Work Text:
Suatu hari di bawah langit berkabut emas, ketika angin berembun menggelincir lembut bersama gugur daun mati di atas tebing gunung Eloramaru, terlihat seorang pemuda bertubuh ramping dengan pucuk telinga runcing memerah tengah mengais tanah hijau di bawah sepatunya yang mengambang. Sayap panjangnya yang berkilau di atas kepala mengibas resah menjaga keseimbangan tubuh sang tuan yang sedang gusar. Pandangannya tertumbuk tajam pada objek gelap di kejauhan—sebuah istana megah di tanah manusia.
Bayangan tubuh dan sayap sang peri tampak bergoyang gelisah di atas tanah, menutupi cahaya mentari jingga yang bersinar terik menandakan musim panas telah tiba. Bersama dengan debu-debu emas yang mengambang di udara, peri itu mengepakkan sayapnya seperti kipas yang hendak mengusir lalat.
Jika bukan musim panas, seorang peri biasanya sibuk berkegiatan memenuhi tugas-tugasnya menjaga tanah manusia. Setiap peri memiliki tanggung jawab menjaga alam, membuat bunga mekar, membangunkan hewan-hewan liar dari hibernasi panjang, dan merawat berbagai macam jenis tanaman agar dapat menghasilkan buah-buahan. Namun, musim panas ini mengartikan tugas baru bagi seorang peri dewasa di tanah Elora. Bagi peri-peri dewasa, ada tugas lain yang menjadi tanggung jawab mereka untuk dikerjakan, yaitu mendampingi manusia untuk menemukan pasangannya.
“Kenapa wajahmu terlihat begitu kesal? Bukankan ini sempurna? Mendampingi Putra Mahkota?” celetuk Kookie yang berbaring di atas rumput di sebelahnya.
Peri laki-laki yang tengah kesal itu menjatuhkan diri di samping Kookie, membuat debu-debu emas dari sayapnya berterbangan bak debu halus di atas kursi lapuk.
“Jangan lakukan itu,” sembur Kookie. “Aku benci debu peri selain debuku sendiri.”
Dia berdecak. “Kau tadi bilang tugasku sempurna? Kenapa tidak kau saja yang menjadi pendamping pangeran congak itu?"
Kali ini Kook mendengus. “Tidak. Terima kasih.”
“Lihat? Lagi pula siapa yang mau mendampingi laki-laki languk bermulut besar sepertinya? Tidak ada yang peduli jika dia akan beruntung atau tidak? Masih banyak orang lain yang membutuhkan keberuntungan mendapatkan pasangan. Aku tidak peduli dengan laki-laki pongah seperti itu!”
“Paling tidak dia tampan. Pekerjaanmu tidak akan sulit nanti.”
“Kalau begitu sama saja kau ingin mengatakan bahwa aku akan cepat mati.”
“Bukan begitu maksudku.”
Awan-awan melingkar berarak di atas kepala mereka. Warnanya yang kuning keemasan semakin menyilaukan langit sewarna nanas segar. Di tanah Elora, segala macam warna didominasi dengan warna kuning, emas, dan jingga akibat pantulan debu peri yang berterbangan di mana-mana. Kecuali daun dan rumput serta air sebening kristal, hampir seluruh permukaan di atas tanah Elora tertutupi debu emas. Debu inilah yang memberikan energi tiada batas bagi para peri yang tinggal di sana. Debu-debu ini juga dipercaya membawa berbagai macam bentuk keberuntungan di dunia manusia. Sayangnya, keberuntungan itu tidak cukup untuk membantu para peri menghindari kematian yanng sudah ditakdirkan Dewa.
“Setidaknya aku tidak perlu berlama-lama mendampingi pangeran itu. Aku bisa mati dengan tenang, seperti tidur panjang yang damai.”
“Apa kau yakin?”
“Itu sudah menjadi takdir kita sebagai peri alam. Kembali pada sang Dewa setelah menyelesaikan tugas dengan sempurna.”
Di bawah langit-langit tinggi penuh ornamen serba hitam dan emas, untuk pertama kalinya peri laki-laki itu menggunakan kaki mungilnya untuk melangkah. Salah satu syarat dalam menyelesaikan tugasnya, seorang peri harus berbaur dengan para manusia untuk tidak menggunakan sayap mereka dalam keseharian. Butuh waktu beberapa lama bagi seorang peri membiasakan diri berjalan menggunakan kaki alih-alih terbang dengan sayap mereka seperti biasa. Tentu tidak mudah, tapi tetap harus dibiasakan.
Ubin granit mengilap di bawah kakinya itu sama sekali tidak membantu bentuk proses diri untuk mulai terbiasa. Beberapa kali kaki-kaki itu tergelincir hingga membuat tubuh mungil sang Peri hampir jatuh tersungkur. Tanpa debu-debu emas yang menyatu dengan udara seperti di Tanah Elora, tubuh mungil yang biasanya ringan itu kini terasa sepuluh kali lebih berat dari biasanya.
Dengusan berat berulang kali terlontar dikala melewati lorong panjang penuh lukisan anggota keluarga kerajaan. Tiang-tiang tinggi sebesar pohon raksasa di hutan Elora berjajar seperti prajurit yang menjaga istana. Peri mungil itu mulai bertanya-tanya, harus sejauh apa lagi kakinya melangkah untuk bisa sampai di ruangan sang Pangeran?
“Silahkan masuk ke dalam,” ujar seorang prajurit yang mengantarnya kemudian.
Bola mata sebiru safir itu membelalak lebar. Setelah pintu bercorak ulir hitam raksasa di hadapannya terbuka, terlihat sebuah ruangan megah berhias ribuan lampu kristal di bawah kubah-kubah bercorak langit dan awan serta pilar-pilar putih, seputih pualam. Ruangan yang didekorasi senada dengan lorong di sepanjang istana—hitam dan emas—menyambut Peri laki-laki itu bersama seorang manusia yang duduk pada singgahsana tak kalah megah di tengah ruangan. Baginya, singgahsana itulah yang paling megah dari semua sudut istana yang dia lihat. Tidak salah lagi, pasti dia orangnya, sang Pangeran.
“Kau, peri-ku?”
“Panggil aku Mimi, Yang Mulia.”
Pangeran bertubuh tinggi, berkulit setengah gelap dengan rambut ikal hitam pekat yang duduk di hadapan Mimi itu tergelak sejenak. Jemari lentiknya menampar lengan singgahsananya kegelian, sementara mata besarnya menggaris akibat kedua pipi yang seperti roti mengembang naik begitu tinggi. “Aku belum pernah mendengar nama seperti itu. Apa benar kau seorang peri? Namamu terdengar seperti sebuah lelucon di telingaku.”
Demi Eloramollo, jika bukan karena kontrak mati dari para Dewa, Mimi tidak akan sudi mendampingi pangeran menyebalkan ini di sisa hidupnya. Jika bisa memilih, Mimi lebih baik mengabaikan tugasnya dan mati lebih cepat dibanding harus bersama dengan Pangeran ini sampai waktu yang entah sampai kapan. Cepat lambatnya dia hidup bergantung dengan cepat lambatnya pangerah bodoh ini mendapatkan pasangan.
