Work Text:
" Hyung, let's not die ."
SEOUL, 25 DESEMBER 2022
JANGAN MENGACAU.
Jangan mengacau.
Jangan mengacau.
Kim Taehyung meracau tanpa suara sembari genggam erat bajunya sendiri. Matanya melirik ke kiri dan ke kanan, berusaha untuk memastikan tak ada yang melihat. Walau jelas tak ada sepasang mata di tempat itu yang terlalu peduli pada presensi si lelaki di atas jembatan dengan jaket kebesaran membalut tubuh. Setidaknya sampai Jungkook datang, tidak ada yang boleh melihat gores-gores kemerahaan di kedua pergelangan tangan. Ya, benar. Lelaki itu bahkan tidak boleh melihat lebam di punggungnya. (Kendati tidak ada orang waras manapun yang sudi diam di jembatan selarut itu.)
Tidak . Tidak boleh .
"Kim?" Kim Taehyung berhasil menangkap figur Jeon Jungkook di sisi, tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat. Jaraknya terlalu pas dan Taehyung tidak punya kekuatan lebih untuk mengais ujung baju yang terkelim manis oleh gestur lembutnya. Ia duduk di situ dengan dua kaleng soda di kedua tangan. Rambutnya berantakan dan Taehyung nyaris tidak dapat melihat cerkas sederhana di sepasang bola mata itu. "Ada sesuatu?"
Si lelaki menggeleng. Jelas tak akan memberitahu si teruna di sebelah. Tangannya buru-buru meraih kaleng soda yang uapnya mulai berevaporasi dengan udara di sekeliling. Rasa haus yang sebelumnya terlalu invisibel untuk diterka muncul tiba-tiba begitu rasa segar laik cemerlang bintang dalam bentuk cair bergemeletuk di lidah.
"Kita memang baru kenal selama dua puluh empat jam terakhir, Taehyung." Jungkook menenggak miliknya perlahan. Sesekali melirik figur Taehyung yang berhasil habiskan sodanya dalam waktu singkat. Bersandar di pagar jembatan. Lantas berkata main-main, "Tapi tidak masalah kalau kamu ingin mengatakan sesuatu untuk... kau tahu... membuatmu lebih ringan."
Sejujurnya saja? Taehyung tidak tahu bagian mana yang paling menyenangkan di dalam hidupnya selama dua puluh empat jam terakhir dengan orang asing di sisinya. Mereka praktis baru benar-benar saling mengenal di malam natal pukul dua pagi, di jam yang sama mereka berdiri saat ini. Walau jelas Taehyung mampu menebak rasa curiga yang merambat perlahan ke sinar-sinar yang terselip di sorot mata, ada rasa terima kasih dan lega di saat yang sama karena lelaki itu tidak melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit ditangkis. Namun, menceritakan banyak hal yang mengganggu sejak ia memutuskan kabur dari tahanan bernama rumah sakit jelas tak boleh begitu saja tumpah keluar.
Haruskah kali ini ia buka jawabannya?
Taehyung juga bukannya menghendaki dirinya jadi sebegini menyedihkan. Menarik orang asing dari bar di dekat sana dan membawanya berkeliling kota tanpa kenal waktu, mencoba melupakan tamparan yang melayang di pipi dan tongkat bisbol yang mencetak warna kebiruan di punggung, atau gores kemerahan yang ciptakan bau anyir di pergelangan tangan, atau alasan mengapa kakak lelakinya menyeret lelaki itu ke rumah sakit setelah melihat tabung yang terbuka dengan pil yang berserakan di sekitar. Oh, astaga, memanfaatkan seseorang untuk memberikannya distraksi nyata dari isi kepala yang berceceran bukankah terasa sangat jahat? Taehyung jadi merasa bersalah dalam waktu singkat. Tanpa eksplanasi pasti tentu akan membuatnya bertanya-tanya, bukan ?
Taehyung menjilati bibir bawahnya, perasaan tidak enak yang mendadak muncul membuatnya sedikit merasa canggung. "Aku hanya mau menjauh sebentar dari hal-hal yang kukenal dengan baik." Ia menoleh untuk mendapati Jungkook dan wajah mengantuknya yang tampak lucu. "Kamu paham maksudku, ‘kan?"
Jungkook mendesah. "Tentu saja. Makanya kamu tarik orang asing ini dari tempatnya bekerja selama dua puluh empat jam penuh." Kekehnya lolos pelan. "Kadang memang lebih menyenangkan untuk menggenggam hal baru."
Taehyung mengangguk-angguk setuju. "Memang."
