Work Text:
Hal pertama yang Renjun lakukan setelah menyelesaikan pekerjaannya hari ini adalah berdiam diri di dalam mobil. Pria dengan kemeja bergaris yang lengannya digulung sampai siku membiarkan mobil dengan kondisi lampu menyala, menyoroti pondasi rumah yang baru setengah jadi. Laron sudah mulai berterbangan di depan lampu mobil miliknya, berebut sumber cahaya demi mencari pasangan dan bisa membuat koloni baru.
Padahal Mas Doyoung sudah menawari untuk makan malam bersama, selepas mereka mampir di area perumahan baru— di mana client Renjun yang meminta ia dan Mas Doyoung mendekor isi rumah miliknya berada.
Namun Renjun menolak. Ia terlalu lelah jika harus makan malam bersama Mas Doyoung. Karena pasti teman sekaligus rekan bisnisnya itu akan banyak bertanya mengenai hubungannya dengan Jeno; sang suami.
Doyoung dengan mata yang seperti kucing itu tahu persis bahwa ada suatu hal yang terjadi pada kehidupan pernikahan Renjun hanya dalam sekali lihat raut wajah miliknya. Mungkin efek banyaknya curahan hati terdahulu dan masih dengan problema yang sama; apalagi kalau bukan mengenai kehidupan pernikahan yang sedang ia jalani.
Sepanjang mengukur ruangan dan berdiskusi mengenai warna juga model perabot yang cocok bersama Mas Doyoung dan Ibu Tari— nama dari client mereka— Renjun menolak bersirobok tatap dengan mata tajam milik yang lebih tua.
"Muka lo makin kusut aja. Kenapa? Jeno lagi?"
Tanya Mas Doyoung di pukul 5 sore tadi cukup Renjun jawab dengan sebuah jawaban singkat. Sesingkat, "enggak apa-apa, Mas."
Enggak apa-apa.
Padahal banyak yang Renjun rasa tapi ia pilih sembunyikan. Mas Doyoung sudah terlalu banyak mendengar keluh kesahnya tentang Jeno setahun ke belakang.
Renjun mengecek arah jarum jam yang berada di pergelangan tangan kanannya di antara remang lampu mobil. Baru jam 7. Dihembuskannya napas panjang seiring kepala miliknya jatuh ke sandaran jok. Kedua lengannya Renjun gunakan untuk menutup wajah yang menampilkan raut lelah.
Banyak yang Renjun rasa, banyak yang Renjun pikirkan.
Apalagi mengingat bahwa dua bulan lagi usia pernikahannya dengan Jeno akan genap lima tahun. Namun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, mereka belum merencanakan apapun untuk menghabiskan waktu bersama. Biasanya dua bulan sebelum anniversary pernikahan, sepasang suami ini sudah sibuk berencana dan mencocokkan jadwal demi bisa berlibur, hanya berdua, mengenang hari saat janji suci terucap di atas altar.
Tapi sekarang ... Renjun sama sekali tidak ingin berharap. Karena bagaimana mungkin mereka berdiskusi, bahkan dua hari ini Renjun sedang terlibat perang dingin dengan sang suami.
Dimulai dari omongan Renjun di meja makan saat keduanya tengah sarapan, berujung pada keduanya yang saling mendiamkan.
"Aku mau banget adopt anak, Jen."
Jeno sempat terdiam beberapa saat, cukup bingung dengan permintaan Renjun yang tiba-tiba.
"Yakin udah siap? Kamu kan tahu kita berdua sesibuk apa."
"Aku bisa nyempetin waktu buat ngurus anak. Kayaknya ini waktu yang tepat. Sebentar lagi usia pernikahan kita udah lolos syarat kalau mau adopsi. Rumah ini butuh penghuni baru enggak sih? Kamu emang enggak ngerasa sepi empat tahun lebih hidup sama aku doang?"
Jeno kembali terdiam. Pandangannya kosong menatap mangkuk berisi bubur ayam yang baru setengah habis.
"Jen?"
Setelah mempertimbangkan kata apa yang ingin diucap, akhirnya Jeno menatap Renjun sambil berkata, "kayaknya aku belum siap, Jun. Aku enggak mau ngasih anak aku nanti setengah-setengah. Perhatian, sama waktu buat dia."
Mendengar jawaban sang suami, Renjun tertawa pahit. "Oh iya, lupa kamu sesibuk apa. Buat aku aja hampir enggak ada waktu, ya? Gimana buat anak kita nanti."
"Jun ..." Jeno memelas, tahu jelas apa yang akan terjadi saat nada bicara Renjun sudah terdengar sarkas.
"Gapapa, kita enggak usah punya anak. Kamu bahkan enggak mau ya usaha sedikit aja— atau ... atau sekedar mikirin ada rencana di masa depan nanti biar bisa luangin waktu."
"Renjun. Bukan itu maksud aku."
"Iya, yaudah. Maksud kamu itu belum mau adposi anak. Itu poin utamanya 'kan? Aku paham kok, Jen."
"Terserah kamu deh, Jun."
Air minum dalam gelas dihabiskan Jeno dalam sekali tenggak. Lalu tanpa ingin mendengar balasan dari sang suami, Jeno menyambar jas juga tas kerja miliknya. Meninggalkan Renjun yang masih terduduk kaku untuk pergi bekerja.
Raut wajah Jeno yang mengeras adalah hal terakhir yang masih membekas dan terbayang jelas dalam lamunan Renjun malam ini. Hingga sebuah panggilan telpon menarik kembali Renjun pada kenyataan.
Hubby is calling
Saat melihat caller id , Renjun rasanya ingin menangis. Ini adalah panggilan telfon pertama yang Jeno lakukan selepas dua hari lalu mereka saling bungkam.
"Halo?" Ucap Renjun saat panggilan dari Jeno ia terima.
"Hari ini aku enggak pulang. Kayaknya bakalan nginep di kantor. Aku sama tim lagi ngebut ngerjain laporan."
"Oh..."
"Iya."
"Besoknya kerja?"
"Iya. Tapi setengah hari aja."
"Capek enggak? Nanti mau aku jemput? Takut kamu ngantuk pas bawa mobil." Rasa khawatir mengalahkan segalanya, bahkan sakit hati Renjun atas jawaban Jeno mengenai rencana adopsi anak dua hari lalu.
"Gaperlu, Jun. Kamu juga lagi ada kerjaan kan. Aku masih kuat nyetir kayaknya."
"Jaga kesehatan, kamu sering banget pulang malem bulan-bulan sekarang."
"Iya," Jeno menanggapi singkat, karena masih ada pekerjaan yang musti ia selesaikan.
Harusnya kata "iya" dari Jeno cukup menjadi penutup, namun kenyataannya sambungan telpon belum juga terputus. Mungkin karena keduanya masih ada yang ingin dibicarakan.
Walakin keduanya tidak tahu harus mulai dari mana. Padahal bisa saja, sesederhana memulai dengan ungkapan maaf.
Tidak tahan dengan kehengingan, Renjun berinisiatif membuka kembali suara.
"Jen? Udah?"
"Iya, udah. Jangan lupa kunci pintu."
"Hm."
Sambungan telpon kemudian ditutup oleh Jeno.
Renjun merasa malam ini pulang ke rumah pun untuk apa. Tidak ada Jeno, tidak akan ada siapa-siapa.
Mungkin jika mereka mulai memiliki anak, Renjun bisa mempunyai alasan untuk pulang ke rumah dengan segera.
Tidak seperti malam ini, laju mobilnya dipelankan. Karena rumah yang ia tempati bersama Jeno selama empat tahun terakhir, entah mengapa terasa lebih dingin dan sepi dari biasanya.
"Kopi lagi gak?"
Mata Jeno secara otomatis menangkap tiga paper cup dihiasi sisa bukur dari kopi yang sudah ia habiskan berada di atas meja kerja. Tawaran Jaemin kali ini sebaiknya Jeno tolak. Pasalnya, Jantung miliknya sudah mulai berdebar-debar; efek lelah namun tubuh dituntut kuat untuk menyelesaikan pekerjaan.
"Enggak deh. Udah dua kali nambah. Lagian bentar lagi kelar."
Jaemin memilih untuk duduk sebentar di hadapan Jeno. Menelisik ekspresi wajah rekan kerjanya yang menampilkan banyaknya kerutan di dahi.
"Lagian kok maksain banget dikelarin sekarang. Besok padahal masih bisa sempet dikerjain."
"Gue sorenya udah ada janji main golf sama Pak Yosef. Jadi mending kelarin sekarang biar besok bisa pake tidur."
Mendengar jawaban Jeno, Jaemin hanya bisa menggeleng tidak percaya, "terserah lo deh, Pak."
"Hm." Jeno menjawab seadanya. Jemarinya tidak henti menggulirkan tetikus, mata miliknya dengan teliti membaca kata demi kata laporan dari divisi yang sudah dikirim kepadanya.
