Actions

Work Header

Just Wanna Be Controlled

Summary:

Deep down, Jeno just wants to give up his control.

Notes:

Before reading, please read the tags since it's an explicit fiction.
Everything written here is PURELY FICTION, do not bring it up to real life.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Orang kerap mengira bahwa sosok CEO dari Lee Corp. merupakan sosok yang tegas dan menyeramkan. Kehadirannya selalu membawa aura yang begitu mendominasi bagi sekitarnya, membuat siapapun merasa tunduk kepadanya. Tubuh atletis yang terpahat sempurna bak menjadi pendukung akan pandangan menakutkan terhadap sosok tersebut.

Tak hanya disegani orang-orang, banyak yang juga memiliki kekaguman terhadap Lee Jeno, Sang CEO of The Lee Corp., mengingat kesuksesannya dalam memimpin perusahan multinasional tersebut di tengah usianya masih tergolong muda. Pencapaiannya tersebut lantas membuat sang CEO dijuluki sebagai “Business Prodigy of the Year” dalam salah satu majalah bisnis terkemuka.

Sosok yang sempurna bukan? Tetapi perlu kita ketahui bahwa manusia tidak ada yang sempurna. Begitu juga dengan Jeno. Little did they know, he just wants to give up his control.

***

Tidak seperti image-nya yang dingin dan menyeramkan, Jeno yang baru saja memasuki ruangan apartemennya segera melucuti pakaiannya hingga dia telanjang bulat dan kemudian seperti telah terbiasa, ia merangkak ke arah sosok pria lain yang saat ini sedang duduk bersantai di sofa ruang tengahnya sambil menonton TV. Saat telah berada di hadapan pria tersebut, Jeno kemudian bersimpuh dengan kedua tangannya ia letakkan di depan dada, seperti seekor anjing yang sedang mencari perhatian tuannya. Melihat hal tersebut, pria yang masih duduk, lengkap dengan pakaiannya tersebut pun kemudian mengusak rambut Jeno dengan senyum terpatri di wajahnya.

“Hey, puppy. How was your day? You may talk to answer,” tanya sang pria tersebut.

Jeno sudah paham. Dirinya tidak diperbolehkan untuk berbicara, kecuali diperintahkan seperti saat ini. Mengingat dirinya telah mendapatkan izin, ia pun segera menjawab pria tersebut tanpa memutuskan pandangannya, meskipun posisinya saat ini sama sekali tidak mencerminkan posisinya sebagai seorang CEO.

“It was tiring, Master Jaemin,” jawab Jeno singkat, mengingat ia benar-benar tidak peduli dengan pekerjaan yang sebelumnya ia lakukan.

“My puppy has been doing a great job. Oh, my good boy. Karena itu, kamu berhak mendapatkan hadiah, kan? Then go get your reward, boy,” balas lelaki bernama Jaemin tersebut sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa dan melanjutkan tontonan yang sempat tertunda. Sementara itu di lain sisi, Jeno kemudian dengan semangat mengeluarkan kejantanan pria yang berada di hadapannya, hanya dengan mulutnya, mengingat tuannya itu telah melatih Jeno untuk meminimalisir penggunaan tangannya, sebagaimana seekor anjing peliharaan. Setelah berhasil mengeluarkannya, Jeno kemudian langsung menghisap penis yang tergolong besar tersebut dengan semangat. Ia sangat menyukai penis tuannya dan setelah puas membasahi seluruh permukaan dan kedua bola kembarnya, ia pun memasukan keseluruhan kejantanan tersebut ke dalam mulutnya. Sang tuan yang merasa puas dengan deepthroat yang dilakukan anjing peliharaannya terus menekan kepala Jeno dengan tangannya tanpa memedulikan Jeno yang sempat tersedak. Setelah beberapa lama, Jaemin pun mengeluarkan cairannya yang dengan lahap Jeno telan, tanpa ingin membuang satu titik pun. His master’s cum is too precious to be wasted.

“Do you wanna cum too, puppy?” sang pria tersebut pun bertanya yang kemudian dibalas dengan anggukan semangat oleh Jeno.

“Then, you could hump on my foot like a horny dog you are.”

Jeno yang telah mendapatkan lampu hijau langsung menggesekan kemaluannya dengan kaki tuannya dengan semangat tanpa berpikir apapun. Ia hanya ingin merasakan kepuasan sekarang juga.

***

Okay, sebelum kita melanjutkannya lebih jauh, kita perlu melihat kilas balik bagaimana Jeno dapat mencapai titik tersebut. How Mighty Lee Jeno was turned into a worthless animal.

“Selamat pagi, Tuan Lee, saya adalah Na Jaemin, selaku sekretaris anda yang baru, yang ditugaskan oleh ayah anda.”

Di hadapan Jeno saat ini, terdapat seorang lelaki yang terlihat seumuran dengannya, lengkap dengan pakaian formal kantoran, serta senyum manisnya. Sebelumnya, Jeno telah diberitahu oleh sang ayah bahwa ia akan dikirimkan seorang sekretaris yang baru, mengingat sekretaris sebelumnya sudah tidak dapat lagi bekerja di perusahaan tersebut.

“Halo, Jaemin. Karena ayah yang mengirimmu, saya anggap kamu sudah mengerti tugas dan tanggung jawabmu, ya,” balas Jeno singkat dan segera memfokuskan pandangannya kepada tumpukan berkas yang berada di mejanya.

“Baik, Tuan. Semoga saya dapat memenuhi ekspektasi anda untuk ke depannya,” ucap Jaemin, sebelum ia menunduk sedikit untuk memberi hormat kepada atasannya dan kemudian keluar dari ruangan untuk menuju ke tempat ia akan bekerja.

Meskipun perkenalan awal keduanya terkesan canggung dan seadanya, hubungan antara bos dan asistennya tersebut lambat laun dapat berkembang dengan baik. Keduanya memiliki chemistry yang cukup baik, sehingga Jaemin dapat memenuhi segala permintaan Jeno, dan sebagai bos, Jeno untungnya tidak begitu banyak menuntut. Jeno memang sosok yang perfectionist, tetapi Jaemin masih dapat mengikuti standar yang ditetapkan oleh sang CEO.

