Work Text:
"Anaknya Jeng Nini mana? Kok sekarang jarang nganterin Mamanya arisan?" tanya seorang teman dari Bu Nini (Mama dari Renjun), yang penasaran mati-matian karena sudah hampir 4 bulan anak manis dari temannya itu jarang terlihat.
Padahal kalau diingat-ingat si manis itu tidak pernah absen menemani sang Mama arisan.
Kalau si manis itu ditanya, ia selalu beralasan "Soalnya kalau nemenin Mama sekalian bisa main sama Jaemin, Jeno, Haechan, Tante.. kalo ngga gitu, Renjun ngga dikasih main sama Mama," lengkap dengan senyum cerah dan mata membentuk bulan sabit.
Manis.
Manis sekali.
Setelah berbincang singkat dengan teman-teman sang Mama, biasanya Renjun akan pamit untuk pergi dengan ketiga temannya yang juga anak dari teman arisan Mamanya. Mereka berempat kemudian akan bercanda dan bermain game online di ujung ruangan. Membentuk lingkaran duduk dan menjauh dari kerumunan ibu-ibu sosialita yang asyik membicarakan ibu-ibu sosialita lainnya yang tidak hadir dalam perkumpulan hari itu.
"Lagi les, Jengg.. biasa, anak kelas 2 SMA, sebentar lagi kan mau cari universitas, ya harus dipersiapkan dengan baik," jawab Bu Nini dengan nada sirat seolah memamerkan bahwa anaknya itu rajin belajar, jauh lebih rajin dari ketiga anak temannya (Jaemin, Jeno, dan Haechan) yang berumur sepantaran Renjun tapi bukannya belajar, malah sibuk memaki satu sama lain gara-gara tidak becus dalam bermain game.
"Oh ya? Les di bimbel mana Jeng?" tanya teman Bu Nini lainnya.
"Hush.. kok les di bimbel, nggak fokus nanti anaknya. Ketemu temen malah main nanti, bukan belajar.. Renjun saya les-kan private Jeng,"
Serempak seluruh teman Bu Nini ber-oh-ria. "Susah loh cari guru private yang bagus sekarang ini, ada pun pasti mahal banget," keluh teman Bu Nini lain lagi.
"Iya Jeng susah.. untung saya ketemu guru yang bagus, ramah, baik.. tapi ya menurut saya, mau dibayar berapa juga nggak masalah, yang penting itu yang terbaik buat anak," beberapa teman Bu Nini berdiskusi pelan menyetujui perkataan Bu Nini. Jelas ibu sosialita yang satu itu berdeham dengan kedua tangan menyilang di dada. Tertulis jelas diraut wajah Bu Nini betapa sombongnya ia karena sudah jadi Ibu terhebat untuk sang anak, yang bukan hanya mencarikan ilmu yang terbaik bagi anaknya, tapi juga rela merogoh kocek terdalam demi ilmu anaknya.
"Lesnya sama siapa Bu? Aduhh.. kira-kira masih mau tambah kelas buat si Haechan itu nggak ya?" tanya Bu Chika, Mama dari Haechan.
"Wah kurang tau deh Jeng.. saya aja dulu susah payah buat ngerayunya," perbincangan itu terputus sejenak saat Bu Nini meraih piring kecil dan cangkir tehnya untuk disesap. "Soalnya gurunya juga sibuk Jeng.. mahasiswa kedokteran UNEO, IPKnya 4 terus nggak pernah turun, terus juga sering ikut olimpiade gitu itu.."
"Hah iya Jeng? Bukannya susah banget ya masuk fakultas kedokteran UNEO?"
Bu Nini mengangguk-angguk membanggakan guru anaknya yang cemerlang itu. "Makanya saya ngerayunya nggak main-main, Jeng. Harapan saya sih Renjun bisa nyusul masuk kedokteran UNEO kayak gurunya itu,"
Bu Nini meletakkan tehnya kembali di atas meja untuk mengganti bawaannya dengan camilan yang selama ini mengundangnya untuk mengicip. "Memangnya gurunya siapa, Jeng?"
