Work Text:
Sambil bersenandung riang, yang termuda di keluarga Moriarty begitu sibuk mengurusi persiapan perayaan hari suci yang kerap dirayakannya dan kedua kakaknya setiap tahunnya. Surainya tak dibiarkan menghalangi, ia gunakan pita pengait pemberian kakak tertuanya yang buat ia kesal saat itu. Namun saat seperti ini, ia ingin menghargai niat baik kakaknya itu. Meskipun melihat pantulan dirinya di cermin begitu lucu dan terasa aneh.
“Louis, dimana kue yang sudah selesai?” ucap seseorang dengan tubuh yang menjulang tinggi, wajahnya begitu tegas dengan surai hitam pekat berjalan mendekat dan duduk di depan meja tempat Louis menyiapkan adonan kue kering yang tak pernah absen dia buat untuk perayaan natal. Kue kering itu dibuat dengan bentuk unik dan begitu menggemaskan. Namun yang paling special adalah yang berbentuk manusia dengan lapisan gula yang mempercantik dan memperjelas bentuknya dengan sepasang mata dan mulut merah yang tersenyum. Pertama kali Louis mengenal kue kering yang dinamai ‘Gingerbread Cookies’ ini berasal dari pemberian Albert, kakak tertuanya. Saat itu ia melihat Albert dengan keluarganya sedang duduk di meja makan, berbincang dan sedikit bercanda.
Mata Louis terpaku pada piringan keramik yang berisi kue kering dengan bentuk unik yang tak pernah ia lihat sebelumnya, bertanya-tanya bagaimana rasanya dan bagaimana teksturnya. Iris matanya menangkap manik zambrud yang tiba-tiba menatapnya hingga buat ia tercekat dan buru-buru pergi. “Louis!” panggil Albert begitu kencang yang mau tak mau harus Louis temui orangnya.
Louis tertunduk tak berani bertatapan dengan yang lebih tua dan lebih bermartabat. Tangannya ia kaitkan kebelakang takut. Albert dengan mudah menarik tangan Louis dan meletakkan sebuah tissue yang membalut sesuatu. Manik zambrudnya menghilang, tenggelam dan berubah menjadi bulan sabit yang menyenangkan hati. Jari telunjuknya ia letakkan diatas bibir kemerahannya sebagai tanda mengatakan pada Louis untuk diam. Louis mengangguk tanda mengerti. Albert melangkah pergi, namun di tengah perjalanannya ia berbalik dengan mulut tanpa suara yang berkata “Maaf cuma satu, nanti jangan tutup pintu”. Malamnya, Albert datang kembali memberikan kue lebih banyak untuknya dan William, kakak tengah Louis.
Semenjak hari itu, ‘Gingerbread’ menjadi kue paling berkesan untuknya. Ia langsung belajar bagaimana membuatnya dan rutin memberikannya pada Albert dan seisi rumah pada saat perayaan natal.
“Louis?? Louis…Ooh Louis..” sebuah tangan melambai-lambai tepat diwajahnya bersamaan dengan suara berat khas itu bangunkan Louis dari lamunannya mengingat masa lalu. “Kenapa tuan Moran?” jawab Louis begitu datar tak bersemangat. Pria yang dipanggil Moran itu kemudian menghela nafas berat dan mendekatkan wajahnya pada wajah Louis. Jaraknya hanya sepersekian senti yang buat Louis mulai berdiri canggung. “Aku tanya kue yang sudah jadi Louis” “….tuan Moran singkirkan wajahmu. Nafasmu mengganggu” “??? Maksudmu nafasku bau? Hm?” Moran mundur beberapa langkah dan mulai mencoba menghirup nafasnya sendiri. Louis bersyukur dalam hati. “Kuenya untuk kakak” ucap Louis menjawab pertanyaan Moran. “Kenapa kamu begitu pelit? Begitu banyak adonan, tidak mungkin dua kakakmu itu akan menghabiskannya.” Louis mengabaikan Moran dan melanjutkan pekerjaannya. “Hah.. sudahlah, nanti aku minta pada Albert saja saat dia menerima kuenya darimu haha” Moran tertawa puas meninggalkan Louis yang ingin melemparkan cetakan kue ke wajah Moran.
