orang tua kamu?”

siang itu, ada angin yang embusnya lebih kencang dari hari-hari biasa. membawa sprei bantal yang sudah setengah kering selagi yujin kecil menjerit kesenangan; namun gyuvin membatu di tempat seakan ada kelu yang menjamah saraf di dirinya.

pertanyaan itu lebur bersama angin dan menjadi sunyi ketika gyuvin mengambil langkah pergi bersama dengan yujin di gendongannya.

samar-samar dari balik dinding, gunwook mendengar gyuvin meminta maaf pada kalei karena sarung bantalnya yang terbang dibawa angin. kalei menangis kencang. tapi suara gyuvin lembut menenangkan. gyuvin bilang, ia akan menggantinya dengan sprei milik gyuvin.


“kamu tidak kedinginan?”

gunwook bertanya hati-hati pada gyuvin yang berbaring memunggungi gunwook. sejak kemarin, pemuda itu terlelap di kasur yang telanjang. tidak ada sprei, sarung bantal, maupun selimut. sebagai penebusan dosa, semua ia berikan kepada kalei selagi menunggu bunda membeli yang baru esok pagi.

kemarin malam, gunwook beberapa kali mendapati derit ranjang gyuvin. yang lebih tua terus mengganti posisi. mungkin karena permukaan kasur yang kasar tidak memberikannya rasa nyaman selagi angin bergemerisik masuk melalui sela-sela jendela yang tidak tertutup rapat.

malam ini, gunwook memberanikan diri untuk kembali mengajak gyuvin bicara sebab kemarin kamar mereka menjelma menjadi ruangan yang bisu dan tak berbahasa. tidak ada yujin kecil sebab selimut tempat anak itu menyelinap kini sudah berpindah posisi.

“maaf ya.” gyuvin tidak membalikkan diri.

“maaf buat apa?”

“karena pertanyaan aku kemarin,” tutur gunwook. ruang kamar mereka gelap dan dingin. entah bagaimana, manik kelam gunwook mampu menemukan presensi gyuvin serta menerka-nerka posisi apa yang pemuda itu tengah lakukan.

tapi, tidak ada jawaban dari ucapan gunwook malam itu. deru napas gyuvin tidak konstan. sesaat terdengar berat, dan sesaat lagi bergema akibat dingin. semuanya begitu jelas untuk gunwook simpulkan bahwa pemuda itu belum terlelap.

“aku terkadang kangen ibuk dan bapak. dan kamu selalu ada di minggu pertama waktu aku masih suka menangis di sini. kamu sering nenangin aku dan nemenin aku sampe tidur, padahal kamu sendiri selalu bangun lebih awal. mungkin, kalau bukan karena kamu, aku masih nangisin ibuk dan bapak sambil berandai kenapa aku gak ikut pergi aja sama mereka.”

gunwook pikir, mungkin ia memang melantur mengingat kini malam semakin larut dan isi kepalanya setengah mengawang.

“kamu banyak tau soal ibuk dan bapak. orang tua seperti apa mereka. pekerjaan mereka. apa yang selalu ibuk sampaikan ke aku sebelum tidur,” ada memori yang terpantik di celah ingatan gunwook kala gyuvin menemaninya terjaga setengah malam dan mendengarkan ceritanya soal ibuk dan bapak.

meski cerita itu panjang dan di sebagian waktu terulang, gyuvin anteng di ranjang tempatnya selagi berbaring berhadapan dengan gunwook yang menangis.

ruang kamar selalu gelap di malam hari karena bunda akan rutin memastikan bawah anak-anak sudah tertidur di setiap jam 10 malam. tapi, semburat cahaya rembulan yang mengintip dari tirai seperti menghadirkan binar di kedua bola mata gyuvin yang begitu atentif selagi mendengar gunwook bercerita.

gyuvin tidak pernah terlelap duluan. ia akan memastikan bahwa gunwook lah yang berhenti berbicara lantaran lelah menangis. dan setelah itu, baru gyuvin membetulkan posisinya (dan posisi yujin jika anak itu kembali menyelinap masuk ke dalam selimutnya).

“aku juga mau menjaga kamu,” menjadi panggilan yang mengundang gyuvin untuk tertidur di satu ranjang bersama gunwook malam itu. keduanya berbagi selimut meski ujung-ujung kaki mereka menyembul.

gyuvin bercerita perihal banyak hal. soal orang tuanya yang tidak pernah ia temui. soal bunda yang menemukan gyuvin di depan gerbang kala dia masih berumur dua tahun dan seorang diri di stroller lusuh. juga soal gyuvin yang tidak pernah terpilih menjadi anak yang diadopsi.

