Actions

Work Header

Pagi Ini (tidak) Seperti Biasa

Summary:

Empat bulan setelah wabah zombie di Hyosan. Harusnya Jeno sudah terbiasa dengan paginya yang tak biasa.

Notes:

Disclaimer :
I don't own any characters in this story. All characters belong to the SM and Netlix.

Ini FF crossover yang menggabungkan beberapa idol dari SM, mostly anak Dream dan series dari Netflix yaitu All of Us Are Dead. Jadi disini aku membuat universe dimana Jenren juga merasakan dampak dari virus Jonas yang ada di All of Us Are Dead.
Setting au ini 4 bulan setelah wabah, jadi timelinenya itu saat Suhyeok dkk bertemu sama Nam Ra di episode terakhir.

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Pagi itu semua masih berjalan seperti biasa.

Suara kicau burung membangunkanku,

Lengan kekarku masih melingkar di pinggang rampingnya,

Dan aku memberikan kecupan kecil di pipi gembilnya dan tiupan halus di telinga kirinya, sebuah usaha untuk membangunkan Sang Pangeran Tidur.

“Lee Renjun-ssi, ayo bangun” ucapku pelan, memanggilnya formal dengan nada jahil.

Lee, ah maksudku Huang Renjun, kekasihku, mengerang karena ketenangannya terganggu. Bukannya membuka mata dan bangun, pria manis kelahiran Maret ini malah semakin merapatkan tubuhnya ke arahku.

Jika cara lembut tak bisa jangan salahkan jika aku melakukan ini

"Arghh!” teriak Renjun langsung membuka mata dan menegakan tubuhnya. “Kenapa digigit?” tanya Renjun sambil mengusap hidung mungil nan mancung miliknya.

"Siapa suruh gak bangun-bangun?” ucapku

“Ini namanya kekerasan dalam rumah tangga tau,” balas Renjun dengan kesal dan mencibir.

Tsk!

“Aduh! Kenapa kau menyentil dahiku!” racau Renjun sambil mengelus bagian jidat yang aku sentil.

“Belajar dulu yang benar, baru bicara rumah tangga,” ucapku santai sambil melangkah masuk ke dalam kamar mandi.

“Bilijir dili ying binir, biri biciri rimih tinggi” Renjun mengulang apa yang aku ucapkan dengan nada mengejek.

“Lee Renjun, ” ucapku memperingati

“Iya, iya! Kau bilang jangan membicarakan rumah tangga, tapi kau malah mengganti margaku seolah kita sudah menikah. Dasar Lee Sialan Jeno.”

“Hah? Kita? Aku memanggilmu Lee Renjun karena kulihat Prof. Lee Sooman tertarik padamu” ucapku jahil, lalu tertawa puas melihat wajah manis itu memerah menahan marah.

“Ya! Lee Jeno!” ucapnya langsung bangkit dan berjalan ke arahku, dengan wajah bersungut-sungut ia mencubiti tubuh kerasku dengan jemari mungilnya, “Dimana kau menyimpan lemakmu.”

Ia kesal, karena tak bisa mencubiti perut dan lenganku yang sudah berbentuk otot minim lemak. 

Tak butuh banyak waktu, tubuh kecilnya langsung kutarik, lalu kuputar agar membelakangiku. Kami menghadap ke cermin yang terdapat di dalam kamar mandi. Aku menatapnya dan Renjunpun balas menatapku melalui bayangan cermin. Aku peluk tubuh mungilnya dan menciumi ceruk lehernya menghirup aroma alami tubuh pujian hatiku. Lalu perlahan tanganku mulai turun.

“Disini.” Ucapku sambil mengelus bagian bawahnya yang sekal.

Mata Rubah miliknya langsung melotot dan beberapa detik kemudian si Rubah berubah menjadi banteng,

"Arg!”

Meski kecil, namun kepala Renjun cukup memberikan rasa sakit saat menghantam -menyeruduk- daguku. Dan tawa renyahnya mengudara memenuhi ruangan.

Ya, pagi itu semua masih berjalan seperti biasa.

 


 

"Jen?” Panggil seseorang dari luar tenda, yang sukses menyadarkan Jeno dari lamunannya, “Jen, kau sudah bangun?” Tanya suara dari luar lagi. 

