Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Collections:
Anonymous
Stats:
Published:
2022-03-10
Words:
3,777
Chapters:
1/1
Kudos:
68
Bookmarks:
14
Hits:
3,887

Book of H: Aki

Work Text:

Sewaktu sekolah, aku termasuk anak pendiam, cupu, dan tidak punya teman yang terkadang di kerjai hanya karena iseng. Sampai-sampai aku pernah basah kuyup disiram air pel dan terpaksa mandi di sekolah. Waktu itu jam olahraga, tidak ada handuk dan baju olahraga gantiku di sembunyikan. Aku sesenggukan dengan tubuh telanjang di kamar mandi, salah satu anak yang mengerjaiku menaksa masuk dengan membawa ponselnya. Aku takut difoto dan diperas jadi aku mencoba menutupi apa yang bisa ditutupi.

Diluar dugaan ia membanting ponselnya entah kemana, kemudian belari keluar mengambilkan aku baju. Meski kebesaran, tetap aku pakai.

Namanya Kaji. Anggota judo. Berandalan. Dia tinggi besar dengan alis tebal yang tajam. Sejak kejadian di kamar mandi itu, ia jadi sering mengikutiku. Ia bilang, ia dan teman temannya tidak akan menggangguku lagi kalau aku nurut padanya.

Aku bilang iya. 

Sejak itu kehidupan sekolahku damai dan tentram, kecuali saat istirahat dan sepulang sekolah. Kaji selalu menarikku ke atap dan melakukan kebiasaan anehnya. Kaji mencopoti seluruh bajuku kemudian menyuruhku duduk diam diatas kursi yang ia bawa. Kadang ia suruh aku berjongkok lebar seperti kodok, kadang menungging, kadang mengangkang. Aku heran mengapa, saat kuberanikan diri untuk bertanya, ia bilang ia iseng saja karena bosan.

Aku percaya, ia tertawa. Katanya aku polos dan naif. Aku tidak ambil pusing. Toh Kaji tidak memukul, menendang, mengejek, mengerjai, atau memblackmail. Ia malah sering membawakanku makanan. Ia akan mendudukkan ku di pangkuan dan menyuapiku. Makanannya selalu sosis impor yang besar-besar dan ada instruksi khusus untuk memakannya. Aku baca kartu yang disodorkan Kaji, sebenarnya aku ingin langsung gigit, tapi tertulis lebih enak jika dimakan sesuai instruksi.

Terpaksa aku julurkan lidah untuk menjilati sosis itu perlahan, mengulum dan menghisapnya hingga rahangku pegal sebelum mengoleskan saus merah atau kuning di sekelilingnya dan akhirnya memakannya. Beberapa kali, Kaji membawakanku saus putih, aku tidak begitu suka, tapi Kaji memaksaku menghabiskannya. Aku terbatuk-batuk dan hampir muntah, tapi Kaji bilang aku harus terbiasa. Saus putih adalah saus yang paling enak. Rasa pahit dan amis begitu dibilang enak? Aku menangis sejadi-jadinya pada Kaji saat ia bilang hanya akan membawakanku saus putih setiap hari.

Sejak saat itu Kaji tidak lagi membawakanku saus putih. Tapi aku harus merelakan ia menambah hobi anehnya. Kaji sekarang suka meraba-raba tubuh telanjangku terutama dada. Aku sering kegelian saat ujung kukunya menekan puncak dadaku. Rasanya aneh seperti tersetrum. Semakin aku kegelian, semakin suka Kaji melakukannya. Terkadang, ia gelitik perutku hingga aku mendesah dan memohon agar ia berhenti.

Kaji juga suka menyentuh pantatku. Aku disuruh duduk di rengkuhannya berhadap-hadapan dan mengangkanginya, sementara tangan besar Kaji mengurut dan memijat kedua pipi pantatku. Aku tidak protes sih, soalnya enak. Tapi jemari Kaji kadang tidak sengaja menyentuh ke lubang bawahku, membuat aku merasakan sedikit gatal.

