Chapter Text
Rumah ini usianya sudah 22 tahun, menurut ibuku yang 5 tahun lebih tua dari bangunan ini. Perkampungan kecil kami penuh dengan rumah tua yang seumuran dengan rumahku, berderet-deret agak jarang dengan halaman yang luas; yang penuh tanaman hijau dan merah jambu.
Namun pembangunan perkotaan yang berjarak tak jauh dari kampung ini sedikit banyak mempengaruhi tatanan perumahan. Halaman-halaman yang luas mulai lebih kecil, jalan-jalan besar mulai jadi gang-gang sempit karena semua orang berlomba-lomba membangun sesuatu. Setiap bangunan juga mulai diberi nomor biar pak pos gampang mengantarkan surat dan paket. Hal ini pernah menjadi sengketa antara nenekku dan kakeknya Aeri.
Mereka berebut menomori rumahnya 10H. Kata nenekku rumah kami 10H karena rumah sebelum kami adalah 10G. Kata kakeknya Aeri rumah mereka lah yang 10H karena rumah di depannya adalah 10I. Tapi ketika ditanyakan, mereka bilang nomor rumahnya adalah 077 dan 21A.
Orang kampung tidak peduli dengan penomoran rumah yang baik, angka cantik adalah dewi keberkatan rumah sesungguhnya.
Nenekku dan kakeknya Aeri bertengkar cukup lama. Aku tidak dibolehkan bermain dengan anak tetangga sebelah. Aku dan Aeri hanya saling intip-intipan dari balik pagar besi yang membatasi rumah kami, sesekali bertukar senyuman. Kak Aeri—aku memanggilnya begitu karena dia 2 tahun lebih tua—adalah anak yang pemalu. Aku jarang melihatnya keluar rumah kecuali membantu ibunya membeli garam. Sesekali kami berpapasan ketika dia membeli kecap sementara aku memanjat pohon jambu depan warung. Waktu itu umurku 9 dan dia 11 tahun.
Ketegangan di antara keluarga kami membuat aku agak bingung bertingkah di depannya. Aku terus mempertahankan kontak mata dengannya, dan melempar senyum canggung setelahnya.
Tidak seperti senyumku, Aeri membalasnya dengan hangat sekali. Seolah dia sudah menanti momen ini seumur hidup. Aku terperangkap beberapa detik dalam momen itu. Sebelum sebuah kerangga besar menggigit pahaku. Kaget, peganganku dari ranting jambu pun terlepas. Aku jatuh dari ketinggian 2 meter. Seluruh rongga dadaku terasa menelusup ke dalam, aku tidak bisa bernapas.
Aeri yang mulai memasuki puberitas tubuhnya jauh lebih tinggi dan besar dari terakhir kali aku mengingatnya. Dengan mudah perempuan itu menggendongku ke punggungnya. Kepalaku masih berkunang-kunang sementara aku berusaha mencuri napas. Pandanganku yang kabur oleh air mata, perlahan menggelap.
Aku kira aku mati hari itu.
Satu jam setelahnya aku bangun dengan kondisi lebih baik. Ibu dokter di puskesmas bilang aku mengalami trauma, atau bahasa sederhananya, kaget. Tapi tidak ada cedera lebih serius dari itu.
Pengalaman jatuh dari ketinggian tidak membuat ku was-was dalam memanjat pohon lain. Dan aku cukup berterima kasih, karena setelahnya nenekku dan kakeknya Aeri mulai berbaikan. Aeri datang ke rumah, agak malam, membawa buah-buahan dan semangkuk sup. Katanya biar aku cepat sembuh. Wajah nenek melunak. Adalah sebuah keharusan untuk mengisi kembali piring atau wadah pemberian makanan dari tetangga dengan makanan lain pula.
Semenjak hari itu ketegangan antara mereka memudar. Perkara nomor rumah tidak lagi penting. Jika pak pos datang membawa surat dia hanya perlu membacakan nama penerimanya saja. Tapi yang paling penting, tidak ada yang mengirimi kami surat.
Aku sering berkunjung ke rumah Aeri. Aku membawa jambu, terkadang rambutan. Buah apa saja yang sedang ranum di halaman rumah orang, pohonnya aku panjati setelah meminta izin berbisik-bisik. Kalau ketahuan aku bilang sudah ada permisi, tapi lebih sering aku kabur dengan buah-buahan hasil curian dalam wadah baju.
Dengan bungah aku persembahkan buah-buah itu ke hadapan tetanggaku, Aeri. Bagai sesajen yang kusajikan pada sosok agung. Aku bangga ketika melihat sorot matanya yang senang. Umurku sembilan tahun ketika aku menemukan kesenangan membuat perempuan gembira.
“Kenapa ngga beli di pasar saja? Nanti kamu jatuh lagi kalau memanjat pohon,” Aeri berkata khawatir selagi mengunyah jambu.
“Aku ngga punya uang.” Aku menjawab praktis.
“Aku punya. Ibu selalu memberiku jajan setiap minggu. Aku bisa beli buah.”