Isi mansion Moriarty hanya diisi oleh Louis dan Moran yang entah kemana. Kedua kakaknya masih sibuk dengan urusan mereka, padahal besok adalah hari perayaan yang selalu mereka rayakan bersama. Tapi Louis percaya kedua kakaknya akan kembali. Sedangkan Jack dan Fred sedang pergi tuk bepergian selama 30 hari. Bond dan Herder membantu Louis membersihkan Mansion dipagi hari dan membantu mencari perlengkapan dan pernak pernik tuk ramaikan ruangan, itupun mereka langsung katakan ingin pergi keesokan harinya. Louis sebenarnya berharap tahun ini seisi mansion dapat berkumpul di malam natal, namun tampaknya yang bisa ia harapkan hanyalah kedua kakaknya dan seorang Sebastian Moran.
Sendirian Louis merangkai pohon natal setelah makan malam sendirian karena Moran yang pergi entah kemana. Wajahnya berseri-seri saat tengah menghias berbagai pernak pernik mempercantik item utama yang kini bisa ia lihat dan sentuh sesuka hatinya. Sesekali Louis mengingat kenangan masa lampau saat ia dan kedua kakaknya masih baru menginjak usia remaja, mereka selalu bersama melakukan hal ini. Sekarang suasana benar-benar terasa sunyi tanpa kehadiran kedua kakaknya. Louis beberapa kali hentikan kegiatannya akibat surainya yang menjuntai begitu mengganggu. Selepas selesai membakar seluruh adonan kue, Louis melepaskan pita yang mengikat surainya. Ia menghela nafas malas untuk bergerak mencari pita itu.
“Ini” Sebuah tangan dijulurkan padanya dengan dua jepitan rambut berwarna hitam, bentuknya panjang dan tipis seperti lidi. Sarung tangan putih itu jelas Louis ketahui siapa pemiliknya, tak lain dan tak bukan adalah Moran yang kembali setelah lama menghilang. Pria itu kemudian berjongkok di sebelah Louis, memperhatikan pekerjaan Louis. Ia kemudian menatap Louis saat menyadari dua jepitan yang ia bawa sama sekali tak digubris oleh Louis. “Ini diambil dulu, daritadi pusing ngurusin itu poni kan? Lagian kenapa gak dipotong pendek aja?” “….. Itu pasti bekas wanita yang tuan tiduri tadi.” “Hah? Aku tidak tidur dengan wanita Louis, aku tidur sendirian” “Oh begitu? Aku tidak perduli” balas Louis dingin.
Moran kembali masukkan dua jepitan rambut ditangannya itu ke dalam saku celananya dan ikut duduk bersama Louis membantu Louis menyelesaikan pohon natal yang sudah setengah jadi. Keadaan hening saat ini. Moran berulang kali mencoba memecahkan suasana, namun jawaban super singkat dari Louis akhirnya sampai pada titik Moran tak tau harus mencari topik apa lagi. Moran bahkan sampai mengajak Louis untuk bergossip tentang hubungan tetangga mereka. ‘Memang menaklukan manusia yang cuma perduli sama kakaknya butuh usaha lebih’ batin Moran.
Butuh waktu lebih dari 2 jam untuk menyelesaikan satu pohon natal yang indah. Jarum jam hampir menyentuh angka 12, seluruh tubuh Louis terasa begitu menyakitkan karena terlalu banyak bekerja hari ini. Tinggal satu bintang di pucuk pohon yang belum terpasang. Louis berjinjit sambil menjulurkan tangannya keatas tuk menempatkan bintang yang ditangannya. “Pfft” Moran dibelakangnya sibuk menahan tawa yang semakin buat Louis bersemangat untuk berhasil menempatkan bintang itu diatas sana. “Kalau kamu kesulitan harusnya bicara, minta bantuan” tukas Moran yang kemudian langsung memegang pinggang Louis dan mengangkat tubuh Louis yang ringan begitu lembut.
