Work Text:
Nalendra Naratama : JM
Jero Alfian : JN
💫
Bukan silaunya sinar matahari, bukan pula dering alarm yang sudah mengusik tidur nyenyak Nalen. Wajah Nalen yang semula penuh ketenangan pun mulai mengerut tak nyaman.
"Ahh .… " desah Nalen yang semakin lama terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Happy birthday, love." ucap sang kekasih, tepat ketika mata Nalen terbuka melotot dan mengerang kesakitan.
Tetesan lilin kembali mengenai bagian tubuh Nalen. Pelakunya, tak lain dan tak bukan adalah kekasihnya sendiri, Jero Alfian.
Nalen menggerakkan tubuhnya untuk menghindar dari tetesan lilin yang sudah Jero miringkan lagi di atas tubuhnya. Bukannya berhasil, Nalen justru baru menyadari kalau kedua tangan dan kakinya sudah terikat ke ujung-ujung kasurnya.
"Gahhhh, hahhh hahhh!" Nalen meracau tak jelas. Sebuah ring gag berukuran cukup besar pun sudah terpasang di dalam rongga mulut Nalen. Sehingga apa pun kata yang Nalen sampaikan tak akan bisa terdengar jelas oleh siapa pun.
"It's still midnight, sayang. Today is your birthday, and I'll have you for 24 hours as your birthday presents. Kamu kemarin minta aku kasih hadiah, kan?"
Nalen menganggukkan kepalanya untuk menjawab, namun matanya terus menatap api di lilin merah yang Jero pegang. Senyuman manis dari kekasihnya semakin melebar ketika ia kembali meneteskan cairan lilin panas ke atas tubuh telanjang Nalendra.
"Aaahhh!!!"
Tetesan panas itu kini menyapa puting Nalen yang sudah mengeras seperti kerikil. Nalen sibuk menggeliat di atas kasurnya, memberikan pertunjukan untuk Jero yang menikmati tubuh sang kekasih.
"I'll give you 13 candles, I'll paint your slut body with these candles. Is it ok, sayang?"
Nalen menggeleng ricuh, tak setuju pada jumlah lilin yang Jero siapkan untuknya. Apa Jero gila? Satu tetes saja sudah sangat panas dan menyiksa, lalu dia berencana meneteskan 13 lilin ke tubuhnya? Nalen bisa gila.
"Kenapa? Apa terlalu sedikit? Aku berencana kasih kamu 23 lilin karena ini ulang tahun ke-23 kamu sayang, tapi waktu kita nggak sebanyak itu. Aku punya banyak hadiah lainnya. Jadi, 13 aja nggak apa-apa, kan?"
Pertanyaan Jero ini hanya memiliki dua jawaban. Tiga belas atau dua puluh tiga. Nalen tidak bisa meminta untuk mengurangi lagi karena ring gag sialan yang menahannya untuk bisa bicara dengan jelas. Karena itu, Nalen menganggukkan kepalanya. Lalu ia kembali berteriak ketika Jero meneteskan lilin panas ke atas penisnya yang berdiri tegak.
"Pretty, your slut body always looks so pretty, sayang."
"Aahhh hahhhh!!"
Nalen menggeliat, tangannya mengepal kencang dan menarik-narik kedua tangan dan kakinya hingga pergelangan tangan dan kakinya memerah lecet. Tubuh bagian atas Nalen sudah dipenuhi merah, wajahnya, sudah dipenuhi peluh dan air mata. Nalen menangis.
Di tengah suhu kamar yang sangat dingin, hanya tubuh Nalen yang berkeringat. Ia kedinginan, tentu. Jero dengan sengaja memasang banyak pendingin ruangan di kamar bermain mereka, terlebih ketika ia menyiksa tubuh Nalen dengan lilin-lilinnya. Nalen akan merasakan tetesan lilin menjadi lebih panas dan menyakitkan, dan setiap erangan dari Nalen itulah yang membuat Jero begitu bahagia di atas tubuh Nalen.
"Hihhh hohh hahhhh aaahhh!!"
Nalen meminta untuk berhenti. Namun, tidak ada kata yang bisa dibentuk dengan mulutnya yang menganga seperti ini. Tubuhnya seolah mati rasa. Enam lilin warna-warni sudah memenuhi tubuhnya, Jero juga berkali-kali menggaruk puting dan kepala penis Nalen untuk melepaskan lapisan lilin itu untuk kembali ia teteskan cairan lilin panas pada area paling sensitif dan menyakitkan itu, demi mendengar suara Nalen yang sudah serak berteriak kesakitan.
