Actions

Work Header

Think There's Been A Glitch

Summary:

The thing about Haechan and Jaemin is, they are supposed to be just friends. Only coworkers even according to their fans.

But lately, there's been a glitch.

Notes:

hi! i'm finally giving birth to this after 8 months not writing. #thepowerofnahyuck

enjoy this silly little nahyuck canon-compliant fic from yours truly!💫

title inspired from taylor swift - glitch!

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

The thing about Haechan and Jaemin is, they are supposed to be just friends. Only coworkers even according to their fans.

But lately, there's been a glitch.

Semua orang tau, termasuk member Dream tau bahwa kombinasi antara Haechan dan Jaemin adalah kombinasi yang sangat unik dan terkadang aneh.

Mereka berdua memang sudah menghabiskan setengah hidupnya bersama-sama, namun mereka berdua bukanlah yang paling dekat dengan satu sama lain.

Jaemin paling dekat dengan Jeno, sedangkan Haechan tentu saja paling dekat dengan Mark.

Ini adalah rahasia paling umum untuk semua orang tau dan mengenal Dream.

Awalnya, interaksi yang terjadi diantara keduanya hanyalah sebuah permainan. Haechan senang menggoda Jaemin dan membuat pria Leo yang biasanya kalem itu tersulut emosi, sebaliknya Jaemin senang ketika ia berhasil membuat Haechan malu dan terdiam ketika ia memberikan perlawanan balik.

Namun entah kenapa, interaksi-interaksi kecil tersebut berubah menjadi interaksi-interaksi yang makin besar dan mudah diperhatikan oleh semua orang.

"Jadi.. Lo sama Jaemin, huh?" Renjun menyesap minuman alkoholnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh area bar yang berada di hotel tempat mereka tinggal di Jakarta.

Haechan hampir tersedak minumannya sendiri setelah mendengar perkataan Renjun. Ia berdeham sedikit sebelum membuka mulutnya, ia dapat merasakan pipinya panas. Untung saja bar tersebut agak gelap, Haechan berdoa semoga Renjun tidak terlalu memperhatikan rona yang berada di pipinya dengan seksama.

"Gue sama Jaemin kenapa?" Haechan bertanya balik dengan sikap acuh tak acuh.

Renjun menghela nafasnya sambil menatap Haechan lurus-lurus. "Mulai deh pura-pura begonya. Interaksi lo di panggung sama dia makin-makin aja gue liat. Did you two fuck?"

Manik hitam kecokelatan Haechan seketika membulat and membesar sehabis mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Renjun. "Kecilin suara lo bego, kita gak lagi di kamar." Ribut Haechan.

Renjun menggelengkan kepalanya sembari menyesap minuman alkoholnya kembali. "You did not answer my question."

"We are not fucking," Haechan menggigit bibirnya pelan sebelum menambahkan, "yet."

Giliran Renjun yang hampir tersedak minuman alkoholnya setelah mendengar pengakuan dari Haechan.

"Did you two at least fucking kiss or something?" Tanya Renjun.

Haechan menganggukkan kepalanya singkat untuk menjawab pertanyaan pria Aries yang duduk di depannya.

"Oh thank God," Bisik Renjun. "Kapan?"

"Lo beneran pengen tau?"

Renjun mengernyitkan keningnya dan dengan sigap menggelengkan kepalanya pelan. "Ew.. Jangan bilang lo berdua-"

"Kita berdua ciuman di kamar ganti pas kalian main basket sama pingpong."

"OKAAAAAAY... CUKUPPPP." Renjun menutup telinganya, menolak mendengar penjelasan kegiatan panas yang dilakukan oleh teman satu grupnya itu.

"Your fault for asking, dude."

"Jadi kalian berdua pacaran apa enggak?"

Haechan menghela nafasnya dan meneguk minumannya. "Enggak. We are still just friends."

"Tapi lo suka sama Jaemin?" Renjun menaikkan kedua alisnya, memancing Haechan untuk mengaku di depannya.

"I think I do." Jawab Haechan dengan suara kecil. "Tapi gue gatau dia gimana ke gue, dan jujur gue terlalu takut buat nanya dan tau jawabannya."

Renjun terdiam sebelum merangsek maju dan mengacak rambut Haechan, yang kemudian dibalas dengan teriakan protes dari sang pria Gemini. "Lo terlalu banyak mikir."

"Gue punya good feeling kok buat kalian berdua, dan biasanya feeling gue gak pernah salah." Lanjut Renjun. "Lo sama Jaemin bakalan baik-baik aja, percaya sama gue."