Louis memekik karena terkejut, pipinya merah merona lantaran malu dengan posisinya saat ini. Louis langsung buru-buru meletakkan hiasan berbentuk bintang itu tepat di atas pohon yang sudah apik dengan warna warni dan hiasan yang begitu lucu nan indah. “Udah, Tuan Moran tolong turunkan Louis” pinta Louis sembari menepuk-nepuk kepala Moran. Moran mengangguk pelan dan menurunkan Louis.
Setelah kakinya menginjak lantai kembali, Louis tiba-tiba ingat bagaimana masa kecilnya yang dimanjakan oleh Moran, dan bagaimana Moran kerap kali menggendongnya diatas bahu untuk memasang hiasan bintang dipucuk pohon. Louis melirik Moran sekilas. Masih ada perbedaan tinggi yang begitu jauh meskipun ia sudah tumbuh dewasa. Wajah Moran mulai memiliki kerutan layaknya orang diusianya. Namun entah kenapa Louis merasa wajah Moran jauh lebih tampan daripada sebelumnya. Memikirkan itu membuat Louis tertawa kecil yang buat Moran mengernyitkan dahi bingung. Louis yang lelah kemudian mencoba untuk istirahat, ia duduk sembari bersandar di dinding menatap lampu yang berkelap-kelip menghiasi pohon tinggi dengan daunnya yang begitu hijau.
Pemilik manik scarlett itu mengerjapkan matanya beberapa kali tuk sesuaikan cahaya yang masuk kedalam iris matanya. Tubuhnya terasa hangat, dengan bantalan empuk yang menjadi tumpuan kepalanya. Tubuhnya dibalut dengan jaket hitam tebal khas yang hanya dimiliki satu orang dalam mansion ini. Jaket itu milik Moran. Louis perlahan menggeser tubuhnya, matanya melirik ke arah tumpuan tubuhnya sebelumnya. Disana Moran tengah duduk dengan tangannya yang disilangkan di atas dada sambil tertidur. Louis ingat bagian ia terkantuk-kantuk saat melihat hasil pohon cemara yang sudah diberi pernak pernik khas, namun ia tak ingat bagaimana bisa berakhir tidur di pundak Moran dengan berselimutkan jaketnya pula. Louis perlahan menempatkan jaket itu di tubuh moran dan mencoba bangkit tuk pergi membereskan sisa perlengkapan dan sampah yang berserakan. Namun tangan Moran tiba-tiba menarik perutnya hingga ia langsung terduduk diatas kaki Moran yang duduk bersila. Moran meringkuk dan mendekap Louis. Wajah Moran yang tak Louis lihat tampak sedang merapat ke punggungnya. Terasa hangat namun tak nyaman. “Jadi bantal sebentar, bahuku sakit jadi sandaran selama 2 jam” tutur Moran dengan suaranya yang serak khas orang yang baru bangun dari tidur. Louis akhirnya diam dengan posisi duduk yang begitu canggung dan memalukan. Tak sampai setengah jam, akhirnya Moran bangun dan melepaskan Louis dari pelukannya. Louis buru-buru bangkit dan melarikan diri. “Be-bereskan itu” ucap Louis terbata-bata dan langsung melenggang pergi, masuk ke dalam kamarnya.
Louis sibuk dengan berbagai kegiatan, mulai dari mempersiapkan makan malam, menyiapkan hadiah untuk kedua kakaknya, juga dengan pekerjaan lainnya. Moran bermalas-malasan duduk memperhatikan Louis yang terus bergerak tanpa henti. “Louis, sebaiknya kamu berhenti, tak ada untungnya sibuk begini” tukas Moran pada Louis yang kemudian medapatkan pelototan mata dari Louis. Moran menghela nafas berat dan melanjutkan kegiatan bermalas-malasannya. “Nanti malam salju pertama?” ucap Moran pada dirinya sendiri setelah melihat jendela dan merasakan hawa dingin menusuk hingga buat bulu-bulunya berdiri.
