Work Text:
Penulis:
Sky
Akun Twitter:
@haneullangit
Kode Prompt:
D01
THE SECRET OF YOU
Decakan keluar dari bibir lelaki saat kebisingan semakin menyeruak, satu hal yang tidak ia sukai berada di keramaian. Jika bukan karena undangan dari salah satu orang yang disegani hampir seluruh dari kerumunan yang hadir, ia tidak akan perlu merepotkan diri berbaur dengan berbagai macam jenis manusia sepertinya.
Sapaan ringan hanya sekedar ia jawab, tidak repot-repot untuk berbasa-basi. Matanya memicing mencari celah dimana ia harus mencari tempat untuknya menyendiri. Nyatanya julukan eagle yang tersemat pada dirinya tidak serta merta hanya sekedar nama. Dari tempatnya berdiri, mata tajamnya mengamati setiap orang berlalu lalang atau hanya bergerombol untuk mengobrol. Pistol, pisau lipat, dan beberapa senjata lainnya ia tau orang-orang disekitarnya menyembunyikan senjata itu dibalik jas yang mereka gunakan. Ia bahkan tau beberapa dari mereka memanipulasi sifat hanya untuk mengincar tahta sang legenda.
Huh, penjilat.
Namun nyatanya sang legenda sudah memiliki penerus yang akan menggantikan dirinya sebagai ketua dari ketua mafia. Alasan dirinya berada disini, sang ketua mafia mencabut gelarnya dan menyerahkannya pada sang putra.
Untuk seseorang sepertinya, jabatan tidaklah penting. Sosoknya yang tidak diketahuipun tidak menjadi masalah baginya. Ia terlalu sibuk untuk mengurusi sebuah jabatan.
Mata elangnya kembali memendar, mencari celah dimana ia bisa mengasingkan dirinya. Tangan kanannya menyambar satu gelas wine dari seorang pelayan yang melintas di sebelahnya. Lantas ia membawa kakinya menjauh dari kerumunan. Ia sesap cairan beralkohol itu sembari meneliti tempat.
Balkon menjadi tujuannya saat ini, ia letakkan gelas wine pada pembatas balkon. Semilir angin menerbangkan helaian rambutnya yang sudah sedikit memanjang. Ia gulung lengan kemeja hitam yang mencetak bentuk tubuhnya hingga memperlihatkan sebuah tato berbentuk elang yang melingkar di lengannya.
Lee Donghyuck the eagle mafia, tittle yang cocok bersanding padanya. Bahkan sang ketua dari negeri china itu pun mengakui kehebatan Lee Donghyuck, itu sebabnya Donghyuck berada disini, China tempat sang ketua mafia.
Donghyuck kembali meraih gelas, menyesap perlahan cairan alkohol itu sebelum sebuah suara menyerang rungunya.
"whooaaa kau mempunyai tato yang bagus, hei boleh aku menyentuhnya?"
Donghyuck menolah mendapati lelaki yang tingginya tak lebih darinya dan bahkan badannya terbilang kecil sedang memperhatikan lengan kanannya, tempat dimana tato elang itu berada. Matanya membola menampakkan binar cerah disana, mengagumi tato milik sang mafia.
Lelaki itu berbicara menggunakan bahasa mandarin dan tentu saja Donghyuck paham apa yang dikatakannya.
"Boleh aku menyentuhnya?"
Saat kepala lelaki itu sedikit mendongak untuk menatap ke arah Donghyuck meminta persetujuan, saat itu juga Donghyuck bisa melihat jelaga milik lelaki itu nampak berhias bintang.
Indah.
Satu kata yang bisa Donghyuck deskripsikan untuk netra lelaki disampingnya. Diamatinya sosok itu, mata cerah bak rembulan, pipi putih bak pualam, hidung bangir serta bibir ranum terbuka. Untuk pertama kalinya Donghyuck memperhatikan seseorang tanpa menggunakan insting seorang mafia. Dan untuk pertama kalinya Donghyuck merasa terjerat binar bintang pada mata lelaki itu.
"Hey, boleh kan aku menyentuhnya?"
Tidak mendapatkan jawaban, lelaki itu bertanya srkali lagi.
Tanpa persetujuan Donghyuck, lelaki itu menyentuh lengan sang mafia dan mampu menghantarkan sengatan listrik kecil pada Donghyuck mengakibatkan yang lebih tinggi tersadar akan lamunannya.
Bola mata Donghyuck bergulir menuju tempat dimana lelaki itu meraba permukaan tatonya. Entah disengaja atau tidak, lelaki itu menelusuri urat yang menonjol pada lengan Donghyuck.
"Bagaimana bisa ada seseorang yang cocok sekali dengan tato seperti ini? Ini benar-benar keren, pas sekali dengan lenganmu"
Donghyuck masih tidak menanggapi lelaki itu, jelaganya masihlah mengikuti arah kemana jari ramping itu bergerilya.
"Kau tau, aku juga ingin memiliki tato sekeren ini. Tapi baba melarangku, menyebalkan sekali bukan? Tapi tak apa, nanti jika aku sudah tidak dirumah ini lagi aku akan memiliki tato sekeren ini juga"
Cerewet.
Satu kata lagi yang cocok untuk menggambarkan lelaki berambut two tone itu, hitam bagian luar atas dan pirang platina bagian dalam. Donghyuck sekali lagi baru pertama kali menemukan jenis manusia banyak bicara seperti lelaki disebelahnya. Tetapi anehnya jika biasanya Donghyuck akan merasa kesal, tapi mendengar kalimat panjang dari lelaki ini, Donghyuck merasa baik-baik saja.
"Oh aku harus kembali, aku sedang kabur dari baba dan gegeku kau tau? Tapi sekarang aku harus kembali lagi, senang mengobrol denganmu. Kuharap kita bertemu lagi, ngomong-ngomong tatomu itu, aku menyukainya. Byee"
Lelaki yang lebih pendek darinya itu melesat meninggalkan Donghyuck yang mematung.
Mengobrol? Bahkan Donghyuck tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya mendengarkan celotehan dari lelaki tadi.
Netra elangnya masih mengamati dimana keberadaan lelaki itu, bagaimana ia selalu menyapa setiap orang yang berpapasan dengannya dengan senyuman mengembang indah. Bagaimana kaki lincah itu bergerak cepat menyelip diantara orang-orang. Bagaimana tubuh terbilang kecil nan ramping untuk ukuran lelaki itu hampir menabrak salah satu pelayan dan malah tertawa setelahnya.
Dan sekali lagi, untuk pertama kalinya kedua sudut bibir Donghyuck sedikit tertarik keatas untuk alasan yang tidak ia pahami.
Ah sayang, mereka belumlah sempat berkenalan.
<><><><>
"Lee Donghyuck, lama tidak bertemu"
Donghyuck menjabat tangan tetua mafia yaitu sang ketua sendiri, Huang Zitao. Wajah stoic khas miliknya serta tatapan datar tak lantas membuat ia hilang hormat pada tetua itu serta penerusnya, Huang Junhui.
"Selamat malam tuan Huang" jawab Donghyuck menggunakan bahasa korea.
"Kau masih sama kakunya seperti dulu Donghyuck"
"Tidak ada yang perlu dirubah tuan"
Donghyuck menjawab seadanya. Saat ini mereka sedang berada di mansion milik sang tetua mantan ketua mafia, Huang Zitao, yang baru saja menyelesaikan pesta penyerahan gelar ketua kepada sang putra, Huang Junhui.
Junhui merupakan salah satu teman Donghyuck, maka dari itu ia meminta lelaki berkulit madu itu untuk datang secara pribadi. Sekaligus untuk temu kangen mengingat ia sendiri berada di China sedangkan Donghyuck berada di Korea Selatan, daerah kekuasaan sang mafia elang.
"Sekali-kali berhentilah menjadi es batu Hyuck, kau tau banyak yang ingin mendekatimu tetapi takut pada peringaimu itu"
Kekehan ringan menjawab ucapan Junhui, apa yang dikatakan temannya itu ada benarnya. Namun Donghyuck tetaplah Donghyuck, tidak perlu ia memikirkan hal yang sama sekali tidak penting baginya.
"Jadi, kapan kau akan balik ke korea, Donghyuck?"
"Lusa Tuan, ada beberapa hal yang harus saya urus. Jadi saya harus sesegera kembali"
"Oh kebetulan sekali......
"BABA!! Ughh benar aku ditugaskan dikorea?" seruan bahasa mandarin dari lelaki lain menghentikan ucapan tetua mafia itu. Semua kepala menoleh termasuk Donghyuck yang langsung terpaku pada sosok itu.
"Kau yang memintanya baobei"
Huang Zitao mengangkat sebelah alisnya bingung dengan raut kesal sang putra bungsu.