Wajahku berkerut masam. Apakah usaha memanjat pohon sambil mengawasi pemilik buah dan melawan belasan kerangga hanya dihargai beberapa lembar uang kertas saja? Aku tidak menjawab perkataannya.
Tapi Aeri seorang yang perasa. Hatinya halus dan dia selalu penuh kasih.
“Kamu marah Ning? Aku bukannya ngga suka kamu bawain buah, tapi aku takut kamu jatuh lagi. Terakhir kamu sampai pingsan.” Dia mengusap kepalaku lembut.
Aku tersipu malu. Ada perasaan hangat dalam hatiku dan sejak hari itu aku seperti terikat dengan Aeri. Dia menjadi orang favoritku. Sepulang sekolah aku mencarinya, sebelum pergi main aku setor wajah padanya, pulang main aku laporan padanya.
Hal ini berlangsung untuk waktu yang lama sekali. Bertemu dengannya seperti sebuah kebiasaan. Bahkan ketika dia sakit pun aku akan menyempatkan berkunjung meski hanya melihat dari jauh. Tambahan sifat Aeri yang penyabar membuat kami hampir tidak pernah berkonflik. Keluargaku senang sekali aku berteman dengannya.
Setiap kali aku mendapatkan hal bagus atau barang baru aku akan cepat-cepat ke rumah sebelah. Hari itu Bapakku pulang dari kota, dia membawa empat kotak besar kukis mahal yang tidak ada di warungnya si Wina. Dia salah satu teman dekatku. Wina sebenarnya satu tahun lebih tua, tapi dia pernah step umur 7 jadi tinggal kelas. Mungkin akan kuceritakan lain kali.
Aku berbasa-basi asal-asalan dengan kakek dan ayahnya Aeri di ruang depan kemudian menerobos kamarnya.
“Kak Aeri!” Suaraku tercekat di kerongkongan. Aeri sedang mengenakan pakaian dalamnya, bulir air mengalir di punggung dari rambutnya yang basah. Wajahnya sama kagetnya denganku. “MAAF!” Aku berteriak gemetar. Kukis mahalnya aku titipkan pada ibu Aeri kemudian aku kabur ke rumah.
Ibuku terlihat kaget melihat sorot mataku yang horor. Aku umur tiga belas dan Aeri lima belas. Dia mulai terlihat seperti perempuan sungguhan, seperti cover film jorok yang Bapakku simpan dalam boks rahasianya. Aku jijik sekali melihat perempuan-perempuan telanjang itu. Tapi ketika melihat Aeri jantungku berpacu kencang. Antara merasa berdosa, bersalah, dan perasaan aneh lainnya yang tak bisa kujabarkan karena umurku tiga belas. Wajah dan kepalaku terasa panas.
Aku buru-buru berlari ke kamar mandi, memutar keran dan mencelupkan kepalaku ke dalam bak air. Aku kira ada asap putih yang mengepul dari kepalaku yang bersentuhan dengan air. Jantungku masih berdebar tak karuan.
Udara dalam paru-paruku terus menipis tapi aku masih menahan kepala di bawah air. Sedikit lagi ketika aku yakin hampir mati, aku menyadari seseorang mematikan keran airnya. Aeri berdiri di belakangku, bahunya dia sandarkan ke kusen pintu.
“Kenapa kamu kabur?”
“M-maaf.”
“Iya.”
“Eh?” Aku kaget dengan reaksinya. Wajah Aeri juga terlihat berkerut heran.
“Kenapa kamu semalu ini Ning? Kamu kan juga perempuan.”
Eh? Kepalaku pening. Apakah sesama perempuan wajar melihat tubuh telanjang satu sama lain? Apakah reaksiku berlebihan?
Aeri menuntunku keluar dari kamar mandi. Ibu menggeleng heran ketika melihat kepalaku basah. Aeri menanyakan letak handuk kemudian mulai mengeringkan kepalaku. Aku masih belum sanggup bertemu mata dengannya.
“Ngga apa-apa Ning, aku ngga marah.” Aeri berkata lagi dengan suara lebih lembut, dia masih menggosokkan handuk ke rambutku yang basah.
Aku memberanikan diri untuk menantang matanya. Aku menelan ludah gemetar sebelum kembali membuang wajah. Bayangan tubuh Aeri kembali memenuhi benakku.
“Lain kali aku akan mengetuk pintu.” Aku mencicit pelan.
Aeri tertawa. Dia mengacak pelan rambutku yang tidak lagi meneteskan air. “Bagus.”
::: ::: :::
“Ning, cabut yuk.” Sepuluh menit sebelum bel istirahat berbunyi, Wina mampir ke mejaku. Teman sebangkuku, Yuna, sudah melipir pula ke tempat lain, jadinya bangku di samping kosong. Gurunya sudah keluar dari tadi, para murid lebih santai.