"Jaehyun, Jeng.. anaknya Jeng Hani itu," lagi-lagi teman Bu Nini dibuat terkejut karena guru dari Renjun tak lain dan tak bukan adalah Jaehyun, si pemegang peringkat nilai tertinggi ujian masuk perguruan tinggi favorit negara itu, UNEO.
"Sore Tante.. maaf ya, Jaehyun terlambat, soalnya barusan selesai praktikumnya," ujar pemuda tinggi yang berdiri di depan pintu setelah Bu Nini membukakan pintu untuknya.
"Nggak masalah, Nak Jaehyun. Renjunnya juga belum pulang. Ayo duduk dulu, minum dulu ya sebelum ke kamar Renjun," ujar Bu Nini mempersilahkan guru anaknya memasuki rumah.
"Mau minum teh atau mau es sirup aja?" tawar Bu Nini.
"Apa aja, Tante," ujar Jaehyun dengan sopan. "Ya udah, duduk dulu. Itu Tante habis bikin cookies itu di meja, makan aja," Jaehyun mengangguk dan duduk di sofa sembari membuka toples berisikan cookies dihadapannya.
"Renjunnya lagi ikut ekskul, Tante udah bilang buat apa ikut begituan, mending fokus belajar buat universitas aja, tapi anaknya nggak mau denger itu loh," celoteh Bu Nini sambil menuangkan sirup dan air pada gelas lalu mengaduknya. "Nilai ekskul juga penting kok, Tante," tanggap Jaehyun usai menelan satu cookies.
"Oh gitu ya?" gumam Bu Nini sambil mengambil es batu dari dalam kulkas. "Iya, Tante. Dulu saya juga ikut ekskul. Biasanya dari ekskul itu diarahin ikut lomba-lomba, lumayan bisa jadi tambahan nilai masuk univ,"
"Oh iya?" tanya Bu Nini yang jadi semangat usai mendengar penuturan Jaehyun. Mama Renjun itu menaruhkan gelas sirup di depan Jaehyun lalu ikut duduk disamping sang guru untuk mendengarkan lebih penjelasan Jaehyun. "Iya kok, Tante. Saya menang olimpiade dulu juga karena ikut klub studi,"
Wah, Bu Nini harus catat semua perkataan Jaehyun nih. Kedua orang itu pun berbincang cukup lama sembari menunggu sang anak pulang.
"Mahhh! Kak Jae-nya udah dateng?!" teriak Renjun yang baru saja sampai di rumah dengan terburu-buru. "Aduh Renjun.. jangan teriak-teriak, kenapa sihh?"
Si murid SMA yang tadinya berteriak urak-urakan langsung mematung usai melihat sosok yang duduk di samping Mamanya.
"Udah dari tadi, lama banget loh kamu itu," ujar sang Mama, "kasian kan Nak Jaehyun jadi nunggu lama gara-gara kamu, makanya sebelum janjian sama orang itu dilihat dulu kegiatan kamu. Lagian ekskul kok sampai sore-sore—" hanya sampai situ perkataan sang Mama masuk ke dalam telinga Renjun.
Pemuda itu terdiam dan memandangi Jaehyun yang juga memakukan pandangnya kepada Renjun. "A-aku mandi dulu ya, Kak," lirih Renjun, abai dengan sang Mama yang bahkan belum selesai berbicara dengannya. Tapi karena nampaknya Jaehyun dan Renjun sudah ingin segera memulai lesnya, Bu Nini pun memilih untuk diam dan melanjutkan nasihatnya kapan-kapan lagi. Apalagi waktu semakin sore, takutnya mereka selesai terlalu malam.
Jaehyun mengangguk. "Nanti Mama jangan sembarangan masuk kamarku, aku ngga mau diganggu belajarnya!" pinta Renjun sembari berjalan menuju kamarnya.
