Actions

Work Header

Statis

Summary:

Zhongli yang memilih kehidupan ini, dan dia menyukainya. Kehidupan damai dan normal, tanpa perlu khawatir kehilangan nyawanya atau orang-orangnya. Tidak, itu semua masa lalu. Luka-luka itu akan hilang oleh waktu. Kehidupan damai seperti ini akan menyembuhkan traumanya.

“Bagaimana kalau aku membantumu mengatasi rasa bosan itu?”

Tawaran itu, seharusnya tidak ia terima.

Notes:

Grey cuma pengen bikin tartali ngewew tapi mendadak jadi fanfic dengan plot, jadi yasudala
Happy Reading!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter Text

Zhongli memutar knop pintu apartemennya, dan hening malam serta gelap gulita menyambutnya pulang. Ia menghela napas, inilah alasan dia malas pulang ke apartemennya. Lebih baik rasanya jika ia tetap tinggal di rumah lamanya di pinggiran kota, namun sayangnya tempat itu terlalu jauh dari kampus tempatnya mengajar.

Dengan asal, Zhongli melemparkan tasnya ke sofa dan langsung mengecek isi kulkas, yang hanya berisi es batu dan beberapa sayuran yang telah layu dan menguning. Tentu saja dia lupa belanja bulanan, salahkan ujian semester yang telah menguras waktunya.

Terlalu malas untuk memesan makanan, Zhongli memilih untuk langsung tidur saja. Setelah berganti pakaian menjadi kaus tipis serta boxer pendek, ia merebahkan tubuhnya ke atas pulau kapuk kesayangannya dan mencoba tidur.

Ding!

Zhongli mengabaikan suara notifikasi dari ponselnya. Siapapun itu, dia harus menunggu hingga matahari terbit besok.

Ding!

Ding!

Ding!

Ding!

Baiklah, tanpa melihat layer ponsel, Zhongli tahu persis siapa si pengirim pesan itu. Hanya ada satu orang di dunia ini yang suka sekali mengirimkan pesan secara spam, dan orang itu tentu saja adalah-

Zhongli : Hu Tao, saya sedang tidak ingin diganggu. Tolong, apapun itu, hubungi saya kembali besok pagi.

Setelah mengirimkan pesan tersebut, Zhongli mematikan notifikasi ponselnya dan memejamkan matanya.

~***~

Minggu pagi merupakan hari favorit Zhongli, sebab ia tidak punya kewajiban untuk bangun pagi dan pergi mengajar di Liyue University. Biarpun begitu, tetap saja tubuhnya sudah terlatih untuk bangun pagi tanpa memedulikan hari, sehingga pada hari minggu seperti sekarang pun, ia telah terbangun dari tidurnya. Ia meraih ponsel di atas meja di samping tempat tidurnya, dan melirik waktu yang masih menunjukkan pukul 5.28 pagi, serta sepuluh pesan tak terbaca dari Hu Tao. Ah, benar juga, kemarin Hu Tao ingin mengabarinya sesuatu.

Hu Tao : Zhongli!

Hu Tao : Zhongliiiii

Hu Tao : Kau belum tidur kan???

Hu Tao : Bangun woii ada berita penting nihhh

Hu Tao : BALESSSS PLSSSSSS

Zhongli : Hu Tao, saya sedang tidak ingin diganggu. Tolong, apapun itu, hubungi saya kembali besok pagi.

Hu Tao : EH TUNGGU TUNGGU

Hu Tao : yaelah pasti dimatiin notifnya

Hu Tao : Yasuda nih kukasi tau tapi gak seru ih gak ditanggepin langsung ☹

Hu Tao : tadi barusan si Xiao ngelamar aku

Hu Tao : tebak aku terima ato engga :P

Hu Tao : eh iya dia lagi tidur mana bisa nebak WKWKKWKWKWK

Hu Tao : intinya nih yee AKU SAMA XIAO RESMI TUNANGAN YEAYYY

Hu Tao : *send sticker*

Hu Tao : dan pestanya sekitar seminggu lagi, rencananya di ballroom hotel Liyue

Hu Tao : KAU HARUS DATANGGG!!!

Zhongli mengucek bola matanya dan membaca pesan-pesan Hu Tao sekali lagi. Ternyata dia tidak salah baca, Xiao dan Hu Tao akan bertunangan. Senyum perlahan terkembang di wajahnya. Tak disangkanya kedua sahabat serta orang yang ia paling percayai akan segera bertunangan

Zhongli : selamat atas pertunangannya, Hu Tao

Zhongli : saya akan kosongkan jadwal, mana mungkin saya tidak menghadiri pesta pertunangan sahabat terdekat saya.