Namun, jika Mimi memilih untuk mengabaikan tugas terakhir ini, Mimi mungkin akan mengecewakan para leluhur dan membuat garis kelurganya menjadi terkutuk. Mimi tidak memiliki pilihan lain, secepatnya dia harus membantu Pangeran Vante menemukan pendamping. Persetan dengan urusan mati, yang penting dirinya tidak perlu berhubungan lagi dengan Pangeran menyebalkan ini.
“Kau bilang akan membantuku mencari pasangan? Tapi bagaimana, ya? Aku seorang Pangeran, tanpa bantuanmu saja aku bisa langsung memilih Putri mana yang dapat aku nikahi. Sepertinya pekerjaanmu di sini akan sia-sia, Mimi.”
“Aku bisa membantumu mendapatkan Putri yang terbaik di antara yang terbaik itu, Yang Mulia. Tugasku di sini tidak akan sia-sia.”
“Hm, benarkah? Menarik. Lantas, kapan kita bisa mulai?”
“Pekerjaanku sudah di mulai sejak sayap-sayapku meninggalkan Tanah Elora. Mulai saat ini dan seterusnya, aku akan mendampingimu bertemu dengan setiap Putri terbaik di penjuru negeri.”
“Bagus, kalau begitu bersiaplah. Kita akan bertemu dengan Putri-putri itu malam ini.”
Seringai di wajah tampan pangeran itu seolah memberi tanda, perjalanan panjang yang melelahkan dari tugas Mimi akan segera dimulai.
Kelopak mata Mimi mengerjap berkali-kali memandangi tubuh sang pangeran yang terbuka tanpa sehelai benang. Kulit kecokelatannya memantulkan sinar matahari sore yang membakar di balik jendela kaca sebesar pintu raksasa di ruang singgahsana sang Pangeran. Pucuk telinga Mimi yang runcing merah padam hingga matanya bergerak-gerak tidak fokus harus memandang ke arah mana. Bentuk tubuh sang Pangeran terlalu menonjol bak pahatan dewa, membuat Mimi hampir tidak berani meliriknya.
Di Tanah Elora, Mimi belum pernah melihat tubuh manusia dewasa tanpa busana. Jangankan manusia, sesama peri saja mereka hampir tidak pernah saling memandang. Para peri hanya sibuk bekerja menyelesaikan tugas-tugas dan tanggung jawab mereka menjaga musim dan alam. Tidak seperti manusia yang selalu hidup bebas sesuka hatinya. Mimi sama sekali tidak tahu bahwa selain bebas, ternyata sesungguhnya manusia memiliki kebiasaan yang sangat terbuka.
“Apa yang kau lakukan? Mendekatlah.”
Ragu-ragu, Mimi melangkahkan kakinya mendekati sang Pangeran. Masih mengalihkan pandangan, kaki Mimi yang masih kaku melangkah di atas ubin licin kamar Pangeran Vante.
“Ada yang bisa kubantu, Yang Mulia?”
“Kau bilang tugasmu tidak akan sia-sia? Kalau begitu, coba pilihkan pakaian terbaik untuk kukenakan malam ini. Meskipun pakaian terburuk pun akan terlihat bagus di tubuhku, tapi setidaknya kuberikan kau tugas pertama agar supaya kau tidak menganggur.”
“Aku percaya tugas yang diberikan Dewa untukku adalah memilihkan pasangan yang terbaik untukmu, Yang Mulia. Bukan memilihkan pakaian terbaik untuk bertemu pasanganmu.”
“Hei, tapi pakaian juga menentukan keberhasilanmu mencarikanku pasangan. Meskipun wajahku sudah pasti akan berperan lebih banyak, tapi pakaian tentu akan berpengaruh juga. Jadi cepat pilihkan. Waktu kita tidak banyak. Ingat, para Putri ini datang dari segala penjuru dunia. Buat aku memesona hingga mereka memohon dan berlutut untuk kunikahkan.”
Mimi diam-diam menghelakan napas jengah mendengar bualan bodoh itu, sebelum akhirnya menyerah dan memutuskan untuk memilih pakaian mana saja agar pangeran ini tidak tampak semakin bodoh membual dengan tubuh telanjangnya.
Tidak butuh waktu lama, Mimi menyelesaikan tugasnya. Dirinya bahkan tidak memeriksa dua kali ketika memberikan baju-baju itu untuk digunakan. Tapi anehnya, sang pangeran tampak puas melihat pantulan dirinya sendiri di cermin dengan menggunakan pakaian yang dipilihkan oleh Mimi.
“Sempurna,” sang Pangeran berdecak puas.
Mimi heran, apa yang salah dengan tangannya hingga membuat pangeran Vante terlihat sangat gagah dengan pakaian yang asal dipilihnya?
“Bagaimana menurutmu?”
“Apa pendapatku penting, Yang Mulia? Kau sudah terlihat cukup puas saat ini.”
“Tidak juga. Tapi aku tetap ingin bertanya padamu.”
“Ah....”
“Jadi?”
“Lumayan.”
Alis tebal Pangeran Vante berkerut dalam. “Apa maksudmu lumayan? Tidakkah penampilanku ini sudah cukup?”
“Cukup lumayan,” ungkap Mimi menambahkan.
Kali ini, mata besar sang Pangeran menyipit tidak puas. “Kau meragukan hasil pekerjaanmu sendiri?”
“Aku tidak berpikir itu hasil terbaikku.”
“Kenapa?”
“Tugasku adalah memastikan putri yang akan kau temui malam ini dapat menjadi pasangan terbaikmu, Yang Mulia. Kau perlu menampilkan dirimu apa adanya untuk melihat mana di antara mereka yang sungguh-sungguh akan mencintaimu dengan setulus hati.”
“Tapi kesan pertama itu penting, bukan? Aku harus menunjukkan yang terbaik agar mereka jatuh cinta padaku. Meskipun itu sudah dapat dipastikan, sebab wajahku begitu tampan. Mereka pasti tidak akan sanggup menanganinya. Tapi setidaknya mereka dapat melihat bahwa aku juga berusaha. Aku laki-laki terhormat, aku harus menunjukkan sopan santunku agar tidak menjatuhkan harga diri mereka.”
Mimi hampir memutarkan bola matanya di depan sang Pangeran. “Aku percaya Yang Mulia tetap terlihat rupawan meski berusaha apa adanya. Penampilan yang sederhana cenderung membuat setiap orang lebih mudah jatuh cinta karena lebih terkesan mudah digapai.”
“Aku tidak ingin terlihat mudah digapai.”
“Maaf?”
“Aku ingin membuat mereka memohon padaku agar diriku mau menerima cinta mereka.”
Kali ini Mimi tidak bisa menahan raut wajah kebingungannya. “Kukira Yang Mulia tidak ingin menjatuhkan harga diri mereka?”
“Aku tidak. Mereka yang melakukannya,” cetus sang Pangeran. “Mereka yang menjatuhkan harga diri mereka sendiri demi mendapatkan hatiku.”
