Chapter Text
Biasanya, Mark setiap harinya akan dipenuhi dengan perasaan merah menyala, seperti larik-larik anggur merah pada pagar para pedagang, ranum matang dengan air yang pecah di setiap gigitannya. Tapi hari ini sangat berbeda, perasaannya lebih terlihat kelabu. Gelap dengan mendung serta petir yang menyambar. Dia baru saja pulang dari berburu mingguannya, mendapatkan satu ekor kelinci untuk dibuat kuah sedap bumbu cabai koki terbaik di istana.
Namun kesenangan itu berubah menjadi amarah saat sang ayah memanggilnya untuk datang ke ruangan aula tempat singgasana berada, hanya raja seorang dan beberapa perdana menteri yang berada di dalam ruangan, tak ada yang mulia ratu sebagai pendamping satu tahta yang kosong di samping yang mulia raja.
"Aku tidak ingin menikah! Aku masih muda, dan aku tidak ingin terlibat dalam politik antar kerjaan yang kau bentuk, Yang Mulia Raja yang ter.hor.mat." Mark lemparkan busurnya, balik tumit dan langsung tinggalkan aula tanpa mendengar kelanjutan dari perbincangan yang tercipta.
Mark rasanya ingin mengobrak-abrik seluruh istana, pendapatnya selalu tak didengar membuat dia ingin membakar semua bagian istana tapi dia tidak punya kuasa. Ia pun tak ingin menjadi anak yang membangkang, tapi di satu sisi tak ingin menikah dengan sosok yang tak pernah ditemuinya, hanya satu surat lamaran dengan tulisan emas dan kerlip berkilauan dari salah satu putri di Utara Agung bawa yang mulia memberikan stempel merah tanda lamaran diterimanya untuk putra Mahkota seperti dirinya.
Mark masih muda, ingin menjelajahi dunia luas yang belum disentuhnya. Dia ingin tahu setiap dongeng yang selalu diceritakan oleh sang ibu saat dia masih kecil menjelang tidur, karena Mark lebih mempercayai kandungan sihir dari setiap keajaiban semesta daripada pemikiran manusia yang penuh ambisi dan ego yang kalahkan gunung paling tinggi di negeri tempat dia tinggal, pulau Taklukan.
Gaung langkah terdengar mengetuk oleh sepatu tinggi nyang dikenakan Mark sepanjang lorong menuju luar istana, dan salah satu prajurit langsung mengikuti kala Mark pancarkan ketidaksukaannya.
Jungwoo. Prajurit Mark yang paling setia, kawan kecil yang dianggapnya saudara.
"Siapkan kuda." Mark ketatkan sepatu tinggi menutupi hingga betisnya, sibak rambut rasanyaa pening saat amarah tak bisa dikeluarkan seutuhnya.
"Kita akan kemana?"
"Aku ingin pergi ke bar di tengah kota. Istana rasanya sangat sesak." ia melepaskan doublet yang berwarna sebiru lautan miliknya, berlalu pergi saat sang prajurit juga berlalu pergi ke kandang untuk mengambil kuda milik sang putra mahkota.
______________________
______________________
Suara denting gelas terdengar meriah, tawa serta gosip-gosip yang mengudara menghiasi bar, walau matahari belum tinggi, bar kini sudah ramai pengunjung di setiap sudut ruangan. Mark salah satunya, dengan gelas kayu yang berisi beer padat akan busa yang berkumpul di mulut gelas.
"Kau tahu? Kudengar tiga hari lagi Caraval yang penuh kejadian akan diselenggarakan lagi! Tapi sayang, hanya mereka yang mendapatkan undangan yang mampu pergi ke sana."
Mark masih diam, coba dengarkan kembali gosip-gosip yang seperti udara. Semakin cepat tersebar dalam ruang kecil yang penuh sesak.
"Semua ingin ke sana, memenangkan permainan dan mendapatkan hadiah. Tapi dibalik kegembiraan di sana, yang aku dengar banyak sekali teror dan kengerian. Kau tahu? Satu lagi hal yang aku dengar, jika pemenangan terakhir di Caraval mati karena keinginannya sendiri."
Mark berhenti menyesap minumannya, banting permukaan hingga beberapa tetes air melompat membasahi meja panjang tempat dia berada.
Caraval, salah satu keajaiban yang ingin dikunjungi oleh Mark. Kata ibunya, segala macam sihir dan tipu daya ada di sana, segala keanehan dan keindahan tersebar di segala penjuru Caraval.