Louis duduk di kursi sendirian, menatap meja makan begitu murung dengan wajahnya yang bertumpu pada kedua tangannya yang menyilang diatas meja. Semua makanan sudah mulai dingin, lilin yang terpasang sudah memeleleh hingga apinya mulai sayup-sayup hendak menghilang bersamaan dengan es batu yang mencair menjadi air hingga alkohol yang sengaja didinginkan disana tenggelam masuk ke air. Tak ada kakaknya yang pulang, Moran yang menghilang sejak sore tak mungkin akan kembali. Louis merayakan malam natal sendirian dalam kesepian dan kegelapan saat api akhirnya padam. Sungguh, ia ingin menangis saat ini. Louis menutup matanya perlahan, berharap semua ini hanya mimpi.
“HEI! KENAPA RUANGAN INI BEGITU GELAP DAN MENYERAMKAN?!” Teriakan itu berhasilkan bangunkan Louis. “Tuan Moran?” “Iya ini aku.. sebentar, aku mencari saklar. Tetap diam di tempatmu”. Satu bunyi ketukan ringan pada saklar akhirnya buat ruangan menjadi cerah dan terang benderang. Louis masih mencoba menyesuaikan matanya dengan cahaya, sedangkan Moran sibuk menyalakan lampu tuk pohon natal yang telah mereka rangkai semalaman. Moran kemudian duduk di kursi tepat bersampingan dengan Louis. Keduanya bertatapan beberapa detik. Louis kemudian kembali menatap makanan di atas meja dan menghela nafas. “Tuan Moran kenapa ada disini? Bukannya bermain dengan wanita selalu jadi kegiatan kesukaanmu?” “?? .. Tadinya mau begitu, tapi aku perduli pada yang paling kecil, jadi aku pulang untuk menemaninya” balas Moran sedikit menyeringai menatap Louis. “…….” ‘Ya sebenarnya setiap tahun aku bersembunyi dengan wanita agar tak ingat dengan si kecil yang manis ini’ batin Moran.
“Kakak….” Louis membuka mulutnya, berbicara begitu ragu. “hm? Kenapa?” tanya Moran lembut agar Louis ungkapkan kegundahan hatinya. “Apa mereka melupakanku? Apa aku tak disayangi lagi? Apa aku tidak penting? Kemana mereka pergi bahkan aku tak tau” ujar Louis dengan suaranya yang mulai bergetar. Moran menghela nafas sembari meletakkan dagunya diatas tangannya. “Kamu belum periksa laci kamarmu ya?” “??” “Kakakmu sudah menitip pesan sekaligus hadiah untukmu, hanya saja, kekasihnya lebih penting sekarang. Kamu belum mengerti karena kamu belum pernah jatuh cinta. Saat kamu sudah merasakannya, kamu pasti juga ingin merayakan hari special bersama orang yang kamu cintai, merasakan kehangatan masing-masing” Ucap Moran sembari menepuk kepala Louis lembut. “Kalau aku jadi dirimu, aku lebih memilih untuk mengadakan pesta ‘Solo christmas’. Aku akan meniup lilin, menyanyikan lagu natal, berdoa, makan, dan bernyanyi sendirian. Bukankah itu menyenangkan?” Ujar Moran menyemangati Louis. “Maksud tuan Moran, tuan akan pergi dan aku harus merayakan malam natal sendirian?” “Bu—hah… bukan begitu Louis, maksudku tadi, sebelum aku datang. Kalau sekarang untuk apa? Lebih baik kita berdoa bersama” “…”
Louis menatap Moran datar dan beranjak dari kursinya. Tangan Moran dengan sigap langsung menarik tangan Louis dengan dahinya yang mengernyit bingung. “Mau kemana?” “Liat pesan kakak”. Moran semakin kesal pada kedua kakaknya Louis yang masih saja mengganggu meskipun tubuh mereka tak berada disini. “Itu nanti saja, lebih baik kamu temani aku makan” tukas Moran sembari mencoba menampakkan wajah penuh penderitaan agar Louis bermurah hati padanya kali ini. Louis melepaskan tangan Moran paksa. Dan melenggang pergi. “Louis?! Kamu tega meninggalkanku makan sendirian?” “Siapa yang bilang? Makanannya sudah dingin. Mau aku panaskan sebentar” “…. Oh”.
