Work Text:
Karakter:
Renjun - Mateo
Haechan - Andrew
Jaemin - Abel
Jeno - James
Chenle - Leon
Mark - Ronald
Pagi itu mentari menyinari bumi dengan cerah. Dengan setelan baju yang rapi kini ia siap untuk pergi ke tempat kerjanya, sebuah sekolah kecil di pinggir kota.
Ramai suara terdengar dari kejauhan, murid-muridnya kini sudah mulai berdatangan. Sekolah kini mulai ramai dengan anak-anak yang sedang berpamitan dengan orang tuanya.
Ah, orang tua ya. Memikirkan hal itu saja Mateo rasanya enggan. Perceraian yang akhirnya membuat dirinya terlantar membuat dia tidak mau memikirkan kedua orang itu.
"Selamat pagiii…," suara kecil dari arah kakinya membuat Mateo menundukkan wajahnya. Disana ada Darla, salah satu murid yang dekat dengannya.
Anak dari sosok yang dicintainya saat ini, Andrew. Seorang pengusaha besar di pusat kota, orang yang sering menjadi perbincangan orang tua yang menunggu anaknya di sekolah.
"Selamat pagi kembali Darla, yu masuk kelas," Mateo mengajak Darla sembari menggenggam tangan mungilnya.
"Tadi pagi ayah titip salam untuk bapak guru di sekolah," kata-kata itu terlampau polos untuk didengar. Namun hal kecil itu tanpa sadar membuat kedua telinga Mateo sedikit menghadirkan rona kemerahan, senang dan malu.
"Terima kasih, salam kembali," dapat ia lihat Darla menganggukkan kepalanya, seakan mengerti apa yang ia katakan.
— Pernah —
Hubungan keduanya abu-abu, Andrew simpulkan seperti itu. Tidak ada tali yang jelas, hanya rasa cinta yang menjadi jaminan.
Maka dari itu ia akan resmikan hubungan keduanya. Tidak ada yang menghalangi hubungan mereka selama ini, bahkan anaknya pun kini sangat dekat dengan sosok yang ia cintai.
Iya tidak ada, sebelum ibunya memperkenalkan dia dengan seorang fotografer, anak dari sahabat ibunya.
Ini tidak seperti memperkenalkan, ini seperti perjodohan paksa bagi Andrew. Abel, begitu ia menyebut namanya sendiri. Nama dari sosok yang ibunya gencar kenalkan kepadanya.
Hampir sempurna, namun Andrew tak mencintainya.
"Mom, can you stop? Aku ga suka sama dia. Dia juga kayaknya ga nyaman kalau dipaksa kaya gini terus," Andrew coba bernegosiasi kembali dengan ibunya. Namun hasilnya nihil.
Keras kepala, bolehkah Andrew bilang begitu?
Ia kesal. Selama dirinya diharuskan berjalan berdua dengan Abel, ia harus berbohong pada kekasihnya. Menempatkan posisi hubungan mereka pada masalah baru yang ia tidak tahu kapan akan meledak.
"Kak, mungkin kita bisa coba dulu jalanin hubungan ini," hingga kata-kata itu keluar dari bibir kecil Abel. Andrew tahu, ia tahu bahwa akan ada banyak masalah di hubungan ketiganya.
Andrew, Mateo, dan Abel.
— Pernah —
Setelah hampir empat bulan pengakuan cinta dari keduanya, Mateo dan Andrew kini berniat untuk menikmati liburan mereka. Menikmati waktu luang dengan berjalan-jalan di pinggir pantai.
Menikmati deburan ombak dan hembusan angin yang membuat mereka tenang, setidaknya sesaat.
Ya sesaat, karena dering gawai Andrew terus mengganggu keduanya. Mateo tidak tahu itu urusan apa, namun dia dapat melihat raut kesal kekasihnya setiap sudah menerima telepon.
Sesampai mereka di penginapan pinggir pantai, Andrew yang masih menjawab telepon sedangkan Mateo yang sudah santai di kamar mereka.
"Kamu gapapa?" Gelengan kepala Andrew berikan sebagai jawaban. Kemudian ia jadikan paha kekasihnya sebagai bantalan dirinya.
Mateo mengelus rambut sosok di pangkuannya. Terhanyut dengan suasana semilir angin dan rasa yang ada disana, entah siapa yang memulai namun kini ciuman itu begitu dalam.