Mark memangku wajah dengan tangan, tatap busa beer yang tiap menit semakin mengempes karena ditelan udara dan masuk ke dalam perut, matanya sedikit berkunang ciumi alkohol yang memabukkan.
"Hei dude, mabuk di jam pagi seperti ini?"
Kursi kosong yang berada di samping Mark terisi oleh seseorang. Rambutnya jingga terang seperti matahari di pertengahan musim panas, matanya setenang air danau namun penuh misteri di dalamnya, penampilannya sedikit asing bagi orang-orang yang tinggal di pulau Taklukan.
Bajunya berwarna biru kusam, dengan doblet kerah tinggi dan berenda berwarna maroon senada dengan celana yang dikenakan, sepatu kulit tinggi hiasi kakinya yang jenjang. Bahunya lebar. Tubuhnya tidak terlalu tinggi dari Mark namun tetap terkesan menantang. Dari penampilan yang dilihat Mark, sosok itu merupakan seorang pendatang.
Mark jadi mengabaikan, tapi sosok itu malah tertawa dengan gelengkang kepala saat sang pemilik bar menawarkan sebuah minuman kepadanya.
"Aku ke sini bukan untuk mabuk bung." jawabnya pada sang pemilik bar.
Mark di samping hanya bisa melirik sekilas lalu fokus pada minumannya yang perlahan mulai kandas tinggal busa.
"Kau sedang banyak pikiran dude? Wajahmu terlihat sangat kusut kurasa." laki-laki itu menopang wajah dimiringkan ke arah Mark, dia kembali cekikikan seperti sedang melihat sesuatu yang lucu sebagai hiburan.
"Itu bukan urusanmu."
"Ow! Kau bisa bicara ternyata, bagus-bagus." laki-laki itu mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jari telunjuknya menghasilkan bunyi tuk beberapa kali, "apa hidupmu semembosankan itu kawan? Kau terlihat sangat lusuh. Padahal kau ini seorang yang sangat terpandang, benar begitu putra mahkota?" laki-laki itu mengangkat satu alisnya.
Mark menatap sang laki-laki dengan wajah memerah, terkejut perihal identitasnya yang diketahui dengan cepat. Pasalnya dia berpenampilan lusuh agar tak ada yang mengetahui bahwa dirinya adalah seorang dari istana.
"Bagaimana kau—" Mark menggeram, "jangan ucapkan itu lagi. Aku tak ingin orang lain mendengarnya."
Laki-laki itu tertawa keras, pukul-pukul meja dengan telapak tangan, bahkan sudut matanya perlahan menghasilkan air mata yang terlihat berkilauan bak permata, dan Mark baru lihat jenis air mata seperti itu.
"PUTRA MAHKOTA!!!!" sang laki-laki bahkan lebih berteriak kencang.
Mark terperanjat mendengar lengking suara sang laki-laki hingga ia berdiri dari tempat duduknya menahan kesal karena sang laki-laki yang berteriak menyebut gelarnya, "kau—diam atau aku—"
"Atau apa?" sang laki-laki mengangkat bahu acuh, "tenang saja kawan, siapa yang akan mendengarkan perkataanku barusan? Mereka?" tunjuk sang laki-laki pada pengunjung bar.
Tentunya Mark mengarahkan tatapan pada apa yang di tunjuk, di sana. Masih di tempat yang sama dengan para pengunjung yang duduk di tempatnya masing-masing milik mereka, masih sama, tapi ada yang aneh dengan mereka semua. Waktu seolah berputar sangat lambat, gerakan mereka seperti keong yang berjalan menuju bukit yang bahkan tak terlihat pergerakannya.
Mark alihkan tatapannya ke arah sang laki-laki misterius.
"Kau apakan mereka?"
"Aku tidak melakukan apapun pada mereka. Mau lihat trik yang lainnya?" sang laki-laki terlihat tersenyum lebar.
Ia merapikan pakaiannya seperti siap melakukan pertunjukan, awalnya dia menepuk tangan beberapa kali, menepuk biasa sampai tepukan ke empat rasanya seperti sihir yang dikeluarkan. Tepukan terhenti, jari jemari seperti menari di udara. Jari dijentikkan ciptakan percikan kembang api seperti pemantik. Jari kembali dijentikkan kali ini menciptakan percikan yang lebih besar.
Tangan ditepuk dan—
Ledakan kecil tercipta, api berkobar tapi tak lama. Dari ujung api yang mereda dua lembar kertas berpotongan kecil melayang dan segera diambil oleh sang laki-laki. Ia menatap dua kertas itu dengan senang.
"Ini bagus! Untukmu!" sang laki-laki memberikan kertas itu pada Mark.
Tanpa curiga Mark menerimanya, jika dilihat dari dekat. Kertas itu bukanlah kertas biasa, itu seperti lembaran emas dengan ukiran di atasnya. Saat dibacanya, betapa terkejutnya Mark.
Caraval.
"Ini?"
Sang laki-laki mengangguk, "iya! Itu undangan untukmu, pasti sangat seru mendapatkan pemain seorang putra mahkota." sang laki-laki melompat dari kursinya, dia membungkuk hormat memberi salam pada Mark walau terlambat, "perkenalkan, aku adalah Kun sang pesulap, utusan dari sang pemilik Caraval untuk memberikanmu dua buah tiket yang baru saja kau pegang. Kau bisa mengajak satu orang untuk ikut bersamamu. Waktumu tidak banyak sampai kau yakin untuk benar-benar pergi ke sana. Hingga besok pada tengah malam saat bulan sabit tepat di pertengahan, datanglah ke pelabuhan. Kutunggu kau di sana."
Kun tegakkan punggung, hentakkn sepatu sebanyak dua kali, waktu berputar kembali sebagaimana mestinya. Orang-orang kembali terdengar suaranya, suara gelas-gelas yang bertubrukan kembali mengisi ruangan. Sebelum Mark sempat kembali bertanya, Kun nama sang laki-laki itu sudah menghilang di hadapan dirinya.
______________________
______________________
Bulan sudah hampir meninggi tapi Mark masih belum bersiap-siap perihal pergi ke Caraval, ini bagus sangat bagus. Ini yang diharapkan, tiket untuk kabur dari istana.
Bukannya begitu? Mark menatapi bulan, mengingat kembali dongeng-dongeng akan keajaiban yang diceritakan ibunya.
Dengan penuh kenekatan, akhirnya Mark meyakinkan diri untuk pergi ke istana, dari atas balkon dengan tembok yang dingin. Mark berlalu pergi dari dalam ruangannya mengambil kalung bermata biru gelap pemberian sang ibu sebagai jimat keberuntungan.
Cepat, tanpa suara langkah yang terlalu besar Mark menuruni tangga kamarnya yang spiral seperti tak berujung hingga sampai pada ujungnya. Dalam dasar lantai menara tempat tinggalnya dia berbelok, mengetuk satu buah ruangan yang diterangi obor merah besar di luar kamar memberikan pencahayaan di sekitarnya.
"Jungwoo? Jungwoo? Kau masih bangun lan?" Mark mengetuk cepat, tak sabaran seolah ada yang akan mendekat.
Pintu terbuka menampilkan Jungwoo yang sudah mengenakan kemeja putih polos melorot tanda akan pergi untuk tidur.
"Ada apa? Ada yang mengganggumu?" Jungwoo melihat dari ujung kaki hingga kaki Mark memastikan putra mahkota sekaligus temannya itu dalam keadaan baik.
"Aku baik, Lihat." Mark mengangkat dua tiket yang sedari tadi dia bawa, "ikut denganku. Ini adalah tiket ke Caraval sekaligus tiket untuk pergi dari pernikahan konyol itu. Aku mengajakmu."
Jungwoo masih menatap tiket yang beraromakan sihir, berwarna keemasan dengan kilau yang semakin terang dalam cahaya obor yang temaram.
"Darimana kau mendapatkannya Mark?"
"Nanti aku ceritakan, sekarang ganti pakaianmu. Kita harus pergi ke pelabuhan segera jika tak ingin tertinggal."
Jungwoo mengangguk, dia segera mengganti pakaiannya. Hanya beberapa menit hingga semuanya berganti, kembali ke daun pintu dan mengikuti jejak Mark yang keluar dari belakang.
Beberapa prajurit berjaga-jaga, keduanya berjalan dalam bayangan gelap hingga sampai di kandang kuda dengan hati-hati ambil dua ekor kuda yang terdekat. Menuju jalan rahasia yang mereka berdua ciptakan, keduanya berhasil keluar dari dalam istana.