"Iya iyaaa.. nggak akan Mama ganggu,"
Jaehyun duduk di kursi meja belajar Renjun. Duduknya memunggungi kamar mandi yang masih mengeluarkan suara percikan air, menandakan bahwa sang pemilik kamar masih membasuh tubuhnya di dalam sana. Dengan diam Jaehyun membuka buku pelajaran Renjun dan mempersiapkan apa saja yang akan ia ajarkan di hari ini.
Sudah terhitung 4 bulan mungkin, sejak Jaehyun mengiyakan tawaran Bu Nini untuk membantu Renjun dalam mempersiapkan masuk perguruan tinggi favorit seluruh siswa di negaranya.
Sebenarnya bukan karena gaji besar perbulan yang diberikan Bu Nini kepada Jaehyun yang membuatnya mau mengajari Renjun. Tapi ya, siapa sih Jaehyun sampai dia tega menolak permintaan sahabat dari Ibunya sekaligus Ibu dari orang yang ia sukai sejak kecil?
Kalau menjadi guru private Renjun adalah satu-satunya cara untuk Jaehyun akhirnya bisa berinteraksi dengan bocah manis yang selama ini ia takuti untuk dekati (karena Renjun selalu dikelilingi oleh teman-temannya yang menakutkan, a literal sunshine & 3 sunshine protectors) di setiap acara arisan Ibu-Ibu mereka, ya bagaimanapun juga akan Jaehyun jalani. Meski menjadi mahasiswa tingkat 3 fakultas kedokteran sudah menguras 70% tenaganya, ia siap memberi 31% sisanya untuk Renjun seorang.
Melihat buku pelajaran yang terbuka didepannya, Jaehyun tersenyum miring. Kimia, satu-satunya pelajaran yang menjadi momok bagi Renjun.
Tak lama setelah Jaehyun membaca kembali materi yang akan mereka pelajari malam itu, suara percikan air dari dalam kamar mandi terhenti, diikuti suara terbukanya pintu.
"Kakak," lirih Renjun, sang pengajar kemudian menoleh ke arah Renjun. "Aku udah siap belajar," ujar Renjun.
Jaehyun tersenyum, "Sini," perintahnya kepada pemuda yang hanya menggunakan kemeja piyama saja untuk melindungi tubuh mulusnya. Yang lebih muda mengangguk. Dengan rambut yang masih meneteskan air, Renjun berjalan mendekati Jaehyun dan menarik kursi disampingnya untuk duduk.
"Gimana ulangan hari ini?" tanya Jaehyun. Renjun duduk di kursi samping Jaehyun sambil menutupi gundukan mungil kelaminnya dengan kedua tangannya. "B-bisa kok,"
"Jangan bohong," peringat Jaehyun. Renjun buru-buru menggeleng.
"Salah berapa?" tanya Jaehyun melanjutkan.
Tangan gemetar Renjun mengangkat dan menunjukkan 3 jari kepada Jaehyun. Melihat itu, Jaehyun memundurkan kursinya dan menepuk pahanya. Renjun yang sudah paham maksud Jaehyun segera berdiri dan mendudukkan dirinya di atas paha keras Jaehyun.
"Hitung ya?" pinta Jaehyun. Renjun mengangguk pasrah.
Merasa tidak puas dengan jawaban Renjun, Jaehyun berdecak dan meraih dagu Renjun. "Ngomong dong," tuntut Jaehyun.
"I-iya Kak, Renjun hitung,"
Jaehyun merangkulkan tangan kanannya pada pinggul Renjun, menjaga agar muridnya tidak terjatuh saat mereka belajar. Tatap mata Jaehyun yang terpaku pada wajah manis Renjun dengan perlahan turun kearah gundukan kelamin yang masih tertutup dengan kedua tangan mungil itu. Tak ingin menunda pelajaran mereka lebih lama, Jaehyun menepiskan kedua yang menutupi gundukan kelamin muridnya.
Putih tak bercela penis mungil Renjun, membuat Jaehyun semakin gemas. Tangan kiri sang guru menyentuh penis itu. "3 nomor salah, 3 kali hukumannya," peringat sang guru. Renjun mengangguk, tapi setelah ia sadar Jaehyun akan menegurnya lagi, Renjun segera menjawab, "I-iya Kak,"
"Nggak boleh keluar,"
"Iya Kak..."
