Work Text:
Sesuai dugaan, Gojo merasa geli di awal.
Geto duduk di belakang Gojo yang menyandar pada tubuh bagian depannya (posisi yang direkomendasikan Geto). Lagi-lagi rumah Gojo, tepatnya kamarnya yang di ujung lantai dua, jadi basecamp uji coba ngawur siang hari karena hemat budget.
Tak banyak fafifuwasweswos, mereka langsung ke inti permasalahan; kaos rumah Gojo sudah disingkap dan Geto benar-benar memakan waktu untuk tujuannya; buat Gojo orgasme cuma karena nipple play.
Dimulai dari lube dingin yang dibawa Geto dari rumah (“loh kok pake lube?” “biar gak keset, ini wanginya enak juga.) yang jujur buat Gojo berjengit sedikit saat dilumur ke permukaan dadanya. Jari-jari Geto mulai berpetualang, raba sana sini kemudian menekan-menekan ujung putingnya.
Beberapa kali Gojo terkekeh geli, tubuhnya tak bisa diam di depan temannya karena menahan tawa, tetapi Geto gencar bermain, dengan serius memijit bahkan di luar lingkaran dadanya untuk stimulasi. He took this more seriously than Gojo thought he would. Sifatnya yang kompetitif walau tak ada lawan yang harus dikejar muncul di waktu yang aneh.
Gojo yang biasa cerewet jadi ikut diam lihat temannya serius mencari. Karena tujuannya kali ini upgrade lebih sulit dari eksperimen yang lalu, Gojo juga berusaha merasakan lebih rangsangan untuk capai orgasme.
Sampai Geto mencubit ujung putingnya dengan jempol-telunjuk, Gojo mendesah kaget.
“Eh- eh Geto-”
“Oh, harus dicubit ya?” Geto tertawa, tuang lagi telapak tangannya dengan lubrikan dingin, “kalo diteken cuma geli aja?”
“Iya… tapi karena lo rajin daritadi gelinya berubah jadi geli yang ngerangsang gitu,” akhirnya menyandarkan semua beban beratnya ke lelaki di belakangnya, “coba cubit lagi- ahh- njinggg.”
“Coba lo lihat deh sendiri, puting lo agak merah.”
Gojo menghela nafas, menengok ujung dadanya yang di cubit-tekan-cubit-cubit-tekan.
“Tadi agak pink, tapi sekarang agak merah… sakit ya? Kekencengan?” tanya Geto agak was-was tapi masih dengan jari yang telaten, yang warna tannish telapak tangannya begitu kontras dengan payudaranya yang hampir tak kena sinar matahari, juga putingnya yang lunak dan merah jambu kemerahan karena skin tone -nya berbanding jauh dengan jari Geto yang kapalan akibat hobinya, kasar tergesek senar bass. Geto benar-benar lihai, ujung telunjuknya memencet ujung dadanya seperti hal biasa-
“Jo? Kekencengan gak?”
“Oh, enggak,” Gojo tak bisa mengalihkan matanya dari Geto yang sekarang meremas payudaranya dengan selapang telapak tangannya, “ehng- Geto-”
Hembus nafas Geto terdengar, sampai menggelitik kupingnya saat Geto menyandarkan dagu ke pundaknya.
“Gila bener Jo,” Geto tertawa di tengah nafasnya, jelas sekali ikut terpengaruh dengan permainannya sendiri, “enak ya?”
“Enak- hmmh- Geto cubit lagi-”
“Gak sakit?” kukunya menggaruk bundaran payudara Gojo, sesekali menyundul ujungnya dengan kukunya yang pendek.
Gojo menahan erang, menggigiti bibirnya yang bergemeletuk, menenggelamkan sisi wajahnya ke leher Geto.
“Hm?”
“Enak hnnh-” Gojo memundurkan tubuhnya, refleknya butuh Geto lebih lebih dekat dengannya, “enak kalo s-sakit-”
“Oh,” Geto menggeser kepalanya, buat keduanya beradu pelipis, tersenyum lihat Gojo makin transparan reaksinya, celana bokser pendek yang menggunung di bagian tengah juga jadi bukti konkrit, “you feel it more when it hurts?”