Mark menatap bulan sabit yang hampir di atas kepala, tali kekang dikencangkan buat kuda berlari kencang.
______________________
______________________
Pelabuhan masih terlihat ramai walau malam sudah tinggi, ada beberapa kapal yang menyandar tapi ada satu kapal yang terlihat cukup mewah dan berkilauan, Mark memicing lihat satu orang dengan rambut yang amat mencolok berwarna jingga disertai taburan perak yang berkelap-kelip.
"Kau datang! Aku kira kau tidak akan datang, kami hampir saja berangkat." Kun menyambut dengan riang bertepuk tangan serta membungkuk hormat, dia melirik ke arah Jungwoo. " Kau membawa temanmu? Pilihan yang bagus, sekarang simpan tiketnya dan segera naiklah. Kita tidak ingin tamu yangblain menunggu."
Kun berbalik diikuti oleh Mark dan juga Jungwoo, saat sampai di lantai utama kapal. Mulut Mark serta merta menganga begitupun dengan Jungwoo.
"Wah-wah, lihat. Tamu terakhir kita sudah datang." mereka berdua disambut oleh sosok yang setengah tidur di atas lantai kapal.
Rambutnya keperakan, matanya sipit hampir tak terlihat dan di bawah matanya dihiasi oleh ekor komet yang menawan, ada lukisan seperti tetes air di pipi sebelah kanan dan wajik merah di pipi sebelah kiri seperti permainan kartu pada umumnya.
"Abaikan dia, dia sang badut namanya Jeno."
"Terimakasih atas perkenalannya Kun, bawa masuk tamu-tamumu ke dalam. Ini akan menjadi perjalanan panjang, dan untuk kalian berdua. Kuharap diantara kalian berdua tak ada yang mabuk laut karena kurasa malam ini ombaknya akan besar." Jeno sang badut berdiri renggangkan tubuh buat persendian kembali ke tempat semula.
Jika dilihat lebih dekat sang badut memiliki wajah yang rupawan, kulitnya putih bersih tak tercela. Rambutnya terbelai, dan ekor bajunya melambai diterpa angin malam.
"Mari tuan-tuan. Kuharap perjalanan ini akan menyenangkan kalian berdua." Kun membawa Mark dan Jungwoo masuk ke dalam dek kapal.
_____________________
______________________
Perjalanan memakan waktu dua malam satu hari dalam adegan yang dramatis. Ombak akan menerjang kuat pada malam hari dan akan tenang jika hari sudah terang, dua malam yang penuh dengan debaran.
Mark dan Jungwoo pada akhirnya tiba pada satu pulau yang katanya dapat berpindah sesuai keinginan dari permainan yang akan selalu diadakan entah itu dalam kurun waktu satu tahun, dua, tiga, bahkan lima tahun lamanya. Pulau yang terlihat tidak terlalu besar ataupun kecil, dipenuhi keajaiban dan kekuatan sihir di setiap sudut pulaunya.
Caraval.
"Selamat datang di pulau Caraval!" Kun berseru kuat disambut tepuk tangan dari para penumpang yang dibawa menuju pulau.
Sebelum kapal menyandar pada pulau dan membawa semua penumpang turun dari kapal, mereka perlu untuk melewati sebuah pelengkung besar bak gerbang yang membawa mereka menuju dunia lain. Pelengkung yang terbuat dari baja berwarna metalik dihiasi mutiara dan permata, beberapa kerang ikut serta memghiasi sang pelengkung.
Di sisi kiri dan kanan sang pelengkung terdapat patung putri duyung dengan guci berisi airnya yang mungkin tak akan pernah habis, sedangkan di bagian atas dipenuhi dengan cupid yang dilengkapi dengan panah cintanya, membidik ke segala arah bagaikan siap menyebarkan anak panah mereka yang menghantarkan cinta.
Kapal menyandar dengan selamat.
"Selamat datang tuan dan nyonya, tugasku untuk menghantarkan kalian sudah sampai di titik ini. Sekarang kalian hanya perlu berjalan lurus mengikuti aroma kue wafel yang tercium hingga kalian akan bertemu dengan seorang pria tinggi besar bernama Johnny. Tukaran tiket kalian di sana." Kun membungkuk hormat, "ow ya! Jangan sampai kalian terlalu terlena dengan pulau Caraval atau kalian bisa saja tersesat olehnya. Dan jangan sampai kehilangan tiket kalian."
