Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-01-27
Words:
3,226
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
7
Bookmarks:
1
Hits:
209

Love, Hypothetically

Summary:

Naruto membawa seorang teman saat menjenguk Sakura yang sakit—seorang pria berambut silver dengan masker hitam. "Aku boleh minta tolong nggak, Sakura?" Pria itu ternyata membawa lebih banyak pertanyaan dibanding yang Sakura pikirkan..

Notes:

Tadinya ini mau oneshot tp kepanjangan, mungkin ada dua/tiga chapter lagi sebelum tamat, minta reviewnya ya frenss

Work Text:

38.7oC.

Seluruh badanku sakit. Meriang. Mual.

Aku selalu pakai masker, cuci tangan setelah pegang pasien, bawa hand sanitizer, dan mandi begitu sampai rumah, tapi masih saja kena. Sudah kedua kalinya aku demam tahun ini, ya Tuhan.

Aku ambil ponselku dan menekan tombol hijau, setelah suara bip beberapa kali, suara Naruto terdengar di seberang sana, “Sakura? Kenapa? Lo belum tidur?” suaranya terdengar sedikit linglung, apa dia masih di luar rumah? Tapi dia satu-satunya yang bisa aku repotkan tanpa memikirkan konsekuensi kedepannya.

“Badanku panas,” aku berkata, lirih, “aku mau minta tolong belikan obat…”

Naruto terdengar panik, “Astaga! Udah berapa kali, sih, lo sakit? Sering amat!” Selain suaranya, beberapa suara laki-laki terdengar sayup menyahut suaranya, “lagian juga lo mahasiswa kedokteran, kok sakit mulu, dah…”

“Kamu lagi di mana?” Tanyaku.

“Ramen… habis makan bareng,” sahutnya, diikuti suara menguap. Aku melirik jam di dinding, pukul satu pagi, memang hanya Naruto yang bisa hangout sampai subuh padahal masih hari kerja, “gua kesana, tapi bawa temen ya, dia yang nyetir soalnya.”

Aku terkejut, kukira dia akan pergi sendiri, aku menukas cepat, “Eh, gak usah kalo lagi sama orang, nanti aja—” namun Naruto sudah menutup teleponnya.

Aku sudah menganggap Naruto seperti saudaraku sendiri—sama-sama merantau sejak kuliah membuat kami senasib, kami baru bertemu di tahun pertama ngampus, dan sifatnya yang ekstrovert dan supel di kelas membuatku dan dirinya dekat, sebenarnya ada satu orang lagi yang hampir selalu bersama kami, tapi…

Ah, aku tidak mau membahasnya.

Kulirik jam di dinding dan berpikir, mungkin dia akan datang tiga puluh menit lagi, atau lebih, mungkin aku bisa tidur sejenak. Kuambil masker dari kardusnya dan kusimpan di meja nakas untuk saat Naruto datang, lalu kubenamkan lagi diriku dalam selimut. Kupejamkan mataku melawan rasa tidak nyaman karena demam. Tubuhku butuh istirahat.

.


.

Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, namun kudengar beberapa ketukan di pintu apartemen. Kurasa itu Naruto. Kukumpulkan nyawa dan kuambil maskerku, bergegas dan mengintip siapa di depan pintu lewat celah intip.

Bukan rambut kuning yang kulihat, melainkan sekelebat rambut abu dengan mata hitam gelap, ia menggunakan masker berwarna hitam.

Aku tidak mengenal orang itu.

“Sakura! Gua datang bawa obat!” Suara itu menyusul, itu suara Naruto yang sangat kukenal, kuintip sekali lagi, ternyata dia baru datang di belakang sang pria berambut putih, membawa kresek penuh dengan entah apa. Naruto tampaknya mengenal pria berambut abu itu, mungkin ini teman yang tadi Naruto maksud.

Kubuka pintunya perlahan, “Hai…” sapaku pada Naruto dan temannya. Aku menundukkan kepala sopan pada teman Naruto itu dan mencoba tersenyum dari balik masker, “heh, kan aku sudah bilang kalau di luar rumah itu pake masker!” Tegurku pada Naruto.

