Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-10-06
Words:
3,223
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
141
Bookmarks:
14
Hits:
8,217

400.000 Km

Summary:

400.000 Km dari bumi, Jeno dan Renjun bercinta di luar angkasa

Notes:

Lama sekali gak nulis apalagi menyoal seks. Tapi karena jadi pengangguran, punya banyak waktu untuk mempelajari hal baru, dan kinktober, semoga sebulan ini bisa produktif nulis yeay~

ISS: Internasional Space Station

NP: Frau - Sepasang Kekasih Yang Pertama Bercinta Di Luar Angkasa

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Berjalan dengan kecepatan 17,500 mph mengitari bumi tiap 90 menit selama nyaris 5 bulan terakhir, Jeno menemukan teman setimnya—Renjun, tengah berkomuniasi dengan alien yang mereka temukan setahun terakhir. Bukan hanya berkomunikasi tapi Renjun malah mengajari hal mesum pada salah satu alien tersebut.

Diantara kepanikan Jeno yang jelas-jelas tadi membaca ketiadaan progres di jurnal penelitian dua alien, Jeno memilih mengunci pintu dan monitoring kamera agar tak ketahuan sejawat lain, juga mematikan perekam suara ruangan. Berjaga-jaga bila Renjun benar-benar berulah kedepannya. Semoga saja tidak membahayakan dua temuan besar sepanjang sejarah penjelajahan luar angkasa manusia.

Dua alien tersebut ditemukan saat Ekspedisi Goldilocks dan sampai di ISS sini setahun lalu. Kedua alien itu bertubuh seperti manusia dengan dua kaki dan tangan namun tingginya mencapai dua meter dengan kuping lebih panjang dan runcing. Kulitnya berwarna kuning kehijauan dengan guratan coklat gelap di punggung dan tangan atasnya. Matanya hitam legam seolah menunjukan kornea mereka lebih tajam dari kamera modern versi manusia bumi. Keduanya berambut hitam sepanjang paha dikuncir satu.

Awal kedua alien menginjakan kaki di ISS hanya berselang tiga hari dengan mulainya tim Jeno-Renjun bertugas. Rata-rata astronot hanya bertugas sekitar 6 bulan di ISS namun jika Renjun dan Jeno mampu membuat kemajuan dengan penelitian alien tersebut mungkin mereka bisa lebih lama menikmati kelamnya luar angkasa.

“Yang bener aja, Renjun!” Jeno segera meraih teralis di atas kepalanya untuk mendorong tubuhnya mendekati pria yang disebut. Minimnya gravitasi membuat kedua tungkainya harus saling berkerjasama sekalipun hanya untuk berpindah tempat.

Renjun berdiri—mengambang di depan kaca besar pemisah ruang isolasi alien dengan dirinya. Temannya ini sama-sama mengenakan kaos hitam polos dengan celana kargo biru donker, bedanya resleting celananya sudah terbuka sempurna sambil mengeluarkan penghuninya sembari dielus perlahan. Kesamaan lain, keduanya sama-sama tidak fokus dengan potongan daging yang mencuat di selangkangan, terbukti dari wajah santai Renjun saat menolah tajam ataupun Jeno yang bolak-balik mengamati temannya dan alien di sisi lain saling bergantian.

Kenapa Jeno yakin Renjun mampu berkomunikasi dan tengah mengajari alien? Karena apa yang Renjun lakukan ditiru oleh si alien.

Alien tersebut juga berdiri berhadapan dengan Renjun. Sepanjang 5 bulan mengamati dan membaca jurnal astronot yang menemukan kedua alien tersebut, baru kali ini Jeno menemukan fakta bahwa alien juga memiliki penis; ukurannya mungkin setara dengan rata-rata manusia bumi namun mengingat tubuhnya yang bongsor, potongan daging itu terlihat sangat kecil, mungkin juga alasan mudah disembunyikan dibalik baju bersisiknya yang kini disingkap ke samping. Alien tersebut juga ikut mengurut dengan tangannya yang besar. Namun hanya satu alien yang mengikuti karena lainnya masih tertidur tenang di ujung ruangan.

“Ngapain, Jen?”

Jeno melengos. Bukannya harusnya dia yang bertanya begitu?

“Maaf lupa kunci pintu. Kamu malah liat deh,” lanjut Renjun santai. Fokusnya kembali kepada alien di depannya, sesekali tangannya yang meraup lebih dalam untuk menunjukan dua tonjolan disana pada si penonton. Alien tersebut mengikuti dan tidak menemukan dua bola yang sama di bawah penisnya. Tiba-tiba air wajahnya berubah sedih, “Diem-diem aja ya,” lanjutnya lagi.