“Em, Ya. Aku sudah bangun, Chan” balas Jeno

"Cepat keluar. Sebelum antrian makin panjang.”

“Ya, kau duluan saja, Chan.” balas Jeno berusaha menutupi keengganannya.

“Baiklah. Aku duluan. Jangan lama-lama, oke?” ucap Haechan lalu meninggalkan tenda mereka.

Namun, Jeno tak kunjung bangkit dari posisinya ia masih ingin berdiam menatap langit-langit tenda.

Pagi ini semua tidak berjalan seperti biasa.

 


 

Pagi itu semua masih berjalan seperti biasa.

Ia bersenandung dengan tangan kanannya yang memegang spatula.

Renjun-ku berkutat di dapur guna menyiapkan sarapan kami.

“Buat apa?” tanyaku kepada pemuda manis yang tingginya tak melebih 171cm itu dengan lengan besarku yang melingkar pinggang rampingnya.

“Sosis, Sandwich with sunny egg. Dan Tuan Lee tolong lepas tanganmu dari pinggangku, karena itu mengganggu kegiatanku” ucapnya dengan nada sedikit sinis tapi anehnya aku tak tersinggung. Aku malah gemes melihatnya terbukti dari pelukanku yang mengerat.

“Beri aku satu ciuman dulu,” bisikku dengan nada menggoda tepat di telingannya.

Dan tak lama ia memiringkan kepala mungilnya dan menghadap kearahku, mata kami saling bertemu dan tak perlu waktu lama aku meraup bibir penuh miliknya dengan birai tipis milikku. Ciuman kami tak pernah tak memabukan.

“Manis” ucap Renjun di sela ciuman. Ya, aku dan dia, kami berciuman saling bertukar saliva.

Kami melanjutkan ciuman. Renjun sudah berbalik dan melingkarkan lengannya di leherku, enggan menghentikan keintiman diantara kami. Namun, kegiatan itu harus terhenti ketika aroma menyengat memenuhi dapur.

Ya! Sunny egg dan sosis yang ia buat gosong.

Dan suara tawapun pecah, karena aku dan renjun memikirkan kelakuan bodoh kami hingga sarapan yang harusnya kami santap malah berakhir di tong sampah.

Pagi itu semua masih berjalan seperti biasa.

 


 

"Hei! Cepat maju!” ucap seseorang di belakang, menyadarkan pemuda di depannya dari lamunannya.

"Ah! Iya, Jaem.” ucap pemuda itu lalu maju beberapa langkah.

“Jeno, kau harus fokus. Jika tidak nanti ada yang menyalip lagi.” Ucap seseorang itu lagi dengan nada menggerutu.

Bagaimana tidak, mereka sudah mengantri selama lebih dari satu jam, tapi giliran mereka tak kunjung datang karena ada beberapa orang nakal yang memotong antrian.

Setelah menunggu sedikit lama akhirnya giliran merekapun tiba.

Mereka mendapatkan satu kotak nasi, beberapa snack ringan dan juga sebotol air mineral.

“Mengapa lama sekali? Kami sudah selesai makan” ucap salah satu pemuda dengan bentuk wajah yang menyerupai burung camar ketika Jeno dan Jaemin memasuki sebuah tenda.

“Jeno dari tadi melamun, jadi orang-orang menyerobot” celotoh Jaemin sambil membuka kotak nasi miliknya dan memasukan sesendok nasi ke dalam mulutnya.

“Cepat makan, Jen.” Ucap pemuda berkulit tan, karena ia lihat sahabat tampannya hanya menatap kotak nasi di depannya dan tak kunjung membuka kotak itu. Berbeda sekali dengan pemuda yang duduk di depannya, yang makan dengan lahap bahkan nyaris tersedak.

“A–ku, aku akan makan di luar,” ucap Jeno dengan senyum sendunya. Tubuh bongsornya ia bawa keluar tenda itu.

Haechan sudah ingin menyusul Jeno, namun kehadiran seseorang menahan dirinya. 

“Permisi, apakah disini tenda mahasiswa dari Universitas Mirae?” tanya seorang gadis berponi dengan rambut hitam terikat satu ke belakang  yang berdiri di depan tenda mereka dengan membungkukan tubuhnya.