"Tapi itu tahun lalu, aku pikir baba akan menempatkanku di amerika mungkin"
"Itu terlalu jauh adik kecil, lagipula di amerika tidak ada yang mengawasimu"
"Di korea pun aku juga sendirian gege, makanya gege ikut denganku hng~" lelaki itu beralih menuju Junhui, meraih lengan kakak tertuanya untuk dipeluk.
"Siapa bilang kau sendiri" Junhui mengusak rambut sang adik, pandangannya beralih pada Donghyuck.
"Hyuck, ini Renjun adikku. Berhubung korea adalah daerah kekuasaan mu, aku meminta tolong padamu untuk mengawasi adik kecilku. Karena dia akan bekerja di sana dan aku serta Baba tidak bisa mengawasinya"
Adik? Sejak kapan Junhui punya adik?
Donghyuck masih memperhatikan Renjun, walau telinganya berfungai dengan baik untuk mendengarkan Junhui.
"Ohh!! Kau yang tadi? Pemilik tato keren itu?" Renjun melepas rangkulan dari lengan kakaknya untuk kemudian berlari menghampiri Donghyuck. Renjun berdiri tepat di depan Donghyuck, kedua tangan bertaut di belakang dan badan agak condong ke depan. Bahasa yang digunakan juga berubah menggunakan bahasa korea. Donghyuck sedikit terkesan bahasa korea serta aksen Renjun sangat bagus.
Junhui mendekati keduanya, ia menarik kerah belakang Renjun agar sedikit menjauh dari Donghyuck.
"Jadi bagaimana Donghyuck, kau bersedia membantu kami mengawasi putra bungsuku? Renjun akan bekerja di T Corp. "
Donghyuck mengalihkan atensi setelah mendengar nama perusahaan itu. Salah satu perusahaan pesaing Huang corp, namun untuk apa bungsu Huang ini bekerja disana?
"Tak perlu khawatir Donghyuck, walau T corp adalah pesaing kami, mereka juga terikat baik dengan kami jadi tidak ada salahnya jika Renjun masuk kesana. Dan alasan kenapa Renjun ingin bekerja disana, kau tanya saja pada adik kecilku"
Donghyuck kembali memusatkan perhatiannya pada Renjun, menunggu jawaban si bungsu Huang.
"Ingin saja, perusahaan Baba membosankan"
Jawaban paling absurd yang pernah Donghyuck dengar, apa Renjun tidak ingat jika keluarganya adalah keluarga mafia? Bisa saja dirinya menjadi sasaran para musuh sang ayah dan juga, dilihat dari perilaku dan penampilan lelaki itu, Renjun sangat berbeda dari Huang Zithao dan Huang Junhui. Huang Renjun nampak lebih berwarna? Dan jauh dari kata tegas serta menyeramkan. Wajahnya terlihat polos. Maka itu jika musuh tau Renjun adalah seorang Huang, maka hidupnya akan terancam.
Tunggu..... Mengapa Donghyuck memikirkan sampai sedetail itu?
"Berarti aku akan tinggal bersamamu?" tanya Renjun antusias, lelaki itu kembali mendekatkan dirinya pada Donghyuck. Memberikan senyuman ceria pada sang mafia.
Donghyuck menaikkan sebelah alisnya,
"Kau akan tinggal di apartment mu sendiri baobei"
"Tak apa tuan Huang, Renjun bisa tinggal di mansion saya"
Detik itu juga Donghyuck terdiam, tidak tau kenapa ia langsung menawarkan Renjun untuk tinggal di mansionnya. Terlanjur, mau bagaimanapun ia tidak bisa menarik ucapannya.
Tidak, setelah ia tertarik dengan bungsu Huang ini.
<><><><>
"Apa masih lama? mansionmu dekat dengan kantorku? Mansionmu ada kolam renangnya tidak? Hyung, ternyata kau lebih tua dariku, tapi aku tidak mau memanggilmu hyung, kupikir panggilan Hyuckie cukup lucu, Hyuckie, bagaimana menurutmu?"
Donghyuck menghela nafasnya, serentetan pertanyaan Renjun lampirkan padanya setelah mereka sudah menginjakkan kaki di korea. Namun, jika biasanya ia akan lelah dengan serentetan kalimat, kali ini justru sang mafia merasa tidak terbebani, dengan santainya Donghyuck menjawab seluruh pertanyaan Renjun. Bahkan sang supir pun merasa aneh pada tuannya.
"Hyuckie, kenapa kau mau menampungku? Maksudku selain karena kau teman gege. Oh apa karena aku tampan? Aku manis? Sudah pasti itu, pesona Huang Renjun memang tiada dua. Benar kan pak supir?"
Sang supir mengangguk kikuk, tak tau harus menanggapi tamu tuannya seperti apa. Sedangkan Haechan sekali lagi menghela nafas, ia tidak tau jika Renjun akan secerewet ini.
Mansion Donghyuck terbilang megah, namun tidaklah seramai seperti apa yang dipikirkan Renjun. Hanya ada penjaga dan beberapa bawahan Donghyuck.
Baru memasuki mansion milik Donghyuck, mata Renjun sudah berbinar cerah. Pasalnya apa yang ada di dalam rumah sangat berbeda jauh dari luar. Tema classic menjadi hal pertama yang Renjun lihat, terkesan cantik dan elegant.
"Hyuckie, apa kamarku dan kamarmu bersebelahan?"
"Memangnya kenapa?"
"Kalau ada apa-apa aku bisa memanggilmu, benar kan paman?" tanya Renjun pada pelayan Donghyuck. Sang pelayan hanya mengangguk pelan, diam-diam tersenyum karena interaksi tuan dan tamunya ini.
"Hyuckie, kau harus lebih sering tersenyum seperti paman ini dan aku. Lain kali aku akan mengajarimu tersenyum"
"Bisakah kau lebih sopan, bocah?"
"Hyuckie itu panggilan bagus tau, dan umur kita hanya beda dua tahun. Dan kau bukan hyungku. Aku tetap akan memanggilmu Hyuckie"
Untuk kesekian kalinya Donghyuck menghela nafas. Kali ini ia membiarkan bungsu Huang itu menyeret paman yang membawa koper untuk diajak berbincang disepanjang lorong jalan menuju kamar.
<><><><>
Mungkin untuk pertama kalinya seisi mansion hanya terdiri dari boss dan anak buahnya melihat kericuhan dan kegaduhan di rumah itu. Penyebabnya adalah Huang Renjun, anggota baru dirumah itu. Helaan nafas Donghyuck juga semakin sering akibat semua perilaku Renjun.
Hampir setiap hari mereka mendengarkan ocehan Renjun dan deheman singkat Donghyuck. Dan ini sudah satu minggu sejak Renjun tinggal di mansion milik Donghyuck.
Donghyuck selalu was-was jika Renjun pergi ke kantor tempat ia bekerja. Kadang Donghyuck berfikir kenapa tuan Huang dan Junhui memperbolehkan lelaki ceroboh itu untuk bekerja di luar pengawasan keluarga Huang. Tetapi Donghyuck tetaplah Donghyuck, ia tidak perlu ikut campur sedalam itu.
Memperbolehkan Renjun tinggal di mansionnya saja sudah sangat aneh menurut Donghyuck, terlebih jika ia mengulik terlalu dalam keluarga Huang.
Ada hal-hal baru yang dirasakan Donghyuck sejak mengenal Renjun. Hal baru yang belum pernah ia rasakan sama sekali. Saat kecerewetan bungsu Huang itu mulai memasuki rungunya, biasanya Donghyuck akan dengan cepat memotong pembicaraan. Namun lain hal dengan Renjun, sang mafia justru setia mendengarkan.
Atau saat Renjun tidak dalam pengawasannya karena baik ia maupun Renjun harus bekerja. Saat itu juga pikiran sang mafia tertuju pada lelaki berambut dua warna itu. Takut-takut jika sesuatu terjadi padanya mengingat T corp adalah salah satu pesaing keluarga Huang. Tetapi Donghyuck tidak yakin jika T corp benar-benar terikat baik dengan Huang corp. Beruntung mereka tidak mengetahui jika Renjun bagian dari Huang.
Menurut Donghyuck, dunia gelap tidaklah cocok bagi Renjun. Dimata nya Renjun sosok yang ceria dan jauh dari kata 'gelap'. Renjun terlalu terang untuk menjadi salah satu bagian dari keluarga dari mafia.
"...kie....
"....."
"Hyuckie?! Kau tidak mendengarkanku?"
"Hmm"
"Kau tidak asik. Aku sedang cerita, dengarkan aku. Kenapa di tempat bekerjaku sangat kompetitif. Kau tau, semua karyawan mungkin bermuka dua. Mereka akan sangat baik di depan atasan dan dibelakang mereka akan seperti sosok ibu tiri. Hiii mengerikan"
"Yasudah, keluar saja"
"Tidak mau! Mereka seru asal kau tau. Para penjilat itu tidak menyukai boss mereka. Ngomong-ngomong Hyuckie, kau tau pemilik T Corp mereka ini siapa?"
