Actions

Work Header

Crush

Summary:

Jun have a crush on him.

Notes:

im soo sooorry if i wrote kind of boring story. but i have to write it because my brain will be screaming and dying if im not writing it /sobs T-T. plus, it supposed to be fun (trust me, i have this big script on my head that portrayed super cool but when i write it T-T /crying/).

Work Text:

Jun itu sudah sering mengikuti berbagai kegiatan kepanitiaan selama 3 semester masa perkuliahannya. Jun juga sudah tahu akan selelah apa ia nantinya. Ia juga tahu kalau ia akan absen di beberapa kelasnya saat sudah menandatangani kontrak kerja ketika menjadi panitia.

Ia tahu kok, dan ia juga paham.

Yang jadi masalah adalah, ia tidak tahu kalau kepantiaan yang diikutinya kali ini akan menjadi semelelahkan ini. Rasanya Jun seperti tidak punya waktu buat berhenti dan beristirahat sebentar. Aneh memang, rasanya seperti Jun saja yang sesibuk itu. Padahal, kalau ia diam sejenak terus merhatiin teman-temannya yang lain, mereka semua nggak sesibuk Jun. Mereka masih sempat nongkrong, ikut kelas tanpa bolos, dan haha-hihi tanpa beban.

“Ya soalnya bebannya mereka serahkan semua ke lu.” Itu Wonwoo yang berbicara. Wonwoo tuh sahabatnya sejak… kalau boleh jujur Jun lupa kapan kali pertama ia dan Wonwoo bertemu. Yang jelas, sekarang Wonwoo sedang menyedot es kopinya yang berembun di sebuah kedai kopi dekat kampus mereka bersama dengan Jun.

Jun nggak terima. Alisnya hampir ketemu waktu ia akan memprotes apa yang Wonwoo bilang. “Aku nggak.” Jun cemberut, tidak terima karena Wonwoo secara tidak langsung menyamakan dirinya seperti seorang kacung.

Yang mana sebenarnya itu tidak begitu salah kalau dilihat dari kacamata orang lain, dan kacamata tebal Wonwoo.

Wonwoo, dengan muka datarnya masih anteng dengan es kopinya seolah nggak begitu peduli dengan omongan Jun. Sahabatnya itu kadang emang suka sedikit keras kepala, dan bodoh, dan denial.

“Yaudah, kalau gitu bisa jelaskan ke gua kenapa lu ngerjain laporan anak perlengkapan minggu lalu? Atau malah pergi bareng anak keamanan buat ngecek walkie-talkie mereka? Oh, atau yang kemarin aja, kenapa malah lu yang ikut survey bareng anak konsumroh?” Wonwoo, menanyakan pertanyaan berentet secara membabi buta kepada Jun yang semakin lama semakin menunduk mendengar ucapan Wonwoo yang sepenuhnya benar.

Jun diam. Kalau dipikir-pikir lagi ucapan sahabatnya itu benar juga. Ia, entah sadar atau tidak, suka mencampuri kerjaan orang lain. Mereka memang sering minta bantuan ke Jun sih, dan Jun sebagai orang yang baik merasa tidak enak hati kalau tidak membantu mereka.

Padahal sebenarnya ia juga punya hak buat menolak semua itu. Selain karena ia tidak wajib untuk melakukannya, itu juga sudah bukan ranah pekerjaan Jun, jadi seharusnya sah-sah saja baginya untuk menolak.

“Maaf.” Jun, entah kenapa merasa ia sepertinya wajib untuk minta maaf kepada Wonwoo.

“Jangan minta maaf ke gua lu.” Wonwoo berdiri dari duduknya, sepertinya sudah akan pergi.

“Tapi nanti kalau lu sampai overworked lagi, gua pastiin lu gabakal bisa ikut hari H acara.” Wonwoo, dengan nada mengancamnya mengeluarkan ultimatum yang membuat Jun lagi-lagi tidak setuju.

“Terus buat apa aku kerja selama tiga bulanan ini anjir?”

“Buat belajar kalau jadi orang jangan terlalu baik.”

---

“Jun, tolong dong ini ntar kasih ke Seungkwan sama Yeri. Suruh mereka hapalin naskahnya dari sekarang jadi kalau ada apa-apa bisa dicegah atau improve atau apa kek gitu.” Jihoon, salah satu temannya yang juga merupakan koordinator dari divisi acara, menyerahkan sebuah paper bag untuknya. Jihoon kelihatan sibuk, jadi Jun Cuma bisa diam sambil mengangguk-anggung mengiyakan saja. Toh, ia juga tidak wajib merespon.

