Work Text:
“Babe, can I come in?” Jeonghan bertanya pelan dari luar pintu kamar sang kekasih yang tidak tertutup rapat.
“Go ahead.” Setelah mendapat izin dari sang empunya kamar, masuklah ia dan segera berdiri di samping ranjang milik Seungcheol. Dengan perlahan, ia menyisir rambut lelaki yang lebih tua dua bulan darinya itu dengan jari-jari lentiknya.
“Why are you suddenly asking for my permission?” Tanya Seungcheol yang pandangannya masih terkunci di greeting cards yang ada di genggamannya.
“Can’t I?” Jeonghan menjawab pertanyaan Seungcheol dengan sebuah pertanyaan baru. Tipikal Jeonghan.
“Nope. It’s just… you’re not usually like this. You know, asking for my permission for something as casual as this. Usually, you just act on your own. So, what’s with the different atmosphere?”
“Hmm... maybe just for once I want to be a polite person. Even to my own whipped boyfriend.” Dagu Seungcheol ditarik untuk menghadap Jeonghan yang sedang tersenyum jahil. Dan dikecuplah pacarnya itu di bibir―ringan, pelan dan penuh kasih sayang.
Sebelum kecupannya dapat berubah menjadi lumatan-lumatan yang ganas, Jeonghan menarik diri dan perhatiannya teralihkan pada greeting cards yang ada di genggaman Seungcheol.
“What’s that?” Tanyanya heran. Seungcheol pun menarik lengan Jeonghan agar lelaki itu bisa duduk di hadapannya.
“From the higher ups. Kinda checking on my condition and thanking me for being strong despite what happened with our situation.” Ucap Seungcheol sambil menunjukkan ketiga kartu ucapan yang ia peroleh ke Jeonghan.
“As they should. They’re lucky because you’re the one who leads us. If it’s not for you... I don’t know what will happen to us.” Tutur Jeonghan seraya memandang Seungcheol dengan penuh rasa kagum, dan sayang, dan sedikit khawatir sejujurnya.
Kerja keras mereka yang selama berbulan-bulan lalu telah dipersiapkan, terpaksa tertunda karena kondisi yang tidak memungkinkan. Beban yang harus ditanggung oleh kekasih sekaligus leader dari grupnya itu menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Meyakinkan Carats, memberi support dan semangat kepada sesama member, serta menjaga komunikasi dengan petinggi agensi yang menaungi mereka.
“Nooo don’t say something like that. We are lucky to have each other and our members with us, okay? Stop belittling yourself, hmm?” Pipi putih Jeonghan disentuh pelan oleh Seungcheol, bermaksud menghibur agar kekasihnya itu tidak terlalu larut dalam pikirannya yang kalut.
“Fine. You also have to get enough rest. Don’t think too much, and if there is anything that worries you, share it with me. Or Jihoon, or anyone you are comfortable with. Deal?”
“Anything for you, baby.” Sekarang pipi Jeonghan justru dicubit dengan gemas oleh Seungcheol. Jeonghan pun hanya pasrah asalkan lelakinya itu senang dan bahagia.
“Speaking of enough rest, do you already drink your vitamins?”
“Uh huh. Right after I ate dinner. You?”
“All good. Should we sleep, then? Or do you want to play games with Wonu again?”
“Nope. Since you’re here early, let's just talk and cuddle and let the rest of the night decide what will we do after that.” Usul Seungcheol yang dengan gamblang memainkan alisnya menggoda.
“Whatever you want, old man.” Balas Jeonghan sambil memutar matanya malas dan segera mengambil posisi di samping Seungcheol, bersiap untuk sesi cuddle mereka yang berharga.
