Chapter Text
“Masih jaman angkat gundukan tanah?” Jeno yang mendengar itu hanya bisa tersenyum manis kepada yang lebih muda. Satu gundukan tanah besar melayang kembali dan mendarat di gundukan tanah lainnya yang sudah berjajar rapi.
“Old-school, Jung Sungchan. Itu alasannya kenapa akademi ini the best in earth nation. Diakui oleh rajanya sendiri.” Ujar Jeno dengan bangga. Sudah hampir dua setengah tahun ia mendirikan akademi untuk melatih para earth-bender pemula bersama adik kelasnya dulu, Sungchan. Walau yang lebih muda setahun daripadanya lebih memilih untuk melatih dengan cara yang lebih modern dan sering mengeluh dengan caranya yang terkesan sangat kuno. Kenyataannya Jeno hanya ingin para earth-bender membumi, seperti kekuatan mereka, supaya mereka dapat menggunakan bender mereka lebih maksimal.
“Tentu saja, Raja Kun is your best best friend.” Sungchan memutar kedua bola matanya. Kali ini Jeno tertawa mendengarnya. Memang benar ketiganya merupakan teman yang akrab dan hampir satu earth-nation mengetahui fakta itu. Untung saja tidak ada yang protes akan itu, lagipula memang mereka menunggu Jeno untuk membuat sebuat tempat untuk mengajar.
“Dan diakui oleh avatar Haechan.” Jeno menambahkan.
“He’s your bestest friend!” Protes Sungchan kembali yang membuat Jeno kembali tertawa.
“Kalau Raja tidak mempromosikan akademi, aku akan mengamuk. Dia yang memohon dari aku selesai kuliah, kau sendiri mengetahui bagaimana Raja mengejarku saat itu.”
“Dan dia juga yang membuat Sang Avatar untuk belajar di akademimu bahkan sebelum akademi genap setahun.” Sungchan menambahkan.
“Setahun kurang seminggu lebih tepatnya.” Jeno mengoreksi yang hanya disambut anggukkan oleh Sungchan. “Dan kau tahu sendiri, aku baru saja masuk menjadi pengajar di akademi ini seminggu sebelum Avatar datang.”
“Sang Raja memang sengaja menyiapkan akademi ini untuk mu.” Ia mengetahui fakta itu, walau sebelumnya semua orang selalu menutup fakta itu.
“Jangan berkata seperti itu! Aku tidak enak dengan Raja.” Ucapnya tulus. “Lagipula setelah itu pekerjaanku menjadi personal assistant Avatar.” Hal itu membuat Sungchan tertawa. Ia mengingat betapa sengsaranya Jeno yang harus memenuhi keinginan Avatar ataupun tingkah laku Avatar yang sangat mengesalkan dan suka bercanda selama ia bernafas. Dari situ pula Jeno menyadari betapa berbedanya earth-bender dengan air-bender .
“Kenyataannya, Avatar takut padamu.” Jika Haechan mendengar ini mungkin ia akan membantah dengan keras namun fakta itu benar adanya dan Jeno mengakui itu. Walau tetap pada akhirnya ia benar-benar menjadi pesuruh saat Sang Avatar menetap di earth nation untuk sementara waktu. Itupun karena Haechan selalu menggunakan kartu avatar setiap mereka keluar.
“Kita jadi berteman karena itu.”
“He’s a good friend.” Jeno mengangkat satu alisnya saat mendengar komentar Sungchan. Komentar yang muda membuatnya sedikit terkejut. Haechan memang salah satu temannya yang terbaik tapi ia tidak tahu mengapa tiba-tiba saja Sungchan berbicara seperti itu.
“Tiba-tiba?”
“Setidaknya ia membuatmu menjadi lebih baik. Aku tahu kau membicarakan masalahmu kepadanya.” Jeno tersenyum. “Aku tak tahu apa yang terjadi tapi aku akan berterima kasih kepadanya sudah menjadi teman yang baik.” Ia mengangguk. Meskipun memang orang itu sangat mengesalkan setidaknya tingkahnya itu membuatnya melupakan masalah itu walau untuk sementara. Ia juga merupakan pendengar yang sangat baik dan memang lebih nyaman untuk menceritakan masalah dengan teman seumur.
“Seharusnya kau tahu, orang itu jangan dipuji atau egonya akan terbang ke langit.” Jeno mengambil semua barang-barangnya dan memasukkan ke dalam tasnya.
“Mau ke mana?” Dengan santai, Jeno hanya menunjuk ke arah kalender yang menempel di dinding.