Naruto merangsek masuk mendahuluiku, “Halah! Sesek pake masker tuh, biar kalian aja anak-anak kedokteran yang pake, gua gak usah,” suara menyebalkannya mengisi studio apartemenku, ia menaruh kresek penuh barang-barangnya di atas meja makan dan mendudukkan diri di atas kursi, “eh, sini Kakashi, ayo masuk!”

“Kayak rumah sendiri, ya,” ujar teman Naruto, Kakashi, sembari menatapku. Matanya tampak tersenyum sopan.

Aku meringis, “Yaa.. kamu juga temannya Naruto, tahu lah emang gitu dia,” kupersilahkan temannya masuk dan duduk, kulihat isi kresek yang Naruto bawa, beberapa strip paracetamol, guaifenesin, dan beberapa buah-buahan. “Makasih ya,” ujarku pada Naruto, karena ini bukan yang pertama kalinya, bocah itu tahu apa yang harus ia bawa.

Naruto mengajakku berbincang tentang beberapa hal sembari aku menjamu kedua tamuku dengan teh, entah kenapa ini tidak terasa seperti teman yang menjenguk, malah seperti bertamu biasa.

“Heh, Naruto, Sakura ini kan lagi sakit,” Kakashi menoyor kepala Naruto yang memaksaku memperlihatkan koleksi film di laptop, aku yang masih merasa pusing sekarang sudah berbaring di atas karpet karena malas menanggapi ocehan Naruto yang tidak berhenti sedari tadi. “Sakura, aku belum memperkenalkan diri, ya.”

Mataku berkedip, aku bangkit dari posisi berbaring dan menatapnya yang masih terduduk di kursi meja makan, “Eh iya ya, aku Sakura, anak FK, seangkatan sama Naruto…”

Kakashi tersenyum lagi, sopan, “Iya, tadi Naruto sudah cerita, aku Kakashi, padahal aku juga di kampus yang sama, tapi kita nggak pernah ketemu, ya?” Jawabnya lembut, kami tak menghiraukan Naruto yang masih sibuk memilih film di Netflix.

“Kamu di Kampus Konoha juga? Jurusan apa?” Jawabku semangat, dia tampak agak senior, mungkin tahun keempat kuliah apa ya? Tapi kok aku nggak pernah lihat, ya?

“Aku di elektro, jauh sama kalian kedokteran, sih,”  jawabnya lagi. Masih tersenyum. “Gimana kamu bisa kenal sama Naruto?”

“Aah, kami dulu sekelompok pas ospek kampus, itu kan semua jurusan digabung.”

Naruto tiba-tiba menimpal, “Kakashi, Sakura nih juga deket lho, sama Sasuke! Coba tanya dia aja!” Anjrit, kenapa Naruto harus bawa-bawa nama itu, sih? Padahal aku sudah nggak mau ada sangkut pautnya sama orang itu!

“Apasih, enggak!” Kilahku.

“Masa? Aku boleh minta tolong nggak, Sakura?”

Aku terdiam, rasa tidak enak jika aku menolak menggerogotiku, setelah beberapa detik menatap mata hitam Kakashi, aku mengangguk pelan. Begitu banyak pikiran berkelebat di dalam benakku.

“Wah, makasih ya,” Kakashi tampak lebih sumringah di balik maskernya. Namun sepertinya ia menyadari perubahan pada ekspresi wajahku dan menoleh pada Naruto, “ayo kita pulang, Naruto, biar Sakura istirahat.”

Naruto mengiakan dan memelukku. Ini orang memang gaada takut-takutnya bakal sakit sepertinya. Setelah bertukar lambaian tangan denganku, Naruto dan Kakashi pamit. Kututup pintu apartemenku dan langkah kaki mereka terdengar menjauh.

Kutatap kresek yang Naruto tinggalkan, kulepas masker hijau yang kukenakan dan kuminum beberapa obat. Setelah menenggak segelas air, kutenggelamkan tubuhku dalam selimut, aku harus menghubungi dosenku nanti pagi untuk izin… Lalu mengejar ketinggalan untuk tugas referat yang harus kukumpulkan akhir pekan ini… kemudian…

Aku tidak menyadarinya namun itu adalah tidur terlamaku selama sebulan ini.