"Apalagi jika hal yang kau kenal tidak lagi membuatmu merasa nyaman." Jungkook melempar kaleng soda yang telah lumat ke dalam tong sampah beberapa meter dari tempatnya berdiri, berseru senang saat dapati bidikannya membuahkan hasil, lalu kembali menatap lelaki di sampingnya. Hati-hati, penuh perhitungan. Gesturnya yang samar membuat Taehyung tidak ragu mendekat. "Jadi, masalah apa yang membuat pria semenarik dirimu memutuskan untuk membawaku kabur?"
Bola matanya dirotasi. "Kamu tidak perlu tahu," jawabnya cepat, yang ditukas oleh gerutuan kecil di sebelahnya, namun ia tak mengacuhkan, malah melanjutkan, "itu hanya rasa lelah biasa, Jeon."
"Baiklah."
Tidak ada respon berarti untuk beberapa detik. Hanya ada semilir angin yang merengkuh keduanya dalam rasa dingin yang mencekik. Ditambah suara kecil dari kendaraan kecil yang melewati mereka, tidak banyak, namun suaranya secara mengejutkan tidak terlalu mengganggu. Terlalu nyaman.
Ah, sial . Rasa hangat di tengah udara dingin begini terlalu menyenangkan dan nyaris membuatnya terlena untuk beberapa detik pasti. Sebelum rasa takut menyergap dan berganti dengan waspada yang terlalu banyak. Taehyung menggenggam pagar beton di depannya kuat-kuat, mengendalikan diri untuk tidak melompat.
Sudah dua puluh tahun lebih dirinya yakin bahwa namanya dan frasa-frasa seperti hangat dan menyenangkan hanyalah sebuah diskrepansi. Tidak ada kelayakan dalam dirinya untuk memiliki setitik rasa aman. Bahkan saat dirinya berhasil meraih berbagai prestasi kecil di genggaman tangan, Taehyung masih belum cukup.
Lelaki itu masih belum cukup untuk semua senyum yang ia harapkan di dalam rumah atau setidaknya satu mangkuk es krim rasa mangga di kantin kantornya. Masih ada yang harus dilakukan, masih ada kesempurnaan yang perlu dikejar. Masih terlalu banyak. Namun Taehyung tak lagi mampu berlari.
"Aku sempat melihat kucing jalanan saat kau membeli bebek peking di pecinan tadi siang." Taehyung naik, lalu duduk di atas pagar pembatas dengan senyum menggantung di bibir. Ia mengingat sekilas adegan kecil dari kaki kecil yang berjalan ke arahnya, warnanya keabuan dengan corak putih di punggung, menatapnya dengan mata berbinar. Tanpa sadar bibirnya ditarik tipis saat berkata, "Kamu tahu mereka bilang apa padaku?"
"Meow?"
Taehyung mengerutkan hidungnya sebelum menahan tawa, dan terkekeh pelan. "Astaga." Tangannya dikibaskan ke udara. "Tidak salah, sih."
Jungkook tersenyum kecil. "Lalu apa?"
"Mereka bilang padaku soal tatomu." Taehyung menggoyangkan kaki menikmati semilir angin yang kian bungkus tubuhnya dengan rasa dingin yang perlahan membuatnya nyaman. "Tatomu jelek."
"Hei." Jungkook melotot. "Yang benar saja?"
"Bercanda, Jeon." Lalu perlahan Taehyung menarik Jungkook lebih dekat. Keberanian itu akhirnya datang, dan Taehyung tidak mau menyia-nyiakan ini. "Duduk di sini. Mau memelukku, tidak?"
Jungkook tidak terlalu fokus mendengar ucapannya sebab terlalu sibuk menurut untuk duduk di atas pagar pembatas. Lantas terkejut begitu dapati sepasang lengan melingkar di lengannya. Kendati demikian, ia tak merasa perlu melayangkan terlalu banyak protes meski sudah terlalu banyak yang berkelindan dalam kepala hingga tanda tanya besar tercetak jelas dari sorot mata, ia tak ingin buat Taehyung merasa terbebani dengan kuriositas yang tidak perlu. Tangannya dibawa melingkar di sekeliling bahu yang lebih ringkih lantas membawanya mendekat hingga rasa hangat perlahan menjalar dari tangan hingga seluruh tubuh.