Entah harusnya tertawa atau marah karena ruang kerjanya dinodai, Jeno menghempas tubuhnya ke belakang, mengambang dengan posisi terlentang. Menerka-nerka sebenarnya apa yang temannya ini pikirkan dari kapasitas otak di atas rata-rata manusia bumi lainnya. Jeno meraih pinggiran meja dan seolah duduk di sana, mengamati apa yang Renjun lakukan.

“Kita 400.000 kilometer dari toilet umum stadion Manhattan dan kamu masih bisa bilang ‘diem-diem aja’? Kamu teknisi disini dan paham seberapa banyak kamera di stasiun ini, Jun!”

“Itu dia,” jawabnya santai, “Aku tau dimana celahnya.”

“1-0. Aku ke sini karena kamera ruang observasi mati. Keliatan dari ruang kontrol utama.”

“Cuma 1 kamera. Yang di ujung sana nyala kok. Gak akan ada yang curiga” Renjun menunjuk kamera di sisi kanan belakang tubuhnya. Benar, kamera yang mati hanya yang di pojok kiri atas sisi Renjun berdiri, “Kecuali kamu.”

“Kamu ingat kan semua yang kita lakukan di awasi oleh pusat? Termasuk suara kita?”

Renjun menoleh malas, dia berdecak sekali, “Secara praktis kamu setuju denganku berlaku sejak kamu masuk ruangan ini sih.”

Benar juga. Kalau menyangkut Renjun kadang Jeno impulsive, “Oke, jelasin rencanamu?”

“Gak ada, cuma observasi.”

“Gimana?” Intonasinya meninggi tak sabaran.

“Obervasi aja. Kata Dokter Johnny, Che dan Jay masih anak-anak. Tapi beberapa hari ini aku perhatikan Che sering terlihat gelisah—”Che dan Jay, nama kedua alien tersebut. Nama yang diberikan Tim Golrdilocks karena malas menggunkan angka.

“Ya aku baca itu, sudah gelisah semenjak 2 minggu terkahir.”

“Bisa jangan dipotong ga?” Renjun agak kesal. Dia sampai melepaskan gengaman tangannya dan berkacak pinggang. Lucunya alien di depannya—Che—mengikuti gestur tersebut. Selepas matanya kembali bertemu manik Che, Renjun kembali melanjutkan. Kali ini tangannya meraba perut dan dadanya dari luar kaos. Jeno dapati gerakan ini terlalu sensual, jadi dia tunjukan gestur ‘silahkan’ sebagai pengalih. Sejauh ini tidak ada perubahan signifikan dari guratan coklat di punggung di alien.

Renjun melanjutkan, “Mereka sering makan bersama, saling menyuapi, kadang bergandengan tangan, kadang tidur berpelukan. Saat melakukan itu semua guratan coklat di tubuh mereka berpendar lebih mengkilat. Bisa jadi itu efek dari hormon mereka. Mungkin ekspresi secara umum bisa jadi bahagia. Tapi misal itu bahagia,  apa sih akibat dari bahagia apalagi terkurung berdua saja dengan satu-satunya spesies yang sama dalam jangka waktu lama?”

Jeda diantara keduanya agak panjang. Jeno mendengarkan namun matanya tak lepas dari grilya jemari Renjun pada tubuhnya sendiri lewat biasan kaca di depannya. Jeno mengerjab berapa kali saat Renjun menoleh, “Ini aku boleh jawab?”

“Aku nanya ya dijawab lah.”

“Oh,” Jeno kembali fokus pada biasan siluet tubuh Renjun. Dia menggeleng perlahan, matanya membulat, “mereka masih kecil, masa iya?”

“Bisa saja,” kini tangan menyelip di balik baju, bermain pada area dada hingga kaosnya tersingkap dan mengekspos perut, “Eksak gak selamanya benar, ada kalanya jadi gak jelas karena sesuatu yang gak nyata, perasaan misalnya.”

“Woah Renjun! Kamu lagi ngajarin hal cabul ke anak kecil!”

Renjun menyudahi sesinya dengan melambaikan kedua tangannya keluar membentuk lingkaran sebanyak 2 kali. Che mengerti dan ikut merapikan pakaiannya. Renjun berbalik dan langsung menorong kakinya mendekati Jeno. Cukup cepat dan dekat sebelum tanggannya menampar pipi mulus Jeno.

“Mulutmu!”

Mengaduh tapi tidak diindahkan, Jeno hanya bisa mengelus pipinya. Oknum yang melakukan ikut duduk di sampingnya tanpa rasa bersalah.

“Malah menurutku Dokter Johnny salah. Kayaknya mereka sudah memasuki tahap dewasa. Remaja akhir? Aku buat catatan detailnya. Belum berani bilang siapa-siapa karena buktinya masih lemah,” katanya sambil memindahkan tablet ke tangan Jeno yang kemudian dibaca sekilas.