Tubuhku bersandar lemas ke kursi kayu rongsok yang berderit tak nyaman tiap aku melakukan pergerakan sekecil apapun. Teman-temanku menamainya kursi anti nyontek. Aku menatap lama wajah Wina. Sekarang kami sudah kelas 3 SMP, sedikit lagi sudah memasuki SMA. Meski tidak kelihatan, tapi aku cukup khawatir dengan masa depanku. Tapi Wina malah sempat mengajak cabut sekolah di masa-masa kritis seperti ini. Apa dia tidak takut terlempar ke SMA bukan favorit? Ah, tentu dia tidak cemas. Wina bisa cabut 1 semester dan tetap jadi juara 1. Otaknya memang encer, anugerah Tuhan.
Tapi Tuhan tak menganugerahi aku hal itu. Aku belajar mati-matian untuk ulangan, bahkan sudah dibantu Aeri hasilnya tetap pas KKM sementara si Wina tukang tidur malah dapat 100.
Apa karena yang bantu Aeri materinya jadi tidak masuk? Bukan bermaksud menyalahkan Aeri, tapi otakku benar-benar tak berfungsi ketika mendengar suaranya. Dua tahun berlalu, saat ini Aeri berusia 17 tahun, hanya 2 tahun lebih tua dariku tapi dia cantik sekali. Benar-benar cantik. Dan wangi. Dan manis; senyumnya. Dan suaranya lembut, tutur katanya bagus serta teratur.
Perempuan cantik dan pintar selalu punya pesona sendiri. Kecuali si Wina karena dia macam monyet.
Beberapa hari lalu Aeri membantuku membuat sebuah daftar untuk menganalisa nilaiku. Hasilnya, hanya pertolongan Tuhan yang mampu membuatku masuk ke SMA favorit kota ini. SMA-nya Aeri. Wajahku berubah murung.
“Ayo.” Kataku merespon ajakan Wina.
Lupakan tentang masa depan dan SMA-nya Aeri—maksudku SMA favorit. Otakku terlalu jenuh belajar selama 3 jam berturut-turut (itu termasuk lama bagiku!)
Bel istirahat berbunyi, aku dan Wina keluar dari pagar depan. Pagar itu memang sengaja dibuka biar siswa bisa jajan ke pedagang kaki lima di depan. Sekolahku tak sepeduli itu masalah siswa cabut. Mau cabut silahkan, kau yang rugi tak belajar. Tak mau cabut silahkan, tinggalah di sekolah sampai jam pelajaran usai. Kalau tidak ketahuan, ya bagus. Kalau ketahuan kena hukum. Hidup ini hanya berpandai-pandai.
Sebagai pelengkap alibi, tas kami tinggalkan di rumah Ujin. Dia anak penjaga sekolah. Biasanya dia menerima penitipan dadakan (entah tas ketika mau cabut atau handphone ketika razia) dengan bayaran. Orang tuanya mendukung saja karena itulah arti kehidupan sesungguhanya: memanfaatkan semua situasi.
Aku dan Wina naik motor ke pusat kota. Tanpa SIM dan berbaju sekolah. Sudah kubilang hidup ini hanya berpandai-pandai. Pandai-pandailah menghindari polisi dan satpol PP. Kami berkeliling tanpa tujuan, yang bawa motor aku. Wina sempat merengek ingin mencoba berkendara juga tapi aku menolak ide itu mentah-mentah. Aku masih ingin hidup lebih panjang dan melihat Aeri menginjak usia 27 tahun (kakak di depan rumahku umurnya 27 tahun dan cantik sekali).
Ketika berhenti di pertigaan lampu merah, Wina mengajakku ke salah satu warung mie yang sedang populer. Aku tahu rasanya tak bakal jauh beda dari mie instan, tapi kami butuh tempat berteduh yang murah meriah. Akhirnya kami sampai di depan gerai mie tersebut.
Wina mencolek bahuku. “Ning.”
“Iya.” Aku mencopot helm lalu melihat ke kaca spion demi memperbaiki rambutku.
“Itu ada bapakmu.”
“Bapak siapa?”
“Bapakmu. Sudah kubilang.” Wina terdengar mendesak.
Sebenarnya aku tidak begitu takut ketahuan cabut oleh bapak. Bapakku orang yang penyabar, dia jarang marah. Dia selalu tersenyum dan mengucapkan hal-hal baik saja. Sisanya ibuku yang bereskan.
Tapi perutku jungkir balik begitu mengikuti pandangan Wina.
Bapakku. Itu beneran bapakku. Tadi pagi dia pamit ke kota ada urusan. Rambutnya cepak, bertubuh sedang dengan kemeja motif berwarna merah. Dia sedang berdiri di seberang jalan, wajahnya begitu cerah. Di depannya adalah seorang perempuan muda. Mungkin 6 atau 7 tahun lebih tua dariku.
Bapak menepuk-nepuk kepalanya lalu mengecup keningnya. Perempuan itu terlihat malu-malu.
Jantungku berdebar kencang. Bahkan kejaran polisi saat berusaha menilangku—anak bawah umur yang tidak punya SIM dan tidak pakai helm—pun tidak dapat mengalahkan perasaan khawatir ini.
Aku buru-buru menarik Wina masuk ke dalam gerai. Napasku tersengal, otakku penuh.