"Muka lo, Jen ... Ini bukan perkara pusing kerjaan doang ya?"
Seketika pertanyaan dari Jaemin membawa pikiran Jeno untuk menampilkan wajah seseorang.
Wajah Renjun, yang menampilkan ekspresi kecewa saat mereka berdua berada di meja makan.
Setelah mendengar permintaan Renjun, sedikit banyak Jeno juga memikirkan mengenai rencana memiliki anak. Bukannya Jeno menolak, bukan ... Hanya saja dirinya merasa belum siap jika harus sekarang. Ia sadar betul waktunya banyak dihabiskan untuk bekerja, bekerja, bekerja. Apalagi jabatannya sebagai General Manager belum ada satu tahun ia pegang. Jeno belum benar-benar bisa membagi waktu.
Dan ia tidak ingin anaknya kelak mendapatkan hanya setengah dari waktu dan perhatiannya.
Namun Renjun selalu buru-buru menarik kesimpulan. Kecewa yang merambat seperti sumbu pendek dengan cepat sampai ke hati.
"Woy, malah bengong."
Ucapan Jaemin menyadarkan Jeno dari lamunan.
"Laporan dari divisi pemasaran udah lo tagih?" Jeno balik bertanya untuk menghindari obrolan mengenai masalah miliknya.
Yang tentu saja hal ini disadari oleh Jaemin. Pria dengan selera kopi ekstrim itu mengerling jahil pada Jeno.
"Yaelah, lo beneran lagi ada masalah rumah tangga?"
"Jaemin."
Mendengar nada serius dari Jeno, dengan segera Jaemin bangkit dari duduknya. "Iya, iya buset. Galak bener. Dikit lagi katanya kelar, kalau udah nanti gue langsung forward di email . Mau ke pantry dulu bikin kopi sekalian nawarin lo. Tapi yaudah kalau lo enggak mau."
"Minta cepet kelarin, biar gue cepet review juga."
"Siap komandan." Ujar Jaemin sembari memberikan salute dengan dua jari. Berbalik, Jaemin meninggalkan ruang kerja Jeno untuk pergi menuju pantry , demi membuat lagi segelas kopi untuk menemani dirinya bekerja.
Sesaat setelah Jaemin menutup pintu ruangan miliknya, punggung tegapnya langsung bersandar pada kursi. Kepala ia tengadahkan, dan kini matanya mengerjap-ngerjap pelan. Jeno sedikit berharap di tiap kedipnya, pemandangan yang ia lihat bukan lagi langit-langit kantornya yang polos, melainkan sepasang mata teduh yang ia rindukan.
Pada pukul 11 pagi Jeno sudah sampai di rumah. Dengan keadaan belum mandi dan perut yang masih lapar karena ia hanya sempat sarapan roti.
Saat membuka tudung saji di meja makan, desah kecewa ia keluarkan. Renjun tidak memasak apapun. Mungkin langsung berangkat menuju Rumah Makan Hakka yang ia kelola selama kurang lebih tiga tahun ke belakang.
Maka Jeno putuskan untuk langsung pergi tidur. Mengabaikan perutnya yang meronta minta diisi karena ia terlalu lelah untuk hanya sekedar memasak mie sendiri, mengabaikan tubuhnya yang bau keringat karena belum sempat ia bersihkan, mengabaikan pesan juga panggilan dari Renjun karena matanya sudah terlanjur terlelap tidur.
5 messeges from Junnie ❣️
3 missed calls from Junnie ❣️
Jeno sadar dirinya telah menimbulkan kekacauan lain saat panggilan dari Renjun ia terima. Dengan napas yang sedikit memburu karena ia habis berlari, dan satu tangan masih memegang stick golf, Jeno mengangkat telpon dari sang suami.
"Kenapa Jun?"
Suara Renjun di ujung telpon sana dihiasi deru kendaraan yang ramai. " Aku sebentar lagi pulang. Kamu mau dibawain apa ?"
"Oh ... Aku lupa ngabarin kamu, ya? Aku lagi di lapangan golf sama Pak Yosef. Abis ini mau sekalian makan bareng."
"Kamu enggak bilang mau golf. Enggak capek emang semalem habis nginep di kantor? Nanti sakit gimana?" Nada bicara Renjun terdengar sedikit kecewa, lebih banyak khawatirnya.
Entah mengapa mereka terbiasa seperti itu. Jika ada perdebatan, keduanya selalu sulit sekedar menemukan momen untuk meminta maaf dan menjelaskan yang terjadi. Mereka hanya mengandalkan waktu untuk semuanya kembali seperti semula. Tidak lagi dibicarakan, amarah terkubur begitu saja tanpa menunggu dituntaskan.
"Enggak kok. Besok juga libur jadi bisa istirahat seharian. Kamu ke resto sama siapa?"
"Sendiri ."
"Hm. Yaudah pulangnya hati-hati."
"Jen ..." Renjun kembali memanggil.
"Ya?"
"Sampah udah kamu keluarin tapi?"
Jeno mengernyit bingung mendengar pertanyaan dari Renjun. Sampah? Sampah apa?
"Maksudnya?"
Terdengar helaan napas panjang sebelum Renjun berbicara, "kamu ngecek whatsapp aku enggak sih?"
Jeno sempat terdiam. Dalam hati mengaku salah karena sehabis ponselnya mati saat ia tertidur tadi, sampai kini saat ponselnya sudah menyala kembali, Jeno langsung meng clear semua pop up yang ada. Tanpa tahu bahwa ada pesan dari Renjun yang belum ia baca, tanpa tahu ada panggilan dari Renjun yang ia lewatkan.
"Sorry , enggak sempet. Balik dari kantor aku langsung tidur, terus pas bangun langsung siap-siap buat jalan main golf sama Pak Yosef. Kamu ngewhatsapp?"
"Kamu tuh ..." Ucapan Renjun menggangtung, dapat Jeno dengar tarikan napas frustasi dari yang lebih tua. "Apa enggak bisa ngecek hp barang sebentar? Padahal aku cuma minta tolong hal kecil, tapi kamu ..." Suaranya kini mulai bergetar, tawa hambar Renjun keluarkan, "yaudah lah, mungkin emang aku bukan prioritas kamu lagi ya, Jen? Sampe pesan dan telfon aku enggak kamu cek sama sekali. Bahkan mau main golf pun enggak ngasih tau dulu."
Dan sebelum Jeno sempat menjelaskan perihal ponselnya yang sempat habis baterai, hingga mengakibatkan pesan juga telpon dari Renjun belum sempat ia cek, sambungan telpon sudah diputus oleh Renjun.
Junnie ❣️
Jen, kamu udah di rumah ?
Junnie ❣️
Hari ini aku mau ke hakka yang di jakpus, ngecekin supply dan kayaknya bakalan sampe malem
Junnie ❣️
Aku minta tolong ya, sampah yang udh aku iketin di dapur bawa ke luar. Soalnya jadwal angkut sampah hari ini jam 6 sore. Aku kelupaan tadi
Junnie ❣️
Aku masakin ayam goreng, ada di lemari piring rak yang atas
Junnie ❣️
Nanti pulang kamu mau aku bawain apa ?
Begitu tahu isi pesan yang di kirim sang suami, Jeno bergegas untuk langsung pergi.
Di antara keduanya, Renjun adalah pribadi yang lebih vocal. Pria yang lebih kecil lebih bisa mengutarakan apa-apa yang dirasa dengan begitu mudah. Rasa senang, amarah, kecewa, dan apa yang Renjun inginkan, Jeno bisa dengan mudah tahu.
Seperti saat kejadian tiga hari lalu. Jeno bisa dengan mudah tahu bahwa Renjun mempunyai keinginan untuk memiliki anak, Jeno juga bisa dengan mudah tahu jika Renjun kecewa kepada dirinya.
Jelas, karena ketika malam datang, mereka tidur dengan saling membelakangi, juga satu kata yang Jeno coba terima atas kekecewaan Renjun di hari itu.
"Aku enggak mau lihat muka kamu dulu."
Berbeda dengan dirinya yang merasa kesulitan untuk mengungkap apa yang dirasa, apa yang dimau, dan apa alasan atas tindakannya.
Dan memang selalu begitu. Selama enam tahun mereka saling mengenal, Jeno selalu menjadi pihak yang menerima dan akan merasa kebingungan saat harus mengungkapkan.
Perbedaannya adalah, dulu mereka mempunyai banyak waktu untuk coba membicarakan tiap permasalahan, untuk coba saling paham dan saling memaafkan. Namun kini keduanya hanya bisa mengandalkan sisa menit di ujung hari untuk memperbaiki retak hati yang sudah terjadi. Keduanya terlalu sibuk dengan pekerjaan. Hingga tidak ada lagi pembicaraan yang sempat dilakukan, kata maaf yang terucapkan, dan pelukan hangat untuk saling menguatkan.