Kaji bilang aku punya tubuh seperti gitar spanyol. Yang jelas jelas salah, karena aku laki-laki. Meski pinggulku memang besar dan berlekuk seperti perempuan, pun aerolaku lebih lebar, dadaku datar. Aku bilang begitu, tapi Kaji menanggapinya lain. Ia bertekad membuat dadaku lebih berisi. Ia mulai rutin mengemut dan menghisap kedua putingku setiap hari. Ia juga membelikanku beberapa suplemen yang tidak aku mengerti, tapi dengan patuh aku minum. Soalnya aku tidak ingin kehilangan Kaji. Hanya Kaji yang ingin menghabiskan waktu denganku, bahkan keluargaku pun tidak pernah mempedulikan keberadaanku.

Selain itu, tubuhku rasanya aneh jika tidak disentuh Kaji.


Sebelum liburan, Kaji memberiku buku medis tentang pentingnya kebersihan diri. Bab 'Enema' dilingkari dengan spidol besar. Aku yang pencinta kebersihan merasa jijik dengan diriku sendiri yang tidak pernah sadar pentingnya membersihkan lubang kotor di bawah sana. Tentu saja aku langsung menerapkannya, penjelasan buku itu terlalu logis untuk ditentang.

Kaji juga memberikanku dua suplemen baru untuk diminum tiga kali sehari. Aku tidak mengerti apa tujuannya, tapi niat baiknya aku patuhi. Suplemen pasti untuk membuat tubuh lebih sehat kan? Kaji beberapa kali menyebut aku terlalu kurus dan dagingku menumpuk di pantat saja.

Semester baru dimulai, hobi baru Kaji juga dimulai.

Kaji mulai terobsesi untuk memasukkan barang-barang kecil ke...anusku. Awalnya Kaji marah akibat sesuatu yang tidak aku tahu. Ia tampar pantatku sedikit keras, sebelum memasukkan batang rokok yang belum dinyalakan ke dalam anusku. Karena benda itu mungil, ia satukan delapan batang sebelum menjejalkan setengah bagiannya ke dalam sana. Aku berbaring menyamping di pangkuan Kaji dengan pantat menungging, sementara ia mencabut satu persatu rokok dari pantatku seolah pantatku adalah kotak rokok. Aku tidak diizinkan bergerak hingga ia habiskan seluruh rokok itu menjadi abu.

Aku merasa Kaji benar benar terlihat seperti berandalan saat merokok seperti itu. Aku takut, tapi juga kagum.

Setelah kejadian itu, mulai dari spidol, penghapus, pena dan pewarna bergantian bersarang di anusku. Bahkan makanan seperti sosis, batangan coklat, lolipop dan anggur yang ia bawa juga tidak segan ia masukkan. Aku harus beraktivitas dengan benda-benda itu di dalam anusku seharian, sampai saat pulang sekolah dimana aku harus menunjukkan kepatuhanku pada Kaji.

Seperti biasa, setiap ke atap aku menanggalkan pakaian dan menaiki kursi. Kaji menepuk pantatku pelan agar aku menungging dan menunjukkan anusku padanya. Aku mulai mengejan dan mendorong benda-benda itu keluar. Cairan lengket juga bercipratan keluar, membuat basah kursi dan pahaku. Tubuhku lemas setelah itu, Kaji langsung menangkap dan membawaku ke pangkuan.

Ia masukkan tiga jarinya ke anusku, bahkan empat bersamaan. Aku tidak tahu apa yang Kaji cari tetapi ia terus menggerak-gerakkan jarinya hingga aku memekik kewalahan. Anusku semakin basah, cairan lengket bahkan mengalir deras seperti air. Sejak rutin enema, aku takut anusku kering dan kenapa-napa, tapi ternyata tubuhku malah bereaksi sebaliknya. Mungkin juga karena tubuhku semakin sehat karena mengonsumsi suplemen yang diberi Kaji.

"Aki, jangan pernah berhenti minum suplemen yang kukasih, ok?"

Benar kan? Aku mengangguk. Kaji mencabut jarinya lalu menyentuh dadaku yang semakin berisi. Diremasnya pelan dengan kedua tangan besarnya. Kaji merebahkanku di lantai, ia berbaring diantara kedua kakiku dan mulai menyesap pentilku yang keras. Aku tidak tahu mengapa, rasanya sangat panas dan membuat perutku sedikit melilit.

