Chapter Text
hidup di usia 25 adalah pendefinisian terlalu tua untuk bertingkah, namun terlalu muda untuk mengubah dunia. sebagai 1% dari golongan berumur segitu, gue memilih untuk hidup sewajarnya aja. bangun pagi, siap-siap kerja, lalu kerja dari jam 9 sampai jam 5—untuk yang satu ini lo harus hoki-hokian atau lo bakalan pulang jam 9 malem—pulang kerumah, lalu mengakhiri hari dengan ketiduran pas baca novel. gak ada yang terlalu spesial di hidup gue, dan gue merasa cukup akan hal itu. toh gue juga gak sendiri-sendiri amat, gue masih punya temen yang ngajakin gue buat ngelepas suntuk dijumat malam, atau sekedar brunch di salah satu restoran kenamaan ibukota. dalam satu kata, hidup gue… stabil.
lalu bagaimana dengan pacar? berkali-kali keluarga besar gue menanyakan hal yang sama, setiap acara keluarga. pertanyaan yang berputar di ‘mana pacarnya?’ ‘udah punya calon belum?’ seringkali akan gue jawab dengan senyuman dan melengos pergi buat makan. bukannya gue gak mau menjawab, tapi gue gak mungkin kan bilang ‘gak punya tante, saya masih trauma soalnya terakhir punya pacar ternyata saya jadi selingkuhan’ ke tante-tante kepo itu. lagipula, silence will always be the best answer buat pertanyaan-pertanyaan kayak begitu. tapi lalu apakah gue fine-fine aja dengan keadaan gue ini? ya… 80% dari diri gue akan menjawab gue baik-baik aja dan gak butuh siapapun. tapi 20% dari gue kadang berharap gue bisa punya seseorang yang nyambut gue dirumah dengan pelukan hangat, menyiapkan air hangat buat gue mandi dan setelahnya gue dan dia bisa tidur dipelukan masing-masing. sebuah harapan sederhana dari seseorang yang jarang menaruh harapan. karena nyatanya gue tetap kesepian dibeberapa hari yang berat, dan kayanya menaikkan angka 20% ke 30% agak-agaknya gak sejahat itu untuk diri gue sendiri. dan karena alasan itu juga gue, seorang bujang seperempat abad duduk pasrah di sudut restoran menunggu teman kencan gue. bermodal swipe kanan dan kiri, gue akhirnya menemukan seseorang yang gue pikir akan cocok dengan gue. mungkin sekitar seminggu setelah gue dan dia ngobrol, kami berdua memutuskan buat ketemu atas nama 'cuma pengen tahu'. jadilah gue disini, menunggu sosok bernama kim mingyu yang katanya akan datang pakai kemeja putih dan celana navy, oh, wait, kayanya gue bisa ngeliat si kim mingyu itu masuk melalui pintu utama dan holy fuck! gue... boleh sembunyi gak? sumpah demi neptunus, siapa yang bisa menyangka teman kencan gue malam ini adalah perwujudan adonis abad 21? dibandingkan dengan gue yang sekarang cuma berpakaian apa adanya, gue jelas akan terlihat seperti cecunguk di depan si kim mingyu ini.
"wonwoo, right?"
oh hell nah, untuk apa manusia super ganteng dan bersuara berat ini masuk ke kehidupan gue kalau gak berakhir di ranjang gue? gila, bisa gila gue. belum lagi wangi parfum yang menguar secara gak masuk akal, ke seluruh lingkup meja kami berdua.
"wonwoo...?"
"ah iya, sorry, kim mingyu kan?"
bagus, pertemuan pertama dan gue sudah terlihat seperti orang bodoh di hadapan mingyu. si dia ini ngangguk doang dan secara mandiri mengambil duduk di hadapan gue, bersikap kelewat santai seakan ini pertemuan gue dan dia yang udah kesekian kalinya. sebenarnya gue yang minta dia buat santai, satu dua alasannya karena gue ingat tentang percakapan gue sama dia beberapa hari lalu. sebuah kebetulan lucu, hubungan mingyu sama mantannya dulu ternyata kandas gara-gara pacarnya mingyu ketahuan selingkuh. waktu gue diceritain kala itu, gue merasa kasihan sama si mingyu ini. dan setelah ketemu hari ini, gue malah kesel sama mantan mingyu yang menyia-nyiakan cowok sesempurna mingyu. tapi ya... siapa sih gue ikut-ikutan ngurusin masa lalu orang? kembali ke topik, gue dan cowok ganteng di hadapan gue ini kebetulan sama-sama lagi nyari sesuatu. kalo kata mingyu sih studi kasus, gue sama dia sedang dalam pencarian definisi cinta yang sesungguhnya. asik banget gak tuh? tapi beneran, setelah gue ngerasain asem garemnya punya hubungan sama orang lain gue masih belum bisa mendefinisikan cinta menurut pandangan gue. yang gue tau selama ini cinta tuh kalo gak menggebu-gebu ya isinya paku santet semua. it's either making you feel like you're in heaven or hell, there's no limbo. dan gue butuh tahu rasa cinta yang lain, yang gak ugal-ugalan, dan yang sakit banget sampai rasanya mau mati. gue mau cinta yang biasa aja, yang secukupnya, yang apa adanya, yang mungkin aja bisa gue temukan di mingyu. kalopun gak ketemu, gue punya tambahan sejarah untuk gue catat di memori gue.