Donghyuck menghentikan tangannya saat akan meminum kopinya. Sedikit terkejut dengan nada bicara Renjun yang sedikit berbeda. Bukankah Renjun juga sudah mengetahui siapa pemilik dari perusahaan tempat dirinya bekerja?
"Tidak"
"......."
"Apa?"
"Kenapa kau tidak seru!! Ck, menyebalkan, aku main saja paman saja"
Diam-diam Donghyuck tersenyum kecil dengan tingkah anak bungsu dari mantan ketua mafia itu. Satu minggu lebih mengenal Renjun cukup membuat Donghyuck tau sifat lelaki yang lebih muda darinya itu.
Satu minggu pertama, Renjun sukses membuat mansion milik Donghyuck terlihat 'ceria'. Dua minggu setelahnya, para pelayan menyadari sebuah perubahan besar pada tuan mereka. Yaitu Donghyuck lebih sering di ruang tamu daripada menghabiskan waktunya di kamar seperti yang selalu ia lakukan. Lebih sering menarik ujung bibirnya jika sedang bersama Renjun. Dan para pelayan diam-diam berterima kasih pada Renjun karena membuat tuan mereka yang dingin menjadi sedikit terbuka.
<><><><>
Renjun memutar-mutar bolpoin yang berada di tangannya. Laporannya sudah selesai dan yang ia lakukan hanya duduk memutar kursi ke kanan dan kiri sembari bermain bolpoint, hingga membuat rekan kantornya dengan akan tingkahnya.
"Renjun, jika kau tidak ada pekerjaan maka diamlah. Kau membuat fokusku pecah"
"Tidak heran fokusmu pecah, aku memang mempesona"
"Maksudku bukan seperti itu. Kau... ah sudahlah-
Renjun terkikik geli, menggoda teman kerjanya menjadi kesenangan tersendiri akhir-akhir ini. Tawa kecilnya terhenti begitupun juga gerakan tubuhnya. Secara tiba-tiba Renjun menarik kursi untuk mendekat ke arah temannya.
"Berhenti mengagetkanku" ucap rekan Renjun geram dalam bisikan, tidak mempunyai cukuo nyali untuk berteriak.
"hehe santailah Shotaro, ngomong-ngomong ada yang ingin ku tanyakan"
"Kau selalu menanyakan hal tak penting, jadi lebih baik kau kembali ke tempatmu dan kembali bekerja"
"ck, aku sudah selesai dan ini penting. Ayolah Taro-ya, akan kubantu pekerjaanmu. Aku janji"
Renjun menaikkan jari kelingkingnya, tak lupa cengiran lebar untuk membujuk Shotaro.
Menghela nafas akhirnya Shotaro menyetujui.
"Baiklah"
"Yeesss!!"
"Diamlah! Kau mau kita ketahuan?" sergah Shotaro.
"Jadi, apa yang ingin kau tanyakan?"
"Kau tau rupa boss kita?"
"Itu pertanyaanmu?"
"Sebenarnya ada banyak, tapi itu dulu"
Shotaro menghela nafas lelah, ingatkan dia jika Renjun adalah karyawan baru.
"Kau disini sudah berapa minggu? Dan kau selalu melewati lobi yang terdapat foto tuan Kim sebesar itu. Kau tidak lihat?"
"Kau yakin itu boss asli kita?"
"Aku tidak tau kenapa kau bisa diterima di perusahaan ini"
"Heii!!"
"ck, sudahlah. Apalagi yang ingin kau tanyakan?"
"Itu saja"
Shotaro menganga tidak percaya, setelah ia direcoki dan hanya satu pertanyaan keluar dari bibir lelaki yang tak lebih tinggi darinya itu?
"Jangan marah hm~ akan kubantu pekerjaanmu"
Renjun hanya mengerjai Shotaro.
<><><><>
Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore dan Renjun baru beranjak dari kursi kantornya. Ia harus lembur satu jam karena janjinya pada Shotaro untuk mengerjakan laporan lelaki tersebut.
Renjun mematikan monitornya dan segera menuju pintu keluar, tetapi terkagetkan saat pintu ruangan terdorong dari luar.
"Oh, kukira sudah tidak ada orang, kau karyawan baru? Aku baru melihatmu di devisi ini"
"Iya, nama saya Renjun"
Renjun membungkuk 90° pada seseorang di hadapannya, meski ia kurang tau siapa orang tersebut. Renjun sedikit gugup.
"Aku Kim Haein, salam kenal Renjun-ssi" Haein memperkenalkan diri, senyumnya mengembang.
Kim Haein, anak dari Kim Tae Ha, pemilik perusahaan ini.
<><><><>
"Aku pulaaaanngg~"
Seruan Renjun mengagetkan dua lelaki yang berada di ruang tamu. Langkah kaki Renjun terhenti saat matanya bersiborok dengan salah satu diantaranya.
"Aku tidak tau kau mempunyai kekasih Hyuck" pria itu tersenyum miring, memutus kontak dengan Renjun dan men-scan Renjun dari atas sampai bawah.
"Oke juga"
"Dia bukan kekasihku"
"Ralat, yang benar aku calon kekasih Hyuckie, kalau hyung siapa?"
Renjun dan segala tingkah manja serta humblenya telah kembali.
"Jaemin, Na Jaemin. Jadi kau lebih muda dari kami?"
Renjun mengangguk antusias, ia mendudukkan diri di dekat Jaemin dan diberi hadiah dengusan dari sang pemilik mansion.
"Najaem hyung juga seorang mafia?"
"Najaem? Haha apa itu panggilan untukku? Dan darimana kau tau mafia-mafia hm? Apa Donghyuck mengajarimu?"
"Dia Huang"
Jawaban singkat dari Donghyuck sukses membuat bola mata Jaemin melebar. Siapa yang tidak tau Huang? Tentu saja seorang mafia seperti Jaemin tau siapa itu Huang. Dan bagaimana bisa seorang Huang berparas polos nan lucu macam lelaki ini? Jaemin tidak habis fikir.
"Salam kenal Najaem hyung, aku Huang Renjun. Bisa dibilang calon kekasih Hyuckie"
Donghyuck menarik ujung bibirnya, dan itu tidak lepas dari atensi Jaemin. Seorang Lee Donghyuck tersenyum dengan amat mudah, itu hal luar bisa bagi Jaemin.
"Kenapa kau tersenyum? Pada akhirnya kau bisa merasakan menyukai seseorang, huh?"
Saat itu juga Donghyuck melunturkan senyumnya. Dan kini senyum kemenangan ada pada Jaemin.
Kena kau, Hyuck
"Apa yang kau bicarakan?"
Tak mempedulikan Donghyuck kini Jaemin kembali beralih pada Renjun. Pada dasarnya pria Na ini mempunyai senyum manis, maka kini senyuman itu ia berikan pada Renjun.
"Nah, Renjun, daripada kau bersama mafia dingin satu ini. Bagaimana kalau kau denganku saja. Aku tak kalah tampan, ssstt dan aku kuat"
Untuk kalimat terakhir Jaemin berbisik kecil, bermaksud untuk menggoda Renjun.
Renjun paham tentu saja, ia terkikik geli dan tawanya bertambah lepas saat Donghyuck mepempar bantal sofa pada kepala Jaemin.
"Jaga bicaramu dasar pria mesum"
"Tolong berkaca pria dingin mesum"
Jaemin mencibir Donghyuck.
"Renjunie, kepalaku sakit bisa tolong usap~"
"Sebaiknya kau pulang sebelum kupatahkan lehermu Na Jaemin"
Jaemin tidak pernah berfikir jika menggoda kawannya akan semenyenangkan ini. Tawanya menguar bersama tawa Renjun tanpa mempedulikan betapa sinisnya seorang Lee Donghyuck.
Pada akhirnya kini tinggal Donghyuck serta Renjun seleas kepulangan Jaemin. Sesegera Renjun mendekati Donghyuck, ia bahkan masih mengenakan jas kerjanya.
"Kenapa terlambat?"
Belum sempat Renjun berbicara, Donghyuck sudah memberinya pertanyaan.
"Ada sedikit pekerjaan dan aku harus menyelesaikannya saat itu juga. Ngomong-ngomong Hyuckie, aku bertemu dengan seseorang. Dia sama sepertimu, sama-sama tampan hehe"
Donghyuck menaikkan sebelah alisnya, menunggu Renjun untuk melanjutkan ucapannya.
"Namanya Kim Haein. Tampan seperti Hyuckie"
"Kau bilang siapa? Kim Haein?"
Dari intonasi ucapannya, dapat Renjun simpulkan jika Donghyuck sedikit terkejut dan ada nada tak suka dalam pertanyaannya. Renjun hanya mengangguk sebagai jawaban, namun senyumnya masih ia pertahankan.
"Jauhi dia"
Dua kata, tegas. Ada nada intimidasi disana yang dapat Renjun rasakan. Ia tidak tau kenapa Donghyuck memintanya menjauhi Haein.