Suara bel yang keras menghentikan tingkah Kaji. Ia rapikan pakaianku dan memapah aku yang tidak bertenaga ke UKS. Kaji menemaniku sampai sore, bahkan mengantarku dengan sopirnya pulang. Sebelum aku turun dari mobilnya, Kaji memberikan aku sebuah kotak.

"Baca dan pakai, kutunggu besok."


Kotak itu ternyata berisi lima stik berbagai bentuk dengan ukuran medium yang harus aku masukkan ke anusku. Aku baca di kertasnya; itu disebut dildo. Kaji telah melabel masing-masingnya; stik yang ujungnya seperti jamur untuk hari senin, selasa stik kerucut yang dipenuhi tonjolan bulat, rabu stik seperti jamur tetapi lebih pendek dan bisa bergetar, kamis stik yang terdiri dari tiga bola yang saling tersambung, dan jumat stik yang pangkalnya bulat tapi ujungnya melancip. Selain stik, ada sebuah botol dengan wangi stroberi bertuliskan lubrikan. Aku pikir, stik ini jauh lebih baik dari pada benda aneh selama ini.

Aku tidak keberatan meladeni hobi aneh Kaji. Hobi Kaji tidak menyakitkan atau melukai, paling hanya sedikit tidak nyaman saat berjalan atau duduk saja. Paling aku kewalahan ketika Kaji memainkan stik itu disaat senggang. Ketika aku berdua saja dengan Kaji, Kaji suka sekali mengaduk-aduk anusku dengan batangan itu. Belum lagi bibirnya yang sekarang suka menghisap-hisap leher dan telingaku, ditambah putingku yang selalu ia mainkan membuat aku gelinjangan. 

Beberapa kali tubuhku dibuatnya seperti melayang jauh bersamaan dengan kejantananku yang mengeluarkan cairan putih. Kaji bilang itu orgasme, dan aku segera mengerti cairan putih yang aku keluarkan adalah sperma dalam pelajaran biologi. Tapi Kaji juga bilang, orgasme yang lebih enak lagi untukku adalah melalui anus. Bahkan menurutnya, penyebab aku bisa mencapai klimaks sebagian besarnya adalah rangsangan pada anus dan putingku. Saat kupikir-pikir, perkataannya memang benar. Kaji tidak sering menyentuh batanganku di bawah sana, meski sesekali ia kocok dan puji 'imut'.

Aku jadi sedikit malu dan khawatir. Aku baru sadar kalau tubuhku sedikit aneh. Aku juga tersadar sepertinya apa yang Kaji dan aku lakukan sedikit mengarah ke seks. Aku panik dan ketakutan, airmataku bercucuran. Kaji langsung menenangkanku, dan ia bilang; tidak apa-apa, memang ada laki-laki yang terlahir untuk melayani laki-laki juga. Ia juga tanya aku; apakah aku tidak suka dengan apa yang ia lakukan? Apakah aku tidak suka menghabiskan waktu senggang berduaan? Apakah aku ingin Kaji tidak berhubungan denganku lagi?

Tentu saja aku bilang tidak! Aku selalu ingin bersama Kaji! Aku tidak ingin sendirian lagi. Aku suka dipeluk dan dimanja Kaji. Aku katakan pada Kaji, Kaji tidak boleh pergi!

Kaji memelukku erat. Ia katakan bahwa ia tidak akan pergi. Tetapi, aku juga harus berkompromi. Aku tidak boleh menganggap tubuhku aneh. Kaji katakan, tubuhku sempurna dan ia sangat suka. Ia juga sudah jatuh cinta padaku sejak lama dan ingin menjadikanku kekasihnya.

Kaji bilang; Aki memang laki-laki, tapi aku ingin Aki menjadi 'wanita'ku.

Tentu saja aku mengangguk pada pernyataan cinta itu. Aku yang sudah seperti sebatang kara di dunia, diaku cinta oleh pemuda pujaan satu SMA!


Setelah pengakuan cinta itu, aku merasakan perhatian Kaji menjadi semakin melimpah. Ia juga tidak segan mengundangku ke rumahnya yang sangat luas seperti istana. 