“Terus nanti bisa panggilin anak pelengkapan gak? Bilang ke mereka kursi di ruang audit tuh masih ada yang kurang, terus suruh mereka cek acnya lagi soalnya kemarin si Doyoung bilang acnya gak begitu dingin.” Jihoon, masih tidak menatap Jun, kembali meberikan rentetan perintah untuknya.

“Ok, itu aja kan?” Jun bertanya untuk memastikan soalnya ia mau pergi menemui Seungkwan, kemudian menghubungi divisi lainnya. Jadi ia perlu memastikan apa ada tugas lain untuknya yang tertinggal walaupun sebenarnya jauh di lubuk hati terdalam Jun inginnya Jihoon hanya menugaskannya dua hal itu saja jadi ia bisa izin dan pulang duluan dari tempat ini karena sepertinya badannya terasa kurang fit dan ia butuh tidur setelah dua malam hampir terus terjaga.

Jihoon berhenti berjalan, dari raut wajahnya ia kelihatan sedang berpikir, mungkin mengingat-ngingat apa saja tugas yang harus diberikan kepada temannya ini sebelum akhirnya ia menggeleng pelan. “Iya itu aja. Makasih ya.”

Jun tersenyum, akhirnya. Setidaknya hari ini ia bisa pulang cepat, Kembali ke kosnya dan bergelung bersama guling kesayangannya seharian penuh sebelum besoknya harus kembali menjadi kacung divisi acara.

Seharusnya sih begitu, Jun harap akan begitu. Tapi, waktu salah seorang seniornya datang, Seulgi, rasanya Jun tidak akan punya waktu cukup untuk pulang.

 

---

Wonwoo

Lu Dimana nyet?

You

Kampus.

Wonwoo

Gak usah bohong ya lu setan.

You

Hehe.

Wonwoo

Terus ini jadinya lu dimana?

You

Otw Jimbaran.

Wonwoo

Hah? Ngapain anjir? Terus lu sama siapa? Sendiri gitu?

You

Biasa tugas seorang kacung.

Iya aku sendiri. Tadi gak ada yang mau nemenin. Pada sibuk

Wonwoo

Anak setan.

 

Wonwoo hampir melempar ponselnya emosi kalau saja Wonwoo tidak ingat harga ponselnya yang nyaris seharga sewa tahunan kosnya ditambah biaya makan, maintenance, dan lainnya. Tapi tetap saja, Wonwoo kesal. Temannya itu, sahabatnya itu, si Jun itu memang keras kepala sekali. Ntah karena kebaikannya yang buat dia menjadi sebaik itu atau memang aslinya dia tipe orang yang mudah banget untuk dimanipulasi dengan bermodalkan permainan empati atau apa, yang jelas sekarang Wonwoo tidak tahan lagi.

Kenapa juga semua orang harus membebankan sahabatnya itu untuk menjadi kacung mereka padahal posisi dan kedudukan mereka semua sama dalam kegiatan ini. Melelahkan dan merepotkan. Alasan inilah yang membuat Wonwoo lebih baik menggunakan jalan pintas saja ketimbang harus mengikuti sesuatu seperti sahabatnya yang super rajin itu.

Dan sepertinya sudah saatnya sahabatnya itu terjun ke jalan sepertinya karena semua ini sudah cukup memuakkan untuk Wonwoo. Jun dan dia datang ke bangku kuliah tuh tujuan awalnya adalah untuk belajar dan mendapatkan gelar, bukannya malah seperti ini. Untuk urusan relasi, bahkan relasi yang dimiliki keluarganya sudah lebih dari cukup untuk membuat karir mereka berdua berjalan mulus selama beberapa dekade ke depan (iya, saat ini Wonwoo tengah menyombong). Jadi, dengan masih menyimpan kekesalannya yang tidak jadi dituangkannya dengan cara membanting ponselnya, Wonwoo pergi ke salah satu sudut bangunan dan berencana akan menuntut seseorang di dalamnya perihal hak dan kewajiban Jun yang sudah sangat tidak jelas.

Suara pintu yang dibanting membuat semua orang di dalam ruangan tersebut menoleh ke sumber suara, Wonwoo.

Wonwoo, dengan wajah yang super datar melengos masuk begitu saja ke dalam ruangan tanpa mengatakan sepatah katapun sebagai sapaan.