Catatan Renjun menarik, idenya bagus untuk lebih mengenal anatomi alien-alien ini. Namun ada hal lain yang lebih membuatnya penasaran. Jeno mengembalikan buku ke lemari di dinding sebelum kembali menghadap Renjun, “Kamu gimana?”

Renjun yang merasa catatannya dinomor duakan malah mengerutkan dahi, “Gimana apanya?”

“Itu,” mata Jeno turun ke selangkangan Renjun, diikuti pula oleh empunya.

Dia segera menyilangkan kaki dan menutupinya dengan kaos. Wajahnya juga dibuang menjauh.

“Sini kubantu. Selain memenuhi kebutuhan, kapan lagi orgasme sambil liatin bumi malam hari.”

Oh benar, dari jendela kecil di sisi kanan terlihat bumi yang memasuki daerah malam berbercak cahaya kuning meliliti seperti hifa. Entah pemandangan yang menghipnosis atau mendadak mereka terkena dilastasi waktu, semuanya terasa cepat. Tiba-tiba saja kepala Jeno tinggal sejengkal dari paha dalamnya. Tiba-tiba saja bajunya sudah tersingkap dan celananya kembali melorot mengulang kejadian beberapa saat lalu. Tiba-tiba saja kedua punggung tangannya yang mempertahankan posisi di pinggir meja kini digenggam pula oleh jemari Jeno. Dan Jeno melesakkannya masuk ke rongga mulut, bertabrakan dengan soft palate mulut lalu dililiti lidah. Lidah Jeno kasar tapi enak. Renjun jadi tidak bisa banyak berpikir. Spontan tangannya berpindah mengelus surai Jeno dan lainnya membekap mulutnya sendiri. Biasa setelah fase observasinya dia akan bermain solo, tapi kali ini Renjun harus banyak bersyukur punya kesempatan lain.

“Jen, udah Jen—hh.”

Jeno acuhkan. Tangan kirinya sesekali ikut meremas pangkal batang dan tangan lainnya mencengkram paha Renjun, turun mengelus ke bawah sebelum naik ke bokong sintal dan meremasnya lembut. Mikrogravitasi membuat tubuh keduanya lebih ringan. Aksi kecil bisa menggeser tubuh keduanya dan mengambang di udara. Seperti saat Renjun meliuk nikmat dan pinggangnya mengejar titik terdalam Jeno, tubuh keduanya jadi ikut terbang ke tengah ruangan. Benar saja jika seks di luar angka dilarang.

161 hari di luar angkasa. Sekitar 5 bulan dari terkakhir kali tubuh Renjun dimanja seseorang, tentunya saat masih di bumi. Seminggu sebelum lepas landas, kamar hotel temaram, pria berdarah china yang sudah jadi teman tidurnya sejak 2 tahun terakhir: Dokter spesialis kulit yang suka kelembutan dan mulut manisnya penuh puja-puji akan keindahan Renjun. Tentunya akan sangat berbeda dengan Jeno teman ‘sepelayaran’ yang IQ-nya lebih tinggi dari ego Renjun. Karena katanya semakin tinggi IQ seseorang maka akan semakin membosankan di ranjang.

Namun tiba-tiba Jeno melesak dalam hingga hidungnya dapat mencium wangi musk khas rambut halus di pangkal, lalu menggerang. Lantunan lembut yang entah bagaimana memunculkan sisi egois Renjun untuk mengejar lebih banyak kenikmatan. Dari jambakan kasar pada surai bawahnya dan mulai menyetir maju mundur bersamaan dengan pinggangnya yang bergerak berlawanan.

Saat Renjun mendorong kepala Jeno dalam-dalam untuk berapa sekon, Jeno menarik paksa kepalanya menjauh dan sedikit terbatuk berseling menghirup banyak-banyak oksigen. Matanya berair, lidahnya menjulur dengan saliva terkumpul di dalam mulutnya. Renjun jadi merasa bersalah tapi hatinya menghangat kala Jeno tersenyum.

“Maaf, sedikit lagi, tapi aku ga kuat.”

Bernapas.

