Actions

Work Header

East Side of the Mansion

Summary:

Insiden gudang penyimpanan anggur, yang terletak di sisi timur mansion, ialah hikmah penting untuk keluarga Moriarty. Namun bagi Louis dan William, kejadian itu tak sekadar tentang terjebak di gudang saja.

Work Text:

Di kalangan kaum borjuis, insan-insan yang tergolong di dalamnya pasti tidak asing dengan bangsawan yang bernama Moriarty.

Earl Moriarty merupakan ningrat menengah atas yang terkenal akan kebajikannya dalam mengayomi masyarakat kelas rendah. Menganggap semua manusia setara—tak peduli di keluarga mana mereka dilahirkan, adalah tujuan pokok aristokrat satu ini.

Pun begitu, keluarga Moriarty juga bersahabat dekat dengan keluarga bangsawan yang setara, di atas, maupun di bawah taraf gelar mereka. Asal mereka memperlakukan kaum rendahan dengan tak semena-mena, keluarga Moriarty akan menyambut mereka dengan senang hati—atau bahkan mengajak bekerja sama dalam industri yang salah seorang Moriarty tekuni.

Sang putra sulung, Albert James Moriarty, merupakan sosok yang bekerja di ranah militer dan industri produksi. Posisi jabatannya sebagai letnan kolonel—yang mana tergolong tinggi—menciptakan rasa hormat yang besar untuk para aristokrat maupun sesama anggota militer. Industri yang ia giati juga dipandang menjanjikan, yakni industri anggur.

Untuk perihal industri anggur, Albert sering kali mengundang para bangsawan untuk berkunjung ke mansion Moriarty. Entah untuk sekadar menjamu atau mengajak mereka bekerja sama dalam bidang ini.

Lantaran kecintaannya pada anggur bisa diukur dengan kata masif, Albert tak menyia-nyiakan lahan kosong yang terletak di belakang mansion untuk dijadikan sebuah gudang penyimpanan anggur.

Agar sewaktu tamuku datang, kita dapat mengambil stok dengan mudah,” ujar si brunette dengan nada yang seringan bulu.

Pada kesempatan kali ini, izinkan penulis untuk bernarasi tentang apa yang berkaitan dengan gudang penyimpanan anggur tersebut.

Dini hari ini, Albert memberi kabar baik kepada William dan Louis. Lelaki itu menjelaskan bahwa keluarga Holmes—yang terdiri dari sepasang kakak beradik—akan menghadiri perjamuan yang ditawarkannya saat berjumpa dengan si kakak kemarin sore. Mendengar hal itu, William dan Louis dengan senang hati mempersiapkan mansion untuk acara penting tersebut.

Terlebih untuk William karena ia akrab dengan salah satu Holmes, yaitu si adik Sherlock. William sendiri sering bepergian bersamanya, mungkin sekadar berbincang di sebuah pub atau menghadiri pertemuan klub catur yang keduanya ikuti. Kedua pria ini memiliki hubungan pertemanan yang akrab.

Dalam rangka untuk mempersiapkan mansion, Albert meninggalkan tugas tersebut kepada dua adiknya untuk dibagi sama rata. Kali ini, Louis kedapatan tugas untuk menyiapkan hidangan dan mengambil stok anggur di gudang penyimpanan yang lokasinya berada di bagian timur dari rumah utama. Sedangkan William mendapat tugas untuk merapikan seisi mansion.

Tugas William nyatanya selesai dua hari sebelum mereka menghelat agenda tersebut. Sore ini, Louis mendapati kakaknya menyeruput Teh Darjeeling dengan damai di ruang tengah bersamanya. Sesekali ia mendengar William bersenandung kecil—kentara amat riang.

Sang adik mengamati tiap sudut rumah. Bagian terkecil dari mansion pun sekarang tampak berkilau ketika dilihat dengan saksama. Louis tersenyum tipis seiring dirinya meninjau lebih lanjut.

Jadi begini jika mereka mengundang Holmes ke tempat mereka. Louis yakin kakaknya sangat bersemangat, sampai-sampai ia membereskan seantero griya dengan gesit. Louis jelas tahu kenapa—supaya ia tak perlu repot menyelesaikan ini itu di hari kedatangan sang tamu.

Tugas milik Louis sendiri belum terselesaikan. Koki andalan keluarga Moriarty sudah ia panggil untuk acara besok, tetapi Louis belum mengambil anggur di gudang penyimpanan. Maka dari itu, si adik bungsu berencana untuk mengambilnya seusai mereka menikmati teh pada sore hari itu.

Bunyi cangkir yang diletakkan pada sebuah tatakan terdengar. Embusan napas yang tenang tercipta setelahnya. Sepasang iris delima memandang sosok kakak di seberang yang sibuk membaca novel yang dipegangnya. “Kak.”

“Hm?”

“Setelah ini aku akan pergi ke gudang penyimpanan anggur. Siapa tahu Kakak ada kebutuhan di luar, Kak William bisa mengamanahkannya padaku. Sekalian.”

Louis menantikan respons dari sang lawan bicara. Dilihatnya William menaruh atensi padanya di balik buku tebal yang seharian ini menarik perhatiannya. Kini netra mereka bersinggungan.

Ah, manik indah itu.

Meskipun bentuk delima itu sama persis dengan miliknya, tetap saja tatap yang diberikan oleh William pada Louis seolah-olah sedang menelanjangi dirinya—kain demi kain, lapis demi lapis. Menciptakan sensasi yang dapat membuat Louis merinding.

Buku itu diturunkan, menyingkap sebuah lengkung sempurna yang terlukis di belah bibir William. Tulang pipinya yang tinggi menaik, kelopak matanya menyipit. Rasa hangat mendadak merambati sanubari milik Louis tatkala menyaksikannya. Diam-diam Louis meremat kain yang melapisi paha. “Tidak perlu, Louis, tidak untuk sekarang. Terima kasih sudah menawarkan.”

“Baik kalau begitu.” Raga jangkung Louis bangkit dari duduk, lantas mengambil kedua cangkir yang isinya telah habis diteguk. “Aku pergi sebentar ya, Kak William.” Begitu tanggapan berupa gumam ditunjukkan, ia segera beranjak pergi sebelum sang surya berpulang ke peraduan.


Sebuah tangan bergerak untuk mengambil jam saku yang tersimpan rapi di balik jas kelabu tua. Jarum jam kini telah menunjukkan pukul lima sore.

Mengembalikan benda itu dalam sakunya, Louis berdecak kesal karena pasti mentari telah bergantian dengan sang malam. Setelah setengah jam dia hilir mudik di dalam ruangan penuh debu tersebut, beberapa botol dengan tanggal pembuatan yang diminta kakak sulungnya tak kunjung terlihat.

Iris scarlet-nya melirik ke arah pintu gudang. Celah yang Louis sisakan masih sama kecilnya saat ia masuk ke sini. Karenanya, ketegangan yang dirasakan Louis hilang sebagian. Ia lantas kembali memfokuskan diri untuk mencari barang-barang tersebut.

Alisnya yang menukik tajam akhirnya meregang. Lepasan napas yang rileks akhirnya Louis keluarkan. Botol-botol tersebut telah ditemukannya di bawah kain putih salah satu kotak penyimpanan yang tergeletak di pojok ruangan terjauh dari akses masuk.

Namun rasa puas yang belum berkisar lama tersebut tergantikan dengan bunyi yang menjadi sumber kegelisahan Louis kala itu. Suara tersebut adalah suara pintu kayu gudang penyimpanan yang ditutup kencang, yang gemanya terdengar di seluruh bagian dalam ruangan pengap penuh rak botol tersebut. Panik seketika terukir jelas pada wajah Louis.

Sebab yang Louis tahu, kunci pintu cokelat yang masif tersebut sedang dalam proses pembetulan. Sekalinya tertutup, maka hanya bisa dibuka dari luar. Dengan kata lain, orang di dalam tak akan bisa membukanya.

Gawat.

Terlebih ketika Louis menangkap suara lembut kepunyaan William yang memanggil namanya. Spontan denyut jantungnya seakan meledak-ledak, memberi sinyal tanda bahaya. Diletakkannya kain putih yang ia genggam semenjak bunyi pintu yang tertutup terdengar oleh telinganya, kemudian berjalan tergesa mendatangi asal suara.

Melewati rak-rak yang menjulang tinggi dari tubuhnya, kaki jenjang Louis menapaki lantai kayu yang melapisi seluruh permukaan gudang. Ia segera mendapati William yang menoleh ke sana kemari, mencari presensinya. “Kak William!”

Kepala William tertengok, manik merah menyalanya memperhatikan sang adik yang datang mendekatinya. Insan tersebut dapat dengan mudah menebak ekspresi Louis dari raut wajahnya yang disertai gurat-gurat kecemasan. “Louis, kau kenapa? Ada masalah?”

Tercekatnya napas Louis menyebabkan William memegangi kedua lengannya dengan khawatir. Tak ingin sang kakak terlewat cemas, Louis segera mengatur pernapasannya. Setelah itu dia berucap, “Apakah Kak William yang menutup pintu gudang?”

Jeda hadir sesudahnya. Netra William terlekat pada Louis, sibuk memutar otak. “Tidak, pintunya tertutup sendiri. Aku sengaja membukanya karena di luar sudah mulai gelap. Aku takut kau kenapa-kenapa, Louis, jadi aku kemari.”

Pundak Louis yang awalnya sangat tegang kini melesu. Helaan terdengar lantang seusainya. Usapan halus yang dilakukan William pada tangannya menciptakan ketenteraman di antara kekalutan yang sesak di hati dan pikirannya. “Jadi begitu,” irisnya kini beralih pada pintu mahoni yang terletak tak jauh dari mereka, “aku harap siapapun segera menemukan kita.”

Pernyataan tersebut melahirkan kerutan pada kening William. “Maksudmu?”

“Sepertinya Kakak lupa kalau pintu gudang tak bisa dibuka dari dalam karena sedang diperbaiki,” terang Louis sembari tersenyum geli. Di matanya, William tampak menggemaskan jika ia sedang mencerna perkataan orang lain. Louis ingin mengabadikan momen ini dan kesampingkan masalah yang hadir.