.


.

Jamnya menunjukkan pukul delapan pagi, aku sedang menuang oatmeal ke dalam mangkuk ketika kudengar ponselku berdering, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

671-9827-8xxx

halo sakura, ini kakashi

aku dapat nomormu dari naruto

Kuketik sebuah balasan sembari menuang air panas ke dalam mangkuk oatmealku.

Sakura

Iyaa, sudah kusimpan nomornya

Gimanaa?

Kakashi

soal yg kemarin

aku mau minta tolong

Kuhela napas panjang. Aku sudah lama tidak memikirkan Sasuke. Ada banyak kenangan baik bersamanya, namun kenangan itu selalu diikuti beberapa kenangan terakhir yang tidak menyenangkan. Aku berusaha tidak mengingatnya karena aku yakin Sasuke pun tidak mau aku mengungkitnya—namun aku tidak bisa, karenanya lebih baik untukku agar tidak menemuinya sekalian.

Sakura

Iyap, bilang ajaa, akan kubantu sebisaku  😊

Kakashi

kyknya agak susah kalo di chat

Aku menaikkan sebelah alisku, terus dia mau ngapain? Mau ketemu langsung?

Sakura

Kalau aku masih sakit kayaknya belum bisa ketemuan

Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Tidak ada balasan.

Sepertinya dia juga masih mau mempertimbangkan keadaanku. Ya nggak apa-apa sih, dengan begitu juga aku tidak harus bersinggungan dengan Sasuke…

Tiba-tiba sebuah suara kembali muncul dari ponselku, kulirik asal pengirimnya. Naruto.

Naruto Ganteng Anjay Slebew

P

Sakura

Gausah p p ajg lgsg ngomong

Naruto Ganteng Anjay Slebew

Gmn masih sakit gk???

Sakura

Masseh masseh irasshaimaseh

Naruto Ganteng Anjay Slebew

Mau gw bawain ap????

Ah, Naruto dan kebiasaannya untuk menambahkan tanda baca terlalu banyak.

Setelah pesan terakhir, Naruto menelepon dan menanyakan mau jeruk atau kiwi? Kujawab kiwi dan dia malah memutuskan membelikan jeruk karena ia ingin makan jeruk. Setelah beberapa pertanyaan lainnya ia menutup teleponnya. Kusimpan ponselku di atas meja dan kuhabiskan oatmealku yang mulai mendingin.

Pikiranku kembali berlari kemana-mana. Kembali ke masa-masa tahun pertama saat aku baru mengenal Naruto… dan Sasuke. Saat itu orientasi kampus mengharuskan kami membuat kelompok kecil berisikan tiga orang, orientasi ini menugaskan perkelompok untuk membuat semacam inovasi maupun penelitian yang kira-kira akan bermanfaat di masa depan. Perpaduan aku sebagai mahasiswa kedokteran, Naruto sebagai mahasiswa fisipol, dan Sasuke sebagai mahasiswa teknik elektro membuat kerja sama kami tak berjalan mulus karena ide yang tumpang tindih. Pada akhirnya kami memikirkan mengenai inovasi sebuah alat kesehatan yang dapat digunakan luas—hal itu tentu saja hanya sebuah rancangan project yang bahkan sampai saat ini tidak terealisasikan.

Naruto memang supel, menyenangkan dan asik diajak bicara, karenanya kami bertiga langsung dekat dalam satu kali pertemuan di hari itu. Namun berbeda dengan Sasuke, saat pertama kali melihatnya, yang terbesit dalam benakku sudah jelas, ganteng banget! Rambut hitamnya, proporsi wajahnya yang sangat maskulin, matanya yang tajam dengan bulu mata lentik, dan bahkan badannya yang tampak terbentuk—muka ini sih muka artis! Namun di balik wajahnya yang tampan, ia tidak begitu suka diajak bicara, ngomongnya ketus, dan ia kadang tidak menjawab kalau kami tanya mengenai keluarganya.