“Saturday drip’s nightclub? Bang?” Sungchan menahan langkahnya.
“Aku hanya suka minum. Tenang saja, chan.” Jeno menepuk pundak Sungchan.
Ia paham dengan kekhawatiran Sungchan. Bahkan Raja sendiri pernah menyuruh anak buahnya untuk mengusir dan tidak mengijinkan Jeno untuk mengunjungi klub yang hanya dibuka pada sabtu malam. Saturday Drip’s nightclub bukanlah sembarang klub. Bukan hanya karena dibuka sekali dalam seminggu, pengunjungnya pun dari keempat nation. Siapapun bisa mengunjungi klub malam itu. Hal yang membuat banyak peminat selain itu adalah pengunjungnya diwajibkan menggunakan topeng sehingga tidak ada yang mengetahui identitas masing-masing kecuali bender . Seperti dirinya, earth-bender , akan menggunakan topeng berwarna coklat. Untuk air akan menggunakan topeng navy , api menggunakan topeng merah, dan angin menggunakan topeng biru muda.
“Terakhir kali, kau tepar hingga Raja sendiri yang harus menarikmu dari sana.” Tenang saja, Jeno mengingat kejadian itu dengan rinci. Seminggu yang sangat menyebalkan. Hari-hari dimana Jeno harus menerima kenyataan pahit bahwa kekasih—atau lebih tepatnya mantan kekasihnya benar-benar meninggalkannya. Pada saat itu, ia sangat mabuk hanya untuk melupakan bayang-bayang orang itu. Hingga turun perintah Raja untuk dirinya merintis akademi ini dan seminggu kemudian turun perintah lainnya untuk mengurus bayi besar alias sang avatar. Jeno harus berterima kasih kepada Raja Kun untuk itu. Setidaknya Avatar Haechan benar-benar menyita sebagian besar waktunya.
“Itu sudah hampir satu tahun yang lalu, Sungchan.”
“Apakah aku perlu menelepon Avatar?” Jeno menggelengkan kepalanya.
“Aku baik-baik saja.” Kali ini Sungchan menahan tas Jeno agar sang taurus tidak pergi.
“Kenapa tiba-tiba ingin ke sana lagi?”
“Berdamai,” jawab Jeno dengan sungguh-sungguh. “Hanya ingin berdamai. Itu saja.” Kali ini Jeno tersenyum manis hingga eye smile -nya terlihat jelas.
Tidak seorang pun mengetahui mengapa Jeno dengan mudah menerima permintaan Raja, selain memang itu permintaan Raja. Tidak ada satupun yang bisa menolak permintaan Raja selain Jeno. Raja tidak hanya sekali meminta, ia bahkan memohon berulang kali setelah ia lulus kuliah. Namun permintaan itu tetap saja tak digubris sama sekali olehnya. Jeno sama sekali tidak pernah berpikir untuk mengajarkan seseorang, apalagi dengan tekniknya yang jauh lebih kuno daripada biasanya. Tetapi ia tahu bahwa Kun lebih menyukai teknik kuno daripada modern, selain memang Jeno merupakan murid terbaik dan the best earthbender in the whole nation. Kenyataannya alasannya hanya satu.
Na Jaemin.
Seseorang yang ia cintai sepenuh hati.
Kehilangan seseorang yang penting dalam hidup bisa membuat seseorang melakukan hal gila seperti pingsan di tengah klub malam hanya karena minum terlalu banyak. Na Jaemin, Jeno mengenal orang itu saat ia mengunjungi klub malam yang sering dibicarakan orang-orang. Tatkala saat itu mereka senang untuk bertemu dengan bender lainnya dengan identitas anonim.
“Hai.” Jeno merasakan pundaknya ditepuk oleh seseorang. “Kamu baru ke sini?” Ia mengangguk kepada orang yang memiliki senyuman manis.
“Lalu kenapa ke sini? Penasaran?” Jeno mengangguk kembali.
“Tidak ada salahnya untuk ke sini.” Orang asing itu mengangguk. Saat itu Jeno baru menyadari bahwa orang asing itu menggunakan topeng berwarna merah menyala. Sang tanah hanya mengenal beberapa teman dari Air temple ataupun Water Tribe, tapi tak satu pun dari Fire Nation. Menurutnya firebender sulit untuk didekati—atau memang Jeno sendiri yang enggan dengan stereotipe yang beredar di mana-mana.
“Memang tidak.” Ia tertawa. “Jadi apa yang membuatmu ke sini?”
“Ingin menambah teman.”