Haechan hanya mengangguk pelan mendengar perkataan sahabatnya itu sebelum keduanya memutuskan untuk menyudahi acara mereka dan kembali ke kamar mereka masing-masing.

 

***

 

"Let's give our best on today's concert too, kids." Mark dengan semangat menepuk tangannya yang kemudian disertai dengan teriakan ricuh dari member Dreamies yang lainnya.

Mereka baru saja menyelesaikan rehearsal mereka dan sedang bersiap-siap di belakang panggung. Hari ini merupakan hari ketiga mereka berada di Bangkok, dan juga hari kedua konser mereka di negeri gajah itu.

Bisa dibilang, semua member masih dalam kondisi terbaik mereka. Mungkin karena mereka bertujuh memang sudah ingin menjalankan world tour ini bersama-sama sejak bertahun-tahun lalu dan baru bisa terlaksanakan sekarang, jadi mereka tetap semangat walaupun jadwal mereka sangat padat.

Haechan sedang tersenyum pada dirinya sendiri sambil membetulkan in ear yang ia kenakan, ketika suara berat dan serak yang sangat familiar terdengar dari belakang dirinya.

"Hati-hati, mau gue bantu gak?"

Haechan melepaskan pegangannya dan membiarkan in earnya tergantung bebas dengan keadaan yang jelas belum terpasang dengan benar pada telinganya dan menolehkan kepalanya sedikit ke belakang. "Tumben mau bantuin gue?"

Jaemin memutar bola matanya malas sambil tersenyum singkat sebelum mendekatkan dirinya kepada Haechan. Tangannya mulai sibuk memasangkan in ear Haechan dengan sangat hati-hati, mengingat sang pria Gemini itu baru saja menindik telinganya.

Because I wanna see your piercing up and close, so I can admire it. "Ya daripada lo ceroboh lagi kayak kemarin sampe telinga lo merah."

Kalau Haechan tidak mengenal Jaemin selama setengah hidupnya, ia bisa saja dengan mudah menerima jawaban yang dilontarkan dari pria Leo itu barusan.

Namun ini Na Jaemin.

Haechan sudah menghabiskan setengah masa mudanya dan seluruh masa pubertasnya dengannya dan ia tau betul Jaemin memberikannya jawaban palsu dan asal.

Ada motif tersirat di balik Jaemin yang dengan santainya menawarkan bantuan kepada dirinya.

"Bilang aja lo mau liat piercing gue dari deket kan?" Haechan tertawa renyah ketika ia merasakan tangan Jaemin berhenti sejenak sebelum kembali berkutat memasangkan in earnya. "I might not get you most of the time, but you can't lie to me, Jaeminnie."

Jaemin menghela nafasnya pelan sebelum menarik tangannya kembali setelah berhasil memasangkan in ear pria yang lebih kecil darinya itu. Matanya terpaku pada telinga Haechan yang berada di depannya. Ada anting panjang yang tersemat pada telinga pria Gemini itu dan Jaemin bisa merasakan otaknya sedikit konslet serta jantungnya berdegup dengan kencang sehabis melihat pemandangan tersebut.

Haechan yang menyadari bahwa Jaemin sedang terpaku dengan piercingnya langsung membuka mulutnya untuk bertanya dan menggoda pria tersebut, "Kenapa? Does it look pretty on me, Jaemin-ah?"

Yang Haechan tidak pikirkan maupun perhitungkan adalah ketika Jaemin mengangguk dan menjawab pertanyaan godaannya itu dengan nada serius.

"Iya, cantik. It does look pretty on you."

Kali ini gantian Haechan yang merasakan otaknya sedikit konslet serta jantungnya berdegup dengan kencang.

Mata mereka berdua saling bertemu.

And then there it is, the glitch that broke their system.

 

***

 

Dan disinilah mereka berdua sekarang, berciuman di ruang ganti milik bersama yang telah ditutup rapat dan dikunci oleh Jaemin dari dalam sebelum memulai kegiatan bercumbu mereka.

Haechan melenguh pelan ketika bibirnya bertemu dengan bibir lembut milik Jaemin. Tangannya melingkar sempurna disekitar leher pria Leo yang sekarang sedang menggigit dan menghisap bibir ranum miliknya.