***

 

Sudah bulan kedelapan Jaemin bekerja dengan Jeno dan saat ini waktu telah menunjuk ke angka 10 di malam hari. Meskipun Jeno selalu mengatakan bahwa Jaemin tidak perlu ikut lembur dan mengizinkannya pulang pada tepat waktu, sang sekretaris selalu menghiraukan perintah tersebut dan memilih untuk tetap berada di kantor sampai atasannya pulang. Melelahkan memang, mengingat bukan hanya sekali ini saja Jeno memilih untuk tetap berada di kantor melebihi jam kerja normal, tetapi Jaemin merasa tidak enak jika ia pulang duluan daripada sang CEO.

Prang

Jaemin yang sebelumnya sedang melamun lantas terkejut mendengar suara barang pecah dari dalam ruangan bosnya, serta secara samar ia pun dapat mendengar teriakan frustasi. Rasa khawatir pun memenuhi Jaemin dan mendorong lelaki tersebut untuk memasuki ruangan atasannya. Tak ada balasan akan ketukan yang ia lakukan pada pintu ruangan tersebut membuat Jaemin mau tak mau masuk secara langsung secara pelan dan sopan, karena takut mengganggu Jeno di dalamnya.

“Jeno?”

Tidak ada balasan secara verbal, tetapi Jaemin dapat dengan jelas melihat raut frustasi dan lelah pada wajah bosnya. Merasa Jeno tidak mencegahnya untuk masuk, maka pria manis tersebut pun kembali melangkahkan kakinya mendekati Jeno yang masih berada pada kursi kebangsaannya.

“Hey, are you okay? Do you need me to do anything for you?” tanya Jaemin saat ia telah berada di hadapan Jeno.

Hening

Jeno tidak membalas untuk beberapa saat dan Jaemin tidak ingin memaksa bosnya untuk menjelaskan apa yang terjadi kepadanya. Merasa kehadirannya tidak dibutuhkan di dalam ruangan tersebut, sang sekretaris pun hendak membalikan badannya sebelum Jeno dengan pelan bersuara.

“I’m tired. I hate being a CEO.”

Jaemin yang mendengar hal tersebut pun kembali membalikan tubuhnya dan mendekati atasannya itu. Jeno yang merasa bahwa sang sekretaris sedang memberikan perhatiannya dengan penuh pun memberikan gesture untuk menyuruh Jaemin duduk di hadapannya, sebelum kemudian melanjutkan ucapannya. Ia merasa ia sudah diambang batas maksimal dan ia perlu untuk mengeluarkan isi hatinya saat itu juga.

“I hate to have control to be honest. Mungkin bagi banyak orang, jadi CEO itu menyenangkan. Punya posisi yang tinggi, bergelimang kekayaan, dan memiliki kekuasaan. But it’s not all butterflies and rainbows. And sometimes, I just don’t want to have control over everything. I am too tired to have to think all the time and make decisions.”

Ruangan sempat kembali hening. Jaemin berusaha untuk mencerna ucapan sang bos, sementara Jeno sedang kembali mengatur pikirannya yang berantakan.

“Sorry Jaem, ini bukan tugas kamu untuk dengerin keluhan saya, you can go—”

Ucapan Jeno terhenti saat Jaemin seketika membalas ucapannya.

“Maybe you just have to let go of your control, Jen.”

Jaemin bahkan sudah tidak menggunakan panggilan Bos atau Tuan terhadap Jeno di hadapannya. Namun, Jeno tidak merasa tersinggung. Ucapan sekretarisnya itu berhasil membuatnya mengalihkan fokus dari sang CEO kepada manusia yang saat ini berada di hadapannya. Jeno merasa tertarik dan penasaran akan apa yang dikatakan oleh Jaemin.

“Maybe you just need someone to have control over yourself. You know, to tell you what to do, without you thinking at all,” balas Jaemin kembali sebelum ia melanjutkan ucapannya yang sukses membuat Jeno untuk pertama kalinya kehilangan kata-kata.

“And I would be glad to have control over you, Jeno.”

***

Setelah pengakuan yang dilakukan oleh Jeno dan Jaemin tersebut, keduanya benar-benar mengambil langkah baru dalam hubungan keduanya. Mereka tak hanya lagi terlibat dalam ranah pekerjaan, tetapi juga dalam urusan kehidupan seksual. Jaemin percaya bahwa melakukan sex dapat menjadi stress relief bagi sang atasan. Tentu saja hubungan private keduanya dimulai dengan perlahan dan bertahap. Sesuai dengan kesepakatan mereka, maka mulai saat ini, kedua pria tersebut akan kembali bersama ke apartemen milik sang CEO setiap akhir pekan dan mereka akan memulai permainannya. Jaemin benar-benar menuntun Jeno agar sepenuhnya percaya akan dirinya, sehingga ia dapat memberikan kendali dirinya kepada sang dominan.

“Have you ever had sex with a man before, Jen?” tanya Jaemin. Saat ini, kedua pria yang merupakan atasan bawahan tersebut sedang berada di ruang tamu sang CEO. Ini adalah sesi pertama mereka setelah kejadian breakdown yang dialami Jeno.

Jika biasanya Jeno penuh dengan percaya diri dalam menjalankan pekerjaannya, maka sekarang, rasa tersebut seakan hilang. Ia sangat gugup dan jantungnya pun berdetak lebih cepat dari ukuran normal. Merasa ia tidak berani menjawab secara verbal, maka ia pun hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

“Jeno,” ucap Jaemin dengan lembut sembarik mengarahkan tangannya ke dagu sang atasan dan mengarahkan pandangan Jeno kepada dirinya sebelum ia melanjutkan ucapannya, “kamu yakin kamu mau melakukan ini? Kalau kamu gak nyaman, kita bisa menyudahi ini semua sebelum kita berada terlalu jauh.”

“I want this Jaem, but I’m nervous as fuck,” balas Jeno pelan namun tetap berusahan meyakinkan.

“We’re gonna take it slow, okay? I just want to help you, Jen. Kamu bilang kamu gak mau pegang kendali, kan? So, would you let me take control over you? To dominate you in this relationship?” ucap Jaemin kembali.