“Bapakmu selingkuh?” Wina bertanya heran. Anak tolol, kenapa bisa dia juara 1, hal begini saja ditanyai.
“Aku tidak tau.”
Kami duduk lama tanpa memesan apapun. Harusnya pelanggan datang ke meja kasir untuk pesan sendiri, tapi saking lamanya kami terdiam, pelayan warungnya sampai datang sendiri untuk bertanya.
Aku masih belum mampu bicara, jadi Wina yang memesan. Otakku berusaha menghubungkan segala hal untuk membuat ini masuk akal. Apa itu selingkuhan bapak? Apa mungkin bapak selingkuh? Bapakku yang penyabar dan santun, dia adalah contoh laki-laki terbaik di mataku. Mungkin itu, uhm, anak angkatnya. Tapi dia tidak pernah mengangkat anak. Dia juga tak pernah mengecup kening anaknya seceria itu.
Apa ini alasannya ibu sering menangis ketika memasak di dapur? Ibu selalu beralasan bawanglah yang membuatnya menangis. Berpuluh tahun dia berkutat di dapur, baru kali itu aku melihatnya menangis gara-gara bawang. Tapi aku tak ambil pusing waktu itu.
Realita mulai menggigitku sedikit demi sedikit. Bapakku kemungkinan selingkuh dan ibuku kemungkinan sudah mengetahuinya. Berarti kemungkinan mereka bakal berpisah.
“Ning, napas.” Wina menggenggam tanganku. Tanpa aku sadari tubuhku tremor sendiri. Dia berpindah dari duduk di depanku ke samping. “Tenang dulu ya, tenang.”
Seumur hidup aku hanya menangis di depan Wina ketika menertawainya tersandung tali sepatu, tapi hari ini aku sesenggukan di pundaknya gara-gara panik. Bapakku selingkuh dan keluargaku terancam hancur. Aku menangis lebih kuat.
::: ::: :::
Aku menyesal cabut yang hari ini.
Aku dan Wina selesai makan mie-nya, meski butuh waktu cukup lama untuk membuat diriku tenang. Aku bertanya apa yang harus kulakukan, Wina bilang aku harus melapor pada ibuku. Tapi bisakah aku? Melaporkan kejahatan bapaknya sendiri, melihat ibunya hancur karena itu. Meski mungkin ibuku juga sudah tau, tapi aku rasa dia mati-matian menjaga rautnya di depanku dan nenek.
“Kalau aku bilang lalu mereka bercerai bagaimana?” Hatiku berat membayangkan perceraian. Bapakku yang baik kenapa dia begini. Ada apa dengannya?
“Ya tidak apa-apa. Ibuku bercerai dengan Ayah. Ibu masih hidup, ayah masih hidup dan kawin lagi, aku juga masih hidup.”
Aku menelan ludah pahit. Situasinya tak sesederhana itu! Aku merasa marah sekali. Tapi aku tidak yakin pada siapa. Karena Wina yang ada didekatku, jadinya dia yang kena tumbal.
“Kamu mudah bilang begitu! Orang tuamu bercerai waktu kamu masih kecil, pasti ngga sesakit itu. Lagian bapakmu tukang mabuk, t-tapi bapakku...” Suaraku mengecil dan terbata. Aku sadar ucapanku berlebihan. Aku melirik Wina dari sudut mata. Dia jarang sedih. Seringnya dia tertawa atau marah terhadap ucapanku. Tapi kali ini matanya terlihat agak sayu.
Aku menangis lagi. Aku bertambah marah, seluruh kemarahan itu aku limpahkan pada diriku.
Kami tidak jadi naik motor, Wina lagi-lagi memelukku.
“Kamu benar. Waktu ibu dan ayah bercerai aku memang lega sekali. Sementara ayahmu pria baik, pasti susah—“
“Dia bajingan!” Aku menyela cepat. Aku enggan memanggilnya pria baik lagi.
“Wina, Ning!” Suara melengking seorang perempuan menginterupsi acara haru biru kami. “Kalian cabut? Ngapain di sini?”
Bu Rona, wali kelas kami, berhenti di pinggir jalan. Duh apes sekali. Perempuan itu keliatannya habis berbelanja dari pasar. Tuh dia juga cabut, berani-beraninya menegur orang lain.
Wina tetap tenang. Bakat lain yang dia miliki adalah wajahnya yang tanpa dosa! Seluruh guru punya citra bahwa dia anak baik meski rapornya bilang dia absen 14 hari dan cabut 30 kali.
“Kami lagi cari fotokopi bu.”
“Kenapa jauh sekali sampai ke sini?” Bu Rona jelas tak percaya.
“Iya bu, kebetulan fotokopi di sekolah lagi rusak.”
“Terus kenapa berhenti di depan warung mie?!”
“Mata Ning kelilipan, jadi kami berhenti sebentar bu.” Wina terlalu tenang. Bisa-bisanya dia mengarang sekonyol itu dengan suara yang percaya diri.