Gojo mengangguk, makin merangsek ke dalam leher temannya.
“Jo,” bisik Geto, “gue pake mulut ya?”
Tanpa menunggu, Geto menggeser tubuhnya dan buat Gojo menyender di headboard kasurnya sendiri.
Geto menatapnya yang masih merenggangkan kakinya agar Geto bisa duduk di tengahnya.
“Muka lo merah banget, keenakan ya?”
Ia membalasnya dengan kepalan tangan meninju kepala.
Geto tersenyum menundukkan tubuhnya menuju payudara kanannya tanpa memindahkan pandang; Gojo terus dipandangnya, terus sambil menjulurkan lidahnya walau payudaranya belum dekat, terus sampai akhirnya ujung lidahnya bertemu pucuk putingnya, terus tanpa henti walau setengah bagian payudara Gojo sudah masuk ke dalam mulutnya.
Geto menghisap daging di mulutnya, Gojo mendesah sampai tabrak kepala belakang ke headboard.
“Geto- bangsaaat- hm- Geto!!!” pekik Gojo rendah, kini lebih hati-hati soal ibu dan adiknya yang di rumah.
Geto terlihat menahan tawa di tengah hisapannya, di tengah jarinya yang menjawil tarik ujung payudara kiri yang nganggur.
Lelaki berambut putih menjambak helai hitam yang memang tak beraturan di depannya. Bukan untuk membuatnya menjauh, tapi perintah tak langsung untuk Geto terus menghisapnya.
“Gimana? Dicubit apa dimakan gini?”
“Di- di- hhh ngentoooot-” Gojo yang menarik kepala Geto dihadiahi lumuran air liur di dadanya.
“Gue lagi gak ngentotin lo kok Jooo.”
“Dimakannn- maksudnya hmmm dimakaaaan Geto-”
Liat Gojo yang nyerocos berantakan, berkali ulang kata enak, babi, anjing, anjingggg, Geto, ahhh, mau lagiii, udah, buat Geto makin gencar, beruntun menjilati Gojo dan menarik-narik dadanya.
“Kayanya lo lebih heboh nipple play daripada anal sex, ya? Aneh.”
“Jo liat, your nipples are getting perky.”
“Kalo lo punya dada kayak begini sih gak usah ngentot sama cewek, Jo.”
“Lo aja ceweknya.”
“Bisa diem gak monyeeeet-”
Geto memilih detik itu untuk membuka mulutnya dan menggigit, gigi melingkar di sekitar areola payudara.
Rambut gondrong Geto ditarik keras, karena fuck Gojo merasa penisnya di dalam bokser loncat dan mengeluarkan gumpalan pre-cum.
Karena menyandari tubuh Gojo, Geto menyadari penis Gojo yang makin keras. Ditariknya celana Gojo agar penisnya bernafas.
“Oh dikit lagi ya,” sengaja menghindari pegang penis Gojo, Geto beralih menggenggam paha dalamnya yang sensitif, yang menambah rangsangan di tubuhnya, yang buat Gojo mengacak sprei kasurnya dengan ujung kakinya, “gue ada ide.”
Gojo mengais nafas. Temannya benar, barusan hampir saja orgasmenya tercapai, tapi kurang sedikit lagi, sedikittt lagi-
Dilihat temannya ikut menurunkan celana jeans dan celana dalam di depan wajahnya buat Gojo mengernyitkan kening bingung di tengah linglungnya setelah birahinya di- trigger sebegitu rupa. Apa yang mau Geto lakukan? Ini kan nipple play yang tujuannya buat dia orgasme? Penis Geto yang gagah dan juga basah karena cairan pre-cum nya sendiri di depan mata tak ada hubungannya dengan ini.
Oh. Geto yang beres mengurut kejantanannya menurunkan pinggulnya, mendekati area dadanya, mempertemukan ujung penisnya dengan putingnya.
Oh.
Oh- what the fuck.
“Gak usah pake lube ya? pake precum gue aja biar agak kerasa di puting lo,” lihat Gojo tak bereaksi selain tungkai kaki yang menjepit Geto buat lelaki gondrong menyeringai, “tapi puting lo ngeri lecet, gak apa-apa kan?”