“Please have control over me, Jaem.”

Melalui pernyataan Jeno, hubungan rahasia kedua pria tersebut pun dimulai, di mana mereka tidak hanya menjadi teman ranjang tetapi juga menjalin hubungan sebagai seorang dominan dan submisif.

“Okay, Jen. Kalau gitu, I need you to strip off your clothes now dan berdiri di tengah ruangan,” ucap Jaemin dengan penuh dominasi. Ia pandangi Jeno yang bergerak secara perlahan untuk membuka pakaian pada tubuhnya, sebagaimana perintah dari Jaemin.

Saat ini, Jeno ada dalam keadaan telanjang, sementara Jaemin masih mengenai pakaian lengkapnya. Jeno yang merasa malu pun berusaha untuk menutupi penisnya dengan kedua tangannya sebelum Jaemin menahan tangannya.

“Jangan ditutupin. I love your body. You really look so good, naked like this, Jen. Dan aku gak sabar untuk menghancurkan tubuh cantikmu.”

Jeno tidak menyangka bahwa ucapan dari Jaemin tersebut berhasil membangunkan hasrat dalam dirinya. Seketika AC dalam ruangan tersebut tidak terasa, walaupun ia tak mengenakan pakaian apapun.

“Have you ever given oral services before?” tanya Jaemin masih dengan menatap lekat tubuh lawan mainnya. Jeno pun hanya menjawab dengan sebuah anggukan.n

“Jawab dengan kata-kata, Jeno. Mulai sekarang kamu harus selalu menjawabku dengan jawaban verbal, mengerti?” ucap Jaemin tegas dan penuh tuntutan. Jeno menarik napasnya dalam-dalam, sebagai upayanya untuk menetralkan detak jantungnya sebelum menjawab bawahannya.

“Iya aku ngerti, Jaemin. Dan iya, aku udah pernah melakukan oral sex sebelumnya,” balas Jeno masih dengan menundukkan kepalanya. Jeno tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan berkata sefrontal ini di hadapan seseorang. Mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya, dirinya benar-benar merasa di bawah kendali Jaemin sekarang.

“Okay then, now kneel, Jen.Give me your best oral.”

Mendengar perintah Jaemin, Jeno pun mengubah posisinya menjadi berlutut, tepat di depan kejantanan sang sekretaris yang masih terbalut pakaian. Setelahnya ia pun meminta izin untuk membuka celana Jaemin sebelum memulai tugasnya. Jeno merasa begitu kagum saat melihat penis dari Jaemin yang terlihat besar dan berurat. Seketika, ia merasa lubang bawahnya berkedut memandangi kejantanan tersebut.

Dengan perlahan, Jeno jilat seluruh permukaan penis Jaemin, bahkan sampai kedua bola kembarnya. Setelah itu ia pun memasukkan kejantanan yang ukurannya tergolong besar tersebut ke dalam mulutnya.

“Watch out for your teeth, Jen. Belajar atur napas kamu. Breathe through your nose dan masukkin penis aku lebih dalam lagi,” ucap Jaemin sambil mengarahkan atasannya dengan mencengkram rambut Jeno.

Merasakan dorongan paksa dari Jaemin, Jeno sempat terkejut, namun tetap melakukan tugasnya. Ia belum pernah memberikan deepthroat dan tidak pernah menyukai oral sex sebelumnya, tetapi entah bagaimana caranya, Jaemin berhasil membangunkan keinginan dalam dirinya untuk dapat memberikan kepuasan kepada sang dominan dengan mulutnya. Tak hanya itu, jika ia dapat mengatakan bahwa sekarang memberikan oral service akan menjadi salah satu aktivitas yang ia sukai, jika orang tersebut adalah Jaemin. Cairan precum yang mulai menetes dari penis Jaemin ditelan oleh Jeno dengan semangat dan hal tersebut meningkatkan gairah Jeno untuk kembali memasukkan penis tersebut ke tenggorokannya. Ia hisap dengan semangat seakan ia sedang mendapatkan lolipop terbaik.

“Ahhh, yes Jen, you’re doing so good. Terusin Jen, bikin aku keluar dengan mulutmu.”

Jaemin yang tenggelam dalam rasa nikmat pun semakin menggerakan kejantanannya dengan cepat di dalam mulut Jeno. Suara di dalam ruangan tersebut terdengar sangat kotor namun juga menggairahkan.

“Ahhh fuck, I’m gonna cum.”

Setelah beberapa kali keluar masuk dalam mulut sang CEO, Jaemin pun mengeluarkan cairannya ke dalam mulut Jeno. Sang submisif untuk beberapa detik sempat terkejut, tetapi ia pun langsung menelan seluruh cum yang dikeluarkan sekretarisnya sampai habis. Jaemin dari atas pun memandangi wajah Jeno yang berbalik melihat ke arahnya juga. Wajah pria di bawahnya terkena cum-nya, matanya berair, dan liurnya membasahi bagian bawah mulutnya, tetapi Jaemin bersumpah Jeno terlihat sangat menggoda dengan posisi tersebut. Dia semakin tidak sabar untuk melakukan berbagai aktivitas seksual dengan Jeno ke depannya.

***

Jeno dan Jaemin telah beberapa kali melakukan scene secara seksual. Semakin lama, keduanya semakin mengetahui preferensi dan kebiasaan antar satu sama lain. Seperti sekarang, Jaemin tahu bahwa Jeno merupakan seorang switch yang lebih menyukai posisi sebagai seorang bottom, sementara sang sekretaris juga adalah seorang switch, tetapi ia lebih menyukai posisi yang memasuki orang, atau seorang top. Jaemin sekarang tahu bahwa Jeno memiliki degradation kink. Setiap kali Jaemin merendahkannya, ia tidak pernah merasa tersinggung, dan malah hal tersebut selalu dapat memancing hasrat keduanya dalam berhubungan. Selain itu, Jaemin seakan selalu mengetahui titik-titik dari tubuh Jeno yang perlu dijamah untuk memberikannya kenikmatan. Mereka juga telah mencapai kesepakatan bahwa dalam hubungan rahasia ini, Jaemin-lah yang akan mendominasi, sementara Jeno akan menjadi seorang submisif yang hanya perlu mengikuti arahan dan perintah bawahannya. Jaemin benar-benar mewujudkan ucapannya, serta permintaan Jeno. Ia menciptakan sebuah space di mana Jeno tidak perlu berpikir atau memegang kontrol. Dalam hubungan ini, title Jeno sebagai seorang CEO tidaklah penting, mengingat bahwa dirinya berada di bawah Jaemin.