Renjun mencengkram ujung kemejanya saat Jaehyun meludahi penis mungil miliknya. Rasa dingin itu membuatnya bergidik. Jemari panjang Jaehyun melumuri ludahnya pada penis kecil itu.
Degup jantung Renjun terdengar nyaring hingga di telinga Jaehyun. Membuat yang lebih tua semakin terpacu untuk mengerjai tubuh polos dipangkuannya.
Tangan yang berukuran sangat besar dibanding kelamin Renjun itu membelai lembut. Sesekali menarik-narik preputium remaja dipangkuannya guna mengintip kepala penis yang merona merah.
"Enggh?—" rengek Renjun. Penis mungil miliknya dengan perlahan mengeras. "N-nghh, Kak—pelahn..." pinta Renjun. Jaehyun yang tadinya hanya mengelus-elus penis itu menjadi semakin terpancing. Ia gerakkan tangannya memompa penis mungil orang yang ia sukai itu. "Belum apa-apa udah minta pelan," kekehnya.
Pun pinta Renjun ia acuhkan. Tangannya menggenggam penuh penis mungil itu dan mengocoknya hingga terdengar bunyi vulgar hingga penjuru ruang kamar tidur itu. "A-ahhh.. Kakak, Kakak—," si manis paniknya bukan main saat menyadari bahwa guru lesnya itu tidak lagi bermain-main.
Renjun pejamkan matanya sambil mencoba untuk mengigit bibir bawahnya. Jangan sampai Mama yang berada di lantai bawah mendengar erangan kotornya.
Liur yang selama ini menjadi pelumas tangan Jaehyun pada penis Renjun perlahan menipis, hingga tangan kasar Jaehyun mulai terasa dan meninggalkan rasa geli serta nyeri pada penis sang murid. "Kak—nghhh... Pel-pelanhh,"
"Nggak usah ngatur," bisik Jaehyun pelan.
Tubuh Renjun menggelinjang hebat saat ia merasakan ada tekanan kuat dari uretranya. Tangan kiri Renjun meraih pundak Jaehyun, menjadikannya sebagai pegangan. Kaki Renjun mengeriting bersamaan dengan dadanya yang makin membuncah. Tapi ia tidak bisa keluar, tidak boleh keluar lebih tepatnya.
Ini hukuman Renjun yang mau tak mau harus ia jalani.
Satu kali delayed orgasm setiap satu kesalahan saat ulangannya.
Renjun mendongak kepalanya. Semakin kuat Jaehyun mengocok penisnya, semakin tinggi pula Renjun bertolak dari paha Jaehyun. Merasa tubuh sang murid semakin membangkang, Jaehyun meremas kuat-kuat pinggul Renjun dan menahannya agar tetap menempel pada pangkuannya.
Di sela gerakan tangan yang cepat, Jaehyun bisa merasakan penis itu gemetar. Ukuran penis itu juga semakin membesar saat Jaehyun melihat titik cairan putih pada ujung lubang kencing Renjun. Renjun sudah berada di ujung, Jaehyun tahu persis akan itu. Tapi ia tidak ingin berhenti sampai disitu.
Tangan kasar Jaehyun terus mengocok penis Renjun hingga ia melihat semakin banyak cairan yang mengumpul di ujung sana. Penis Renjun merona hebat.
"Mhhh! Ng—ahhh K-kakhh," Renjun mencengkram keras kemeja yang dipakai Jaehyun.
Adalah pemandangan menghibur bagi Jaehyun saat melihat Renjun kelonjotan dan melempar matanya kebelakang. Guru les itu terkekeh senang melihatnya. Ia eratkan peluknya pada pinggul Renjun dan untuk terakhir kalinya ia mengocok kuat penis Renjun.
Dan saat Renjun hampir tidak tahan menahan maninya untuk muncrat keluar, Jaehyun melepas total tangannya pada penis Renjun. Membuat pemuda itu menggelinjang hebat.