Senyumnya makin melebar ketika William membentuk huruf O dengan bibir tipisnya. Keresahannya seketika luntur. “Oh benar, aku baru ingat. Setahu aku, Herder dan Bond yang melaporkan. Benar begitu?”

“Benar,” balas Louis dengan anggukan kecil. Ia perlahan melepaskan tangan William yang berdiam padanya, kemudian raganya menghampiri satu-satunya pintu di situ. Ia mengotak-atik kunci besar yang tertempel di daun pintu.

Louis bergumam, berpikir keras lumayan lama. Berusaha mencari solusi yang dapat membebaskan mereka dari tempat sumpek itu dengan segera. Pria satunya sedari tadi menunggu dari tempatnya berdiri.

Jika dilihat sekilas, seri mukanya tampak tenang. Namun jika lebih diperhatikan, William sebenarnya gelisah. Jemarinya diam-diam mencengkram samping celana kain berwarna cokelatnya. Indra pendengaran William menangkap Louis yang berbisik kepada dirinya sendiri, “Apa pintu ini kudobrak saja?”

Tungkainya mengancang-ancang. Sisi kanan tubuh Louis siap menubruk pintu megah tersebut. Namun niat Louis terhenti begitu saja tatkala ia menyadari bahwa sang kakak memiliki ketakutan terhadap ruangan sempit dan sesak—yang mungkin saja kambuh jika ia terlalu lama singgah di sini. Pekik kecil dikeluarkan Louis, kemudian badannya berbalik.

Serta-merta ia jumpai si kakak tercinta yang telah terduduk di lantai. Badan lunglainya bersandar pada tembok yang ada di belakangnya. Terdengar napas tersengal-sengal yang amat tak nyaman untuk didengar. Kepalanya menunduk, tangan kanannya memegangi dadanya yang kesakitan. Kacau balau.

“Kak William!” Kaki ramping milik Louis mendatangi yang lebih tua dengan tergopoh. Panik tergambar jelas pada tampangnya, atensinya tertuju penuh pada William. Tangannya menggapai bahu William yang melemas tak berdaya, lantas menangkup kedua pipinya agar mereka bisa bertatap mata. “Kenapa Kakak tidak bilang kalau penyakit Kakak kambuh?”

Louis mengamati paras William yang pucat pualam. Beberapa tetes peluh menuruni pelipisnya. Bibirnya yang ranum dan segar kini kering kerontang lantaran banyak bernapas melaluinya. Netranya terbuka-tutup karena ia berusaha untuk tetap sadarkan diri. Melihat William yang bahkan kesulitan untuk menjaga kesadaran, Louis menggeleng kuat. “Jangan jawab pertanyaanku, Kak.”

William ikut menggeleng. Ia kerahkan seluruh tenaganya untuk menjawab. “Aku tak ingin kau khawatir,” katanya seraya meraba tangan Louis yang setia menampa pipinya.

Louis bisa merasakan tangan William yang berkeringat. Ia merasa hatinya menciut karena menyaksikan kakaknya tersiksa. Sedangkan William justru menenangkan dirinya. Maniknya mendadak memanas, bibirnya gemetaran. Tangannya dengan cekatan merogoh saku dalam jas yang berisikan sapu tangan, lalu menyeka peluh yang menghiasi dahi William. “M–maaf ... seharusnya aku yang menenangkan Kakak.”

Gesitnya tangan Louis menandakan bahwa ia giat dan panik dalam waktu yang bersamaan. Bahkan William yang setengah sadar dapat mendengarnya berulang berkata lirih dengan nada yang kentara akan rasa bersalah.

“M–maaf.” Ia akan mengucapkannya, lalu mengatup bibirnya kuat-kuat. Tertera jelas bahwa ia menahan air mata yang hendak merembes keluar. Namun tangannya tetap sibuk mengusapi keringat yang kerap kali turun.

Selama William hidup di dunia, ia tak pernah menyaksikan Louis seberantakan ini. Louis yang lazimnya sesejuk telaga yang luas dan dalam di pegunungan yang berkabut, kini menjadi sericuh gelembung hasil uapan air panas pada mata air ketika mengetahui dirinya terjatuh sakit. Untung saja ia jarang sakit, batin William kala itu. Kalau tidak, ia yakin Louis akan mengabdikan dirinya untuk menjaga William setiap hari seumur hidupnya—yang mana akan menghambat tumbuh kembangnya.

“Louis.”

Sebut namanya dalam bisik sekecil apapun, niscaya sang empunya nama akan mengindahkannya tak lebih dari satu detik. Seolah dia diberi kekuatan untuk bergerak secepat kilat yang menyambar. “Ya? Kak William butuh sesuatu?”

William mengangkat tangannya yang selunak agar-agar, meraih garis rahang Louis di masing-masing sisi. “Dengarkan aku.” Ia mendekatkan paras Louis pada miliknya, menyatukan kening mereka berdua. Menatapnya dalam-dalam, menembus tulang dan daging di hadapannya. Bulu kuduk Louis meremang tanpa aba-aba. “Jangan biarkan panik kuasai dirimu. Aku tak akan mati karena hal semacam ini.”

“Simpan tangismu, temani aku sampai orang-orang menemukan kita terjebak di sini. Mengerti? Kita tidak sendirian, kita ada untuk satu sama lain.”

Kemudian beberapa kalimat penutup terbit dari mulutnya. Ia melafalkannya semudah mencintai sosoknya, semulus tersembunyinya kisah kasih mereka yang gelap dan terlarang, dan sememabukkan pujian yang acap kali ia panjatkan. Surgawi, dan William bak bidadara yang turun dari nirwana hanya untuknya seorang.

Bila Louis berada di sini bersama sosoknya sekarang, ia tak sudi kembali bertemu dengan manusia biasa. “Tenangkan dirimu, Sayang. Selama ini kau melakukan yang terbaik. Aku bangga karenanya, dan karena dirimu adalah dirimu. Terima kasih sudah selalu ada untukku.”

Louis mengangguk pelan sebagai tanggapan. Wajahnya kini dipenuhi determinasi yang membuat William membentuk kurva pada belahan bibirnya dan bertutur, “Anak pintar.” Dikecupnya salah satu pipi Louis dengan kasih. Lalu kedua tangannya terentang, hendak mendekap si kesayangan. “Kemarilah.”

Sentuhan yang menggesek kedua tubuh insan tersebut membuat keadaan berangsur menjadi damai dan sentosa. Hangat merayapi keduanya. Kendati begitu, Louis tetap menciptakan jarak lantaran tak ingin William merasa sesak. Namun William justru makin mengeratkan pelukan mereka.

Kepalanya yang bertengger di bahu kiri Louis sedikit menoleh, menghadap daun telinga sang adik. Sekaligus menghirup wangi tubuh Louis yang bercampur dengan peluh—pun begitu, aroma tubuhnya tetap menciptakan keinginan untuk terus menciumi baunya. “Sekarang aku pusing sekali, Louis. Tapi tak apa.”

“Semoga Kak Albert segera menemukan kita, Kak. Kini kita hanya bisa bersabar. Kak William boleh beristirahat terlebih dahulu.” Ujarannya membuat William mengangguk lemah.

Rengkuhan tersudahi, akhirnya Louis dapat melihat sang tercinta yang mulai memejamkan mata. Ia menjangkau jemari William, lalu mengaitkannya pada jari-jari panjang miliknya. Dipandanginya lekat dari kacamata bulat yang ia kenakan, Louis menyaksikan William yang tersenyum lebar dan berucap, “Aku sangat beruntung memiliki dirimu, Louis.”

Tepat setelah William mengatakannya, kepalanya segera mendarat pada tembok batu. Ia mencoba untuk melepas penat di tengah prahara yang datang tak diundang. Manik merah gelap kepunyaan Louis tak lepas barang sedetik pun darinya—seakan-akan William bisa tertimpa masalah jika ia mengalihkan fokus. Begitu napas konstan keluar masuk dari pernapasannya, Louis turut menghirup udara di sekelilingnya dengan lapang.

Setidaknya untuk sekarang, mereka baik-baik saja. William baik-baik saja.

Louis berpindah tempat, lantas menempatkan raganya di sebelah William yang terlelap. Tak lama setelahnya, kepala pirang sang pujaan hati mendarat pada pundak lebar Louis. Si empunya bahu menengok dan mendapati William yang tertidur pulas. Rupanya setenteram kondisi malam itu, meluruhkan kabut tebal yang memenuhi rongga dada sang saksi. Louis tersenyum kecil. Jalinan tangan mereka masih terhubung dan ia sesekali mengecup punggung tangan William dengan sayang.

Lantaran tidak bisa menahan kebosanan dan kantuk yang menyerangnya bertubi-tubi, akhirnya si bungsu Moriarty ikut mengistirahatkan diri. Didampingi oleh keremangan lampu gudang yang menyinari tubuhnya dan milik William, disertai bebunyian jangkrik dan tonggeret di taman mansion.

Jika dapat dikiaskan, mereka kini serupa mercusuar di laut lepas yang selalu dikitari oleh huru-hara badai dan ombak. Mereka berdiri sendiri dan kokoh, karena ketetapan hati mereka untuk tetap bertahan dari kondisi yang merugikan ini. Tak lupa dengan amor yang menempel lengket, yang mana membuat mereka semakin sekuat yang orang-orang kira.

Maka mau seribut dan serusuh apapun jagat ini, sukma dan raga mereka hadir untuk menopang satu sama lain. Apapun yang terjadi.


“William! Louis!”

Suara teriak berkumandang, terbang terbawa dengan angin malam yang berembus di ruang udara.

Sepasang netra terbuka perlahan, setelah mendengar sekerumunan manusia yang menyebut-nyebut nama dengan keputusasaan yang tersirat di dalamnya. Mata delimanya disambut dengan genggaman tangan yang masih bertaut, dilatarbelakangi dua pasang paha yang bersebelahan. Sinar rembulan dari ventilasi ruangan ikut menyinari ruangan tersebut.