"Aku butuh kamu nungging, sayang. Be a good slut for me, ya? Show me your pussy."
Nalen tidak bisa menjawab, dan Jero tidak membutuhkan jawaban Nalen untuk bisa mengubah posisi sang kekasih untuk tengkurap di atas kasur. Ketika Nalen mencoba untuk menarik kedua tangannya, ia sudah kalah cepat dengan Jero yang sudah mengikatnya ke sisi kasur.
Teriakan Nalen menggema sangat kencang ketika lelehan lilin tiba-tiba mendarat di atas lubang pantatnya. Nalen tidak menduga ini, sehingga keterkejutannya membuat Nalen menggeliat menjauh. Belum sempat bergerak satu senti pun, punggungnya sudah dicambuk oleh gesper kulit Jero.
"Jangan bergerak sayang, nanti lilin di badan kamu bisa lepas. Atau kamu mau kita ulang semua dari awal?"
Nalen menggeleng meski pada posisinya yang bertumpu pada pipi kiri itu tidak mengizinkannya untuk bisa menggelengkan kepala. Jero tersenyum, lalu kembali meneteskan lelehan lilin ke atas tubuh Nalen.
Nalen was already crying so much. He feels pain all over his body, but his boyfriends find him cute for crying over some candles.
"You are a slut for candles, why are you whining so much, Nalendra?"
"Hahhh hhhhh hhhh …. "
Ketika sebuah spekulum besi tiba-tiba membuka lubang pantat Nalen, si empunya lubang pun bergerak ribut. Ia panik, lalu sebuah jambakan rambut akhirnya menahan semua pergerakannya. Diiringi oleh teriakan dan desahan Nalen yang menyatu, lubangnya kini terbuka lebar.
" Happy birthday, sayang. This is my first gift for you. "
"AAAHHHH!!"
Dua tetesan panas berwarna merah masuk ke dalam lubang terbuka Nalen. Rasa panas dan sakitnya membuat mata Nalen berputar, tubuhnya mengejang dan pelepasan pertamanya seolah ditarik keluar hanya dengan dua tetesan di dalam tubuhnya.
Setelahnya, Jero menikmati desahan penuh kenikmatan dan kesakitan dari Nalen yang terus-menerus mendapatkan rangsangan di dalam lubangnya yang terus ia buka lebar.
Nalen lemas, ia sudah tidak berdaya ketika spekulum besi itu dilepas dari lubang senggamanya yang sudah penuh dengan lilin yang kembali mengeras. Nalen juga tidak lagi protes ketika dua buah lilin di pasang di dalam pantatnya, ujung sumbunya dinyalakan oleh Jero, lalu otot-otot pantat Nalen yang memerah pun menjepit dua batang lilin itu dan menahannya agar tetap berdiri.
"Pretty, kamu nikmatin ya dua lilin terakhir kamu di memek kamu. I'll be watching. Happy birthday, love. You are the birthday cake, and I'll be the one who will blow your candles, that's why I put it inside you. Don't worry you'll get to blow your special candles too, after this." Jero mengecup pipi basah Nalen, ia menatap sang kekasih dengan senyum manisnya, membuat Nalen merasa buruk jika marah dengan apa yang dilakukan Jero padanya.
Jero, dia hanya duduk di kursinya dan menonton tubuh Nalen menggeliat dan mendesah setiap kali cairan panas mengalir dari atas lilin mengenai pinggiran lubang pantatnya. Lampu ruangan sudah dimatikan, sehingga penerangan di dalam kamar hanya berasal dari lubang pantat Nalen yang bergerak dengan resah.
It's cute. Jero sangat menikmati bagaimana Nalen menggerakkan pantatnya. Meskipun gerakan itu tercipta karena rasa sakit dan tidak nyaman, Jero tetap terhibur.
Ketika lilin itu sudah semakin pendek, api di sumbu lilin itu kembali membakar lelehan lilin yang sudah menempel di tubuh Nalen, tepatnya lelehan di pinggiran lubangnya. Rasanya sangat menyiksa, Nalendra yang sudah dipenuhi peluh dan rasa sakit itu semakin kepanasan di area lubang senggamanya.
Jero berjalan mendekat, ia memperhatikan lubang sang kekasih yang diterangi cahaya api. Diiringi suara desah Nalen yang semakin mengeras, api itu semakin pendek dan sudah semakin masuk ke dalam lubang Nalen. Jero tersenyum, padahal saat ini rasa panas apinya semakin menjadi untuk Nalen.