“mereka memilih anak yang pintar. dan kebetulan aku bodoh. lama-lama, anak sepantaranku pergi bersama keluarga baru mereka. sisa aku di sini bersama bunda menyambut anak-anak baru.”

tangan gunwook menjalar mengusap punggung gyuvin. “nanti pasti akan ada yang datang untuk kamu.”

gyuvin terkekeh. tawanya yang lembut itu terpendam bersama dengan wajahnya yang ia tenggelamkan pada dada gunwook. “aku sudah terlalu tua buat diadopsi. banyak orang tua yang menganggap kalau anak smp sudah terlalu sulit untuk dirawat. anak-anak seperti yujin dan yang lain adalah pilihan sempurna. mereka masih belia. dan orang tua yang akan mengadopsi masih punya waktu untuk mendidik mereka dari awal.”

“kamu tidak sulit dirawat, kok,” halau gunwook. “kamu baik dan manis. kamu menjaga anak-anak di sini lebih baik dari orang tua yang tidak bertanggung jawab dan meninggalkan anak-anaknya.”

“mungkin karena itu,” gumam gyuvin. ada ruang yang kembali dirinya bangun selagi ia menengadahkan kepala, menatap wajah gunwook yang kini jaraknya hanya beberapa senti. “punya keluarga baru bukan jadi tujuanku lagi. aku senang di sini. menjaga anak-anak yang lain.”

“seperti menjadi orang tua mereka?”

hari itu, ada pertanyaan yang tidak kembali gyuvin jawab. yang lebih tua terlelap, dengan deru napas yang kali ini terasa lebih mendayu seperti nyanyian gereja. hari itu, gunwook yang bangun lebih pagi menelusuri kamar adik-adiknya, memastikan bahwa mereka semua sudah terlelap dan tidak ada kasur yang basah akibat kencing maupun muntah.


“aku gak paham kenapa kamu gak mau kuliah.”

awal musim gugur keenam sejak kedatangan gunwook, tidak ada yang banyak berubah dari suasana panti asuhan selain keduanya memijaki fase akhir remaja. tahun ini, gunwook menginjak tahun terakhirnya di sekolah sedangkan gyuvin sudah lulus. tidak dengan nilai yang baik, tapi tidak dengan nilai yang buruk pula.

gunwook ingat ketika gyuvin beberapa kali dipanggil ke ruangan bunda. mungkin diajak berbicara mengenai keputusannya yang enggan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. di setiap akhir sesi perbincangan yang tertutup itu, hanya bunda yang keluar dengan air wajah sedih. sedangkan gyuvin hanya mampu menunjukkan raut yang tidak pernah bisa gunwook tebak.

gyuvin adalah anak yang manis dan baik. begitu presensinya tertanam di kepala gunwook. di hari-hari sekolah, gyuvin akan bangun pukul empat pagi untuk menyiapkan pakaian adik-adiknya dan memasak air hangat untuk mandi. bunda akan memasak di dapur. jika sempat, gyuvin akan turun membantu menyiapkan piring serta gelas. sepulang sekolah, gyuvin akan mencuci seragam adik-adiknya.

mustahil jika gunwook hanya diam tanpa menawarkan bantuan, sedang gyuvin berlarian sejak pagi buta. gunwook membangunkan anak-anak selagi gyuvin menyiapkan seragam mereka. gunwook mengisi bak air dingin selagi gyuvin memasak air panas. gunwook mengajak anak-anak mengerjakan pr selagi gyuvin mencuci seragam.

gyuvin adalah anak yang manis dan baik. dan gunwook paham kenapa bunda begitu jatuh hati pada anak yang pendar bola matanya seterang cahaya bintang. paling tidak, di sela memori kepala gunwook, ia ingat jika gyuvin hanya pernah membuat bunda menangis dua kali.

kali pertama ketika gyuvin terjatuh dari pohon lantaran mencoba untuk mengambil kok yujin yang tersangkut. tangan kanannya patah dan meninggalkan luka robek yang panjang di sekujur lengan. yujin kecil berlari ke dalam panti dengan tangisan dan silabel yang tidak mudah dipahami. tapi, jari-jarinya yang kecil meraih tangan bunda dan menuntunnya menuju gyuvin yang sudah berlumuran darah di lengan kanan.