"Tapi Haein atasanku, bagaimana aku menjauhinya? Lagipula kenapa aku harus menjauhinya?"
"Hanya jauhi saja dia. Apa kau tidak paham kalimatku?"
"Tentu saja tidak. Haein putra dari tuan Kim Tae Ha. Dan tuan Tae Ha Adalah teman ayahku. Bilang padaku apa alasan aku harus menjauhinya?!"
Donghyuck menatap netra yang terlihat menantangnya itu. Tangan terlipat di dada, bibir mengerucut dan mata melotot. Bagaimana bisa ada seseorang ketika marah tetapi terlihat lucu?
"Bisakah kau menurutiku?"
"Tidak"
"Aku tidak menyukainya, jadi jauhi Kim Haein, jangan banyak berinteraksi padanya. Mengerti"
"Tidak. Kenapa aku harus menjauhinya jika kau tidak menyukai Haein. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Hmm? Ohh kau suka padaku kan Hyuckie? Memang aku kan calon kekasihmu jadi kau ingin aku menjauhinya, benar kan Hyuckie?"
"Tidak"
"Yasudah. Aku tidak akan menurutimu. Bye"
Renjun melenggang pergi meninggalkan Donghyuck dengan tangan memijat pelan pelipisnya
Berbahaya, ini akan sulit.
<><><><>
Pagi harinya saat Renjun menuruni tangga hendak bersiap berangkat, ia mendapati Jaemin serta Donghyuck sudah rapi dengan setelan hitam mereka. Jaemin memberikan senyuman dan sapaan kecil pada Renjun saat mata mereka bertemu, namun Renjun fokus pada ekspresi datar, dingin milik Donghyuck.
"Kalian mau kemana?"
"Kita mau jalan-jalan dulu adik kecil, kau jaga rumah"
"Hyuckie?" tak puas dengan jawaban Jaemin, lantas Renjun menuntuk jawaban dari Donghyuck dan membuat lelaki itu menghela nafasnya.
"Aku ada misi, dan butuh waktu beberapa hari. Minta apapun pada paman Han, jika bepergian harus dengan paman Han. Dan ingat apa yang kukatakan kemarin Renjun, jauhi Kim Haein. Mengerti?"
Renjun hanya mengerucutkan bibirnya alih-alih menjawab.
"Aku pergi dulu" usapan lembut didapat Renjun di pucuk kepala.
Donghyuck meninggalkan mansion diikuti Jaemin setelah menitip Renjun pada paman Han. Donghyuck berharap Renjun akan menuruti kata-kata nya, jika tidak maka akan membahayakan bungsu Huang itu.
"Renjun mengenal Kim Haein?" tanya Jaemin saat mereka berada di mobil porche milik Donghyuck.
"Anak pemilik perusahaan tempat Renjun bekerja, dan mereka baru saja berkenalan"
"Kau harus mengawasinya 24 jam Hyuck"
"Aku tau"
<><><><>
Markas yang di datangi Donghyuc dan Jaemin nampak berantakan, kertas-kertas berhamburan, meja dan kursi tidak pada tempatnya serta segala peralatan terpencar. Tatapan dingin nan datar milik Donghyuck menghunus dua orang penyusup.
"Kau sudah datang boss?"
"Bagaimana bisa kecoa ini masuk?"
Donghyuck berjongkok yepat di depan penyusup yang sudah babak belur. Tangannya menjambak rambut sang penyusup dan ditarik agar menengadah menghadap ke arahnya.
"Maaf boss atas kelalaian kami"
Salah satu anak buah Donghyuck menjawab.
"Dimana boss kalian sampai dia mengirim orang-orang bodoh seperti kalian?" ucap Donghyuck sangat datar namun tidak dijawab.
"Jawab bodoh!!"
Sisi wajah salah satu penyusup di tendang Jaemin.
"Tidak mau menjawab?"
"Kau suruhannya bukan?"
Intonasi Donghyuck tidak berubah, masih datar.
"Baiklah jika tidak ingin menjawab, konsekuensi ada pada kalian"
Donghyuck mengambil pistol yang ia sembunyikan balik jaketnya, ia tarik pelatuknya dan mengarahkan pada kepala sang penyusup.
"Hei, lihat kawanmu baik-baik"
Dorr!!
Darah mengucur melalui kepala hingga mengenai penyusup satu lagi. Raut wajah ketakutan manpak jelas pada penyusup itu. Manik matanya bergetar kala menatap manik dingin milik Donghyuck.
"Ampuni aku, ampuni aku, aku akan mengatakan semuanya tapi tolong ampuni aku-
Donghyuck kembali berjongkok, wajah angkuh nan dinginnya menatap remeh pada penyusup itu.
"ck kenapa orang itu mengirim orang bodoh sepertimu. Dari tatomu saja sudah terlihat kau suruhan siapa. Jaemin kau ingin bersenang-senang?"
"ohoo apa yang harus kulakukan?"
"Terserah, kau siksa juga aku tidak peduli. Yang pasti penggal kepalanya, lalu kirim pada Kim Haein untuk hadiah kecil"
"Roger boss"
Seringaian melebar seiring rasa ketakutan penyusup itu terlihat. Donghyuck bisa mendengar teriakan saat ia meninggalkan ruang tersebut.
"Kim Haein, kau salah memilih lawan"
Satu batang nikotin Donghyuck keluarkan dari wadahnya, ia hidupkan pematik untuk disulutkan pada rokok. Satu kepulan asap Donghyuck hembuskan melalui bibir.
Pikirannya kini tertuju pada lelaki yang berada di mansionnya. Sebisa mungkin ia harus bisa meyakinkan Renjun untuk menjauhi Kim Haein, bagaimanapun caranya. Karena akan sangat berbahaya jika Kim Haein tau Renjun tinggal bersamanya yang merupakan musuh Kim Haein.
Kim Haein lah yang berusaha ingin menghilangkan Donghyuck dan menguasai wilayah kekuasaan Donghyuck, yaitu korea selatan. Kim Haein ingin menghilangkan tittle the eagle mafia milik Donghyuck serta membuat Donghyuck bersujud padanya.
Kim Haein seseorang yang sangat berbahaya.
Donghyuck mengambil gawai di ponselnya dan menghubungi salah satu bawahannya.
"Awasi Huang Renjun selama aku tidak bersamanya. Lapor apapun tentangnya, jangan sampai terluka. Mengerti"
"Baik boss"
Ponsel dimatikan, Donghyuck kembali menghisap benda bernikotin itu.
<><><><>
"Kudengar tuan kim muda datang hari ini"
Percakapan dibuka dengan Shotaro yang membicarakan atasan mereka.
"Siapa?"
"Kim Haein"
"Bukankah memang selalu datang, aku bertemu dengannya saat menyelesaikan laporanmu"
Shotaro menoleh secara cepat ke arah Renjun dengan raut terkejut.
"Kau? Bertemu dengannya?"
"Ada apa denganmu?" alis Renjun menyerngit, Shotaro menoleh kesana-kemari kemudian menarik kursinya untuk mendekat ke arah Renjun.
"Kau tau Renjun-ah, Tuan Kim Haein bahkan tidak pernah repot-repot untuk datang, dan sekarang dia datang dan fakta kau baru bertemu dengannya kemarin juga-
"ehhm seru sekali, boleh saya meminjam Huang Renjun sebentar"
Satu kalimat memotong icapan Shotaro, kini bukan hanya Shotaro yang terkejut namun seluruh karyawan di devisi tersebut saling pandang.
"Jadi? Huang Renjun temui saya di ruangan"
Rahang Shotaro menganga seiring kepergian Kim Haein. Sementara Renjun masih memproses apa yang terjadi. Seingatnya ia tidak pernah melakukan kesalahan.
"Hei Taro-ya, apa aku melakukan kesalahan?"
"Mana aku tau, cepat kesana atau kau akan dipecat"
"Haahh??!! Kau gila, Taro-ya jika aku benar-benar dipecat, tolong carikan tempat kerja untukku huhuhu tapi aku tidak mau berpisah denganmu. Sahabatku, doakan aku"
Renjun mengelap sudut matanya yang sama sekali tidak berair. Diam-diam dia merasa was-was juga, bagaimana jika ia benar-benar dipecat?
Baru saja tangannya menggapai gagang pintu, Renjun kembali membalukkan badan.
"Taro-ya!! Dimana ruangan tuan Kim?"
<><><><>
Renjun mondar-mandir di depan ruang milik Kim Haein hingga ia terlonjak kaget saat pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri.
"Tuan Kim, maafkan saya" Renjun membungkuk sedalam yang ia bisa.
"Kau lucu sekali, masuklah"
Renjun tidak salah mendengar bukan? Kim Haein tertawa? Renjun sempat mendengar desas desus dari karyawan lain saat di dalam ruangannya jika Kim Haein adalah seseorang yang dingin.