Keluarga Kaji punya taman di depan, hutan dengan danau kecil di belakang, kandang kuda, bahkan rusa. Aku tidak menyangka keluarganya sangat kaya. Melihat aku sangat tertarik, Kaji menawarkan diri untuk mengantarku melihat-lihat.

Ketika aku melihat rumpun bunga matahari yang sangat lebat di tepi danau, aku menjadi sangat bersemangat! Aku suka bunga matahari. Sayangnya karena sangat tinggi, dan aku terpaksa meloncat-loncat hanya untuk menggapai tangkainya.

Kaji tiba-tiba saja sudah berada di belakangku. Napasnya memburu, "Pantatmu benar-benar seksi saat bergoyang begitu, Aki sengaja menggodaku, ya?"

Aku terkejut ia bisa berpikir begitu. Tapi kalau diingat-ingat, aku hanya mengenakan shortpants dan baju kaus pinjaman Kaji sebagai pengganti seragam. Dari sudut pandang Kaji, aku bisa dibilang menggodanya sih... pipiku langsung merah.

Kaji memeluk dan menciumi tengkukku dengan antusias sementara selangkangannya yang keras menggesek-gesek pantatku. Tidak lama kemudian Ia tarik shortpants ku sebelum mendorongku berlutut di rumput. Aku bisa merasakan Kaji sudah memegang pangkal dildo seperti tiga bola bersambung di anusku, kupikir ia pasti ingin bermain seperti biasa, tetapi ia malah menarik habis benda itu keluar. Anusku mengembang-kempis dengan cepat, ternyata anusku sudah tidak terbiasa tanpa isi di dalamnya.

Kaji menindih badanku, sesuatu yang besar menyelip beberapa kali diantara pipi pantatku sebelum menerobos masuk dalam sekali dorongan. Aku memekik kencang, anusku yang selalu basah seakan mengeluarkan lebih banyak air lengket untuk memperlancar benda ini.

"Hnggh..ahh, Aki.. akhirnya.. Aki benar-benar jadi milikku, haa.."

"Ka-kaji..! Kaji!"

Aku mengerang keras karena seperti ada yang menggempur anusku mati-matian. Rasanya panas dingin, anusku dirojok dengan batang panjang dan tebal hingga sangat dalam, sensasinya membuatku terpejam nikmat. Tidak seperti dildo yang dingin dan kaku, benda ini panas dan berdenyut kuat! Aku goyangkan pantatku bersemangat, pinggulku ikut bergerak-gerak. Kedua tangan Kaji juga mencengkram buah dadaku yang menggelayut dari belakang, jemarinya memilin dan mencubit puncak putingku kasar.

"Nikmat penisku, Aki? Hnngg,"

Ooowh, aku mendesah panjang saat bisikan Kaji mengena di otakku. Penis Kaji di anusku! Pantas saja rasanya nikmat bukan kepalang. 

Slap. Slap. Slap.

Paha dan abdomen Kaji menghantam pantatku nyaring, aku semakin liar menggoyangkan pantatku. Dadaku membusung keras dan putingku berkedut-kedut cepat, tangan Kaji yang besar dan kasar memeras kuat aerolaku. Kejantanan imutku melonjak-lonjak dengan precum mulai berlelehan.

Sesaat kemudian aku rasakan seluruh tubuhku mengejang, warna putih membutakan mataku bersamaan dengan tiga hal: semburan semen dari penisku, luapan semen Kaji di dalam anusku, dan cipratan susu dari puting tegangku.


Kaji membalikkan badanku tergesa, seperti kesetanan ia dorong aku hingga telentang. Mulutnya langsung meraup dada kiriku. Ia sedot dengan sangat kuat sampai-sampai aku memekik kencang. Air susuku segera memenuhi mulutnya, yang di telan Kaji dengan suara gluk gluk keras. Kaji pindah ke dada kananku untuk melakukan hal yang sama, kali ini tidak berhenti hingga tidak ada yang keluar lagi.

Aku terkulai lemas, aku bahkan tidak terpikir bagaimana mungkin aku yang laki-laki bisa mengeluarkan susu. Yang kupikir hanyalah nikmat yang terus mengaliri tubuhku dengan deras. Aku mendesah dan mengerang ah, ah, ah saat Kaji menarik kedua kaki rampingku ke atas bahunya dan mulai menyodok keras anusku lagi. Kali ini ia lebih bersemangat, tubuhku berguncang-guncang dibuatnya. 