Mimi tidak mengerti apakah laki-laki ini bisa bersikap lebih sombong lagi. Mengapa pula sang Dewa memutuskan untuk memberikan dia keberuntungan mendapatkan pasangan? Apa karena dia terlahir sebagai seorang pangeran?
“Ha! Tidak masuk akal!” gerutu Mimi sambil berjalan di lorong istana yang megah.
Tangannya pegal-pegal setelah bolak-balik mengambilkan seribu macam model pakaian untuk Pangeran Vante gunakan. Dirinya rindu menjadi Peri muda. Mengurus alam lebih mudah dibandingkan mengurus sang Pangeran yang pongah!
Mimi baru mengetahui bahwa ternyata malam ini akan diadakan pesta dansa besar-besaran di istana Pangeran Vante. Tidak heran sejak kemarin Pangeran itu sesumbar mengatakan bahwa setiap Putri terbaik dari seluruh penjuru dunia akan datang ke istananya. Mungkin ini juga keputusan dewa memberinya tugas mendampingi Pangeran itu untuk mendapatkan pasangan.
Dirinya sedikit takub dengan waktu yang serba kebetulan. Semula, Mimi membayangkan akan berkelana bersama pangeran menuju istana ke istana lainnya untuk mencari pasangan. Namun ternyata, malah calon-calon pasangan itulah yang berbondong-bondong datang berkumpul dan menanti untuk dipilih dalam satu malam.
Mimi heran, apa istimewanya si Pangeran bodoh Vante ini?
“Kau lihat? Semua orang berusaha, Mimi. Apa jadinya kalau aku tampil dengan ‘apa adanya’ seperti yang kau katakan tadi?”
“Kehadiranmu sudah lebih dari luar biasa, Yang Mulia. Tidak ada yang bisa dibandingkan dengan dirimu meski kau hanya tampil ‘apa adanya' seperti yang kukatakan sebelumnya.”
Sudut bibir Pangeran Vante tampak berkedut puas. Mimi tidak pernah gagal menyanjung dirinya. “Kau benar. Tapi aku lebih puas dengan penampilanku saat ini, terima kasih.”
Mimi sempat melirik sejenak pada sang Pangeran yang bersanding di sebelahnya—tersenyum menyapa tamu undangan yang datang. Tidak pernah dia sangka, kata ajaib itu ternyata bisa muncul dari mulu angkuh sang pangeran.
“Jadi, apa kau sudah menentukan pilihan, Yang Mulia?” tanya Mimi di tengah pesta dansa yang sedang menuju puncak acara. “Kulihat kau sempat berdansa dengan Putri Larissa dari kerjaan Portia dan banyak berbincang dengan Putri Cressida serta Putri Miranda dari Europia. Adakah yang menarik perhatianmu di antara mereka?”
Pangeran Vante mengerucutkan bibirnya sembari menggelengkan kepala. “Tidak ada.”
“Benarkah?”
“Tidak. Tidak ada,” ulang sang pangeran menegaskan.
Mimi menelengkan kepalanya berpikir. “Bagaimana dengan putri Estella dari kerajaan Sitara?”
“Tidak.”
“Putri Lilyana dari Starlea?”
“Hm-mm. Tidak.”
“Apa mungkin kau mengincar pangeran? Bagaimana dengan Pangeran Antares? Pangeran Qamar? Pangeran Elio? Ceilo?”
Pangeran Vante melirik Mimi dengan raut wajah berkerut sulit ditebak. Tapi dapat dipastikan ada sedikit gurat jengkel pada garis-garis halus di wajahnya. “Apa kau bisa diam? Mereka semua tidak ada yang menarik di mataku.”
Mimi mulai merengut semakin bingung. Apa kali ini dirinya sungguh akan keliling dunia bersama pangeran ini untuk mencari pasangan yang tepat? Perihal memilih baju untuk satu malam saja sudah merepotkan, tidak terbayang jika harus melakukan perjalanan panjang bersamanya kelak.
“Jika tugasmu ini gagal, apa yang akan kau lakukan?” lontar sang Pangeran bertanya tibat-tiba.
“Tugasku tidak akan gagal. Aku akan terus bersamamu dan mencoba mencarikanmu pasangan sampai berhasil, Yang Mulia.”
“Lalu setelah itu apa? Apa kau akan kembali ke kayangan?”
“Tanah Elora,” sanggah Mimi mengoreksi. “Tidak. Aku tidak akan kembali ke sana.”
“Kau akan hidup bersamaku selamanya??”
“Tentu saja tidak.” Membayangkannya saja sudah membuat Mimi ngeri.
“Lantas? Kau akan ke mana?”
“Mati.”
“Apa??”
“Yang Mulia, kumohon berhentilah memekik di telingaku. Lagi pula, orang-orang memperhatikan.”
“Maaf.”
Baiklah, itu kata ajaib kedua yang Mimi dengar menyelusup dari bibir sang Pangeran.
Vante menarik Mimi untuk menyingkir dari kerumunan agar bisa berbicara empat mata tanpa ada yang memperhatikan gerak-geriknya.
“Bisa kau ulangi? Apa yang kau maksud dengan mati?”
“Yah, peri juga termasuk mahkluk tidak abadi. Sama seperti manusia, kami juga bisa mati. Mendampingi seorang manusia merupakan tugas paling terhormat bagi seorang peri di tanah Elora. Setelah kami menyelesaikan tugas ini, kami dianggap telah mencapai pencapaian tertinggi dalam kehidupan. Untuk itu, kami mati. Sebab tidak ada lagi yang perlu kami lakukan setelah ini.”
“Jadi, maksudmu… jika aku sudah memilih pasanganku malam ini, kau akan mati? Maksudmu, jika aku berhasil menemukan pasanganku, kau berhasil menemukan pencapaian tertinggi dalam hidupmu dan mati? Aku membunuh seorang peri jika bertemu pasanganku saat ini?”
Pernyataan sang pangeran menarik sudut bibir Mimi untuk tersenyum. Raut wajah Vante yang menyebalkan luntur dengan raut polos bercampur terkejut dan ada sedikit panik terpancar dari mata besarnya yang bulat dan bibir kotaknya yang menutup-terbuka kehabisan kata-kata.
Kenapa tiba-tiba Mimi ingin sekali tertawa di depan wajah bayi besar yang entah muncul dari mana? Sungguh, alih-alih seorang pangeran pongah yang menyusahkan, Mimi melihat wajah Vante seperti seorang bayi yang hampir merengek melihat permen favoritnya direnggut paksa.
“Tidak seperti itu, Yang Mulia,” ujar Mimi. “Yah, tapi memang kurang lebih seperti itu. Tapi bukan berarti kau membunuhku. Ini sudah takdir seorang peri. Kami lahir dari sang Dewa secara cuma-cuma dan tidak ada yang lebih patut untuk disyukuri dari kesempatan itu. Seumur hidup, kami bekerja untuk membalas kebaikan Dewa yang telah melahirkan kami dengan menjaga alam dan seisinya.