"Duduklah Renjun"
Renjun nampak bingung serta tersenyum kikuk, tangan Kim Haein mempersilhkan Renjun duduk di sebelahnya. Tepatnya di sofa panjang milik Kim Haein.
"Disini Renjun, jangan canggung seperti itu"
Kim Haein menunjuk tempat di depannya.
"Maafkan saya tuan Kim bukan bermaksud lancang, tapi apa saya melakukan kesalahan?"
Dahi Renjun berkerut tak suka saat tawa keluar dari bibir itu. Kesal, Renjun tidak suka berbasa-basi dengan orang yang tidak disukainya.
"Tidak, kau tidak melakukan kesalahan apapun. Saya hanya ingin mengobrol denganmu. Saya hanya tertarik denganmu"
Oh, Crab
Renjun tidak pernah mengira jika atasannya akan berbicara gamblang seperti itu.
"Maaf?"
"Kupikir aku sudah mengatakan dengan jelas, dan jangan terlalu formal. Panggil saja Haein jika kita sedang bersama"
Haein mendekati Renjun, menjulurkan telunjuknya untuk menyentuh dagu Renjun.
"Bagaimana Renjun?"
"M-maafkan saya tuan Kim, saya banyak pekerjaan. Saya permisi"
Buru-buru Renjun meninggalkan ruangan Kim Haein dan langsung menuju kamar mandi. Sesegera mungkin ia membasuh dagu yang baru saja disentuh oleh atasannya. Sumpah serapah terus ia keluarkan dari bibir tipisnya.
"Kurang ajar sekali, memang dia pikir dia siapa huh? Tidak ada sopan santun sama sekali, dasar bosa tidak tau diri. Kau bukan Hyuckie, bodoh. Huh menyebalkan!!"
Ocehan Renjun bahkan tidak berhenti sampai ia tepat berada di balik layar komputernya. Bahkan tak digubris saat Shotaro bertanya.
"Hyuckie cepat pulang!!"
<><><><>
Donghyuck meremat ponselnya setelah ia mendapatkan kabar tentang Renjun. Sudah hampir lima hari ia tidak bertemu Renjun, dan kabar dari bawahannya jika Kim Haein terlihat mendekati Renjun.
Rasa terbakar di dada Donghyuck membuatnya ingin melenyapkan Kim Haein. Bukan hanya karena Haein musuhnya melainkan juga karena Kim Haein berani sekali dengan lancang menyentuh Renjun-nya.
Renjun-nya huh??
Sejak Donghyuck bertemu dengan Renjun untuk pertama kalinya di kediaman Huang, atensinya seolah terpusat pada bungsu Huang itu. Anggap ini konyol namun ini pertama kalinya Donghyuck merasakan ketertarikan dengan seseorang.
Lamunan Donghyuck terpech saat Jaemin datang dengan satu amplop besar berwarna coklat di tangannya.
"Kau mengirim ajudanmu untuk mengawasi Renjun?"
Donghyuck menaikkan sebelah alisnya, pasalnya ia tak memberitahu siapapun. Namun Donghyuck berfikir lagi, ini adalah Jaemin tentu saja dia pasti mengetahuinya. Jaemin memberikan amplop coklat itu pada Donghyuck.
"Kurasa laporan mengenai Renjun"
Donghyuck mengambil amplop itu dan membukanya, tidak mempermasalahkan bagaimana biaa berada di tangan Jaemin.
Rahang Donghyuck mengeras ketika satu demi satu isi dari amplop itu ia lihat.
"Pulanglah aku akan mengurus sisanya" walau Jaemin tak tau apa yang dilihat Donghyuck, tapi ia yakin dari raut wajah temannya jika itu bukanlah hal baik.
"Jaem, bukankah ini aneh?"
"Tidak ada yang aneh mengenai cinta Hyuck. Aku tidak tau apa isi di dalam amplop itu tapi kurasa bukan hal baik. Dan kurasa juga ada kaitannya dengan Kim Haein. Kau hanya baru merasakan cinta, jika apa yang kau lihat mengganggumu maka selesaikan"
"Bukankah kau ada perasaan untuk melindunginya? Kau bukan orang seperti itu Hyuck, aku mengenalmu lebih dari siapapun. Matamu setiap melihat Renjun terlihat berbeda. Lakukan seperti apa yang ingin kau lakukan. Kau tak ingin Renjun berakhir seperti Jeno bukan? Jangan jadi sepertiku menyesal tidak bisa melindungi Jeno-ku Hyuck. Musuhmu adalah Kim Haein, dia sangat berbahaya dan kau tau itu. Pulanglah, aku akan mengurus sisanya"
Jaemin menepuk pundak Donghyuck. Bagi Jaemin Donghyuck adalah teman berbagi cerita suka dan duka. Walau Donghyuck adalah mafia berhati dingin, namun dimata Jaemin, Donghyuck tetaplah seorang pria dewasa biasa. Dan ia tak ingin Donghyuck mengalami hal yang sama dengannya, kehilangan cinta disaat ia meragukan perasaan. Bahkan ia gagal melindungi Jeno-nya, Jeno yang sudah menjadi kekasihnya saat itu.
Jaemin bertengkar hebat dengan Jeno kala itu, saat dimana Jaemin meragukan perasaannya dan juga perasaan Jeno. Dan saat itu juga mereka memiliki misi bersama, dalam keadaan marah dan hilangnya komunikasi membuat musuh dengan mudah memisah keduanya. Hingga Jeno berhasil di tawan dan berakhir babak belur. Pun sama halnya dengan Jaemin, satu tembakan bersarang di kakinya, namun penyesalan terbesarnya adalah ia tidak berhasil menyelamatkan sang kekasih.
Jeno membawa dirinya menjadi tameng untuk Jaemin, sehingga Jaemin terselamatkan dari tembakan. Disaat terakhir Jaemin bisa melihat lelehan air mata mengalir dari sudut mata Jeno. Bibir Jeno melengkung menciptakan kurva indah hingga matanya membentuk bulan sabit cantik. Kata cinta Jeno berikan pada Jaemin di akhir hayatnya. Saat itu juga nyawa Jeno tidak tertolong dan tangisan Jaemin tidak terbendung lagi.
Jaemin menyesali apa yang terjadi padanya dan sang kekasih. Maka dari itu ia tak ingin Donghyuck merasakan hal yang sama walau perasaan mereka masih abu-abu. Namun ia tau jika Donghyuck menyukai Renjun.
<><><><>
Jam menunjukkan pukul 00:35 dini hari dan Renjun masih terjaga. Beruntung esok adalah hari libur, jadi Renjun bisa bersantai sedikit.
Angin di balkon berhembus menerbangkan helaian rambutnya. Balkon kamar Donghyuck terlihat sangat luas dan nyaman. Ya, saat ini Renjun berada di kamar sang pemilik mansion. Tidak ada alasan apapun, ia hanya ingin berasa disini saja. Beruntung tidak dikunci oleh sang pemilik.
Suara handle pintu mengalihkan atensi Renjun, ia menoleh dan mendapati Donghyuck dengan leather jacket nya berasa di ambang pintu. Sontak Renjun langsung berlari menghampiri si pemilik kamar.
"Hyuckie!!! Kau sudah pulang? Lama sekali, aku kesepian kau tau"
"Kenapa kau berada di kamarku?"
"Memangnya kenapa? Kau tidak ada dan pintu tidak dikunci yasudah aku masuk"
Bagaimana Donghyuck bisa marah pada lelaki ini, wajah polosnya membuat fokusnya buyar.
"Duduk" titah Donghyuck
Renjun menurut, ia duduk sofa tepat di depan Donghyuck yang mendudukan diri di single sofa.
"Kau tidak menuruti perintahku? Sebelum aku pergi, apa yang kukatakan?"
"Tapi kau tidak memberitahu alasannya!"
"Tidak perlu alasan. Jauhi Kim Haein"
"Kau pulang hanya untuk memarahiku?"
Bibir Renjun mengerucut tak senang. Demi apapun Renjun tidak suka perintah dan dibentak.
"Memang kenapa dengan Haein? Aku tidak menjauhinya karena dia atasanku"
"Apa ciumannya sangat hebat sampai kau membelanya?"
Donghyuck mengambil satu lembar foto dari saku jaketnya dan memperlihatkan pada Renjun. Foto Kim Haein yang terlihat seperti mencium Renjun. Rahang Renjun terbuka karena entah kebodohan siapa disini. Namun seringai muncul kemudian Renjun menghampiri Donghyuck.
"Kau cemburu? Ayo bilang padaku jika kau cemburu Hyuckie"
"Tidak ada yang cemburu"
"Yasudah jika tidak, bukan urusanmu jika aku berciuman dengan Haein"
Donghyuck menarik lengan Renjun hingga lelaki itu terjatuh ke pangkuannya. Kini posisi Renjun lebih tinggi dari Donghyuck.