Pemuda tersebut merasakan beban yang menimpa bahu kirinya. Dari sudut matanya, ia dapat melihat lelaki bersurai keemasan tidur dengan menumpukan kepala pada dirinya. William. Kakaknya. Belahan jiwanya. Louis segera kembali pada kenyataan bahwa mereka masih terperangkap di gudang.

“Louis!”

Tatkala telinga kepunyaan Louis kembali mendengar seruan tersebut, ia menegakkan duduknya—bersiap untuk menjawab. Namun tekadnya pupus sewaktu ia menyadari bahwa si kecintaan masih tertidur dengan tenang di pundaknya.

Louis membungkam mulutnya rapat, kemudian membuang napasnya pasrah. Ia jelas-jelas tak ingin membangunkan William. Namun jika Louis melewati kesempatan ini, ada kemungkinan bahwa malam ini mereka akan menginap di tempat dingin dan menciptakan gigil ini.

Pemuda berambut kuning kusam itu telah memutuskan kalau ia akan berteriak minta tolong. Sebab jika mereka berada di sini sampai esok pagi, bisa saja William terbangun di tengah malam, dan keadaan akan makin rumit untuk dihadapi.

Berdeham, menyaringkan pita suara. Mulutnya mewujudkan spasi kecil di antara belahan bibir. Beriringan dengan pintu gudang yang berusaha dibuka. Louis menoleh, lantas mendapati bayangan seseorang yang memindai ruangan dengan belasan obor api menyala terang di sekitarnya. “Sebelah sini!”

Dengan respons yang amat sigap, sosok tersebut berlari cepat ke arah Louis dan William. Louis mengikuti ke mana siluet tersebut pergi, dan setelah itu figur kecil milik insan tersebut muncul di balik sebuah rak tinggi. Fred Porlock.

“Louis! William!” Tungkainya mendekati dua bersaudara tersebut dengan terburu-buru, kemudian ia berjongkok di depan Louis—menyamakan tinggi. Napasnya terengah-engah, dadanya kembang kempis. “Ternyata kalian di sini.”

Berkat ucapan Fred barusan, sang Moriarty kedua akhirnya terbangun dari lelapnya yang nyenyak. Suara mengerang kelelahan keluar dari alat wicaranya. Iris crimson-nya segera menyadari presensi orang ketiga di tempat tersebut. “Fred?”

Louis membantu William yang hendak bangun dari posisi bersandarnya. Fred, dengan muka yang terlampau panik, memperhatikannya tiada henti. “Kak William, apa Kakak baik-baik saja?”

William membalas dengan menaikturunkan kepalanya. “Aku baik-baik saja.” Ia menoleh, dan menjumpai Louis yang mengamatinya dalam kesunyian. Rupanya ia masih cemas.

William mengerucutkan bibir, seakan-akan ia berkata, “Kenapa masih mengkhawatirkan aku? Aku sudah baik-baik saja, lho.” Jemari lentiknya kembali menyelip pada jari-jari Louis, mengusapnya dengan ekstra hati-hati. Menghantarkan rasa nyaman meskipun tak seberapa. Lengkung semanis anggur merah ditunjukkannya.

Louis merespons dengan mengeratkan kaitan tangan mereka. Tangan yang lainnya beraksi untuk mengelus punggung William, setelah itu membantunya bangun dari duduk.

Mereka keluar dari gudang penyimpanan anggur pada pukul sembilan malam, di mana tiupan angin gemar menerpa objek-objek yang menutupi lajur mereka. Dan bulan purnama bersinar terang di atas kepala, menerangi kumpulan manusia yang kini berjalan bersamaan dengan kedua korban dari peristiwa ini.

Setelah membujuk Willian yang dasarannya memiliki pendirian yang keras—bahkan pada dirinya sendiri, Louis akhirnya bisa menggendong sang jantung hati. Tangannya yang perkasa menggendong William ala pengantin, dengan William yang merengkuh leher jenjangnya. Parasnya tenggelam sempurna pada ceruk leher Louis. Napasnya yang teratur menjamah kulit putih bersih si penggendong. Di tengah perjalanan mereka menuju mansion, Louis mendengar William yang berceletuk lirih—dengan secuil unsur menggoda di dalamnya, “Terima kasih, Louis.”

Louis mendengus geli, pun begitu ia tak menghiraukan bulu romanya yang tiba-tiba berdiri karena nada William yang dapat disebut sugestif. Prioritaskan logika daripada hawa nafsu yang hendak meliar, batin yang lebih muda kala itu. Louis tersenyum kaku. “Apapun untukmu, Kak. Kau cukup meminta sekali, dan aku akan melaksanakannya dengan senang hati.”

Tanggapan yang dilontarkan William makin membuatnya hilang kewarasan. Perkataannya membuat Louis terbuai, terlebih ketika ia harus menahannya sampai mereka tiba di kamar tidur William. Jakunnya naik turun dengan resah, ia berkali-kali harus menelan saliva yang membanjiri mulutnya yang lapar. “Oh? Kalau begitu coba pratikkan.”

Bungsu Moriarty yang awalnya fokus pada jalan setapak kini mengerling pada William dengan tatapan menohok—tajam dan menguasai. Menghasilkan tawa yang tertahan dari sang penggoda iman. Ia kian bersemangat untuk bermain-main dengan hasrat yang Louis kubur dalam-dalam. “Jangan sekarang, William.”

Namun ia tidak mengacuhkan peringatan si dominan, meskipun dia telah memanggilnya nama depannya dengan menggeram. Andrenalin melaju dengan pesat di setiap pembuluh darah dalam tubuh William, dan ia menimpali dengan rayuan lainnya, “Lalu kapan? Aku sudah rindu, Louis.”

Louis mengungkap jawabannya dengan serendah mungkin, menghindari posibilitas jikalau ada orang lain yang mendengarkan percakapan kotor mereka. “Kita lihat nanti.”

“Ah, aku tak sabar,” ujar William tepat di depan cuping telinga Louis. Suara desah sengaja dilantunkannya, makin mendesak predator ganas yang siap menerkamnya kapan saja. Meskipun begitu, dapat mengendalikan gairah sang adik adalah sebuah kesenangan tersendiri untuk William. Bibirnya menerbitkan seringai.

William yakin, malam ini akan menjadi malam yang menyenangkan.


Seorang pria berhenti melangkah, kemudian ia mendudukkan diri pada ranjang queen size yang ada di kamar bernuansa merah marun tersebut. Pasang delimanya mengawasi pintu cokelat jati di sudut kamar. Suara kecipak air terdengar dari dalamnya, menandakan bahwa ada orang yang menggunakan.

Louis, lelaki berumur awal dua puluhan itu, menyisir helai rambutnya, lalu merapikan jubah tidur kimono warna biru tuanya dengan gelisah. Matanya mondar-mandir. Louis sedang sibuk menimbang beberapa hal, dan ia mulai merasa frustrasi karena tak dapat menentukan keputusan yang tepat.

Pemuda tersebut menggeleng, tampak jelas bahwa ia menyangkal pemikirannya sendiri. Perasaannya kian merunyam saat dia mendengar sebuah knop pintu ditekan. Netranya lekas mendapati figur semampai sang pujaan hati yang menapak tungkai di ambang pintu kamar mandi. Kedua tangannya giat mengeringkan surai pirang kepemilikannya. Tak menyadari eksistensi Louis yang membatu memandangnya.

Louis menenggak ludah. Maniknya jelalatan, tak sanggup melepas pandang—apalagi kesempatan dalam kesempitan yang tersedia. Rambut emasnya yang masih basah, leher yang seputih air susu, belahan dada yang sedikit terekspos karena kancing kemeja dalam piyama tidurnya tidak seluruhnya ditutup—jujur saja, Louis ingin menyingkapnya lebih lebar. Namun Louis tak menyangkal kalau ia bisa pingsan jika memaksakan diri untuk melihatnya lebih lama. Oke, dramatis.

William adalah pemuda berkepribadian yang baik, penampilannya amat mempesona pula. Hal-hal ini saja sudah membuat Louis mencintai dirinya apa adanya. Namun Louis tak memungkiri, William dengan pakaian tidur kimono adalah salah satu kelemahan terbesarnya. Louis seakan dirapali mantra-mantra untuk bertekuk lutut padanya, untuk memujanya, untuk mematuhi dan melaksanakan segala keinginannya. Yah, kalau begitu, Louis juga yakin ia tak akan sulit untuk melakukannya.

“Louis?”

Sebutan yang dituturkan William menghasilkan jengit yang tak bisa Louis hindari. Celaka. Louis tahu betul setelah ini William akan—

“Kenapa kau ada di sini, di kamarku?”

mempertanyakan keperluan segenting apa yang dapat membuatnya duduk di kasur besar kepunyaan William. Atau lebih parahnya, otak genius William pasti sedang menerka-nerka apakah Louis akan mengiakan ajakan bermainnya atau tidak.

Louis menutup mata, segera berserah diri pada Tuhan atas kejadian yang akan menimpanya. Tangannya lantas menepuk-nepuk seprai katun yang ada di sebelah tubuhnya—meminta lelaki satunya untuk menempatkan pantat sintalnya di sana. Bahkan dalam usahanya untuk itu, Louis tak berani menatap William langsung di mata. Ia tak mau menumpahkan minyak pada api yang sudah berkobar di antara mereka.

Merasakan beban yang singgah di sebelah badannya, Louis segera mengerahkan atensi penuh pada William. “Kakak sudah baikan?” Ia meraih punggung tangan pria tersebut, dan Louis tak lupa untuk memasang raut wajah sepolos mungkin.

“Sudah,” sahutnya sehalus tenunan warna krem yang membalut dipan di ruangan itu. Usai William mengujar, ia kembali melengkungan senyum bulan sabit pada bibirnya. Manisnya, pikir Louis kala itu.

Karenanya, Louis jadi terpengaruh. Dia membawa mukanya tepat di depan William, kemudian menggesekkan hidung mereka. Kilat matanya menggelap, sarat akan gairah yang perlahan menyelimutinya.