Bibirnya menyerang bibirku, ia cium aku dengan sangat buas hingga saliva menetes dari sela sela mulutku. Ia juga kecap dan hisap sepanjang leher dan bahuku, 

"Aki.. Aki, kau tidak tahu betapa lama aku ingin menyetubuhimu seperti ini..kkkh," gumamnya.

Aku mengeratkan pelukan ke bahu Kaji, mulutku tidak bisa bicara selain memanggil nama Kaji.

"Ka, Kaji~~ Kajii, ah, ah ah~"

Plok. Plok. Plok.

"Auuuuwhh, ahhn, Kajiiihhh~ nyaaahh!"

"Memek Aki sempit--gguh!"

Aku terlonjak mendengarnya. Sedikit malu mendengar kata vulgar begitu, tapi jantungku kencang berdebar.

"Bu, bukan memek ahh, Kaji~"

Protesku.

"Tapi tempatnya penis masuk ya...memek!" Sodoknya keras.

"Ahh, Kaji~ nyahh! Ti-tidak auuwwhn!"

Aku menggelinjang keenakan. Kaji meraih pantat padatku lalu mempercepat ritme sodokannya hingga aku mengaduh-aduh karenanya.

"Aki.. Aki~! Aku datang di memek Aki lagi, kkh!"

Aku terpekik kencang saat perutku lagi-lagi diisi oleh sperma Kaji.


Kaji tidak berhenti menyenggamaiku di hutan hingga hampir malam hari. Perutku sudah membuncit penuh spermanya saat ia sumpal anusku dengan dildo, dan kemudian menggendongku ke kamarnya. Di kamarnya, Kaji justru makin menjadi-jadi.

Pertama ia bantu aku mandi dan mengeluarkan sisa yang tadi. Aku duduk dengan lutut terbuka lebar di bawah shower, saat Kaji tarik dildo itu, cairan putih di dalamnya menyeruak keluar seperti keran yang terbuka. Saat Kaji tekan perut besarku, sperma di anusku menyembur keras hingga terkena dagunya. Kaji terkekeh, ia jilat cairan itu dengan lidahnya yang terjulur.

"Perut Aki hebat, bisa menampung sebanyak ini~"

Pujinya sambil mengarahkan kepala shower ke anusku untuk mencuci habis sisa-sisa maninya di dalam.

"Kalau begini, Aki seperti ejakulasi dari belakang, lubang Aki tidak berhenti menyemprotkan sperma. Benda imut di depan ini seperti tidak ada gunanya~"

Kaji menjentik kepala penisku yang hanya sebesar jempol tangannya.

"Dibuang saja apa ya?"

"Tidak ahhh, Kajiiih jangan ahh,"

Pekikku panik. Dibuang? Bagaimana bisa benda itu dibuang? Dipotong, maksudnya? Tidak, aku tidak mau sakit!

"Bercanda kok, Aki sayang~ kan aku sudah bilang, aku cinta tubuh aki yang sempurna seperti ini..cup,"

Ia kecup bibirku lembut. 

Seorang pelayan mengetuk pintu dan membawakan makanan. Aku tidak sempat lihat karena Kaji menyuruhku terus saja mandi dan berpakaian. Kaji sangat perhatian, ia pangku dan suapi aku hingga habis. Ia bahkan tidak lupa menyiapkan semua suplemen yang harus aku minum.

Aku memeluk lehernya manja. Kaji balas peluk pinggangku, lalu menyalakan tv besar di dinding. Film dewasa sepasang laki-laki tengah menyala. Aku terperangah karena aku tidak pernah melihat porn sebelumnya.

"Aki.., belajar dari film ini ya? Mereka juga saling cinta seperti kita.."

Bisik Kaji membuat hatiku bergetar. Aku pandangi lelaki pirang ramping dan kekasihnya yang berkulit gelap. Lelaki pirang itu tengah 'memakan' penis kekasihnya dengan semangat. Ekspresinya sangat keenakan. Ia juga mendesah dengan sangat vulgar, mungkin itu sebabnya tubuhku mulai panas.