“Wah, aku juga!” Sahutnya riang. “Aku Jaemin. Na Jaemin.” Jeno menatap orang itu kaget dan melirik ke sekitar klub seakan-akan takut jika ada yang mendengar pembicaraan mereka.
“Tenang saja.” Ucapan Jaemin tidak membuatnya tenang. Jeno pun menunjuk ke arah topengnya lalu menunjuk ke arah topeng orang itu.
“Topeng hanya sekedar formalitas saja. Orang menyukai ketika identitasnya tidak diketahui. Termasuk aku.” Jaemin menjelaskan sedikit. “Aku hanya tidak ingin identitas ku diketahui oleh firebender.”
“Kau buron?” Pertanyaan lugu Jeno membuat Jaemin tertawa sekali lagi.
“Tidak. Tenang saja.” Jeno hanya mengangkat satu alisnya. “Anggap saja aku mengenal orang yang sangat berpengaruh di nation.”
“ Well. Itu sama kayak buron sih.” Komentar Jeno yang disambut oleh tawa Jaemin.
“Kamu juga?” Jeno mengangguk. Ia merasakan sepasang mata yang selalu melihatnya setiap ia jalan hanya karena ia mengenal Raja secara langsung. Tatapannya pun beragam ada yang terlihat sangat terkejut, ada yang kagum, ada pula tatapan yang sedikit m mempertanyakan eksistensinya. Tapi Jeno tidak peduli akan hal itu.
“Alasannya kurang lebih sama. Ingin mengenal orang tanpa tau background.” Jeno mengeluarkan tangan kanannya dari saku celananya. “Lee Jeno. Earthbender .”
“Earthbender.” Ucap sang petugas sembari memberikannya topeng berwarna coklat membuyarkan lamunan Jeno.
“Thanks.” Ucapnya singkat.
Sudah hampir setahun ia tidak pernah ke sini hanya karena dirinya sibuk dengan akademi dan kegiatan Avatar. Tampilannya masih sama saja seperti dulu.
“Kau tahu. Hal yang paling aku suka dari tempat ini adalah rooftop. Aku tau Saturday drip memang klub malam tapi mereka tetap menyediakan rooftop cafe untuk orang-orang yang hanya ingin berbincang dengan berbagai nation.”
“Jadi kau ingin minum atau berbincang?”
“Satu long island iced tea.” Pinta Jeno kepada bartender. Maaf Jaemin, kali ini Jeno menginginkan minuman untuk menetralkan semua pikiran. Ia tidak menyangka hanya dengan melihat plang dari Saturday Drip, ia bisa mengingat semua kenangan-kenangan indah bersama kekasihnya itu.
“Kamu kuat juga.” Komentar Jaemin.
“Tidak juga. Jika kamu melihat aku berdiri, itu hanya bender ku yang sedang bekerja.” Jeno menunjuk ke arah kakinya yang sudah menapak di tanah, satu-satunya hal yang membuatnya sadar.
“Are you tipsy enough to kiss me, Lee Jeno?”
“I'm sober enough to kiss you, Na Jaemin.”
Tanpa menunggu lebih lama, kedua bibir itu menyatu. Manis. Hal yang pertama Jeno rasakan ketika menyentuh bibir sang leo. Rasa bibirnya mengalahkan senyuman manisnya. Rasanya Jeno akan kehilangan akal ketika Jaemin mulai membuka mulutnya membiarkan Jeno untuk mengeksplor ruang mulutnya. Sensasi hangat menjalar ke dalam tubuhnya. Entah karena euforia atau fakta ia mencium firebender. Sensasi ciuman itu membakar. Ia bahkan bisa merasakan rasa martini panas pada lidahnya.
Tunggu, martini?
Jeno mengingat ciuman pertamanya dengan jelas. Bagaimana gerakan mulut mantan kekasihnya hingga rasa menyengat dari cocktail yang baru Jaemin minum— Long Island iced tea—minuman yang disarankan oleh teman Jaemin dan cerita di dalamnya. Ia sangat mengingat bagaimana rasa minuman itu karena minuman itu selalu ia minum untuk mengingatkan bagaimana rasa ciuman pada malam itu.
Namun ini? Ia bisa merasakan rasa martini dengan sensasi panas. Bukan karena kadar alkohol, ini berbeda. Seperti ia menelan bola api namun ia sangat menikmati sensasi aneh itu. Berbeda dengan apa yang pernah ia rasakan.
Tunggu.
Jiwa Jeno kembali ke raganya ketika ia merasakan gigitan di bibirnya. Jaemin tidak pernah menggigitnya seperti itu dan sialnya ia mengeluarkan sedikit desahan halus akibat aksi tak terduga dari orang yang bahkan ia tak kenal.