Meski begitu, dengan kemampuan magnetik Naruto, bahkan seorang kulkas dua pintu seperti Sasuke pun dapat melunak. Lelaki itu mau diajak kerja kelompok dan bahkan cukup sering tertawa di antara interaksi kami. Aku sebagai seorang pengagum semakin merasakan kupu-kupu yang mempercepat jantung. Bukan hanya wajah tampan Sasuke yang kini menarik, dari caranya meringis saat melihat sesuatu yang lucu, caranya merapikan poninya setelah melepaskan helm, saat ia berbagi headset denganku untuk menunjukkan sebuah video simulasi mesin di YouTube, dan bagaimana ia menegur Naruto jika lelaki itu berbuat hal bodoh—di mataku dia sempurna.

Aku bukan orang yang paling pintar menyembunyikan perasaan, karenanya tanpa kusadari mataku sering menatap wajahnya lebih lama, dan saat mata kami saling bertemu satu sama lain, aku tak bisa tak membuang muka. Aku tidak tahu apakah Sasuke memang sengaja pura-pura tidak tahu atau dia memang polos, tapi ia tak pernah mengungkitnya, dan bagiku hal itu sudah cukup—kami bertiga menghabiskan waktu bersama-sama saat jam kosong di antara kelas masing-masing.

Pikiranku buyar saat kusadari langitnya menggelap, suara getir petir menyambar di kejauhan. Aku bergegas berlari menuju balkon untuk mengambil pakaian yang kujemur tadi pagi. Padahal baru pukul sepuluh pagi, tapi langitnya segelap ini, sepertinya akan turun hujan yang sangat deras.

Sembari kurapikan pakaian yang baru kukeringkan, kudengar suara ketukan di pintu depan. Sepertinya Naruto baru selesai dari kelas paginya.

Aku berjalan dan kudengar suara Naruto memanggil namaku. “Iyaa,” balasku singkat. Kubuka pintu depan dan kali ini Naruto berada di depan pintu, mengacungkan kresek bertuliskan Konohamart, di sampingnya ada Kakashi mengenakan kemeja putih dan celana bahan, tak lupa masker hitam di wajahnya.

“Halo, aku datang lagi, semoga kamu nggak keberatan,” ujar Kakashi, senyumnya muncul membuat matanya menjadi segaris.

Sejujurnya aku canggung, namun sepertinya ia tidak berniat buruk, jadi kupersilahkan ia masuk bersama Naruto.

Kedua lelaki itu duduk di atas sofa dan mulai bercengkerama, aku berhenti di depan Naruto untuk bertanya, “Kalian mau teh atau kopi?”

“Soda gembira.” Jawab Naruto tanpa dosa.

“Monyet,” timpalku, “Kakashi, kamu mau apa?”

Kakashi berdiri dari duduknya, “Lah, kamu duduk aja, nggak usah repot-repot, kan kamu lagi sakit.” Ia berjalan mengikutiku yang menghampiri rak gelas, saat aku hendak mengambil teko air panas, ia perlahan meraihnya dariku, “udah udah, kamu duduk aja. Makan nasi tim itu lho, Naruto yang pilihin.”

“Heh, udah tamu itu yang duduk, masa dia yang buat minum,”

“Aku sengaja bikin minum biar bisa bikin yang enak-enak,” balas Kakashi bercanda, kami berdua malah jadi membicarakan komposisi terenak saat membuat kopi. Ternyata Kakashi adalah americano type of guy, kebalikanku yang menyukai latte supermanis yang membuat pankreas menangis.

Kakashi menuangkan air panas di atas kopinya, lelaki ini tampak sangat terampil dalam apapun yang ia kerjakan, ia tampak seperti orang yang sangat dewasa, namun tetap santai saat berinteraksi. Ekspresi wajahnya cenderung datar namun tidak mengintimidasi, jauh berbeda dengan Sasuke yang membuatmu merasa gugup saat dipandang olehnya.

“Kamu lagi sibuk apa, Sakura?” Tanya Kakashi sambil menakar jus jeruk hangat yang hendak ia buatkan untukku.