"Terima kasih, Jeon." Taehyung bergumam pelan. "Untuk tidak bertanya, tidak mendesak dan hanya mendengarkanku," lanjutnya. "Maaf, kita baru kenal selama dua puluh menit, tapi aku sudah mengajakmu kabur keliling kota seharian penuh begini." Taehyung tidak bertanya ketika membawa kepalanya untuk bersandar di bahu lebar Jungkook, namun tidak mengerti bagaimana caranya ia tahu lelaki di sebelahnya tidak akan memberikan komentar apapun, ataupun menolaknya. Helaan napasnya terdengar pelan. "Aku akan membayar semua waktu yang aku curi darimu."
"Wah." Jungkook menggigit bibir bawah, menahan senyum geli. "Berarti aku boleh minta sepuluh juta won padamu?"
"Hei!"
Tangannya menahan kepalan tangan Taehyung. Dibawanya tangan itu dalam genggaman lembut. Jungkook juga tambahkan usapan pelan di atas punggung tangan si lelaki. "Bercanda, Taehyung." Terkekeh. "Tidak masalah, kok. Jujur saja? Aku malah lebih lega melihatmu tertawa-tawa di depan badut ulang tahun yang nangkring di jalan tempo lalu daripada diam seperti patung sambil menatap gelas anggurmu dengan tatapan kosong seperti malam kemarin." Kekehannya terdengar renyah. "Lebih baik membawamu keliling kota daripada melihatmu seperti mayat hidup , kan?"
Mayat hidup, ya? Taehyung menghela napas. "Pernah dengar tentang dua kematian seorang penari, tidak?"
“Pernah,” jawabnya cepat. "A dancer dies twice—Jungkook mengimbuh pelan—once when they stop dancing, and this first death is the most painful ."
"Once when they stop dancing, and this first death is the most painful." Taehyung mengulangnya hati-hati. Pertahanannya terlalu tumpul hingga tangannya mengepal dan ciptakan kerutan-kerutan kecil saat genggam tangan lelaki di sebelahnya terlampau erat. "Bagaimana rasanya mati sebelum kau meninggalkan dunia, Jeon?"
"Menyedihkan?" Elusan di atas punggung tangan Taehyung dibuat lebih lembut, untuk memberikan penenang pelan sebab ada getaran yang Jungkook tangkap melalui saraf motoriknya malam itu. "Tidak menyenangkan. Menari adalah napas dari si penari itu sendiri. Bayangkan mereka berhenti menari, itu pasti akan sangat menyakitkan. Seperti ditinggal cinta pertama. Menurutmu sendiri bagaimana?"
Taehyung menelan ludah. "Rasanya pahit.” Taehyung menatap keliman bajunya. “Seperti menelan lusinan pil dari dokter, dan diam di rumah sakit tanpa bisa melakukan apapun. Hanya ada putih di sekeliling."
"Jadi, bagian mana yang harus dibalut lukanya, Taehyung?" Jungkook bertanya hati-hati. "Bagian mana yang paling pahit?"
Taehyung menggelengkan kepalanya. "Tidak, Jungkook. Tidak.” Taehyung gigit bibir bawahnya pelan. “Lukanya tidak sembuh semudah itu, tahu?" Ia terkekeh. "Memangnya kau ini psikolog mutakhir apa?"
Jungkook menaikkan kedua alisnya, tatapannya penuh tanya, tapi bibirnya terkatup rapat. Tidak kaget dengan respon yang melayang, juga mengerti kenapa penolakan itu malah disertai genggaman tangan yang mengerat. Ada redup yang menjelma jadi getaran rasa takut di bola mata yang tatap matanya saat itu. Jungkook tidak punya alasan untuk mendorongnya lebih jauh dan hanya mampu mengusap punggung tangan yang tidak berhenti bergetar itu dengan lembut.
"Maaf." Taehyung menghela napas. "Aku tidak bermaksud kasar, hanya saja... bicara soal emosi terlalu menakutkan, tahu?"
"Lebih menakutkan lagi jika kau mencoba mengatakannya pada orang asing."
"Ya."
Jungkook terkekeh. "Jadi kenapa kau malah datang padaku, hm?" Ia menarik kembali kepala yang sempat menjauh dari bahu untuk kembali ke tempat semula. "Di sini dulu saja, istirahat." Suara teduh lelaki itu berhasil menelusupkan rasa percaya dan aman di satu waktu yang bersamaan. Lantas, Jungkook kembali melanjutkan, "Tidak usah mengatakan apapun kalau tidak mau mengatakannya.” Jungkook berikan jeda untuk dirinya sendiri—meraup napas banyak-banyak. “Aku di sini bukan psikolog, astaga, lulus kuliah saja tidak, Kim,” kilahnya sambil terkekeh. “Aku hanya akan ada di sini. Menemanimu sampai kau merasa lebih baik. Selebihnya bukan tanggung jawabku, bukan?"