"Nng.. Jaem-"

Desahannya tertelan dengan lumatan ganas Jaemin yang terus-menerus menerjang bibirnya. Haechan dapat merasakan tangan besar milik Jaemin berada pada pinggangnya, meraba-raba sebelum menariknya untuk semakin dekat sehingga ia bisa mencium Haechan semakin dalam.

Haechan dapat merasakan dirinya semakin terengah-engah dan membutuhkan oksigen lebih banyak, sehingga ia dengan sekuat tenaga melepaskan pergumulan bibirnya dengan pria Leo yang sedang mencumbu dirinya itu, mendorongnya sedikit menjauh.

Ia dapat mendengar rengekan protes dari Jaemin sembari ia mengambil nafas sebelum ia dengan perlahan membuka matanya.

Haechan menangkap pandangan yang berada di depannya dan dapat merasakan kepalanya sedikit berputar. Bibir merah dan mengkilap milik Jaemin sedikit terbuka, kedua manik kecokelatan hangat milik Jaemin menatapnya balik, rambut pirangnya serta pakaian panggugnya terlihat sedikit berantakan akibat pergumulan panas mereka barusan.

Keduanya berusaha mengatur nafas mereka untuk kembali normal sebelum Haechan menjatuhkan wajahnya pada dada bidang milik Jaemin.

Haechan dapat merasakan jari-jemari Jaemin menyisir rambutnya, berusaha menatanya kembali. "Nanti di stage jangan kelepasan."

Pipi pria Gemini itu otomatis langsung terasa lebih hangat dari sebelumnya, membuatnya terus menenggelamkan wajahnya semakin dalam. "Berisik!"

Jaemin tertawa lepas mendengar jawaban Haechan yang berbanding terbalik dengan kelakuannya itu.

"Haechan-ah," Panggil Jaemin lembut.

Yang dipanggil hanya membalas dengan gumaman pelan, terlalu malu untuk mengeluarkan suaranya lagi.

"Let's sit together during My Youth stage."

Haechan menarik wajahnya dan mendongak ke arah Jaemin sambil mengerutkan dahinya. "My Youth? Kenapa?"

"I spent all of my youth with you," Jaemin mengelus pipi Haechan pelan. "Tapi ada saat-saat di masa lalu yang lo sama gue gak lewatin bareng juga karena kita berdua gak tau kenapa jadi terlalu jauh jaraknya."

"As painful as it is, itu udah jadi sebuah memori dan gak bisa diulang lagi." Jawab Jaemin sendu.

Haechan mengangguk kecil sambil menggesekkan pipinya balik ke sentuhan Jaemin.

"Tapi karena itu juga, what we have right now is even more precious."

Kedua pipi Haechan ditangkup pelan oleh Jaemin. Keduanya larut pada suasana, bola mata mereka beradu dengan satu sama lain sebelum keduanya sama-sama tersenyum dan yang lebih muda diantara mereka berdua membuka suaranya kembali.

"I like you, Haechan," Jaemin menggelengkan kepalanya sedikit. "Tunggu, bukan cuma suka sih. I have been in love with you since forever, that's the truth."

Haechan menatap Jaemin lurus-lurus, "Lo gak lagi bercanda kan?"

Jaemin kembali menggelengkan kepalanya cepat untuk menjawab pertanyaan Haechan.

"Gue juga," Ucap Haechan pelan. "I've been in love with you since forever, Jaeman."

Mendengar namanya salah diucapkan dengan sengaja ditengah-tengah situasi seperti ini membuat Jaemin mau tak mau tertawa dengan kencang sebelum menggoda Haechan balik. "Jaeman siapa? Gue Jaemin bukan Jaeman."

"Iiih maksudnya Jaeminnnn kok Jaeminnnn." Rengek Haechan sambil memanyunkan bibirnya sedikit, membuat Jaemin kembali tertawa melihatnya.

"So.. What are we now? Kita pacaran?" Tanya Haechan sambil memeluk Jaemin.

"Boyfriends. Pacaran." Jaemin mengangguk singkat.

"Ih gak seru, kamu harus tembak aku dulu baru kita pacaran." Cibir Haechan.

"Nanti kamu keenakan kalau aku tembak."

"IH JAEMIN BUKAN GITU MAKSUDNYA DASAR MESUM."

Notes:

for the my youth part, yang diomongin jaemin ke haechan itu based on lirik lagunya sendiri di part jaemin!☺️

ofc inspired by mereka berdua duduk di panggung pas nyanyi my youth di konser bangkok barusan

feel free to drop by a hi or rant to me about nahyuck if you want!🤪

twitter | cc