“Aku lagi tahun ketiga, lagi nyiapin skripsi,” jawabku sambil mengangkat bahu, “makanya aku ga masalah izin untuk saat ini, SKS-nya nggak banyak.”

“Oh, semangat ya,” Kakashi mengaduk gelas berisikan jus jeruk itu dengan gerakan berbentuk huruf W, “aku juga lagi ngambil penelitian, nah makanya.. aku berniat mengajak Sasuke masuk dalam penelitian ini.”

Aku ber-oh ria, “Oooh, makanya kamu mau minta tolong aku tuh, perihal ini?”

Kakashi manggut-manggut.

“Tapi kan sebenarnya Naruto lebih dekat dengan Sasuke, kenapa minta tolong aku?”

Kakashi menyandarkan badannya pada kabinet, “Hmm, sebenarnya ini karena aku sempat melihat project ospek kalian dan aku bermaksud mengadaptasinya, gimana menurutmu?”

Project ospek kami? Mengenai prototipe ekg-at-home yang sangat terlalu mengandai-andai untuk kami mahasiswa yang tidak ada apa-apanya itu?

“Alah, kita kan cuma mahasiswa, Kakashi! Project-ku itu terlalu susah!” Tukasku sambil mengibaskan tanganku di depannya.

Kakashi mengangkat sebelah alisnya, “Aku tahu kamu anak top di angkatanmu, Sakura, kamu nggak perlu yang susah-susah, hanya monitor kerjaanku secara fisiologis benar apa enggak. Aku sudah punya prototipe awalnya, kami lagi trial and error, yaa, lebih banyak errornya sih, dan soal pendanaan… kamu nggak usah khawatir.” Ia segera membuang muka setelah membahas pendanaan, “bayangin, kalau ini berhasil, namamu tercantum sebagai co-author, sebagus apa CV-mu...”

Aku meneguk ludah. Oke, itu tawaran super bagus, aku sinting kalau menolak.

“Kuanggap itu deal?” Kakashi mengacungkan kelingkingnya.

Aku mengernyitkan dahi.

Pinky promise,” ujarnya dengan nada merajuk.

“Di zaman kayak gini?!” Aku tertawa melihat lelaki ini melakukan pinky promise, terkesan… tidak cocok? Tapi itu lucu, dan menurutku manis.

Kukaitkan jari kelingkingku bersama kelingking Kakashi, aku merasa sedikit bisa berteman dengannya.

Kami berdua berjalan ke arah sofa yang menghadap televisi, Naruto sedang mengupas jeruk ketiganya yang ia bawa dari Konohamart. Aku duduk di samping Naruto dan mencekik lehernya dalam lenganku, “Si tolol ini niatnya menjenguk teman atau numpang netflix-an sebenernya?!” Naruto berkelit dalam cekikanku.

“Anjrittt, keselek, keselek!” Naruto menjerit.

Kakashi tersenyum, ia menengok ke arah televisi dari kursinya di dekat meja makan, membelakangiku dan Naruto, saat membelakangi kami ia menurunkan maskernya dan meneguk kopi.

Sayang sekali, aku jadi tidak bisa lihat wajahnya.

Siang itu kami habiskan dengan mengobrol, setelahnya Naruto dan Kakashi pamit untuk kelas di kampus, meninggalkanku sendiri untuk beristirahat.

.


.

Sudah dua hari sejak demamku muncul, kurasa ini ISPA seperti biasa karena gejala batuk dan pilek yang menyertainya, kini demamku berangsur membaik, namun tidak dengan pileknya. Hari ini aku berniat kembali masuk kuliah namun hidung ini membuatku tidak presentable di kelas, agak menyulitkan kalau harus menarik ingus setiap dua menit sekali.

Karenanya hari ini aku memutuskan tetap beristirahat di apartemen—setidaknya sampai pilek ini membaik.