Aku masih memunggungi keduanya, sibuk menghapus air mataku.
“Kami mau langsung balik ke sekolah bu.” Aku akhirnya menjawab. Aku tidak yakin bagaimana tampangku saat ini, tapi wajah Bu Rona berubah lebih lunak.
“Kamu benaran cuma kelilipan?”
Aku mengangguk pelan. Leherku kaku saking tegangnya.
Bu Rona melirik kami berdua bergantian. Perempuan itu jelas skeptis dan tidak percaya sama sekali dengan bualan Wina, tapi dia merespon: “Ya sudah, cepat balik ke sekolah. Hati-hati di jalan.”
Besoknya dia kembali menginterogasi kami berdua dan membuat kami mencuci toilet selama jam pelajaran pertama.
::: ::: :::
Perihal temuanku sewaktu cabut tak pernah kuceritakan pada Ibu.
Malamnya bapak pulang untuk makan dengan wajahnya yang teduh. Aku hanya menunduk, tak kuasa melihat wajah bapak. Perasaanku campur aduk antara jijik dan tak percaya. Bagaimana bisa dia pulang dan bertingkah seprofesional ini setelah apa perbuatannya di luar sana?
Nenek sempat heran dengan sikap diamku, tapi ibu meyakinkan bahwa ini hanya fase absurd remaja. Aku berterima kasih dalam hati atas penjelasan ibu karena aku tidak yakin mampu diam lebih lama jika buka mulut sedikit saja.
Karena perasaanku tidak enak, habis makan aku langsung bertandang ke rumah Aeri. Keluarganya sedang menonton televisi di ruang tamu, ada kakek, ibu, dan ayahnya. Semuanya menyambutku hangat. Aku sudah jadi putri kedua keluarga ini.
“Kak Aeri dimana?”
“Aeri di kamar. Mau mengerjakan PR katanya.” Ayahnya Aeri yang menyahut. Wajahnya ramah, dia tersenyum mencapai mata tapi aku malah bertanya-tanya apakah dia juga selingkuh dengan daun muda ketika siang?
Tidak semua orang seperti bapakku. Aku menggelengkan kepala, berusaha membuang semua pikiran buruk. Itulah tujuanku ke sini tadi. Aku mengucapkan terima kasih dan langsung menuju kamarnya Aeri.
“Kak Aeri,” aku menyapa begitu membuka pintu.
Perempuan itu tak bereaksi. Dia duduk menunduk di depan meja sambil menulis sesuatu. Di kupingnya terpasang headset besar kedap suara. Kepalanya mengangguk-angguk mengikuti alunan musik yang hanya dia sendiri bisa dengari.
Kegundahanku seketika menghilang, meski untuk sejenak. Entah kenapa kamar Aeri malah menjadi penenang. Perempuan itu adalah zona nyamanku. Aku menepuk pelan bahunya. Aeri gampang kaget sehingga dia tidak suka aksi mendadak. Tapi bahkan dengan sentuhan kecil itupun dia tetap tersentak.
Kursi belajarnya berputar menghadap belakang.
“Oh, hai Ning.” Dia tersenyum. Matanya tenggelam dalam sebuah garis.
Aku senang sekali. Sampai-sampai aku berpikir apa yang harus kulakukan nanti jika Aeri tidak ada? Bagaimana caranya aku mengatasi kalutku sendirian?
“Ning? Kamu kenapa?” Wajahnya seketika berubah khawatir. Aku tak mengubah sedikitpun ekspresiku tapi dia tetap tau ada sesuatu yang salah. Mungkin karena aku menatap matanya lebih lama. Biasanya aku kalah adu tatap hanya dalam 3 detik.
Aeri sepeka itu. Dia tempat ternyaman dan orang yang mengerti diriku. Mendadak aku khawatir bakal kehilangan sosoknya. Seperti aku kehilangan sosok ayah hari ini. Mataku berair lagi. Ah, sial, sudah berapa kali aku menangis hari ini.
“Ning?” Aeri menaruh headset dan pulpen di atas meja lalu menghampiriku.
Wajahku menunduk, malu ketahuan menangis olehnya. Tapi dia dengan hati-hati menangkup pipiku, lalu menarik wajahku agar mata kami bertemu. Tangisku pecah lagi. Aku memeluk tubuhnya dan menutup mataku ke bahunya. Aeri membalas pelukan tersebut, dia mengelus punggung dan kepalaku.
“Ada apa?”
“Jangan tinggalkan aku ya.” Aku memelas dengan suara serak.
“Aku ngga kemana-mana.” Dia membalas, heran.
Untungnya Aeri paham aku belum bisa cerita. Dia mengajakku tiduran ke kasur. Kepalaku tergeletak tepat di atas dadanya sementara tangannya masih setia membelai kepalaku. Tangisanku sudah reda, tapi tidak ada di antara kami yang bersedia memecah keheningan ini.
Mataku berat oleh kantuk.
“Ning, kamu kenapa?”
Tubuhku rileks sekali dalam dekapannya.
“Aku liat bapak selingkuh tadi siang.”