"Benar." Helaan napas Taehyung lolos dengan lembut, bersamaan dengan uap yang mengepul di sekitar bibirnya yang terbuka. "Kau benar."
"Ada aku di sini, Kim." Taehyung memejamkan mata tatkala suara teduh Jungkook naik ke udara. Lantas Jungkook kembali melanjutkan. Suaranya lebih lembut, lebih mirip bisikan. Si lelaki masih mampu mendengarnya dengan baik walau kewarasannya malam itu nyaris lenyap diserap ruang mimpi. "Aku di sini, Kim. Kau akan baik-baik saja."
" Aku percaya padamu, Jungkook ."
10.00
"Mau bebek peking lagi?"
"Tidak."
Ada rasa senang yang terbit begitu Taehyung menyadari Jungkook sedang merajuk sebab kesempatan kedua untuk mencicipi makanan paling enak di dunia itu lenyap seketika. Jungkook menghela napas. "Astaga." Bibirnya nyaris mengerucut lucu andai tidak ingat di mana mereka sekarang. Taehyung masih dengan buket es krim di pangkuan. Jungkook tidak mau menyerah, jadi dia kembali bertanya, "Kalau begitu, kari?”
Taehyung mendelik. “Mau sakit tenggorokan, ya?” Tangannya mengacungkan sendok es krim tinggi-tinggi seraya hadiahkan pelototan menyeramkan. Seolah-olah ia mampu membunuh Jungkook hanya dengan sendok kecil yang disentil sedikit langsung melayang entah ke mana, pun jika benar-benar terjadi, bukankah menyenangkan melihat Jungkook terkapar tak berdaya di tanah? Namun menampik bayangan Jungkook yang menggelepar sudah diputuskan demi kemakmuran perut mereka hari itu sebelum jam makan siang mampir, maka Taehyung buru-buru menjawab, “Yang berkuah?”
“Kau bahkan menatap cangkir ramenku dengan jijik, Taehyung.” Jungkook mendesah, pasrah. Duduk di sebelah Taehyung membuatnya jadi lebih rileks, walau tidak mampu menampik rasa kesal karena gagal makan kari atau bebek peking—dua makanan utama yang mampu memanjakan lidahnya yang rindu rasa rempah-rempah melimpah. Namun ini Taehyung, dan lelaki itu tahu Jungkook hendak membantah, jadi daripada mengulur waktu terlalu banyak, Jungkook bertanya kembali untuk memastikan sesuatu. “Baiklah, yang berkuah.” Ia menatap langit sambil berpikir. “Sup?”
“Sup?” Taehyung meliriknya sekilas. “Sup terdengar enak.” Lalu mendadak saja gagasan kecil melintas di ingatan. Jadi, dengan bersemangat ia menambahkan, “Sup dari Kentucky?”
“Oh, kamu mau sup dari Kentucky?”
“Aku sudah mengatakannya dan tidak akan mengatakan dua kali, Jung.”
Jungkook mengulas cengir lebar. “Astaga, galak sekali,” sahutnya setengah sebal, setengah menggoda, lalu tambahnya lagi, “Yasudah, Kentucky, kalau begitu?”
Mereka memutuskan untuk kembali berkeliling setelah tidur selama enam jam tanpa ada disrupsi di atas jembatan. Tidak ada yang menyuruh mereka bangun atau setidaknya menarik mereka turun dari pagar pembatas dengan suara panik seperti yang biasanya Taehyung dapat setiap mencoba lompat dari atas sana. Namun Taehyung bersyukur Jungkook tidak benar-benar menurunkannya di tengah jalan setiap Taehyung membantah pilihan lelaki itu tanpa banyak berpikir—yang menyedihkan jika sudah bicara soal tempat-tempat menyenangkan di penjuru kota Seoul. Maka dari itu mereka terjebak di taman ini selama dua jam dengan buket es krim yang sudah habis setengah.
Jadi, memperhitungkan perjuangan lelaki yang menjadi supir merangkap ajudan dan teman mengobrolnya sejak kemarin, Taehyung memutuskan untuk memberikan gagasan yang lebih menyenangkan. “Habis itu kita pergi ke tempat kerjamu, ya?” Ia menggigit bibir bawah, sedikit tidak percaya diri pada idenya sendiri, walau sejujur tidak ada yang perlu dipikirkan soal itu. Jika dipikir kembali pun Jungkook tampaknya tidak pernah keberatan pada ide-ide gila Taehyung sejak pertama kali mereka bicara, bukan? “Kau sudah aku culik nyaris empat puluh delapan jam. Rasanya tidak enak jika harus menahanmu dari tempat kerja lebih lama.” Taehyung mengaduk-aduk es krimnya yang perlahan berubah menjadi cairan manis. “Aku akan ada di bar, mungkin minum beberapa gelas?”