— Pernah —
Dua bulan semenjak malam panas mereka, rasanya ada yang janggal. Rasanya seperti kembali pada hubungan awal, tidak ada ikatan, hanya ada rasa cinta. Namun tidak ingin memperkeruh pikiran, Mateo berusaha menghalau semuanya.
Pagi ini ia sendiri di apartemennya, entah karena pemikiran-pemikirannya yang berlebihan atau apa. Namun yang pasti kini Mateo merasa begitu mual dan tidak bernafsu makan.
Tidak ada niat untuk pergi ke dokter karena ia kira hanya gangguan makan karena pikirannya. Maka yang ia lakukan sekarang hanyalah berusaha menghalau semua pemikiran negatifnya.
Sayang seribu sayang, hingga seminggu terakhir gejala mual dan tidak nafsu makan ini terus berlanjut dan membuat mau tidak mau Mateo harus pergi ke dokter.
"Selamat, untuk memastikan lagi silahkan coba test pack nya."
Mateo berjalan gontai ke kamar mandi klinik. Pandangannya terasa kosong, begitupun dengan pikirannya. Bagaimana ini bisa terjadi ketika hubungan keduanya di ambang ketidakpastian.
Menunggu beberapa menit, ia kuatkan dirinya melihat hasil tes yang telah ia lakukan, positif. Pada benda persegi panjang itu jelas menunjukkan hasil positif. Dirinya mengandung anak dari kekasihnya, Andrew.
— Pernah —
Siang ini Mateo dan Darla sedang berada di sebuah kafe kecil dekat sekolah, menunggu Andrew yang katanya akan menjemput putrinya.
"Darla kalau punya adik lagi seneng ga?"
Sosok anak di hadapannya tampak bingung dan melontarkan jawaban yang membuat Mateo sadar kembali siapa dirinya.
"Memang siapa yang bakal jadi adik Darla? Darla kan tidak punya bunda atau papa ."
Entah dengan alasan apa. Namun dari awal Andrew memintanya merahasiakan hubungan mereka dari semua orang, termasuk Darla. Baru saja ia akan menjawab pertanyaan dari Darla, suara lain di kafe itu membuatnya terdiam.
"Iya aku bakal nikah sama Andrew, James."
"Andrew pengusaha itu kan, Bil? Kalian kenal dari mana?"
"Kita dijodohin."
"Sejak kapan?"
"Enam bulan lalu."
Deg.
Jantung Mateo rasanya akan meledak karena terlalu sakit. Andrew yang mereka bicarakan jelas adalah kekasihnya. Enam bulan lalu jelas waktu dimana mereka meresmikan status sebagai sepasang kekasih. Namun kini kenyataan apa yang ia dapatnya, jadi selama ini dia adalah selingkuhan?
Baru saja ia percaya tentang hubungan kasih, cinta dan sayang. Ia kini dipatahkan kenyataan bahwa dirinya hanya seorang simpanan.
"Kalian kapan nikah?"
"Satu minggu lagi."
Dunia sepertinya tidak mempersilahkan Mateo untuk bernapas. Andrew akan menikah satu minggu lagi. Kekasih hati yang selama ini ia selalu tunggu kabarnya akan melangsungkan pernikahan satu minggu lagi?
Ting
Dreew❤
Sayang sorry aku gabisa jemput Darla, jadi aku suruh supir kesana ya, maaf ya sayang. Ily❤
Pesan singkat itu ia terima, hingga beberapa saat kemudian pria di seberangnya seperti akan bergegas pergi. Hanya samar suara yang ia tangkap seperti:
'Oke Drew, aku ke tempat fitting sekarang.'
Drew, panggilan sayang dia kepada kekasihnya kini ia dengar dari mulut orang lain untuk orang yang sama. Orang lain biasanya menyebut dengan sebutan Andre dan Mateo menyebutnya Drew setelah kekasihnya itu menggambar potrait dirinya.
Tak ingin berlama-lama disana, ia kini mengajak Darla yang telah selesai dengan makanannya menuju kursi di depan kafe untuk menunggu jemputan. Selang beberapa saat kemudian mobil mewah mencolok dan sang supir yang memang Mateo kenal mengarahkan mobilnya ke depan kafe, menuntun dengan perlahan kini Darla sudah aman berada di samping kemudi.
"Nanti salam dengan nenek dan ayah yah, hati-hati, sampai jumpa," lambaian tangan khas anak kecil Mateo terima. Senyuman itu rasanya ia tidak tega merusaknya, Darla akan segera mendapatkan orang tua baru dan yang ia tahu pasti, itu bukan dirinya.