Jeno mencium seseorang yang sama sekali tidak ia kenal. Tidak tahu apakah beruntung atau sial ketika ia menyadari warna topeng yang dikenakan oleh orang itu. Bukan dari kerajaan tanah yang pasti. Itu hal yang bagus karena kemungkinan orang sesama earthbender akan mengenalnya. Hal yang buruk adalah ia benar-benar tidak mengetahui identitas orang ini. Bahkan ia tidak mengetahui bagaimana ia bisa berada di posisi ini.
“You’re good?” Rasanya waktu berhenti ketika orang asing itu bertanya. Sang Taurus hanya terpaku. Topeng merah, kali ini ia bisa melihat warnanya dengan jelas walaupun di pencahayaan yang minim seperti ini. Ia menoleh ke arah sekitarnya. Jeno masih berada di meja bartender hanya saja kursi yang sebelumnya ia tempati berasa dua langkah di belakangnya. Ia tertampar kenyataan pahit bahwa dirinya lah yang melakukan langkah pertama.
“I’m sorry.” Ucapan tulus itu terdengar di telinga Jeno walau terdengar samar. Pandangannya pun kembali kepada orang itu. “I thought you were sober enough to do that. I’m sorry I shouldn’t do that.”
“But,” Orang itu melanjutkan. “Saya tidak akan meninggalkan anda sampai anda benar-benar sadar. Maaf saya lancang, tapi ini demi kebaikan anda.” Jeno hanya bisa mengangguk. Bahkan untuk berdiri saja orang itu masih melingkarkan kedua lengannya pada pinggang ramping Jeno.
“Is there any problem, Mr …”
“Lee. Lee Jeno.” Jeno memperkenalkan dirinya. Setidaknya itu yang bisa ia lakukan saat orang itu sudah dengan baik hati membantunya.
“That’s funny because we have the same surname.” Orang itu berkomentar. “Mark Lee. Panggil saya itu saja.”
“Jadi Lee Jeno. Apakah ada alasan anda ke sini?” Mark membuka obrolan di antara mereka. Lelaki itu memainkan gelasnya tanpa memiliki keinginan untuk meminumnya.
“Kenapa semua orang sering bertanya demikian?” Tawa renyah terdengar dari orang bertopeng merah itu,
“Hanya basa basi. Jika anda keberatan tidak usah dijawab. Tak apa.” Jawab Mark.
“Kau?” Tanya Jeno.
“Terlalu bising.” Jawab Mark singkat.
“Terlalu bising tapi anda datang ke klub malam.” Secara spontan Jeno mencemooh. Ia bersumpah ada beberapa orang yang menatapnya sinis untuk alasan yang tidak diketahui. Namun rekan bicaranya hanya tertawa renyah.
“Saya hanya ingin berlari dari identitas saya untuk sementara waktu.” Jawab Mark jujur yang membuat Jeno terkejut.
“Buron?”
“Maybe?” Jawab Mark dengan sebuah pertanyaan kembali. “It depends on who’s asking.” Ucapannya membuat Jeno tertegun. Apa yang diucapkan orang itu ada benarnya.
“Aku anggap kamu seseorang yang berpengaruh di fire nation .” Mark mengangguk sambil meminum minumannya, Jeno tebak itu bukan minum yang beralkohol.
“How about you?”
“Buron.” Ucap Jeno dengan santai. “Aku mengenal avatar sudah cukup membuatku buron bukan?”
“Avatar Haechan?” Jeno mengangguk. “Akan saya sampaikan salam untuknya.”
“Tidak usah. Kepalanya akan menjadi besar jika ia mengetahui aku menanyakan kabarnya.” Lagi lagi lelaki api itu tertawa renyah.
“You really know him.”
“I guess you knew his tutor then.” Alis Jeno terangkat mendengar pernyataan itu. Semua orang lebih tertarik dengan avatar, bukan tutornya, dan Jeno sangat mengerti itu.
“Kenapa? Mau titip salam?” Mark mengangguk.
“And I want to tell them sorry.”
“Kenapa?”
“Saya yang membuat kenapa Avatar datang ke earth kingdom lebih awal. It’s unprofessional of us.” Mark menjelaskan. “Saat itu ada kondisi darurat. It's personal, that's why I'm really sorry about it.”
“My childhood best friend left the nation just two weeks after Avatar came.” Jeno terdiam. Bagaimana jadwal Avatar diubah hanya karena orang ini dengan alasan sahabatnya pergi dari negara api? Siapa orang ini sebenarnya? “He's the one in charge of teaching The Avatar.”
