Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2023-01-27
Words:
655
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
17
Bookmarks:
2
Hits:
141

Coup de Foudre

Summary:

“Rasanya jatuh cinta itu aneh, ya? Dadamu akan terasa sesak, perutmu terasa aneh, telapak tanganmu basah, dan pipimu memerah. Senyumanmu menular dan kemana pun dirimu melangkah, netraku akan mengikuti. Kendati demikian aku menyukai perasaan ini.”

Pertemuan Kazuha pertama kali dengan Scara membuat dirinya merasakan perasaan yang asing namun menyenangkan. Siapa sangka pertemuan itu juga nantinya membuat Kazuha jatuh lebih jauh lagi?

Notes:

Drabble ini sebenarnya sudah sempat kuupload di privatter. Tapi aku upload lagi ke sini sebagai arsip. Semoga kalian suka membacanya!

Work Text:

𝑲𝒂𝒕𝒂 𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈-𝒐𝒓𝒂𝒏𝒈 𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒔𝒆𝒔𝒖𝒂𝒕𝒖 𝒚𝒂𝒏𝒈 𝒎𝒆𝒎𝒃𝒂𝒉𝒂𝒈𝒊𝒂𝒌𝒂𝒏, 𝒎𝒆𝒏𝒅𝒆𝒃𝒂𝒓𝒌𝒂𝒏, 𝒅𝒂𝒏 𝒌𝒂𝒅𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒊𝒍𝒖𝒂𝒓 𝒏𝒂𝒍𝒂𝒓. 𝑨𝒌𝒖 𝒔𝒆𝒕𝒖𝒋𝒖.

Kali pertama aku jatuh cinta adalah kepada seseorang bersurai hitam kebiruan. Matanya merefleksikan galaxy, kulitnya seputih susu, bibirnya tipis merona merah muda bagai buah persik.
Dia adalah satu-satunya orang yang berhasil mengikat netraku agar tak kabur kala pertama kali memandang wajahnya yang terlihat lugu.

Kami bertemu di Pelabuhan Ormos, ada suatu hal penting yang dimiliki oleh Beidou membuatku menapakkan kaki di tempat asing ini. Hiruk pikuk bergantian melewati kedua telingaku dan jujur saja tempat ini agaknya sedikit menarik perhatianku karena atmosfirnya yang meski ramai namun terasa nyaman. Yah, meski tak senyaman bagaimana suara ombak di lautan terdengar, sih.

“Jangan mematung di tengah jalan, tempat seramai ini rawan dengan orang-orang yang cepat tersulut emosinya jika kau menghalangi jalannya saat sedang terburu-buru.”

Suara itu berhasil membuatku tersadar dan aku segera menepi ke pinggir. Saat mata kami saling memandang, aku yakin melihat ekspresi terkejut samar di wajahnya yang bagai nirmala, cantik.

“Mohon maaf atas kecerobohanku,” aku berucap sembari agak menundukkan kepala. Pemuda itu tak menjawab, ia hanya mendengus pelan kemudian pergi begitu saja. Ada sesuatu yang aneh pada dirinya yang membuatku tak dapat berpaling. Sesuatu yang rasanya sudah kurindukan, kudamba sejak lama.

ੈ✩‧₊˚

Pertemuan kami tak terhenti disitu saja. Beberapa kali menjadi berkali-kali. Tatapan asing menjadi senyuman hangat. Setiap saat aku melihatnya, aku seperti jatuh cinta dan pertama kali aku melihat senyumannya pun nafasku tercuri sesaat.

Jatuh cinta itu diluar nalar, pertemuan kami yang seolah sudah diatur semesta membuatku tak dapat melupakan bibirnya yang tersungging itu selama dua puluh empat jam. Agaknya beberapa kali berpapasan membuatnya sudah terbiasa dengan keberadaanku yang tak lebih dari tiga puluh menit dapat berada di sisinya (karena sepertinya ia selalu sibuk).