“Ketika kami sudah dewasa, kami dipercaya untuk menjalankan tugas baru. Pada setiap malam musim panas datang, para peri akan diberikan satu nama seorang manusia untuk didampingi semasa hidupnya. Kami akan membantu manusia itu untuk mendapatkan pasangan dan meneruskan garis keturunan. Setelah itu, tugas seorang peri akan dianggap sempurna ketika berhasil memberikan seluruh keberuntungannya dari Tanah Elora pada manusia tersebut dan kami pun menyelesaikan hidup kami. Kami tidak akan mati sampai tugas kami tuntas. Ketika satu peri berhasil menyelesaikan tugasnya, akan lahir kembali peri baru di Tanah Elora dan begitu seterusnya.”
“Tidakkah hidup seperti itu sia-sia?”
“Sia-sia? Tentu saja tidak. Hidup kami sangat bermanfaat, baik bagi alam maupun manusia.”
“Apa kau tidak pernah berpikir untuk menemukan pasanganmu sendiri?”
Mimi kembali tergelak. “Para Peri tidak lahir untuk berpasangan, Yang Mulia. Kami hidup hanya untuk alam.”
“Hidup macam apa itu? Siapa yang ingin hidup seperti itu?”
“Itu hidupku, Yang Mulia. Hidupku sebagai seorang Peri. Jadi, kumohon padamu agar pilihlah satu pasangan malam ini. Akan kupastikan dia menjadi pasanganmu yang terbaik agar aku bisa menyelesaikan tugas terakhirku dengan sempurna.”
Kalimat itu tidak berhasil meyakinkan Vante untuk membantu Mimi sama sekali. Baginya—yang terlanjur sangat terlena dengan kehidupan duniawi—kata mati menjadi kata yang sangat Vante ingin hindari. Meskipun dirinya tahu persis satu-satunya kepastian dalam hidup manusia atau mahkluk tidak abadi lainnya adalah mati, Vante tetap tidak menyukai kenyataan itu. Dan gagasan bahwa peri yang membantunya akan mati setelah ini, membuat Vante cukup ketakutan karena tidak tega membayangkannya. Karena yang Vante takutkan adalah kematian itu sendiri.
Terlepas dari deskripsi indah dan damai yang Mimi terangkan padanya panjang lebar sejak tadi, Vante tetap tidak bisa membayangkan apa itu mati. Kata itu terlalu di luar batas nalar dan imajinasinya untuk dibayangkan, bahkan cenderung hampir tidak nyata. Apalagi, Vante sangat tidak percaya akan hidup setelah kematian. Vante merasa, hidup ini akan sia-sia ketika sudah mencapai kata kematian. Dan sungguh tidak masuk akal jika seorang mahkluk harus mati begitu cepat.
“Haruskah aku mengulur waktuku agar kau bisa hidup lebih lama?”
“Maaf, Yang Mulia? Aku tidak memiliki alasan untuk hidup lebih lama.”
“Kenapa? Tidakah kau menikmati hidupmu sebagai seorang Peri? Apa kau tidak merindukan rumahmu di Vrindavan?”
“Vrindavan? Mungkin maksudmu Tanah Elora, Yang Mulia.”
“Benar. Elora. Apa kau tidak rindu tempatmu di sana? Bukankah kau memiliki keluarga? Teman? Kerabat?”
“Aku tidak ingat pernah memiliki orang tua. Sudah kubilang kami lahir langsung dari sang Dewa. Walaupun, setiap peri memiliki garis keturunan untuk mengetahui garis leluhur dari nenek moyang.”
“Tapi kau pasti memiliki teman di sana, bukan?”
“Tentu aku punya.”
“Bagus. Apa, siapa nama temanmu? Apa kau tidak merindukannya? Sebagai Tuanmu, kuizinkan kau untuk kembali ke Tanah Elemora agar kau bisa bertemu dengan temanmu.”
Mimi hampir menyerah mengoreksi nama tanah surga para Peri yang disebutkan Vante. Apakah pangeran ini begitu bodoh? Apa sulitnya melafalkan kata Elora? Elora, Elora, Elora, Elora, Elomora, Elmora, Elmorora, Elorora.
“Ah, sial.”
“Apa kau bilang?”
“Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa, Yang Mulia.”
“Aku yakin kau mengatakan sesuatu tadi.”
“Tidak. Aku tidak mengatakan apa pun.”
“Sungguh?”
“Tentu saja.”
Vante terlihat kebingungan. Sementara Mimi kembali merutuk lebih pelan karena pangeran bodoh itu berhasil mengacaukan isi kepalanya.
“Intinya, kau boleh kembali ke tempat asalmu. Aku akan menunggu sampai kau puas bersantai di sana.”
“Kami para peri tidak pernah hidup bersantai, Yang Mulia. Selalu ada yang harus dikerjakan untuk menjaga keseimbangan alam. Lagi pula, peri yang sudah mendapatkan tugas untuk mendampingi manusia tidak akan bisa kembali lagi ke Tanah Elora.” Mimi berhasil mengucapkannya dengan jelas kali ini. “Dan temanku—Kookie—juga sudah mendapatkan tugasnya untuk mendampingi seorang manusia di sini.”
“Kalau begitu temuilah temanmu itu. Aku bisa minta prajuritku untuk mengantarmu.”
“Aku yakin dia sudah menyelesaikan tugasnya, Yang Mulia. Kulihat tadi malam ada satu bintang bertambah di langit, dia tersenyum padaku. Aku percaya itu dia.”
Hati Vante mencelos sampai ke ujung sepatunya di lantai. Tidak dapat dia sangka Mimi sanggup mengucapkannya dengan nada seringan bulu seolah hal itu bukanlah apa-apa. Vante yang sama sekali tidak mengenal siapa orang—Peri—bernama Kookie itu saja sudah hampir menangis meraung sekarang.
“Bisa-bisanya kau… Bagaimana…? Oh—”
“Yang Mulia, apa kau baik-baik saja?”
Vante mencengkeram dadanya hingga tersungkur di lantai. Mimi meraihnya dengan wajah pias—khawatir Pangeran ini akan mati mendadak.
“Tidak. Aku tidak baik. Apa kau tidak?”
“Apa? Aku baik-baik saja.”
“Apa kau sungguh seorang Peri, Mimi? Kudengar para peri berhati lembut? Tapi mengapa kau tidak?”
Mimi masih tidak mengerti apa yang Pangeran Vante katakan. Dia baru saja berpikir bahwa mungkin Vante mabuk anggur atau tart arak di ruang pesta. Tapi pada akhirnya, Mimi membopong Pangeran itu ke kamarnya agar dia bisa beristirahat.
“Yang Mulia, kumohon jangan mati sekarang.”
“Apa yang terjadi jika aku mati sebelum dirimu?”
“Aku juga akan ikut mati tanpa menyelesaikan tugasku. Jika hal itu terjadi, tidak akan ada Peri baru yang lahir di Tanah Elora sebagai penerus garis keturunan leluhurku.”
“Mengerikan.”
“Benar.”