Tak kuasa mengontrol dirinya sendiri yang tanpa ia sadari terus gemetaran akibat pelepasan yang tertunda, Renjun memeluk erat tubuh Jaehyun. "Sa-satu," hitung Renjun lirih.
Jaehyun tersenyum dalam diam. Ia membiar kan tubuh Renjun sedikit menenang sebelum ia mengangkat tubuh lemas itu ke atas meja.
Tangan Jaehyun menahan kedua paha Renjun.
Gemasnya penis Renjun menantang di hadapan muka Jaehyun membuat hati sang guru bungah. Jaehyun menjilat bibir bawahnya seakan tidak sabar melahap penis yang merona merah itu.
Saat kepala Jaehyun mendekat, Renjun menahannya dengan tangan lemah. "Ja-jangan dul-u, Kak.. masih sensitif," Rengek Renjun.
Jaehyun hanya berdecak dan menyingkirkan tangan itu dari kepalanya.
Sebuah tamparan pada penis Renjun membuat si manis menjerit kencang. Sadar bahwa ia baru saja berteriak, Renjun menutup mulutnya dengan tangannya. Tubuh yang tadinya purna bergetar, kembali bergetar untuk menahan pelepasannya.
"Makanya ngga usah ngatur, mau ditampar lagi?" ancam Jaehyun. Renjun menggeleng cepat.
Karena sang murid sudah selesai merengek, Jaehyun kembali menahan paha Renjun dan mendekatkan kepalanya pada penis itu, kini tanpa tangan lemah yang mengganggu.
Renjun menekan mulutnya lebih kuat saat hidung bangir Jaehyun bersentuhan penisnya.
"Mhh," rintih sunyi Renjun terdengar di telinga Jaehyun.
Jaehyun yang tak ingin menahan diri lebih lama lagi mengarahkan lidahnya pada lubang kencing Renjun. Menyesap butir mani yang sedari tadi mendesaknya untuk segera mencicip. Renjun terasa sangat manis.
Seakan mani Renjun adalah nektar terlezat yang pernah ada di dunia ini, Jaehyun memainkan organ basah tak bertulang miliknya pada lubang penis itu. Lidahnya bergerak memutar, dan kadang menekan lubang penis itu untuk mengeluarkan nektar lebih banyak lagi untuknya.
Renjun dengan segala keraguan meletakkan tangannya diatas kepala Jaehyun.
Pemuda tampan berlesung pipit dibawahnya itu sejenak menatap Renjun sebelum ia memasukkan seluruh penis mungil itu ke dalam mulutnya. "Kakhhh—ahhh!"
Paha Renjun menegang. Ia ingin sekali menutup kedua kakinya—sebagai respon rasa geli yang ia rasakan—tapi nyatanya tidak bisa. Tangan kekar Jaehyun menahan paha itu hingga tak bisa bergerak se-senti pun.
Mulut Jaehyun yang basah dan hangat itu kembali merangsang Renjun usai klimaks yang tertunda tadi. Pikiran Renjun yang kembali terkabut dengan napsu itu dengan perlahan mengontrol tubuh bagian bawahnya untuk ikut bergerak mengikuti ritme gerakan kepala Jaehyun.
Penis yang hanya sebatas pangkal lidah Jaehyun itu tidak menjadi kendala bagi sang guru. Maka ia biarkan Renjun mengejar putihnya dengan menggunakan mulut Jaehyun, toh Renjun harusnya masih ingat batasannya. Tidak boleh sampai keluar.
Rengekan Renjun yang semakin lama semakin menyayat hati membuat Jaehyun terenyuh dan berniat untuk membantunya. Jaehyun mengempotkan kedua pipinya hingga lesung pipit miliknya terlihat jelas. Bermaksud agar si manis bisa merasakan pijatan dinding mulut Jaehyun.
Dengan senang hati Renjun menerima bantuan Jaehyun. Gerakan pinggul Renjun semakin menjadi. Rasa basah nan hangat, ditambah legit yang ia rasakan pada penisnya membuat Renjun semakin gencar mencari putihnya.
