Work Text:
Malam hari di musim panas. Malam, yang kali ini, lebih dingin dari malam-malam sebelumnya. Haechan menggigil begitu tubuhnya yang terbalut pakaian tidur tipis khusus musim panas diterpa angin malam tepat selangkah dari pintu rumah singgahnya di kawasan istana. Gaun tidur putih tipis yang menampilkan lengannya, terbuka di bagian dadanya, hampir menunjukkan belahan payudaranya yang bertambah besar sejak 6 bulan kehamilannya.
Pakaiannya tidak cukup pantas untuk dikenakan di ruang terbuka, terlalu tipis, terlalu terbuka, terlalu menampakkan banyak kulit. Tapi, Haechan tidak peduli. Seluruh istana sedang sibuk menyambut Pangeran Mark yang baru kembali dari medan perang. Pesta kemenangan yang menyita perhatian seluruh orang, sampai pelayan di rumah singgahnya meminta izin untuk hadir, dan Haechan tidak sampai hati menolak permintaan sederhana dari dua orang gadis yang selalu setia menemaninya.
Haechan berdiri di taman belakang istana yang hanya berjarak beberapa langkah dari rumah singgahnya. Ia menatap satu pohon besar dengan rumah pohon yang menyimpan banyak kenangan. Kenangan tentang dirinya dan Pangeran Mark yang malam ini pulang membawa kemenangan untuk kerajaan.
"Haechan?"
Bintang utama istana malam ini. Pangeran Mark, putra kedua raja, yang malam ini terlihat tampan —selalu tampan untuk Haechan— hadir di sampingnya dan menyapanya.
"Yang Mulia."
Haechan membungkuk dan menundukkan kepala sebagai bentuk hormat pada pria yang memiliki status lebih tinggi darinya. Juga untuk mengalihkan pandangannya dari sang pangeran yang masih terlihat mengenakan pakaian pestanya, kemeja dan rompi kerajaan, celana bahan hitam, dan jubah kerajaan yang membuatnya terlihat lebih gagah dan besar. Haechan bisa rasakan jantungnya berdebar, cinta pertamanya yang masih tersimpan dalam hatinya, yang harus kandas meski belum sempat bersemi.
Mark mendekati Haechan, melepas jubahnya dan menyampirkannya di bahunya.
"Tidak dingin?"
"Sedikit."
Keduanya kemudian terdiam, sama-sama memandangi tempat favorit mereka sewaktu kecil. Menikmati malam yang sepi di belakang istana meski di dalam sana, di aula istana, tengah ramai oleh pesta dansa, minuman anggur, dan para perempuan dengan gaun berwarna-warni.
Keheningan tak berlangsung lama ketika mereka mendengar suara pelayan mendekat ke arah mereka. Dengan cepat Haechan meraih tangan Mark, sebelah tangannya yang lain memegangi perut besarnya, dan keduanya berlari, lebih tepatnya Haechan menarik Mark untuk berlari, menuju rumah singgahnya dan mengunci pintunya dari dalam.
Mereka tidak boleh terlihat oleh orang lain, tidak dengan pakaian Haechan yang begitu terbuka, tidak dengan kondisi malam yang gelap dan sepi di belakang istana, hanya berdua. Tapi sekarang pun, mereka hanya berdua, di dalam rumah singgah istana yang diberikan raja pada Haechan untuk menjamin keselamatannya selama masa perang, sebagai tanggung jawab raja padanya setelah sang suami meninggal dalam perang yang dimenangkan putranya.
"Haechan,"
Mark menyentuh rahangnya, mengangkat wajah Haechan untuk menatapnya. Keduanya masih terengah, punggung Haechan masih menempel pada pintu, saling menatap mata satu sama lain yang sarat akan kerinduan. Kemudian Mark merengkuhnya, menariknya ke dalam pelukan dan meletakkan kepalanya pada bahu yang lebih kecil.
"Aku rindu kau."
"Selamat atas kemenanganmu, Yang Mulia."
Haechan balas merengkuh Mark, memeluknya di punggung besarnya, menghirup dalam-dalam aroma dari pria yang juga sangat dirindukannya. Dan Mark balas merengkuhnya lebih erat.
"Aku.. turut berduka atas kematian Johnny."