Tangan Aeri berhenti bergerak sejenak.
“Lanjutin.” Aku menggerakkan tangannya agar tetap mengelus kepalaku. Rasanya enak.
“Kamu ngga apa-apa?” Aeri bertanya hati-hati. Tangannya yang lain mengelus pipiku sebelum mengangkat sedikit wajahku agar pandangan kami bertemu. Dia punya kebiasaan harus bicara melihat mata.
“Ngga tahu.” Aku melepaskan pegangannya. Aku memperbaiki posisi lebih nyaman dengan meringkuk ke celah bahu dan lehernya saja. Dia wangi. Baunya feminin dan lembut.
Aeri menghela napas. “Kalau butuh apa-apa langsung bilang ke aku ya.”
“Aku mau tidur di sini boleh?” Aku berusaha menahan kuap.
“Oke.” Jemari Aeri memijat lembut kepalaku. Begitu banyak kejadian hari ini, energiku secara fisik dan emosinal benar-benar terkuras. Dalam waktu sekejap aku sudah berangsur meniti ke alam tidur.
::: ::: :::
Pacaran itu mirip dengan musim mengawin. Satu orang jadian dengan bunga, tiba-tiba orang lain juga melakukan pernyataan cinta dengan bunga. Lalu dalam waktu satu bulan muncul 7 hingga 8 pasangan baru. Mereka merebak, seperti virus.
Musim mengawin kali ini difasilitasi oleh surat cinta. Sudah 3 pasangan dalam minggu ini yang jadian lewat pernyataan cinta dengan surat. Sungguh lucu sekali. Seseorang bakal menaruh surat di dalam lacimu, lalu mengajakmu bertemu. Dan jika kamu mau, kalian bisa pacaran setelahnya. Seperti acara take me out tapi pilihanmu tidak banyak.
Anak-anak di kelasku, terutama yang cewek, berharap-harap cemas mendapatkan surat juga di dalam laci mereka. Karena bagi mereka ini adalah pertanda mereka eksis dan atraktif.
Wina, di luar dugaanku sudah mendapatkan 3 surat dalam satu minggu. Apa dia sekeren itu?
Aku menatap figurnya yang sedang berusaha melepas helm. Matanya tenggelam di balik poni dan batok helm tersebut. Aku dan Wina setiap hari berangkat ke sekolah bersama dan setiap hari pula dia menghadapi kesulitan yang sama.
Anak tolol ini sungguhan mendapat surat cinta 3 lembar dalam satu minggu? Aku melepas helmnya.
“Kait helm-mu berkarat!” Dia mengomel begitu melihat lagi dunia.
“Beli helm sendiri.” Kami menenteng helm ke kelas. Bukannya takut dicuri atau apa, aku lebih cemas hari hujan dan helmnya basah.
Masih asyik mengobrol dengan Wina di koridor, seseorang mencegat kami di tengah jalan.
“Iya?” Aku menatap penuh tanda tanya pada Arya. Dia anak popular, terutama di kalangan cewek-cewek. Soalnya dia lumayan tampan, rapi, kalem, dan pintar. Aku sempat mengobrol dengannya beberapa kali.
Entah kenapa anak itu terlihat gugup kali ini. “A-anu, ada yang nitip surat buat kamu.” Dia meraih tanganku lalu menaruh sepucuk amplop berwarna putih. Amplopnya sederhana, seperti amplop kondangan.
“OOOHH, CIE CIE.” Entah darimana munculnya, mendadak koridor itu ramai oleh para murid.
“Mana mungkin Arya mau jadi kurir titipan.” Seseorang meledeknya.
“Ning baru saja mendapatkan surat dari Arya. Gentle sekali, tidak sembunyi-sembunyi.” Yang lain menyahut.
Aku gelagapan. Apa-apaan ini? Wajahku bersemu malu karena tiba-tiba menjadi pusat perhatian. Aku menatap Wina demi memastikan situasi ini nyata. Wajahnya terlihat sama herannya denganku. Akhirnya kami cepat-cepat berjalan menuju kelas. Surat Arya aku taruh ke tangan ke Wina. Wina menaruh tasnya di kursi lalu buru-buru duduk di sampingku, mumpung Yuna belum datang.
“Wow.” Aku mendengar Wina bergumam pelan.
“SIAPA YANG SURUH BACA?” Aku merebut surat itu dari tangannya.
“Terus kenapa dikasih ke aku?!” Dia membalas defensif.
Aku sempat mengintip sedikit isi kertas itu tapi aku buru-buru melipatnya kembali ke dalam amplop. Sekujur tubuhku merinding hanya dengan membaca sepotong kalimat bilang; “Ning, kamu cantik.”
Pujian cantik hanya terdengar natural dari Aeri. Bahkan dari orang tuaku saja kalimat itu masih terdengar canggung.
“Aku harus ngapain?” Aku mengerang frustasi.
Wina mengangkat bahu. “Katanya dia mau mengajakmu kencan hari minggu. Dia juga memberikan nomor hapenya di dalam.”
Aku menggeleng kuat.