Ujung mulut Jaehyun terangkat saat ia kembali merasakan maninya Renjun. "Ahhh! Ahhh! Anghhh!" Gerakan brutal pinggul Renjun itu terhenti saat Jaehyun secara tiba-tiba menarik mulutnya dari penis Renjun.
Murid yang kelimpungan usai kehilangan mainan penisnya itu perlahan turun dari meja belajarnya. "Dua-ahhh,"
Jaehyun menopang tubuh Renjun dan memposisikannya telungkup diatas meja belajar. Senyum Jaehyun kian merekah melihat lubang anal yang berwarna semburat merah muda, masih polos tanpa satu pun rambut. Bisa saja ia habiskan waktu berjam-jam untuk memuja pemandangan apik itu. Tapi waktunya kian menipis, mereka bahkan belum sampai ke pelajaran inti, yang seharusnya mereka lakukan alih-alih memburu putih.
Jaehyun membawa jemarinya kedalam lipatan anal itu. Renjun berjeringat merasakan jari tebal yang tiba-tiba memasuki analnya. Siswa SMA itu dengan nahas mencengkram buku paket kimia yang ada dibawahnya.
Tangan Jaehyun yang sudah fasih mencari titik nikmat Renjun segera memijat prostat itu. Memancing napsu Renjun kembali, sekaligus memberikan hukuman terakhir bagi sang murid. "Ahhh—," Sesaat saat jemari Jaehyun menyentuh prostat Renjun, sialnya Renjun tidak lagi bisa menahan maninya untuk mengucur keluar dari penis yang sudah membengkak itu.
"Hiks—m-maaf, Kak," rengek Renjun.
Jaehyun menghela napas kecewa. Ia kemudian menyingkirkan tangannya dari lubang anal Renjun. "Ayo belajar lagi," ujar Jaehyun. Renjun mengangguk pasrah.
Remaja itu dengan segala tenaganya bangkit dari meja belajarnya, berbalik badan dan membuka kancing celana Jaehyun. Renjun meneguk ludahnya saat menarik lepas celana Jaehyun.
4 bulan ia belajar bersama Jaehyun, maka ia sudah paham betul maksud dari kalimat "ayo belajar lagi". Renjun mengocokkan penis Jaehyun yang setengah berdiri itu hingga seutuhnya tegang dan keras. Saat sudah siap, Renjun segera memasukkan penis itu dalam lubang analnya lalu mendudukinya.
Remaja itu mengusap air matanya lalu mulai menggerakkan pinggulnya sebelum merapikan buku paket kimianya yang mulai lecek akibat perbuatannya sendiri tadi.
"Hari ini belajar apa?" tanya Jaehyun.
"Alkana, Kak," ujar Renjun sembari terus menggoyangkan tubuhnya diatas Jaehyun. Renjun mengigit bibir dalamnya. Ia mencoba mati-matian untuk tetap fokus pada apa yang akan ia pelajari malam ini.
"Emang alkana itu apa?" Jaehyun kembali bertanya. Ia mengenggam kedua pinggul Renjun dan membantunya dalam bergerak.
"Se—nghhh," ucap Renjun terputus saat ia merasakan Jaehyun menggenjot penisnya pada lubang penis Renjun. "Fokus," Jaehyun memperingati Renjun.
"Senyawa hidrokarbon—ahhh!" jawab Renjun diujung mulut. Suara kotor hasil tabrakan pantat Renjun dengan paha keras Jaehyun menutupi suara lirih Renjun.
"Emang rumusnya gimana?"
"CnH2n+4" jawab Renjun. Jaehyun berdecak dan memompa penisnya lebih cepat pada Renjun, "Yakin?"
"Plus 2! Plus 2! CnH2n+2! Kak—ahhh," genjotan penis Jaehyun membuat Renjun makin kelimpungan dan tidak bisa fokus dengan pelajaran yang ia coba pelajari saat ini.