Saat ini, Jaemin sedang menghiasi tubuh terikat Jeno dengan berbagai sex toys lainnya. Penisnya telah dihalangi oleh sebuah cage yang menghalanginya untuk mendapatkan pelepasan. Kedua putingnya sudah diberi penjepit dengan lonceng kecil akan mengeluarkan suara setiap kali Jeno menggerakan tubuhnya. Sensitivitas tubuhnya pun semakin meningkat saat sang dominan menutup matanya dengan sebuah blindfold. Berbanding terbalik dengan penampilan Jeno yang jauh dari kata layak, Jaemin masih memiliki pakaian yang lengkap. Melihat sang atasan berada pada bawah kendalinya, Jaemin pun tersenyum mengamati hasil karyanya. Seakan apa yang dipasang di tubuh Jeno kurang, Jaemin kembali menambahkan sebuah vibrator ke dalam anal Jeno yang sudah sedikit terbuka, akibat permainan terakhir mereka, dan mengatur alat tersebut dengan kecepatan maksimal. Hal tersebut lantas membuat Jeno tak dapat menahan desahan dan gerakan tubuhnya. Sungguh, ia hanya ingin keluar.

“Ahh, Jaem, please. I wanna cum,” ucap Jeno dengan susah payah. Otaknya sudah tak dapat berpikir dengan jernih saat ini dengan segala hal yang telah dipasang oleh Jaemin pada tubuhnya.

“Tapi aku belum mau kamu keluar, Jeno. So you better enjoy yourself for a while ya,” balas Jaemin tanpa sedikit pun merasa kasihan. Ia benar-benar tergoda melihat tubuh Jeno yang berada di bawah kuasanya.

“Ahh, fuck.”

Desahan Jeno semakin keras saat Jaemin kembali memberinya rangsangan dengan menghisap kedua putingnya dengan kencang, bak bayi yang sedang menyusu. Kedua putingnya terlihat semakin memerah sekarang sebagai efek dari nipple clamps yang diberi sekretarisnya, serta hisapan dan gigitan dari mulut lawan mainnya. Ia benar-benar kewalahan. Terlalu banyak stimulasi yang diberikan, Jeno sangat menyukainya meskipun rasanya sangat sulit karena ia tak dapat keluar.

Ruangan kamar Jeno tak hanya penuh dengan desahan sang CEO, yang sekarang tampak seperti seorang pelacur, tetapi juga oleh suara lonceng kecil dari clamps yang sebelumnya telah dipasang oleh Jaemin. Kedua perpaduan tersebut bak sebuah musik merdu bagi sang dominan.

“Daripada kamu ngomong kasar, mending mulut kamu digunain untuk muasin aku, Jen,” ucap Jaemin sebelum ia melesakkan penis besarnya ke dalam mulut sang submisif yang terbuka karena terus mendesah. Merasa bahwa kejantanan Jaemin ada dalam mulutnya, Jeno dengan semangat menghisap penis tersebut. Ia semakin terbiasa memberikan deepthroat kepada sekretarisnya itu. Sesekali, ia getarkan tenggorokannya untuk memberikan stimulasi lebih pada Jaemin.

“You really look like a slut Jen, my slut.”

Sang sekretaris sangat senang mendegradasi atasannya. Tak hanya dirinya, Jeno juga kerap menunjukkan kesenangannya akan dirinya yang direndahkan setiap kali mereka berhubungan.

“Yes, Jen. Take all of my dick down to your mouth.”

Jaemin benar-benar menggunakan tubuh Jeno selayaknya mainan sex. Ia tak memerdulikan Jeno yang kesusahan untuk bernapas, maupun sudah berapa kali lawannya itu mengalami pelepasan kering karena cock cage yang dikenakannya. Dan setelah merasakan euphoria dari tubuh sang CEO, ia pun mengeluarkan cum-nya ke dalam mulut Jeno dan memaksakan pria tersebut untuk menelannya.

“Telan, Jen. Your body is my dumpster now, my cumdumpster.”

Merasa bahwa Jeno telah menelan semuanya, Jaemin pun mengeluarkan penisnya dari mulut sang submisif. Sisa-sisa cairannya ia peperkan ke muka Jeno, membuat dirinya benar-benar terlihat murahan. Setelahnya, sang dominan juga membuka penutup mata yang sebelumnya ia pasang. Jaemin yang merasa bangga akan sang atasan pun mengelus lembut wajah Jeno dan menatap dirinya lekat.

“Badan kamu emang terbuat untuk sex, ya Jen. You did so well.” Pujian dari Jaemin tidak dapat ia tanggapi mengingat bahwa vibrator di analnya sedari tadi belum berhenti bergetar, juga dirinya yang benar-benar desperate untuk mendapatkan pelepasannya.

“Hiks. Jaem, please, can I cum now?” ucap Jeno lirih dengan air mata yang keluar dari mata indahnya. Penisnya benar-benar terasa sesak.

“Oke, tapi kamu harus nurut sama aku, ya,” balas Jaemin lembut yang ditanggapi dengan anggukan semangat dari Jeno.

“Abis aku lepasin cock cage-nya, kamu gak boleh langsung keluar, ngerti? Kamu cuma boleh keluar sama tangan aku.” Perintah Jaemin mutlak yang disetujui oleh atasannya itu.