“Mengerikan sekali kau hanya memikirkan garis keturunan leluhurmu tanpa memikirkan diri sendiri. Apa ada cara lain untuk menghindari kematian-mu? Aku tidak ingin kau mati.”
“Maaf. Apa maksudmu, Yang Mulia?”
“Aku tidak bisa membiarkan seseorang mati hanya untuk membantuku mendapatkan pasangan.”
“Aku mati setelah kau berhasil mendapatkan pasangan, Yang Mulia.”
“Tentu saja. Apa yang berbeda?”
“Dari kalimatmu, urutannya berbeda.”
Vante mengibaskan tangan lentikknya tidak peduli. “Terserah. Yang jelas, aku hanya tidak ingin kau mati.”
“Kenapa?”
“Karena kematianmu sia-sia.”
“Tidak ada yang sia-sia, Yang Mulia. Aku mati secara terhormat setelah memberikan semua keberuntunganku padamu.”
“Aku tidak butuh keberuntunganmu. Diriku sudah terlahir beruntung sebagai seorang Pangeran. Gunakan keberuntunganmu sendiri untuk menghindari kematian itu.”
“Aku tidak ingin menghindarinya. Ini sudah jalanku.”
“Tidakkah kau berpikir untuk mengambil jalan lain? Kukira hidup ini selalu memiliki banyak jalan pilihan? Kau masih muda!”
“Para peri mungkin memang bukan mahkluk abadi, tapi aku sudah hidup lebih lama dari yang kau kira, Yang Mulia. Usiaku tidak sama dengan perhitungan usia seorang manusia. Dan hidup kami tidak memiliki banyak pilihan.”
Lagi-lagi Vante melenguh seperti orang yang putus asa. Entah sejak kapan wajahnya sudah basah oleh air mata karena membayangkan Mimi harus mati karenanya. Mungkin sejak mendengar Kookie yang sudah berubah menjadi bintang di langit? Diucapkan dari segi mana pun informasi itu tetap terdengar menyedihkan. Vante menolak untuk memikirkannya lebih jauh.
Mereka memang belum saling mengenal lama, tapi hubungan antara Peri dan manusia terbilang cukup cepat terjalin ketika keduanya bisa saling berempati. Dalam hal ini, Vante sudah cukup jauh berempati pada kehidupan Mimi yang menurutnya singkat. Di sisi lain, Mimi merasa masih belum mengerti sosok Vante yang sangat aneh di matanya.
Para peri biasanya sudah mendapatkan petunjuk akan nama manusia yang menjadi tugas final mereka nantinya. Meski sering kali petunjuk itu tidak selalu tepat karena hanya berupa sekelibat ramalan saja. Tapi Mimi sudah mendapatkan penglihatannya bahwa Vante adalah manusia yang akan dia dampingi kelak. Melihat perangai Vante sejak kecil yang sudah sulit dikendalikan, membuat Mimi merapal hampir setiap hari kepada para Dewa agar ramalannya salah. Namun sayang, ternyata ramalan Mimi justru benar. Itu sebabnya Mimi cukup kesal ketika ramalan untuknya berubah menjadi kenyataan.
Meski demikian, Mimi dibuat sedikit takjub karena Vante ternyata mampu mengucapkan dua kata ajaib sejak mereka saling kenal, yaitu terima kasih dan maaf. Mimi tidak menyangka Vante mampu mengucapkannya. Mungkin dua kata itulah yang membuat Mimi sedikit mau mendengarkan pangeran tersebut beberapa waktu belakangan.
“Apa kau yakin, tidak ada cara lain agar kau tidak harus mati setelah diriku mendapatkan pasangan?”
Mimi menggaruk belakang telinga runcingnya sambil berpikir. Sedikit ingatan yang pernah dia dapatkan ketika mempelajari sejarah peri dan manusia di Tanah Elora melintas di kepalanya.
“Ada satu cara.”
“Benarkah?” bola mata Vante yang besar seketika berbinar. “Apa?” desaknya.
Mimi terlihat mengernyitkan wajah karena ragu-ragu. “Tapi kukira cerita itu hanyalah dongeng, aku tidak bisa memastikan apakah cara itu akan berhasil.”
“Tidak masalah, kau sendiri adalah wujud dongeng yang menjadi kenyataan, bukan? Walaupun kecil kemungkinannya tetap harus kita coba. Jangan sampai menyerah. Katakan, Mimi. Apa caranya?”
“Seingatku, para peri tidak akan mati jika pasangan yang dipilih oleh manusianya adalah peri itu sendiri.”
“Apa? Bagaimana?”
Mimi menggaruk belakang telinganya lagi. Hal ini memang selalu dia lakukan ketika dirinya kebingungan akan suatu hal. “Seingatku, di buku itu mengatakan bahwa, manusia itu harus menyetubuhi Perinya agar mereka tidak mati setelah manusianya mendapatkan pasanag.”
Vante tercenung di tempat. “Apa kau bilang?”
“Aku juga tidak mengerti, Yang Mulia. Yang jelas, alih-alih mati, para Peri akan berubah menjadi seorang manusia dan hidup bersama selamanya.”
“Tidak masuk akal.”
“Benar, bukan? Aku juga tidak berpikir itu masuk akal. Memangnya apa itu arti menyetubuhi? Bagaimana bisa? Apa mungkin yang dimaksud itu aku harus hidup menggunakan tubuhmu? Lantas bagaimana dengan dirimu? Apa mungkin, itu maksudnya para Peri bisa hidup sementara manusianya mati karena tubuhnya digunakan untuk peri? Ah, tidak mungkin. Aku tidak mau mencoba cara itu. Aku tidak mau mengorbankan tubuhmu hanya demi menghindari kematianku. Tidak akan. Aku akan lebih memilih untuk mati saja, Yang Mulia.”
“Mimi, akan kupertimbangkan cara itu nanti. Tapi sebelumnya, kau harus mengerti dulu apa itu arti kata ‘menyetubuhi’.”
“Hng?”
“Lepaskan pakaianmu.”
Bola mata biru mengilap miliki Mimi membelalak lebar hampir keluar.
Peri itu sudah mengetahui bahwa manusianya ini aneh, tapi apakah tidak bisa dia berpikir lebih aneh lagi?
Setelah mengumumkan bahwa dirinya tidak akan memilih siapa pun untuk dijadikan pendamping pada malam pesta beberapa pekan lalu, Vante sibuk mengajak Mimi berkeliling kerjaan. Mulai dari menyusuri segala sudut istana, sampai tempat-tempat terpencil di berbagai sudut kerjaannya. Mereka sampai menyamar untuk dapat berbaur dengan warga-warga lokal di sana. Vante bahkan memerintahkan hampir seluruh dayang-dayangnya untuk melayani Mimi dan menjamunya bagai permaisuri. Segala macam bentuk jamuan mewah dan hidangan lezat tersaji tanpa henti demi memanjakan Peri yang bingung itu.
Tidak hanya itu, beberapa kali Vante juga mengajak Mimi untuk berburu di hutan, berenang di sungai, dan berkuda di ladang luas bersama para rusa dan jerapah. Vante ingin menunjukkan pada Mimi, bahwa hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan. Dunia ini tidak pernah cukup untuk dinikmati sehingga rasanya hampir tidak ada alasan untuk cepat mati.