"Ya udah, coba di kerjain dulu soalnya," ujar Jaehyun, membiarkan Renjun terlarut dalam soal dihadapannya sambil terus mendapatkan genjotan penis di lubang analnya.
Tokkk tokkk tokkk
"Ahhh—ahhh—ahhh," suara erangan Renjun senantiasa menjadi musik pelantun belajarnya. Sudah lebih dari dua jam tak terasa ia habiskan untuk belajar bersama Jaehyun. Pun sang murid tidak pernah mengucap rasa lelah atau cukup. Malahan ia semakin gencar membantu Jaehyun memakai dirinya saat ia sibuk menuliskan jawaban-jawaban soal.
Pantat Renjun memerah hasil tamparan tangan Jaehyun akibat salah menjawab soal. Pahanya seakan kram karena lama membuka lebar untuk Jaehyun. Tapi itu semua tidak menghentikan inginnya untuk terus belajar bersama Jaehyun.
Renjun suka belajar bersama Jaehyun.
Tokkk tokkk tokkk
"Renjun, Nak Jaehyun," panggil Bu Nini dari luar kamar Renjun.
"Mama!!! Kan Renjun bilang jangan diganggu belajarnya!" Ujarnya. Tubuhnya menungging menerima sodokan penis Jaehyun di lubang analnya sementara netranya fokus membaca soal dihadapannya.
"Enggak kok, Mama ngga ganggu," Renjun menahan erangan yang mencoba menerobos keluar agar tak terdengar okeh sang Ibu. "Mama cuma mau bilang, ini udah malem. Kalau Nak Jaehyun belum selesai ngelesinnya, tidur disini aja ngga papa, ya Nak. Tante udah minta ijin sama Bunda kamu," ujar Bu Nini dari luar ruangan, lebih tertuju pada Jaehyun.
"Oke Tante!" jawab Jaehyun, "kebetulan juga belum selesai belajarnya," tambah sang guru. Tangannya mencengkram kuat pinggul Renjun. Lubang anal muridnya itu memang tidak pernah gagal membuatnya ketagihan. Belum lagi rintihan-rintihan merdu dari mulut Renjun yang membuatnya semakin sange.
Disisi kamar Bu Nini merasa senang karena anaknya jadi rajin belajar dibawah bimbingan Jaehyun. "Ya udah, Tante siapin kamar ya buat kamu istirahat,"
"Nggak usah Tante, saya tidur dimana aja juga bisa kok, sama Renjun juga nggak papa. Biar nggak nyusahin Tante," Jaehyun beralasan.
"Ya udah, nanti Tante bawakan bantal sama selimut lagi aja ya.. lanjut aja belajarnya," ujar Bu Nini. Saat derap kaki itu menjauh, Jaehyun segera menggerakkan pinggulnya dengan brutal untuk menggenjot penisnya di dalam lubang anal Renjun.
Saat guru itu merasa pelepasannya mendekat, ia menggigit pundak Renjun dengan kuat.
Renjun meletakkan bolpoin yang ia pegang lalu menyandar pada tubuh Jaehyun. Ia diam dengan khusyuk saat merasakan pelapasan Jaehyun memenuhi perutnya.
"Lanjut lagi ya, Kak.." ajak Renjun, "Aku masih mau belajar sama Kakak," Remaja itu dengan perlahan menaikkan tubuhnya, membuat cairan kenikmatan Jaehyun mengalir keluar.
Renjun menelungkupkan tubuhnya diatas meja belajar lalu membuka lebar kedua pantatnya. Remaja itu menekan perutnya, mengeluarkan semua cairan yang Jaehyun tinggalkan disana.
"Aku bisanya belajar kalo boolku penuh pejuhnya Kakak," ujar Renjun sembari mengedut-ngedutkan cincin analnya.
Jaehyun terkekeh. Guru itu bangkit berdiri dan mengocok penisnya agar kembali tegak. Ia mengecup leher Renjun sejenak sebelum kembali memasukkan penisnya kembali kepada lubang itu "Belajar yang pinter, ya,"
—end.
14/1/2023 - Flo