Ada lirikan kecil yang mampir pada si lelaki yang sadar akan gestur samar dari pria di sampingnya. Juga suara Jungkook yang kini menemaninya tanpa kenal lelah naik kembali ke udara, kali ini lebih lembut daripada beberapa menit lalu, saat mereka memperdebatkan makan siang di tengah taman yang penuh oleh hiruk-pikuk mereka yang sedang menikmati hari natal bersama keluarga di sana. Katanya, “Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, tapi, ya, tidak masalah, Taehyung.” Pria itu mengesah. “Aku tidak keberatan menemanimu dan bolos kerja, tapi jika kamu ingin aku kembali bekerja hari ini, aku juga tidak akan membantah.” Si lelaki mengedikkan bahu, sedikit tidak rela saat mengimbuh pelan, “Walau kalau boleh jujur, bekerja di hari libur begini sebenarnya sedikit banyak membuatku kesal setengah mati. Tapi apa boleh buat, kan?”
“Kamu tidak mau makan memang?” Taehyung mendelik.
Jungkook menarik kedua sudut bibirnya pelan. “Kamu belum pernah lihat jumlah nominal di akun bank-ku, ya?”
“Tidak mau tahu, tuh.” Taehyung menimpal judes. “Isinya pasti menyedihkan.”
Jungkook memasang wajah pura-pura tersinggung saat menyahut, “Kamu meremehkanku padahal baru kenal dua hari denganku.” Pria itu menggeleng tidak percaya. “Kamu lupa dengan uang siapa kau beli puluhan makanan dan piring mewah untuk bebek peking kesukaanmu itu, Taehyung?” serunya dramatis.
Taehyung memutar bola matanya jengah. “Tidak usah pamrih, kamu sendiri yang menawarkan diri untuk kutarik dan kubawa keliling kota, Jung.”
“Harusnya kamu yang mentraktirku selama dua hari ini.” Ia mengabaikan Taehyung ketika mengatakannya yang buahkan rasa kesal main-main dalam dada Taehyung, pria itu juga siap menyerang Jungkook dengan cubitan kecil di sekujur tubuh, namun segera menampiknya dengan berkata lagi, “Aku tidak masalah, sih. Serius. Bekerja atau tidak bekerja, uangku masih terlalu banyak untuk dipikirkan.”
“Sombong sekali.”
“Itu bukan sombong,” kilahnya cepat. “Itu namanya memberikan alasan dan penawaran yang menarik, tahu.” Ia menyerahkan kotak kue ke atas pangkuan si lelaki sambil terus berceloteh. “Aku harusnya yang protes di sini. Tapi lihat, aku ini sangat baik hati, bukan?”
“Ya, ya, ya,” tandas Taehyung cepat. “Jadi, sup Kentucky lalu pergi ke tempatmu bekerja?”
Jungkook mendesah. Menyerah. “ Call. ”
“ Call .”
12.30
Mereka praktis menghabiskan dua porsi sup ayam Kentucky di atas meja itu dalam waktu tiga puluh menit. Rekor memakan sup terlama seorang Kim Taehyung, dan entah untuk Jungkook, sebab lelaki itu tidak bertanya. Namun memandang bagaimana Jungkook mengeluarkan kesah puas setiap sepuluh menit sekali tak ayal membuat Taehyung menerka-nerka apakah lelaki itu pernah memakan sup pelan-pelan karena tak rela rasa menyenangkan itu habis terlalu cepat atau semacamnya.
Taehyung menggigit bibir bawahnya. Kini matanya malah tertuju pada kaleng soda yang merah merekah. Uap air akibat udara dingin yang perlahan menguap ke udara itu tampak menyenangkan untuk diperhatikan—atau alasan kecil untuk Taehyung tidak layangkan sorot ingin tahu pada lelaki di hadapannya, barangkali.
Jungkook mungkin tidak pernah berpikir bagaimana menyenangkannya mematikan ponsel tanpa harus menerka kekhawatiran yang timbul pada keluarganya—mereka bahkan mungkin tidak peduli jika salah satu anak lelaki hilang dari jarak pandang.
Jungkook tampak bebas dan Taehyung mau tak mau jadi iri karenanya.