“Orang kalau dateng tuh biasanya ngetuk dulu, atau salam kek bukannya tiba-tiba banting pintu dan nyelonong masuk kek gini njir.” Seungcheol, salah satu penghuni ruangan tersebut yang pertama menegur Wonwoo soal ketidak sopanannya. Wonwoo sendiri hanya mendecih tidak peduli sebagai jawaban.

Wonwoo kemudian berdiri tepat di depan meja Seungcheol, masih belum berbicara tapi matanya menatap tajam ke arah ketua pelaksana kegiatan kali ini.

“Kenapa?” Seungcheol, yang merasa sedikit risih karena adik tingkatnya ini akhirnya mau tidak mau harus menatap Wonwoo yang berdiri menjulang di depannya, berbanding terbalik dengan Seungcheol yang masih duduk santai di tempatnya.

“Gua mau mengajukan pengunduran diri dari kegiatan lu.” Wonwoo menjawab, Seungcheol menaikkan alisnya, bingung.

“Tapi kan lo gak ada ikut kegiatan apapun buat diesnat kali ini. Malah, kayaknya lo gak pernah ikut kegiatan apapun deh seinget gue.” Seungcheol mencoba mengingat.

“Memang nggak.” Wonwoo mengangguk mengiyakan. “Tapi temen gue iya.”

Seungcheol malah semakin bingung dibuatnya. “Terus, masalahnya apa? Kan ini temen lo yang ngikut.”

“Atas dasar hak dan kewajiban temen gue yang gak terpenuhi, dan dia yang keseringan overworked dibandingkan yang lainnya jadi gue atas nama Wen Junhui meminta lu buat meng-acc permohonan pengunduran diri ini.” Wonwoo menjelaskan.

Overworked gimana, dan Jun, Jun… Wen Junhui anak acara itu temen lo?”

“Lu nggak hapalin semua anggota lu?” Wonwoo terdengar seperti tersinggung entah kenapa.

“Pokoknya,” Ia kembali ke topik pembicaraan mereka. “Ini Jun bisa langsung didepak gak sih?”

“Bentar-bentar.” Sebuah suara lain, yang berasal dari sofa di dekat sana mengintrupsi pembicaraan Wonwoo dan Seungcheol. Wonwoo menoleh dan di sana ada Jihoon, temannya, sepertinya.

“Ini kalian pada ngomongin Jun sasing’20 kan?” Jihoon bertanya mencoba memastikan.

Wonwoo mengangguk. “Iya.” Ia berbalik lagi ke arah Seungcheol seolah-olah Jihoon tidak begitu penting. “Jadi gimana?”

Jihoon, yang merasa diabaikan sepertinya tidak suka dengan fakta bahwa ia sudah diabaikan oleh Wonwoo. Orang ini memang arogan, dan sombong, dan kadang penuh dengan ego saat mereka bertemu di kelas, tapi ia tidak tahu kalau Wonwoo bisa menjadi semenyebalkan ini. Sangat berbanding terbalik dengan Jun.

“Dia anggota gue anjir. Lo gak bisa nyuruh dia keluar gitu aja. Dan lagi, bentar lagi hari H dan kita butuh semua anggota yang ada.” Jihoon menarik tangan Wonwoo kasar, menyentaknya untuk menarik perhatian si tinggi.

“Oh, jadi lu chief dari divisi ini ini? Apa lu tahu kalau Jun tuh terlalu rajin daripada anak-anak lain di divisi lu. Kelewat rajin malah. Terus, kalau emang dia anggota divisi lu, kenapa lu gak ngawasin dia buat nggak ngerjain sesuatu yang diluar jobdesknya? Apa, lu mau bilang lu sibuk dengan yang lainnya sampai-sampai gak sadar anak buah lu berasa kayak kacung kalian semua dan malah sibuk nyantai rapat sana-sini mikirin ini itu tapi bahkan gak ngebantu sama sekali kecuali merintah semua orang yang lu kenal sebagai anggota divisi lu gitu?”

“Gue…” Jihoon diam, ia tidak tahu harus menjawab apa karena sebenarnya apa yang Wonwoo bilang itu benar dan rasanya ia seperti habis ditikam tepat di jantung setelah mendengar omelan super panjang dari Wonwoo.

“Ck, kayaknya gue ngomong kayak gini percuma ya. Kalian pasti gak bakal mau ngelepas Jun bahkan kalaupun gue minta.” Wonwoo menarik kesimpulan di kepalanya setelah memperhatian baik Seungcheol maupun Jihoon.

