Work Text:
HARI INI kamu pakai mantel sewarna matamu. Pandanganmu berbinar-binar menatapku, dan bisa kulihat cemerlang di matamu saat menceritakan bagian-bagian penting, yang menurutmu sepele tapi tetap kamu bagikan padaku, dalam hidupmu hari ini tanpa melupakan berbagai macam ekspresi di wajahmu. Aku tidak mampu mengabaikan, hanya bergumam ya, ya, ya, sambil menyelipkan godaan ringan hanya untuk melihat semburat senja di sepasang mandibula itu.
Terlalu manis. Aku tidak bisa fokus memberikan balasan yang setimpal karena mantera apapun yang sedang kamu gunakan sekarang, kamu berhasil membuatku lupa ada kopi yang uapnya sudah memudar sejak sepuluh menit lalu karena aku abaikan.
"Kak?"
"Hm?"
"Gak fokus, ya?"
"Bagaimana bisa fokus?" Aku merengut, sengaja tidak membantah. "Kamu cantik." Kutarik napas dalam-dalam. "Saya nggak bisa fokus sama yang lain selain matamu. Maaf."
Kali ini aku tidak mampu berkedip, senyum dan rona merahnya terlalu manis. Mungkin kalau dihadapkan dengan antusiasmenya terlampau lama, aku bisa dibuat gila karena tidak akan berhenti mengulang adegan yang sama sampai malam menjelang. Yah, bagaimana, ya? Sekarang saja aku tidak mampu melepaskan imaji manis itu dari dalam ingatanku, bahkan tampaknya malah semakin indah semakin lama kupandangi matamu.
Tanganmu yang panjang dan lentik itu aku raih perlahan, menyelipkan rasa hangat dari sela-sela jemari yang kosong lalu mengisi rasa hampanya dengan tanganku yang lebih besar. Perlahan kububuh kecupan manis di punggung jarimu sebelum akhirnya kecupan itu berpindah ke seluruh wajahmu yang memerah.
"Saya gak bisa berhenti," kataku lembut. "Kita begini sampai pulang, ya?"