Kapan ia sebebas itu, ya?
“Memikirkan apa, Tae?” Jungkook segera memangkas habis kuriositas yang berkelindan dalam kepalanya. Lantas memberikan satu lembar tisu dari dalam kantung jaketnya pada Taehyung, lalu menambahkan dengan jenaka, “Dahimu berkerut-kerut begitu. Tidak cocok sekali dengan imejmu.”
“Hei!” protesnya dengan mata membulat kesal. “Memangnya aku terlihat bodoh, apa?”
“Yah, bagaimana cara mendeskripsikannya, ya?” Jungkook menarik satu sudut bibirnya, tipis dan terlalu samar. Tidak sadar ada mata yang menyimpan imaji ini baik-baik dalam diam . “Kamu tampak seperti bocah cilik polos yang langsung ambil permen dari tangan orang asing, lalu diculik.”
“Lho?” Taehyung menaikkan alisnya heran. “Bukankah kasus kita ini malah kebalikannya?” Dahinya berkerut lebih dalam. “Jadi harusnya yang tampak bodoh itu ‘kan kamu. Kenapa jadi aku, sih?”
Jungkook mengedikkan bahunya ringan. “Tidak ada yang bodoh.” Desahannya naik lagi dan kali ini Taehyung berhenti di angka sepuluh—ya, Taehyung menghitungnya. “Aku bahkan tidak menyebut-nyebut ‘bodoh’ sejak tadi.” Jari telunjuk terangkat menuding Taehyung, sedang senyum jenakanya ikut naik tanpa ditutup-tutupi. “Mencoba memfitnahku lagi, nih, rupanya.”
Satu tas selempang ringan melayang bebas hingga dengan telak mengecup pipi Jungkook.
[Jungkook tertawa lepas walau harus meringis di hadapan Taehyung agar lelaki itu puas, sedang dirinya tidak menyadari ada suara getir dari tawa canggung yang Taehyung loloskan hari itu, a tau mungkin, lelaki itu malah tidak peduli sama sekali? ]
15.50
Ia tidak tahu darimana asal keberaniannya sore itu.
Kakinya bergerak sendiri. Merangkak ke atas pangkuan Jungkook dengan kuas tata rias di tangan kanan dan palet celak mata yang tampak mewah di tangan kiri. Tidak terlalu peduli pada reaksi si lelaki yang ia duduki pahanya atau sapuan pada kelopak mata yang bisa saja membangunkan pemuda di hadapannya, toh, kalau bangun pun, Jungkook tidak boleh banyak memprotes.
Benar, bukan?
Si lelaki bukanlah seseorang yang hidup tanpa perhitungan. Semuanya memiliki perhitungannya sendiri, entah akurat atau tidak, paling tidak, apa yang sudah bisa diterka tidak akan melewati batas perkiraan terlalu jauh. Mungkin juga karena si lelaki tak percaya hal-hal remeh seperti impuls yang bisa bergerak sendiri tanpa kemauan, atau rencana mendadak yang bisa kapan saja menghantui rencana utama. Ia menemukan sesuatu yang mudah diperkiraan sebagai tempat paling aman untuk bersembunyi, tidak perlu menerka terlalu jauh, tidak perlu ada skenario tak masuk akal. Ia hanya perlu menjalankan segalanya sesuai dengan tahap-tahap yang telah menempel dalam ingatan.
Namun ada satu hal dalam diri Jungkook yang menariknya untuk lebih dekat dan mendorong rencananya jauh-jauh dari bayang memori. Fokusnya kini pecah oleh wajah Jungkook yang menawan, rahangnya yang tajam dengan beberapa bagian yang sudah ditumbuhi rambut-rambut kecil, juga sapuan celak mata yang menghias kelopak mata Jungkook.
“Apa yang kau lakukan, Taehyung?” Suara itu tak lantas membuat Taehyung berhenti, malah semakin gencar memajukan posisi duduknya hingga dada lelaki itu menghimpit milik Jungkook telak, terkekeh geli kala Jungkook malah memajukan wajah untuk menginterupsi kegiatan si lelaki. “Taehyung,” bisik Jungkook pelan.
“Hm?” Taehyung sapuan celak mata yang sama di pipi si pria. “Kamu suka?”
Jungkook tidak langsung menjawab. Tangannya memerangkap pinggang yang sedang duduk di pangkuan dan menariknya lebih dekat. Matanya masih tertutup, membiarkan Taehyung bermain-main dengan kuas ajaibnya yang entah akan membuatnya jadi tampak lebih tampan atau malah jadi lebih konyol, tidak peduli sebab presensi di atas pangkuannya ini rasanya lebih penting untuk dipikirkan.