Louis menatap jendela kaca yang menampakkan pemandangan di luar yang begitu gelap namun begitu indah akibat beberapa lampu kerlap-kerlip yang ada di pohon natal depan rumah orang lain. “Oh salju pertama” Ujar Louis bersamaan dengan Moran. Louis berbalik menatap Moran yang berdiri di belakangnya sambil tersenyum sumringah. Louis langsung membalik tubuhnya kembali mengabaikan Moran. Moran kemudian membalut tubuh Louis dengan selimut yang ada di tangannya. “Memangnya kamu tak merasa dingin” tanya Moran pada Louis yang masih menatap kejauhan. Louis menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan Moran. “Kakak lagi apa ya?” “Hahaha. Serius, itu pertanyaanmu?!” Moran tertawa terbahak-bahak sembari memegangi perutnya hingga buat Louis mengernyitkan dahi bingung. “Louis.. kamu benar-benar polos atau bagaimana?” “apanya??” “Menurutmu apa yang akan dilakukan sepasang kekasih saat seperti ini?” “?? Makan bersama?” “Ya.. bisa juga sih..” “??” Louis bingung akibat raut wajah Moran yang begitu mencurigakan. “Apa…” “Apanya yang apa?” “Ada yang tuan sembunyikan dari Louis” “…. Event paling utamanya sebenarnya itu..” “apa?” “hm..” Moran mendekatkan bibirnya ke telinga Louis dan berbisik “sex”. Mata Louis bulat sempurna, terkejut. “Tapi mereka laki-laki?” “Memangnya kamu pikir tidak ada sex untuk laki-laki?” “eh?” “Mau coba?” “HAH?” Louis langsung panik akibat pertanyaan Moran. Wajahnya merah hingga ke telinga. “Bolehkah?” tukas Louis malu-malu. Kali ini Moran yang panik. Tak pernah terlintas dipikirannya Louis semudah ini. Namun sebelum Louis berubah pikiran, Moran langsung menarik pinggang Louis mendekat pada tubuhnya. Moran hendak mencium bibir Louis, namun Louis lebih dulu memasang pembatas dengan tangannya disana. “Kenapa?” “… Ciuman cuma boleh untuk kekasih” ‘Terus bersetubuh boleh? Bagaimana bisa? Tapi sudahlah’ batin Moran. Moran langsung mengangkat tubuh Louis diatas pundaknya. Sementara Louis hanya menutup wajahnya malu.
Louis duduk dengan canggung diatas kasur Moran. Moran tampak begitu bersemangat melepaskan seluruh pakaiannya hingga menyisakan celana dalam saja. “Kenapa? Gak berani?” tanya Moran pada Louis dan kemudian duduk berhadapan dengan Louis yang dibalas dengan gelengan kecil dari Louis. Louis masih kenakan kemejanya duduk disana berusaha menutupi bagian bawah tubuhnya. Meskipun seluruh kancingnya sudah dibuka, Louis berusaha keras menutup tubuhnya dengan sehelai kain putih itu. Wajahnya benar-benar merah bak kepiting rebus. ‘Lucu begini siapa yang gak jatuh cinta?’ batin Moran makin tak sabar tuk mendekap Louis.