Bahkan kini Jeno tidak mendapati sosok Renjun saat dirinya merebahkan diri. Tidak ada lagi sosok kecil di sampingnya meskipun ia harus dipunggungi.
Renjun pada malam ini memutuskan untuk menempati kamar tamu dan enggan bertemu dengan si pujaan hati.
Jeno merasakan perasaan paling menyakitkan selama empat tahun lebih mereka hidup bersama. Bukan karena ledakan amarah, bukan juga karena ungkapan kecewa.
Ternyata perasaan diabaikan adalah perasaan paling buruk yang ia rasakan.
Sebut Renjun picik, ia dengan senang hati menerima. Karena ini adalah salah satu cara Renjun untuk menyampaikan kekesalan pada sang suami.
Ia sudah mengingatkan Jeno untuk menjaga kesehatannya sebanyak dua kali. Sekali lagi, DUA KALI! Dan Jeno menanggapinya bagai angin lalu, menggubris kekhawatiran Renjun di tengah perang dingin mereka dengan mengatakan bahwa dirinya tidak apa-apa, bahwa dirinya merasa baik-baik saja.
Jadi bukan salah Renjun bersikap acuh saat Jeno mengeluh sakit. Dalam hati Renjun berharap, semoga dengan sikap acuhnya ini Jeno sadar bahwa Renjun benar-benar tidak suka ketika ia lebih mementingkan pekerjaan juga kegiatan yang Renjun anggap tidak terlalu penting dibanding dengan menjaga kesehatan miliknya.
"Kalau gini gue yang repot Ren!!!!" Donghyuck menenggelamkan wajahnya di meja restoran. Masih mengeluhkan dampak dari acuhnya Renjun kepada Jeno yang pada akhirnya membuat dirinya repot.
Bagaimana tidak … sudah empat hari Jeno numpang hidup di kediaman miliknya dan Mark.
Tindakan Jeno sama sekali jauh dari yang Renjun harapkan. Bukannya merenungkan, ia malah balik marah dengan cara meninggalkan rumah.
"Lo ngomong aja sama Jeno kalau keberatan dia numpang," ucap Renjun tak kalah kesal.
"Ya kan lo suaminyaaaa. Masa musti gue yang ngomong? Enggak enak juga sama Kak Mark. Nanti dikira gue ngusir adeknya."
"Dia sendiri yang pergi, Hyuck. Gue cuma mau dia sadar kalau gue marah sama dia. Diingetin doang sekarang enggak mempan." Renjun menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Jujur gue capek."
Donghyuck dapat mendengar dengan jelas nada frustasi dari Renjun. Lucu, dirinya seperti berkaca pada hidupnya dua tahun lalu. Saat dirinya dengan Mark mengalami masalah hingga Donghyuck pergi dari rumah.
Dan Donghyuck jelas tahu hal apa yang bisa memperbaiki ini semua; komunikasi yang baik.
Melihat wajah Renjun yang mulai memerah dan napas miliknya yang sudah tidak beraturan, dengan segera Donghyuck bangkit dari duduknya. Menghampiri Renjun untuk tubuhnya ia rengkuh.
"Ren…"
Pada kelopak mata, airnya sudah tidak sanggup dibendung. Sekali kedip dan Renjun sudah menangis.
"Gue capek. Gue enggak tau semuanya bisa jadi begini awalnya gimana. Salahnya dimana gue enggak tau, Hyuck."
Donghyuck mengusap-ngusap punggung sempit Renjun. Berusaha memberi penguatan tanpa kata.
"Lagi sama-sama capek ya lo berdua?"
"Dia tuh," napas Renjun tercekat, "sejak diangkat jadi GM, enggak pernah ada waktu buat gue. Kerja, kerja, kerja. Gue juga kerja, Hyuck. Lo tau kan gue juga ngurus resto dua cabang ditambah bisnis home decor sama Mas Doyoung. Tapi gue masih bisa nyempetin waktu buat kasih perhatian ke Jeno. Gue masih bisa Hyuck buat mikirin rencana kedepannya kita gimana. Gue masih bisa mikirin dan mau buat nyiapin waktu semisal gue sama Jeno memutuskan buat punya anak. Tapi lo tau …" perkataan Renjun sempat terputus akibat dirinya menarik napas panjang sebelum mengatakan, "itu cuma gue …" katanya lirih, "itu cuma gue."
Dapat Donghyuck rasakan air mata Renjun mulai merembes pada kain baju yang ia kenakan. Namun Donghyuck sama sekali tidak mempermasalahkan. Biar Renjun keluarkan khawatir yang selama ini dipendam dan tangis yang selama ini ia tahan.
"Jeno sama sekali enggak pernah mikir ke arah sana. Itu cuma gue dan gue takut kalau pada akhirnya cuma gue yang mau nyoba."
"Hey, enggak boleh ngomong gitu."
Renjun menyeka air matanya, pelukan Donghyuck ia renggangkan.
"Nyatanya itu yang gue rasa." Renjun menjawab dengan tatapan nelangsa.
Pintu rumah kayu bercat putih menjadi pintu yang Jeno buka selama empat hari terakhir. Bukan lagi pintu dengan cat berwarna gading, yang bahkan bagi Jeno memikirkannya saja sudah terasa asing.
Jeno selalu pulang lebih dari pukul sembilan malam, dan itu membuat Mark memberikan kunci cadangan pintu utama pada Jeno setelah dua hari ia harus direpotkan untuk bangun di tengah tidurnya hanya untuk sekadar membukakan pintu.
Biasanya saat Jeno memasuki rumah milik Mark, abang beserta Donghyuck juga Chenle— anak mereka, sudah dalam keadaan terlelap tidur. Namun malam ini menjadi pengecualian, lampu di ruang tamu masih menyala, Mark yang terlihat masih membuka mata, disertai kehadiran Ibu mereka.
Ibu.
Hal paling terakhir yang Jeno bayangkan juga harapkan akan ia temui di ujung hari adalah kehadirang sang Ibu.
“Baru pulang?” Sedari dulu nada bicara Ibu memang selalu tegas, tapi entah mengapa malam ini suara Ibu terdengar lebih menusuk dari biasanya.
“Iya. Ibu tumben mampir ke rumah Abang?”
Ibu menyeruput kopi hitam miliknya yang sudah tidak lagi mengepulkan asap— pertanda sudah lama dibuat— sebelum menjawab pertanyaan dari si bungsu. “Loh kenapa? Apa sekarang ada larangan kalau mau ke rumah Abang? Atau Ibu harus dapat surat izin dulu kalau mau mampir ke rumah anak Ibu?”
Jeno menghembuskan napas panjang, “bukan gitu maksud Jeno, Bu.”
“Sini, duduk dekat Abangmu, Ibu mau bicara.”
Usia Jeno sudah menginjak tiga puluh dua, namun diperintah seperti itu, Jeno seperti di bawa kembali pada masa usianya masih belia. Masa di mana dirinya suka berlindung di balik punggung Abang saat dirinya membuat suatu masalah dan berujung pada Ibu yang mengeluarkan amarah.
Jeno menurut, dengan langkah lelah menghampiri Abang yang duduk di ujung sofa.
Dalam diamnya Mark melihat sang adik yang duduk dalam posisi tegap. Mark yakin punggung milik Jeno sudah lelah karena bekerja sepanjang hari. Jeno pasti sedang memaksakan diri.
“Jen, Abang sudah cerita sama Ibu tentang kamu. Tapi Ibu juga mau dengar langsung dari mulutmu, apa bener kamu udah nginep di rumah Abang dari hari selasa?” Nada bicara Ibu melembut, mungkin merasa iba saat dilihatnya kantung mata sang anak yang mulai menyerupai panda.
Jeno hanya mengangguk sebagai jawaban.
“Kenapa bisa sampai pergi dari rumah dan ninggalin Renjun? Kamu tega, Jen? Anak Ibu tega berbuat seperti itu?"
Yang ditanya mengusap wajah lelah, kemudian menggeleng lemah.
“Jen … Ibu mau jawaban jelas. Kamu lagi marahan sama Renjun?”
“Dia kayaknya yang marah sama aku.”
“Terus kenapa malah kamu yang pergi dari rumah?”
“Aku sakit, dan dia enggak mau ngurus aku. Apa salah kalau aku pergi ke Abang buat minta tolong rawat aku?”
"Renjun udah ngingetin kamu untuk jaga kesehatan?"
Jeno mengangguk. Teringat dengan jelas kekhawatiran Renjun akan kesehatannya.
"Kamu nurut sama dia?"
Kini kepalanya menggeleng.
"Ibu tahu kamu kalau sakit manjanya kayak gimana. Ibu yang rawat kamu tiap kamu sakit ngerti banget kalau kamu lagi sakit paling enggak mau ditinggal. Renjun juga suka begitu, 'kan? Mana pernah dia ninggalin kamu pas kamu enggak enak badan. Baru kali ini Renjun enggak mau ngurus kamu, pernah enggak kamu mikir mungkin ini semua karena sikap kamu juga sama dia."