tidak ada dari bunda atau penjaga panti lain yang paham mengendarai mobil. sedangkan supir yang biasa mengantar anak-anak ke sekolah saat itu tidak di tempat karena hari libur. maka, gunwook yang mengambil alih. ia membawa gyuvin ke punggungnya untuk digendong. ada anyir yang begitu kentara masuk ke dalam penciuman gunwook sebab darah di tangan gyuvin mengalir ke kaus putihnya.

gunwook berlari dengan gyuvin yang setengah sadar di gendongannya. sedangkan bunda tertatih-tatih mencoba menyamai laju gunwook. wanita itu bahkan lupa mengenakan sandal dan berlari menelusuri jalan dengan kaki yang telanjang.

ada cinta yang wujudnya begitu transparan yang bunda punya pada gyuvin. dan wujud itu terlihat pada air mata bunda yang terus mengalir di sepanjang babak sampai akhirnya gyuvin dikabarkan baik-baik saja. meski tangan kanannya perlu di-gips dengan total 40 jahitan di lengan kanan.

wujud cinta yang nyata dan hadir eksistensinya adalah cinta yang membesarkan gyuvin. cinta yang banyak mengajarkan gyuvin untuk mengasihi.

melihat bunda menangis menjadi refleksi trauma tersendiri yang tumbuh dan mekar di kepala gyuvin. hingga dari sana, anak laki-laki itu mulai menjaga baik-baik air mata bunda agar tidak jatuh. sebab setelah sepenuhnya sembuh, gyuvin bangun lebih awal dan tidur lebih akhir. ia mengerjakan pekerjaan yang biasa bunda lakukan. ia melakukan semua cara agar wanita itu tidak lagi sedih.

meski pada akhirnya, untuk kali kedua, gyuvin kembali membuat bunda menangis ketika ia memantapkan diri untuk tidak melanjutkan kuliah.

“kuliah itu membingungkan.”

pertanyaan gunwook yang dihadiahi jeda panjang akhirnya diberi satu jawaban. malam itu, mereka tidak menghabiskan malam di ruang kamar melainkan atap panti yang sudah keduanya sulap menjadi tempat paling nyaman untuk berbagi cerita.

“membingungkan kenapa?” gunwook kembali membubuhi tanda tanya.

“entah. aku cuma... gak bisa melihat itu di diri aku. berkuliah dengan jadwal yang gak menentu. mungkin harus pulang malam karena ada keperluan lain. aku cuma gak bisa melihat bayangan itu.”

pandangan gunwook mungkin menyimpan lebih banyak tanda tanya ketimbang apa yang berhasil ia muntahkan. “kamu bingung dengan jurusannya?” ia memastikan, mencoba menggali jawaban dari diam yang gyuvin berikan. “kamu bisa masuk ke pgsd kalau memang suka anak-anak. atau ke seni tari? kamu aktif di klub menari kan? atau ke hukum? aku dengar kerja di hukum uangnya banyak. kamu gak suka hitung-hitungan ya? berarti gak perlu lintas jurusan. atau ilmu komunikasi saja bagaimana? sepertinya—”

“gunwook, ini bukan soal jurusannya.” kening gunwook mengernyit.

“terus soal apa?”

“soal biayanya, gunwook.”

kali ini, hening itu lahirnya dari bagaimana mulut gunwook terkatup dan ada badai yang justru hinggap di seisi kepalanya. “biaya apa, gyuvin?” lirih pertanyaan itu keluar dari belah bibir gunwook. “kita semua dijamin pendidikannya sama yayasan. semuanya seperti sekolah aja, kan? kamu cuma perlu lulus dan lanjut ke jenjang selanjutnya. yayasan yang akan nanggung biaya kuliahnya. bukan kamu. bukan bunda. kamu gak perlu khawatir soal itu?”

“aku khawatir soal biaya kuliah kamu nanti!”

suara gyuvin meninggi. ada urat yang menyembul di jenjang lehernya, mencekik saluran pernapasannya hingga deru napas pemuda itu naik turun secara berantakan. gyuvin tersengal, seakan itu adalah sisa napas terakhirnya malam itu.