“Jadi kenapa masih pake kemeja?” ujar Moran. “Tapi tuan Moran masih pakai sarung tangan” “Ah…. ini?” Moran kemudian melepas sarung tangan putih yang menutupi tangan kanannya. Mata Louis kemudian langsung berbinar-binar melihat tangan buatan Moran yang terbuat dari dari besi akibat dari peperangan di masa lalu. ‘Ya, dia waktu kecil juga selalu takjub sama ini, harusnya aku tidak kaget lagi’ batin Moran. “Mau sampai kapan melihat ini? Mau lihat lebih dekat?” tanya Moran. Louis mengangguk begitu bersemangat. Moran kemudian langsung bergerak mendekat dan menjulurkan tangannya. Louis tanpa sadar melepas tangannya yang memegangi kemejanya. Moran melihat kulit putih nan bersih Louis dengan bagian merah kecil mengintip dari dalam sana. Jantung Moran tak terkontrol lagi. Detaknya begitu kencang tak karuan, dan tanpa sadar darah keluar dari hidungnya. “Tuan Moran.. darah..” tukas Louis panik. “Abaikan saja” jawab Moran. Namun Louis sudah lebih dulu mengambil tissue dan memasukkan mereka ke dalam hidung Moran. “Sudah dengan tangan palsu ini. Aku ingin segera mencumbu si kecil Moriarty” Moran kemudian mendorong tubuh Louis jatuh ke kasur dengan tangan kanannya.
“Maaf” ujar Louis lirih. “Kenapa minta maaf?” “Ya.. tubuhku tak secantik wanita yang selalu tuan tiduri di rumah bordil” “Hehe, kamu yang paling cantik. Gak ada yang lebih cantik dari kamu” ujar Moran sembari mengecup dahi Louis singkat. Moran tahu betul mengapa Louis mengatakan itu, Louis selalu tidak percaya diri dengan dirinya akibat operasi jantung yang pernah ia terima saat kecil meninggalkan bekas jahitan yang cukup besar. Dengan kulitnya yang kasar akibat banyak bekerja, Moran sentuh luka pada dada Louis begitu lemah lembut bak menyentuh sesuatu yang sangat rentan dan rapuh. Namun sentuhan tipis itu entah mengapa sukses membuat Louis merasakan jantungnya yang terpompa begitu cepat. Moran kemudian mengecup luka itu dan menjilatinya, berikan sensasi menggelitik pada tubuh Louis. Louis menggigit bibirnya menahan diri agar tak keluarkan suara aneh sembari menutup matanya rapat-rapat.
Moran tersenyum menyeringai dan membuka lebar selangkangan Louis dengan kedua tangannya. Tubuhnya ia bungkukkan ringan, bibirnya langsung menuju puting kemerahan milik Louis yang sudah mengeras akibat jilatan Moran pada bekas luka Louis. Sambil lidahnya bermain dengan puting Louis, tangan kiri Moran menarik-narik dan memilin puting Louis hingga matanya terbelalak. Sesuatu yang dingin menyentuh bagian bawah tubuhnya yang panas. Louis melirik ke arah sana, dan betapa terkejutnya ia mendapati tangan kanan Moran sedang menyentuh ujung penisnya yang mulai ereksi. Tangan keras dan dingin itu mencoba memompa penisnya dengan lembut. Pelumas dituangkan Moran begitu banyak mengingat ini adalah pengalaman pertama Louis. Moran kemudian mencoba memasukkan jarinya ke dalam lubang bokong Louis yang berkerut. Dua jari sudah masuk ke dalam liang basah milik Louis. Dua jari yang dingin itu mengocok isi liang Louis, keluar masuk dan menyentuh dinding liang Louis yang hangat, meskipun Moran tak dapat rasakan kehangatan itu. Moran masukkan satu jarinya lagi, dan membengkokkan tiga jemarinya itu tuk memijat liang Louis, mendorong jarinya hingga ia menemukan prostat Louis yang buat tubuh Louis terhentak dan matanya membelalak sembari memekik dan mendesah. Moran langsung mengocok liang Louis dengan jemarinya, berulang kali meraih prostat Louis hingga akhirnya Louis orgasme.
Saat Moran sedang memijat penisnya lembut sambil menatap liang Louis, ia tiba-tiba mendengar suara tangis merintih. “Louis? Kenapa nangis heh?” Moran buru-buru mendekap Louis dalam pelukannya. “Takut ya?” Louis mengangguk perlahan yang dibalas suara tawa ringan khas Moran yang selalu mengejek Louis. Moran kemudian menepuk kepala Louis lembut hingga Louis tertidur. “Yah.. jadi ini gimana?” Moran menatap penisnya datar. Merenungi kelakuan bejatnya yang sering tidur dengan banyak wanita, namun hatinya masih pada Louis yang bahkan meninggalkannya dan tidur bak malaikat di lengannya. “Ya.. usaha keras, Moran harus sabar” Tukas Moran pada dirinya sendiri.