“Jungkook.” Napas si lelaki memberat kala sadar udaranya kian panas. “Apa yang kau lakukan?”
“Sadar tidak, Taehyung?” Jungkook berbisik pelan di depan bibir Taehyung dengan mata setengah terbuka sedang yang ditatap menautkan alisnya heran. “Kamu sedang duduki bagian yang apa?”
Oh, astaga.
“...hhh—hhh-ahh...”
“Taehyung—“
“J—jungkook... nhh...”
“Cantik.”
“Ahh—!”
“Taehyung.”
[Dentum musiknya menggelegar, Taehyung harusnya tidak bisa mendengar suara Jungkook yang rendah, namun getaran yang mampir membuat atensi teralih sempurna.]
“ Jungkook .”
[Tangannya menggantung dengan tepat, bersembunyi di belakang tengkuk Jungkook yang terasa begitu hangat.]
“ Menetaplah lebih lama... ”
[Jungkook mendorong punggung Taehyung lebih dekat. Ia bawa kecupan singkat itu menuruni wajah menuju leher sebelum akhirnya berhenti di depan bibir Taehyung yang masih bengkak. Ada aroma alkohol di sana, tapi Jungkook tampak tidak peduli. Sebelum dibawanya si lelaki dalam dekapan ke dalam ciuman panjang.]
“ ...dari matahari.”
[“Jangan mati.”]
[Bisikan itu tidak pernah berani keluar.]
Seoul, 26 Desember 2022.
Tidak tahu mana yang lebih menakutkan di antara bersama orang asing tanpa aba-aba untuk berkeliling kota nonstop atau memeluk tubuh tanpa nyawa di kedua tangan. Jungkook masih memproses semua yang terjadi. Masih terlalu bingung bagaimana harus bereaksi. Impulsnya tidak semudah itu melakukan refleks yang benar. Padahal biasanya selalu ada gagasan keren yang mampir tiap keadaan darurat mencekik kewarasan.
Beberapa jam lalu senyum kotak itu masih berkeliaran dengan bebas di apartemennya yang terlampau luas. Suara berat itu masih terngiang-ngiang di telinganya perihal perabotan yang terlalu minim walau ruang di apartemennya luas, nyaris kosong, menggerutu soal bahan makanan yang sudah tidak layak dikonsumsi dan berkomentar perihal lukisan-lukisan yang terpajang manis di dinding rumahnya. Semuanya masih tersisa, atau setidaknya bayangan itu masih ada dan berkeliaran bebas di dalam kepala. Tidak diam. Stagnan. Tanpa pergerakan pasti. Menakutkan .
Bukankah mereka sempat berkonversasi singkat soal buku-buku yang Jungkook biarkan menumpuk di sebelah ranjangnya yang besar? Mereka jelas masih tertawa pada Jungkook dan humornya yang kelewat rendah. Tadi masih bicara soal video musik yang tayang di layar teve, mengomentari sinematografi yang muncul—tampak begitu cantik—dan sesekali bicarakan proyek kecil berupa angan-angan membuat video kecil di balkon apartemen lelaki itu sambil bermain kembang api. Mereka masih bicara soal rencana tahun baru yang mendadak melintas dalam kepala, tersenyum pada matahari yang menyambut pagi sambil bicara soal jam tidur yang hilang sejak dua hari lalu. Mereka masih duduk bersisian di atas sofa yang mengarah pada jendela besar di sisi kamarnya. Mereka masih tertawa bersama.
Lalu apa yang salah?
Mengapa tubuh Taehyung kaku dan dingin di saat yang sama? Jungkook praktis mendapati tubuh itu terkulai lemas di atas ranjang saat pria itu sedang mencoba membangunkannya untuk sarapan mereka yang terlambat. Lelaki itu sudah berhasil memasak jajangmyeon tanpa melelehkan pancinya sendiri, atau membakar apartemennya. Sudah ada banyak rencana yang menumpuk di kepala tatkala tangannya mengambil satu persatu bahan makanan dan beberapa alat mandi di toko serba ada seberang apartemennya. Senyumnya tidak berhenti menghiasi wajah sepanjang perjalanan menuju kasir, hingga kakinya menginjak lantai apartemen.