“aku tau kamu mau masuk arsitektur,” tutur gyuvin. kali ini, intonasinya menurun. kali ini, suaranya mengalun lebih lembut dan setengah berbisik. “kampus yayasan gak menyediakan jurusan itu. kamu harus ikut tes, kuliah di kampus lain, dan aku harus cari uang buat kamu.”

rasanya, seperti ada beban berat yang jatuh menimpa dada gunwook. beban yang copot dari pegasnya sehingga ia jatuh tanpa perhitungan dan aba-aba. gunwook tidak pernah tahu jika mimpi yang selama ini ia coba simpan sendirian akan tetap sampai ke gyuvin. gunwook tidak pernah tau jika mimpinya ialah alasan dibalik kegaduhan panti akhir-akhir ini.

“aku masih punya satu tahun buat mempertimbangkan ini, gyuvin,” ada gumam yang merintih sama tirisnya ketika gunwook merespons kalimat gyuvin. “gak ada yang tau jurusan apa yang mau aku pilih nanti. bisa jadi aku tiba-tiba ingin ke hukum? bisa jadi dokter? aku gak masalah masuk jurusan apa aja, gyuvin. apapun itu asal gak merebut mimpi kamu—”

“aku gak punya mimpi, gunwook,” lugas gyuvin. entah bagaimana, kini jarak yang menengahi mereka sudah sempit ruangnya. menyisakan kedua anak adam yang saling berhadapan dengan deru napas yang menyapu permukaan kulit wajah masing-masing. “jadi dokter, hakim, guru. aku gak punya mimpi untuk jadi apapun dari salah satu itu.”

gyuvin mendekatkan kening mereka pada satu sama lain. dan gunwook menyambut itu sebagaimana kedua telapak tangan yang lebih muda kini menangkup wajah yang lebih tua dengan penuh hati-hati. “tapi kamu punya mimpi, gunwook,” gyuvin berbisik lirih. bisik yang bahkan semut pun sangsi dapat mendengarnya atau tidak. tapi gunwook menangkap frasa itu sebaik-baiknya cara yang ia punya untuk selalu memahami diri gyuvin yang penuh teka-teki. “kamu punya mimpi dan aku gak mau kamu sampai melepas mimpi itu.”

tangan gyuvin meraih jemari milik gunwook yang masih menangkup wajahnya. menggenggam tangan yang sedikit lebih besar darinya dengan sisa kekuatan yang ia punya. seakan, di genggaman itu, keduanya berbahasa melalui suhu hangat yang saling menghantarkan satu sama lain.

di kepala gunwook, gyuvin akan selamanya menjadi kepingan puzzle yang berantakan dan sulit untuk dimengerti. tapi gunwook akan menyusunnya. dan gunwook akan selalu tenggelam bersama tanda tanya itu jika jawabannya adalah segala hal yang mampu ia upayakan untuk memahami gyuvin.


ada dermaga kecil di dekat panti asuhan yang selalu didatangi gunwook dan gyuvin di sore hari. biasanya, bunda akan memarahi keduanya tiap kali mereka tertangkap basah bermain di sana. bahaya, katanya. karena dermaga itu sering kali sepi dan tak ada orang dewasa yang mengawasi.

minggu lalu, bunda sampai di akhir usianya. gunwook harus meminjam motor temannya dan mengebut di tengah malam dari indekosnya ke panti. kabar itu gunwook terima dari pengurus panti; dan di aliran kesedihan yang memenuhi kepala gunwook, ada amarah yang juga timbul ketika ia sadar, mengapa bukan gyuvin yang mengabarinya?

suasana panti begitu sibuk ketika gunwook sampai di sana. adik-adiknya menangisi jasad bunda yang sudah terbaring di dalam peti. pandangan gunwook mengedar, mencoba mencari presensi di tengah keramaian panti—mencoba mencari gyuvin yang setelahnya ia temukan tengah menyusun bunga untuk menghiasi peti bunda.

tapi, ketika pandangan keduanya bersisian, tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut gyuvin. tatapan keduanya putus tatkala yang lebih tua melengos pergi. dan gunwook tak mengerti mengapa kesedihan malam itu seperti menyulap gyuvin menjadi presensi yang berbeda.

di hari keempat, perlahan suasana panti mulai kembali sunyi dan sepi. jasad bunda sudah dimakamkan. orang-orang yang berkunjung kini tak lagi menampakkan wajah mereka. masih ada selebrasi kesedihan yang adik-adiknya rayakan sehingga mereka lebih banyak menetap di kamar dan hanya akan keluar di jam makan. sedangkan pengurus panti sengaja gyuvin minta untuk beristirahat sebab mereka tak tidur selama tiga hari terakhir.