"Katakan padaku, apa ciumannya sehebat itu?"
"Kenapa kau sangat penasaran dasar mafia aneh. Ayo sekarang katakan padaku jika kau menyukaiku dan cemburu melihatku dengan Haein, maka akan aku beritahu nanti"
Tangan ramping Renjun menepuk-nepuk pelan pipi Donghyuck, ia sedikit memajukan badannya.
"Kau benar, aku cemburu dan aku menyukaimu"
Tepukan pada pipi Donghyuck terhenti, Renjun tidak menyangka dengan jawaban sang mafia.
"Jadi, jawab aku"
"Kita pacaran sekarang?"
Alih-alih menjawab, Renjun malah menanyakan hal lain dengan wajah berbinarnya.
"Aku hanya bilang aku menyukaimu dan tidak mengajakmu pacaran"
"Kau sangat menyebalkan. Yasudah aku saja yang mengajakmu pacaran!"
Donghyuck terkekeh pelan, ia raih tangan Renjun lalu mengecup pergelangan tangan lelaki Huang itu.
"Kau kekasihku sekarang, jadi dimana bekas Kim sialan Haein itu menyentuhmu?"
Renjun sedikit bergetar mendengar suara dingin Donghyuck. Namun dengan berani ia mencondongkan wajahnya untuk mendekat pada yang lebih tua.
"Hyuckie ingin menghapus jejaknya? Tapi Hyuckie belum mandi, aku tidak mau!"
Belum sempat Renjun berdiri, pinggangnya sudah diraih oleh sang kekasih.
"Kau ternodai dan aku harus menghapusnya. Dan aku sudah mandi, kitten"
Gelenyar aneh di dada Renjun saat Donghyuck memanggilnya kitten dengan suara rendahnya. Tanpa basa basi Renjun mengubah posisinya untuk duduk di pangkuan Donghyuck dan menghadap ke arah sang mafia. Tangannya mengalung pada leher sang kekasih.
"Go ahead, master"
Tersenyum, Donghyuck mendekatkan bibirnya untuk merasakan sentuhan langsung pada bibir Renjun. Membawa Renjun pada ciuman panjang nan manis. Donghyuck menggigit kecil bibir bawah sang kekasih menimbulkan lenguhan pelan dari lelaki itu. Lidahnya mengetuk pelan untuk meminta akses, ia ajak lidah Renjun untuk menari bersama. Kecapan basah terdengar di seluruh penjuru kamar Donghyuck. Lenguhan Renjun tak tertahan lagi, terlebih saat tangan dingin sang mafia dengan sengaja merambat naik masuk kedalam kaos putih miliknya.
Sentuhan dingin dari telapak tangan Donghyuck di punggung Renjun membuat lelaki dipangkuannya melepas ciuman dan merapatkan diri padanya. Tidak habis akal, kini leher Renjun menjadi sasaranya. Renjun menengadah, membiarkan leher jenjang miliknya dijelajahi oleh Donghyuck. Lidah kasar Donghyuck menjilat pelan kulit permukaan Renjun, kemudian dia sesap hingga menimbulkan ruam merah segar.
"H-hyuckie~
Suara pelan mendayu saat bibir Donghyuck kembali menyesap leher Renjun serta tangan sang mafia berhasil meraih tonjolan kecil di dada Renjun. Remasan kuat Renjun berikan pada rambut Donghyuck, menyalurkan hasrat dalam dirinya.
"Eunghhh Hyuckie...
Donghyuck menarik diri, dapat ia lihat raut kecewa dari wajah Renjun. Ia terkekeh pelan, sang kekasih sangat lucu saat ini. Tanpa meminta ijin ia tarik kaos Renjun ke atas hingga kini sang kekasih bertelanjang dada.
Dada Renjun terlihat naik turun terengah menambah kesan sexy di mata Donghyuck. Tak menpedulikan apa yang dilihat Donghyuck, kini kedua tangan Renjun menangkup wajah Donghyuck untuk mempersatukan kembali bibir keduanya yang sudah membengkak.
Rambut Donghyuck kembali menjadi sasaran rematan Renjun saat tangan sang mafia bermain dengan nipplenya disaat bibir keduanya masih menyatu untuk saling menghisap. Donghyuck menurunkan ciumannya menuju rahang, kemudian leher, memberikan seluruh kecupan di leher jenjang itu. Renjun memekik kaget saat tubuhnya dibawa pindah untuk direbahkan pada sofa panjang.
Tidak sampai disitu, kecupan Donghyuck menuju dada Renjun tak lupa untuk meninggalkan tanda kepemilikan disana. Nipple Renjun bahkan sudah mengeras saat Donghyuck dengan sengaja menjikat dan meniupnya. Seperti seorang bayi, sang mafia mengulum perlahan tonjolan kecil keras milik sang kekasih hingga lenguhan Renjun kembali teedengar.
"mmhhh hyuckiehh kau keras sayang"
Lutut Renjun tidak sengaja mengenai bagian selatan milik Donghyuck. Sang mafia menggeram pelan, sedari tadi ia menahan nafsunya yang membuncah.
"Hyuck.. Ah jangan digigit"
Dada Renjun benar-benar dipermainkan, baik menggunakan bibir, lidah maupun tangan. Donghyuck benar-benar membuatnya gila.
Donghyuck menarik diri, membawa Renjun kembali duduk di pangkuannya.
"Katakan, lebih hebat siapa dalam menciummu Renjun?"
Satu pertanyaan mampu membuat Renjun tertawa lepas. Ia menepuk-nepuk pundah lebar sang kekasih.
"Kami tidak melakukannya Hyuckie, kau yang paling hebat. Hyuckie-ku paling hebat. Jadi, perlu bantuan tuan hebat?"
Renjun dengan sengaja menggesekkan bokongnya pada penis Donghyuck yang sudah mengeras dari tadi membuat sang mafia menahan nafasnya serta memejamkan mata.
"Jika kau terus menggodaku kupastikan kau tidak akan bisa berjalan selama satu minggu sayang. Dan kita masih ada ingin kubicarakan"
Renjun mendengus namun menuruti Donghyuck, ia mulai menceritakan segala hal yang dia alami bersama Kim Haein, soal foto itu swcara tidak sengaja Haein hanya menempatkan wajahnya tepat di depan Renjun saat Renjun sedang melamun.
"Dia terlalu berbahaya Renjun, aku tidak ingin kau terluka"
"ughh kau manis sekali"
Donghyuck menghela nafas, dia sedang serius tetapi sang kekasih malah tidak bisa di ajak bekerja sama.
Kekasih yaa...
<><><><>
Renjun berhasil menghindar beberapa kali saat Haein mencoba mendekatinya. Ia sudah berjanji pada Donghyuck untuk berhati-hati pada Kim Haein. Saat ini ia berada di kamar mandi untuk mencuci wajahnya. Ia menundukkan diri, mengairi wajahnya dengan air.
"Booo, sudah main petak umpetnya?"
Renjun terkejut tidak menyadari jika Haein sudah berada di belakangnya.
"Menghindariku? Aku tau kau menghindariku Renjun, apa aku perlu menguncimu diruanganku?"
Belum sempat Renjun berbalik, pinggangnya sudah ditahan oleh Haein. Kali ini benar-benar kencang hingga Renjun bisa merasakan jari Haein mencengkeram pinggangnya.
"Atau perlu kuberi pelajaran Lee Donghyuck hm? Ah benar, akan kuberi pelajaran dia"
Mata Renjun membola, nama sang kekasih baru saja disebut Haein yang berarti selama ini Haein mengetahui jika Renjun tinggal bersama musuhnya. Ya, Renjun mengetahui jika Donghyuck dan Haein saling bermusuhan. Sontak ia memutar tubuhnya, menatap tajam ke arah bola mata sang atasan.
"Jangan berani menyentuh Donghyuck barang sedikitpun"
"Kau bisa mengancam ternyata, menarik. Tapi aku lebih tertarik padamu, jadi Donghyuck harus musnah"
"Hati-hati dengan ucapanmu manis, jika kau tak ingin Lee Donghyuck terluka maka lebih baik kau menurutiku"
"Kau pikir aku akan termakan ancamanmu?"
"Kau benar-benar menarik Renjun Lee, kita lihat apa yang akan terjadi besok. Sampai jumpa manis"
Haein sempat mengusap pipi Renjun sebelum ia meninggalkan Renjun sendirian di toilet.
Fakta bahwa Renjun menggunakan marga Lee membuat bungsu Huang itu memiringkan senyumnya.
Kim Haein salah mengancam seseorang.
<><><><>
Renjun tersenyum riang karena saat ini kekasihnya sedang sibuk di dapur, ia baru tau keahlian lain sang mafia selain memegang senjata ternyata Donghyuck juga pandai memegang alat dapur. Rutinitas hampir setiap pagi, chef pribadi milik Donghyuck bahkan tidak jarang diliburkan. Dengan langkah pelan Renjun mendekati Donghyuck, memeluk pria itu dari belakang. Renjun menempelkan pipinya pada punggung lebar sang kekasih.
