Work Text:
Sunghoon tidak tahu kalo sore hari ini akan hujan.
Memangnya siapa yang akan menyangka air hujan itu akan turun secepat ini. Siang hari tadi matahari masih menyapa dengan sangat terik. Ia banyak berkeringat padahal hanya jalan ke perpustakaan untuk mencari bahan referensi. Jaraknya juga tidak terlalu jauh. Setelah tiga jam di sana, rupanya rintik hujan itu tidak sabar untuk turun ke bumi. Sunghoon tidak membawa payung hari ini karna ramalan cuaca bilang cerah hingga malam nanti! Sekarang apa yang harus dia lakukan?. Mana mungkin menunggu sampai berhenti.
Sangat riskan jika harus menerobos hujan yang lumayan deras. Bagaimana jika laptopnya basah? apa lagi sampai rusak dan data-data di dalamnya hilang. Ugh memikirkannya saja dia bergidik ngeri. Jangan tanya kenapa ia tak memesan ojek online. Bisa kalian bayangkan tarif yang akan meningkat pesat. Sunghoon masih tau diri untuk tidak menghabiskan uang bulanannya hanya untuk naik ojek online sekali. Itu bahkan bisa untuk makan untuk esok hari.
Cukup lama Sunghoon menunggu, jika harus menghitung, ia sudah menunggu hujan ini berhenti sekitar tiga puluh menit. Banyak yang sudah pulang atau masuk kembali ke dalam perpustakaan. Sunghoon tidak ingin ke sana lagi. Ia hanya ingin cepat-cepat pulang untuk membersihkan dirinya. Badannya sudah lengket dan Sunghoon tidak sabar untuk merebahkan diri di atas kasur empuknya.
"Sunghoon, ya?"
Sunghoon terkejut, tiba-tiba ada yang menyapanya di depan perpustakaan. Lebih mengejutkan lagi bahwa orang tersebut adalah Heeseung. Lee Heeseung. Siapa yang tidak mengenal ketua BEM fakultasnya sendiri? Pertanyaannya, kenapa juga Heeseung mengenal Sunghoon?
"Oh, iya..." Sunghoon pasti seperti orang bodoh. Ia hanya bisa menunduk, menjawab dengan canggung! memalukan. Mau taruh dimana mukanya nanti.
Heeseung hanya terkekeh pelan, "Kenapa diem di sini aja? gak pulang?"
Rasanya Sunghoon ingin berteriak di depan wajahnya. Kalau hujan sudah berhenti, ia pasti pulang kok.
"Masih hujan." Sunghoon menjawab sembari mengalihkan pandangan dari Heeseung.
Sunghoon melihat heeseung mengeluarkan payung lipat kecil dari dalam tasnya. Memperhatikan Heeseung yang berusaha untuk melebarkan payung tersebut.
"Mau bareng gue?" Sunghoon terkejut, lagi. Heeseung gak cukup bikin jantungan sekali ya.
Heeseung masih menunggu jawaban. Sunghoon masih menimbang ajakannya. Haruskah Sunghoon ikut Heeseung aja?
"Kebetulan gue mau ke cafe sebrang, siapa tau lo mau tunggu di sana aja. Dari pada berdiri disini, capek kan?" Jelasnya.
"Gapapa?"
Heeseung sepertinya paham. Wajar Sunghoon ragu dan merasa akan merepotkannya. Ini pertama kalinya mereka bertemu dan berbicara berdua. Tidak heran jika canggung.
"Ya gapapa dong, kan gue yang nawarin?"
Sunghoon hanya mengangguk, Heeseung hanya tersenyum tipis dan membuka ruang untuk mempersilahkan Sunghoon mendekat.
Wangi kopi langsung menguar. Tanpa permisi memenuhi indra penciuman Sunghoon. Tipis. Rasanya ingin terus menerus menghirupnya sepanjang waktu. Tiada henti.
Jalanan yang mereka lalui basah oleh hujan. Mereka harus berhati-hati jika tidak ingin jatuh terpeleset karena licinnya aspal. Mau tak mau, Sunghoon harus lebih berhati-hati juga agar dirinya tidak terlalu dekat dengan Heeseung. Ia tidak ingin mengambil risiko jika ada yang memergoki mereka berdua. Walaupun dilihat dari keseluruhan, mereka hanya sekedar berjalan di bawah payung yang sama, tetap saja Sunghoon ingin mengantisipasi terlebih dahulu. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Setiap orang berbeda sifat dan pemikiran. Tidak ada yang tahu ke depannya akan terjadi seperti apa.