“Ah? Iya, tenda ini dan sebelah diisi oleh mahasiswa Mirae,” Jawab Haechan sedikit bingung, karena ia tak mengenal sosok di depannya.

“Ada ap–“ Pertanyaan Jaemin terpotong, karena gadis itu langsung menegakkan tubuhnya dan berteriak,

"Hei! Aku menemukan mereka!” ucap gadis itu dengan suara cukup lentang ntah kepada siapa, tapi gadis itu terlihat melompat-lompat kecil.

Jaemin, Haechan dan Mark saling menatap bingung. Apa yang ingin dicari dari mereka? Mereka sudah tak memiliki apa-apa sejak virus Jonas menyerang Hyonsa beberapa bulan yang lalu.

Tak berselang lama beberapa remaja lainnya berkumpul.

“Bagaimana apakah Lee Jeno ada?” tanya suara pemuda.

Merasa tau siapa yang disebut, ketiga pemuda dalam tenda itu saling berpandangan. Karena sangat aneh, tiba-tiba segerombolan remaja mencari si Taurus dan lagi dari mana mereka mengetahui nama Jeno.

“Permisi, apakah disini ada yang bernama Lee Jeno?” bukan seorang gadis, kini seorang pemuda yang tengah bertanya.

“Memang ada apa?” tanya Jaemin sambil mengunyah makanannya. Namun tiba-tiba mengernyitkan hidungnya, ada aroma asing.

“Ada sesuatu yang harus kami berikan langsung padanya.

"Sesuatu? Apa itu?” tanya Haechan skiptis

“Ah, itu sedikit privasi. Jadi aku tak bisa mmemberitahu. Jadi disini tak ada yang bernama Lee Jeno?”

“Tunggu!” cegah Mark, “Apakah itu sesuatu itu penting?”

Pemuda yang ditanya tak mebalas lewat lisan, namun anggukan mantap dari kepalanya cukup menjawab pertanyaan Mark.

“Ia sedang makan di luar, se–“

Shibal! Dari kemarin kita berkeliling dan sekarang kita harus mencarinya lagi?” umpat seorang remaja perempuan berambut pendek. Yang coba ditenangkan oleh remaja perempuan lain yang terlihat lebih tenang dan dewasa.

Sedangkan pemuda yang diajak Mark bicara hanya tersenyum tak enak, karena seniornya berbicara kasar dan memotong ucapan Mark.

“Jika kalian lelah, kalian kembali saja ke tenda biar aku yang mencari Lee Jeno,” ucap pemuda tinggi itu kepada teman-temannya.

Setelah sedikit berdiskusi akhirnya teman-temannya itu pergi menyisakan dirinya sendiri di tenda para mahasiswa.

“Maaf, jadi dimana Lee Jeno?” Ucap pemuda berkulit eksotis yang tak kalah dari Haechan.

“Sepertinya ia sedang makan di dekat tembok pembatas, dekat pohon kenangan” ucap Mark

“Oh, pembatas itu. Baiklah aku akan segera ke sana. Terimakasi infonya” ucap Pemda itu langsung bergegas menuju tempat yang dimaksud.

“Tadi kalian mencium bau sesuatu tidak?” Tanya Jaemin

“Bau kaki bukan?” tanya Mark, lalu Jaemin dan Haechan mengangguk.

 


 

“Renjun. Renjun”

Aku mencari Renjun dengan panik karena ketika terbangun dalam pelarian, Renjun tidak ada di sampingnya.

Namun untungnya kecemasanku tak harus bertahan lama karena di bawah pohon dapat kulihat sosok mungil dengan pakaian familiar.

Aku mendekati tubuh itu, “Renjun” panggilku dengan lembut sambil menyentuh pundak sempit miliknya.

Namun tubuh itu seketika menegang. Seolah tersadar, dengan cepat Renjun melempar sesuatu yang ada di tangannya. 

“Je.. Jeno. Aku… a-ku” ucap Renjun mengelap tangannya ke dedaunan di sampingnya, tanah di bawahnya, dan pakaian yang ia kenakan. Gerakannya tak terkendali. Renjun pun mengelap bibirnya kasar mencoba menghapus sebuah bercak yang berada di sana.

"Renjun. Sayang. Hai. Tenang.” ucapku selembut mungkin sambil menahan tangan kurusnya yang terus menggosok bibir mungilnya berulang kali.

“Jeno, kelincinya.” ucap Renjun sambil menunjuk ke arah sesuatu yang ia lempar tadi.

Bohong jika aku tak terkejut, namun dengan cepat aku memeluk tubuh mungil itu.

“Aku membunuhnya Jeno” Renjun masih berucap, “Aku menghisapnya hidup-hidup. Aku-aku–”

"Ust… tidak apa-apa. Kau lapar, aku tau.” Ucap Jeno mendekap lembut tubuh mungil itu yang kini tegah terisak.

"Jeno, aku takut.”

"Aku berada disampingmu. Kau baik-baik saja. Jangan takut.”

 


 

“Lee Jeno-sunbaenim?”

Matahari belum tepat berada di atas kepala tapi entah sudah berapa kali pemuda bernoktah itu disadarkan dari lamunannya.

“Ya? Ada apa?” Tanya Jeno bingung.

Pemuda yang memanggil Jeno itu diam sejenak. Pemuda itu tengah memerhatikan yang lebih tua, mengingat-ingat ciri-ciri yang dikatakan oleh ketua kelasnya, 

Ia memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kanannya. 

Dan ketika ia menemukan titik kecil itu, pemuda itu pun langsung menjawab. 

"Ah, ini. Aku ingin memberikan titipan” ucap pemuda tinggi itu.

“Titipan?” Tanya Jeno bingung. Titipan apa dan dari siapa.

Namun entah mengapa, ketika pemuda tinggi berkulit sedikit gelap ini menyodorkan sebuah benda, Jeno tak menanyakan apapun.

Tubuh Jeno terasa dihantam dari dalam ketika melihat benda itu.

Jeno tau benda ini. Jeno tau.

Untuk memastikannya Jeno mengambil benda itu dengan tangan bergetar dan memeriksanya dan benar saja bahwa itu adalah

“I… ini” Jeno tak sanggup berbicara, ia tipekal orang yang susah menangis dan mengeluarkan air mata. Tapi kini hanya karena sepasang in-ear dalam gengamannya, pemuda berkulit pucat itu menitikkan air mata.

In-ear miliknya yang ia beri kepada Renjun sebelum mereka berpisah, sebelum Renjun memilih untuk mengorbankan dirinya.

“Da–rimana kau mendapatkannya?” tanya Jeno berusaha menyamarkan getar dalam suaranya

"Orang yang aku cintai dititipi benda dari orang yang mencintaimu, ” jawab pemuda itu

“Maksudmu?” Jeno masih tak paham apa maksud yang lebih muda ini katakan. 

Apakah ini berarti Renjun-ku masih hidup? 

“Nanti akan kuceritakan, sebaiknya kau habiskan dulu makannya, Sunbaenim," ucap pemuda itu.

Tapi Jeno masih menatap pemuda itu penuh dengan selidik. “Daripada melihatku seperti itu. Seharusnya kau ucapkan terima kasih kepadaku, Jeno-sunbaenim” ucap Pemuda itu berusaha mencairkan suasana.

Ah, benar juga seharusnya Jeno mengucapkan terimakasih.

“Terima kasih, … “ ucap Jeno menggantung karena ia tak tahu siapa nama pemuda di depannya ini.

“Lee Su Hyeok. Tapi biar akrab panggil saja Su-Teka”

“Su-Teka?”

“Iya, Jeno-sunbaenim?” sahut Pemuda bernama Suhyeok itu.

Sesungguhnya Jeno tidak benar-benar menanggil dirinya, Jeno hanya mengulang kata suteka, karena ia bingung kenapa pemuda tinggi didepannya ini memiliki disapa dengan sebutan itu.

“Terimakasi, Suteka” ucap Jeno, “Dan tak usah memanggilku dengan embel-embel sunbaenim. Pakai saja hyung.”

"Baiklah Jeno-Hyung!”

 

 

END

Notes:

Untuk Renjun yang makan kelinci, itu aku modif karena di Series aslinya juga gak/belum ada scene zombie atau half-bie makan binatang. Mohon dimaklumi demi kebutuhan cerita.