“Yang jelas, kalau gua tahu lu pada merlakuin temen gua gak adil lagi, Jun gak bakal ngikut hari H kegiatan ini dan mohon maaf banget kalau sampai ada beberapa part yang bakal kacau karena itu.” Wonwoo tersenyum waktu memberikan ultimatum kepada mereka. Anak ini memang kadang sedikit gila kadang. Ia bahkan suka tidak peduli kalau sesuatu seperti ini bisa jadi boomerang buat Wonwoo. Tapi Wonwoo tidak peduli, tidak ada yang boleh mengganggu temannya itu, dan Wonwoo tidak akan membiarkan masa-masa kuliah Jun dihabiskannya hanya untuk menjadi kacung untuk mereka.

---

Jun tidak pernah merasa segabut ini. Waktu ia datang ke aula kampus, tidak yang datang menghampirinya dan memintanya untuk melakukan tugas apapun itu yang seharusnya bisa mereka lakukan sendiri. Malahan, yang Jun lihat sekarang adalah semua orang sepertinya tengah sibuk bekerja, terlalu sibuk malah.

“Ujiii.” Jun memanggil Jihoon yang berjalan melewatinya. Ia berhenti tepat di depan Jun, tersenyum kelewat lebar. Sangat tidak seperti Jihoon.

“Ya Jun, ada apa?” Jihoon, sepertinya mendapatkan asupan gula yang cukup hari ini karena untuk pertama kalinya dalam 3 bulan terakhir, ia sepertinya tidak terlihat seperti mayat hidup yang habis mensabotase mesin kopi di kantin fakultasnya.

“Eh, nggak.” Jun, yang nggak begitu biasa dengan tingkah super ramah Jihoon malah menjadi gelagapan. Ia mendadak tidak tahu harus bertingkah bagaimana dan memberikan respon seperti apa pada Jihoon versi malaikat seperti sekarang.

Jihoon, alih-alih memasang raut muka yang bete karena Jun yang tidak jelas, malah tersenyum tak kalah lebarnya seperti tadi. Menyeramkan, pikir Jun sedikit takut.

“Nanti lo gak usah ngapa-ngapain ya. Semuanya udah kerja dan tenang aja, untuk hari ini lo gabakal ngerasa capek.” Jihoon menepuk bahunya dua kali sebelum kembali menghilang bersama teman-temannya yang lain yang mendadak menyerbunya seperti zombie.

“Aneh.”

 

“Emangnya apa yang aneh?”

Sebuah suara yang tiba-tiba sudah ada disamping Jun berhasil mengagetkannya. Itu Seungcheol, ketua pelaksana dari dies-nat mereka kali ini. Itu Seungcheol, kakak tingkatnya yang terkenal karena menjadi anak emas dalam segala hal yang digelutinya. Dan itu Seungcheol, satu-satunya orang yang berada di urutan terbawah dalam list imajinari Jun untuk berbicara dengannya secara random di pagi yang tidak begitu cerah ini.

“O-oh.” Jun tergagap kaget. Ia tidak tahu kenapa Seungcheol berada di sekitar sini dan ia juga tidak ingin tahu. Seungcheol itu orang sibuk, ia bisa ada dimana-mana. Yang aneh cuma kenapa Seungcheol berada disini dan berbicara dengannya alih-alih mencari Jihoon yang sudah pasti memiliki kepentingan dengannya.

“Nggak ada.” Jun menggeleng cepat. Ia mengeratkan cengkramannya pada tas gendong miliknya. Entah kenapa mendadak gugup.

Seungcheol tersenyum dan Jun berani bersumpah, rasanya ia ingin terbang ketika melihat lesung pipi milik Seungcheol hadir bersamaan dengan senyumannya.

Dan sepertinya selain terbang ke langit ke tujuh, Jun lebih baik terbang langsung menuju surga ketika Seungcheol, dengan tangannya yang besar meraih puncak kepala Jun, mengusapnya dengan penuh afeksi.

“Lo semangat oke.”

Dan dengan begitu Seungcheol pergi, meninggalkan Jun dengan pipinya yang memanas. Cengkraman pada ranselnya semakin erat dan rasanya Jun ingin pingsan saat itu juga.

 

Oh, benar juga. Ia lupa membeberkan satu fakta lainnya tentang Seungcheol.

 

Fakta terakhir tentang seniornya itu, Seungcheol itu… Jun menyukainya.

 

Itu Seungcheol, crushnya.

Series this work belongs to: