Work Text:
Kalau boleh jujur, Haechan paling suka bekerja dengan aktor yang baru naik daun satu ini. Sang aktor selalu bersikap ramah padanya dan tidak pernah sembarangan menyentuh tubuhnya seperti yang kerap kali dilakukan aktor atau model lain. Yang paling penting, tidak sulit membuat aktor satu ini ereksi.
"Udah siap, kak?"
"Udah, silakan langsung mulai ya, Haechan."
Mendengar jawaban Mark, Haechan segera duduk berlutut di hadapannya yang sudah duduk dengan nyaman di sofa.
Haechan melepaskan ikatan bathrobe yang menutupi tubuh atletis aktor tampan di depannya. Tangan lentik Haechan menari di atas perut kotak-kotak milik sang aktor sebelum menurunkan celana dalamnya.
Tangan Haechan mengelus penis yang sudah setengah tegang di hadapannya. Memberikan pijatan dari pangkal hingga ujung kepalanya.
"Nggghh"
Si pemilik penis menggeram rendah merasakan pijatan mahir yang diberikan oleh pria cantik pada penis kebanggaannya. Tubuhnya memanas, ia biarkan seluruh gairahnya lepas ketika penisnya merasakan kehangatan dari kuluman seorang fluffer cantik.
"Eummhhh" Haechan begitu menikmati proses blowjob yang ia lakukan pada si aktor tampan. Mulutnya mengulum kepala hingga setengah batang penis dan jari-jari lentiknya memberikan pijatan pada pangkal penis yang tidak bisa masuk dalam mulutnya.
"Haechan, cukup" dua tepukan Haechan rasakan pada pundaknya, menghentikan aksinya yang hampir membuat seorang Mark Lee mencapai titik putih akibat kulumannya.
Haechan mengeluarkan penis yang terasa nikmat di indra perasanya dengan setengah ikhlas. Tapi, tatapan puas langsung ia tunjukkan ketika melihat penis yang tadi dikulumnya sudah ereksi penuh. Besar, berurat, tegang sempurna, menempel pada perut berotot pemiliknya dengan kepala yang mengeluarkan sedikit cairan putih.
Mark, si pemilik penis, masih berusaha meredam perasaan tidak puasnya akibat digagalkan orgasme. Dadanya naik turun, matanya terpejam, dan keringat membasahi pelipisnya.
"Haechan!" fluffer yang merasa namanya dipanggil itu mengalihkan pandangannya ke arah pintu.
Haechan melihat Doyoung, salah satu scriptwriter, berdiri di ujung pintu dan memberikan gesture untuk menghampirinya.
"Kenapa, kak?"
Doyoung menarik tangan Haechan dan menutup pintu yang membatasi ruangan milik Mark dan lokasi syuting.
"Haechan kamu bisa bantuin aku?"
"Hmm? Bantu apa?"
"Model yang jadi lawan akting Mark tiba-tiba gak bisa datang dan jadwal Mark udah penuh banget sampai minggu depan."
Doyoung menghela napasnya sebelum melanjutkan, "kamu cuntboy, kan?" tanya Doyoung yang dijawab dengan anggukan singkat lawan bicaranya.
"Kamu bisa gantikan peran model itu dan jadi lawan akting Mark untuk hari ini?"
Mata Haechan terbelalak kaget ketika mendengar permintaan Doyoung. Mulutnya sudah terbuka, siap untuk layangkan penolakan sebelum Doyoung menggenggam tangannya dan kembali memohon padanya.
"Haechan, please. Kita bisa bayar kamu dua kali lipat dari gaji kamu sekarang dan wajah kamu ga akan kami sorot sepenuhnya kalau kamu takut identitasmu terungkap." Haechan menatap ragu Doyoung yang matanya sampai berkaca-kaca ketika memohon padanya.
Mark keluar dari ruangannya setelah makeup artist selesai merapikan riasannya. Seorang stylist memberikannya kemeja putih dan celana hitam untuk ia kenakan saat syuting, menjadikannya seperti pengusaha muda dan tampan yang siap menikmati malam panas setelah seharian bekerja.
Mark berusaha menjaga ekspresinya ketika ia mati-matian menahan nyeri pada penis tegangnya yang terkurung celana. Ia menggulung lengan kemejanya hingga siku sambil berjalan mengikuti arahan staff menuju ruangan yang sudah dipenuhi sorot lampu dan kamera.
"Haechan?"