— Pernah —
Tidak baik-baik saja, Andrew merasa bersalah dengan kekasihnya selama ini. Penolakan sudah ia lakukan setiap kali ada waktu. Namun entah apa yang membuat mereka tetap maju.
Dua bulan lalu, tepat dimana hari kepulangannya dari liburan bersama Mateo, ibunya tiba-tiba menampar dirinya dan berkata 'Tolong perhatikan tunanganmu disini'.
"Bukannya mom dari awal ga maksa aku sama dia, ini udah hampir 5 bulan dan aku tolak terus dia. Mom tolong, tolong ngerti, aku ga mau dijodohin sama dia," merajuk pun tak diberi tanggapan. Andrew kini bingung harus apa.
Hingga bom seperti menghantam dadanya, satu bulan lalu Bian jujur padanya. Ia menerima perjodohan ini sementara, akhirnya kontrak itu dibuat dengan berat hati oleh Andrew.
Siapa sangka kesibukan kini malah menghampiri dirinya, rencana pernikahan kontrak ini sementara. Setelah semuanya selesai, Andrew akan kembali ke pelukan Mateo, kekasihnya.
"Kamu pernah bilang, kamu punya pacar ya?"
" I do ," Andrew hanya menjawab seadanya. Hubungan dia dengan Mateo cukup mereka dulu yang tahu.
"Kalau dia tahu kamu bakal nikah, kira-kira reaksi dia gimana ya," Andrew yang tadinya memang sudah tidak mau berada disini kini emosinya semakin terpancing. Tidak bisakah ini berjalan sesuai rencana mereka saja, tidak ada drama lain di jalannya.
"Maksud kamu apa bicara seperti itu?"
"Aku cuma nanya aja," nada itu terdengar jengkel di telinga Andrew. Ia banting kain mahal yang ada di genggaman tangannya itu dan berjalan pergi keluar butik.
Pukulan pada setir mobil masih ia lakukan. Emosinya semua tercampur, marah, sedih, jengkel dan takut kini Andrew rasakan.
Marah dengan keadaan yang memaksanya pada perjodohan. Sedih dengan bagaimana nasib hubungan dia dengan kekasihnya. Jengkel dengan sikap sang calon suami. Takut, ia takut kehilangan orang yang sedang ia cintai, Mateo.
Mengingat nama sang kekasih membuat ia langsung mengemudikan mobilnya ke arah apartemen di pinggir kota. Namun sepertinya semesta kini sedang mengujinya karena sejak 20 menit kedatangannya ke dalam apartemen kekasihnya, sosok yang ia tunggu tak kunjung datang.
Andrew kini merebahkan tubuhnya di sofa depan tv, masih menunggu kedatangan sang kekasih. Hingga lelah menghampiri, membuat ia menutup matanya perlahan dan terlelap di ruang tamu apartemen Mateo.
— Pernah —
Rasanya jauh, meski sang kekasih kini berada di hadapannya, berada dalam satu ruangan yang sama, semuanya terasa berbeda. Ada hal asing yang menjadi tembok meski tidak dapat dielakkan bahwa rindu ada di barisan paling depan.
Elusan di kepala ia terus lakukan pada sosok yang kini tertidur di apartemennya. Setidaknya hal ini membuat rindunya sedikit tersalurkan. Mateo tidak tahu harus memberi deskripsi seperti apa. Yang ada kini satu pertanyaan besar dibenaknya.
Apakah hubungan awal yang rumit akan berakhir rumit pula?
Apakah hubungan keduanya kini layak disebut dengan sepasang kekasih, saat mereka saling sembunyi.
Sebenarnya Mateo tidak berencana sembunyi. Namun kejadian di kafe membuatnya harus bersembunyi. Ia hanya seorang kekasih, ah ataukah ia harus sebut dirinya sendiri dengan seorang selingkuhan.
Rencana awal untuk memberi tahu berita kehamilannya di kafe ia urungkan setelah mengetahui fakta yang ia simpulkan sendiri yang diperkuat dengan kejadian-kejadian yang terjadi di hubungannya selama ini.
Gerakan elusan di kepala sang kekasih berhenti ketika tangan itu menggenggam tangannya dengan lembut.
"Kangen," Andrew berujar dengan santai seakan tidak ada hal yang berubah dalam hubungan mereka. Mateo hanya tersenyum, jika ini permainan yang mereka akan mainkan maka ia akan ikuti alurnya.