Louis menatap pohon cemara besar yang dihias dengan lampu warna-warni berkerlipan di depan rumah besar sebelah kamarnya. Pohon itu lebih besar dari sebelumnya tandakan pertumbuhan. Louis tersenyum hangat menatap jendela tetangganya yang menampakkan suasana meriah keluarga kecil yang sedang bercengkrama. “Mungkin tahun depan aku benar-benar harus membakar kediaman Holmes” tutur Louis menampilkan matanya berbentuk bulan sabit sambil menatap ke arah Moran yang ada di belakangnya. “Haha, butuh bantuanku?” balas Moran tersenyum menyeringai. Louis hanya menaikkan bahunya berlagak tak tau jawabannya.
Moran kemudian membalut tubuh Louis dengan sebuah kain panjang tuk hangatkan tubuh Louis dan memeluk pinggang Louis dari belakang. “Sekarang kamu tidak perlu merayakan natal sendirian, untuk apa membakar kediaman Holmes?” “…. Aku hanya kesal”. “Coba bicarakan baik-baik dengan William dan Albert, kamu itu adiknya, kalau kamu bilang mau rayain natal bersama keluarga, mereka pasti menuruti kamu”. Louis berdeham tampak berpikir dengan tangannya yang menggosok dagunya. Moran tiba-tiba mencium pipi Louis yang buyarkan pikiran Louis. Dahinya mengernyit bingung, sementara Moran tampak menampilkan wajah melas ingin diberi kasih oleh Louis sambil memajukan bibirnya. Louis melirik, dua tangannya kemudian ia tempatkan di pipi Moran dan berikan kecupan manis di bibir Moran.
“Itu jepitan rambut udah 3 tahun kenapa masih kamu pakai? Padahal aku memberi banyak hadiah tiap tahun” Ucap Moran yang kemudian menempatkan dagunya dibahu Louis, tangannya masih memeluk pinggang Louis hangat. “Soalnya yang paling berkesan? Haha. Tuan Sebastian bahkan memiliki kotak untuk membungkus hadiah natal itu beserta sebuah kartu ucapan di atas meja. Tuan sangat panik begitu Louis pakai jepitan rambut itu. Wajahmu saat bangun di pagi hari tampak lucu. Hadiah manis ini, masih akan jadi hadiah terbaik untukku”. Wajah Moran merah padam mengingat kejadian hari itu. Ia tak berani mengatakan jepitan rambut itu hadiah yang ia sengaja beli untuk Louis. Hingga saat ada kesempatan tak terduga, ia menjulurkan mereka begitu saja.
“Tertawa sepuasmu, tapi siapa yang bangun di pagi hari dengan mata yang bengkak akibat menangis karena takut berhubungan seks pertama kali?” “….” “Kenapa? Kenapa sekarang kamu diam sa-mmph” Louis membungkam mulut Moran dengan bibirnya sembari berjinjit. Louis kini bahkan sudah berani memulai ciuman panas dengan Moran. Louis menggigit bibir Moran mencoba untuk memasukkan lidahnya yang sudah menekan bibir Moran. Namun Moran dengan tampang mengejek tetap menutup mulutnya rapat-rapat. “Setidaknya sekarang aku tidak canggung lagi. Bahkan kalau tuan lelah, aku yang menuntunmu” tutur Louis kesal.
“Oh ya? Tapi kamu masih kalah kalau bicara pengalaman.” “Aku tidak perduli” “Oh??? Mau coba menuntunku hari ini?” “Tuan pikir aku tidak bisa??” “Aku menantikannya” “Tsk.”. Louis kemudian menarik leher Moran, menautkan ciuman kembali. Kini Moran dengan suka rela membuka mulutnya. Louis mencoba memimpin jalannya ciuman panas itu. Louis menyapu lembut lidah Moran dengan lidahnya, menggeliat di dalam sembari bibirnya menghisap lidah Moran lembut. Tangan Louis tak gemetar seperti dulu kala, ia dengan lihai membuka pakaian Moran dan mendorong pemilik surai hitam pekat yang lebih tua itu jatuh ke atas kasur.