Jaemin perlahan melepas ikatan dari tubuh Jeno dan juga cock cage yang mengurung penis sang submisif. Ia juga mengubah posisi Jeno, di mana Jaemin menyandarkan tubuh tegapnya di kasur dan menyandarkan sang atasan pada tubuhnya. Tak menunggu waktu lama, tangan halus Jaemin pun menyentuh penis Jeno dan mengocoknya dengan pelan. Jeno yang sudah ingin keluar merasa bahwa gerakan tangan sang dominan terlalu pelan. Ia butuh lebih. Maka tanpa ia sadari, ia pun menggerakan pinggulnya ke atas dan ke bawah dengan cepat. Ia bergerak seakan-akan sedang menyetubuhi sesuatu. Ia benar-benar terlihat menyedihkan.

“Wow Jen, are you that desperate to cum, huh?” tanya Jaemin yang sekarang telah menghentikan gerakan tangannya. Ia hanya mendiamkan tangannya yang saat ini sedang digunakan oleh Jeno sebagai sebuah flashlight untuk dirinya mencapai kepuasan. Jeno yang sedang fokus untuk mendapatkan pelepasannya pun tidak menghiraukan ucapan Jaemin.

“Arghhh…. Arghh.. Wanna cum.” Jeno hanya bisa terus mendesah sambil menggerakan pinggulnya.

“Has anyone told you that most of the time you look like a puppy, Jen? Dan sekarang, kamu benar-benar terlihat seperti seekor anjing birahi yang mencari kepuasannya.”

Ucapan Jaemin tersebut seakan menjadi pemantik bagi Jeno untuk bergerak lebih cepat. Bukannya tersinggung karena dikatai seperti binatang, Jeno malah menyukai bayangannya yang menjadi seekor anjing dari Jaemin. Ia tidak lagi peduli jika dirinya terlihat sangat murahan. Ia hanya melakukan ini untuk sekretarisnya, yang sekarang memiliki kendali akan dirinya.

“Ahhh, I’m cumming!! I’m cumming.” Teriak Jeno sebelum ia benar-benar mengalami pelepasan yang begitu dahsyat. Bahkan cairannya menutupi tangan Jaemin yang sedari tadi digunakan untuk kenikmatan Jeno.

Setelah memperoleh pelepasannya, Jeno terkulai dengan lemas dengan bersandar pada Jaemin, sementara sang sekretaris kembali menggerakan tangannya di penis submisifnya. Kenikmatan ini lama kelamaan menjadi terlalu berlebihan bagi Jeno. Apalagi dirinya baru saja keluar. Jeno pun kembali menangis akan stimulasi yang berlebihan ini.

“Ahh, Jaem please, can you stop the vibrator. I can’t cum anymore. Tangan kamu juga, please stop, ” ucap Jeno dengan napas tersenggal-senggal. Iya, sedari tadi Jaemin masih menghidupkan vibrator yang berada di anal Jeno.

Jaemin pun menghentikan gerakan tangannya dan memberhentikan vibrator di lubang Jeno. Ia keluarkan mainan sex yang ada di anal Jeno tersebut dan ia atur posisi keduanya untuk dapat beristirahat dengan nyaman.

“You did a good job, puppy.” ucapan Jaemin tersebut disambut oleh sebuah senyuman Jeno, yang saat ini benar-benar memasrahkan tubuhnya di atas Jaemin. Ia tak mampu lagi untuk bergerak atau bahkan hanya untuk mengeluarkan suara.

“I am a good puppy for Jaemin,” balas Jeno dengan pandangannya yang tertutup, namun dilengkapi senyum bahagianya.

“Do you like to be called a puppy, Jen? Do you want to be my puppy?” Jaemin yang merasa bahwa Jeno menyukai setiap panggilan “puppy” yang dilontarkan pun memutuskan untuk bertanya. Sementara Jeno hanya menganggukan kepalanya untuk menjawab Jaemin, tanpa bahkan memandang sang penanya.

“Aku butuh jawaban verbal Jeno. Use your words,” balas Jaemin tegas dan menuntut.

Jeno yang merasa dominasi Jaemin kembali pun membuka mata sayunya dan membalikan tubuhnya menghadap Jaemin. Ia menundukkan kepalanya, seakan dirinya tak layak untuk memandangi sang dominan dan menjawab, “Yes, Jaemin, I wanna be your puppy.”

***

Kontrol Jaemin akan Jeno semakin lama semakin besar. Namun Jeno menyukainya. Ia tidak perlu lagi berpikir. Ia tidak perlu lagi mengontrol apapun. Saat bersama Jaemin, ia hanya perlu mengikuti arahan yang diberikan. Ia sangat bahagia.

Hubungan di ranjang keduanya yang dulu meliputi dominan dan submisif sekarang semakin berkembang menjadi Master and Puppy. Jeno benar-benar serius akan ucapannya yang menginginkan untuk menjadi puppy dari Jaemin. Sementara sang sekretaris tidak pernah menyangka bahwa atasannya tersebut juga memiliki kink yang sama dengannya.

Jeno tak lagi sekedar menginginkan menjadi seorang submisif. Setiap bermain, ia ingin menjadi seekor anjing penurut bagi tuannya. Dan Jaemin benar-benar melatih Jeno layaknya seekor peliharaan. Sang tuan sekarang melarangnya untuk memanggil dirinya dengan nama. Posisi Jaemin sekarang semakin mendominasi dan berada di atasnya, maka adalah hal yang tepat jika Jeno kemudian memanggil Jaemin dengan sebutan yang pantas, seperti Sir or Master. Jaemin pun terus menegaskan bahwa Jeno saat ini hanyalah seekor anjing kepunyaan Jaemin, yang harus mengikuti perintahnya.

“Mulai sekarang, setiap kita memulai, kamu harus segera melucuti pakaianmu. Kau tidak pernah melihat seekor anjing yang memakai pakaian manusia, kan? So, as a good puppy, you need to be stripped.”

Saat ini, Jaemin sedang duduk dengan santai di ruangan tamu Jeno, sementara pemilik apartemen bersimpuh di hadapannya. Sebuah peraturan baru dari sang tuan adalah, sebagai seorang yang memiliki kedudukan di bawah Jaemin, maka mulai sekarang Jeno tidak diperbolehkan untuk duduk di atas sofa maupun kursi, layaknya manusia. Because he is a puppy now.

