Actions

Work Header

Risol Mayo

Summary:

"Ada ya, orang yang segitu cemburunya sama risol?"

Work Text:

Bagi Mikage Reo, Isagi Yoichi adalah hal terindah yang pernah ia jumpai di dunia. Tak ada yang mampu menandingi keindahan Isagi. Terutama, ketika lelaki berambut hitam tersebut mengulum kejantanannya — membiarkan batang kemaluannya menggagahi mulut hangat tersebut.

 

Seringai tipis terpatri pada bibir Reo. Tangannya membelai lembut pipi Isagi yang kini tengah menatapnya dengan tajam. Bagai kucing yang tengah berhadapan dengan musuhnya. Namun dengan tatapan tersebut, Isagi nampak tetap setia memanjakan batang berurat di dalam mulutnya. Sama sekali tak berniat memperlambat tempo pergerakannya.

 

“Kenapa marah, hm?” Reo meremas pelan rambut hitam lelaki di bawahnya, sebelum menekan kepala Isagi. Menjejalkan kejantanannya semakin dalam.

 

“Biasanya kamu suka, kan?”

 

Isagi membawa batang keras tersebut untuk keluar dari mulutnya. Maniknya menatap sosok Reo dengan garang.

 

“Kamu kalo bantu orang, ternyata bukan tanpa pamrih ya.”

 

Ucapan tersebut membuat Reo terkekeh pelan. “Loh, kan kamu yang bilang boleh minta apa pun. Jadi, aku cuma minta ini.”

 

Reo menggesekkan miliknya pada bibir Isagi. Membasahi bibir lembut tersebut dengan cairan bening yang telah membanjiri kepala kejantanannya. Dibawanya batang berurat tersebut untuk membelai pipi Isagi, hingga desisan nikmat pun tak dapat dibendungnya.

 

“Ngelayanin kamu setelah dikasih uang? Udah kayak sugar daddy aja kamu Re.”

 

“Kamu mau sugar daddy? Aku bisa jadi sugar daddy buat kamu. Kalo butuh uang buat kementerian kamu, aku kasih. Asal kamu ngga jualan risoles lagi — danusan atau apa lah itu namanya. Waktu kita kepotong cuma gara-gara risoles.”

 

Jawaban Reo sukses membuat Isagi mengernyit keheranan. “Ada ya, orang yang segitu cemburunya sama risol?”

 

“Bukan cembu —  Aahhh Isa.”

 

Isagi begitu memahami, bagaimaa cara yang tepat untuk membungkam seorang Mikage Reo. Tak perlu membungkam bibirnya secara langsung, ia cukup melahap kejantanan lelaki tersebut. Menelannya tanpa sisa, menyelimuti batang tersebut dengan mulutnya yang hangat. Berkat aksinya, Isagi dapat merasakan getaran pada tubuh sang kekasih, disusul dengan geraman rendah yang lolos tanpa dapat Reo tahan.

 

Isagi pun memahami titik sensitif dari seorang Mikage Reo. Lidahnya dengan lihai menggelitik batang panas milik Reo. Menelusuri urat yang mengitari benda tersebut, dan tak lupa membelai kepala kejantanan yang telah membengkak di dalamnya.

 

Semangat Isagi kian membuncah, saat batang kemaluan di dalam mulutnya kian membengkak. Namun di tengah kegiatannya, Reo justru menarik benda tersebut dari dalam mulutnya. Dengan nafas memburu, lelaki tersebut memposisikan kejantanannya pada wajah Isagi. Memberikan kocokan serta pijatan pada miliknya sendiri, sembari menatap mata sayu Isagi yang kian menambah gairahnya. Cairan mani pun menyembur tanpa ampun, mengotori paras manis di bawahnya.

 

Reo tersenyum puas, saat pandangannya bertemu dengan Isagi yang kini menatapnya semakin garang — tentu dengan cairan putih yang menghiasi wajahnya. Tangannya meraih tisu yang tergeletak di sisi ranjang untuk membersihkan wajah tersebut.

 

Sebelum Isagi sempat melayangkan protes, Reo segera menarik kekasihnya mendekat. Sebuah kecupan ia hadiahkan pada bibir Isagi, berharap dapat melunakkan lelaki berambut hitam tersebut.