Tidak sanggup lagi duduk dengan tegap, pada akhirnya punggung Jeno rubuh juga menyentuh sandaran sofa.
"Renjun tuh jadi lebih sensitif, Bu. Jeno buat salah sedikit dia permasalahin. Ngediemin Jeno sampe bisa berhari-hari. Jeno udah pusing sama kerjaan, capek juga kalau harus ngadepin Renjun yang kayak gitu." Si Bungsu mengeluh, wajahnya memerah setelah mengungkapkan keluh kesah.
"Jen," Mark mulai ikut bicara, menepuk-nepuk paha sang adik sebelum memulai, "bukan Abang mau memihak Renjun, Abang juga enggak paham batas sabar kalian berdua sampe mana. Cuma selama kamu tinggal di rumah Abang, Abang sedikit ngerti kenapa Renjun bisa se-sensitif itu. Kamu pulang malem terus. Abang aja yang baru tinggal serumah sama kamu selama empat hari ngerasa enggak nyaman. Bayangin perasaan Renjun, deh?"
Dalam diamnya Jeno mendengarkan ucapan Abang. Meskipun merasa sedikit terpojokkan, tapi Jeno mengakui ucapan Abangnya itu benar.
"Jam pulang kantor kamu jam berapa sih? Jam lima, bukan? Ya sesibuk-sibuknya kamu, Abang pikir pulang lebih dari jam sembilan itu keterlaluan. Kapan terakhir kamu ngobrol dari hati ke hati sama Renjun? Kapan terakhir kali Renjun kamu peluk? Kapan terakhir kali kalian berdua ngabisin quality time bareng?"
Jawabannya adalah sudah lama sekali. Mengobrol dari hati ke hati bersama Renjun? Jeno sampai lupa kapan mereka melakukan itu terakhir kali. Memeluk Renjun? Entah …. dua bulan atau mungkin tiga bulan lalu. Menghabiskan quality time? Oh, Jeno bahkan tidak bisa mengingat kapan terakhir kali mereka melakukannya.
"Udah lama, Bang." Jeno menjawab jujur.
Mendengar jawaban terus terang dari sang adik, alis camar milik Mark menanjak naik. "See? Weekdays kamu kerja, pulang larut malem. Weekend kamu sering habisin waktu sama kolega. Waktu buat Renjunnya kapan? Dan kamu berharap Renjun enggak ngerasa sensitif soal ini?"
Pada waktu dan detik ini, Jeno sadar bahwa dirinya sudah sangat kacau.
"Ngerti, Nak, salah kamu di mana?" Kini Ibu kembali berbicara.
"Jeno ngerti."
Ibu terlihat kembali menyeruput kopinya, kemudian kepala Ibu mengangguk pelan. "Bagus kalau kamu ngerti. Yasudah … temuin Renjun sana, dia nunggu di kamar tamu. Saling minta maaf buat apapun yang mengganjal di hati."
Mata Jeno seketika melebar, "Jun ada di sini?"
"Iya. Siang tadi habis curhat dan nangis sama Donghyuck. Terus Abang nelfon Ibu karena ngerasa enggak bisa handle ini sendiri. Terus tadi Ibu ke sini bareng sama Renjun." Mark menjelaskan, disertai mulutnya yang menguap kemudian.
Jeno mengangguk, kemudian berpamitan pada Ibu dan Abang untuk segera memasuki kamar tamu.
Dari balik selimut, Renjun dapat mendengar sayup-sayup pintu kamar dibuka dengan hati-hati. Kemudian dirasakannya seseorang duduk di kasur yang sedang ia tempati. Renjun meyakini, bahwa seseorang itu adalah suaminya sendiri. Bau keringat tidak membuat Renjun lupa akan wangi parfume suaminya seperti apa.
Renjun tahu kini Jeno sudah duduk di samping tubuhnya, dengan kaki yang masih menempel lada lantai, dan jemari yang mulai mengusap bahu Renjun dari luar selimut.
"Jun …" Jeno bersuara, dan suaranya terdengar lelah.
Renjun menurunkan selimutnya, menampilkan wajah yang tidak kalah kacau dari milik Jeno sendiri; hidung merah, mata sembab dan rambut panjang yang sudah tidak tertata.
Hal tersebut membuat hati Jeno serasa molos. Ternyata bukan hanya dirinya yang merasa sakit. Lebih parah, sakit yang Renjun rasa bukan fisik. Hati Renjun sakit, dan Jeno adalah penyebabnya.
Setetes air mata kembali keluar dari ujung ainnya. Menatap sang suami yang sedari tadi diam memperhatikan dengan tatapan penuh sesal.
Jeno mengusap air mata Renjun menggunakan ibu jari miliknya, mengatakan kata maaf tanpa suara. Karena kini ia merasa tenggorokannya seperti dicekat oleh tali. Begitu perih dan panas.
Renjun mengangguk dalam rebahnya, "maafin aku juga."
Kemudian hal selanjutnya yang Renjun tahu adalah tubuh kecilnya dibawa kedalam sebuah pelukan hangat oleh Jeno. Kepalanya dibuat bersandar pada dada bidang sang suami. Renjun dapat mendengar detak jantung miliknya yang terasa cepat.
Renjun ikut melingkarkan kedua lengannya pada tubuh Jeno. Memeluknya erat.
"Setahun ini pasti capek banget ya, ngadepin aku?" Jeno berkata ketika keduanya sudah mulai tenang.
Renjun mengangguk, memejamkan kedua matanya rapat untuk menahan air mata yang akan kembali keluar.
"Maafin, ya?" Diusapnya rambut Renjun pelan, "maaf untuk setahun ini aku enggak ada waktu buat kamu, aku kurang perhatiin kamu. Maaf karena aku sering bikin kamu sedih."
Jeno merasakan pelukan Renjun bertambah erat. Lalu napasnya yang gemetar menjadi tanda awal yang lebih tua akan bicara. Membalas permintaan maaf sang suami yang sangat terasa dari hati.
"Aku juga minta maaf. Udah sering nuntut kamu ini itu, minta ini itu dan jadi lebih sensi." Ada jeda pada ucapnya, karena ia terlalu malu untuk mengaku, karena ia terlalu takut akan alasannya akan dibilang semacam tindak kekanakan. "Aku cuma kepingin kamu perhatiin aku lagi. Maaf aku kayak anak kecil yang sering kasih tantrum kalau kamu gak nurutin maunya aku, Jen."
Jeno mengangguk. Diciumnya puncak kepala sang suami, menghirup wangi shampoo yang sedari dulu tidak pernah Renjun ganti.
"Enggak apa-apa, sayang. Ini juga karena aku yang mulai kurang perhatian. Maaf, aku jadi enggak ada waktu buat kamu karena kelabakan sama jabatan baru di kantor. Jeleknya aku kalau kerja enggak tau waktu."
Kini Jeno mencium kening Renjun saat dirasa yang lebih tua kembali mengangguk menjawab permintaan maafnya. Menyalurkan syukur juga afeksi yang lama tidak ia beri.
Padahal Jeno belum membuka pintu berwarna putih gading, namun dalam dekapan Renjun, dirinya merasa sudah berada di tempat yang sangat nyaman dan familiar. Jeno merasa sudah berada di rumah, ia sudah pulang.
Mata Jeno bolak-balik membaca pesan yang baru saja dikirim oleh Abangnya. Ini bagaimana ya? Maksud Abangnya apa tiba-tiba memesankan dua buah tiket pesawat terbang. Tidak tanggung-tanggung, tujuannya adalah Switzerland.
Jeno
Buat gue sama renjun?
Bang Mark
Iya. Hadiah dari nyokap
Jeno
Tapi gue masih mampu beli sendiri
Bang Mark
Lo mampu.
Tapi pertanyaannya, emang lo mau inisiatif sendiri?
Terima aja. Buat hadiah anniversary pernikahan lo sama renjun kata nyokap.
Jeno
Yaudah
Nanti gue telfon ibu buat bilang makasih
Bang Mark
Mulai ngajuin cuti dari sekarang, mulai ngurus visa dari sekarang. Biar bulan depan lo bisa berangkat.
Jeno
Iya
Read
Jeno
Btw, Bang
Bang Mark
Ya?
Jeno
Makasih
Buat bantuan lo, donghyuck sama ibu
Bang Mark
Anytime jen.
Hadiah dari Ibu sebulan lalu yang membuat Renjun dan Jeno kini bisa duduk di kursi pesawat kelas bisnis, menunggu dengan tenang pesawat yang sebentar lagi akan lepas landas mengudara. Meskipun sebulan ke belakang keduanya harus sibuk mengurus visa, juga mewanti-wanti orang terpercaya untuk menggantikan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab mereka. Apalagi bagi Jeno, dirinya sempat khawatir cutinya akan dipersulit. Namun beruntung pengajuan cutinya bisa di approve dengan mudah oleh Pak Suho.