Menanggapi perintah Jaemin, Jeno pun segera menjawab “yes, sir,” sambil melepaskan satu persatu pakaiannya. Setelah merapikan pakaiannya, ia kembali berlutut di tengah ruang tamu tersebut, dengan Jaemin di hadapannya yang memandanginya dengan intens.

“God, I really fucking love your body. The body that is now mine. Apakah kamu setuju, Puppy?” tanya Jaemin sambil berjalan ke arah atasannya. Begitu jarak mereka menipis, sang tuan mengelus puncak kepala anjingnya dengan penuh kelembutan dan Jeno selalu menyukai perilaku sekretarisnya yang ini.

“Yes, I’m yours and my body is yours too, Sir,” balas Jeno sambil menutup matanya dan semakin mendekatkan kepalanya kepada sentuhan Jaemin.

“Okay, now another new rules. Apakah kamu pernah mendengar seekor anjing berbicara seperti manusia?” tanya Jaemin sambil memandang lekat kedua mata bosnya.

“No, sir.”

“Nah, kalau begitu, mulai sekarang, kamu tidak boleh berbicara seperti seorang manusia, okay? Kecuali aku menyuruhmu untuk berbicara. Is that understood?” tanya Jaemin sambil mengelus wajah peliharaannya.

Jeno yang mengerti pun memilih untuk menganggukan kepalanya dan tidak mengeluarkan jawaban verbal layaknya manusia. Seakan tak merasa cukup dengan responnya, sang CEO memilih untuk turut memberikan jawaban dengan sebuah gonggongan. Ia benar-benar mendalami perannya.

Woof.

Jaemin benar-benar terkejut. Pasalnya, ia sama sekali tidak menuntut hal tersebut dari Jeno. Namun melihat respon tersebut, ia merasa bangga akan atasannya itu. Ia pun kembali mengusak rambut anjingnya dengan penuh senyuman.

“You really are a good puppy, huh?”

“Woof, woof.” balas Jeno dengan semangat sembari mengeluarkan lidahnya dan menempatkan kedua tangannya di depan dadanya.

Wow. He is in a begging pose now.
Another surprise for his master, Jaemin.

Jaemin yang belum pernah mengajari posisi ini kepada Jeno, semakin merasa senang melihat apa yang dilakukan oleh sang CEO.

“Siapa yang sangka kalau The Mighty Lee Jeno, The CEO of the Lee Corp, sebenarnya hanyalah seekor peliharaan yang membutuhkan tuannya, iya kan?” Lagi-lagi, ucapan Jaemin berhasil menjadi pemantik gairah bagi Jeno. Dirinya semakin tidak sabar untuk digunakan oleh tuannya.

Setelah mengucapkan hal tersebut, Jaemin kembali ke duduk di sofa, dengan membuka lebar kedua kakinya, menyisakan space kosong di tengahnya.

“Come here pup. Crawl to me on all fours,” panggil Jaemin yang segera dituruti oleh Jeno. CEO tersebut semakin terbiasa untuk merangkak di dalam apartemennya. Jika di awal-awal ia merasa kesulitan untuk melakukan hal tersebut, namun sekarang ia malah lebih memilih untuk berada dalam posisi tersebut. Jaemin terus mengingatkan padanya bahwa tidak ada anjing yang berjalan dengan kedua kakinya, maka Jeno pun tidak pernah lagi berjalan layaknya seorang manusia normal, dalam permainan mereka.

Begitu sampai di hadapan Jaemin, Jeno segera mengendus bagian kejantanan sang sekretaris yang masih tertutup oleh celananya. Dia benar-benar tidak sabar untuk memanjakan penis tersebut.

“Aku gak nyuruh kamu untuk mengendus milikku, Jeno. Stop being a bad puppy.” Ucapan tegas Jaemin berhasil menghentikan tindakan Jeno dan peliharaannya itu langsung memandangi sang tuan dengan raut wajah merasa bersalah. He is not a bad puppy. He just wants to be good.

“Aku tahu ini susah. But you have to remember that I am the one in control, puppy. Just like you wanted, okay? Makanya, kamu harus nurut.” Jeno pun segera menganggukan kepalanya.

“Now, kalau kamu benar-benar menginginkan penisku, keluarkan dia dari celananya. With no hands.”

Jeno pun kembali menggonggong, seakan mengucapkan terima kasih karena telah diberi izin, lalu berusaha dengan keras untuk membuka celana pegawainya itu dengan mulutnya. Kedua tangannya ia simpan di belakang punggungnya, agar ia tidak kelepasan menggunakannya. Ini adalah kali ketiga Jaemin memerintahkan Jeno untuk tidak menggunakan tangannya. Meskipun semakin terbiasa, namun hal tersebut masih cukup sulit untuk ia lakukan. Ia mulai aktivitasnya itu dengan menggigit resleting celana bahan yang dikenakan Jaemin dan membukanya. Setelah berhasil, ia bawa turun bagian pakaian tersebut. Tuannya itu pun membantu peliharaannya dengan mengangkat pinggulnya saat celananya sedang diturunkan agar celananya dapat terlepas. Jeno dapat melihat kejantanan Jaemin yang besar dan mulai sedikit bangun meskipun masih tertutup celana dalamnya.

Arghh. Jeno sedikit mendesah saat menghirup bagian bawah Jaemin tersebut. Wangi maskulin yang menyeruak ke dalam indera penciumannya berhasil membuatnya semakin tergoda. Tidak ingin berlama-lama dan melalaikan tugasnya, Jeno kembali membuka dalaman sang tuan dan setelahnya ia memandangi Jaemin untuk meminta izin sebelum menikmati kepemilikan tuannya itu.

“You may go on, Jen.”

Izin yang diberikan langsung disambut dengan semangat oleh Jeno yang dengan segera menjilati permukaan penis berurat itu. Tak satu titik pun ia lewati. Setelahnya ia hisap kejantanan tersebut layaknya sebuah es krim. Ia jilat lubang kecil di depan penis tersebut dengan semangat, membuat kejantanan Jaemin semakin mengeras.