 

“Malam ini, kamu yang di atas, ya.”

 

Isagi menelan ludahnya dengan kasar. Tak pernah sekalipun ia bermain di atas. Dalam setiap pergumulan, lelaki tersebut selalu membiarkan Reo memimpin permainan. Ia selalu menikmati saat dirinya dibuat tak berdaya oleh Mikage Reo. Namun kini, kekasihnya justru menginginkan sesuatu yang berbeda, membuat rasa gugup pun menghinggapinya.

 

“Ih, kamu banyak maunya.”

 

“Kan aku boleh minta apa pun.”

 

“Oke, kalau itu yang kamu mau—” Isagi mendorong pelan tubuh Reo, membuat lelaki tersebut kini terbaring di Ranjang. “ — aku turutin semuanya.”

 

Isagi meraih lube yang tergeletak di meja. Melumasi kejantanan Reo dengan cairan gel tersebut menjadi hal yang begitu penting, mengingat ukuran batang tersebut yang tak main-main. Namun kali ini, nampaknya tak cukup jika ia hanya melumasi milik Reo. Isagi jelas harus melumasi analnya.

 

Dengan tangan yang telah dilumuri oleh lube, Isagi meraba area selatan tubuhnya. Membelai cincin kemerahan yang menjadi pintu bagi lubangnya, sebelum membenamkan jemarinya ke dalam lubang tersebut. Tubuhnya pun menegang, saat perlahan jemarinya bergerak di dalam analnya yang begitu rapat.

 

“Perlu bantuan?”

 

Memang, ucapan Reo terdengar seperti tawaran. Namun sebelum Isagi sempat menjawabnya, lelaki tersebut telah menyingkirkan jemari Isagi dari dalam lubang anal tersebut, mengganti milik Isagi dengan jemarinya. Lubang yang telah basah, memudahkan jemari Reo bergerak di dalam rektum kekasihnya. Bergerak keluar dan masuk, sekaligus meregangkan lubang rapat tersebut.

 

Getaran hebat menjalari tubuh Isagi, saat jemari Reo berhasil menyentuh titik sensitifnya. Membuat Isagi seakan tak mampu menopang tubuhnya. Tangannya pun meraih tubuh Reo, memeluk pundak lelaki tersebut. Nafas hangatnya menyapu leher Reo, memberikan sensasi menggelitik pada leher tersebut.

 

“Reo, udah,” pinta Isagi, nyaris terdengar seperti rintihan.

 

Mendengar permintaan Isagi, membuat Reo terkekeh pelan. Nampaknya, ia terlalu banyak menggoda lelaki manisnya. Meski tak rela, Reo pun mengeluarkan jemarinya dari lubang hangat Isagi. Kini, ia membiarkan kekasihnya untuk memimpin permainan.

 

Meski ragu, Isagi memposisikan dirinya tepat di atas kejantanan sang kekasih. Perlahan, tubuhnya bergerak turun, menjejalkan batang kemaluan tersebut ke dalam analnya. Lelaki berambut hitam tersebut mendesis, kala benda keras tersebut kian menyeruak masuk ke dalam tubuhnya, mengisi penuh rektumnya hingga titik terdalam.

 

Cukup lama Isagi terdiam sembari meremas pundak kekasihnya, mencoba untuk membiasakan diri dengan kejantanan di dalam analnya. Ia tak menyangka bahwa posisi tersebut berhasil membawa batang kemaluan Reo menyentuh titik terdalamnya.

 

“Kenapa diem aja?” Reo melayangkan sebuah kecupan pada bibir Isagi. “Mau aku aja yang gerak?”

 

Isagi menggeleng pelan. Namun terlebih dahulu, Reo telah menggerakkan pinggulnya. Gerakan memutar, sembari menekan kejantanannya semakin dalam, meraih titik sensitif sang kekasih. Desahan pun mengalun tanpa mampu Isagi tahan, kala batang kemaluan Reo bergerak mengaduk rektumnya.