Ladies and gentleman, this is James and I your chief flight attendant. On behalf of Captain Dane and the entire crew, welcome onboard Singapore Airlines—
Senyum sedari tadi tidak luntur dari bibir Renjun ketika mendengar pre-flight announcement. Matanya menatap ke luar jendela, dalam hati tidak sabar pemandangan di depan mata berubah menjadi hamparan awan yang tampak bisa di dekap. Dan Jeno, yang senyumnya juga turut hadir ketika pandangannya tidak lepas dari Renjun.
"Seneng?"
Pertanyaan dari Jeno membuat yang lebih tua akhirnya mengalihkan pandangan dari jendela pesawat.
"Iya," jawab Renjun, dengan mata yang berbinar. Kemudian Renjun mengulurkan tangannya ke arah Jeno. "Tangan kamu, sini."
Jeno mengikuti keinginan Renjun dengan menyerahkan tangan kiri miliknya untuk Renjun genggam. Dengan bibir yang sedari tadi berusaha menahan senyum, Jeno bertanya, "perlu banget pegangan tangan?"
Yang lebih tua menautkan jemari mereka, dan digenggamnya erat jemari Jeno yang ukurannya lebih besar dari miliknya. "Perlu, I know you always get nervous before flying."
Mendengar jawaban Renjun, senyum milik Jeno tidak lagi bisa ditahan. Dikecupnya jemari mereka yang masih saling bertaut, kemudian Jeno bawa jemari mereka ke atas paha miliknya, membiarkannya untuk bertangkup di sana.
"Thank you." Jeno berkata tulus.
"My pleasure."
Seiring pesawat yang mulai lepas landas, rasa khawatir untuk terbang tidak lagi memenuhi kepala Jeno. Terima kasih pada Renjun dan tindakan sederhana yang ia lakukan dengan menggenggam juga mengusap kulit punggung tangan milik Jeno menggunakan ibu jari miliknya, kini hanya perasaan nyaman yang sedang Jeno rasakan.
Setelah total kurang lebih 28 jam mengudara dengan satu kali transit di Singapur, arkian keduanya sudah merasakan udara kota Zurich yang begitu dingin. Mereka sepakat untuk langsung pergi menuju hotel, memutuskan tinggal sehari di Zurich sebelum esoknya pergi menuju Bern— kota yang mereka tuju– demi bisa mengistirahatkan tubuh yang terasa lelah.
"Kamu mandi duluan gih." Renjun berujar sembari mengeluarkan baju tidur untuk Jeno dari koper mereka.
Sementara Jeno, lelaki itu menjawab malas dari atas kasur, merasa enggan pergi untuk mandi karena masih ingin merebahkan diri.
"Kamu aja duluan…"
"Kamu duluan. Aku beresin baju dulu kan."
"Enggaaak, nanti dulu yang. Aku masih kepingin rebahan."
Renjun menoleh, menyaksikan suaminya yang sekarang malah asik berguling-guling di atas tempat tidur.
"Jenoo!!!" Renjun berujar gemas, pasalnya Jeno belum mandi dan sudah pasti tubuhnya kotor akibat dari perjalanan panjang mereka. Dihampirinya yang lebih muda, dan Renjun berusaha menarik tubuh Jeno agar bangun dari tidurnya. "Bangun ih ayo, badan kamu kotor tau enggak? Bau! Jangan tiduran dulu."
Jeno dan badannya yang kuat mampu untuk bertahan dari tarikan Renjun. Bukannya berhasil ditarik, malah kini Jeno yang berhasil menarik Renjun untuk ikut dalam rebahnya. Jeno peluk tubuh Renjun yang berada di atasnya erat.
"Jen, lepaaas!" Renjun berusaha terlepas, sementara Jeno malah tertawa puas.
"Nih, makan nih bau ketek aku."
"Jeno, ah rese banget."
"Hahaha nih katanya bau." Jeno terus tertawa, semakin mendusalkan tubuh Renjun pada pelukannya.
"Jen, mandi enggak?!" Renjun kembali memerintah, meskipun sekarang diiringi kekehan kecil akibat keisengan sang suami.
"Mandiin." Ucap Jeno jahil, yang kemudian berhasil mendatangkan pukulan di dada miliknya.
"Enggak."
"Mandiin aku sayang."
Renjun menyerah, tidak lagi melawan pelukan Jeno. Dua tangannya Renjun jadikan penopang tubuh kecilnya untuk memerangkap yang lebih muda. Sedangkan Jeno, dua tangannya dengan sigap memegang pinggang Renjun.
"Mau aku mandiin?" Tanya Renjun dengan wajah serius, menatap Jeno di bawahnya yang sama sedang terengah akibat pergulatan mereka.
Jeno hanya sanggup mengangguk. Padahal ia yang memulai, tapi dalam hati dirinya merasa sedikit grogi karena sudah lama mereka tidak berada dalam situasi intim seperti ini.
Perlahan, tubuh Renjun semakin merunduk, semakin mempersempit jarak wajahnya dengan Jeno.
Jeno sudah bersiap, untuk kemungkinan suami mungilnya ini akan mencium dirinya. Mata Jeno memejam, bibirnya sedikit terbuka dan tidak sabar menyambut bibir ranum milik Renjun.
"Kamu udah gede, Jen. Mandi sana sendiri." Alih-alih ciuman, malah bisik penuh nada jahil yang ia terima. Dan dalam sekejap, tubuh Renjun sudah tidak lagi dalam dekapannya.
Jeno tertawa kecil, "liat aja ya nanti pembalasan aku."
"Ini kita udah dapet rental mobilnya berarti?" Renjun bertanya sebelum sepotong sosis ia kunyah.
Jeno mengangguk mantap, "udah. Aku tadi minta buat dianter ke hotel, tapi katanya gak bisa dan harus ambil sendiri. Kamu enggak apa-apa naik tram dulu buat ngambil mobil?"
"Gapapa, Jen."
Mata milik Jeno melengkung beriringan dengan senyum. Jempol miliknya kemudian bergerak mengelap ujung bibir Renjun yang sedikit belepotan dihiasi saus.
Renjun ikut bergerak ingin mengusap ujung bibirnya, "eh belepotan?"
"Sedikit, tadi ada saus." Satu tangan Jeno menahan tangan Renjun yang akan menuju pipi miliknya, "Udah sama aku aja, nanti tangan kamu ikutan kotor."
Dapat Jeno rasakan bibir Renjun yang tersenyum lewat ibu jari miliknya.
"Makasih, Jen."
"Hm." Gumam Jeno seadanya. Ibu jari milik Jeno masih bertengger di ujung ranum sang suami, merasakan kelembutannya meskipun hanya secuil. "Aku juga mau bilang makasih dari kemarin, tapi lupa terus." Kemudian tangannya bergerak untuk ia lap pada tissue.
"Makasih ya sayang." Jeno berucap tulus. Dengan pandangan yang mengunci pada Renjun.
"Makasih buat apa? Perasaan aku kemarin enggak ngapa-ngapain?"
Jeno meraih tangan kanan Renjun yang tersimpan di atas meja. Ia tautkan jemari mereka, lalu ia remas pelan.
"Makasih karena udah mau terima hadiah dari Ibu dan ikut sama aku di perjalanan ini. Aku tau kita udah ngomongin hal ini berkali-kali. Tentang mulai lagi kehidupan pernikahan kita biar jadi lebih sehat dan move on dari permasalahan kemarin. Tapi aku rasa aku belum cukup ngucapin syukur buat hal itu, buat kamu. Makasih ya?"
Dalam hati Renjun mendumal, Jeno ini benar-benar….
"Kamu tuh ya …" Renjun berucap dengan lirih. Bahkan kini pandangannya sudah mengabur karena air mata yang mulai menggenang, "enggak keren banget bikin aku mau nangis pagi-pagi!"
Jeno tertawa renyah, ia kecup tangan Renjun dan merasakan dingin di bibirnya.
Pagi ini, suhu Zurich mencapai minus dua derajat celcius. Tapi pipi milik Renjun dihiasi rona merah, juga hatinya yang kini menghangat karena perkataan dan perlakuan dari Jeno.
Selepas sarapan dan melakukan perjalanan menggunakan tram nomor 7 (dan mengeluarkan effort lebih karena musti menggerek koper), mereka berjalan sedikit untuk sampai di tempat rental mobil. Proses untuk rental mobil ini tidak terlalu lama, beruntung karena montir yang melayani mereka— Mr. Alan— dapat berbahasa inggris sehingga komunikasi dapat berjalan lancar.