Membandingkan jari Geto yang kokoh bermain dengan putingnya sudah cukup buat Gojo stress setengah mampus tapi fuck jarinya jauh kalah banding dengan penis Geto yang perkasa menggesek dadanya.
Anjinganjinganjing digigit Geto memang berpengaruh langsung ke reaksi tubuhnya, tapi lihat kepala penis temannya berkali-kali mencumbu ujung payudaranya ditambah pre-cum yang beberapa kali terbit mempengaruhi kepalanya, membuat panas ujung perutnya.
Kotor dan gak senonoh.
“Gue mulai ya,” tangan Geto mengelus kening Gojo yang dibalur peluh, “gak masalah kan kalo gue ejakulasi di tete lo?”
Oh, Gojo is so fucked.
.
(omake)
Dua lelaki itu sudah lelah karena ejakulasi, sudah mandi dan tidur siang (sore) sampai matahari terbenam. Gojo sekeluarga buat Geto tetap disana untuk makan malam dan Geto diiming-imingi sarapan nasi goreng kencur cabe hijau untuk menginap semalam di rumah Gojo.
Geto agak ragu, tapi Gojo yang mengangguk dan malah mengiyakan ajakan ibunya sendiri agar Geto menginap buatnya jadi tak pulang.
Sekarang Geto tahu alasannya.
Setelah beli es krim McD dan main PS sampai larut, Gojo mengeluh, bilang ujung putingnya sakit kalau menggesek kaosnya. Geto yang merasa bersalah karena tadi siang hilang kendali menawarkan membeli salep, tapi Gojo malah membalas.
“Bantu jilat aja.”
Hm, jelas gak akan membantu lecetnya, tapi Geto memang suka apa aja yang berhubungan sama payudara (dia belum bilang Gojo soal ini).
Dengan berusaha tidak membangunkan nafsu seksual sama sekali, Gojo dan Geto akhirnya tiduran berdesakan di ranjang (tidak menghiraukan kasur lipat yang dibawa ibu Gojo untuk Geto), dengan mulut Geto menghisap santai payudara Gojo.
Agak susah untuk gak sange , tapi mereka tetap berusaha pada pendirian. Gojo yang kadang mendesah saat gigi taring Geto menyenggol putingnya akan disumpal Geto dengan jarinya. Agak bahaya karena kenapa desah puas Gojo gampang memancing gairah Geto, jadi dia harus selalu antisipasi.
“Geto?”
Geto di atas tubuhnya mendengung, pindah dari payudara kiri ke kanan.
Gojo mengelus pipi Geto yang sedikit kembang kempis karena gerakan menghisap.
“Get,” Gojo menggigit bibirnya, jelas tahan tawa, “coba bilang ‘maaaa mau nenen’ gitu deh.”
Mentally, Geto menepuk keningnya. Physically, ia mengerutkan kening ke arah Gojo tak habis pikir (masih sambil menciumi dada empuk di depannya). Sange-ly… request konyol itu cukup berhasil bikin dia sange.
Anehnya di momen itu ia diingatkan dengan dm twitter dari adik kelasnya, Nobara.
Dia (Gojo) resek sama lo, lo harus bales dong.
Sambil mengelus halus kedua payudara Gojo (masih lecet, Geto berusaha sebaik mungkin tidak kasar), lelaki yang di atas naik, mendekatkan bibirnya di telinga Gojo.
Ditemani sunyi di pukul 2 malam dan minim pencahayaan kecuali sinar bulan yang masuk ke ventilasi, Gojo mendengar bisik-
“Mamaaaa,” kata Geto jenaka di tengah deru nafas, “aku boleh nenen?”
Gojo melotot. Gerak Geto yang mundur dan kembali ke dadanya terasa slow motion, dengan mata Geto yang menusuk matanya dan kembali ciuman dengan payudaranya tanpa rasa bersalah.
“Anjing lo,” umpatnya setelah melepas nafas yang tak sadar ditahannya, “...lo bawa kondom?”
Geto tertawa ditengah jilatannya.
“Bawa.”
Loh, memangnya bakal dipake?