di hari keempat, ada keributan yang keduanya buat di halaman seusai tidak saling berbicara. gunwook hanya mencoba memastikan kesalahan apa yang sekiranya ia buat sehingga selama empat hari gunwook akhirnya pulang, dia justru menjadi satu-satunya presensi yang tidak gyuvin ajak bicara.

tapi, gyuvin justru menampar pipi kanan gunwook dengan keras. tangan yang tidak pernah ia gunakan untuk menyakiti orang, siang itu membuat kehadiran pertamanya di wajah gunwook.

“aku gak paham kenapa kamu ada di sini?” kelu itu bercampur perasaan terkejut ketika gunwook menerima perih yang bermuara di pipinya. perih yang pelan-pelan menjalar menjadi panas yang tidak mampu dipadamkan. kelu itu memberikan ruang bagi gyuvin untuk berbicara. “aku gak paham kenapa kamu masih ada di sini, kenapa kamu gak balik ke kos kamu, kenapa kamu gak kuliah. aku gak paham.”

pandangan gunwook meremang oleh air mata. sebab kali ini, perasaan sakit itu wujudnya hadir dalam akumulasi yang tidak mampu ia terka. betulkah dari perih di pipinya atau justru klausa gyuvin yang mencekik dadanya hingga setengah mati?

“gyuvin, bunda meninggal. makanya aku—”

“kamu harusnya gak di sini...,” lirih gyuvin. “kamu harusnya gak di sini. kamu harusnya kuliah. kamu harusnya gak sibuk ngurusin hal-hal kayak gini, gunwook— pulang. tolong pulang. kamu harus kuliah. kamu—”

“AKU JUGA BISA BERDUKA GYUVIN!”

ada kumparan kesedihan yang bercampur rasa marah dalam bagaimana gunwook meninggikan suaranya siang itu. barang kali, terpisah jarak semenjak gunwook kuliah membuat cara keduanya berkomunikasi kini terasa lebih cacat. dan keduanya tidak pernah siap untuk kembali dipertemukan dalam amukan duka yang tidak kunjung reda.

maka, setelah itu keduanya berjalan menjauhi satu sama lain, kembali menyambung tali sunyi yang mengikat mereka sejak empat hari lalu.

di jam makan malam, kursi yang biasanya gyuvin tempati kosong meski meja sudah penuh oleh nasi dan lauk. gunwook menyendokan nasi pada satu per satu piring sembari bercerita kalau malam ini gyuvin punya keperluan lain dan kakak tertua mereka sudah menyantap makan malamnya terlebih dahulu. tidak ada yang bertanya lebih lanjut perihal kemana gyuvin pergi dan keperluan apa yang pria itu lakukan. anak-anak menyantap makan malam mereka dalam keheningan yang membunuh.

gunwook pikir, duka itu masih basah lukanya.

gunwook hanya tidak tahu bahwa pertikaiannya dengan gyuvin siang itu sampai ke telinga mereka. dan mereka cuma ingin memberi ruang pada kedua anak laki-laki tertua di sana untuk membenahi benang kusut yang mereka bangun.

menjelang pukul dua dini hari, gyuvin belum pulang. setiap lima menit sekali, gunwook akan mengecek dari balik jendela kamar yang terarah pada gerbang. dia tahu gyuvin tidak membawa kunci—maka gerbang gunwook biarkan terbuka, sedangkan lampu-lampu menyala kecuali lampu kamar anak-anak. tapi, gyuvin tidak kembali. dan ada yang lebih menyeramkan dibandingkan hantu ketika skenario paling buruk tiba di kepala gunwook.

gunwook berlari menelusuri jalanan yang selalu ia lalui bersama gyuvin, mengabsen satu per satu tempat yang mungkin akan laki-laki itu jadikan tempat singgah. gunwook menjelajahi warung nasi sampai warung kecil yang tutup. gunwook berlari ke lapangan kosong dan tidak menemukan apa-apa. tidak ada yang tahu, apakah air yang menetes saat itu di wajah gunwook ialah peluh atau air mata.

dermaga kecil menjadi pemberhentian terakhir yang membawa kaki-kaki gunwook berpijak. dunia seakan tahu bahwa gunwook sudah berada di ambang terakhirnya sehingga ia berhenti melempar lelucon.