“Karena tidak ada yang mengajar?” Tebak Jeno. Mark menggangguk. Tentu hal itu membuatnya kaget setengah mati. Ia tahu kemampuan negara api. Pasti mereka memiliki orang lain yang mampu untuk mengajak Avatar. Firelord misalnya. Jeno mendengar kemampuan orang nomor satu di negara itu.
“Seharusnya saya yang mengajar.”
“Tapi?”
“Kemampuan mengendalikan emosi saya tidak sebaik itu. Maka dari itu saya meminta sahabat saya.” Mark menatap Jeno penuh arti seakan-akan mencari di matanya apakah ia menyadari sesuatu tentang perkataannya. “When it comes to fire bending, it's hard to not use anger as the fuel for the fire. And I was angry that day or the rest of the month.”
“Saya tidak mampu untuk mengajar dan melakukan pekerjaan utama saya dalam waktu bersamaan di saat saya kehilangan my best friend .” Ia menjelaskan.
“Dia penting buat kamu.” Sang api mengangguk.
“I love him.”
“Kekasih?” Mark tersenyum lalu menggeleng pelan.
“He loves someone else.”
“Aku anggap dia sudah kembali.” ucap Jeno. “Karena kalian sudah mulai mengajar sang Avatar.” Mark tetap menggelengkan kepalanya.
“I asked someone else to tutor Haechan. Well, somehow he fell in love with his tutor.”
“Haechan? Si Avatar itu? Tidak mungkin.” Jeno menatap Mark tidak percaya dan detik kemudian keduanya menertawakan Sang Avatar. Peralihan topik sedih menjadi lelucon terjadi begitu saja. Lagipula Jeno tidak suka melihat Mark sedih. Seperti melihat bayangannya sendiri dan ia tidak suka itu.
“His tutor is feisty as hell.” Komentar Mark yang membuat Jeno kembali tertawa.
“Itulah balasan untuk orang-orang iseng seperti Haechan.”
“You have no idea. He flirts like every single time. Sepertinya Dejun—teman kuliah saya sampai menulis buku berisi gombalan cinta sang Avatar. Hanya untuk menggoda adik sepupunya yang kebetulan sedang mengajar Haechan.”
“Cetak saja, buku itu akan menjadi best seller. Nama Avatar akan menjual apapun di penjuru negeri ini.” canda Jeno. Anggap saja pengalaman pribadi untuk menjual barang-barang pribadi Haechan untuk memberikan sang Avatar pelajaran dan tak disangka, hasil jualannya membuahkan banyak hasil.
“I'll keep that in mind.”
Obrolan mereka berubah menjadi Avatar dan segala kelakuannya. Jeno pun memberikan beberapa trik agar mengajar Lee Haechan tidak sesulit yang dibuat oleh sang Avatar itu. Ia bersyukur ia bertemu dengan seseorang seperti Mark. Ia benar-benar nyaman walau Mark tetap saja menggunakan bahasa baku yang menurutnya tidak perlu.
“Sepertinya anda sudah tidak mabuk lagi, Jeno.”
“Kamu, Mark.” Jeno mengoreksi perkataan Mark. “Aku seperti berbicara dengan Raja di tempat yang sangat formal jika kamu tetap menggunakan Saya-Anda.” Protes Jeno. “Percayalah dengan Raja Kun saja, aku protes.”
“Alright, Lee.” Ucap Mark. “One last time. I need to check if you are sober enough.”
Tak pernah Jeno sangka, cara Mark menguji apakah kadar alkohol di tubuhnya sudah habis adalah dengan menelusuri rongga mulutnya menggunakan lidahnya, merasakan apakah ada rasa alkohol di dalam mulutnya. Singkat cerita, Mark menciumnya sekali lagi. Jeno tidak protes sama sekali dan menikmati permainan mulut Mark di atas mulutnya.
“You tasted sweet—I mean, sudah tidak ada rasa alkohol.” Ucap Mark.
“You tasted like hot lemon tea.” Jeno menambahkan sedikit humor agar partner cumbunya tidak merasa kaku.
“I'm sorry to do that. I want to make sure that you're sober and ….” Mark menghentikan ucapannya.
“Dan?” Mark menggaruk tenguknya yang tidak gatal itu.
“If I didn't kiss you again and didn't meet you again, aku akan sangat menyesal.” Ujarnya jujur. Mark hanya tersenyum kepada lelaki taurus itu.
“So, see you ….”
“Next week. Aku janji.” Ucapan Jeno membuat senyum Mark mengembang.
“See you , Lee.”