Nyaman.
"Good morning boss hehe"
"Pagi sayang, aku membuatkanmu sarapan"
Satu kecupan hangat Renjun sematkan pada bibir Donghyuck saat pria itu sudah berbalik menghadapnya. Ia lantas melepaskan diri dan menuju meja untuk sarapan bersama.
"Pelan-pelan tidak ada yang akan mengambil makananmu, kau tidak ke kantor?" Donghyuck bertanya pada Renjun, tangannya mengelap sisa makanan di sisi bibir Renjun.
"Sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada Hyuckie. Tapi Hyuckie janji jangan marah"
"Aku harus pergi ke luar kota selama tiga hari. Bersama Haein" lanjutnya.
Tak!
Suara dari garpu yang diletakkan Donghyuck secara tiba-tiba mengagetkan Renjun.
"Batalkan"
"Aku tidak macam-macam, aku janji. Hanya untuk pekerjaan yaaa Hyuckie"
"Aku bilang batal-
"DONGHYUCK!!" Sebuah teriakan mengintrupsi keduanya. Ada Jaemin dengan raut tegasnya dan tak bersahabat. Jaemin memang mempunyai akses untuk masuk kerumahnya.
"Maaf mengganggu tapi ini genting" Jaemin memberi kode agar Donghyuck mengikutinya, namun Renjun lebih dahulu berbicara.
"Aku akan meninggalkan kalian berdua dan Hyuckie aku berangkat besok, hanya memberi tahu jika kau hari ini pergi" Renjun memberi kecupan ringan pada pipi Donghyuck lalu meninggalkan mereka berdua.
"Markas utara diserang, kali ini bukan dari Kim Haein tapi kita harus segera kesana. Dua anggota mati dan tiga terluka. Donghyuck kurasa kita perlu bergerak. Kau pemimpin kami, aku menunggu perintahmu"
"Kita pergi sekarang"
<><><><>
Donghyuck tentu tidak mengijinkan Renjun untuk pergi bersama Haein, terlebih ia harus meninggalkan kekasihnya sendirian. Namun Renjun terlalu keras kepala dan berakhir Renjun pergi dengan tidak membawa ijin dari Donghyuck. Selain untuk pekerjaan, ada hal lain juga alasan kenapa Renjun pergi.
"Aku sudah mengikuti perintahmu, jika kau melukai Donghyuck aku tidak akan pernah memaafkanmu"
"Kau pikir aku sebodoh apa?"
Renjun bisa melihat seringaian Kim Haein melebar. Dari sana ia sadar jika dirinya telah dijebak.
"Kau apakan Donghyuck!!" Renjun mencengkeram kerah Haein namun di dorong dengan kasar oleh Haein hingga bungsu Huang itu terantuk meja. Haein berjongkok, mencengkeram rahang Renjun dengan kuat.
"Dengar Renjun, selain aku tertarik padamu, aku juga memanfaatkanmu untuk memusnahkan Lee Donghyuck sialan itu dan wilayah kekuasaan akan berada di tanganku. Aku harus tau jika Lee keparat Donghyuck adalah musuhku. Musuh dari segala musuh. The eagle mafia akan segera mati di tanganku"
"Bajingan!!"
"Ya, aku memang bajingan. Jadi, bagaimana jika kau bermain dengan bajingan ini?"
Renjun meludah tepat di wajah Haein.
"Aku tidak akan pernah mau denganmu"
Plakk!! Tamparan telak mengenai pipi Renjun. Haein ingin kembali menampar Renjun namun dihentikan oleh dering ponselnya.
"Ya ayah.......... Baiklah....... "
Haein menutup ponselnya dan kembali menoleh pada Renjun. Ia berjongkok di depan Renjun.
"Kau ikut denganku"
Haein kembali berdiri, merapikan jasnya tanpa menyadari jika Renjun menarik satu sudut bibirnya membentuk seringai.
<><><><>
Ponsel Renjun tidak bisa dihubungi, sejak dari tadi entah berapa kali Donghyuck mencoba menghubungi sang kekasih disela-sela pukulannya pada wajah babak belur para musuh. Donghyuck mengumpat saat ponselnya terlempar akibat ia diserang dari belakang.
"Benar-benar membuang waktu"
Secepat kilat Donghyuck memutar tubuh, melepaskan pukulan demi pukulan.
Donghyuck mengambil balok kayu dan dihantamkan pada kepala salah satu musuhnya hingga berdarah lalu tersungkur. Ia ambil pistol yang ia sembunyikan di balik jaket, tanpa berempati sedikitpun Donghyuck melepaskan peluru demi peluru pada siapapun yang menyerangnya. Biasanya ia lebih suka bersenang-senang dahulu sebelum membuat mati musuhnya, namun Donghyuck sekarang tidak dalam situasi yang tenang.
Darah berceceran dimana-mana baik dari musuh maupun anak buahnya. Kim Haein benar-benar serius memulai peperangan dengannya. Puluhan orang-orang pria Kim itu dikerahkan untuk membantai Donghyuck beserta pembelanya. Setelah salah satu markasnya diserang oleh sekelompok mafia tak dikenal, kini Kim Haein ikut meyerangnya.
"Hei, Renjun masih belum bisa kau hubungi?"
Jaemin bertanya nyaring disela-sela persembunyian mereka. Suara tembakan terdengar dimana-mana.
"Ponselku terlempar"
Ponsel Donghyuck berada sekitar empat langkah dari dirinya berada. Donghyuck hampir terkena tembakan saat berlari mengambil ponselnya. Donghyuck berdecak, ponselnya terliha retak namun beruntung masih bisa digunakan.
Masih belum ada pesan apapun dari Renjun, namun ia menerim satu pesan dari nomor tak dikenal. Saat ia membukanya rahang Donghyuck mengeras dan umpatan kasar keluar begitu saja dari selah bibirnya.
"Kenapa?" Jaemin menghampirinya setelah berhasil menembak salah satu musuh. Ia melihat kearah ponsel Donghyuck dan bereaksi sama seperti temannya itu.
"Bajingan itu, Hyuck sebaiknya kau pergi. Aku bisa mengatasi ini semua bersama dengan yang lain"
Tangan Donghyuck mengepal erat, ia bahkan tak bisa berbicara. Entah bagaimana bisa Kim Haein mengetahui hubungannya dengan Renjun, sekarang lelakinya sedang bersama Haein dan bajingan itu baru saja mengiriminya pesan jika ia tidak menyerah maka nyawa Renjun akan menjadi gantinya.
Donghyuck tau Renjun bersama Haein untuk pekerjaan namun ia juga tau itu hanyalah akal-akalan pria Kim itu untuk mengancamnya.
Sekarang Renjun dalam bahaya, Donghyuck meragukan pertemanan antara Huang corp dengan T corp. Kim Haein tidak akan menggunakan Renjun jika hanya untuk menghancurkannya mengingat kedua perusahaan tersebut bersaing namun juga bersahabat, terlebih ada Kim Tae Ha disana pemilik T corp sekaligus teman dari Huang Zitao.
Ah, Donghyuck melupakan satu hal jika Renjun tidak membawa marga Huang dan tidak ada satupun yang mengetahui jika Renjun adalah seorang Huang.
"Pergilah, cepat"
Lamunannya tersadar, segera ia melesat setelah mengatakan terimakasih pada sahabatnya.
<><><><>
Tatapan terkesan datar dan tak berekspresi dipasang Renjun, makanan di hadapannya bahkan tak tersentuh sepenuhnya. Kim Haein meremat kuat paha menimbulkan tatapan tajam dari bungsu Huang itu.
"Jadi sudah sejauh apa kalian? Aku tau kau hanya seorang karyawan di perusahaanku Renjun, kau terlalu berani mendekati putraku"
"Ayah..
"Putra anda yang mendekati saya, kenaoa saya harus mendekati putra anda jika saya sudah mempunyai seorang kekasih" Renjun menjawab ketus.
Jawaban Renjun menghentikan pergerakan Kim Tae Ha ayah dari Kim Haein. Begitu juga dengan Haein menatap nyalang Renjun yang terlihat santai.
"Bagaimana kau bisa membawa orang miskin sepertinya kepadaku Haein"
"Tidak seperti itu ayah (Haein menghadap Renjun dan berbisik penuh penekanan) Jangan membuatku marah Lee Renjun" Renjun menyentak kasar tangan Haein yang berada di lengannya.
"Kau bisa kupecat kapan saja jika kau berani berlaku tidak sopan. Orang kecil sepertimu terlalu mudah untuk dimusnahkan"
"Dan orang sombong serta angkuh seperti anda tidak pantas untuk hidup" Renjun berdiri, kedua tangannya mengambil gelas minum miliknya dan milik Haein kemudian ia guyurkan pada kedua Kim tersebut.