Kun memutar tumit, turun bersama laki-laki pada malam pertama Mark naik ke kapal. Sang laki-laki berambut perak yang tak sempat Mark mengobrol dengannya. Hanya beberapa langkah menuruni kapal hingga mereka berdua sudah hilang entah kemana.
"Jadi kita kemana?" Jungwoo berbisik, menatap orang-orang yang mulai turun dari kapal dengan antusias dan senyum di wajah.
"Katanya jalan terus, dan ikuti aroma kue wafel?" Mark sepertinya tidak yakin, hanya saja kakinya diayunkan untuk ikut turun bersama yang lainnya, sampai saat ia melewati pelengkung yang lebih kecil, Mark mengendus udara. "Apa aroma wafel memang semanis ini? Ayo."
Mark berjalan terlebih dahulu, menuntun Jungwoo yang berada di belakangnya. Melewati pelabuhan yang padat, kini mereka menuju jalan setapak penghubung antara bangunan bertingkat-tingkat yang cukup aneh karena sangat berbeda dengan bangunan yang ada di pulau Taklukan.
Keduanya terkesima dengan orang-orang yang tinggal di pulau Caraval, tak terlalu ramai hanya saja penampilan mereka cukup berbeda dengan yang lainnya. Rambut yang beraneka ragam warnanya seperti bunga-bunga yang sedang berjalan-jalan di dalam kota.
Para lelaki menggunakan kemeja berenda atau berkerah tinggi dilapisi doublet yang akan senada dengan celana mereka. Beberapa menggunakan riasan wajah yang berbeda-beda, menjadi karakter masing-masing seperti para pemain tambahan dalam Caraval.
Sedangkan para wanita menggunakan gaun bertingkat-tinggkat dan ekor gaun yang cukup panjang. Berwarna cerah dengan macam hiasan seperti kupu-kupu atau kerlap-kerlip taburan mutiara di atas gaun mereka.
Mark dan Jungwoo mendongak saat seseorang yang sangat tinggi melintas di depan mereka, kakinya sangat panjang atau mungkin sedang berjalan menggunkan kayu tinggi yang ditutupi celana merah hingga menutupi sepatunya. Orang-orang di sini amat berbeda.
Tersihir dengan keajaiban di pulau Caraval, Mark hampir berbelok arah jika saja Jungwoo tak menarik tangannya.
"Jangan sampai tersesat atau kita tidak akan pernah sampai pada sang penukar tiket." Jungwoo memperingatkan dan keduanya kembali melanjutkan perjalanan.
Perjalanan terasa begitu panjang, perasaan Jungwoo dan Mark atau memang penumpang kapal yang tadi bersama mereka kini sudah berkurang jumlahnya. Hanya beberapa yang terlihat masih berjalan di jalan yang memang seharusnya, sampai saat mereka sampai di sebuah alun-alun dengan berbagai macam hiasan yang digantung, para pemeran di sana ikut berkumpul.
Di salah satu sudut alun-alun, tepatnya di bawah pohon arumanis yang menggantung bak awan yang menghias langit nan biru. Berdiri sosok tinggi tegak seperti yang digambarkan oleh sang penunjuk arah Kun.
Tanpa diberikan komando atau perintah, barisan panjang dari semua tamu undangan terbentuk seperti ular raksasa, mengantri untuk menukarkan tiket yang dibawa masing-masing oleh mereka untuk disahkan kepada sang penukar tiket, Johnny.
Hingga tiba saat Mark dan Jungwoo yang menukarkan tiket mereka. Mark serahkan dua lembar tiket keemasan untuk dilubangi sang penukar tiket.
Dilihat dari dekat, ternyata tubuh Johnny terlihat jauh lebih besar dan lebih tinggi kekar dibalut kemeja lusuh dengan tiga kancing atas yang sengaja dibuka memperlihatkan otot dadanya yang bidang dan terbentuk. Rambutnya sedikit panjang, klimis tertata dengan anting di telinga sebelah kiri miliknya.
Mark sedikit menelan ludah karena penampilan Johnny yang terlampau terlihat garang.
"Aku di sini ditugaskan sebagai sang penukar tiket dan ditugaskan untuk menyebutkan peraturannya, serta menjawab segala pertanyaan kalian sebelum permainan secara resmi dimulai." Johnny sudah selesai melubangi dua tiket yang diserahkan oleh Mark.