“Arghh, fuck, so good. Langsung masukin ke mulut kamu, Jen. Stop playing and start sucking.”Jeno sangat senang mendengar desahan Jaemin karena ia tahu itu berarti ia berhasil membuat enak tuannya. Jaemin yang semakin tidak sabar pun menggerakan tangannya untuk memaksakan Jeno memasukkan keseluruhan penisnya ke dalam mulut hangat tersebut. Ia gerakkan kepala Jeno dengan cepat, membuat sang peliharaan sesekali tersedak, tetapi tetap mempertahankan posisinya.

“I’m gonna cum. Keluarin Jen, aku mau keluar di muka kamu.” Mendengar perintah Jaemin, Jeno pun mengeluarkan kejantanan tersebut dari mulutnya dan menengadahkan kepalanya ke sang tuan, menunggunya untuk menembakkan spermanya di mukanya. Dengan mulut sedikit terbuka dan mata memejam, sekarang wajah Jeno dipenuhi oleh cairan sperma dari Jaemin. Merasa bahwa tidak ada lagi cairan yang tertembak ke arahnya, Jeno pun mulai menjilati cum yang berada di sekitar mulutnya. Matanya ia buka dengan sedikit susah, karena cum yang menghalangi pandangannya.

“My beautiful cum-covered puppy.” Jaemin benar-benar mengagumi bagaimana atasannya terlihat sekarang sebagai peliharaannya. Wajahnya yang sudah penuh akan peluh, air mata, saliva, dan cum-nya, membuat Jeno terlihat sangat seksi dan menggoda.

“Kita lanjutin di kamar, ya. I want you to be on all fours on the bed, dan jangan sentuh tubuhmu sebelum aku datang. You can do that, right pup?” ucapan Jaemin disambut dengan gonggongan semangat dan anggukan kepala dari Jeno.

“Okay, kamu duluan ke kamar ya. Ingat, merangkak.”

Jeno pun berlalu ke kamarnya dengan posisi merangkak, sementara Jaemin masih berada di ruang tamu tersebut. Ia berdiam diri sejenak dan masih tidak menyangka bahwa atasannya yang begitu agung, sekarang tak lebih dari peliharaannya. Dan ia sangat bersyukur karena dapat melihat sisi rahasia ini dari pria tersebut. Setelah ia berdiam cukup lama, ia pun menyusul memasuki kamar utama di apartemen itu. Di dalamnya, dapat ia lihat Jeno yang menungging di atas kasur, sesuai dengan arahannya. Lubang analnya yang berkerut, menghadap ke pintu, benar-benar menggodanya untuk langsung dimasuki. Tanpa menghiraukan Jeno terlebih dahulu, sang sekretaris pun bergerak ke nakas di samping kasur dan mengambil lube untuk melanjutkan kegiatan mereka. Meskipun Jeno suka saat dirinya diberikan perlakuan yang keras oleh Jaemin, namun sang tuan tetap akan meminimalisir untuk menyakiti Jeno secara fisik.

Jeno yang masih terdiam di kasur seketika merasa adanya cairan dingin yang masuk ke analnya. Setelahnya, ia dapat merasakan jari sang tuan yang perlahan masuk ke dalam lubangnya. Bermula dari satu, lalu menambah menjadi tiga. Jaemin gerakan ketiga jarinya di dalam anal Jeno dengan cepat. Dan dengan sengaja ia sentuh prostat sang peliharaan, membuat penis Jeno semakin mengeras dan mulai mengeluarkan pre-cum.

“Ahhhh… Ahhh.” Jeno benar-benar tidak dapat menahan desahannya. Pinggulnya ia gerakan ke belakang untuk meminta rangsangan lebih.

“No cumming, puppy. Aku mau kamu keluar dari penisku di dalammu.” Jaemin benar-benar menyukai Jeno yang terlihat sangat desperate di hadapannya. Terlihat jelas Jeno yang berusaha keras menahan dirinya agar tidak keluar dengan berbagai rangsangan yang diberikan. Tak hanya jari-jari panjang Jaemin di analnya, tangan Jaemin yang satu pun menggoda kedua puting Jeno dengan mencubit, meremas dan memelintirnya. Semuanya terlalu nikmat. Jeno juga dapat merasakan kejantanan tebal Jaemin yang menempel pada bokongnya dan sesekali bergesekkan dengan penis besar miliknya. Ia benar-benar ingin dimasuki sekarang. Saat melihat bahwa Jeno sudah hampir akan keluar, Jaemin pun mengeluarkan jarinya dari lubang sang anjing, membuat Jeno seketika merasa semakin menggila. Ia gerakan pinggulnya ke atas dan bawah, berusaha menciptakan gesekan di penisnya agar ia dapat keluar. Jaemin yang melihatnya hanya terkekeh.

“Stop moving, Jen,” perintah Jaemin dengan mencengkram erat pinggul Jeno agar berhenti bergerak dengan kedua tangannya. “Kamu mau aku masuk ke dalammu?” tanya Jaemin yang diberikan anggukan semangat oleh Jeno. Perlahan, Jaemin pun mulai memasukkan kejantanannya yang telah ia balur dengan lube. Meski sering bermain, tetapi lubang Jeno tetap terasa sangat sempit. Merasa tak ingin membuang waktu, Jaemin pun dengan satu gerakan cepat melesakkan kepemilikannya ke dalam anal Jeno hingga penisnya benar-benar tenggelam dalam tubuh sang submisif. Dapat terlihat perut Jeno yang sedikit mengembung karena penis panjang Jaemin di dalamnya. Melihat bahwa Jeno telah terbiasa, Jaemin pun mulai menggerakan penisnya dengan cepat. Penisnya yang panjang sangat memanjakan Jeno dengan rasa nikmat. Prostatnya yang terus dihajar membuat dirinya dengan cepat ingin keluar lagi.

“Ahhhh… Ahhh. You feel so good, pup.” ucap Jaemin sambil terus bergerak semakin cepat. Seakan tak puas jika tidak menyiksa Jeno, Jaemin lingkarkan tangannya di leher sang peliharaan dan menariknya hingga posisi tubuh mereka menempel antara satu sama lain. Posisi tersebut membuat penis Jaemin masuk semakin dalam. Tak hanya itu, meski merasa tercekik, namun Jeno benar-benar merasa sangat terangsang. Apalagi tangan Jaemin juga sekarang tidak bisa diam untuk menjahili kedua puting memerahnya.