Suara decakan basah terdengar memalukan di telinga, namun tak ada dari mereka yang berhenti dari kegiatan mereka. Louis sibuk mengulum penis Moran, sesekali Moran menghentakkan pinggulnya tuk masukkan penisnya masuk begitu dalam hingga ke tenggorokan Louis, menggoda Louis. Sementara Louis menjilati batang Moran yang sudah basah dengan liurnya dan precum, Moran dilain sisi tengah asik eksplorasi liang Louis. Lidahnya menggeliat dan mengocok isi liang Louis sembari tangannya beberapa kali memberi pijatan ringan pada penis Louis yang sudah keluarkan precum begitu banyak hingga basahi dada Moran. Tubuh Louis terhentak-hentak kala Moran dorong jauh lidahnya yang hangat bersamaan dengan Moran menggesekkan lembut jarinya diatas ujung penis Louis. Louis semakin tak mau kalah, penis Moran ia kulum dan seruput, ujung penisnya menyentuh langit-langit mulut Louis hingga lenguhan manis keluar dari mulut Louis dan Moran. “Louis… hss”. Louis makin semangat menyeruput saat menyadari penis Moran semakin membesar dalam mulutnya. Moran akhirnya menumpahkan maninya dalam mulut Louis, yang tak lama diikuti Louis yang juga ejakulasi.
“Mana? Katanya mau jadi dom hari ini?” tanya Moran mengejek saat Louis masih mencoba menyempurnakan nafasnya. Louis langsung menatap Moran geram dan menghadap Moran sembari memegang penis Moran yang masih tegang, mengarahkannya menghadap liang Louis yang sudah berkedut ingin segera dimasuki. Louis menggigit bibirnya dan perlahan menurunkan bokongnya, memasukkan penis Moran masuk ke dalam liangnya. Tubuh Louis naik turun, keluar masukkan penis Moran dalam liangnya sembari mendesah merasakan liangnya yang terisi penuh. Moran yang usil memegang paha Louis dan menghentakkan pinggulnya kuat, dan menghujam liang Louis dengan tempo tak beraturan. Tubuh Louis tersentak ke atas, matanya terbuka lebar dan menjerit rasakan titik terdalamnya disentuh. Louis rasakan kenikmatan yang luar biasa hingga ia terhuyung-huyung. Moran tarik tangan Louis, menautkan bibir mereka dengan pinggulnya yang tak berhenti keluar masukkan penisnya. Tangan Moran sibuk meremas bokong Louis yang buat Louis semakin menjepit penis Moran dengan liangnya. Louis menggigit bahu Moran menahan teriakannya. Louis goyangkan pinggulnya membantu Moran semakin berhasrat saat dengar detak jantung keduanya yang berpacu begitu kencang serta nafas berat Moran yang berada tepat ditelinga Louis dan putingnya yang bergesekan dengan puting Moran. “nnh ahn.. nnn.. Tuan Se-bastian..” Moran memompa penis Louis sembari menghentakkan pinggulnya keras sekali dan langsung keluarkan penisnya yang menyemburkan air mani, bersamaan dengan Louis yang juga tersentak orgasme.
Masih mengatur nafasnya, Louis tiba-tiba duduk kembali di atas pinggul Moran dan memasukkan penis Moran yang setengah ereksi ke dalam liangnya yang membuat Moran bingung. “Kamu mau lagi?” “Enggak, biarin aja dulu, enak, hangat” ujar Louis kembali tidur diatas dada bidang Moran dan menyesap dada Moran memberikan tanda kepemilikannya. “EH?? TUAN?? Kok—” Mata Louis memandang Moran tak percaya saat merasakan penis Moran semakin membesar dalam liangnya. “Salah kamu..” “Eh??”
END.