Hari inipun Kakashi berniat datang ke apartemenku untuk membawa rancangan alat yang ia gunakan dalam penelitiannya. Selama ini saat bersama Sasuke aku tak pernah benar-benar memperhatikan mata kuliah yang ia ikuti, tapi setelah melihat materi dan slides yang Kakashi bawa, aku menyadari bahwa kuliah elektro itu… Susah, banget.

Matematika? Nol. Fisika? Nol untukku. Melihat pengkodean yang Kakashi input dan beberapa perhitungan dengan konsep desain yang ia buat membuatku ternganga, ternyata selama ini mesin-mesin yang dibuat oleh pendahulu kita adalah keajaiban, aku bahkan sangat bersyukur dengan adanya ponsel yang begitu mudah digenggam, ponselnya smart, kitanya lambat laun stupid.

“Kamu pinter banget,” pujiku padanya di sela-sela diskusi kami, karena ia tidak hanya andal dalam bidangnya, ia bahkan mempelajari beberapa aspek kedokteran dari dasarnya hanya untuk menunjang penelitiannya.

Tidak hanya cerdas, menurutku, Kakashi orang yang… bijak? Karena banyak hal yang ia utarakan, ia sampaikan dengan sifat yang netral—sains adalah ilmu yang terus diperbarui, sebuah hipotesa tidak bisa diputuskan benar, hanya bisa diputuskan tidak salah, hingga ada hipotesa lainnya yang mematahkan hipotesa ini, pikiran seorang saintis harus selalu terbuka. Karenanya Kakashi selalu berucap dalam nada yang tenang, tidak memihak, tidak menghasut. Dia juga sempat mengatakan bahwa ia membenci konflik, membuatnya semakin menjadi orang yang cinta damai, pendapatnya selalu dibawakan dengan baik, caranya bicara sangat luwes. Seorang natural leader, namun tidak bersifat keras.

“Masa, sih,” Kakashi hanya tersenyum di balik masker hitamnya. Bahkan hingga saat ini aku belum mendapati wajahnya tanpa masker, sementara ia sudah beberapa kali melihatku membuka maskerku karena minum obat.

Aku nyengir, “Beneran deh,” ujarku, aku kembali menatap wajahnya, berusaha menerka-nerka apakah manik matanya sebenarnya berwarna hitam atau cokelat.

“Kamu masih demam?” Ia berusaha mengalihkan pembicaraan, “tadi Naruto menitipkan padaku sup kacang buatannya, kudengar kamu menyukainya.” Kakashi merogoh kresek yang ia tinggalkan di sampingnya, lalu mengeluarkan sekotak bekal berwarna kecokelatan. Setelahnya ia menaruh punggung tangan kanannya di dahiku, mengecek suhu kepalaku, “agak hangat ya, masih.”

Satu gestur penuh perhatian itu membuatku kalang kabut. Padahal Naruto juga selalu melakukan hal itu. Bahkan lebih touchy.

“I-iya aku suka!! Wah! Aku buka, ya!” Balasku sambil meraih kotak bekal cokelat itu.

Kakashi menaruh dagunya di atas telapak tangannya, menatap wajahku yang sepertinya kini merah karena aliran darah ke otak. Ah, sial, kepala yang tak bisa diajak kompromi! Buat malu saja!

“Ah, erm, mau makan bareng?” Tanyaku sembari menyodorkan kotak itu padanya.

“Aku sudah makan,” tukasnya singkat, masih dengan senyum di wajahnya. Oke, usahaku melihat wajahnya gagal lagi. “Kamu makanlah, ini amanat dari Naruto, aku harus lihat kamu makan pokoknya.”

“Idih, apa sih, dia,” aku menggeleng-gelengkan kepalaku malas. Tapi tetap aku berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan piring dan sendok untukku makan, karena memang sup kacang ini adalah kesukaanku dan Naruto mengetahuinya. Tidak mungkin tidak kuapresiasi.

“Kamu duduk saja, aku yang ambilkan,” Kakashi bergantian berdiri dan menarik lengan mencegahku.