Merah bertemu merah. Jarak beberapa senti di antara mereka menipis lagi tatkala William mengulang tindak tanduk Louis sebelumnya. Ia menggosok hidung mancungnya dengan kasih, bak ibu singa pada buah hati kesayangannya. Walaupun mereka berbuat hal yang sama, perbedaan tetap menonjolkan dirinya. Yang satu berhasrat untuk meminta lebih, yang satu kental akan afeksi.

Setelahnya, semua berjalan amat cepat sampai Louis terlambat menyadari bahwa bibir milik William telah mengecup miliknya. Louis tertegun, lalu melihat sang pelaku yang sekarang tersenyum nakal. Pria yang satu tahun lebih tua darinya kembali memajukan tubuhnya, meluluhlantakkan jarak yang sengaja Louis beri supaya mereka tak melakukan hal tak senonoh malam ini.

Camkan betul, Louis. Fobia William baru saja kambuh beberapa jam yang lalu. Kondisinya tidak fit dan tentu membutuhkan istirahat yang layak. Apa kau sebegitu teganya untuk memuaskan syahwatmu di waktu yang tak tepat? Lagipula, kau dan dia sudah tak lama melakukannya—yang mana dia pasti membutuhkan energi ekstra untuk dapat melakukannya sekarang. Demi Tuhan, aku harus apa?

Benaknya berkecamuk hebat. Netranya memandangi ruang kosong. Alisnya menyatu karena kewalahan menengahi pikirannya sendiri. Untung saja ia diberhentikan oleh William yang berkata, “Aku sudah tak apa, Louis. Ayo lanjutkan yang kita mulai tadi,” bujuknya seraya menggelung tangan dengan manja di leher Louis. Bibirnya mengerucut, pendar matanya yang menggoda ditunjukkannya.

Jangan. Suara di benaknya menolak mentah-mentah ajakan sang submisif. Louis menuruti suara itu, kemudian dia berupaya melepaskan sepasang tangan yang melingkari leher mulusnya. “Jangan sekarang, Kak,” mohonnya dengan sopan, menekan setiap suku kata. Menganaktirikan sisi dominannya yang menggelora di dalam badannya. Mengembalikan mode anak manis yang mengutamakan kesehatan si kakak tersayang.

William menggeleng kuat. Tautan tangan yang mengalungi leher Louis diperkokohnya. Peduli setan dengan panggilan lembut yang barusan Louis tuturkan. Tak akan mempan. Libidonya sudah terlampau sukar untuk ditahan.

Dengan Louis yang seperti itu, akal cerdik William spontan berpikir keras. Bagaimana caranya supaya Louis menghancurleburkan bantahan menjengkelkannya dan lekas mengiakan ajakannya?

Ide licik muncul pada momen yang tepat, kepalanya seolah dipenuhi lampu pijar yang berkilau terang. William mengeluarkan kartu asnya pada Louis, yang ia yakini akan memicu sang hewan beringas untuk keluar dari kandang besinya.

Sungging senyum miring, William kembali merayu, “Sekali saja, Louis, setelah itu aku langsung istirahat. Ya? Aku mohon.” Jemarinya menyibak poni yang menutupi sisi kanan rupa Louis, menjangkau bingkai kacamatanya, kemudian memperlihatkan netranya yang setajam elang tanpa penghalang apapun. Kemudian William mengelus halus garis rahangnya, turun menuju ke leher, lalu pada kerah baju tidurnya—menatanya dengan erotis.

Manik delima milik si pendominasi akhirnya menaruh seluruh perhatiannya pada William. Dingin, menghasilkan gidik pada permukaan kulit porselennya. Binar iris William terisi penuh dengan rasa antusias karena umpan yang ia beri telah disantap tanpa sisa. Dan yang selanjutnya dia mengerti bahwa rasa laparnya takkan berhenti di situ. Ini dia.

Satu sekon ia tidak menikmati permainan ini, William tahu ia akan ketinggalan banyak. Karena tepat setelah ia membatin 'ini dia', Louis membanting tubuhnya pada dipan. Memerangkap tubuh langsing itu di antara kedua tangan kekarnya. Setelah itu Louis mengamati perubahan seri muka William dari yang terkejut dan tak lama kemudian mencerah. Kasar dan mengerikan. Favorit William.

“Kau yang meminta, William.” Ibu jari yang bertekstur agak kasar mengusap belahan bibir William dengan pelan dan pasti. Menanggalkan kesan kalau Louis tak main-main dengan ucapannya. Kalau Louis tidak berbelas kasih kepada sosok di bawah tubuhnya yang telah memancing keliarannya.

“Benar, Sayang. Aku yang meminta.”

“Bagus. Kalau begitu jangan sampai menyesal,” tambahnya sebelum melanjutkan urusan mereka. Mulut kembali bertemu dengan mulut. Lidah bertabrakan dengan lidah. Louis meraup kepunyaan William tiada ampun. Bunyi berciuman mengisi rumpang yang hadir pada ruangan yang lumayan besar itu. Tatkala Louis menggigit bibir bawah William, indra pendengarannya mendengar desah merdu yang spontan diciptakan. Eargasm.

Louis kian berhasrat, sampai kedua tangannya menyingkap piyama William dengan buru-buru. Jemarinya cekatan membuka kancing-kancing kemeja yang menghalangi kulit susu yang diidamnya. Bagian atas milik William kini tak ditempeli satupun benang. Louis merabai kulit putih bersih itu jengkal tiap jengkal, meninggalkan stimulasi yang membuat William melenguh nikmat. Jemarinya menetap pada puting merah muda yang telah menegang. William memekik tatkala Louis mulai bermain-main dengannya. “A-ah! Jangan di situ!”

Ciuman panjang mereka kini terlepas. Mulut lihai Louis mulai menuruni dagu, lalu menjejak pada ceruk leher William yang seksi dan terbuka lapang—yang seakan mengundangnya untuk mampir ke sana. Lidahnya membasahi kulit bersinar di bawahnya, menghisapnya kuat-kuat, dan memberi tanda bahwa ini adalah teritorial khusus yang dimilikinya seorang. Bekas-bekas keunguan muncul dengan segera.

Sepertinya William harus mengenakan turtle neck besok. Louis tertawa dalam hati.

“Sa-sayang!” sebut William dengan susah payah ketika Louis menghisap daerah tulang selangkanya dengan rakus, beriringan dengan cubitan pada putingnya yang padat. Jari-jemarinya menarik sejumput surai Louis dengan putus asa. Matanya membola, kemudian berputar ke atas saking terangsangnya. William tak berkutik di bawahnya. William tak berkutik di bawah Louis—sosok pendosa dan pemberi nikmat tiada tara.

Selesai dengan leher yang sekarang dipenuhi warna keunguan, Louis meneruskan rute perjalanannya menuju kedua buah dada pemuda di kungkungannya. Fokusnya kini terpusat penuh pada puting susu yang menguncup indah. Tangan Louis yang satu sibuk memilin puting yang kiri, sedangkan indra pengecapnya hampir sampai pada puting yang kanan.

William merasa seolah ada aliran listrik bertenaga tinggi yang menyengat raga sewaktu lidah Louis mulai menjilat dan menggigiti puting kepunyaannya. Terlambat menyuarakan protes, tangan yang semula menjambaki rambut pirang Louis kini berpindah pada pundaknya yang masih terbungkus baju tidur. William mencengkram kain tersebut dengan erat hingga tangannya membentuk kepalan, hingga kainnya kusut. Napasnya berat, tetapi ia akhirnya sempatkan berkata, “Ah, Louis! Ku-kumohon—hentikan!”

“Hm?” gumam sang lawan bicara yang masih mengulum puting dalam mulutnya. Sarkastis, ia meminta William untuk mengulang permohonannya.

“Kumohon,” rengeknya sebagai jawaban. Mendayu-dayu bunyinya, laksana harpa yang dimainkan oleh seorang harpis—perfek, bahkan kata sumbang pun tak berani mencela. Air mukanya memelas, suatu wujud permohonan yang mengundang rasa kasihan bagi yang mendengarnya.

Namun tatkala Louis mendengar kata terakhir yang terlepas dari bibir William, batangnya makin mengeras—menciptakan dorongan untuk melahap habis buah dada yang sebelah yang belum tersentuh oleh mulutnya. Mulut William kembali menciptakan spasi, usahanya untuk memekik bahkan tak bisa termanifestasi. William bahkan tak bisa menggunakan pita suaranya. William sudah mabuk kecubung.

Benda yang bersemayam di antara selangkangan keduanya juga mulai menyesakkan celana, seolah menjerit untuk dilepas dari sangkarnya. Kejantanan yang masih terbungkus berhelai-helai kain itu acap kali bergesekan satu sama lain. Louis mendesis ketika ia kembali menyentuh kepunyaan William yang sama tegangnya dengan miliknya.

Louis bangkit dari tempatnya memuaskan nafsu, kembali memijakkan kakinya di lantai kayu. Tak menghiraukan ereksi yang sebentar lagi membinasakan kewarasannya. Netra scarlet-nya dengan leluasa memandangi laki-laki yang kesulitan menggapai udara di sekitarnya dari atas hingga bawah.

William menatapnya lemah lunglai, terindikasi tak sanggup menutur bahkan sepenggal kata. Peluh yang terwujud akibat pergumulan mereka hadir di pelipisnya yang mengkilat. Liur menggenang di pojok mulut. Ceruk lehernya bak diberi pewarna ungu yang tak keruan letaknya, berantakan. Payudaranya membengkak, bukti konkret kehausan Louis untuk menyusu padanya. Mahakarya, seni yang tinggi nilai estetikanya.

Bangga pada dirinya sendiri, Louis tersenyum sinis. Setelahnya, ia tertawa dalam hati dan membatin, “Padahal ini baru permulaan.

Sedikit menunduk, jari telunjuk dan tengah Louis terulur, menuntut yang lebih tua untuk mengemut. Lidah William menjulur seperti insan penuh dahaga yang tengah mengarungi gurun luas di bawah teriknya mentari. Saliva lengket serta-merta membalut dua jari masif yang melenggang masuk. “Kau ini seorang cendekiawan, William. Orang-orang pun tak segan untuk mengakui kepandaianmu. Kenapa perkara memohon saja kau tak bisa melakukannya dengan benar?”

“Hmph—ma-maafkan aku, Louis.” William meracau, berupaya untuk meredakan ego si penguasa ranjang. Dua jemari Louis berulah di dalam sana, menyebabkan William kewalahan untuk merespons barang satu kata. Louis mempermainkannya. Dan lihat, kerut-kerut tak suka terpatri nyata pada dahinya. Ketakutan yang William rasa pada Louis membuatnya tak menyadari bahwa ia telah berbuat kesalahan.

Louis menarik dagu pria di hadapannya, lantas mengarahkan wajah semerah tomatnya ke kiri. Ia kembali bersua dengan daun telinganya, lalu embuskan napas panas yang membuat William menggelinjang tak terkendali. Sebulir air mata menetes dari sudut netranya—kombinasi rasa gentar dan puas yang menemani selama Louis menguasai. “Di mana William yang pintar bertata krama, hm? Apakah jati dirinya hilang ditelan bumi? Atau karena tuannya sudah lama tak menggerayangi tubuh moleknya, ia jadi lupa diri?”

“Ma-maaf, Tuan. Tolong maafkan William,” cicitnya sambil menggosok-gosokan tangannya yang menyatu. William kembali berdesah ketika Louis menjilati cuping telinga dengan lahap. Tubuh gagahnya lagi-lagi mengurung William, tak memberi waktu istirahat. Sang penerima stimulus dengan sengsara meremat seprai yang dapat dicapai oleh tangannya. Dia sendiri tak yakin bahwa dirinya dapat melawan si pemangsa yang tak kenal apa itu perasaan iba untuk durasi yang lebih lama.

Louis sekali lagi bertemu pandang dengan William yang sudah kelelahan. Suara yang berat beralun, masuk ke pendengaran William. “Kau minta untuk dimaafkan?” William mengangguk dengan gesit. Louis tertawa remeh. Ia akui William-nya ini memang aneh. Ia berbuat onar seakan mengerti konsekuensi yang akan diperoleh, tetapi dia justru memohon pengampunan sekarang.

Pandangan Louis melunak. Mau seberingas apapun dia, Louis tak akan pernah melewati batas kemampuan sang kesayangan. Jangan sampai. “Baiklah.” Dia menjatuhkan raganya di sebelah William, lalu menyangga kepalanya di tangan. Mengamati kakak kandungnya yang tak henti-hentinya mengatur pernapasan. “Apa aku terlalu kasar?” Jemarinya yang membelai pipi William bak menyentuh seorang malaikat—surreal.

Manik rubi itu mengerling, mendapati Louis yang menampilkan kekhawatiran di parasnya yang rupawan. Kurva sempurna tertera pada bibir tipisnya, kemudian ia berbisik, “Tidak, Tuan. Aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu lagi. Aku hanya sudah lama tak melakukannya.”

“Apalagi penyakitmu baru saja kambuh. Kenapa kau memaksakan diri? Aku seharusnya menolak ajakanmu tadi,” sesal yang lebih muda. Rasa bersalah merasuki jiwa raganya. Ia jadi tak tega melihat William yang tak sanggup menerima ledakan libido yang selama ini ia simpan. Meskipun dia tahu kalau William sama berhasratnya.

Mendengar pernyataan itu, terjadi perubahan yang signifikan pada mimik wajahnya. Datar, tanpa ekspresi. Detak jantung Louis berdentum cepat, mengantisipasi ucapan yang hendak dibalaskan padanya.

Hening melanda, tetapi lenyap sewaktu bibir ranum William mendarat pada bibir lelaki satunya. Ia membubuhi kecupan semanis gula, yang sesapannya setara dengan alkohol yang mengakibatkan candu. “Aku sudah baik-baik saja, Tuan tak perlu mencemaskanku sebegitunya.”

Kendatipun terdengar ganjil tatkala William menyebutnya 'Tuan' di saat yang tak tepat, Louis paham betul William masih ingin melanjutkannya. Dia mengembuskan napasnya pasrah. “Ya sudah. Sebelum kita melanjutkan, mau kuambilkan minum? Aku rasa kau butuh istirahat sebelum kita masuk ke inti permainannya,” terangnya dengan kasual. William pun terkekeh mendengarnya.

“Jika Tuan yang menghendaki, maka aku bisa apa?”


Bersandar pada kepala kasur, Louis dapat melihat aktivitas William yang duduk di dekat kakinya yang diluruskan. Ia sedang menenggak air yang Louis ambilkan di dapur tadi. Terhitung tak lebih dari sepuluh teguk, isi gelas bening berukuran sedang itu akhirnya habis tak bersisa. Louis tersenyum tipis, William-nya sangat menggemaskan. Sungguh, sampai ia ingin memberi sejuta kecup kecil pada wajah imutnya jika Louis bisa.

William meletakkan wadah tersebut di nakas, kemudian paras tampannya berpaling pada yang lebih muda—yang memperhatikannya sedari tadi. Ia mengembangkan senyum tatkala Louis memberi gestur untuk duduk di sebelahnya.

Begitu William mendekat, Louis merengkuh pinggangnya, lalu menerima raganya yang hendak bertumpu. William mendaratkan kepalanya di lengan Louis, lantas tercium wangi tubuh milik sang adik yang menenangkan. Membuat William semakin betah untuk bergelung.

Kesunyian yang didampingi oleh kehangatan tersebut membuat Louis refleks memejamkan kedua matanya. Benaknya tidak ribut, pikirannya jernih, dan karenanya dia dapat meyakini bahwa dia dan William tak melakukan suatu apapun pun akan sama nyamannya seperti saat mereka bercinta. Asalkan ia melakukannya bersama William. Asalkan ia melakukannya untuk William.

William, William, William. Seluruh hirup napasnya selama ia hidup di bumi pertiwi, seluruh perasaan cinta yang ia rasakan selama menjadi manusia. Tanpa hadirnya William, Louis tak tahu bagaimana rasanya. Louis tak mau tahu bagaimana rasanya.

Sepasang netra yang tertutup itu terbuka perlahan, lantas menjumpai sang belahan jiwa yang sedang mengamati jemari-jemari panjang dan lentik kepunyaannya sendiri. Ragu tersarat jelas dalam ucapannya setelah itu. “Ah, aku belum potong kuku. Ternyata sudah lumayan panjang.”

“Memangnya kenapa?” Jari-jari Louis meraih milik William yang mengambang di udara, lalu mengusap buku dan kukunya. Ia memberi kecup singkat di setiap tulang sendi pada tangan itu.

Kepala si matematikawan menoleh, lalu ia menaruh separuh rupanya di lengan sang dominan. Kecup lengan yang dibalut baju tidur tersebut sekali, lantas William menjawab lirih, “Tak apa, aku hanya khawatir punggung Tuan besok akan penuh dengan luka-luka.”

“Aku tak mempermasalahkannya. Satu lagi, apa kau yakin masih ingin melanjutkannya? Aku yakin kau sudah mengantuk.” Belai dagu yang terpahat tanpa cacat dari lahir, Louis sangat berharap bahwa William paham mengapa dia secemas itu.

Setelah jeda sejenak, pria itu mengangguk pasti. William paham tentang kekhawatirannya. Lega mengisi penuh sukma Louis. “Kantukku akan hilang seiring berjalannya permainan kita, Tuan.”

Louis menelan ludah. Tatapan serius dan menggoda yang diberikan William membuat kecemasannya musnah total. Rasa gelisah yang ia rasakan pada kenyataannya tak ada faedahnya sama sekali. Jemari Louis melancarkan aksinya untuk mengusap pucuk kepala William, setelah itu ia memberi ciuman panjang pada keningnya dengan amor yang menggebu-gebu.

“Baiklah.”

Pada detik itu, Louis berani bersumpah—ia rela memberikan seisi jagat raya untuk sosok di depannya. Jika ia adalah seorang penjudi, Louis bersedia mempertaruhkan seluruh asetnya. Atau mungkin jika ia seorang filantropis, Louis sanggup menguras harta kekayaannya dalam sejentik jemari. Cinta yang ia miliki pada William itu riil, baik sebagai seorang adik kepada kakak maupun sebagai sepasang kekasih.

Louis akan mengerahkan segenap kekuatannya untuk terus bersanding dengan si jantung hati, sekalipun dengan cara tak mengindahkan bagaimana dunia memandang asmara dipadu oleh keduanya. Karena nilai nyawa dan raganya sudah absolut untuk seorang William James Moriarty.

William bangun, kemudian memposisikan bokong kenyalnya di atas kedua kaki Louis. Lepasan napas yang berat tertangkap oleh indra pendengaran William saat ia mulai mengelus barang padat yang menonjol di antara pangkal paha Louis. William mencerling dan menjumpai Louis yang menengadah, tampak jelas bahwa tubuhnya penuh akan gairah yang melimpah ruah.

Tali yang menjaga piyama itu ditarik, menampakkan celana kain yang berjejal. Kunci resleting dibuka perlahan, penuh kehati-hatian yang membuat Louis mengumpat dalam hati. Lakukan dengan cepat, sialan. William tak hanya pintar dalam logika, tetapi ia juga pintar memainkan perasaan lawannya.

Terekspos, benda berurat milik Louis telah berdiri tegap di tempatnya berkediaman. Besar, panjang. Cairan bening pra-ejakulasi berlumuran di puncak batangnya. William refleks menelan saliva. Tangannya beraksi untuk menyentuh kepalanya, kemudian membentuk gerakan memutar di uretra. Louis kembali mendangak, jamah yang dilakukan William benar-benar membuat daya pikirnya lumpuh.

“William, ce-cepat tuntaskan,” titahnya tak sabar. Namun seperti dugaan, William tak mengindahkan pinta Louis. Binal memang sifat bawaannya. Ingatkan Louis untuk membalas William nanti. Namun kembali pada realita, Louis kini sepenuhnya bergantung pada pria yang duduk di kakinya. Ia seolah dibawa terbang ke langit ketujuh dan mendadak lupa dengan daratan. Nikmat yang tak terbandingkan.

Kekeh geli terdengar, bagai meremehkan Louis. “Baik, Tuanku.”

Bertindak serupa seorang konduktor pada sebuah orkestra yang megah, William mulai mengalunkan batonnya dalam tempo lento. Ketika dirasa sudah waktunya, ia meningkatkan temponya menjadi andante. Dan tak lama menjadi moderato.

William membuai barang sensitif tersebut dengan cara yang tak dapat ditoleransi oleh akal, meskipun ia tak menggunakan lubrikan atau ludah untuk melancarkan aksinya. Louis sendiri tak menampik kalau ada kemungkinan besar dia akan keluar hanya karena permainan tangan yang elok itu. Deru napasnya amburadul, ia acap kali membasahi bibirnya yang kering karena keseringan bernapas melalui mulut. Kedua tangan yang ada di sisi tubuhnya sibuk meremati seprai di bawahnya.

Andai kata mereka melakukan hal sembrono ini di luar mansion, Louis yakin ia akan mendesah kencang lantaran kepuasan yang mengisi relung raganya meluap, mengalir deras di setiap saraf dan otot dalam tubuhnya. Namun karena kondisi mereka tak memungkinkan, Louis hanya bisa mendesis, “Tanganmu seperti sedang melakukan pekerjaan suci.”

“Bukannya memang suci? Aku 'kan sedang memenuhi kebutuhan rohani.”

“Jangan mengacau begitu, William. Tuhan tak suka.” Louis tak menyadari kalau cairan pra-ejakulasinya telah kembali keluar dan membaluri kemaluannya. Mengambil kesempatan dalam kesempitan, William menggunakan likuid itu untuk melumasi kejantanan Louis.

William mengendikkan bahu. Tangannya tetap fokus pada benda yang menegak seutuhnya. “Kurasa Tuhan tidak suka pada kita semenjak kita dilahirkan ke dunia.”

Louis termenung. Otaknya berpikir panjang, berderu seperti mesin. “Benar juga. Kita jelas-jelas sedarah, tetapi kita juga menjalin kasih.”

“Ah,” erang Louis secara otomatis sewaktu ia merasa ada suatu pelepasan yang membuat tubuhnya merileks. Tatkala ia mendapati mani sudah meluber dari kepala penisnya, Louis tak berbohong—ia tercengang. Dia mengakui kehebatan William dalam memberi servis. “Astaga, cepat sekali aku keluar.”

Gumam disuarakan dengan riang. “Mau diservis lagi?” tawar William sambil mengedip genit. Ia maju, mendekati sang adik, setelah itu menanti jawaban darinya sembari memberi kecup-kecup kecil pada beberapa titik di wajahnya yang tegas dan seksi—dagu, rahang, pipi yang satu dan yang dihiasi bekas luka, dan hidung.

“Tidak, sudah cukup. Kini giliranmu untuk kupuaskan.” Louis mencium tangan William yang tengah menangkup kedua pipinya, setelahnya ia turut menyentuh tangan William dengan lembut, mencurahkan kehangatan yang menghasilkan senyum sejuk secara impulsif dari William. “Bisa tanggalkan pakaianmu sekarang? Jujur, aku sudah tak kuat.”

William segera duduk bersimpuh di hadapan Louis—yang mana mengundang kejut dari lelaki satunya. Ia tampak terpana, binar crimson-nya berkilauan dari tempat Louis menatapnya. Pasang telapak tangannya Willian satukan lagi, bak menyampaikan doa-doa kepada sosok di depannya. “Tak berbohong—tak diuntung sekali kalau aku melakukannya, sangat terhormat jika dapat diberi kenikmatan darimu, Tuan.”

Louis yang terpaku akhirnya tertawa lebar. Kalau William sudah begini, ia hanya bisa menggeleng-geleng kepala. Walau sudah dua puluh tahun lebih Louis hidup bersamanya, perilakunya tetap tak pernah bisa diprediksi dan selalu melipur batin. Unik dan jarang ditemukan pada pribadi lainnya. “Demi Tuhan, kau ini seperti berhadapan dengan anak Sang Ratu saja.”

Louis kembali mengemas kemaluannya ke dalam celana, sekaligus menunggu William untuk melepaskan pakaian tidurnya. Ia sama sekali tak mengamati penampakan pemuda yang kini menginjakkan kaki di lantai kamar. “Kalau kau adalah anak Sang Ratu, aku ingin menjadi pelayan setiamu.”

Dengus geli terdengar. “Hentikan, William. Jangan mengocok perut di momen yang tidak tepat.” Louis mendongak, lalu mendapati William yang belum melucuti pakaiannya sehelai pun. “Kenapa belum kau lepas?”

“Aku menanti Tuan untuk menaruh perhatian penuh padaku dan menyaksikanku menelanjangkan diri. Tidak boleh?” tanya sang submisif dengan berani. Dagunya naik, merasa superior. Apalagi dengan tubuhnya yang sedang berdiri tegak.

Louis memberi anggukan kilat, tak mau menunda terlalu lama. “Tentu kuperbolehkan. Lakukanlah.”

Jika dibandingkan dengan opera sabun yang biasa Louis tonton dengan kakak-kakaknya di waktu senggang, maka pertunjukan inilah yang lebih menarik untuk disaksikan.

Netra milik Louis spontan terkunci mati pada raga di depan sana, William bagai berdiri di panggung besar dan disinari lampu sorot yang menyilaukan mata. Dilihatnya William melepas tali pakaian tidur yang melilit pinggang rampingnya, sehingga hati milik Louis kini gaduh dengan puja puji lantaran pemandangan seronok yang ia pandangi sekarang. Indah. Elok. Sempurna. Dan semua kata yang sama maknanya.

Jemari putih bersih William kembali menggapai serat-serat kain yang masih melapisi tubuhnya. Ia membuka kancing-kancing krem yang ada pada kemejanya satu per satu, lalu menyingkap torsonya yang ramai dihuni oleh bekas ulah sang dominan. William sendiri bak memamerkannya, ia seperti berkata, “Lihat apa yang kauperbuat pada tubuh indahku.

Lehernya yang ramai dengan bercak keunguan, dadanya yang sembab lantaran kerakusan si penyusu, otot perut yang sedikit terbentuk berkilau akibat pantulan lampu kamar tidur, dan garis selangkangan timbul meskipun William belum menanggalkan celananya. Ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan. Louis menjerit dalam benaknya, kalbunya semakin dibuat gonjang-ganjing.

Situasi panas di antara mereka kian menjadi-jadi lantaran celana Louis kembali membentuk tonjolan. Louis lagi-lagi sudah tegang. Brengsek. Louis harus mengakui ia kadang kala tersiksa dengan lambannya permainan yang William ciptakan. Detail dan kerincian setiap tahap diingatnya betul-betul, bahkan sampai terbawa dalam mimpi. Namun hal itu sendiri juga yang menabur bumbu seru dan asik dalam permainan mereka.

Celana panjang William telah dilepas, menampilkan penisnya yang berdiri tanpa enggan. William sudah telanjang bulat. Louis yang sedari tadi duduk di kasur kini pindah ke tepinya, bertemu dengan William yang datang kepadanya pula. Bibir mereka kembali bersua—mengecapnya seakan setelah sekian lama mereka tak beradu.

Di tengah mereka berciuman, Louis mulai mengambil alih kendali. Ia membalikkan posisi, William kini membelakangi ranjang dan ia menghadap ke sana langsung. Louis lantas membaringkan raga yang berpegangan padanya dengan perlahan sampai mendarat di tempat tujuan—tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Suara kecup-mengecup mengudara di ruangan penuh asmara tersebut.

Kemudian siklus yang sama kembali diulang. Louis melahap lantak kulit putih cerah yang ia perangkap di bawah badannya—bibir, leher, dada, dan perut. Semuanya dijajah lagi, supaya tubuh pria di bawahnya tetap panas dan merileks. Lenguh oleh sang submisif terlantun sepanjang Louis menggerayangi raganya, membangkitkan batang si pemegang kuasa dengan mudah.

Ahirnya sampai pada hidangan utama. Kejantanan William sudah lama berdiri dan penuh dengan luapan pra-ejakulasi, kendati begitu ia tetap menikmati kegiatan yang kini dilaksanakan oleh sang pendominasi. Louis mengamati benda yang tampak berkedut tersebut. Celetuk terdengar dari sang lawan main. “Sampai kapan Tuan akan memandanginya?”

Mendengar William berceloteh dengan serampangan, alis Louis serta-merta menukik. “Kau kira hanya kau saja yang bisa mempermainkan perasaan orang?” balas Louis dengan jemari yang mulai menjamahi buah zakar insan di depannya. Sebuah pekik mesra lolos dari bibir tipis William. “Hm? Bagaimana? Mau kupermainkan juga?”

William mengeluarkan suara merengek setelahnya. Seri wajahnya memelas, pendar maniknya memancarkan putus asa. Namun anehnya, ia sama sekali tak menyuarakan protesnya lebih lanjut. Seolah-olah keinginannya terbagi rata lima puluh persen, antara ingin dan tidak. Ambigu, dan Louis memang sudah biasa diginikan. Jadi dia hanya tertawa kecil dan mulai menunjukkan mode seriusnya tepat setelah ia tertawa. “Mari tuntaskan ini, William.”

Louis membungkukkan diri, menyamai tinggi dengan yang sedang berbaring dengan erotisnya. Bibirnya kini telah berdiam diri di atas kemaluan William, seakan menunggu saat yang tepat. William sendiri menenggak salivanya kasar. Ia tak sabar untuk merasakan servis oral yang lebih memabukkan dari alkohol yang biasa diteguk kakak sulung mereka.

Dan ketika Louis mulai meraup penisnya, tubuh William serta-merta membusur. Kepalanya pirangnya ia lempar ke sembarang arah lantaran tak kuat menahan kenikmatan yang membuncah dalam raganya. Matanya berkelip-kelip, mulutnya ternganga. Tak lupa dengan napas berat yang kerap kali dilakukannya. Perlakuan yang Louis perbuat padanya kini sama eloknya dengan keadaan tanah surgaloka, tubuh William seakan meleleh sempurna dalam prosesnya. “Hahh, Tu-tuan—”

Naik dan turun. Naik dan turun. Louis menjamah semua titik yang ada pada kejantanan itu, kemudian ia sempatkan pula untuk menjilati dan menyedot kepala penisnya. William mabuk kepayang, servis balik dari Louis memang tak kalah piawai darinya. Keduanya terlewat mahir, dan keduanya juga berusaha membuat masing-masing merasa puas.

“Tu-tuan, aku ingin keluar,” bisik William yang wajahnya kini semerah kepiting rebus. Bulir keringat memandikan pelipisnya. Karena celetuk itu, kedua netra merah di sana kembali bertemu. Louis bergumam mengiyakan dan mulai mempercepat tempo permainannya.

Erang terbebas dari mulut kecil sang penikmat. Badannya sudah melemas betul, hingga ia tak bisa mencengkram seprai di bawahnya lagi. Pasrah sampai ke akar-akarnya. Menggapai udara di sekitarnya kini menjadi agenda utama William. Ekstasi merangsek masuk, memenuhi rongga tubuhnya tanpa sangsi.

“Tu-tuan, tolong,” pintanya lagi dengan terengah-engah. William sepenuhnya yakin kalau klimaksnya akan sampai tak ada satu menit lagi. Namun tidak ada tanda-tanda dari Louis untuk menanggalkan penisnya dari mulut itu. Sebenarnya apa yang dia pikirkan?

Barulah saat cairan itu menyembur keluar, William yang tubuhnya kini sedang melengkung indah mengerti. Apalagi ketika dia dan sang adik berciuman setelahnya. Louis menelan setengah dari seluruh cairan manis itu, kemudian berbagi sisanya ketika bertukar saliva dengannya. Mereka berpaduan mulut dengan kasar dan nafsu yang membara, seakan bibir masing-masing adalah hal terakhir yang akan disentuh oleh alat wicara.

Louis memutus ciuman tersebut secara bertahap tatkala pasokan oksigen dalam paru-paru kedua insan tersebut mulai menipis. Sepasang tangan yang memegangi rahang William itu kini mendorong William menjauh dengan lembut. Di saat yang sama, nampak benang liur yang menjuntai dari bibir ke bibir ketika mereka melepaskan diri. Mereka berpandangan dalam hening. Jantung yang berdentang seirama itu memecah keheningan yang datang menyambut, bertalu-talu memenuhi gendang telinga.

Setelah beberapa saat penuh kesunyian yang berarti, Louis bangkit dari ranjang, lalu serta-merta melepas lapisan kain yang masih setia membungkus tubuh gagahnya. William yang masih sibuk mengatur napasnya pun terdiam tatkala memandangi penampakan tersebut—tak lupa dengan tegukan liur yang tertahan.

Tulang selangkanya yang menonjol, bahunya yang lebar, dadanya yang bidang. Otot perut yang terpahat sempurna menjadi sentuhan terakhir. Semua orang yang melihat Louis yang sekarang pasti menahan napas lantaran saking takjubnya. Namun William tidak mempedulikan semua wujud keindahan itu, melainkan ia sibuk mengamati bekas luka yang hadir pada dada louis—bekas operasi jantungnya dulu.

William berdiri, kemudian mendatangi Louis yang tatap matanya selalu tertuju ke arahnya. Begitu William sampai, ia tersenyum hangat. Yang hangatnya setara dengan teriknya mentari saat pukul tujuh pagi. Yang hangatnya seperti perapian di kala musim dingin mengampiri. Yang hangatnya menciptakan debar yang kecepatannya tidak tahu diri.

Setelahnya, William sedikit membungkukkan diri, lalu mengecup bekas luka yang ukurannya tidak bisa dibilang kecil itu dengan lembut dan subtil. Lalu dia menempelkan daun telinganya yang kanan pada bekas luka tersebut, mendengar setiap detak di dalam sana dengan khidmat. Pasang netranya terpejam, seakan dia sedang menikmati pertunjukan seorang penyanyi tersohor yang ada di daratan Inggris Raya. Napas yang lega keluar dari pernapasannya. “Aku benar-benar harus bersyukur.”

“Bersyukur karena?” tanya Louis yang alis pirangnya menyatu heran.

“Bersyukur karena denyut jantung ini masih ada hingga sekarang.”

Louis amat paham, tepat setelah sang kekasih hati menyatakan kalimat itu, dadanya kini makin bergemuruh. Iris merah gelapnya kini bertemu dengan milik William yang melihatnya tak sanggup berucap barang sepatah kata. Ia tampakkan dari matanya yang bertutur, “Maaf, William, aku sampai tak bisa berkata-kata begini.

William tertawa renyah karenanya. Badannya mendarat pada rengkuhan Louis yang mendengus geli—tanpa menyadari kalau Louis sekarang sedang menahan tangis haru.

“Terima kasih,” cicit Louis seusai menciumi helai rambut si kakak dari samping.

William mengecup bahu yang ada di depan bibir merah jambunya, kemudian mengeratkan dekapan. “Apapun untuk Tuanku yang terkasih.”

Mereka kembali hanyut dalam kediaman, menikmati kehadiran satu sama lain. Namun tak lama setelahnya, keduanya sadar bahwa barang kejantanan mereka masih mampu berdiri—bahkan setelah mereka memadu kasih.

“Tuan ... sepertinya kita harus melanjutkan perjalanan,” ujar William dengan wajah jenaka. Pendar netra mengkilat lucu, bentuk kesatuan dari menggoda dan melontarkan lelucon.

Louis mengernyit kebingungan, berusaha mencerna perkataan yang lebih tua barusan. Begitu William mengerling ke arah bawah—memberi kode, Louis yang awalnya tak menggubris perihal itu menjadi mengikuti ke mana William menuntun irisnya, lalu mereka kembali menengadah, berpandangan dengan senyum penuh arti yang tercetak di rupa keduanya.

“Jadi?”

Louis memagut lembut bibir di hadapannya. “Ayo lanjutkan.”

Keduanya kini telah berpindah posisi, dengan William yang tubuhnya tengkurap dan Louis yang berada di belakangnya. Louis sedang sibuk-sibuknya mengurusi lubrikan dan anal yang terpampang nyata di depan. Ia mengoleskan dalam jumlah yang lumayan banyak, baik di tangannya maupun di kerutan tersebut. Louis benar-benar tak ingin William merasakan sakit.

“Aku coba masukkan satu, ya, William,” terang Louis sehalus mungkin.

“Baik, Tuan.”

Izin diterima. Jemari tengah Louis mulai menjelajah masuk dan serta-merta terdengar suara merintih dari sang penerima. Louis yang sedari tadi menggigit bibirnya karena khawatir setengah mati kini semakin dibuat kalut. Jarinya berhenti, membantu William untuk menyesuaikan diri. “Sakit?”

Louis menyaksikan dengan matanya sendiri, kalau William kini sedang menunduk dan mengatur napas setenang mungkin. Louis juga mewajarkan hal ini lantaran mereka sudah tak lama melakukannya. Mereka terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan, sampai lupa untuk sekadar bersenang-senang.

Pun jika disuruh memilih di antara tidak melakukannya lagi supaya William tidak kesakitan dan melakukannya tetapi membuat William merintih seperti sekarang, Louis jelas memilih pilihan yang pertama. Rasa cintanya lebih masif dibanding serangan libido yang datang.

“Tolong masukkan yang kedua, Tuan.”

Si adik tak habis pikir. Di saat kerunyaman seperti ini pun William masih dapat menyebutnya 'Tuan'?

Sisihkan pikiran yang mendadak hadir tadi, Louis mengiyakan permintaan sang terkasih dengan memasukkan jari yang kedua. Louis kembali mendengar William mengeluh perih. Kecemasannya kian menjadi-jadi, hingga ia bertanya dengan nada yang terlampau panik. “Kakak tidak apa-apa? Serius ingin melanjutkan ini?”

Louis dapat melihat kalau William mengangguk pelan, tetapi ia tak menyangka kalau William akan menoleh ke arahnya dengan mata yang berkaca-kaca—yang seketika membuat hati Louis mencelos. Suara yang kecil tertutur, “Tidak apa-apa, Sayang, aku hanya belum kembali terbiasa. Bisa tolong lanjutkan?”

Saliva tertenggak secara spontan. Louis yang tak sampai hati mendapati William begitu kerasnya berusaha tetap memaksakan diri untuk menuruti pintanya. Karena jika William berusaha keras untuk menampilkan yang terbaik, maka Louis juga harus melakukan hal yang sama. William akan baik-baik saja, sugesti Louis pada dirinya sendiri. “Baiklah.”

Dua jemari yang tertancap dalam cincin anus tersebut mulai melebar dan membentuk gunting—memperluas akses untuk masuk. Louis mengulang-ulangi gerakan tersebut dalam beberapa saat, sampai cengkraman William pada sprei di bawah tubuh mereka mulai terlepas dengan sendirinya.

Tatkala Louis merasa bahwa William sudah menyesuaikan diri, Louis mulai memasukkan jari ketiga. Lagi-lagi terdengar desis pelan dari depan sana. Di tengah usahanya, Louis sempat berpikir bagaimana jika miliknya yang masuk. Karena Louis tak berbohong—dan bukannya sombong—kejantanannya memang bisa dibilang besar.

Louis seketika menggeleng pelan, mengusir pergi pikirannya yang tak semestinya muncul di saat-saat seperti ini. Fokuslah pada William. “William?”

“Aku baik-baik saja, Tuan,” jawab William usai menengok dengan pelipis yang telah dihiasi keringat. Pada rupanya, tertera secara gablang senyum lembut yang tak lama berubah menjadi seringai. Iris scarlet Louis seketika membesar. Sial, seksi sekali.

Tak sampai di situ, reaksi Louis selanjutnya mendorong friksi tak tertahankan yang makin membuat pendengarnya kehilangan akal. Karena tepat setelah netra Louis terbuka lebar, ketiga jari di dalam sana mendadak mendorong lebih dalam. Lenguh secara otomatis tercipta. Bukan lenguh kesakitan, tetapi lenguh yang sarat akan kenikmatan.