di sana, gunwook menemukan gyuvin terduduk di pinggir jembatan kayu. kakinya menyentuh air laut yang dingin, sedangkan sepasang sepatunya ia letakkan di sebelah. sepatu yang bunda belikan dua tahun lalu dan entah bagaimana masih begitu apik tampilannya.

di tangan gyuvin, ada buket bunga lily yang ia dekap rapat. bunga yang selalu hadir di sudut panti sebab bunda begitu cinta pada bunga putih itu. juga bunga yang memenuhi peti bunda karena gyuvin merangkainya dengan cantik. memastikan jika bunga kesukaan bunda mengantarnya sampai ke peristirahatan terakhir.

gunwook lupa jika gyuvin lah yang paling banyak kehilangan atas perginya bunda tempo hari.

usia gyuvin dua puluh tahun, dan selama delapan belas tahun ia tumbuh besar bersama bunda dan mengenalnya sebagai satu-satunya sosok orang tua yang ia punya. gyuvin tumbuh besar bersama dengan usia bunda; dan keduanya mengisi setiap ruang panti dengan memori yang tidak akan pernah habis masa.

tidak ada yang bicara di antara mereka ketika gunwook membawa dirinya duduk di samping gyuvin. tapi, ketika lengannya terbuka dan memberi sinyal jika gyuvin boleh beristirahat di sana, yang lebih tua langsung jatuh dan meraung kencang. suaranya meraih deru angin yang membawa datang ombak kecil. membangunkan ikan-ikan yang ikut menangis karena ada duka hebat yang masuk ke dalam perairan.

gyuvin kehilangan. dan di lain sisi, ia juga kebingungan.

dekapan malam itu membawa gunwook paham bahwa ada banyak hal yang berlarian di kepala gyuvin dan tidak pernah membiarkan anak itu rehat barang sejenak. perihal bagaimana kehidupan anak-anak nanti setelah ini—kepala panti mungkin akan diganti, tapi gyuvin khawatir soal bagaimana adik-adiknya akan beradaptasi dengan kehidupan yang tidak ada bunda di dalamnya.

akan selalu ada kemungkinan-kemungkinan yang tidak bisa gyuvin duga untuk ke depannya. mungkin, mereka akan dipindahkan ke bangunan lain. mungkin, adik-adiknya akan diadopsi oleh petinggi yayasan jika terburuknya tidak ada kepala panti yang menggantikan. mungkin, gyuvin tidak akan lagi diperbolehkan tinggal di sana karena dianggap sudah dewasa dan mampu menghidupi dirinya sendiri. mungkin, ia akan terpisah dengan adik-adiknya dengan segala hal yang memungkinkan.

mungkin. mungkin. mungkin.

gyuvin kehilangan dan kebingungan. tapi yang menikam dada gunwook lebih keji ialah kenyataan bahwa gyuvin merasa sendirian. sebab, jauh jarak yang memisahkan mereka selama gunwook kuliah menciptakan ruang komunikasi kosong dan membangun kesendirian yang perlahan mengikis eksistensi gunwook di sukma gyuvin. dan ia menampung seluruh kehilangan disertai kebingungan itu sendirian tanpa mau berbagi.

pukul empat pagi, ketika angin mulai berembus tenang bersama dengan deru napas gyuvin yang damai, ada konversasi yang akhirnya terbuka di antara mereka. konversasi yang layak. konversasi yang sebetulnya.

“kamu tau apa yang aku dan bunda bicarakan waktu aku berkali-kali dipanggil ke ruangannya karena menolak melanjutkan kuliah?”

posisi malam itu gunwook tandai sebagai posisi paling hangat terlepas keduanya yang berada di sisi dermaga. kepala gyuvin bersandar di pundak gunwook. ada kedua tangan yang menggenggam satu sama lain, dengan jari jemari yang saling mengisi ruang di antara celah yang ada.

“alasan kenapa kamu gak mau kuliah?”

gyuvin menggeleng. “kalau itu sudah pasti. aku gak mungkin diizinkan kerja kalau gak punya alasan yang pasti,” kekehnya. di dekapannya, ada buket bunga lily yang mulai rontok kelopaknya sebab gyuvin terus memetik dan menghanyutkannya ke dalam air.

“terus apa?”