Dua hari ini ia selalu begitu, membuatku tidak beranjak dari sofa, karenanya, entah bagaimana ia sudah mengetahui semua susunan dapurku. Tahu komposisi kopi favoritku, sendok yang paling sering kupakai, bahkan mencucikan semua cucian piringku ketika sempat. Meski baru mengenal satu sama lain selama dua hari, entah kenapa aku merasa nyaman untuknya melakukan hal ini untukku.

Bahkan saat ini, saat ia sedang mengambilkan nasi hangat, aku merasa tidak perlu waswas dengan kehadirannya. Aku bukan orang paling ekstrovert, tapi mungkin Kakashi memang orang yang humble, membuat siapa saja suka padanya dengan caranya sendiri meski agak aneh.

Atau juga mungkin karena ia adalah orang yang dekat dengan Naruto.

Bicara tentang Naruto, sebuah pesan di ponselku muncul darinya.

Naruto Ganteng Anjay Slebew

Sakura

Sakura

Oy

To the point bisa gaksih

gausah panggil2 nama terus ngilang

Naruto Ganteng Anjay Slebew

Iyh,,,

Btw

Kakashi di rmh u???

Sakura

Ho o

Knp

Naruto Ganteng Anjay Slebew

Anjay,,,,

Dah kek pacar lo ya ngapel tiap hari:P

Sakura

:|

Kan ngomongin project

Naruto Ganteng Anjay Slebew

Alah tai kotokkk anjg

Ganteng gt masa u tidak icikiwir

Dia kan LAKIKKK

Sakura

Dulu aku cuma kagum ma saske u jg ribet dah

Pake acara nyomblangin

Jadinya ujung2nya bad ending ://

Naruto Ganteng Anjay Slebew

Lah org emang sukak

Emg skrg u gk suka si Kks?

“Kamu nyimpen kontak Naruto, Naruto Ganteng Anjay Slebew?” Kakashi mengejutkanku dari belakangku, anjrit, jantung ini copot setengah kayaknya. Lemas kakiku dibuatnya. Buru-buru kulempar ponselku agar ia tidak membaca pesan di bawahnya.

“Aaa..hahaha itu Naruto sendiri yang simpan!” Aku membalas sambil menyeka keringat dingin yang meluncur bebas di pelipisku. Ini orang mau buat premature ventricular contraction di jantungku kali ya pakai acara ngagetin.

“Klasik Naruto ya, di ponselku nama dia juga Naruto (Mhs Cakep Fisipol).” Kakashi terkekeh sambil memperlihatkan ponselnya padaku. Setelahnya ia menyerahkan sepiring nasi beserta semangkuk sup kacang padaku.

Kuatur napasku terlebih dahulu sebelum memulai makan malam. Aku mencoba melihat kemanapun yang bukan Kakashi, karena entah kenapa aku merasa jantungku masih berdebar agak cepat.

Di sela-sela melahap itu, tak sengaja pandanganku kembali mendarat pada wajahnya, saat itu, maskernya terbuka, kulihat wajahnya tanpa masker, hidungnya mancung, dengan bibir tipis dan tahi lalat di dagunya.

Terhenyak, aku merasa jantungku berdetak lebih cepat lagi, terutama saat ia tak sengaja juga balas menatapku hingga mata kami bertemu. Epiglotisku tak bisa diajak kerja sama, aku tersedak dan batuk-batuk, membuat Kakashi segera mendekat padaku.

“Kamu nggak apa-apa?” Tanyanya sembari menawarkan segelas air putih.

Aku mencoba meninju dadaku untuk mengeluarkan apa yang membuatku tersedak. Setelah beberapa kali usaha batuk, rasa mengganjal di tenggorokanku mereda dan aku baru menyadari yang tepat ada di depanku.

Kakashi, tanpa masker, menatapku dengan kedua mata hitamnya, jaraknya dengan wajahku… oh tidak, terlalu dekat, membuat semua kelebatan ilmu kedokteran terbesit dalam otakku namun membuat mulutku blank di waktu yang bersamaan. Terlalu dekat!

Wajahku pasti merah padam. Pertanyaan Naruto kembali muncul di otakku.

Emg skrg u gk suka si Kks?

Aku berteriak dalam hati. BISA DIAM TIDAK!