 

Aksi Reo berhasil membuat Isagi seakan melayang. Namun, itu saja tak cukup bagi Isagi. Lelaki tersebut lantas menggerakkan tubuhnya, menunggangi kejantanan sang kekasih di dalam analnya. Tubuhnya bergerak naik dan turun, sesekali bergerak memutar, membiarkan batang berurat tersebut menginvasi tubuhnya.

 

Begitu indah pemandangan yang tersaji di hadapan Reo. Dengan tubuh bersimbah peluh, semakin lengkap dengan nafas memburu, Isagi bergerak aktif menunggangi batang kemaluannya. Dengan kepala menengadah, mata sayu sang kekasih menatap langit-langit. Jelas, Isagi Yoichi telah tenggelam dalam kenikmatan yang menjalari tubuhnya.

 

Tak ingin tinggal diam, Reo meraup puting sang kekasih yang tersaji di hadapannya. Menyesap tonjolan kemerahan tersebut bagai bayi yang tengah menyusu, meninggalkan bekas kemerahan pada kulit mulus tersebut. Ia pun membawa lidahnya menggelitik puting Isagi, memadukan aksinya dengan pijatan yang ia berikan pada kejantanan lelaki berambut hitam tersebut.

 

“J-jangan, Re.” Berbanding terbalik dengan apa yang telah ia ucapkan, Isagi justru merengkuh kepala Reo, berharap kekasihnya dapat terus memanjakan putingnya yang kian mengeras.

 

Isagi mengangkat tubuhnya, membawa keluar sebagian besar dari batang Reo yang telah membengkak di dalam rektumnya. Dengan sengaja, ia menyisakan kepala tumpul dari kejantanan tersebut, sebelum menghentakkan tubuhnya begitu kuat. Batang kemaluan tersebut menumbuk prostatnya dengan telak, menghadirkan getaran hebat pada tubuhnya.

 

Tanpa mampu ia cegah, cairan mani pun menyembur dengan hebat dari kejantanan Isagi. Membasahi tubuhnya, sekaligus kekasihnya. Kabut putih seakan mengaburkan penglihatannya. Sungguh, Isagi tak pernah menyangka bahwa posisi tersebut mampu memberikan kenikmatan berlebih baginya.

 

Pelepasan tersebut membuat Reo mendesis. Rektum Isagi kian merapat, seakan tengah menghisap kuat kejantanannya yang kian membengkak. Ia menyadari bahwa puncaknya pun kian mendekat. Tanpa memberikan jeda , Reo mencengkeram pinggul Isagi, kembali membawa tubuh sang kekasih untuk bergerak memanjakan batang kemaluannya.

 

Dengan tubuh lemasnya, Isagi begitu pasrah dengan apa yang Reo lakukan terhadap dirinya. Hentakan demi hentakan kembali ia dapatkan dari batang berurat pada rektumnya. Isagi dapat merasakan bagaimana kejantanan tersebut semakin membengkak tanpa ampun di dalam tubuhnya, saat Reo membenamkan miliknya begitu dalam.

 

Reo menggeram rendah. Dalam hentakan terakhir, maninya berlomba-lomba untuk memenuhi rektum Isagi. Membagikan sensasi hangat pada tubuh Isagi, yang dibalas dengan rintihan kecil di bibirnya. Reo telah memastikan bahwa ia telah memompa habis seluruh cairan maninya, sebelum menarik kejantanannya dari lubang hangat sang kekasih, menghasilkan lelehan putih yang tak mampu Isagi bendung.

 

Dibaringkannya tubuh lemas Isagi, sembari menghadiahi paras penuh peluh tersebut dengan kecupan-kecupannya.

 

“Gimana? Kamu lebih suka punyaku, atau risol mayo yang kemarin kamu jual itu?”

 

Mendengar pertanyaan tak terduga yang baru saja Reo lontarkan, membuat mata Isagi kembali terbuka lebar. “Bisa-bisanya masih bahas risol.”

 

“Tinggal kamu jawab aja, sayang.”

 

Isagi mendengus kesal. Tangannya beralih meraih kejantanan sang kekasih, memberikan remasan lembut, hingga ia dapat merasakan batang tersebut kembali mengeras.

 

“Aku lebih suka risol mayo. Tapi risol mayo punya Mikage Reo.”