Meski sepanjang hidupnya Mimi selalu dekat dengan alam, namun dirinya sadar bahwa belum pernah sekalipun Mimi menikmati alam itu seperti cara Vante menikmati alamnya. Mimi belum pernah menikmati hidup seperti cara yang ditunjukan Vante padanya.
Sejuk air yang menyisir kulit Mimi ketika dirinya bermandi di sungai tidak pernah terasa begitu segar sebelumnya. Meski di Tanah Elora air yang mengalir lebih jernih dibandingkan dengan tanah manusia, bagi Mimi air ini terasa lebih menyenangkan.
Udara di tanah manusia juga terasa begitu ringan. Tanpa debu-debu emas yang berterbangan, Mimi dapat melihat lebih banyak warna di setiap permukaan sejauh batas pandangannya memandang. Gelitik lembut rumput di bawah kakinya bagaikan terapi alam yang menjalarkan ketenangan di seluruh tubuhnya. Mimi bertanya-tanya, peri mana yang berhasil membuat alam ini terasa begitu nyaman untuk dihuni. Dirinya ingin berterima kasih.
“Kau sudah cukup membuat alam ini begitu indah dan nyaman. Kini saatnya dirimu untuk menikmati hasil kerja kerasmu itu,” ungkap Pangeran Vante. “Jadilah manusia bersamaku, Mimi.”
“Yang Mulia, apa kau sungguh-sungguh tidak ingin mencari pasanganmu? Aku akan memberikan seluruh keberuntungan yang kubawa dari Tanah Elora untuk pasanganmu. Kau bisa menjadi laki-laki paling beruntung di dunia sepanjang hidupmu.”
“Tidak bisakah kau simpan keberuntungan itu dan hidup bersamaku agar aku bisa menjadi laki-laki paling beruntung di sepanjang hidupku?”
“Akan lebih mudah jika kuberikan saja keberuntunganku. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana hidup menjadi manusia.”
“Aku sudah memberikan kehidupan manusia paling sempurna untukmu dalam beberapa pekan ini. Tidakkan kau menikmatinya?”
“Aku masih berpikir untuk memberikan kesempatan hidup seperti itu untuk orang lain. Tapi, terima kasih karena sudah memberikanku kesempatan, Yang Mulia. Sekarang, ayo kita cari pasangan untukmu.”
Vante melenguh kemudian menahan lengan Mimi yang begitu kecil di tangannya. Baru pertama kali pangeran itu menyentuh kulit sang Peri. Warnanya yang seputih susu tampak berkilau terkena sinar mentari. Bagaikan berlian yang tersorot cahaya pelangi, tubuh Mimi berseri indah di tengah padang gembala di sekitar mereka. Kulitnya terasa begitu lembut—selembut bunga kapas di musim semi.
“Aku tidak ingin siapa-siapa lagi selain dirimu.”
“Yang Mulia?”
“Jangan menolakku, Mimi. Aku tidak bisa membiarkanmu mati untukku.”
“Aku tidak mati untukmu, Yang Mulia. Ini sudah jalan hidupku. Kau tidak ada hubungannya dengan hal ini. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri.”
“Bagaimana bisa? Aku tidak akan sanggup membayangkan dirimu mati begitu saja.”
“Kenapa? Aku bahkan tidak keberatan dengan hal itu.”
“Tentu saja aku keberatan! Kau pembawa keberuntunganku.”
“Aku hanya peri keberuntunganmu. Kau tidak akan kehilangan sedikit pun keberuntungan itu sekali pun aku mati, Yang Mulia.”
“Tidakkah kau mengerti, Mimi? Sudah kukatakan aku tidak membutuhkan keberuntungan itu. Aku membutuhkan dirimu,” lirih sang Pangeran. Bola matanya yang sebening batu emerald mulai berkaca-kaca. “Kumohon, jadilah pasanganku.”
Kalimat Mimi mengambang di udara. Mulutnya hanya bisa membelah terbuka tanpa mengucapkan sepatah kata. Kalimat itu mengandung kata yang sangat ajaib di Tanah Elora—selain terima kasih dan maaf—kata permohonan tanpa pernah diduga berhasil meluncur bebas dari mulut sang Pangeran.
“Akan kujadikan kau seorang peri dan manusia yang paling beruntung di dunia—sepanjang hidupmu. Jadilah pasanganku dan hidup bersamaku, Mimi.”
Bagi seorang peri, mendengar sebuah permohonan sama saja seperti mendengarkan sebuah perintah. Meski masih bisa ditolak, hati kecil mereka tidak akan pernah sanggup untuk melakukannya.
Mimi terdiam, sementara genggaman Vante mulai bergetar di lengannya.
“Kau mungkin tidak akan pernah mendapatkan keturunan, Yang Mulia. Sebab tidak akan ada peri yang terlahir kembali di Tanah Elora jika diriku tidak mati dan menjadi bintang.”
“Ada begitu banyak anak manusia yang bisa kita rawat dan kujadikan sebagai keturunan. Aku tidak akan pernah mempermasalahkannya.”
“Tidakkah hal itu berbahaya untuk kerjaanmu? Bagaimana jika istana menentang?”
“Aku Putra Mahkota penerus tahta istana. Tidak akan ada yang bisa menentang kehendakku. Lagi pula, ada dirimu di sisiku. Apalagi yang perlu aku khawatirkan?”
Mimi bahkan tidak sanggup untuk mengangkat jemarinya untuk menggaruk belakang telinga seperti yang biasa dia lakukan ketika kebingungan. Tubuhnya kaku dan tidak mampu untuk bergerak meskipun dia ingin.
Permohonan Vante telah menguncinya hingga Mimi tidak sanggup lagi untuk berkutik.
“Izinkan aku untuk berpikir,” putus Mimi. “Aku masih belum memahami arti kata menyetubuhi seperti yang disampaikan dalam sejarah Tanah Elora.”
Pangeran Vante berpaling untuk menyembunyikan semburat merah padam yang muncul di wajahnya ketika Mimi menyebutkan kata itu.
Peri Mimi benar-benar polos, pikir sang Pangeran. Dirinya sama sekali tidak memahami arti kata yang sudah hampir membuat Vante gila sejak pertama kali Mimi menyampaikan gagasannya di malam pesta.
“Bisakah kau jelaskan apa arti dari kata itu sebelum aku memutuskan? Aku tidak ingin ada yang dikorbankan kelak jika diriku berubah menjadi manusia.”
“Tidak. Tentu saja tidak,” sergah Pangeran. “Kau tidak perlu mengorbankan apa pun. Tidak ada yang perlu berkorban demi membuat dirimu menjadi manusia sepertiku.”
“Sungguh?”
“Tentu saja. Tidakkah kau mempercaiku?”
Raut wajah Mimi tampak ragu-ragu ketidak Vante menyinggung kata ‘percaya’. Jika diingat-ingat, seungguhnya Mimi tidak pernah menyukai laki-laki ini. Bagaimana mungkin dirinya bisa mempercayai Vante untuk keputusan yang serius?