— Pernah —
Sakit, berita pernikahan itu tersebar di internet. Pernikahan yang Andrew tutupi kini tersebar dimana-mana. Mateo yang melihat berita itu kini hanya mampu duduk di dalam apartemennya.
Tidak ada lagi jalan.
Keduanya sudah di ambang tali yang hampir putus. Meski diperbaiki, bekasnya akan nampak disana.
Seminggu sejak pernikahan kekasihnya, Mateo menutup semua akses dengan pria itu. Meski dering ponsel terus memunculkan nama sang kekasih, ia coba abaikan.
Dirinya tidak boleh tertekan. Ada hal lain dalam dirinya yang harus ia jaga. Bayi dalam kandungannya tidak salah, ia tidak ingin nasib anaknya sama dengan dirinya. Maka ia coba alihkan banyak perhatiannya pada anak-anak yang kini tertawa riang di taman sekolah.
"Pak guru…, kenapa ga ikut main lagi di taman?"
Suara itu ia kenali, Darla. Anak kecil polos yang kini orang tuanya sudah lengkap. Dirinya yang ia rasa hampir mengisi salah satunya, nyatanya hanya pemeran figuran.
"Pak guru lihat dari sini saja. Darla main saja dengan teman-teman yang lain," gelengan kepala menjadi jawaban. Mateo kira Darla akan pergi ke arah teman-temannya, namun ia salah. Darla kini malah mendudukan dirinya dan menundukkan kepala.
Mateo tidak tega melihatnya. Anak yang biasa begitu ceria kini malah murung, "Darla, mau cerita?"
Mata kecil itu kini menatap Mateo dengan penuh harap. Cerita di luar pemikiran Mateo, Darla bercerita dengan sedih namun tidak ada air mata jatuh dari sana.
Kuat, bagaimana anak sekecil ini bisa sekuat ini menceritakan hal yang seharusnya ia tak tahu. Ayahnya dan sosok papa barunya banyak bertengkar, ayahnya kini lebih banyak diam dan dingin pada setiap orang termasuk Darla dan ibunya sendiri.
Satu minggu, dalam waktu satu minggu ini bagaimana anak sekecil ini melihat dan menyimpulkan itu semua dengan rinci.
Baru saja Mateo usap rambutnya, air mata Darla begitu saja jatuh dengan tangisan yang kencang. Membuat pandangan mata yang ada di taman kini menatap mereka. Anak-anak disana kini mulai mengerumuni mereka.
Darla yang seakan sadar diperhatikan oleh banyak orang kini turun dari kursi yang ia duduki dan memeluk guru di hadapannya. Mateo yang mengerti suasana kini mengarahkan anak-anak disana untuk kembali bermain dan membawa Darla menuju UKS.
"Darla kenapa Teo?"
Salah satu guru disana yang merupakan sahabatnya bertanya penasaran. Dengan gerakan mulutnya ia berkata 'nanti aku ceritain ya'. Kemudian ia mengangguk dan mengikuti Mateo yang kini menggendong Darla menuju UKS.
"Tolong temenin sebentar ya, aku mau bawa air sama makanan."
Dalam perjalanan mengambil minuman untuk muridnya pikiran Mateo melayang. Apakah sebab dari keduanya bertengkar adalah karena dirinya, karena Andrew yang berstatus sebagai kekasihnya. Apakah mungkin?
— Pernah —
Thew❤
Kita harus ketemu, kamar nomor 15 hotel Neo
Mateo mengajak Andrew untuk bertemu saat matahari mulai akan digantikan oleh bulan. Usai pemikiran panjangnya, Mateo sudah memutuskan semuanya. Hal yang terpenting sekarang adalah bagaimana menyatakan pada Andrew. Kepalanya Ia tundukkan beberapa saat hingga pintu hotel itu terbuka. Sosok lelaki yang dulu sering menemaninya hampir di setiap malam itu ada disana.
Entah siapa yang harus disalahkan. Mateo yang kurang mencari seluk beluk pria di hadapannya ini ataukah justru Andrew yang tidak memberi sedikit clue bahwa seharusnya dirinya tidak terjebak hingga seperti ini. Mateo terlanjur mencintai Andrew, tapi ia usahakan berhenti saat kejadian di kafe saat itu. Percakapan antara pria yang Ia tangkap adalah calon suami Andrew yang kini sudah menjadi suaminya dengan seseorang membuat dirinya sadar, ia harus mundur dari sekarang.