Ketika suara desah dan tangis Nalen semakin kencang, Jero akhirnya mematikan api itu dengan meniupnya.
"Happy birthday to you pussy. It's your 23 years birthday." Jero memberi kecupan pada lubang pantat menganga Nalen.
"Let's appreciate your pussy first, right, Nalendra Naratama?" tanya Jero yang kini mengecup kening Nalen yang basah dengan keringat.
Lampu sudah kembali Jero nyalakan ketika ia melepaskan ring gag dari mulut Nalen. Nalen pun langsung menelan ludah yang sudah menggenang di dalam rongga mulutnya sejak tadi, mengabaikan liurnya sendiri yang sudah membasahi pipi dan kasur di bawahnya.
" Do you like it?"
"Sakit, kak." Jero tersenyum dan kembali mengecup kening Nalen.
" Do you like my first present for your pussy?"
Nalen menganggukkan kepalanya. Takut untuk salah menjawab. "Makasih kak Jero, memek aku suka hadiahnya."
Jero tersenyum, tanpa rasa jijik, jari-jemari panjang Jero menyisir di antara rambut basah Nalen. "Buktinya apa, sayang?"
Nalen menelan ludahnya lagi, matanya bergerak resah menatap mata Jero. Ia kebingungan untuk menjawab. Namun Jero hanya diam dan tersenyum hingga matanya membentuk bulan sabit.
"Kamu bohong ya, bilang memek kamu suka sama hadiahnya?"
Nalen menggelengkan kepalanya, ia mencoba bergerak dan pada saat itu, dan ia bersyukur karena akhirnya ia menyadari keberadaan penisnya yang masih basah bekas pelepasan kelimanya.
" My … my useless dick cumming without your permission. Itu, karena memek aku kesenangan dikasih lilin sama kak Jero!"
Jero tersenyum, ia kini menjambak rambut Nalen sebelum meludah di wajahnya.
"That's it. You don't have my permission."
Nalen menggigit bibirnya, mengabaikan ludah Jero yang kini mengalir dari bulu mata lentiknya ke hidung mancungnya. " Sorry , kak." cicitnya. Ia sangat takut membuat kekasihnya itu marah.
"Bersyukurlah, sekarang hari ulang tahun kamu, sayang. It's ok. Let's move on now. Udah saatnya kamu tiup lilin. Kamu lahir pas jam dua lewat lima belas, 'kan?"
Nalen mengangguk, ia membiarkan Jero melepas semua ikatan dan menuruti tuntunan Jero untuk merangkak di lantai. Ia mengikuti langkah kaki Jero, mengelilingi ruangan, dan berhenti di depan sebuah sofa hitam yang kini diduduki oleh Jero.
"Use your mouth, take my pants off and blow my dick. Kita punya empat puluh menit, pastiin lo bisa dapet peju gua di mulut dan muka lonte lo, ngerti, lonte?"
Nalen menelan ludahnya susah payah, Jero sudah memakai lo gua yang berarti, mood bermain kasarnya semakin menjadi. Nalen takut, namun penis yang menggantung di antara kakinya justru kembali mengeras.
Dengan cekatan, Nalen membuka celana Jero, pipinya memerah karena berkali-kali bergesekan kasar dengan celana jeans Jero. Hingga akhirnya ia berhasil melepaskan celana itu, Nalen langsung mengendus kemaluan Jero. It's becoming his hobby. Mengendus bau kejantanan Jero itu memabukkan.
Lidahnya menjulur, ia menjilat dari pangkal dan naik hingga ke kepala penis Jero, begitu terus hingga mulut Nalen pegal sendiri. Nalen mulai memasukkan penis besar Jero ke dalam mulutnya, ketika kepala penis itu sampai di bagian mulut terdalam, masih ada setengah dari penis Jero yang tersisa.
" Put it all in your mouth. Don't use your hand, be a good whore for me on your birthday, lonte."
Maka Nalen kabulkan permintaan sang kasih.
Nalen tersedak, namun ia tidak mundur. Tangan Jero pun tidak mengizinkannya, karena ia ikut menekan kepala Nalen hingga dahi Nalendra menempel di perutnya.
Grkkkkk hhhh
"Ahhh fuck, batuk aja teruslah! Enak banget anjing."