"Apa semua orang di sini bermain peran? Termasuk kau Johnny?"
"Semua orang di pulau ini adalah aktor dan aktris, mungkin juga kau? Temanmu? Jangan percaya pada siapapun." Johnny menatap Mark dalam tatapan sulit diartikan.
"Begitu juga dengan sang pemilik Caraval? Aku dengar dia akan selalu mengikuti permainan."
"Semua pemeran di sini tidak tahu tentang sang pemilik Caraval, bisa saja dia berperan sebagai apapun di sini. Tidak yakin akan semua itu, begitu kalian menginjakkan kaki di pulau ini dan begitu kalian berada jauh lebih dalam, kalian akan disajikan oleh permainan penuh misteri yang harus kalian pecahkan." Johnny menyugar rambutnya, "petunjuk-petunjuk akan disembunyikan di sepanjang permainan untuk membantu. Kami ingin kalian semua terhanyut, tapi berhati-hatilah, jangan sampai terlalu terbawa arus."
"Apa yang terjadi jika kami terlalu terhanyut dalam permainan?" kali ini Jungwoo yang bertanya dalam rasa penasaran yang sedari tadi dia pendam.
"Biasanya, orang akan mati atau menjadi gila." Johnny mengeluarkan sebuah perkamen, "teteskan darah kalian di sana."
"Untuk apa?"
"Itu akan mengesahkan bahwa kalian setuju dengan hal-hal yang mungkin akan terjadi ke depannya, sang pemilik tidak bertanggung jawab atas peristiwa kecelakaan, kegilaan, ataupun kematian."
Mark mengerenyit bingung dengan alis yang hampir terpaut, "bukankah ini hanya sebuah permainan dan tidak nyata?"
"Sesekali, orang tidak bisa membedakan mana fantasi dan kenyataan sehingga terjadi kecelakaan. Tapi tenang saja itu sangat jarang terjadi."
Mark dan Jungwoo saling melirik, mereka berdua tatap jarum yang disodorkan oleh Johnny. Ujungnya berkilau tajam, sentuhan kecil saja dapat mengeluarkan darah merah pekat pada jari telunjuk milik Mark dan Jungwoo.
Darah jatuh menetes.
Tulisan di atas perkamen muncul.
VITRUM GRUIS.
"Apa ini petunjuk pertama kami?"
Johnny menggeleng.
"Itu sebuah penginapan, perhatikan lagi lebih dekat. Nanti malam pembukaan dari permainan, selamat bersenang-senang tuan-tuan." Johnny berlalu pergi, tugasnya selesai. Dia melakukan hal yang dengan Kun dan Jeno.
"Aku nomor 345 milikimu 344. Kurasa ini nomor kamar Mark." Jungwoo menunjukkan nomornya dan benar saja. Itu mungkin nomor kamar mereka.
Bersamaan dengan segala pertanyaan yang masih belum terjawab, letupan kembang api pecah di atas langit Caraval. Para penghuni bersorak dalam kegembiraan yang berbunga-bunga saat seseorang tiba-tiba muncul di atas salah satu bangunan yang bertingkat-tingkat.
Seorang laki-laki dengan balutan kemeja putih, dibalut mantel hitam panjang senada dengan celana serta sepatu yang dikenakan, berdiri gagah beserta topi panjangnya yang bertengger di kepala.
Ia bersuara.
"Selamat datang di Caraval milikku, mari bermain dan ambil peranmu. Raja, pangeran, pesulap, badut, di sini mereka hanya peran atau memang aslinya? Semua kebenaran dan kebohongan akan diikutsertakan dalam permainan. Jadi jangan percaya siapapun."
Mark terkesima, menurutnya laki-laki itu dipenuhi dengan magis dan daya sihir di sekelilingnya. Kulitnya tan seperti madu yang menetes dari dalam wadah, rambutnya hitam legam seperti malam tanpa bintang. Suaranya lembut namun langsung menghantam tubuh buat siapapun kagum tak terkecuali Mark, dialah sang pemilik dari Caraval. Sang pemimpin permainan.
Ia tersenyum cerah merah merona bak ceri di tangkai pohonnya, ia melepaskan topi panjangnya, melemparkannya ke bawah saat dia ikut melompat ke belakang masuk ke dalam gedung dan menghilang.
Itu menandakan penyambutan dan permainan akan segera dilaksanakan.
—tbc🌻