Setelah membalas demikian, Zhongli bangkit dari tempat tidurnya dan memutuskan untuk lari pagi untuk menghabiskan waktu. Hitung-hitung sudah cukup lama sejak terakhir kali ia berolahraga diakibatkan kesibukannya mengoreksi hasil ujian mahasiswanya.

Zhongli mencuci muka dan mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraganya, yang entah kenapa terasa sedikit sempit, apalagi di bagian bokongnya. Oh tidak, apakah ia bertambah gemuk setelah sebulan tidak rutin berolahraga? Zhongli akui akhir-akhir ini dia memang tidak menjaga pola makannya. Sepulang dari jogging nanti ia harus segera ke supermarket untuk membeli bahan masakan dan memulai diet rendah kalorinya.

Setelah diyakini pintu apartemennya terkunci rapat, Zhongli memulai kegiatan lari paginya, sembari tak lupa memberikan sapaan ramah kepada orang-orang yang ia temui di jalanan. Orang-orang yang ia sapa selalu tampak salah tingkah dan selalu membuang pandangan ketika menatapnya, dan itu membuat Zhongli sedikit heran, namun tidak terlalu ambil pusing.

Tak terasa waktu telah menunjukkan hampir pukul delapan pagi, dan sepertinya ia sudah cukup lama berolahraga. Zhongli mendudukkan dirinya pada sebuah bangku di halte bus dan mengecek ponselnya, terdapat beberapa pesan dari Hu Tao.

Hu Tao : AWWWHHH MAKACII ZHONGLI MUAH MUAHHH

Hu Tao : Semoga cepat nyusul yaa kasian udh 30 tahun tapi masih jomblo AWOKWOKWOKWOK

Hu Tao : canda kok, jangan marah :p

Tanpa sadar Zhongli tertawa pelan membaca ledekan temannya itu. Jemarinya mulai mengetikkan balasan.

Zhongli : saya tidak marah kok, Hu Tao. Saya memang jomblo hahahaha

Belum sempat Zhongli memasukkan ponselnya ke saku, sebuah pesan balasan masuk ke ponselnya.

Hu Tao : yeee tau jomblo ya cari jodoh sanaaa

Hu Tao : atau mau kucariin? Wkwkwkwk

Zhongli : hmm… saya sedang tidak ingin pacaran.

Hu Tao : masih gamon??? Maaf ya Zhongli, tapi ini tuh udah lima tahun lebih lho…

Hu Tao : Kamu harus relain Azhdaha ☹

Zhongli : Bukan begitu, Hu Tao. Tentang Azhdaha, saya sudah ikhlas. Hanya saja saya memang tidak ingin berpacaran.

Zhongli : Saya… masih takut.

Hu Tao : Zhongli ☹

Zhongli : hahaha kenapa wajah sedih terus? Saya beneran tidak apa-apa, Hu Tao. Kamu fokus persiapan pertunanganmu saja ya?

Hu Tao : mana mungkin aku gak kepikiran, kamu tuh sahabat aku. Orang pertama yang gak nganggep aku aneh dan berisik.

Hu Tao : aku cuma pengen kamu bahagia, Zhongli.

Zhongli ingin mengetikkan balasan kalau sekarang ini dia bahagia, namun entah kenapa jemarinya terasa kaku. Dalam hatinya, ia tahu bahwa ia tidak bisa berbohong tentang kebahagiaannya.

Zhongli : saya tidak apa-apa, Hu Tao. Saya senang punya teman baik sepertimu. Jadi senyum ya. Nanti saya belikan kamu ukiran kupu-kupu yang kamu mau itu 😊

Hu Tao : COR LAPIS BERUKIRAN KUPU-KUPU YANG HARGANYA 4 JUTA MORA ITU MAKSUDMU?????

Hu Tao : GAK USAH ANJIRRR ITU NAMANYA BUANG BUANG DUITTT

Zhongli : hahaha tidak apa-apa, ini hadiah pertunanganmu dengan Xiao.

Hu Tao : Ya ampun Zhongli aku tau kamu banyak duit tapi gak usah gini juga anjirrr gak enak nerimanyaa

Zhongli : jadi kamu gak mau?

Hu Tao : mau kok ehehe :p

Zhongli : hahaha dasar kamu ini. Ya sudah ditunggu saja ya hadiahnya

Hu Tao : Makasih banyak ya Zhongliii

Hu Tao : Aku doain semoga dapat jodoh aaminnn

Hu Tao : *send sticker*

“KYAAAAAA!!!”

Suara pekikan perempuan mengagetkan Zhongli, dan di depan matanya lewat seorang pria berjaket hitam di susul dengan perempuan tak jauh di belakangnya.

“TOLONG!! DOMPET SAYA!!”

Tanpa sempat berpikir dua kali, Zhongli berlari mengejar pria berjaket hitam itu, dan menjatuhkannya ke aspal. Tangannya dengan gesit mengunci tangan si pencopet ke belakang tubuhnya. “Jangan bergerak!”