Tubuh Nalen menggeliat ricuh di atas lantai, ia tersedak dan hampir kehabisan napas karena penis Jero yang mengganjal di tenggorokannya. Sementara lelaki yang menekan penisnya lebih dalam itu malah asyik menggenjot penisnya lebih dalam. Hingga ketika tubuh Nalen semakin lemas, Jero melepaskan tangannya dari kepala Nalen. Yang lagi berulang tahun pun langsung tergeletak di atas lantai, dadanya naik turun dengan cepat, mulutnya menganga hingga air liur bercampur precum Jero tumpah dari mulutnya.
"Lanjut, sayang. Masih ada lima belas menit sebelum kamu tepat 23 tahun."
Nalen masih tergeletak di lantai tanpa pergerakan untuk bangun, Jero mendecak.
" Don't make me repeat my words, slut."
Maka Nalen kerahkan energinya untuk kembali berlutut di hadapan sang kasih. Matanya penuh air mata, dan ia kembali mendekatkan mulutnya yang terbuka pada penis besar Jero.
Kepala Nalen bergerak naik turun dengan cepat, berkali-kali ujung hidungnya mencapai kulit Jero. Ia mendesah setiap kali penis Jero sudah masuk lebih dalam, demi memanjakan penis di dalam mulutnya.
Dengan susah payah, Jero juga menahan dirinya untuk tidak menggerakkan pinggulnya. Masih ada sepuluh menit sampai dia akan mengisi mulut dan wajah Nalen dengan pelepasannya, jadi, sebisa mungkin Jero tahan pelepasannya.
Semakin lama Nalen melakukan blow job, Jero semakin terbawa suasana dan mulai menggerakkan pinggulnya. Ia melirik jam tangannya, sisa lima menit, dan itu waktu yang cukup untuk mencari nikmat yang lebih dari mulut hangat sang kekasih. Maka dari itu, ia tahan kepala Nalen, ia gunakan sesuka hatinya dan menampar pipi Nalen dengan kencang hingga lelaki di bawahnya berteriak kesakitan. Teriakan itu membuat getaran di penis Jero lebih terasa. Jam menunjukkan tepat pukul dua lewat lima belas ketika akhirnya Jero menekan kepala Nalen lebih kencang. Ia tumpahkan pelepasannya di dalam mulut Nalen, dan ia tarik keluar untuk membasahi wajah cantik Nalendra Naratama.
"This is my second gift for you, do you like it, sayang?"
Nalen menganggukkan kepalanya.
"Thank you, kak."
"You should be thankful, aku bahkan jemput kamu dari rumah waktu kamu tidur supaya hadiahnya bisa kamu terima malam ini, sayang."
Nalen tersenyum, ia tempelkan pipinya pada paha Jero. Ia masih berlutut, tubuhnya juga sebagian masih banyak menempel lelehan lilin. Sebagian lainnya sudah berceceran di lantai karena pergerakannya. Jero tersenyum melihat pacarnya yang masih berlutut patuh di hadapannya. Rasa takut yang ia pupuk ke dalam diri Nalen, adalah power paling besar yang membuat segala keinginannya dari hidup dan tubuh Nalen begitu mudah ia dapatkan.
"Aku masih punya banyak hadiah, tapi hadiah yang ini, kamu harus punya banyak energi biar nggak malu-maluin aku. Jadi kita tidur dulu ya, sayang?"
Nalen mengangguk patuh, lalu ia kecup kepala penis Jero yang sudah lemas.
"Thank you kak Junior udah mau kasih aku susunya kak Jero."
Jero terkekeh, Nalennya mengucapkan terima kasih pada penisnya dengan sopan.
"Ask him to meet your pussy today, Nalen." pinta Jero.
Nalen menatap mata Jero sekilas sebelum menganggukkan kepalanya.
"Kak Junior, please use my slutty pussy! Give my slutty pussy your delicious milk too!"
Jero menamparkan penisnya ke pipi Nalen sebagai jawaban.
"Don't worry, you'll get more than one dick today." ucap Jero pelan, tanpa bisa Nalen dengar dengar dengan baik.
"Ayo tidur, abis itu kita jalan-jalan keluar."
Nalen menganggukkan kepalanya, ia merangkak naik ke atas tubuh Jero sebelum tubuhnya diangkat bersamaan dengan tubuh Jero yang juga berdiri dari sofa. Mereka akhirnya tidur setelah Jero memakai tubuh Nalen dan membiarkan penisnya bersarang di dalam tubuh Nalen.