Kaji menepuk pipiku pelan, ia sudah berganti posisi persis seperti lelaki gelap di tv, "Mulai ya, sayang?"

Aku merangkak diantara paha kokoh Kaji, baru kali ini aku melihat jelas kejantanannya yang sangat..laki. Mungkin lebih dari duapuluh senti, dan lebih tebal dari lima jariku dijadikan satu. Warnanya ungu kehitaman, dengan bulu lebat di pangkal dan dua bola testis besar. Anusku mendadak menjadi gatal.

"Mmph...ngh..fuu..mmnwah,"

Aku jilat, hisap, dan kulum seperti aku memakan sosis. Rasanya sedikit pahit dan asin. Tetapi aromanya~! Aku suka dan ketagihan. Sangat musky, membuat anusku mulai mengeluarkan cairan lengket yang menjadikannya basah.

"Slrrt, sluurp, slurrp," precumnya aku hisap kuat. Sesekali kulirik lelaki di tv, ia memijat testis kekasihnya, aku ikuti juga.

"Ngh..fuu, mulut Aki hebat..kulum terus Aki.."

Aku buka kerongkonganku agar penis Kaji bisa masuk lebih dalam. Pipiku mengempot saking lahapnya aku menghisap penis Kaji. Kaji mengusap usap rambutku, pahanya mendadak bergerak cepat menyodok-nyodok mulutku.

"Fuu, Aki-! Telan sayang!"

Semen Kaji mengaliri kerongkonganku. Kental dan panas, aku hampir tersedak. Aku merasa sedikit lelah dan sangat mengantuk, tapi seluruh tubuhku panas dan bergairah. Anus dan kedua putingku bahkan berdenyut-denyut minta diperhatikan.

Aku lirik tv lagi, dan lelaki pirang sudah menungging minta dimasukkan. Mungkin anusnya sama gatalnya dengan milikku. Aku juga ikut menungging, menyodorkan anusku pada Kaji.

"Kajii~"

Panggilku dengan nada merayu yang sama seperti di tv. Anusku yang masih renggang terus mengucurkan cairan lengket, aku tidak perlu di persiapkan. 

"Aki.." geramnya berat.

"Masukkan ahh~"

"Seksi sekali, Aki--hngg!"

"Nyahh~! Fuuu, ngh! Haahmmn!"

Aku mengerang saat penis Kaji yang kembali tegang menyosor anusku. Aku jepit kuat, tidak ingin lepas. Rasanya semua yang gatal di dalam sana tergaruk sudah.

"Ngggh, memek Aki pintar sekali menyedot masuk penisku.. tidak kalah dengan mulutmu hngg,"

"Kajiiihhh, unngggg, nyaahh~"

"Aki cantik sekali~ seperti ini..ngh"

"Guhh, kuhhh.. Kajiihhh, da-dalam ah, penis Kaji..nnhaa!"

"Kkhaa, Aki suka disodok penis, hmm?"

"Iyaa--uuungh! Sukahh! P-penis Kajihhh, nikmatthh~"

"Memek Aki juga nikmat--nghh--basahh dan lembut, kkh,"

Suara dan ucapan vulgar dari tv membuat aku dan Kaji jadi ikut vulgar. Dan itu membuat gairah kami makin terbakar. Akibatnya Kaji menggagahiku makin kasar.

"Kajiihh, Kajii~ nyahhh~!"

Aku berteriak saat mencapai klimaks. Penisku memuncratkan semen yang sudah cair. Anusku mengapit penis Kaji rapat, tapi ia tidak memberikanku ampun. Ia paksa keluar-masuk anusku yang over-sensitif, penisnya terus menghantam prostatku telak. 

"Ber, berhenti--hyahh! Ngh-ah, Kaji~ kyahhh!!"

Tidak mungkin aku bisa menahan nikmatnya sodokan Kaji. Ia tidak berhenti menggempur anusku yang sudah berantakan. Belum lagi dadaku yang sudah lecet terus bergesekan dengan bed cover. Aku menggelinjang kelimpungan.