“bunda bertanya soal apa mimpi aku,” ungkap gyuvin singkat. memorinya kembali memutar kepingan ingatan ketika ia terjebak di ruangan bunda—menyaksikan wanita itu memijat pelipisnya tak habis pikir atas keputusan yang gyuvin ambil. “bunda sempat berpikir sama seperti kamu. bunda kira, aku cuma kebingungan menentukan jurusan apa yang cocok dengan aku. makanya, dia bertanya aku mau menjadi apa. nanti akan dia bantu petakan agar aku bisa menemukan jurusan yang sesuai dengan kemauan aku.”

cerita itu begitu asing di telinga gunwook. sebab tak ada yang pernah mengungkit apapun konversasi yang terjalin di dalam ruangan bunda setiap kali gyuvin dipanggil ke sana. tapi, pagi itu, gyuvin membuka cerita yang selama ini ia lumat sendiri.

“apa yang kamu jawab?”

ada keheningan yang membersamai mereka, memberikan celah bagi angin untuk bergemerisik bersama debur ombak yang menyapu permukaan kulit kaki mereka.

“aku... mau jadi ibu...” ada jeda yang panjang di setiap silabel kata yang keluar dari mulut gyuvin. namun, jeda itu memberi yakin pada frasa yang tumpang tindih. hening itu abadi—paling tidak sampai dua menit ke depan. sampai gyuvin akhirnya menyusul kalimat tersebut dengan tawanya yang renyah. “aneh ya karena laki-laki mimpinya mau jadi ibu?”

dengan cepat gunwook menggeleng. dan gelengan itu memberi setengah kekuatan pada yang lebih tua melebihi dari apa yang mampu gunwook maknai.

“semua orang bisa jadi apa saja, gyuvin.”

kepala gyuvin menggeliat sejenak, mencari posisi bersandar yang lebih nyaman di pundak gunwook. “aku cuma berpikir kalau... menjadi ibu adalah suatu hal yang luar biasa... dan banyak hal yang mungkin gak bisa aku lakukan jika aku adalah seorang ayah.”

mata gyuvin terpejam. entah karena kantuk yang pelan-pelan mulai menyapu wajahnya atau angin di pagi hari itu lebih sejuk hingga membisikkan nyaman di seisi kepalanya yang riuh sejak kemarin.

“aku gak ingin menjadi dokter atau guru. aku cuma mau menjadi apapun yang aku lihat di diri bunda. aku ingin di rumah dan menjaga anak-anak. aku ingin bangun pagi, menyiapkan seragam, air panas, sarapan, dan mengecup kening mereka satu-satu ketika mereka pergi.”

remat tangan gunwook semakin erat melingkari tangan gyuvin. “nanti aku yang bangunkan anak-anak, aku yang menyiapkan air dingin, piring dan gelas, dan mengantar anak-anak ke sekolah?”

pandangan gyuvin menengadah, menatap wajah gunwook yang padam—entah karena udara pagi yang dingin, atau memang gunwook secara natural punya rona merah di pipinya. atau mungkin ini cuma imajinasi gyuvin yang berlarian di tengah kantuknya.

tapi, gyuvin suka gagasan itu. gyuvin menyukai segala konsepsi rumah hangat yang menjadikannya hidup memberi kasih sayang. gyuvin ingin tumbuh mengasihi sebanyak-banyaknya cinta yang dia punya, karena anak-anak yang tidak punya rumah dan orang tua berhak untuk tetap mendapatkan cinta. dan gagasan itu terasa lebih sempurna dengan gunwook di dalamnya.

gyuvin masih ingin bangun di pagi hari bersama gunwook. gyuvin masih ingin menyiapkan seragam anak-anak selagi gunwook membangunkan satu per satu dari mereka. gyuvin masih ingin memasak air panas untuk mandi sedangkan gunwook mengisi bak dengan takaran yang pas agar ada air hangat untuk anak-anak. gyuvin masih ingin menyiapkan makan pagi dan bekal untuk anak-anak selagi gunwook menyiapkan piring, gelas, dan kotak bekal. gyuvin masih ingin mengucapkan sampai jumpa pada anak-anak yang akan berangkat sekolah, sedangkan gunwook sudah siap di mobil mengantar mereka.