Akhirnya mobil yang mereka sewa dibawa oleh Jeno untuk menuju Bern. Membelah jalanan yang memang lengang, dan dibantu oleh petunjuk jalan. Satu jam tiga puluh menit adalah waktu yang Jeno tempuh hingga akhirnya mereka tiba di Bern. Setelah melewati persimpangan Birrfeld hingga Wankdorf, juga pemandangan yang menakjubkan, bangunan tua khas Eropa menyambut keduanya.
Bern dan Jakarta, padahal keduanya sama-sama Ibu Kota. Namun tidak seperti Jakarta yang memiliki banyak bangunan yang tinggi menjulang, juga kemodernan dan ramai hingar bingar, Bern ini lebih terasa menyatu dengan alam. Kota tua dengan bangunan khas abad ke-17, dikelilingi air sungai Aar yang berwarna biru, ditambah pegunungan bersalju yang berdiri gagah, Bern punya pesona yang mampu membuat Renjun tidak henti bergumam takjub.
"Indah banget di sini," Renjun berkata saat keduanya sampai di penginapan yang sebelumnya sudah mereka pesan melalui Airbnb. Renjun yang memilih, karena menurutnya dibanding tinggal di hotel untuk dua hari kedepan, penginapan seperti rumah yang sudah lengkap dengan kamar tidur sampai dapur lebih terasa intim untuk mereka yang memang bertujuan memperbaiki hubungan pernikahan.
Rumah di hadapannya merupakan rumah berlantai dua, dengan pagar juga bangunan yang hampir seluruhnya berbahan dasar kayu, Renjun benar-benar merasa sedang berada dalam dongeng. Sebagai seseorang yang menggeluti bisnis home decor, Renjun tidak melewatkan tiap tata letak perabotan yang benar-benar dinikmati pikirannya.
Lebih takjub lagi, saat Renjun membuka jendela kamar yang akan ditempati dirinya dan Jeno. Rumah warga yang bergaya sama, juga gunung bak di depan mata tanpa terhalang kabel listrik yang berbelit menjadi apa yang tersaji untuk Renjun. "Ciptaan Tuhan indah banget," Renjun bergumam, tidak dapat ia hitung berapa kali kata indah sudah terucap dari bibirnya. Dua tangannya berpegangan di tepi jendela pertanda dirinya masih ingin berlama-lama melihat dari sana.
Jeno yang baru selesai meletakkan koper di samping tempat tidur menghampiri Renjun. Dipeluknya figur yang lebih kecil dari belakang. "Kamu juga indah," ucap yang lebih muda sebelum kepalanya menciumi tengkuk Renjun yang sudah tidak lagi tertutupi jaket tebal.
Renjun tertawa hingga badan Jeno ikut bergetar, "aku baru dapet gombalan dari kamu lagi."
"Udah lama banget ya, kamu gak aku gombalin?" Jeno bertanya di tengah ciumannya yang kini merambat menuju leher. Dalam hati Jeno berterima kasih pada Renjun yang kini menengadahkan kepalanya ke atas, ikut mempermudah dan memperluas jangkauan mulut Jeno di kulit leher sang suami.
"Hm," Jawabnya malas karena napas makin melambat. "Udah lama banget, Jen."
Bukan hanya mulut Jeno yang mengeksplor tubuh Renjun. Kini tangannya sudah mulai menyingkap hoodie yang Renjun kenakan. Membuat telapak tangannya yang dingin menyentuh dan menggerayangi perut halus Renjun.
Buku jari milik Renjun memutih, usaha terakhir miliknya untuk menguatkan diri pada posisi ini. Karena tubuhnya mulai melemas di tengah usapan jemari Jeno, membuatnya bersandar pada tubuh kokoh di belakangnya. Mempercayakan pada Jeno untuk bantu menopang tubuh.
"Jenh …" Namanya didesahkan saat Jeno mengulum telinga Renjun yang sudah memerah layaknya tomat.
"Ya?" Jeno berbisik, mulutnya menempel pada telinga Renjun.
"Udah lama banget, aku gak disentuh gini sama kamu." Matanya memejam daat berucap
"Mangkanya, aku sentuh sekarang. Kamu mau?"
Usapan tangan Jeno semakin naik hingga ujung telunjuknya dapat merasakan tonjolan dada Renjun. Dan Jeno mainkan telunjuknya di sana, dipelintir pelan sampai Renjun bergetar.
"S...stop. Jen jangan sekarang." Renjun meminta untuk berhenti. Karena ia pikir Jeno tidak akan sejauh ini.
Bukan … bukan karena dirinya tidak mau untuk Jeno sentuh. Renjun betul-betul rindu disentuh oleh Jeno. Namun masalahnya ia tidak ingin hari pertama mereka di Bern hanya akan mereka habiskan di dalam kamar. Dirinya dan Jeno hanya punya tiga hari di sini. Jadi ia ingin sebisa mungkin harinya dihabiskan dengan banyak mengunjungi tempat-tempat indah bersama Jeno.
Untuk sentuh menyentuh, bisa mereka lakukan di malam hari. Karena ia yakin, Jeno akan meminta lebih dari sekali dan hal tersebut akan membuat mereka berdua kelelahan duluan.
Sejujurnya Jeno merasa sedikit kecewa saat mendengar ucapan Renjun, juga lengan Renjun yang mulai menarik dua tangannya agar keluar dari hoodie yang ia kenakan. Membuktikan ucapan miliknya bahwa ia tidak menginginkan sentuhan dari Jeno.
"Kenapa?" Nada kecewa tidak bisa Jeno sembunyikan.
Renjun berbalik, mengecup dengan cepat bibir Jeno sekali sebagai tanda minta maaf.
"Aku mau eksplor Bern sama kamu. Kita di sini cuma tiga hari, kan? Aku yakin kalau kita ngelakuin itu sekarang, kamu gak akan cukup sekali." Renjun memberi pengertian.
Tahu aja gue bakal minta berkali-kali. Ucap Jeno dalam hati, merasa terekspos oleh perkataan Renjun.
"Nanti malem, ya?" Renjun melanjutkan saat dilihatnya Jeno hanya terdiam. "Nanti malem dan malem berikutnya kamu boleh sentuh aku gimanapun kamu mau, Jen. Because I really miss your touch. I really do."
Senyum kecil Jeno berikan mendengar ucapan Renjun. Dipeluknya Renjun dengan kecupan di pelipis ia sematkan.
"Oke. Kita mau ke mana dulu?"
"Ke mana aja. Tapi pulangnya kita nanti grocery shopping buat dua hari ke depan."
"Oke, sir!"
Udara dingin Bern di bulan Februari menyertai petualangan mereka di hari pertama. Meskipun awan menutupi birunya langit, keindahan Bern masih bisa mereka nikmati dengan sepenuh hati.
Dari banyaknya tempat yang dimiliki Kota Tua Bern dan meminta untuk dikunjungi, Jeno dan Renjun memilih Bern Minster sebagai destinasi pertama. Menikmati bangunan dengan gaya gothic yang tingginya lebih dari 100 meter. Sebetulnya ada alasan khusus Renjun memilih tempat ini menjadi tujuan pertama mereka untuk dikunjungi, ia ingin mengenang.
Mengenang hari dimana dirinya dan Jeno berdiri di atas altar pernikahan. Mengenang hari dimana Jeno mengucapkan janji pernikahan. Mengenang hari dimana mereka berciuman untuk pertama kalinya sebagai sepasang suami.
"It's nice, remembering the old times," Renjun berujar di kursi katedral selepas mereka memanjat do'a.
Jeno tersenyum mendengar ucapan Renjun, kemudian mengangguk setuju. Kemudian dibawanya punggung tangan Renjun menuju bibirnya untuk ia kecup. "I can't kiss your lips, so let me kiss your hand instead," terang Jeno ketika melihat wajah terkejut Renjun.
Meskipun punggung tangannya yang dikecup, namun gelitik di perut yang Renjun rasa begitu persis seperti ketika Jeno menciumnya di bibir.
"Bisa aja," Renjun tertawa malu.
"Bisa, buat kamu, aku belajar buat selalu bisa."
Setelahnya mereka berdua melewati jembatan Kirchenfeldbrücke yang tidak jauh dari Katedral. Melihat hijaunya sungai Aare yang membentang dan sampailah keduanya di Museum Sejarah Bern yang di dalamnya memuat Einstein Museum sebagai eksibisi permanen. Jeno dan Renjun melewati lorong tangga berlapis cermin yang begitu megah, melihat foto-foto masa lalu Einstein yang ditampilkan pada layar, juga membaca tulisan asli dari si penemu teori relativitas. Dan semuanya mereka lakukan dengan tangan yang saling menggenggam.
Tempat terakhir yang mereka kunjungi di hari itu adalah menara jam Zytglogge yang berada tepat di jantung kota Bern. Rasanya begitu magical— jam yang sudah ada sejak 800 tahun lalu tersebut masih berfungsi dengan bantuan tenaga manusia. Memberitahukan waktu pada tiap detiknya dan terasa begitu hidup layaknya degup jantung yang tidak berhenti. Di tiap denting jam tersebut juga yang menemani Jeno serta Renjun dalam menghabiskan hari.