“Drew, kita ga bisa gini. Kamu pernah mikir ngga perasaan suami kamu gimana?” Mateo berkata demikian dengan lantang dan penuh dengan penyesalan. Sedangkan di sisi lain Andrew menatapnya seperti tertangkap basah, kekasihnya tahu tentang suaminya.
“Thew, aku punya alasan-“ sebelum sempat Andrew menjelaskan semuanya. Ia sudah tahu semuanya, ia tidak perlu alasan apapun. Dirinya salah disini, diantara hubungan sakral yang hanya bisa dibangun oleh dua orang, tidak lebih. Pernikahan.
Mateo mendekat ke arah kekasihnya itu. Ah haruskah dirinya memanggil calon mantan kekasih, haha. Dirinya mendekat dan memeluk pria yang lebih segalanya dari dirinya. Mengusapkan tangan di punggung tegap itu, menenggelamkan wajahnya dalam pelukan itu.
“Kamu tau, rasanya sakitnya lakuin ini. Sekarang meluk kamu bahkan rasanya kaya dosa besar. Kita yang cuma ketemu beberapa kali, menjalin cinta dan tanpa sadar merugikan banyak orang termasuk kita, -”
“-kita menyakiti diri sendiri pada akhirnya."
Pagi ini Andrew tidak menemukan siapa-siapa di sampingnya. Badannya ia refleks bangun dan matanya meneliti di sekitar, tidak ada siapapun. Pada akhirnya dirinya ditinggalkan dengan sebuah amplop putih khas rumah sakit.
Tangan Andrew dibuat membeku sesaat membuka surat tersebut. Testpack, hasil usg, surat rumah sakit dan sepucuk surat kecil ada di dalamnya. Ada apa ini? Mateo hamil anaknya? Lalu kemana pria itu sekarang?
— Pernah —
"Puas, sekarang kamu puas liat dia ninggalin saya kan?"
Busuk, nyatanya percakapan di kafe saat itu bukan sebuah kebetulan. Rencana licik seorang Abil dengan temannya. Benar saja, semua rencana itu berhasil.
"Kamu masih punya aku Drew."
" Stop , udah berapa kali saya bilang jangan panggil saya seperti itu. Kamu bukan Mateo."
"Mateo, Mateo dan Mateo, kenapa kamu masih terus suka sama kita disaat kita udah nikah kaya gini."
"Karena kamu ga licik kaya dia. Dia lebih dari sempurna dimata saya dibanding kamu."
Mata Andrew berkaca-kaca dan emosinya meledak-ledak. Darla yang berada di kamarnya pun kini mencoba menutup kepalanya dengan bantal, menghalau semua rasa takutnya.
Kalau kamu takut lagi, hubungi nomor ini ya? Nanti bapak bantu lawan rasa takut kamu .
Darla baru ingat, nomor rahasia yang gurunya berikan padanya ia simpan rapat di tempat rahasia pula. Gawai yang jarang dipakai kini ia gunakan untuk menghubungi nomor itu.
"Halo," suara tenang itu menyapa pendengaran Darla. Orang di seberang sana kini mencoba mengalihkan banyak perhatian Darla dari keributan yang terjadi di rumahnya. Dimulai dari cerita anak hingga kejadian yang membuat Darla tertawa puas hingga tertidur pulas.
— Pernah —
"Ayah, nanti kita ke toko buku ya," Darla berucap dengan riang. Sudah lima tahun semenjak ia keluar dari sekolah dasar, kini ia duduk di kelas 11 SHS. Sudah lima tahun pula rahasia mereka masih tertutup rapat.
Darla yang masih sering menghubungi gurunya itu meski kini sudah tidak ada teriakan di rumahnya.
Tidak ada teriakan, karena selang satu bulan pernikahan Andrew dan Abil. Andrew langsung menggugat cerai pernikahan mereka. Semenjak saat itu sifat ayahnya mulai kembali. Ia menjadi dekat dengan Darla namun masih sedikit murung dan terkadang bertanya pak Mateo kepada anaknya.
"Kali ini buku siapa yang mau kamu beli, jangan bilang penulis T lagi?"
Cengiran khas remaja menjadi jawaban. Penulis T yang tidak lain tidak bukan adalah sosok rahasia yang disembunyikan dari ayahnya, Mateo.
"Bukunya bagus, ayah juga coba baca bukunya," tulisannya memang indah, Darla akui itu. Namun dibalik semua itu Darla cukup tahu bagaimana kuatnya sang penulis untuk menyelesaikan bukunya.