“Tunggu, kau sungguh tidak mempercayaiku?”
“Aku masih ragu.”
Kali ini, Pangeran Vante yang kehilangan kata-katanya. “Kenapa?”
“Dengan segala kerendahan hatiku, aku ingin mengakui bahwa sesungguhnya aku tidak pernah menyukaimu, Yang Mulia.”
“Apa? Kenapa? Apa yang salah dengan diriku?”
“Kau terlihat seperti laki-laki congak yang sombong.”
Pangeran Vante tergelak tidak percaya dengan kelugas kalimat Mimi yang tidak disangka. “Itu mungkin penilaianmu sebelum kau mengenalku?”
“Bahkan setelah aku mengenalmu, aku tetap tidak menyukaimu.”
“Mimi, kau sungguh sangat melukai hatiku,” lenguh Vante.
“Maafkan, aku.”
“Jadi kau tetap tidak ingin menjadi pasanganku?”
Mimi terlihat berpikir sejenak. “Karena kau sudah memohon, kurasa diriku tidak memiliki pilihan lain. Seorang peri tidak bisa menolak permohonan manusianya.”
Raut wajah Vante sekitak berbinar mendengar jawaban Mimi. Tapi kemudian peri itu mulai berbicara lagi.
“Tapi bisakah kau menjelaskan padaku apa maksud dari menyetubuhi itu? Kukira kau sangat memahami apa maksudnya. Di Tanah Elora, aku tidak pernah mendengar ada peri yang membahas.”
“Itu merupakan ritual bagi para manusia untuk melanjutkan garis keturunan.”
“Benarkah? Lantas bagaimana caranya?”
“Kau sungguh ingin tahu? Kalau begitu, apa kau sungguh ingin menjadi pasanganku dan berubah menjadi manusia? Sebab, ketika kita sudah mulai, aku tidak bisa memastikan apakah diriku bisa berhenti nantinya.”
“Tentu saja. Tunjukan padaku caranya.”
Melihat sorot mata Mimi yang mantap, Vante mengangguk sekali dan mengulaskan senyumnya.
“Baiklah," ujar Sang Pangeran
Pangeran Vante mengulum senyumnya dengan sorot mata penuh binar memandang wajah Mimi yang masih belum mengerti apa-apa.
“Sebelumnya, aku ingin meminta persetujuanmu, bolehkah diriku menyentuhmu?”
“Apakah itu harus?”
“Kunci dari ritual ini adalah saling menyentuh. Jadi jika kau mengizinkan, aku ingin menyentuh wajahmu terlebih dahulu.”
“Apa aku boleh menyentuhmu juga?”
“Tentu saja.”
Senyum di wajah Pangeran Vante yang rupawan kian mengembang ketika jemari Mimi ragu-ragu menyentuh permukaan kulitnya. Belai halus seringan bulu menggarisi wajah Vante yang seperti dipahat oleh Dewa.
“Pejamkan matamu,” ujar sang Pangeran ketika dua obsidian mata mereka bertemu dan saling mengunci lekat.
Peri Mimi menutup matanya seperti yang Vante katakan. Kini, giliran jemari Vante yang membelai wajah elok sang peri Mimi. Wajah mungil itu begitu rupawan, terbingkai indah dalam helai rambut emas yang tersibak angin manja.
Ibu jari lentik Pangeran Vante mengusap bibir lembut sang peri yang lembut dan kenyal. Belum pernah Vante merasakah garis bibir selembut itu sebelumnya.
“Aku akan menciummu,” bisik Vante begitu dekat hingga hembus napasnya yang harus terhirup langsung oleh Mimi.
Tubuh peri itu menegang sejenak ketika bibir sang Pangeran mendarat di atas miliknya. Lembut dan hangat.
Pangeran Vante bergerak begitu sopan membelah mulut sang Peri untuk membuka jalan lidah mereka agar bisa saling bersapa. Pagutan bibirnya yang lembut membawa irama memabukkan untuk terus diikuti. Bibir Vante menuntun Mimi dengan sabar dan beruntungnya, Mimi merupakan salah satu Peri Tanah Elora yang cepat untuk belajar.
Lenguh rendah bergetar lolos dari mulut Mimi di tengah lumatan mesra sang Pangeran. Wajahnya bergerak sedikit menjauh tanpa benar-benar melepaskan tautan bibir mereka.
“Apa kau menikmatinya?”
“Aku … belum pernah merasakan ini sebelumnya.”
“Tentu saja. Aku akan menjadi pengalaman pertama yang sangat berkesan bagimu. Jadi, apa kau menginginkannya lagi?"
Malu-malu, peri Mimi mengangguk kecil. Pangeran Vante menahan diri sekuat tenaga untuk tidak tersenyum saking gemasnya dengan raut wajah sang Peri yang membuat dirinya jatuh hati.
“Kalau begitu akan kuberikan kenikmatan lain yang tidak akan pernah bisa kau lupakan.”
Seringai di wajah sang Pangeran entah mengapa membuat jantung kecil di dalam dadanya berputar bagai kupu-kupu dalam stoples kaca di musim panas. Tubuh Mimi serasa dibawa melayang ketika lengan-lengan kekar sang Pangeran merengkuh tubuhnya sambil memagut bibir mereka dalam ciuman panjang penuh gairah.
Jemari-jemari lentik sang Pangeran dengan cekatan melucuti setiap bentuk benang yang berjurai di tubuhnya. Dalam hitungan detik saja, tubuh Mimi lolos tanpa busana bagaikan bayi manusia yang baru keluar dari rahim ibunya.
Di atas tanah rumput yang lembut, Pangeran Vante merebahkan tubuh Mimi yang seputih susu. Bibirnya mulai mengecupi setiap inci tubuh peri itu. Seolah tidak ingin melewatkan setitik pun dari permukaan kulit sang Peri, pangeran Vante bolak-balik menjamahi tubuh Peri Mimi sambil sesekali mereguk harumnya yang seperti wangi bunga Wisteria di pertengahan bulan Mei.
Peri Mimi menggelinjang di bawah tubuh sang Pangeran yang gagah di atasnya. Gelitik hidung dan lidah Pangeran Vante membuat tubuhnya tidak kuasa menahan kenikmatan tiada tara. Jemari mungilnya meremas rerumputan hijau di bawah tubuh mereka hingga membuat aroma rumput segar itu menguar ke udara bersama keringat yang membanjiri tubuh keduanya.
“Bagaimana? Kau menikmatinya sekarang?”
“Ya, Yang Mulia. Kumohon jangan berhenti.”
“Tentu saja. Aku bahkan belum memulai apa-apa.”
Pangeran Vante membuka kedua kaki jenjang peri Mimi dan melingkarkannya di leher. Lidahnya dengan lihai bermain dengan titik paling sensitif yang dimiliki seorang peri.
Bagi sang Pangeran, ternyata tubuh peri dan manusia sama saja. Namun, yang ini tentu lebih membakar gairahnya. Sebab, peri Mimi begitu indah—begitu memesona di mata Pangeran Vante. Tidak ada lagi ciptaan sang Dewa yang mampu disandingi dengan Mimi-nya.