Meskipun hari mereka tidak benar-benar berakhir di sana. Karena kenyataannya, hari sepasang suami ini berakhir ketika keduanya memejamkan mata, dalam keadaan saling berdekapan, juga tubuh tanpa menggunakan pakaian, hanya dengan kulit yang saling bersentuhan dan terasa begitu menghangatkan.
"Mau sarapan apa? Biar aku yang bikinin," Jeno bertanya kepada Renjun yang masih setia mendusal di ceruk lehernya, sesekali mencium malas kulit leher sang suami.
"Nanti aja…" nada rengekan dari yang lebih tua tidak terelakkan, "ini masih pagi banget gaksih, Jen?"
Jeno tertawa pelan, sudah lama tidak melihat sisi manja dari suami kecilnya. "Jarak ke Zermatt juga kan lumayan jauh, yang."
Yang lebih tua menggeliat, merenggangkan otot-otot tubuh yang sedikit terasa pegal akibat kegiatan semalam bersama pasangannya, "Iya sih …" pada akhirnya dirinya meng-iyakan. "yaudah aku aja yang bikin sarapan."
"Aku udah nawarin duluan. Kamu santai aja, itung-itung permintaan maaf aku karena semalem enggak cukup sekali. Pinggang kamu sakit?"
"Enggak," tawa kecil berderai dari mulut Renjun, "aku enggak apa-apa, Jen." wajahnya mendongak, menatap Jeno yang sudah sedari tadi menatapnya.
"Hm," kini jemari Jeno menyisir rambut milik Renjun yang sudah memanjang. Menyingkirkan beberapa helai dari wajahnya. Suaminya ini, kenapa manis sekali? Pikir Jeno dalam hati. "Kamu manis banget."
Mendengar pujian dari Jeno secara tiba-tiba membuat Renjun bangkit dari rebahnya. Menampilkan bagian atas tubuh yang tidak tertutup pakaian juga selimut berhias bercak merah hasil semalam. Salah satu alisnya menanjak naik, "Jen, serius?"
Jeno mengangguk, ikut duduk berhadapan dengan Renjun. Salah satu tangannya terulur mengusap pipi halus pujaan hati. "Kamu manis, ganteng, kamu suami aku."
"I smell like sex, my hair is messy and you call me ... sweet?"
"Yes."
Semburat merah mulai muncul di pipi Renjun. Menambah kesan manis hingga rasanya Jeno ingin menggigit pipi itu. "Lucu banget pipinya merah."
Renjun hanya menatap Jeno tidak percaya. Sumpah, setahun lebih tidak mendapat afeksi yang layak dari sang suami membuat Renjun menjadi kelabakan. Ia bingung harus bagaimana, karena Jeno sangat jarang memberi afeksi berupa pujian, yang lebih muda biasa memberi afeksi melalui tindakan.
"Aku gigit ya?"
Renjun tertawa terbahak, "eh kamu kayak remaja puber deh."
"Tapi serius aku mau gigit pipi kamu," Jeno ikut tertawa.
Masih dalam tawanya, Renjun mengangguk. Kemudian is menyodorkan pipi kanannya kepada Jeno. "Yaudah nih, gigit deh sepuas kamu."
Dan Jeno melakukannya, menggigit pipi Renjun gemas diselingi kecupan di sana. Kemudian, kecupannya merambat hingga ke bibir. Membuat tawa Renjun perlahan terhenti, digantikan oleh bibir miliknya yang bergerak seirama dengan bibir milik Jeno. Berbagi ciuman hangat untuk memulai pagi.
Biarkan waktu sarapan mereka terlambat selama 20 (dua puluh) menit. Keduanya masih asik berbagi rasa yang sempat tidak terasa.
Selesai sarapan dan membenahi diri, mereka kini dalam perjalanan mendatangi Zermatt untuk bermain ski. Mengendarai mobil yang mereka sewa melalui Car Train Lotschberg yang dapat mempersingkat waktu perjalanan dari Bern menuju Buppenstein dan berakhir di Desa Tasch. Dari sini, mobil yang mereka sewa harus diparkir. Hal ini berkenaan dengan program Car Free di Zermatt, di mana hanya kendaraan dengan energi listrik yang bisa digunakan. Maka dari itu, Jeno dan Renjun meneruskan perjalanan mereka menaiki taksi local yang menggunakan listrik.
Perjalanan dilanjutkan menggunakan gondola untuk sampai di Trockener Steg. Beruntung hanya mereka berdua yang dimuat dalam gondola ini. Waktu tempuh selama kurang lebih dua puluh menit keduanya nikmati dengan gunung Matterhorn menjadi objek yang tidak lepas dari mata.
Omong-omong mengenai gunung Matterhorn, Renjun jadi teringat sesuatu. Matanya beralih pada Jeno yang sedari tadi —sama seperti dirinya— sedang memperhatikan gunung simbol negara Swiss itu.
"Kamu sebelum di sini pernah skiing di mana aja sih?"
Jeno menoleh, berpikir sejenak untuk mengingat-ingat jawaban akan pertanyaan Renjun. "Kayaknya baru dua kali. Di Whistler Blackcomb, pas waktu liburan ke rumah kakek, terus pas sama kamu di Sapporo, zaman-zaman kita pacaran dan pas aku ngelamar kamu," Jeno tersenyum, "inget?"
Membalas senyum Jeno, Renjun mengangguk cepat mengiyakan. "Ingetlah, aku enggak akan pernah lupain liburan kita di Jepang enam tahun lalu."
"Gak kerasa ya, besok anniversary pernikahan kita yang ke lima," Jeno raih tubuh Renjun agar semakin mendekat, kemudian dirangkulnya tubuh mungil Renjun, "kamu mau hadiah apa?"
Renjun mendongak, menatap tidak percaya akan pertanyaan dari Jeno. "Kamu belum beli hadiah buat aku?"
"Udah, udah ada. Tapi kayaknya aku masih mau beliin kamu sesuatu. Anggap aja bonusnya."
Renjun tertawa kecil, "apaan pake dibonusin segala."
"Soalnya hadiah pertama dari aku bukan barang. Jadi ya…."
Dahi Renjun mengernyit saat mendapat penjelasan sang suami. Kalau bukan berbentuk barang, lalu apa?
"Emang kamu hadiahin apa buat aku?"
Jeno tersenyum jahil, "Rahasia."
"Jangan bilang … you'll do rough when we had sex? Jen, aku kan bilang kalau kamu gak nyaman sama permintaan aku—"
"Jun? No, oh God no, my present is not about our sex life. Tapi ya itu juga masih aku pikirin, yang. I just wanna make sure that you are not going to hurt when we do that." Buru-buru Jeno memotong ucapan yang lebih tua.
"Oh … kirain." Renjun tertawa malu, ia sembunyikan wajah miliknya di dada milik Jeno.
"Jadi mau hadiah tambahan apa?"
"Kalau aku minta diamond gimana?"
"Oke."
Mendapati Jeno yang dengan mudahnya meng-iyakan, sontak membuat Renjun melepas rangkulan yang lebih muda. "Cepet banget nge-iyain nya? Aku becanda aja kok. Mending uangnya dikumpul, kamu mau beli mobil baru juga, ‘kan? Terus kita masih ada rencana renovasi halaman belakang. Mending saving budget buat itu sih, kadonya gapapa satu aja itu yang bukan barang. Aku juga pasti suka-suka aja asal dari kamu."
Tertawa, Jeno membenarkan kacamata sang suami yang sudah melorot dari hidung bangirnya. "Iya, iya."
Kamu pernah bermimpi mengenai tempat di mana tanah bagai diselimuti salju. Tempat di mana angin menari bebas tanpa dihalangi pepohonan. Tempat di mana kamu merasakan kebebasan karena sepanjang mata memandang, hanya putih yang terlihat.
Zermatt adalah tempat tersebut. Papan ski milik keduanya meluncur mengarungi lautan salju tak berujung, membelah angin yang menari, disertai awan di atas sana yang mengikuti.
Hari itu, Renjun dan Jeno kembali mengulang ingatan pada masa enam tahun lalu. Masa sebelum mereka terikat dengan janji suci pernikahan, masa di mana keduanya bahagia meski belum seutuhnya sempurna. Dan hari ini, bentuk dari kenangan yang lalu akan mereka ulang kembali. Menjadi lebih utuh, menjadi lebih sempurna.
“Masih enggak mau lasik?”
Perhatian Renjun yang sedang melihat pegunungan Alpen berhias salju berpindah pada Jeno yang asik merebahkan diri di atas tikar pikinik dengan paha Renjun dijadikan sandaran. Renjun menunduk, melihat sang suami yang ternyata tengah asik memperhatikannya sedari tadi. Sejurus kemudian Jeno kembali membetulkan kacamata milik Renjun yang melorot.