"Tidakkh ahh, jangan--hwahh! Ka, Kajiihh~"

Aku rasakan penisnya berkedut-kedut marah di dalam sana, pembuluh darah di sekujurnya mengeras, menggaruk dinding anusku. Gumpalan otot itu semakin membesar, mengobrak-abrik anusku sekali lagi sebelum tertanam dalam, dan menyemburkan luapan sperma kental begitu banyak di dalam perutku.

"NNYAAHHNNN~!"

Desahku penuh kepuasan. Kaji menggeram sambil sesekali menyentakkan penisnya yang masih terus datang. Aku bisa merasakan perutku lagi-lagi mengembang karenanya. Baik dari atas maupun dari bawah, aku sudah ditandai sebagai milik Kaji sepenuhnya.

Aku menguap lelah dengan mata sudah setengah terpejam. Kaji memujiku hebat, lalu mematikan tv dan mengucapkan selamat malam. Aku tidur di pelukan Kaji dengan penisnya masih tertancap.

Insert: Kaji's pov

Ahh, memang top sekali obat-obatan yang kuambil dari laboratorium orangtuaku. Obat tidur membuat Aki tidak terbangun meski kugagahi sesukaku, sedangkan obat perangsang membuat tubuhnya tetap responsif.

Aku melenguh keras saat lagi-lagi spermaku mengisi perut Aki. Anusnya benar-benar nikmat, penisku seperti disedot vacuum. Aku belum puas, kubalik tubuhnya agar aku juga bisa bermain dengan dadanya.

Sejak melihat pinggang ramping dan pantat sintalnya di kamar mandi, aku sudah sangat ingin menggagahi Aki. Aki tidak cocok untuk jadi laki-laki, dengan tubuh dan sifat penakut seperti itu ia lebih baik melayani laki-laki. Sengaja kudekati dan kuberikan hormon serta suplemen untuk mengubah tubuhnya menjadi basah dan montok seperti wanita. Anusnya selalu basah dan bisa melumasi sendiri, penis mungilnya yang semakin sedikit menghasilkan sperma, putingnya yang semakin besar dan bisa mengeluarkan susu...Sebentar lagi.., sebentar lagi akan kuubah ia menjadi wanita sejati!

Plok. Plok. Plok.

Aku tak berhenti merojok lubang Aki.

Slap. Slap. Slap.

Kutampar juga pantat besar yang menggodaku ini.

Slurpp. Slurrp. Slurrp.

Kuhisap puting A-cupnya yang membengkak seperti stroberi.

Aku juga beberapa kali ganti posisi. Kugagahi lagi mulutnya, sebelum pindah ke dadanya. Saat kugesek-gesek penisku ke putingnya, rasanya sangat...luar biasa. Sayang aku kesulitan melakukan tits-fuck karena dada Aki masih belum cukup besar untuk mengapit penisku di tengahnya.

Meski begitu, aku tetap puas dan berejakulasi di wajah dan dadanya. 

Kulipat kaki Aki seperti huruf M dan kukaitkan di sikunya.

Fuck, akhirnya aku bisa mewujudkan fantasiku melihat Aki yang berlumuran sperma dimana-mana. Dada, wajah, anus yang menganga.. membuatku terangsang lagi saja! Kuambil beberapa foto untuk disimpan.

Setelah puas menyalurkan birahiku pada Aki, kubersihkan ia dengan pengecualian anusnya yang kusumpal anal plug. Aku suka melihat perut Aki penuh dengan benih-benihku.

Insert ends.


Ternyata Kaji memintakan izin untukku selama seminggu. Dia bawa aku liburan ke pulau pribadi keluarganya. Aku sangat terkejut tapi bahagia. Hari kemarin saat kami bercinta untuk pertama kalinya itu rupanya adalah ulangtahunnya. Dia bilang, aku adalah kado paling indah yang pernah diterimanya.

Sebelum pergi, Kaji bilang aku harus vaksinasi. Aku tidak terlalu mengerti, jadi Kaji yang mengurusi. Kaji bawa aku ke klinik, dimana aku disuntik di kedua puting, kelopak anus, dan pangkal penis. Tubuhku langsung panas dingin, tapi dokter menenangkanku. Katanya reaksi tubuhku cuma akan sebentar saja.