Detik itu, Louis sadar betul kemaluannya kini lebih menegak dari sebelumnya. Ia sudah tak tahan. Louis segera menarik jari-jarinya, lalu melumuri penisnya dengan lubrikan yang tadinya tergeletak di nakas. Tangan kokoh Louis kini berupaya untuk membalik tubuh ramping William untuk menghadap dirinya. Batang kejantanan Louis seketika terasa jelas di selatan sana. Sang kakak tentu tersentak dengan kespontanan itu.

Namun tentu saja, ia menikmatinya. Permainan dimulai.

Badan William kini kembali digerayangi dengan ganas. Liar. Membabi buta. Bibir Louis ke sana kemari. Ke cuping telinga, garis rahang, kemudian menyempatkan untuk mengecup bibir William dan menggigitnya. Kedua tangannya tak tinggal diam; keduanya tengah memegangi paha luar William dan mengelus-elusnya dengan subtil. Dengan semua perlakuan itu, William kembali berdesah dengan eloknya. Kedua raga itu sudah berada di puncak kesabaran. Cepat lakukan penetrasinya! Jerit batin keduanya pada waktu yang sama.

Louis berbisik di telinga kanan sang belahan jiwa. “Maaf, aku sudah tidak kuat.” Louis dapat melihat William mengangguk segesit kecepatan cahaya. Lukis seringai, Louis segera melancarkan aksinya. “Aku masuk, William.”

Benda berurat itu mulai menembus barikade ketat di depannya. Inci demi inci. Perlahan, tetapi pasti. Louis berusaha keras untuk tetap menjaga rasionalitasnya dan memprioritaskan kondisi William, walaupun telah terbakar nafsu sebegitu panasnya. Kini orang yang dikhawatirkan sedang menengadahkan kepala dengan mata yang terpejam erat dan mulut yang terbuka.

Begitu seluruh penisnya bersemayam di dalam, Louis merasakan kelegaan menyirami raganya yang penuh akan peluh. Akhirnya. Ia menggeram, “Sial, William, sempit sekali.”

Louis mendengar napas yang tersengal-sengal dari lawan mainnya, dadanya kembang kempis. Tak hanya itu, ia juga merasakan badan ramping sang kakak kini bergetar. Louis yakin William merasa dirinya sangat penuh. Louis menatap netra crimson yang memandangnya tak berdaya, kemudian ia memberi ciuman singkat pada belahan bibirnya sebelum bersabda, “Aku akan menunggu hingga kau merasa siap, William. Katakan padaku jika kau tidak kuat, oke?”

Anggukan pelan diberikan sebagai respon. Tangan Louis kembali mengelus-elus paha William. Di tengah usaha William dalam menyesuaikan diri, Louis berceletuk, “Kau sangat indah dipandang, William.” Wajahnya mendekati wajah sang kecintaan, lalu mengecup bibir bawahnya. “Dan lebih indahnya lagi, kau hanya milikku seorang.”

Senyum kemenangan tertera jelas pada rupa tampan Louis. William yang sudah merasa baikan kini ikut menyeringai. Irisnya yang cantik bak bongkahan batu rubi melihat Louis dengan sarat menggoda. Sisi nakalnya telah kembali. “Sampai di sini saja, Tuan?”

Adalah salah satu cara paling manjur untuk memicu sisi bersaing yang tersimpan dalam diri Louis. Satu alisnya naik, tertantang secara spontan. “Oh, begitu?” Maka sang adik pun menyatakan untuk beradu kekuasaan dengan mengeluarkan setengah kemaluannya dari tempatnya berdiam diri, kemudian mengentak dalam satu dorongan. Tubuh sang penerima nikmat ikut bergerak, pita suaranya kembali bersuara dengan nakalnya. “Aaah—Tuan!”

William kalah hanya dengan sekali perlawanan. Atau mungkin dia memang sengaja. Karena Louis yang menggagahinya seperti ini adalah persona yang selalu William damba dan puja dalam diam setiap harinya. Sekalipun sang tambatan hati tak pernah tahu.

Bagaimana Louis mulai menggerakkan kejantanannya dalam tempo pelan, lalu menjadi liar ketika William kembali memantik dominasinya. Bagaimana Louis tak hanya memuaskan bagian bawah William dan membagi rata afeksinya pada leher atau semua titik yang bisa digapai oleh mulutnya. Bagaimana Louis yang dengan kasualnya menggempur titik nikmat William tanpa diarahkan terlebih dulu.

Nyatanya tak hanya tangan William saja yang melakukan pekerjaan suci. Semua tindak tanduk yang Louis lakukan pada William sekarang adalah hal terindah yang ia rasakan seumur hidupnya. Membawanya hanyut dalam kesenangan dunia; membuatnya kehilangan akal sehat. Sampai liurnya mengalir dari bibirnya yang bengkak; sampai ia tak sanggup membuka matanya lebar-lebar. Perih yang dialami sebelumnya pun sirna total.

Begitu lama suara kulit bertemu kulit bergaung di dalam kamar merah marun itu. Suara mendesah yang bersahutan tak absen mengalun pula. Nampaknya kedua kakak adik tersebut tak peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka. Mereka sibuk menghabiskan waktu hingga dini hari, sibuk merasai bagaimana raga satu sama lain memberi kenikmatan yang tak ada bandingnya.

Sebab mereka tak bisa menampik bahwasanya mereka merindukan hal ini.

“Lou—! Aku hen—hendak keluar!” tukas sang submisif dengan susah payah. Kuku-kuku yang berpegangan pada punggung Louis menancap semakin dalam. Louis mengangguk di tengah kegiatannya menerjang lubang di bawah sana.

Saat ini, mereka sudah melakukan ronde keempat—yang Louis harap menjadi penutupan kegiatan hari itu. Louis telah menegaskan bahwa William butuh istirahat. Serta jika Louis sudah bersikeras dan menyatakan kalimat final, maka tidak ada yang bisa melawan kehendaknya. Sekalipun sang kakak tercinta.

Deru napas bersambutan. Suasana di sekitar mereka terasa amat panas, membuat Louis menambah laju gerakannya dengan tak sabaran karena hampir mencapai pelepasan. “Aku juga, William.”

Pria yang berambut lebih gelap menyaksikan bagaimana sang kakak belingsatan sebegitu hebatnya di dalam kungkungan yang ia cipta. Serta-merta mani kepunyaan William menyembur keluar, mengenai tubuh Louis yang masih setia menghunjam. William keluar lebih dahulu, bahkan tanpa diberi stimulasi sedikit pun.

Seketika William melepas cengkraman yang ada pada punggung si pemegang kuasa, lalu membiarkan raganya terkapar lemas di selimut katun. Napasnya tercekat, tak lupa dengan lenguh-lenguh kecil yang terlahir lantaran Louis masih giat mengejar putihnya. William memasrahkan badannya begitu saja, menonton sang pujaan hati yang bermandikan keringat menyerbu liangnya dari tempatnya merebah. Seksinya minta ampun.

“Wahai Tuanku.” Suara parau William mengisi gendang telinga sang penggerak piston. Kedua iris rubinya mengerling, seakan-akan menjawab 'ada apa?'.

“Tolong keluar untukku.”

Lantunan kalimat tersebut dicerna secara sigap oleh si lawan. Balasannya tampak gamblang dari bagaimana Louis mempercepat entakan penisnya. William kembali menengadahkan kepala, menikmati permainan yang adiknya sajikan. Perutnya seolah kembali disesakkan oleh kupu-kupu yang beterbangan. Direcoki oleh euforia.

Geram dan desis terlontar secara otomatis dari belahan bibir Louis. William bersumpah, ia tak pernah memuja Louis seberat ini. Jantan sekali, sampai-sampai William menyeringai di tengah kegiatannya mengikuti irama yang si pemegang kuasa cipta. Sampai-sampai William melampiaskan rasa senangnya pada seprai katun yang tak bersalah—merematnya seakan hal tersebut adalah satu-satunya cara supaya dia dapat bertahan hidup.

Selanjutnya yang William tahu, putih kepunyaan Louis memenuhi liangnya hingga meluber dari cincin anus. Raga sang belahan jiwa menubruk dirinya yang telah terbaring sedari tadi. William merasakan bagaimana Louis berusaha mengatur pernapasannya dengan susah payah, serta bagaimana badan lengketnya bersentuhan dengan miliknya—yang tentu saja sama lengketnya.

Semasa keheningan melanda—hanya hirup dan buang napas yang mengisi rumpang, William sedang mengusapi helai rambut si adik yang lembap tatkala mendengarnya berseloroh, “Kita harus melakukan ini sering-sering.”

William mendengus geli, kemudian memandang wajah Louis yang rupawan dengan ekspresi yang humoristis. “Boleh.”

Yang lebih tua mendaratkan kecupan singkat pada bibir Louis yang masih mewujudkan kurva. Louis kembali memberi umpan balik, lalu menggesekkan hidungnya pada milik William dengan kasih. Waktu berikutnya mereka habiskan dengan mengobrol ringan, setelah itu Louis keluar dari kamar untuk mengambilkan William segelas susu hangat.

Kembali dari dapur, Louis yang mengenakan jubah tidurnya dengan asal pakai mendapati si belahan jiwa terlelap di tempat ia meninggalkannya tadi. Louis menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati, lalu mematikan lampu gantung yang menjadi saksi bisu pergulatan mereka semalam suntuk.

Louis meletakkan gelas susu tersebut di nakas, lantas meraih selimut yang tak membalut tubuh telanjang sang kecintaan secara menyeluruh. Ia merapatkan barang tersebut hingga tulang selangka William tidak tampak. Louis kembali berdiri seusai merapikan selimut tersebut, kemudian mengamati bagaimana si kakak bernapas secara konstan dalam tidurnya. Kembangan senyum terbentuk secara spontan.

Pria itu menyibak poni kuning yang hampir menutup netra. Setelah itu, bibirnya kembali menyentuh dahi William. “Aku mencintaimu selalu, Kak.”

Malam itu ditutup dengan Louis yang mendekap tubuh William dari belakang sepanjang malam.