pagi itu, gunwook dan gyuvin berjalan menelusuri dermaga. tidak ada hari sekolah karena gyuvin sudah meminta izin libur satu minggu agar adik-adiknya dapat berduka lebih lama. mereka pulang dengan ikan segar yang dibeli. ada menu ikan goreng untuk sarapan pagi itu meski dibumbui oleh kegaduhan sebab itu kali pertama pula gyuvin membawa pulang ikan hidup yang berakhir melompat ke dalam minyak panas.

pagi itu, suasana panti asuhan kembali menghangat meski masih ada sisa duka yang menempel pada dinding. bagi anak-anak, kehilangan itu seperti ada penggantinya ketika yang meramaikan ruang makan di pagi hari adalah ricuh suara gyuvin dan gunwook yang sudah lama tidak mereka dengar.

mereka kehilangan satu orang dewasa dan menyambut dua lainnya yang berani memberi cinta yang sama luasnya.


“kamu tau,” suara gunwook memecah sunyi yang tercipta ketika gyuvin dan dirinya memutuskan melipir ke taman kota pada malam sebelum hari kelulusan gunwook. “dulu, ibuk pernah cerita jika masa manusia bisa seutuhnya berbahagia cuma sampai dia berusia delapan belas.”

sebelah alis gyuvin terangkat skeptis. “oh ya? apa yang terjadi di usia sesudah delapan belas?”

“dewasa,” jawab gunwook singkat. “orang-orang akan beranjak dewasa dan lama-lama mereka lupa memaknai bahagia sebagai manusia.”

tertarik dengan topik yang dibawakan oleh yang lebih muda, maka gyuvin membawa posisi duduknya sedikit menyerong menghadap ke arah gunwook. “berapa usia kamu sekarang? dua puluh dua?” ada satu anggukkan yang gunwook beri, mengiyakan pertanyaan gyuvin. “terus bagaimana kamu sekarang? sudah tidak bahagia?”

buru-buru gunwook menggelengkan kepalanya. “aku pikir aku sudah tidak lagi bahagia waktu umurku dua belas—waktu ibuk dan bapak meninggal. tapi ternyata bahagiaku masih nyala sampai di umur dua puluh dua waktu aku berpikir kalau aku perlu hidup jauh lebih lama untuk orang ini.”

tahun berlalu semenjak kepergian bunda dan gunwook memutuskan untuk tidak lagi menyewa kamar indekos di dekat kampusnya. meski ia perlu pergi lebih pagi dan kembali lebih malam—juga menyusun jadwal krs agar tidak mendapat kelas yang terlalu pagi.

tahun berlalu semenjak kepergian bunda dan bangunan panti asuhan masih hidup dengan jumlah yang sama. tak bertambah dan berkurang. tidak ada kepala panti yang menggantikan, maka yayasan memutuskan untuk tidak menghidupkan panti asuhan dengan sepenuhnya fungsi yang sedia kala. bangunan itu dijadikan rumah bagi anak-anak yang tersisa dan gyuvin sudah cukup dewasa untuk dipercayai menjaga anak-anak. beberapa minggu sekali, petinggi yayasan akan datang berkunjung untuk mengawasi dan mereka akan memuji betapa banyak diri mereka melihat mendiang bunda di tubuh gyuvin.

tahun berlalu semenjak kepergian bunda, dan gyuvin tidak lagi menjadi teka-teki yang sulit gunwook pahami. gyuvin menjelma menjadi materi yang telah gunwook hapal di luar kepalanya.

gyuvin yang mudah menangis karena hatinya yang lembut. gyuvin yang terlalu besar mencintai sehingga kadang kala gunwook dibuat khawatir. gyuvin yang ceroboh dan bisa melukai dirinya dengan perkakas dapur paling tidak dua kali seminggu. gyuvin yang merayakan yujin yang mendapat peringka dua puluh tiga. gyuvin yang melingkari tanggal lahir anak-anak di kalender dengan spidol merahnya. gyuvin yang menghidupkan seisi panti dengan hangat yang dia punya.

gyuvin yang mematahkan ucapan ibuk gunwook yang bilang bahwa masa bahagia seseorang hanya berlangsung sampai mereka di umur delapan belas.

karena, meski umurnya sudah dua puluh dua, gunwook masih mampu menemukan bahagianya di diri gyuvin.

dan masih ada usia yang ingin ia langgengkan bersama gyuvin.

“kamu hidup untuk siapa, gunwook?”

“aku hidup untuk kamu, gyuvin.”

Notes:

this story was also uploaded on my twitter account at @seraphenes