Di pulau yang hanya dinikmati aku dan Kaji, berpakaian lengkap tidak diindahi. Apalagi Kaji yang mengepak koperku, pakaiannya semuanya bikini! Aku malu, tapi Kaji bilang tidak apa-apa, toh yang lihat cuma dia yang sudah pernah lihat semuanya. Ucapannya memang benar, para pelayan yang tak pernah kelihatan tak mungkin bisa mengintipku.

Akhirnya kupakai juga bikini itu. Ternyata nyaman sekali, dan bisa menyangga kedua dadaku yang semakin berat. Tidak hanya itu, bahannya sangat halus dan lembut di kulit. Dan juga..., uhm, sangat praktis untuk dilepas saat Kaji lagi 'ingin'. Yang terjadi sangat sering akhir-akhir ini. Atau bisa kukatakan, kami seperti tengah berbulan madu bukannya liburan.

Kaji menyetubuhiku kapanpun ia mau. Ia juga sangat suka menyusu. Setiap pagi dan sebelum tidur, diperahnya dadaku hingga putingku menghasilkan dua gelas susu. Saat diluar resort, ia sering tiba-tiba menyingkap bikiniku, lalu menyedot pentilku hingga puas. Aku tak kuasa menolak, karena ia selalu membujukku dengan nada sayang yang tak bisa ku tentang.

Seperti sekarang, aku jongkok setengah duduk hanya beralaskan rumput dan bersandar pada pohon kelapa. Kaji menindihku dengan penis tegangnya keluar masuk di anus bengkakku dan bibirnya di dadaku. Ia cengkram kedua pipi pantatku sambil terus menyetubuhiku.

"Aaa Kajiiihh~ nyaahh, hyaaah~"

Aku terkulai lemas tanpa tenaga, tetapi tubuhku masih saja sangat responsif terhadap rangsangan Kaji. Penisku tak berhenti berdiri, selalu mengucurkan cairan bening mungkin akibat sudah tidak ada isinya lagi. Anusku seperti punya pikiran sendiri, terus berdenyut kuat memijat dan menghisap kejantanan Kaji. Saat Kaji tidak di dalam, ribuan semut seolah menggigiti dalam lubangku yang terus saja basah hingga mengaliri paha. Jika aku tidur tanpa batangan Kaji bersarang di pantatku, perutku akan melilit dan anusku tak berhenti mengembang dan mengempis marah.

Sepertinya, tubuhku sudah benar-benar ketagihan dicinta olehnya. Aku jadi semakin, semakin manja dan suka mengambil inisiatif untuk 'menyenangkan'nya.

Kaji juga menyambut naiknya gairahku dengan gembira.

Ia tambah lagi liburan kami hingga setengah bulan lamanya, dimana ia ajarkan aku kenikmatan bersenggama dan bisikkan kata-kata vulgar hingga aku terbiasa. Setiap hari kami bercinta, memekku tak pernah kosong, dan penis mungilku tak lagi pernah mengeluarkan sperma.


Sepulang dari liburan itu aku tinggal dirumah Kaji. Kaji membelikanku banyak baju seksi. Dirumah, aku selalu pakai minidress atau lingerie. Para pelayan sudah maklum. Saat aku berdua saja dengan Kaji, kapanpun dan apapun kondisinya, mereka selalu cepat-cepat permisi pergi.

Mereka sudah sering memergoki aku dan Kaji. Nafsu Kaji yang tinggi membuat pemuda itu tidak terkendali. Mulai dari ruang tamu, dapur, bahkan kandang kuda, tidak ada tempat yang belum kami coba. Bahkan disekolah pun, Kaji sering menarikku ke toilet atau gudang olahraga. Saat di mobilpun, kepala Kaji selalu terbenam di dalam seragam atasku yang terbuka.

Bukan hanya Kaji, akupun juga. Memekku selalu gatal setiap bersama Kaji. Air susuku selalu menetes deras jika tidak ia hisap sehari saja. Aku tidak bisa menahan diri, selalu aku rayu Kaji agar mau memuaskan tubuhku yang selalu dibalut nafsu.

Hari ini saat Kaji sudah puas enam kali menggagahi memekku, ia pasangkan cincin platinum dengan permata kecil di pangkal penisku. Katanya;

"Aki, mau ya, jadi istriku?"

Aku tersipu.