Johnny, ksatria kerajaan, pemimpin pasukan perang, pria hebat dan berani. Pria yang dengan cepat mendekati Haechan setelah ia berusia dua puluh, setelah ibunya membawanya ke hadapan Raja dan Ratu, meminta izin dan menyatakan dirinya siap untuk menikahi pria yang melamarnya. Dan Johnny melakukannya, melamarnya, setelah berminggu-minggu melakukan pendekatan. Dan Haechan menerimanya, menerima lamarannya setelah kalut mendengar kabar Pangeran Mark yang akan dijodohkan dengan Putri Yerim dari kerajaan tetangga. Tanpa sempat mendengar berita Pangeran Mark yang menolak perjodohan, dan ketika mendengar kabarnya, Haechan sudah merencanakan pernikahannya dengan Johnny.
Mark melepas pelukannya, tangannya beralih menangkup wajah Haechan. Terbawa suasana, ia perlahan mendekatkan wajah keduanya, melupakan moral seorang pangeran untuk tidak sembarangan menyentuh perempuan lain. Untuk sejenak, malam ini, ia ingin egois. Maka bibir keduanya pun bertemu, tanpa pergerakan, hanya saling bertemu, melepas rindu. Dan Haechan tanpa sadar menangis, tangis akibat rindu yang juga sama dalamnya, tapi disalahartikan oleh sang pangeran sebagai tangis karena disentuh sembarangan.
"Haechan…maaf aku—"
"Jangan di sini."
Haechan menghapus air mata di pipinya, ia genggam tangan Mark, membawanya menuju kamar tidur pribadinya.
Pintu kamar ditutup, kemudian Haechan melepas jubah kerajaan yang masih tersampir di bahunya dan berjalan mendekati putra kedua raja yang hanya diam menatapnya.
"Haechan apa yang—"
Ucapannya kembali terputus, kali ini dengan ciuman berani dari yang lebih muda. Kedua tangannya berpegangan pada bahu kuat sang pangeran, kakinya berjinjit demi mencapai bibirnya. Kali ini lebih dalam, lebih basah, dengan lumatan yang dimulai oleh si cantik yang tengah mengandung.
Kedua tangan dikalungkan Haechan di leher Mark, ciumannya terlepas, ia dekatkan bibirnya ke telinga pemenang malam ini.
"Malam ini, aku milikmu. Hadiah dariku untuk kemenanganmu, Pangeranku."
Bisikannya begitu halus dan menggoda. Malam ini biar ia menjadi perempuan murahan di hadapan cinta pertamanya yang gagal diwujudkan. Egois ingin merasakan sentuhan pria yang selalu didambanya. Toh, tidak akan jadi masalah, tidak ketika suaminya sudah tiada dan tidak ada yang bisa menyebutnya selingkuh.
Dan Mark hanya manusia biasa yang memiliki nafsu besar ketika dihadapkan oleh godaan seorang wanita. Begitu Haechan melepas pelukannya, menatap kembali ke arahnya, ciuman kembali diterimanya, datang dengan tergesa dan panas. Lengan baju yang tersampir di bahunya diturunkan, kemudian seluruh baju tidurnya dengan mudah terjatuh ke lantai, meninggalkan Haechan hanya dengan celana dalamnya.
Mark membawa Haechan menuju kasurnya, mendudukannya di ujung kasur sementara ia melepas seluruh pakaiannya, ikut telanjang bersama. Bibir keduanya kembali bertemu, kali ini dengan posisi yang lebih nyaman, di tengah kasur, dan celana dalam Haechan menjadi satu-satunya kain di antara mereka.
Leher, tulang selangka, dada, hingga buah dadanya, semuanya tak luput dari cumbuan Mark, membuatnya hanya bisa mendesah dan meremas bantal di bawahnya.
"Aku ingin merasakanmu…di sini"
"Ah!"
Mark menyentuh vagina Haechan dari luar celana dalamnya, menekannya kuat, merasakan kain yang mulai basah akibat pelumas yang keluar secara alami dari lubangnya.
"Sebuah kehormatan bagiku, Yang Mulia, untuk bisa dicumbu olehmu."
Mark memberikan satu ciuman terakhir di bibir Haechan sebelum turun mendekati vaginanya. Ia lepas celana dalam yang masih dikenakan Haechan, melemparnya asal, dan melebarkan kaki Haechan untuk memperjelas pemandangan indahnya.