Kami sudah sempat bertukar identitas sedikit, kendati ia adalah orang yang pertama kali kukenal namun rasanya perkenalan kami sudah pernah terjadi selama bepuluh-puluh tahun—bahkan beratus tahun yang lalu. Aku menemukan perasaan nostalgia pada dirinya. Sungguh di luar nalar, bukan?

ੈ✩‧₊˚

Entah ini pertemuan yang keberapa, namun perasaanku tak terbendung lagi. Tatapan mata, senyuman manis, kulit pucat tanpa cacat, suaranya yang kadang terdengar agak sensual itu membuatku suatu hari mengutarakan perasaanku padanya setelah beberapa hari tidak tidur nyenyak karena terlalu banyak berpikir.

“Rasanya jatuh cinta itu aneh, ya? Dadamu akan terasa sesak, perutmu terasa aneh, telapak tanganmu basah, dan pipimu memerah. Senyumanmu menular dan kemana pun dirimu melangkah, netraku akan mengikuti. Kendati demikian aku menyukai perasaan ini.”

Ia mematung, semburat merah muncul di kedua pipinya yang tirus. Aku ingin menyodorkan cermin tepat di depan wajahnya sekarang, aku ingin ia tahu betapa cantiknya dirinya sekarang.

“Kau jatuh cinta.”

Aku mengangguk.

“Padaku?”

Sekali lagi aku mengangguk.

Tak ada penolakan pun tanda bahwa ia menerima. Ia hanya terkekeh pelan, membuang wajah ke arah lain untuk melihat lautan lepas, menenggelamkan netranya di sana. “Bodoh.”

ੈ✩‧₊˚

Cuaca hari itu cocok digunakan untuk berjalan-jalan di hutan terdekat, tak jauh dari Pelabuhan Ormos. Suasananya sangat berbeda, suara burung dan binatang-binatang kecil terdengar di sana-sini. Mataku menangkap sosok yang familiar tak jauh dariku berdiri, pemuda yang sama yang kunyatakan perasaanku padanya tempo hari.

“Kun—” Panggilanku terhenti kala melihat dirinya tampak asik sendiri. Bibirnya merekah, mengumbar senyum pada entah siapa yang sedang diajaknya bersama. Di kepalanya terdapat mahkota dari bunga-bunga kecil. Warnanya sangat kontras dengan rambut lurusnya yang gelap. Aku hanya bisa memandang dari jauh, terasa pipiku memanas. Aku tak kuasa jika harus menghilangkan moment ini tentangnya. Akankah ia masih akan mempertahankan ekspresinya andaikata aku memanggilnya sekarang?

Jadi kuputuskan untuk hanya diam memandang.

Ia melihatku, netra kami kembali bertemu. Ia tersenyum manis kemudian berucap, “Apa diam mematung seperti itu sudah jadi hobimu, eh? Syukur kita sedang tidak di tempat pertama kali aku bertemu denganmu.”

𝑪𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒑𝒂𝒅𝒂 𝒑𝒂𝒏𝒅𝒂𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒊𝒕𝒖 𝒂𝒅𝒂𝒍𝒂𝒉 𝒐𝒎𝒐𝒏𝒈 𝒌𝒐𝒔𝒐𝒏𝒈, 𝒃𝒂𝒈𝒂𝒊𝒎𝒂𝒏𝒂 𝒌𝒂𝒖 𝒃𝒊𝒔𝒂 𝒋𝒂𝒕𝒖𝒉 𝒄𝒊𝒏𝒕𝒂 𝒉𝒂𝒏𝒚𝒂 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒑𝒆𝒓𝒕𝒂𝒎𝒂 𝒌𝒂𝒍𝒊 𝒎𝒆𝒎𝒂𝒏𝒅𝒂𝒏𝒈?

Namun itulah yang terjadi, aku jatuh cinta saat pertama kali melihatnya.

Dan semakin jatuh cinta setiap kali kami bertemu.

Setiap kali ia tersenyum padaku.