balik ke mingyu, dari sejak sejam terakhir gue ketemu dia gue bisa menyimpulkan bahwa dia adalah seorang extrovert yang awkward. dia tipe orang yang pintar buat membangun percakapan, dan punya banyak kenalan yang tiap 15 menit sekali suka nepuk bahu dia sambil kaget. tapi lucunya, kalo udah balik duduk lagi, dia bakalan ngegaruk tengkuknya bentar soalnya bingung mau ngebahas apalagi, tapi tetap ketemu bahasan baru setelahnya. bingung? sama gue juga. tapi gue pikir untuk kencan pertama, malam ini gak buruk sama sekali. gue senang, turun ke parkiran dengan dia yang ngebantu bukain pintu mobil gue dan menunggu sampai gue pergi sebelum dia masuk mobilnya. mungkin gue harus mulai memikirkan mau kemana kencan kedua nanti.
***
makan bakcang di bandung. gak ada yang bisa menduga, ketika wonwoo mengajak gue untuk makan bakcang yang lagi ramai diinternet tadi malam. katanya anggap aja ini kencan kedua, dan gue dan wonwoo berakhir duduk di pinggiran jalan di bandung. hampir seminggu gak ketemu wonwoo gue baru sadar dia potong rambut, pendek dan rapih kayak pns yang sering lo temuin di kantor kelurahan. sepanjang perjalanan ke bandung gue sama wonwoo bicara banyak hal, seakan-akan gue sama dia adalah teman lama yang udah bertahun-tahun gak ketemu. selama berjam-jam gue sama wonwoo, gue selalu menemukan hal baru yang sebenarnya gak penting tapi seru aja pas sama wonwoo. kayak dia yang maksa buat split bill perkara isi bensin, atau waktu kopi dia ketumpahan abis ditabrak anak kecil yang lagi lari-larian and his first responds was to tell the kid not to run inside the shop. dia gak pernah marah perkara orang-orang yang ngeselin atau mobil depan yang lama banget di gerbang tol. tapi anehnya, dia malah marah sama diri sendiri waktu duit dua ribunya terbang kena angin. lucu. sama wonwoo gue benar-benar menikmati yang namanya waktu, semuanya kerasa lamban tapi sesuai sama aksisnya. gak terburu-buru, pelan, pelan banget sampai gue gak sadar kalau hari udah berganti. gue dan wonwoo masih di bandung, menikmati lampu-lampu kota dari ketinggian. ngeliat wonwoo yang merem di sebelah gue berasa kayak gue lagi di film rom-com, jadi pemeran utama yang menikmati waktu sama orang yang disayang. tapi gue gak sayang sama wonwoo, belum. dengkuran halus bikin gue memfokuskan mata gue ke wonwoo, orang yang gue kira lagi nikmatin angin malem ini ternyata malah ketiduran. untung gue keukeh nyuruh dia buat ngeliat dari mobil aja, kalo enggak mungkin dia udah terjun bebas ke tanah. sedikit too much information, gue sebenarnya udah sering ngeliat wonwoo. mungkin dia gak pernah sadar eksistensi gue, tapi sirkel pertemanan yang sempit sering bikin gue gak sengaja ketemu dia di beberapa okasi. sejauh yang gue perhatikan dari wonwoo adalah, dia orang yang ceplas ceplos. lo pasti pernah kan ketemu sama orang yang selalu ngomongin apa aja yang ada di pikiran dia? nah si wonwoo ini adalah orang yang begitu. dan sama gue pun, orang ini gak sama sekali nutupin kebiasaannya itu. dia masih sempat-sempatnya nanya apakah manusia silver tititnya ikutan silver. jujur gue speechless, tapi juga suka sama wonwoo yang gak berusaha terlihat jaga image sama gue. he's being himself with me, and i feel the urge to do the same.
tapi jujur gue ngerasa aneh. no, bukan aneh dalam artian buruk. gue cuma ngerasa... beda? gue gak merasakan hal-hal yang biasa gue rasain sama gebetan-gebetan gue terdahulu. kalau dulu gue ngerasa ada yang lari-lari di perut gue setiap ketemu sama gebetan gue, sekarang gue gak ngerasain apa-apa. cuma ada detak konstan dari jantung gue. mungkin ini kali ya yang gue cari? the slow love i've been looking for. gue gak tau, mungkin aja ini false alarm. gak ada yang tau juga gue sama wonwoo bakalan gimana. tapi yang gue tau, gue masih pengen nikmatin apapun yang gue dan wonwoo punya sekarang. at least for now.