“Yaudah, tidak usah pergi.”
“Ngga apa-apa?” Jujur aku merasa sedikit tak enak.
“Ngga apa-apa. Aku udah tolak 5 minggu ini.”
“Tapi yang kirim surat cuma 3?”
“Yang dua lagi mengajak langsung.”
Aku terkebil-kebil. Kalau dilihat dari luar, Wina memang cewek idaman semua orang. Dia terlihat tenang. Wajahnya seperti malaikat, seolah dia tak mungkin melakukan kejahatan apapun, apalagi dengan model rambutnya yang saat ini ponian. Dia seperti cewek patuh yang menyenangkan.
“Kenapa ditolak?”
“Aku ngga suka bocah SMP.”
Aku mendengus tak percaya.
“Tapi kalau Arya yang mengajakku, sepertinya aku bakal mempertimbangkannya. Dia satu-satunya anak cowok yang kelihatan waras di sekolah ini.” Wina mempertimbangkan dengan serius tapi aku tetap menggeleng.
Aku tak mau terjebak dalam semilir angin musim kawin ini.
::: ::: :::
Aku kira musim kawin hanya terjadi pada anak SMP, atau setidaknya mereka yang lajang saja. Tapi ternyata bisa terjadi juga pada bapak beristri dan anak satu. Tambahan, umurnya juga tidak lagi muda.
Semenjak kejadian hari itu aku mengurangi komunikasi dengan bapak, selalu menghindar setiap bertemu dengannya. Aku beneran takut keceplosan yang tidak-tidak jika lama-lama satu ruangan dengannya.
Hari ini aku pulang sekolah lebih cepat. Ibu sudah berpesan tadi pagi ingin pasar dan bakal lama, sementara nenekku sedang berkunjung ke rumah saudara di luar kota. Praktis rumah kosong. Rencana awalku hanya mengganti pakaian dan meluncur main ke warung Wina daripada sendirian di rumah.
Aku membuka kenop pintu rumah yang tak terkunci. Ada motor bapak di depan jadi aku tak begitu heran. Aku mengendap-endap masuk karena malas ketahuan dan bertegur sapa dengannya. Tapi tubuhku menegang ketika sampai di depan kamar bapak dan ibu.
Aku mendengar suara seorang perempuan di dalam kamar. Suara asing, bukan milik ibuku. Suaranya lebih melengking dan mendayu-dayu.
Aku tersengal meski hanya diam. Jantungku berpacu kencang. Pikiranku kosong dan panik, tapi tiba-tiba muncul satu komando dari dalam otakku, bilang: buka pintunya! Dan aku tak sempat mempertimbangkan baik buruk tindakan itu karena tiba-tiba seluruh tubuhku bersatu padu menuruti perintah tersebut.
Aku membuka kenop pintu dan mendorongnya.
Bapakku telanjang bersama seorang perempuan di bawah tindihannya. Perempuan yang waktu itu. Seumur-umur aku tak pernah melihat Bapak bertelanjang paha, tapi sekali melihat aku malah menemukannya dengan kemaluan tertancap dalam tubuh perempuan lain. Dia bercinta dengan perempuan lain di rumah ibuku, di atas kasur ibuku, di tempat dia juga memadu kasih dengan istrinya.
Wajah, ujung kaki dan ujung tanganku mendingin. Aku mual.
“N-Ning!” Bapak panik dan mengambil selimut.
Otakku kembali memberi satu komando lagi: kabur!
Aku langsung berlari keluar. Aku menaiki sepeda motor dan tancap gas ke rumah Wina. Perempuan itu sedang menjaga warung sambil bermain hape. Sepertinya dia ingin mengatakan ejekan tertentu, tapi dia langsung menahan diri begitu melihat wajahku yang pucat dengan tangan gemetar. Wajahku berkeringat meski tak banyak bergerak.
“Ning? Kamu kenapa?” Kami duduk di kursi depan warungnya. “Tanganmu dingin banget. Ada apa?” Dia terlihat lebih cemas. Wina berusaha meremas tanganku.
Aku tidak tahu harus mulai darimana. Tidak tahu apakah pantas hal ini kuceritakan. Tidak yakin apakah cerita adalah solusi kepanikanku saat ini. Aku menggeleng pelan. Aku tidak tahu. Lagi-lagi aku menangis di depan Wina.
::: ::: :::
Aku tak berani pulang. Lebih tepatnya tak bisa. Aku tak bisa bertemu bapak, aku tak bisa menahan luapan kemarahan dan kebencian melihat wajahnya. Aku jijik dan mual melihatnya. Pria yang selama 15 tahun membesarkanku dan menjadi sosok ideal sekarang adalah orang paling kubenci di dunia. Aku kecewa.
Apa bapak berubah atau dia memang begitu dari dulu? Apa semua afeksi yang dia tampilkan di depanku adalah tipuan. Ketika dia mencuri-curi memeluk ibu di dapur dengan pikiran tidak bakal ada yang lewat, ketika dia tersenyum hangat dan membelikan ponsel baru untuk ibu. Apa itu hanya memori palsu?