"Nanti ayah baca, tapi pinjem buku kamu aja," Darla tersenyum puas dengan jawaban ayahnya. Ia bawa satu buku penulis T dan juga satu buku pelajaran untuk sekolahnya.
Keduanya kini berada di dalam mobil, hendak kembali ke rumah mereka, "ayah, nanti sabtu aku mau main boleh?" Darla bertanya ragu, sebab selama ini jika main dirinya selalu ditemani kak Ronald, anak dari tetangga sebelahnya.
"Sama ka Ronald?"
"Bukan, cuma sendiri. Boleh ya ayah, sekali ini aja," kedua tangannya ia kepalkan di depan dadanya sambil memohon kepada ayahnya.
"Tapi jangan terlalu jauh dan jangan pulang malem ya."
— Pernah —
Lambaian tangan sosok di depannya kini membuat langkah itu semakin lebar dan sedikit berlari. Sosok guru ah, penulis dan juga seorang anak kecil kini sudah berada di hadapan Darla.
"Leon, lucu banget, embul," pipi itu menjadi sasaran pencubitan Darla yang membuat Leon tertawa.
Mata Mateo memandang keduanya. Bagaimana reaksi Darla jika ia tahu bahwa sosok yang sedang diajak bermain adalah adiknya. Sadar dengan pemikiran absurdnya kini ia kibaskan tangan di depan wajahnya sendiri.
Hah, berandai terus.
Ketiganya kini bermain-main di pinggir kota, bernostalgia masa kecil Darla dan kenangan Mateo dengan sosok yang entah kenapa ingin ia temui.
Air sungai yang begitu jernih dan cuaca yang begitu cerah membuat suasana hari mereka semakin bagus untuk berjalan-jalan.
Hingga akhirnya sebuah mobil berhenti di pinggir Darla, itu ayahnya. Mateo yang menyadari itu kini mematung dan dalam hitungan ketiga dirinya akan lari dari sini dengan anak mereka.
Belum sempat hitungan ketiga ia teriakan dalam hatinya, tangan Andrew lebih dulu menggenggam pergelangan tangan Mateo. Membuat Mateo membalikan badannya.
Netra Andrew terpaku pada sosok kecil dipelukan Mateo, sosok kecil yang mirip dengan dirinya. Mateo yang menyadari itu kini mencoba menutupinya dengan sebelah tangan.
Tidak ada jalan keluar. Mateo kini sudah pasrah nasib mereka akan seperti apa. Darla yang berada di hadapan mereka kini menatap bingung. Ada hal apa yang membuat mereka se canggung ini.
"Darl, tolong titip Leon sebentar ya, bapak ada urusan sama ayah kamu, sebentar aja."
Darla hanya menerimanya, ia dan Leon pergi ke arah berlawanan tempat dimana banyak pedagang. Sedangkan Mateo dan Andrew kini kembali ke dalam mobil.
"Jadi namanya Leon?"
Mateo tidak menjawab. Namun beberapa saat kemudian ia anggukkan kepalanya. Anggukkan itu membuat Andrew bernafas lega, setidaknya Mateo masih mau berkomunikasi dengannya.
"Leon, anak kita kan Teo?"
"Iya."
Dada Andrew bergemuruh senang. Lima tahun kebelakang dia tidak diam, namun siapa sangka Mateo terus berada di samping anaknya. Memberikannya banyak pengertian dan penguatan yang membuat hubungan ayah dan anak itu kembali seperti semula.
"Aku terlalu gegabah mutusin keputusan saat itu, aku minta maaf. Darla banyak cerita kalau dulu kamu sering nanya aku masih ngajar disana atau ngga, aku minta maaf."
"Bukan kamu aja, aku diposisi yang salah juga saat itu. Andai aja aku cerita semua sama kamu dan ga bertingkah seakan semua bakal selesai dengan caraku, nyatanya semuanya gagal. Aku kehilangan kamu. Aku kehilangan momen kamu mengandung anak kita. Aku buat Darla sedikit trauma dengan teriakan, aku bahkan belum bisa maafin diriku. Aku minta maaf."
Pelukan itu rasanya berat. Komunikasi diantara keduanya yang menjadi masalah. Andai saja keduanya bisa ungkap masalah apa yang mereka rasakan, perpisahan itu tidak akan ada.
Aku dan kamu pernah menjadi kita.
Seperti tali yang putus, hubungan kita tidak selalu berjalan mulus. Aku harap setelah ini aku dan kamu selalu menjadi kita.
PERNAH
Selesai, 20 Juli 2022