“Yang Mulia—”
“Berputarlah,” perintah sang Pangeran.
Peri kecil itu menurutinya dengan segera.
Pangeran Vante kembali menciumi wajah Mimi dari belakang. Kemudian bibirnya berbisik pelan. “Sebut namaku jika kau menginginkan diriku di dalam tubuhmu.”
Peri Mimi meneguk salivanya sambil mengejang ketika jemari panjang milik Vante memijak lubang sensitifnya.
“Pangeran—”
“Apa yang kau inginkan, Mimi?”
Peri Mimi melenguh sekali lagi. “Dirimu.”
“Tentu saja.”
Dalam hidupnya, Peri Mimi tidak pernah sekali pun membayangkan jenis kenikmatan seperti ini akan dapat dia rasakan seumur hidupnya. Bukan karena apa-apa, dirinya hanya tidak tahu bahwa yang seperti ini ternyata ada. Mimi tidak mengerti harus berterima kasih kepada siapa, yang jelas Pangeran Vante telah memberikan dunia yang sesungguhnya padanya.
Laki-laki yang seumur hidup ini selalu dihindari oleh Mimi karena benci, nyatanya mampu membuat Mimi bertemu pada kebahagiaan duniawi yang belum pernah terbayangkan sama sekali.
Mungkin benar katanya, Mimi merasa benci hanya karena belum mengenal sosok Vante yang asli. Kalau tahu Vante akan memperlakukannya selembut dan sebaik ini, mana mungkin Mimi akan membenci Vante seperti itu?
Laki-laki ini begitu sempurna di mata Mimi saat ini. Senyum manisnya yang khas meluruhkan seluruh pertahanan Mimi. Lingkar matanya yang besar menancapkan hati hingga rasanya sulit untuk berpaling. Rupanya yang tampan dan rupawan serta tubuhnya yang gagah bagai jelamaan Dewa membuat Mimi merasa bangga mampu bersanding sebagai pasangan sang Pangeran. Tidak ada lagi perangai congak dan pongah di dalam diri Vante bagi Mimi. Laki-laki itu seutuhnya telah berubah menjadi laki-laki dambaan hati bagi sang Peri.
Di bawah langit biru dan awan yang berarak itu, Mimi memahami arti kata setubuh yang disampaikan oleh Dewa lewat sejarah Tanah Elora. Ditemani semilir angin lembut musim panas yang mengembara, Mimi tidak perlu mengorbankan tubuh sang Pangeran untuk menjadi seorang manusia. Tubuhnya yang ringan di bawah kenikmatan sang Pangeran yang menggagahinya, bertransformasi seketika menjadi sosok manusia utuh ketika mereka mencapai puncak senggama itu bersama.
Debu-debu emas yang selama ini masih melekat di tubuh Peri Mimi, menguar terbang ke langit kemudian pecah bagai hujan serbuk yang diberkahi. Telinga runcing milik peri kecil itu berangsur menumpul. Gemilau kulit Mimi pudar hingga menyisakan warna pucat yang kontras dengan alas berumput padang gembala—tetap indah dan bersinar di bawah terik matahari musim panas. Peri Mimi sudah kehilangan sayapnya sejak pertama kali meninggalkan Tanah Elora, dirinya tidak merasa terlalu kehilangan ketika sungguh-sungguh berubah menjadi manusia seutuhnya.
“Apa kau baik-baik saja? Kukira dirimu sudah berubah menjadi manusia sekarang?”
Peri Mimi mengulas senyum diikuti lengkung sabit di mata indahnya yang kini tidak lagi biru. Melainkan kuning kecokelatan yang tidak kalah indah dari warna matanya sebelumnya.
“Aku tidak pernah merasa sebaik ini, Yang Mulia,” aku sang Peri.
Pangeran Vante kembali memberi peri kecil itu kecupan hangat di bibir. “Sudah kukatakan padamu, menjadi manusia itu menyenangkan.”
“Ya, aku mengerti sekarang.”
“Apa kau menyukainya?”
“Sangat, Yang Mulia. Terima kasih karena telah memberikanku kesempatan ini.”
“Jadi, apa kau sudah mulai menyukaiku juga sekarang?”
Mimi berhenti sejenak sengaja membuat Vante menunggu jawabannya. Ada gurat khawatir yang melintas dalam sorot mata besar yang menatapnya dalam itu. Air wajah Vante berubah gelap menantikan jawaban Mimi yang membuat jantungnya berdebar was-was.
“Tentu saja. Kurasa, aku sudah tidak membencimu lagi sekarang.”
Pangeran tampan itu menghela napas lega sembari memeluk pujaannya erat-erat. “Aku akui, diriku memang sombong. Tapi akan tetap kupertahankan perangai itu di hadapan orang lain selain dirimu.”
“Tidakkah kau ingin merasa dicintai oleh banyak orang? Cobalah untuk lebih lembut seperti sekarang agar orang lain tidak salah paham denganmu.”
“Untuk apa? Dicintai olehmu saja bagiku sudah cukup.”
Mimi tergelak dalam tawa. “Seorang pangeran tetap harus mendapatkan banyak cinta. Setidaknya perbanyaklah tersenyum di depan rakyatmu.”
“Bagaimana jika mereka jatuh cinta padaku?”
“Kupikir aku masih bisa menyihir siapa pun yang berani merebut dirimu dariku.”
“Baiklah, kau terlihat mulai terobsesi denganku.”
“Itu salahmu.”
“Benar. Salahkan aku agar aku bisa menebus kesalahan itu seumur hidupku. Aku rela menghabiskan seluruh napas ini untukmu.”
“Kau pintar merayu, Yang Mulia.”
“Rayuanku hanya untuk dirimu, Mimiku tersayang.”
Keduanya tertawa bagai denting harpa yang indah di tengah padang gembala yang cerah. Alam yang memesona dan ribuan peri Tanah Elora yang bersembunyi di baliknya menjadi saksi bisu sejarah kisah cinta mereka dimulai. Seorang Pangeran tampan yang jatuh hati pada Peri kecil pembawa keberuntungan, kini akan menjadi legenda abadi di seluruh kehidupan dua dunia.
T A M A T
Epilog.
“Dewa, bukankah seharusnya garis keturunanku akan lenyap ketika diriku berubah menjadi manusia? Sebab, tidak ada lagi peri baru yang terlahir di Tanah Elora.”
“Keturunanmu memang tidak terlahir di Tanah Elora, tetapi akan terlahir di tanah manusia. Mulai saat ini, garis keturunanmu akan berlanjut di sini, Peri Mimi. Jadikan keturunanmu sebagai manusia yang baik untuk membantu para peri menjaga alam di tanah manusia ini. Para Dewa dan peri Tanah Elora berhutang banyak padamu. Ini merupakan tugas baru terakhirmu sebagai peri dari Tanah Elora. Semoga beruntung, seluruh Dewa dan keberuntungan di Tanah Elora memberkahimu dan kerajaan pasanganmu.”