"Wajah kalian benar-benar membuatku muak"
"Kurang ajar bedebah kecil. PENGAWAL!!"
Tepat ruan Kim memanggil paea pengawalnya, tamparan kencang mengenai pipi Renjun. Haein menjambak rambut Renjun hingga lelaki itu mendongak kemudian mendorongnya.
"Pegangi dia"
Kedua tangan Renjun telah terkunci, kakinya menekuk dengan lutut sebagai tumpuan. Haein berjongkok di depan Renjun kemudian menyiram kepala Renjun dengan air yang terbilang cukup banyak.
"Kau kucing kecil tidak tau diri, aku tertarik padamu bukan berarti aku tidak bisa menyakitimu" pipi Renjun ditepuk beberapa kali namun Renjun langsung meludah tepat di wajah Haein.
"Kurang ajar! Tidak kau, tidak Lee Donghyuck. Kalian berdua akan mati ditangaku!!" Haein mencekik leher Renjun kencang, hingga nafas lelaki Huang itu hampir habis. Berontak pun percuma, kedua tangannya dicengkeram erat oleh bodyguards keluarga Kim.
"Lepaskan bedebah kecil itu Haein-ah, ayah ingin memberinya pelajaran"
Saat tangan Haein terlepas, Renjun terbatuk-batuk dan meraup udara dengan rakus.
"Makluk kecil menjijikkan, berani sekali kau lancang dirumahku"
"Kau.. Uhukk lebih menjijikkan dibanding seluruh manusia Kim Tae Ha. Kau itu sampah" wajah Renjun memerah, matanya menatap nyalang pada tuan Kim.
"Kau bilang apa?! Kau benar-benar tidak tau diri"
Plakk! Satu tamparan
Plakk!! Dua tamparan
Dan untuk tamparan yang ketiga kalinya, Renjun memamerkan senyum miringnya hingga terdengar dobrakan pintu.
Lee Donghyuck.
"Bajingan!!"
Perkelahian tak terhindarkan lagi, seluruh bodyguards keluarga Kim yang ikut mengejar Donghyuck memasuki ruang tamu untuk mengeroyok Donghyuck.
Pukulan tendangan, bahkan sabetan belati tak terhindarkan. Untuk seorang mafia seperti Donghyuck menghadapi beberapa orang sangatlah mudah namun ini hampir sepuluh orang berbadan besar menyerangnya. Satu persatu para bodyguard dibuat tumbang oleh Donghyuck hingga yang terakhir Donghyuck pukul menggunakan sikunya.
"LEE DONGHYUCK DIBELAKANGMU!" Teriakan Renjun membuat Donghyuck langsung membalikkan badan namun terlambat, Kim Haein berhasil memukul punggung Donghyuck.
"Bedebah sialan!!" Renjun mengumpat sejadi-jadinya.
"Kau jalang kecil lebih baik diam!" Tuan Kim mencengkeram rahangnya kuat. Kini pandangannya terhalang namun ia bisa melihat sabg kekasih sedang menghindari pisau yang dilayangkan Haein.
"Kau benar-benar merepotkan, aku tidak tau bagaimana bisa Haein tertarik pada sampah sepertimu"
"Sampah? Huh, kau adalah sampah seaungguhnya. Memperalat sahabat sendiri dan membuat istri dari sahabatnya mati hanya untuk harta. Sampah seperti kau pantas mari"
"Omong kosong macam apa ini?"
"Huang Zitao, Huang Ji Zia dua sahabatmu tapi kau membunuh salah satunya. Kau memberi racun pada Huang Ji Zia dan mengkhianati Huang Zitao lalu perlahan menghancurkan Huang corp"
Netra tuan Kim membulat sempurna, bagaimana lelaki di hadapannya bisa mengetahui kebusukan dirinya.
"Terkejut huh?" entah kekuatan dari mana, Renjun bisa berdiri dan menendang tuan Kim. Renjun dengan mudah terlepas dari dua bodyguards yang menguncinya kemudian menumbangkannya. Hingga membuat Donghyuck maupun Haein menoleh kepadanya.
"Tuan Kim yang terhormat, perkenalkan saya Huang Renjun anak dari sahabat yang kau hancurkan. Sekarang, waktunya balas dendam"
Donghyuck bersumpah tidak pernah melihat sang kekasih seperti itu. Ia melihat dnegan jelas satu sudut bibir Renjun terangkat memperlihatkan seringai kejam. Dalam kejutnya, Donghyuck ikut menarik ujung bibirnya. Harus ia ingat jika kekasihnya merupakan seorang Huang. Donghyuck membiarkan sang kekasih bersenang-senang dengan tua bangka itu, sementara ia akan menghabisi Kim Haein.
"Hei, musuhmu disebelah sini" tepat disaat Haein menoleh satu pukulan mendarat di pipinya. Ia tendang tepat di perut Haein hingga lelaki itu tersungkur. Darah keluar dari mulutnya, tidak menyerah, Haein bangkit membalas Donghyuck. Kini pria Kim itu berada di atas Donghyuck, memukul membabi buta.
"Kau harus mati hari ini juga. Kau tidak pantas menjadi penguasa, Lee Donghyuck kau harus mati"
Buakk!!
Bukan pukulan untuk Donghyuck melainkan untuk Haein di punggungnya. Renjun membuang balok yang baru saja ia gunakan untuk menghantam punggung Kim Haein. Ia jambak rambut lelaki itu kemudia menghajarnya seperti yang Haein lakukan pada Donghyuck.
Renjun bawa lelaki Kim itu untuk bersujud pada sang kekasih.
"Berlutut, mohon ampun pada kekasihku"
Kim Haein meraup nafas kuat-kuat, ia terbatuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Renjun berjongkok dan berbicara tepat di belakang Haein.
"Dengar Kim, sekarang kau tau bukan aku adalah Huang. Jadi sebelum aku memenggal kepalamu cepat mohon ampun pada kekasihku"
Renjun brdecak kesal karena tidak mendaoat respon dari Kim Haein.
"Sayang... "
Donghyuck menatap kekasihnya, ia melihat sang kekasih melempar hand gun padanya dan ditangkap baik olehnya. Saat itu juga seringai nampak tersungging di bibirnya.
"Cih, harusnya kau mati dari dulu. Pergilah ke neraka"
Dor! Dor! Dor! Tiga tembakan tepat di dada dan kepala menghilangkan nyawa Haein. Sementara itu Renjun menghampiri tuan Kim yang nampak sudah sekarat.
"Ckckck tua bangka ini, aku tidak tau bagaimana ayah dan ibu dulu sangat mempercayaimu. Apa yang harus kulakukan hm? Ah! Kau menyumpan katana yang cantik. Kurasa kepalamu akan lebih baik menjadi makanan anjing-anjingmu"
Renjun mengambil katana yang terpajang.
"Sayang, kau ingin membantuku"
Donghyuck paham, ia angkat tubuh tuan Lee dan menyeretnya di kursi, sebisa mungkin membuat pria tua itu tegak. Tuan Lee tidak bisa berbicara, tenggorokannya sudah terinjak oleh sepatu Renjun. Hanya matanya melotot tanda meminta ampun.
"Untuk kematian ibuku"
Renjun berhasil menusuk leher Kim Tae Ha dan kemudian memenggal kepala Kim Tae Ha. Ia berdecih pelan, membuang katanya yang berlumuran darah.
"Mission Complete"
<><><><>
"Jadi, sejak kapan kau bisa bertarung?"
Tidak menjawab pertanyaan sang kekasih, Renjun malah menenggelamkan diri pada dada Donghyuck, hingga membuat lelaki itu terkekeh geli. Mereka saat ini sedang merapatkan tubuh satu sama lain di dalam kamar milik Donghyuck.
"Kitten?"
"Tentu saja dari aku kecil"
"hmm benarkah? Lalu kenapa kau berbohong"
"Tentu saja untuk menjalankan misi, Baba memberiku misi untuk memata-matai Kim Tae Ha tapi tanganku gatal untuk membunuhnya hehe"
"Aku dikelabui Huang kecil ini ternyata"
"Hyuckie~~
Donghyuck kembali terkekeh, Renjun merajuk adalah hal yang membuatnya menahan gemas sedari tadi.
"Bercanda sayang"
"Hyuckie, cium aku"
Donghyuck tersenyum, ia mengubah posisi berada di atas Renjun. Renjun mengalungkan tangannya di leher Donghyuck, matanya terpejam menyembunyikan bintang indah disana, bersiap menyambut cumbuan panjang sabg kekasih.
Bibir plum Donghyuck menempel pada bibir Renjun dan disambut antusias. Seulas senyum tercipta dari keduanya, kecupan demu kecupan berubah menjadi cumbuan menghantarkan kedua insan itu dalam kehangatan.
Untuk seterusnya, biarlah menjadi rahasia untuk keduanya.
- Selesai -