“Masih takut,” jawabnya jujur.
“Enggak sakit, Jun. Enggak akan kenapa-kenapa, ini aku buktinya.” Jeno tertawa, asik sekali menggoda sang suami.
“Nanti aja deh, beneran masih takut.”
“Masih kebayang adegan final destination 5 ya? hahaha.”
Sebal dengan ejekan Jeno, Renjun mengambil sepotong roti yang langsung ia sumpalkan pada mulut Jeno. Dan kini giliran Renjun yang tertawa, “daripada itu mulut dipake ngeledek aku terus, mending pake makan.”
Jeno langsung mendudukkan diri, takut tersedak jika mengunyah dalam posisi berbaring. Usai semua potongan rotinya tertelan, Jeno menjawab, “mending dipake ciuman sama kamu enggak sih?”
Sudah pasti, jawaban dari Jeno dihadiahi pukulan pelan di paha miliknya.
Ah … rasanya begitu menyenangkan, piknik berdua di Interlaken yang hanya berjarak 46 menit dari penginapan mereka. Di antara keindahan yang begitu asing, pun dengan orang-orang yang asing pula, menyadarkan Jeno bahwa di sini hanya Renjun yang terasa begitu familiar . Menjalani liburan selama hampir lima hari, membuat Jeno mengerti bahwa di negara yang begitu dingin ini, baik dirinya juga Renjun hanya bisa mengandalkan satu sama lain. Hal tersebut sedikit membuat dirinya merasa sedih, mengingat pertengkaran mereka satu tahun ke belakang, mengingat dirinya tidak mampu diandalkan, mengingat bahwa Renjun dan ketakutan miliknya hanya ditampung sendirian.
Tawa Jeno memudar seiring penyesalan kembali datang. Ia tidak ingin mengulang apapun yang terjadi selama setahun ke belakang. Jadi Jeno melanjutkan langkah untuk memperbaiki keadaan.
Maka ia merogoh saku celana miliknya. Mengeluarkan kotak persegi kecil berwarna biru dan Jeno serahkan begitu saja pada Renjun.
“Apa?” Renjun bertanya bingung. Padahal dalam hati sudah menerka-nerka apa ucapannya kemarin pada Jeno benar-benar dikabulkan?
“Buka aja,” Jeno menjawab singkat.
“Sumpah, Jen … ini bukan yang kemarin aku minta, ‘kan?” jemari Renjun sedikit bergetar ketika kedua tangannya sudah memegang kota biru itu secara utuh.
Jeno kembali mengeluarkan tawa kecil. “Buka aja dulu mangkanya.”
Dengan perlahan dibukanya kotak tersebut oleh Renjun, napasnya tercekat begitu mengetahui bahwa yang berada di dalamnya adalah benar-benar sebuah cincin berhiaskan berlian. Wajahnya masih menampilkan ekspresi kaget dengan mulut miliknya sedikit terbuka, “Kok beneran dibeliin…” Renjun berujar tak percaya.
“Ya beneran. Masa suami aku minta tapi enggak aku kasih?”
Entah mengapa Renjun merasakan dejavu . Saat di Sapporo enam tahun lalu, Jeno juga begitu saja memberikan kotak cincin tanpa perantara kata manis untuk melamar dirinya. Dan hari ini, terjadi kembali. Jeno tanpa kata pembuka menyerahkan begitu saja berlian bernilai 4.000 USD yang ia keluarkan dari saku celana.
Tapi meskipun tanpa perantara kata manis atau kata pembuka, tulusnya kasih Jeno dapat Renjun rasa menembus tulang dan sampai ke hati. Matanya memerah, tanda haru yang Renjun rasakan akan keluar melalui tangis. Renjun lepas kacamata miliknya yang sudah berembun sebelum tubuh mungilnya menghambur dalam pelukan Jeno dengan kotak tersebut masih ia genggam erat.
“You don’t have to do this , Jen … But thank you, aku seneng banget. Makasih ya sayang.”
Senyumnya terbit seiring lengan kokohnya mengusap punggung kecil Renjun. Jeno mengangguk, “anything for you. ”
Dalam isak kecilnya Renjun bergumam, “rasanya aku mau kayak gini terus. I think being here, with you, give me so much happiness. Aku enggak mau pulang, Jen.”
“But we have to go home,” Jeno berbisik, usapannya masih belum berhenti.
“Iya, tau kok. Kita emang harus pulang. Kamu harus kerja, aku juga harus kerja. You still have responsibility, we still have responsibility.”
“Sayang, bukan itu aja yang bikin kita harus pulang,” Jeno berucap perlahan, coba menjelaskan secara hati-hati agar suami kecilnya ini tidak salah arti, “kita harus jemput hadiah pernikahan yang udah aku janjiin. Hadiah yang semoga semakin bikin keluarga kita lengkap.”
No … There’s no way … Renjun berusaha tidak panik mendengar penjelasan Jeno. Karena jika harapnya melambung terlalu tinggi namun kenyataan bukan itu yang terjadi, dirinya akan terluka dua kali. Jadi Renjun memilih untuk tetap diam mendengarkan dalam peluk sang suami, mendengarkan sampai tuntas agar ia paham dan tidak kembali salah arti.
“Let’s adopt a baby. ” Jeno berucap final.
Napas Renjun yang sedari tadi serasa tertahan kini menguap dan lebih cepat. Peluknya pada tubuh Jeno mengerat, tidak sanggup menahan haru atas kesiapan dari sang suami yang masih terasa seperti mimpi. Tangisnya lebih pecah, badannya bergetar saking tidak menyangkanya ia akan ajakan dari yang lebih muda.
“Jang … jangan bercanda,” Renjun berucap terbata.
Mendapati suaminya menangis begini membuat setetes air mata ikut turun melalui hidung bangir Jeno. Jeno ikut peluk Renjun lebih erat. “Aku enggak akan bercandain hal kayak gini,” lalu ia mengambil napas dalam dengan sedikit getar di sana, Jeno hembuskan perlahan dan kembali mengulang ajakannya, “let’s adopt a baby. Let’s be a Papa and Ayah. I wanna hear him calling you Ayah. I wanna hear him calling me Papa. Atau apapun yang dia mau untuk manggil kita sebagai orang tuanya.”
Masih dalam tangis, Renjun melepas diri dari pelukan Jeno. Kali ini ingin obrolan yang mereka lakukan diiringi mata yang saling menatap.
“Him?” Renjun bertanya lirih.
“Atau kamu mau anak perempuan?” Jeno bertanya sembari menyeka lelehan air mata yang belum kunjung berhenti meluruh di pipi Renjun menggunakan jempolnya.
“Enggak penting buat aku, Jen. Anak perempuan atau anak laki-laki, aku akan sayang sama dia.”
Jeno usap pipi Renjun sayang, kemudian mengangguk mengiyakan. “Okay.”
“But why so sudden?” Tanya yang lebih tua, begitu penasaran faktor apa yang membuat Jeno pada akhirnya ingin memiliki anak, padahal dua bulan lalu hal inilah yang menjadi bahan pertengkaran keduanya.
“It’s not that sudden, actually…” jemarinya tidak lagi bertengger di pipi Renjun, namun Jeno gunakan untuk menggenggam kedua tanggannya. “pagi sehabis kita baikan di rumah Abang, aku lihat gimana sikap kamu ke Chenle. Gimana aku bisa lihat mata kamu neriakin kebahagiaan, gimana aku mulai ngebayangin aku dan kamu yang akan tambah sibuk tapi juga tambah lengkap kalau punya anak nanti.”
Dikecupnya pipi Renjun di mana bekas air matanya lewat.
“Maaf karena aku butuh waktu buat nurutin maunya kamu yang itu. Tapi sekarang aku juga mau, Jun. Aku mau adopsi anak, aku mau besarin dia, aku mau rawat dia, aku mau ajak dia main golf nanti, aku mau ajak dia piknik sama kamu, aku mau Jun, aku mau….” Jeno kembali mengeluarkan air mata. “Aku mau belajar jadi Papa yang hebat buat dia, buat kamu.”
Renjun mengangguk cepat, merasakan euphoria kebahagiaan sampai ia merasa ingin meledak. “Iya … kita belajar bareng-bareng. Buat jadi Papa dan Ayah yang hebat.”
Dalam pernikahan, pasti semuanya mengalami naik turun kehidupan. Jeno dan Renjun sudah belajar, mengenai permasalahan yang selamanya akan selalu ada, juga bahagia yang pasti muncul dan menyembuhkan. Naik turun kehidupan kini tidak lagi menakutkan, selama keduanya hadapi bersama-sama.
Epilogue
“Let’s call him Andy.”
“Hm, Andy such a beautiful name . Andy is it.”