Perempuan muda itu menghampiri Zhongli tak lama kemudian, disusul dengan polisi yang kebetulan berjaga di dekat sana. Polisi itu segera mengamankan si pencopet, dan membawanya ke kantor polisi. “Haahhh… haahh… ma..makasihh.. haahhh,” ucap perempuan muda itu kepada Zhongli.

“Tenangkan diri anda dulu, Nona. Ini tas anda. Apakah ada yang hilang?”

Perempuan itu mengecek isi tasnya, dan setelah memastikan tidak ada yang hilang, ia berkata, “Syukurlah tidak ada yang hilang. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu. Larimu cepat sekali tadi, apakah kamu seorang atlit? Atau jangan-jangan polisi?”

“Ahahaha, saya hanyalah seorang dosen di universitas biasa. Kebetulan saya cukup sering berolahraga. Kalau begitu saya permisi, nona. Lain kali hati-hati ya.”

Setelah berpamitan, Zhongli melangkah pergi menuju ke supermarket yang letaknya tak jauh dari situ. Ia mulai berbelanja kebutuhan bulanannya, mulai dari bahan masakan, kebutuhan pribadi, dan keperluan rumah tangga lainnya. Keasyikan berbelanja membuatnya tak sadar bahwa troli belanjanya telah penuh, dan mengingat dirinya tidak bawa kendaraan, itu tandanya ia harus menenteng barang belanjaannya ke apartemen. Zhongli menghela napas, ia terlalu malas untuk mengembalikan barang-barang tersebut ke etalase masing-masing.

Ya sudahlah, hitung-hitung olahraga, pikirnya dalam hati sebelum mendorong trolinya ke mesin kasir.

“Total belanja anda 327.000 mora,” ucap sang kasir ketika selesai menghitung total belanja Zhongli.

Zhongli memasukkan tangannya ke saku celananya untuk mengambil dompetnya, namun ia hanya menemukan ponselnya saja. Ia kembali mengecek saku belakang celana, namun hasilnya nihil. Astaga, apakah dia lupa bawa dompet?!

“Um, pak? Apa ada masalah?”

“Ah,” Zhongli sebenarnya malu mengakui kalau dia lupa bawa dompet, terlebih lagi total belanjaannya terbilang cukup banyak, “saya lupa bawa dompet.”

Sesuai dugaannya, raut wajah sang kasir menjadi sangat tidak ramah. Dia mengerutkan alisnya dan menatap Zhongli dengan sengit. “Jadi anda mau cancel?” ujarnya ketus.

“Ah, um, itu-”

“Saya saja yang bayarkan.”

Zhongli menoleh ke belakangnya, seorang pria berambut ginger tersenyum sembari menyerahkan kartu kreditnya kepada kasir. “Oh iya, sekalian tambahin ini deh.” Ia menyodorkan sekaleng minuman soda dan sekotak rokok.

Si kasir langsung mengambil kartu kredit pria itu dan membayarkan belanjaan Zhongli dengan cepat, mungkin ia takut si rambut ginger tiba-tiba menarik kembali ucapannya dan ia terpaksa harus membatalkan belanjaan dalam jumlah besar.

“Ini struk anda, terima kasih telah berbelanja.”

Mereka berdua menyingkir dari antrian dan di pintu keluar, Zhongli menahan pria berambut ginger itu. “Maafkan saya soal belanjaan tadi. Saya akan ganti uang anda, saya janji.”

Namun si rambut ginger tampak tidak peduli. “Gak usah dipikirkan.”

“Tidak, saya tidak enak memakai uang anda begitu saja, terlebih jumlahnya tidak sedikit. Beri tau saya nomor rekening anda, akan langsung saya kirim-”

“Gimana kalau aku bilang kalo itu bayaran karena aku udah bolehin liat bokong semokmu selama ngantri di kasir tadi?” ucap si ginger sambil tersenyum jahil.

Zhongli tercekat ludahnya sendiri. Barusan pria ini bilang apa?

“Kaget ya? Sori deh, habis bokongmu semok banget, apalagi celananya nge press gitu, kan makin mantap. Makanya aku ngebuntuti kamu terus, kamu gak nyadar, ya? Aku liat kamu asyik banget belanjanya. Tapi yah, sayang kita harus pisah di sini. Anggap uang tadi tuh bayaran buat kamu, jadi jangan dipikirkan, oke? Makasih ya, mayan nih buat nyuci mata.”

Setelah mengatakannya, pria itu melenggang pergi meninggalkan Zhongli yang kehabisan kata-kata. Memang ia akui berat badannya telah bertambah dan membuat celananya sedikit sempit, tapi mendengar orang lain secara terang-terangan mengatakan bahwa bokongnya semok? Oh ya ampun, Zhongli dapat merasakan panas merambati wajahnya.

~***~