Alis Mark mengernyit ketika menemukan fluffer yang tadi membantunya, kini berada di atas kasur yang akan dijadikan tempat syuting iklannya.
Posisi Haechan duduk berlutut di tengah kasur dengan kedua mata tertutup kain hitam. Pria manis itu hanya mengenakan crop-top hitam yang memperlihatkan perut ratanya dan celana dalam tipis berenda, sehingga tubuh bagian bawahnya hampir telanjang. Bibir plump Haechan diberi pewarna merah menggoda dan ada satu buah kondom, yang menjadi produk iklannya, terjepit di antara bibir dan gigi kelincinya.
Mark merasakan darah di tubuhnya berdesir, mengalir menuju penis tegangnya dan membuatnya berkedut di balik celana hitamnya. Haechan benar-benar menguji kewarasannya.
Mark tersadar dari lamunan singkatnya ketika seorang scriptwriter yang ia ingat bernama Doyoung menepuk punggungnya dan menjelaskan alasan mengapa Haechan bisa berada di atas kasur properti.
Oh, Mark memohon dalam hati agar dirinya bisa tetap fokus syuting bersama dengan fluffer cantik yang selalu sukses membuat penisnya tegang bahkan sebelum sentuhannya dimulai.
Action!
Kamera fokus menyorot pergerakkan Mark yang menjadi tokoh utama dalam video iklan produk kondom terbaru.
Mark melonggarkan dasi hitam yang mengalungi lehernya, ia berjalan menuju tempat tidur tempat Haechan menunggu.
Secara perlahan, Mark menaiki tempat tidur, mendekati Haechan dan berdiri di hadapannya. Kaitan celana hitam yang dikenakannya ia lepas. Tangannya mengusap surai madu lembut milik si manis yang menjadi pemeran dadakan. Usapannya turun ke pipinya dan menampar pelan pipi bulat yang membuat pemiliknya terlihat menggemaskan.
Tangannya mulai menurunkan celana hitam beserta dalamannya, membebaskan penis besarnya dari kurungan kain. Ia beri sedikit kocokan pada penisnya yang sudah tegang sebelum diarahkan menuju kondom yang terletak di antara bibir si cantik.
Uhuk!
Dorongan kuat dari pinggul Mark membuat penisnya terbungkus sempurna oleh kondom yang ada di antara bibir Haechan. Gerakannya ini juga membuat penisnya masuk ke mulut Haechan hingga mencapai kerongkongannya.
"Ssshhhhh aahh"
Mark gerakan pinggulnya maju mundur, menikmati kehangatan, kuluman, dan hisapan yang diberikan Haechan pada penisnya.
Plak!
Ereksi penuh membuat penisnya berdiri tegak hingga menampar perutnya yang terbentuk sempurna ketika ia menarik keluar penisnya dari dalam mulut Haechan.
Seluruh kamera menyoroti penisnya yang sudah terbungkus kondom terbaru dengan desain tipis dan transparan hingga bentuk penisnya tercetak jelas seperti tidak mengenakan kondom.
Mark melihat kode yang diberikan oleh sutradara untuk melanjutkan aktingnya. Ia baringkan Haechan di kasur, kemudian ia lepas celana dalam yang dikenakannya.
Malam ini adalah pertama kalinya ia melihat area privasi milik fluffer yang selalu membantunya sebelum syuting. Dan malam ini juga pertama kali ia lihat vagina yang begitu cantik. Begitu rapat, berwarna merah muda, bersih, dan harum. Jika tidak berada di tengah prosesi syuting, ingin sekali Mark tanamkan hidungnya di sana untuk ia hirup dalam-dalam aromanya.
Mark lebarkan kedua kaki Haechan. Dengan hati setengah ikhlas, ia biarkan kamera mengambil banyak gambar vagina cantik Haechan.
Ibu jari dan telunjuk digunakan Mark untuk membuka labia vagina Haechan. Gila. Penis Mark sampai berkedut melihat ketika klitoris kecil serta lubang vagina yang masih rapat dan basah terpampang jelas di depanya.
Mark melihat Haechan yang menggigit bibir bawahnya dan meremas seprai di bawahnya, menahan rasa malu akibat dirinya yang begitu terekspos di hadapan banyak pasang mata dan juga kamera.
"aa-aaahhhh"
Desahan Haechan terlepas dengan ragu-ragu ketika Mark mulai menyentuh vaginanya dengan dua jari.
Mark asik menggesek-gesek dua jarinya pada lipatan vagina Haechan yang terasa lembut di jarinya sebelum ia masukkan ke dalam lubangnya.
"Eeuungghh aahhhh"
"Ahhhhnnh"
"aaahhhhh"
Haechan mendongakkan kepalanya, kedua tangannya meremas kuat seprai kasur yang menjadi properti syuting. Bibir kecilnya terbuka, terus mengeluarkan desahan akibat permainan jari milik aktor tampan di atasnya.
Haechan memang belum pernah berhubungan seksual secara langsung dengan pria lain. Tapi, bukan berarti dirinya belum pernah merasakan surga duniawi.
Penis imitasi dan juga vibrator sebesar telur puyuh yang ada di salah satu laci kamarnya menjadi saksi dari setiap aksi Haechan dalam memuaskan dirinya sendiri.
Tapi, bermain dengan pria lain, disentuh, dimanjakan, diberikan kenikmatan dan kepuasan tanpa harus bersusah payah menggerakkan tangannya. Posisi di mana Ia hanya perlu menerima, menerima, dan menerima untuk membuat dirinya sampai pada puncak kenikmatan. Baru malam ini rasakan hal tersebut.
Pengalaman pertamanya. Dan Haechan sudah dimanjakan oleh aktor film biru. Di hadapan banyak pasang mata dan juga kamera. Oh, Haechan sampai tanpa sadar mengeluarkan air mata di balik penutup matanya. Entah situasi ini membuatnya malu atau justru lebih bergairah. Ia tidak tahu. Yang ia tahu saat ini hanya dirinya sedang dijemput menuju kenikmatan dunia, idaman para anak muda.
"aaahhhh"
"eungggaahhhh"
"Aaaaahhhh"
Desahannya terus mengudara dan,
"AAAHHH"
tidak sampai lima kocokan terakhir dari jari sang aktor, Haechan sampai pada pelepasannya. Ia melepaskan desahannya, hampir menjerit, dengan jari kaki yang menekuk, dan tubuh yang terangkat, membusur di atas kasur.
Mark mengeluarkan jarinya. Membiarkan Haechan mengatur napasnya dan kamera mengambil gambar serta video dari vagina Haechan yang semakin becek dengan cairan putih kental mengalir keluar.
"Eeuungghh"
Haechan melenguh saat ia rasakan Mark mencolek vaginanya yang masih sensitif untuk mengambil cairan orgasmenya dan dilumurkan pada penis berlapis kondomnya.
"Aaahhhhhh"
Haechan mendesah ketika vaginanya yang masih sensitif dan berkedut digesekkan dengan penis Mark.
Produk kondom yang menjadi fokus utama iklan hari ini benar-benar merekat kuat pada penis sang aktor. Modelnya yang tipis membuat seluruh bentuk penis masih bisa dirasakan oleh Haechan di setiap gesekan pada vaginanya. Gesekkan terus ia rasakan sebelum vaginanya dibuka oleh sebuah kepala penis.
"nggghhh"
Kali ini desahan milik Mark mengalun di udara. Baru kepala penisnya yang ia masukkan dalam lubang kenikmatan Haechan, dan sudah ia rasakan kerapatan dan kedutan yang membuat penisnya seperti dipijat.
"aaaaahhhh
"nggghhhaahhhn"
"aaaahhh"
Haechan meremas kuat seprai kasur yang sudah kusut di bawahnya. Desahannya mengalun terputus-putus, berusaha mengambil napas di sela desahannya ketika penis besar sang aktor secara perlahan memasuki liang vaginanya. Dinding vaginanya menjepit rapat setiap inci penis yang memenuhinya.
Kedua tangan Mark menahan paha milik Haechan agar tetap terbuka lebar. Sekuat tenaga ia tahan nafsunya yang ingin mendorong kuat penisnya ke dalam vagina Haechan.
"hhnnngggghh"
Desahan Mark terus mengudara. Suaranya berat, menandakan nafsunya yang benar-benar di ujung tanduk ketika penisnya dimasukan secara perlahan agar kamera dapat merekam dengan jelas proses penetrasinya dengan Haechan.
"AAAHHHH"
Haechan menjerit nikmat. Mulutnya terbuka dan kepalanya mendongak ketika satu inci terakhir penis Mark didorong kuat memasuki vaginanya dan menumbuk kuat titik manisnya. Haechan sudah hampir orgasme hanya dengan satu tumbukan itu.
"AAAAAHHH"
"Aaahhhhhn"
"Aahhh aahhh"
"nggghhaahh"
Setelahnya hanya terdengar suara desahan Haechan dengan sesekali geraman rendah milik Mark mengudara di antara puluhan pasang mata dan belasan kamera.
Mark hampir lupa posisinya yang tengah berada di tengah prosesi syuting jika tidak terdengar suara shutter salah satu kamera. Ia fokus pada penetrasinya dengan Haechan. Fokus menjemput kenikmatan dunia untuk dirinya dan Haechan.
"aaahhh"
"Aaahhhh"
"Aaahhhh.. hiks"
Haechan sudah tidak lagi peduli dengan kamera dan mata para staff yang menonton dirinya. Pikirannya sudah dipenuhi oleh nafsu. Menangis akibat kenikmatan yang terlalu berlebihan untuk diterima tubuhnya.
"nggghhh"
Mark mengeluarkan suara rendah desahannya. Ia mempercepat tempo tusukan penisnya pada vagina Haechan ketika merasakan dinding vagina itu semakin kuat menjepit penisnya. Haechan sebentar lagi akan sampai. Begitu juga dirinya.
"Aaahhhhh"
"Aaahhnngggghh"
"Eeunggghhaahh"
Desahan Haechan semakin tidak terkendali ketika dirinya semakin dekat pada pelepasannya.
"AAAAAHHHHHH"
Akhirnya, satu tusukan terakhir dari penis Mark. Tusukan yang kuat dan dalam hingga menyentuh pintu rahim milik si submissive, mengantarkan Haechan dan Mark pada puncak kenikmatan keduanya.
Mark memejamkan matanya dan mendongakkan kepalanya. Memperlihatkan lehernya yang berkeringat seksi pada kamera. Mulutnya terbuka, mengeluarkan desahan rendah dan dalam yang menandakan kepuasannya meski tidak sampai menjerit seperti Haechan.
Cut!
"Terima kasih atas kerja kerasnya!" ucap sutradara pada seluruh staff yang bekerja.
Sementara, kedua bintang iklan masih mengatur napas pasca orgasme mereka. Dengan Mark yang masih duduk memegangi kedua paha Haechan sambil menatap si cantik yang mulutnya terbuka dengan dada naik turun, sibuk meraup oksigen setelah kehabisan napas saat orgasme.
Tak lama setelahnya, Mark mengeluarkan penisnya dari vagina Haechan. Ia lepas kondomnya dan ia tarik kedua tangan bintang iklan dadakan malam ini, membangunkannya dari tempat tidur, mengabaikan Haechan yang bahkan napasnya belum pulih sepenuhnya.
Mark mengabaikan sapaan dari seluruh staff beserta ucapan terima kasih mereka. Ia fokus menarik Haechan yang terhuyung-huyung mengikuti langkah cepatnya dengan mata yang masih tertutup.
Haechan dibawa menuju ruangan khusus yang disediakan untuk Mark. Pintu langsung ditutup dan dikunci oleh pemilik ruangan begitu dirinya dan fluffer cantiknya memasuki ruangan.
Punggung Haechan didorong hingga menabrak daun pintu. Ikatan kain pada matanya yang basah akibat air mata dilepas oleh dominannya malam ini.
"Kak? mmmpphhh"
Haechan belum selesai layangkan kalimatnya ketika bibirnya ditimpa ciuman dalam oleh Mark.
Tangan Haechan mengalungi leher Mark ketika ia mulai menikmati ciumannya. Sementara, tangan Mark yang semula berada di pinggang si manis kini mulai menggerayangi tubuh submissive-nya.
Tangannya merambat naik, meremas buah dada Haechan yang sedikit berisi. Memainkan nipple-nya dan membuat Haechan melenguh dalam ciumannya.
Pinggul Haechan menjadi sasaran berikutnya. Kedua tangan Mark meremas pinggul Haechan sebelum beralih menuju bokong sintalnya.
"Aaahhh.. kak, janganhh"
Haechan melepas ciuman keduanya ketika merasakan tangan Mark mulai meraba lipatan vaginanya.
"Aahh ahhhnng, kak Mark hhhhnng"
Tangan Haechan menggenggam kuat lengan Mark yang menggerayangi vaginanya. Gila. Vaginanya masih sangat sensitif. Kedutan pasca orgasme-nya bahkan belum berhenti sepenuhnya.
Kaki Haechan lemas. Ia jatuh terduduk, mengangkang, bersandar pada daun pintu dengan Mark yang kini berjongkok di hadapannya, memainkan vaginanya dengan jari-jari panjangnya.
"Aaahhh aahhh, kak.. udahh aahhh hikss"
Mata Haechan mengeluarkan air matanya hingga hidungnya memerah, merasakan vaginanya yang sakit, namun juga keenakan akibat stimulasi berlebihan yang diberikan oleh pria yang mendominasinya.
"Ahhhhnng"
"Nggghhaahhhnn"
Suara desahan Haechan dan kecipak becek dari kocokan jari Mark pada vagina Haechan memenuhi ruangan.
"Kak Markhhh aahhh"
Tubuh Haechan semakin merosot. Kini ia berbaring di lantai, kakinya menendang-nendang tak karuan akibat sensasi yang ia rasakan. Matanya memejam, kedua tangannya masih menggenggam lengan Mark, berusaha menghentikan permainannya pada vaginanya yang sudah kewalahan.
"Kakk aahhhh"
"M-mau pipiss aahhh"
"Keluarin. Pipis di sini. Pipisin tangan kakak. Ga usah ditahan, udah ga ada script yang harus diikuti."
"Aahhhh aahhhh"
"AAAAHH KAK MARK!!"
Tepat ketika Mark menekan titik manis yang tidak sengaja ia temukan saat syuting tadi, bersamaan dengan ibu jarinya yang menekan klitoris Haechan, vagina yang ia mainkan itu menyemburkan cairan bening dengan deras.
Haechan squirt.
Pelepasan yang benar-benar hebat yang baru kali ini Haechan rasakan. Bahkan ia baru tahu bahwa dirinya bisa squirt. Pinggulnya sampai terangkat-angkat dari lantai dan membuat Mark harus menggunakan sebelah tangannya untuk menahannya.
Mark membiarkan sejenak Haechan menikmati pelepasannya sebelum ia memposisikan tangannya di bawah leher dan lutut Haechan untuk mengangkat tubuhnya.
"Kak?" Haechan menatap bingung Mark yang saat ini menggendongnya.
"Pindah ke sofa" adalah jawaban singkat yang Mark berikan pada pria cantiknya.
Mark membaringkan Haechan di sofa empuk dan lebar yang cukup untuk keduanya. Ia lepaskan crop-top hitam yang dikenakan Haechan. Setelahnya ia lepas dasi beserta kemeja putih yang masih melekat di tubuhnya.
Ciuman kembali datang menyapa bibir Haechan. Ciuman yang lebih panas dan dalam dari sebelumnya. Tapi, kali ini Mark tidak berlama-lama di sana. Ciumannya kini sudah turun menuju leher Haechan, memberikan jejak kemerahan dari leher hingga dada si manis.
Tangan besar milik Mark memainkan sebelah buah dada Haechan ketika mulutnya sampai pada puting buah dada satunya.
"Aaahhh Kak Mark!"
Haechan rasa suaranya akan habis akibat desahan yang terus dikeluarkannya sepanjang malam ini. Tapi, tangannya menggenggam rambut Mark dan mendorong kepalanya, seolah melarang dominannya berhenti memanjakan buah dadanya yang membuat dirinya terus melepaskan desahan.
Ciuman Mark tidak hanya sampai pada buah dada Haechan, melainkan terus turun mengecupi perut rata yang lembut dan sampai pada selangkangan yang harumnya terus menggoda penciumannya.
Mark lebarkan kedua paha Haechan, kemudian ia layangkan ciuman pada lipatan merah muda cantik yang semalaman ini dilecehkan.
"AAAHHHH"
Ciuman Mark pada vaginanya yang masih sensitif membuat Haechan pusing. Haechan seringkali mendengar perbincangan lawan main Mark dalam filmnya yang mengatakan Mark sangat hebat ketika menggunakan mulutnya. Dan Haechan seratus persen setuju dengan ungkapan tersebut.
Gerakan bibirnya yang melumat labia-nya dan lidah yang menusuk-nusuk liang vaginanya membuat Haechan tidak bisa melakukan hal lain selain mendesahkan nama sang aktor.
"Aahhhh kakk Mark"
"Aaaaahhhhh"
"Aaaahh"
Tangan Haechan meremas rambut Mark. Kakinya ingin ia rapatkan, tapi cengkraman kuat sang aktor pada pahanya menahan dirinya untuk melakukan hal tersebut.
"Kak Mark!!!"
"Aahhhh"
"A-AHHH"
Haechan lagi-lagi sampai pada puncaknya. Tepat ketika Mark menekan hidung mancungnya pada klitorisnya yang sudah bengkak akibat stimulasi yang terus dirasakannya.
"Aahhh"
"Kakk Mark!! Udahh aaahhh"
Haechan mendesah disela-sela pelepasannya akibat Mark yang tidak berhenti menjilati setiap mili cairan yang dikeluarkan vaginanya.
Mark terkekeh mendengar rengekan Haechan, "Iya iya, ini udah"
Mark bangkit dari posisinya yang semula membungkuk untuk berciuman dengan vagina Haechan. Ia kemudian meraih salah satu kondom yang terletak di meja kecil samping sofa yang tadi ia potret dengan ponselnya dan ia posting di laman Instagram-nya.
Penisnya kembali terpasang kondom. Mark kembali menindih tubuh Haechan. Bibirnya mengecup bibir si manis. Penisnya ia gesekkan pada vagina Haechan yang sudah super sensitif, membuat pemiliknya kembali melenguh.
"Siap?"
Haechan hanya sanggup membalas dengan anggukan ketika Mark bertanya sambil terus menggesekkan penis besarnya pada lipatan vaginanya yang semakin memerah, tanda bahwa kelaminnya itu sudah terlampau sensitif.
"AAAAAHHHH"
Kali ini Mark tidak lagi memasukkan penisnya secara perlahan, tapi memasukkannya dengan satu dorongan kuat yang langsung menumbuk pintu rahim Haechan.
"Aaahhhh"
"Ah! Ahh!! Aaaaahhh!!"
Desahan Haechan memenuhi ruangan, mengiringi setiap tusukkan penis Mark pada vaginanya. Suara tabrakan kulit dengan kulit ikut menemani aktivitas panas kedua anak adam dalam ruangan tersebut.
Tangan Mark meraih telapak tangan Haechan yang bingung bagaimana melampiaskan kenikmatannya. Dan Haechan menyambutnya, tangannya langsung menggenggam kuat telapak tangan Mark guna menyaluri kenikmatan bertubi yang ia rasakan.
Pinggul Mark tidak berhenti memberikan dorongan-dorongan kuat, menumbuk vagina Haechan dengan penis besarnya. Sementara, bibirnya merayapi leher Haechan, menambah karyanya di sana, menandai pria cantik di bawahnya dengan tanda cintanya.
"Aahhh! Kak Mark!!"
"Kak aahhh aku m-mau aahh hiks.."
Haechan sudah sangat kewalahan, tidak bisa lagi ia ucap satu kalimat sampai selesai. Tapi, Mark mengerti. Ia mengerti apa yang ingin disampaikan oleh pria cantik di bawahnya.
Mark berikan banyak kecupan di pipi gembil Haechan. Menghapus jejak air mata si manis yang keenakan dimanja oleh sentuhannya.
"Barengan ya, sayang?"
Haechan mengangguk mendengar ucapan dominan di atasnya. Desahannya terus mengalun di udara, mengiringi setiap gerakan yang dilakukan oleh sang dominan.
"Eungghh aahh!"
"Kak ahhhh gak kuaat ahhhh aah!"
Mark mengangguk dan mempercepat tempo gerakannya. Ia tenggelamkan kepalanya di leher si manis, kemudian ia berikan tiga dorongan kuat terakhir yang mengantarkan dirinya dan Haechan menuju surga dunia diiringi jeritan si manis yang memanggil namanya.
Keduanya berdiam cukup lama dengan posisi Mark yang menindih Haechan dengan penis yang masih tertanam di liang kenikmatan sang submissive.
Tak lama setelahnya, Mark mendengar dengkuran halus dan napas teratur dari pria cantik di bawahnya. Kekehan kecil ia keluarkan begitu melihat Haechan sudah tertidur dengan bibir plump-nya sedikit terbuka, memperlihatkan dua gigi atasnya yang menggemaskan.
Bagaimana bisa Haechan tertidur seperti anak kecil setelah menghabiskan kegiatan dewasa bersamanya? Bahkan penisnya masih tertanam di dalam vaginanya.
Mark menggelengkan kepalanya dan mengecupi wajah Haechan dengan gemas dan membuatnya mengeluh protes akibat tidurnya yang terganggu.