Vagina Haechan bersih, basah, dan merona kemerahan. Mark tidak menunggu lebih lama lagi untuk menenggelamkan wajahnya di sana, menikmati harumnya dan merasakan manisnya.
"Ahhh.. Yang Mulia!"
Labia luarnya dibuka oleh dua jari Mark, kemudian lipatan dalamnya dijilat dalam satu jilatan panjang, membasahi seluruh bagian dalamnya. Ciuman-ciuman kecil terus dilayangkan, mengecupi lubangnya hingga klitorisnya. Punggung Haechan melengkung merasakan nikmat, bibirnya terbuka melantunkan desahan, kepalanya mendongak ke atas dengan mata terpejam, hingga satu desahan panjang mengudara, menandakan klimaks pertama Haechan malam itu, klimaks hebat setelah berbulan-bulan tidak merasakannya.
Mark bangkit, menatap Haechan yang kacau. Napasnya terengah, dadanya naik turun, rambutnya yang berwarna hitam dan panjang terurai di sisi bantal, serta kakinya yang masih mengangkang, menunjukkan vaginanya yang terus mengeluarkan cairan meski barusan dijilat habis olehnya.
"Ahhh"
Satu jari panjang milik Mark kini memasuki lubang vaginanya, diikuti jari lainnya, dan yang lainnya, hingga tiga jarinya terbenam, merasakan hangat, lembut, dan lembabnya vagina Haechan. Ia menggerakkannya perlahan, melemaskan otot-ototnya, dan berusaha membiasakannya terisi sebelum menerima yang lebih besar.
Haechan masih sangat sensitif pasca orgasmenya, ditambah hormon kehamilannya yang membuat nafsunya memuncak, sehingga tidak lama setelahnya, ia kembali mendapat klimaks keduanya, masih dengan tiga jari Mark memenuhi lubangnya dan mengocoknya bersamaan dengan orgasmenya. Tubuhnya gemetar, tersentak-sentak, akibat rangsangan yang bertubi.
Mark mengeluarkan jari-jarinya. Ia melihat Haechan yang mulai memejamkan matanya, mulai lelah setelah dua kali mencapai puncak, sementara penisnya masih tegang, masih berat dan besar di antara kakinya.
"Aku belum selesai."
Mark melayangkan kecupan-kecupan di wajah Haechan, menyadarkannya kembali sebelum jatuh tertidur.
"Kau terlalu banyak menyentuhku. Aku sudah keluar…dua kali dan kau belum sekalipun."
"Salah kau yang terlalu menggoda dan kehamilanmu,"
Satu kecupan Mark layangkan di perut besar Haechan.
"membuatmu jadi lebih seksi."
Haechan merengek malu, rona merah menghiasi pipi hingga ujung telinganya. Ia balas Mark dengan menggenggam penisnya, mengocoknya pelan, dan membuat Mark mendesah kewalahan.
"Cepat lakukan sebelum aku benar-benar meninggalkanmu untuk tidur, Minhyung."
Oh. Haechan merasakan penis besar Mark yang berkedut begitu ia menyebut nama kecilnya, nama yang dulu ia gunakan untuk memanggilnya, ketika mereka masih kecil, masih bersahabat, bermain bersama di rumah pohon besar di halaman belakang istana.
"Kau harus siap mendesahkan namaku."
Mark menggesekkan penisnya ke vagina Haechan yang kembali berkedut, melumasinya dengan cairan yang keluar dari sana sebelum mendorongnya masuk dan dalam satu hentakan memenuhi vagina Haechan, dan membuat keduanya mendesah.
Ini gila, pikir Mark. Bagaimana bisa Haechan yang sudah entah berapa kali disetubuhi Johnny dan sedang mengandung masih memiliki vagina yang rapat, begitu erat menjepit penisnya.
Napasnya memberat, perhatiannya fokus pada penyatuan tubuhnya, pada penisnya yang tenggelam dalam vagina Haechan, merasakannya begitu hangat, lembut, dan licin memeluk penisnya.