Jungkook jelas tidak mengerti bagian mana yang salah dari obrolan mereka sejak semalam sampai ia dapati Taehyung yang tidak lagi membuka mata. Ia tidak mengerti mengapa Taehyung tidak menjawab sapaannya, walau ia mencoba memberikan alternatif lain dalam kepala perihal nyenyaknya tidur si lelaki bersenyuman kotak itu mengingat bagaimana mereka tak sempat tidur selama dua hari terakhir, dan walaupun aroma jajangmyeon tidak mampu membangunkan Taehyung dari tidurnya, Jungkook masih percaya suatu saat nanti di hari itu Taehyung akan bangun dan menggerutu soal jam tidurnya yang diganggu. Lantas apa yang harus ia lakukan sekarang jika semuanya hanya ada dalam bayang?
Tidak. Ini tidak mungkin terjadi, bukan?
Tidak mungkin Taehyung meninggalkannya dengan tubuh tanpa jiwa, tanpa napas, tanpa nyawa . Taehyung jelas berjanji mereka akan merayakan tahun baru dengan kamera lama yang tidak dipakainya selama bertahun-tahun karena tidak ada waktu untuk melakukannya. Jungkook masih ingin membagi beberapa foto-foto jeleknya sewaktu masih duduk di bangku SMA, cerita kecil soal alasannya tidak melanjutkan kuliah dan malah bekerja jadi bartender di tempat mereka bertemu. Taehyung juga berjanji untuk cerita soal pagelaran seni yang sering didatanginya sewaktu melanjutkan studi di luar negeri, atau latihan pianonya yang lebih mirip latihan militer, atau mungkin pelajaran eksakta yang terpaksa menjejal habis isi kepalanya selama tiga tahun berturut-turut tanpa jeda. Jungkook bahkan belum dengar bagian terbaik dari pertengkarannya dengan adik perempuannya soal makanan yang paling enak di dunia.
Bukankah mereka sudah berjanji?
Oh, Jungkook tercenung di tempatnya duduk, menatap wajah yang kini tampak lebih tenang dari sebelumnya, dengan perasaan mencekik yang perlahan merambati paru-paru.
Tentu saja. Jungkook terkekeh. Aku hanya orang asing.
Tentu saja. Orang asing. Taehyung.
Mereka tidak lebih dari orang asing yang baru saling mengenal satu sama lain selama empat puluh delapan jam lebih. Mereka hanya berbagi kalimat omong kosong, tanpa arti, tidak terlalu jelas, yang penting tidak ada kekosongan yang mengisi spasi. Tidak ada konversasi penting soal asal-usul lelaki itu, mengapa tubuhnya bergetar malam itu, dan soal berlusin botol berisi pil yangd ditemukannya dalam kantung jaket milik Jungkook yang dipinjam lelaki itu, atau garis melintang kemerahan yang memenuhi pergelangan tangannya. Tak pernah ada eksplanasi jelas dan saat lelaki itu benar-benar pergi tanpa benar-benar membuatnya mengerti, Jungkook bergeming.
Ada rasa sakit yang aneh menjalari dada. Jungkook tidak mampu menampik rasa bersalah dan rasa kesalnya yang berkemelut di dalam dada. Stagnan di sana adalah satu-satunya opsi yang ada. Lantas, Jungkook tidak tahu harus memikirkan apa, melakukan apa, atau pergi ke mana.
Seluruh panca inderanya tidak ada yang berfungsi dengan benar. Bahkan menelepon instansi darurat yang tertera di atas post it di dinding kamarnya saja tak mampu. Sebab kini malah tubuhnya yang gemetar.
Oh, tidak, tidak. Jungkook tidak menangis. Tidak tahu juga bagaimana caranya karena mendadak saja seluruh reflek di tubuhnya lenyap bersama dengan udara. Entah karena terlalu kaget, atau karena sentuhan Taehyung masih menghantui indera, suaranya juga masih mengisi spasi luas di setiap sudut ruang unit apartemen. Untuk kenangan singkat yang hadir bersamaan dengan Taehyung yang mengisi membuat kepergian lelaki itu jadi dua kali lebih menyakitkan.
Bukankah ini terlalu kejam? Meninggalkan Jungkook dengan tanda tanya yang berantakan. Laiknya benang kusut yang tidak bertemu ujung. Hanya ada emosi yang berkecamuk. Pening dalam kepalanya juga merangkak naik hingga ke puncak.
Sedang ponsel di atas ranjang itu berkelap-kelip, dan itu bukan milik Jungkook, itu milik Taehyung. Maka dari itu Jungkook meraihnya tanpa pikir panjang.
“Taehyung, kenapa kamu pergi dan meninggalkan kami semua seperti ini?"[]