Desahan bersahutan antara kedua lelaki di kamar tersebut, ditambah dengan suara tabrakan antara pinggul dan bokong dari Jaemin dan Jeno sangat terdengar erotis. Setelah diserang berbagai stimulasi, Jeno pun akhirnya mengeluarkan cum-nya, tanpa penisnya tersentuh. He just came untouched.

“Wow puppy, penis kamu sekarang bisa keluar tanpa perlu disentuh. I’m so proud of you puppy, you did well,” ucap Jaemin yang merasa bangga karena dapat membuat sang atasan keluar tanpa disentuh. Meskipun Jeno baru saja mengeluarkan cairannya, Jaemin tetap bergerak dengan brutal di dalamnya, mengingat ia belum keluar. Semua rangsangan tersebut lama kelamaan terasa menyiksa untuk Jeno dan membuatnya kembali menangis. Ia berusaha untuk menggelengkan kepalanya, meminta Jaemin untuk berhenti, namun usahanya seperti sia-sia.

“Just be a good puppy and make me cum, Jeno. Jangan melawan, okay.” Ucapan tegas Jaemin hanya dapat ia angguki dan Jeno benar-benar pasrah sekarang. Penisnya yang sebelumnya telah keluar sekarang kembali mengeras. Jaemin yang merasa pelepasannya semakin dekat pun bergerak semakin brutal. Posisi tubuh Jeno sekarang ia tundukkan ke kasur. Kepala Jeno sekarang sudah menempel dengan permukaan kasur, serta putingnya yang juga kerap bergesekkan dengan sprei kasur meningkatkan napsunya kembali.

“I’m gonna breed you full of cum, pup. Do you want that?” tanya Jaemin dengan napas tersenggal. Jeno pun hanya mengangguk dengan kembali menggerakan pinggulnya dengan cepat pula untuk mencapai kenikmatan yang lebih.

“Ahhh, yes, I’m cumming. Take all my cums, Jeno.” teriak Jaemin setelah mengeluarkan cairannya di dalam Jeno. Cairannya begitu banyak bahkan sampai keluar dari lubang sang peliharaan. Tak lama, Jeno pun menyusul untuk kembali mendapatkan pelepasannya. Wajahnya terkena cum miliknya sendiri, dan bagian belakangnya penuh dengan cum tuannya, yang terus berlomba keluar dari lubangnya, meskipun ia telah berusaha maksimal untuk merapatkan analnya dan menahan benih Jaemin. Ia tidak ingin membuang cum berharga itu. Perut Jeno sekarang terlihat sedikit mengembung bak orang hamil muda karena cum yang diberikan oleh sang sekretaris.

“You look so wrecked, I love it, my puppy,” puji Jaemin dengan kekehan gemas sebelum ia membaringkan Jeno di kasurnya dan memeluk tubuh sang atasan dari belakang. Jeno yang benar-benar merasa lelah dengan cepat memasuki alam mimpinya, tanpa menghiraukan tubuhnya yang lengket dan menempel pada tubuh telanjang Jaemin.

***

Oke, mari kita kembali ke masa sekarang.

Setelah mendapatkan pelepasannya dengan menunggangi kaki sang tuan, Jeno dengan segera menjilati cum yang keluar dari dirinya. Ia bersihkan kaki Jaemin yang tertutupi cairan kenikmatan miliknya, serta cum yang berada di lantai pun ia jilat sampai bersih. Setelahnya ia kembali pada pose beg-nya, dengan kedua tangan di depan dadanya dan lidah yang keluar, untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar telah membersihkan cum-nya.

“Good job, puppy,” ucap Jaemin sambil memberikan ciuman kepada Jeno. Jaemin sangat jarang melakukan ciuman dalam scene mereka dan Jeno tidak menuntut apa-apa. Namun, setiap kali ia mencium dirinya, seperti sekarang, Jeno merasa sangat bahagia. Ia menyukai mulut manis Jaemin. Menyukai bagaimana lihainya lidah Jaemin bergerak mengobrak-abrik mulutnya. Jaemin sangat jago dalam berciuman. Setelah saling berciuman cukup lama. Jaemin pun melerai kedua bibir tersebut, mengingat keduanya sama-sama mulai kehabisan napas. Jaemin hanya tertawa gemas melihat bibir bengkak Jeno sekarang dan wajahnya yang memerah.

“I have a present for you, Jen. Tapi kamu tunggu di sini, okay? Biar aku ambil dulu. Don’t move,” perintah Jaemin sebelum ia berjalan menjauhi Jeno yang dengan setia bertumpu pada kedua lututnya. Jeno sangat bersemangat dengan hadiah yang akan diberikan oleh Jaemin. Tak berapa lama, Jaemin kembali dengan tangannya yang ia sembunyikan di belakang tubuhnya. Setelah kembali di hadapan Jeno, ia pun mengeluarkan benda yang berada di genggamannya kepada Jeno.

A collar.

A black collar with the word “puppy” engraved on it.

Jeno benar-benar sangat menyukai hadiahnya. Collar hitam yang berbahan kulit tersebut, lengkap dengan ukiran berwarna silver tulisan puppy, kontras dengan warna gelap kalung tersebut, terlihat sangat indah. Selain itu, ia sangat senang, bagaimana Jaemin semakin menunjukkan kepemilikan atas dirinya melalui hadiah tersebut.

“Do you like it, pup?” tanya Jaemin yang dibalas anggukan antusias oleh Jeno.

“Okay, biar aku pakein ini ke leher kamu ya. But once you wear it, it means you will always be my puppy. I’m not letting you go and there’s no going back from this. Do you want it, Jen?” tanya Jaemin sebelum ia memasangkan collar tersebut.

“Woof… Woof…” Jeno menjawab dengan semangat. Ia sangat bersedia untuk memakai collar tersebut.
“Okay, now you’re officially my puppy, Jen. My precious puppy.”

Notes:

I always love reading Puppy Jeno fiction, tapi susah nemu yang bahasa. So I decided to make this.
I hope you guys like it!!

See you on another stories.