Bagaimana dengan aku? Jika dia tak menyukai istrinya lagi, apa dia tak menyukaiku juga? Mengapa dia buang kami semudah ini dengan sebuah hubungan terlarang?
Otakku begitu sesak dan penuh. Aku pulang ke tempat ternyaman, di rumah Aeri. Aku bilang ingin menginap lagi dan dia mengangguk tanpa bertanya banyak. Aeri bahkan tak bertanya mengapa aku belum mengganti baju. Dia menyuruhku mandi dan memberikan bajunya sendiri.
Aeri duduk bersandar ke headerboard kasur, dan aku bersandar ke tubuhnya. Aku meraih kedua tangannya agar memeluk diriku. Kamar Aeri, kasur Aeri, sweater Aeri, Aeri. Tubuhku rileks. Segala ketegangan yang aku tahan seharian terurai lewat satu simpulan saja.
“Mau cerita?” Suara Aeri terdengar berkumur-kumur di atas kepalaku.
“Bapakku selingkuh.”
“Kamu udah pernah cerita itu.”
“Aku menangkapnya di rumah.” Aku menelan ludah getir. Kerongkonganku sakit seolah habis menelan batu. “Di kamar ibuku. D-dia...” suaraku bergetar, ragu ingin melanjutkannya atau tidak.
“Ssst. Aku paham.” Aeri memelukku lebih erat. “Ngga usah dilanjut kalau kamu ngga mau.”
“Terima kasih.” Aku berbisik pelan sekali. Aku tak mau menangis lagi. Cukup tadi dengan Wina saja. Menangis menguras banyak tenaga dan membuat wajahku bengkak. Aku tak mau tampil jelek di depan Aeri.
Tapi susah menahannya karena kelenjar air mataku tak patuh pada otak. Aku mengerjap-ngerjap, berupaya memaksa tangisku masuk lagi ke dalam.
“Kalau kamu butuh aku, aku selalu di sini. Kapan pun Ning, kamu selalu diterima di sini. Kamu selalu punya tempat di sini. Aku sayang kamu.”
Kalimat Aeri sukses membendung air mataku. Alih-alih sendu, sekarang aku mati-matian menahan perut yang jumpalitan. Aku bukan penggemar kata-kata manis. Bahkan satu kali sewindu aku sudi terlihat sentimental di depan siapapun. Tapi di depan Aeri rasanya aku rapuh seperti daun kering. Disentil sedikit saja langsung hancur berguguran.
“Beneran?” Aku bertanya ragu.
“Hm. Kamu udah kayak adikku sendiri.”
Deg.
Aku merasa sedikit tak nyaman. Jujur aku belum pernah memikirkan apa perasaan yang aku miliki pada Aeri, tapi aku tak pernah membayangkannya sebagai seorang kakak. Meskipun aku memanggilnya begitu. Dia sosok favorit yang aku kagumi, sayang, dan paling aku senangi, tapi... aku tak pernah melihatnya sebagai kakak.
Apa seorang adik wajar membayangkan kakaknya di tengah mimpi erotis?
“Kak Aeri, kamu punya pacar?” Tiba-tiba topiknya berubah. Aku teringat dengan surat cinta dari Arya tadi pagi. Seketika aku membayangkan Aeri mendapat hal serupa, dan perasaanku tak nyaman.
“Sekarang ngga.”
“Sekarang?” Aku tersentak.
“Iya...?”
“Sebelumnya kakak punya pacar?” Aku bertanya mendesak.
“Aku baru putus 3 bulan yang lalu.”
Tubuhku bergerak keluar dari pelukannya. “Kamu pacaran? Kenapa kak Aeri ngga pernah cerita?” Aku mencecar cepat, nadaku terdengar stres.
Aeri merasakan perubahan moodku yang tiba-tiba.
“Karena ngga begitu penting Ning. Aku cuma jadian 1 bulan, setelah itu putus. Aku ngga benar-benar suka orang itu.”
Napasku yang memburu mulai lebih teratur. Aku sedikit lega mendengar itu.
“Lalu sekarang? Apa kakak sedang menyukai seseorang?”
“Tidak ada.” Dia menjawab cepat, rautnya juga tenang. Tapi aku melihat kedutan tipis di bibirnya seolah dia menahan malu. Dia sedang menyukai seseorang?!
“Kakak suka seseorang? Siapa? Beritahu aku!” Aku memegang bahunya, nadaku terdengar frustasi sekali.
Aeri berubah khawatir. Dia melepas tanganku dan memeluk tubuhku yang lebih kecil. “Ngga ada Ning. Kalau nanti aku menyukai seseorang aku bakal kasih tau kamu.”
Hatiku terasa berat. Jangan suka pada siapapun, tolong sukai aku saja. Aku melesak lebih dalam ke pelukannya, menghirup aroma pakaiannya.
“Jangan tinggalkan aku...” aku bergumam lirih tanpa sadar.
“Kamu selalu punya tempat khusus.” Dia mengecup kepalaku.
::: ::: :::