Tau-tau Heeseung mendekat dan lengan laki-laki tersebut sudah memegang bahunya, agak menekan, mengarahkan untuk tidak menjauhi, "Gue emang belom mandi, tapi kayanya gak sebau itu deh?"
Sunghoon hanya membesarkan bola matanya. Terkejut. Tidak mengira Heeseung akan berbicara seperti itu. "Gak-gak gitu, gak bau. Enak."
Heeseung hanya diam, menunggu Sunghoon untuk melanjutkan ucapannya tersebut.
"Maksud gue, Maksud gue wangi lo. Harum kaya kopi yang biasa gue minum, enak." Sadar akan kata-katanya, Sunghoon buru-buru untuk meralat.
"Gitu?"
"Iya, gitu..."
"Oh, lo suka kopi ternyata. Gue bisa merekomendasikan secret receipt yang kalo kata orang-orang, you must try before you go."
Sunghoon hanya menggelengkan kepalanya "Exaggerate."
"Loh beneran, orang-orang sering ngomongin. Gue jago bikin kopi, btw."
"Barista?"
"Emang yang jago bikin kopi cuma barista aja?"
"Ya... engga sih, tapi mayoritas kan, gitu?"
"Bukan, ganteng. Cuma hobi iseng." Sunghoon tidak salah dengar kah ini? Hesseung memanggilnya apa?
Ini beneran Heeseung hanya sedang berbicara kepada Sunghoon kan?
Sunghoon hanya menundukan kepalanya. Terlalu malu. Kenapa mulutnya itu sangat enteng sekali.
Heeseung yang melihat tingkah Sunghoon hanya dapat terkekeh pelan "Hahaha, gemes."
Tanpa rasa bersalah, Heeseung mengacak-ngacak rambut Sunghoon dengan penglihatan yang masih berfokus ke depan, seolah-olah kejadian sesaat yang biasa dilakukan dan tidak pernah terjadi.
Sunghoon hanya diam. Masih memproses kejadian tersebut. Sunghoon tidak dapat mendengarkan Heeseung berucap. Setelah dipikirkan, ternyata seperti ini rasanya ada hantaran listrik yang mengalir.
Ia akan hanya mematung di tengah jalan jika Heeseung tidak memimpinnya melangkah maju. Dirinya malafungsi, berharap sang empu yang membuat pipinya memanas dan semerah tomat yang telah dipetik, tidak melihat.
Serta mendengar detak jantung yang sekarang berdetak lebih cepat.
Menunggu, melihat, dan memperhatikan.
Ketiga hal tersebut menjadi kegiatan Sunghoon seminggu ini. Menunggu seseorang yang datang dan berlalu-lalang di sekitar perpustakaan. Terlihat seperti kegiatan yang sangat membosankan. Padahal jika kita menunggu seseorang yang sudah menarik perhatian diri kita, akan terasa menyenangkan. Selama apa pun itu, akan terasa sebentar dan dua puluh empat jam tak akan pernah cukup.
Melihat dia yang ternyata beberapa kali muncul pada saat sore hari, sama seperti kala itu. Melihat dia membawa buku yang selalu berbeda. Sunghoon tidak tahu dan sangat tidak ingin tahu buku seperti apa yang sedang dia bawa. Yang ingin Sunghoon tahu adalah siapa gerangan seseorang yang beruntung, yang selalu menemaninya berjalan dalam setiap langkahnya.
Melihat senyuman lebar setiap mereka berdua sedang berbicara. Sunghoon selalu penasaran apa yang sedang mereka diskusikan sampai-sampai lesung pipi sang pujaan hati terlihat jelas tanpa celah. Iri. Itu yang kerap kali dirasakan oleh Sunghoon. Tentu saja ia iri. Alasan sang pujaan hati tersenyum sangat menawan ternyata bukan karena dirinya.
Sunghoon selalu berangan-angan. Angan-angan yang belum pasti.
Bagaimana jika Sunghoon dapat berjalan beriringan dengan tuan sang pujaan hati?
Apakah akan terlihat cocok dan serasi?
Apakah tuan sang pujaan hati akan tertawa terpingkal-pingkal sebab Sunghoon melemparkan candaan khas bapak-bapak beranak dua?
Atau malah tuan sang pujaan hati justru mengolok-olok dirinya dengan kasih sayang?
Sunghoon tidak tahu dan tidak akan pernah tahu jawaban atas semua pertanyaannya. Sunghoon hanya bisa memperhatikan mereka berdua, sejauh yang bisa ia lihat. Hanya dapat mengenang bagaimana pertemuan singkat itu dapat berarti.
“Perempuan itu sangat cantik”