Mark menatap wajah Haechan, melihatnya sedikit terengah, membalas tatapannya, dan mengangguk, memberinya izin untuk mulai bergerak. Dan Mark menurutinya. Kedua tangannya mengangkat paha Haechan, menahannya tetap terbuka agar ia bisa melihat dengan jelas penyatuannya.
"Ahhh ahhh Minhyungghh"
Sial. Penisnya berkedut di dalam Haechan. Sodokannya semakin cepat, sambil memperhatikan Haechannya, takut-takut ia terlalu kasar.
Sebelah tangan Haechan memegangi perut bagian bawahnya, berusaha meredam guncangan bagi bayi dalam kandungannya. Sebelah tangannya yang lain meremas sprei kusut di bawahnya. Payudaranya memantul, mengikuti gerakan penis Mark yang menusuk vaginanya. Matanya berair dan mulutnya terus mengeluarkan desahan. Dan kedua kakinya mengangkang lebar, kedua pahanya ditahan agar tetap terbuka, menampilkan pemandangan kotor penyatuan tubuhnya dengan Mark yang panas dan basah.
Haechan kacau.
Tapi Mark tidak kalah kacau. Pinggulnya terus bergerak memberikan dorongan pada penisnya di dalam vagina Haechan. Desahannya dalam dan berat. Kepalanya mendongak, meresapi kenikmatan pijatan dinding vagina Haechan pada penisnya. Keringat membasahi pelipis hingga lehernya, membuat rambutnya yang mulai panjang lepek, menempel di dahi dan tengkuk lehernya.
Jika Mark menunduk, pemandangan Haechan yang terbaring pasrah dengan tubuhnya yang memantul akibat dorongan penisnya akan menjadi pemandangannya dan jika ia lebih menundukkan pandangannya, ia akan melihat penisnya yang menyatu dengan vagina Haechan dan menghasilkan suara erotis.
Penisnya semakin berkedut, membesar, siap menembakkan sperma. Ia sudah akan mengeluarkan penisnya untuk menembakkan sperma di luar vagina Haechan sebelum kaki Haechan memeluk pinggulnya, menahan perbuatannya, dan menahan penisnya tetap di dalam.
"Haechan aku harus keluar."
Haechan menggeleng, "Di dalam. Keluarkan di dalam, Minhyung."
"Tapi—"
Mark kembali mendesah ketika kini, Haechan menggerakkan tubuhnya, membuat gerakan dangkal untuk menjemput orgasme. Dan akhirnya Mark menyerah, mengikuti keinginannya, kembali menggerakkan pinggulnya menyodok vagina Haechan.
Tidak ada lagi yang ditakuti Haechan. Dirinya sudah hamil. Hal buruk apa lagi yang harus ia hindari?
Dan ia pun mendapatkan apa yang ia inginkan. Di tiga tusukan terakhir penis Mark, semburan hangat sperma memenuhi perutnya. Sebagaimana yang selalu ia inginkan.
Penyatuan keduanya dilepas dan Mark berbaring di samping Haechan. Keduanya terengah memandangi langit-langit kamar.
"Tadi Raja bertanya padaku, tentang hadiah yang aku inginkan setelah memenangkan perang besar ini."
"Dan jika boleh tahu, apa itu yang kau minta, Pangeran?"
"Izinnya."
"Eung?"
Haechan menoleh ke samping, ke arah Mark yang juga balas menatapnya. Mark kemudian mengubah posisinya, memiringkan badan ke arah Haechan, mengelus wajahnya dan menyingkirkan helai rambut yang menempel di wajahnya.
"Aku meminta izin untuk menikahimu… dan beliau memberikannya, izinnya."
Mark tersenyum melihat Haechan yang tidak berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Ia meraih sebelah tangan Haechan, mengecup punggung tangannya dan meletakkan telapak tangannya di dadanya, tepat di jantungnya yang berdebar kuat.
"Sekarang, aku hanya butuh jawabanmu. Maukah kau, Haechan, menikah denganku?"
Haechan merasakan air matanya memenuhi pelupuk mata. Suaranya tercekat di tenggorokan hingga ia hanya bisa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Mark.
Anggukan pelan yang sudah cukup untuk membuat keduanya melempar senyum, kembali berbagi ciuman, melambungkan cinta yang dipendam sejak lama, dan tertidur dalam dekapan hangat satu sama lain.