Renjun paham tapi malah mengkikis jarak bibir keduanya tanpa peduli apakah oksigen sudah tersirkulasi baik ke paru-paru Jeno. Tubuhnya mendorong pelan dada bidang Jeno hingga kepala dan punggungnya terantuk kaca besar pemisah ruang isolasi dan obervasi. Saling beradu menjelajah, mencari nikmat dari friksi antar papila lidah, diakhiri dengan hisapan di bibir bawah Renjun, lalu menjauh untuk mengamati wajah satu sama lain. Keduanya saling menggesekkan tubuh dari tubuh yang masih berbalut pakaian. Bahkan selangkangan Jeno sudah mengapit paha kanan Renjun. Dirasa mengganggu, Renjun menarik lepas kaos Jeno tanpa perlawanan. Baju itu mengambang di udara tak dipedulikan lagi. Bilah keduanya kembali beradu. Matanya pun terpejam. Dalam benak Renjun, memasuki liang lembab Jeno seperti Voyager 1 yang dikutuk mengarungi semesta, rasanya penuh misteri. Mungkin Jeno bukan tipe verbal saat bercinta tapi sentuhan dan lenguhan rendahnya lembut menyapa indra Renjun. Sempat tadi dia berasumsi tubuh sensitifnya buah dari sekian bulan tanpa sentuhan. Jika ingin simpulan yang lebih valid, mungkin Renjun akan mengajak Jeno ke rumahnya di Arizona selepas keduanya kembali ke bumi.

Padahal, andai saja Renjun tau kalau suaranya jauh lebih ribut dan serak saat mendesah. Semakin keras, semakin Jeno girang untuk menjamah kulit pria yang lebih kecil. Dia suka jika dominasinya terbalaskan desahkan keras, apalagi saat Renjun memanggil namanya berkali-kali, kekaguman Jeno akan kemegahan suara planet Jupiter langsung tersaingi. Jika boleh jujur, Jeno sudah penasaran bagaimana rasa perpotongan leher Renjun sejak hari pertama pelatihan.

Keduanya menjauhkan wajah untuk kembali mengasup oksigen. Manik keduanya bertemu di jarak sejengkal. Renjun ingat pertama kali bertemu Jeno adalah saat pelatihan. Pria ini memiliki wajah menarik; manis dan tampan bersamaan. Tapi Renjun tidak pernah melihat Jeno setampan kali ini. Jika ditanya bagaimana Renjun menilai orang, rupa adalah urutan kesekian karena dia lebih suka pria yang mampu menyaingi obrolannya, yang mampu berdiskusi dan mengikuti pola pikirnya. Dan di titik ini, Renjun mendadak menyadari pria di pelukannya adalah epitome sempurna versinya.

“Ternyata gini rasanya jadi begundal,” Jeno tertawa. Tubuhnya nyaman dihimpit tubuh Renjun tanpa rasa berat. Terima kasih mikrogravitasi.

“Maksudnya?”

“Kita sudah mempertontonkan hal cabul di depan anak-anak,” komikal, matanya hilang menjadi lengkung pelangi.

“Sudah kubilang mereka bukan anak-anak!”

Suara gedebuk menyedot atensi. Keduanya menoleh dan mendapati kedua alien di sisi lain juga saling menautkan bibir. Entah kapan Jay bangun, entah siapa yang memulai, tapi keduanya ikut terenggah-enggah  seperti kedua astronot itu beberapa saat lalu. Jay dan Che juga mengimitasi posisi mereka sekarang. Tapi yang menarik, guratan coklat keduanya mulai menyala, mengkilat seperti kaca yang terpantul cahaya. Sejauh observasi, kilatan ini paling cerah dari sebelumnya.

Jeno dan Renjun mengerjap beberapa kali saat bertatapan. Kedua pikirannya terkoneksi dalam diam. Buru-buru keduanya saling menjauhkan tubuh dan kembali ke sisi lain ruangan untuk mengambil tablet di masing-masing dari lemari; Renjun dengan catatannya dan Jeno dengan jurnal progres. Tidak peduli dengan bajunya parsial melekati tubuh. Saking bahagianya, di tengah menulis catatan, Renjun mengecup bibir Jeno singkat sebelum kembali berkutat dengan catatannya lagi. Meninggalkan Jeno yang sempat lupa segala bahasa selama beberapa detik.

Tapi Che dan Jay jadi ikut berhenti beraktivitas. Keduanya kini terlihat seperti tengah berbicara intim. Mereka saling menggesekkan ujung telinganya dan berbisik. Che mengelus lembut rambut panjang Jay dan melepaskan ikatan rambutnya perlahan,

“Jen, menurutmu mereka punya gender ga?”

“Gak tau, tapi kayaknya mereka berdua satu jenis.”

“Menurutku konsep gender bakal berulang kayak angka-angka di semesta ini. Fisika dan segala isinya akan selalu berulang.”

“Ada hewan yang namanya platypus. Ada mahkluk seunik hydra. Bahkan di tubuh kita ada meiosis sel.”

“Tapi Che dan Jay ini mahkluk tingkat tinggi juga sama kayak kita.”

“Tim Goldilocks nemuin mereka berdua sendirian. Kita gak tau persis tingkatan mereka tanpa tau komunitasnya.”

“Bener sih. Apalagi kita belum bisa komunikasi ke mereka.”

”Tapi tadi Che ngerti isyarat isyaratmu. Harusnya kamu laporkan itu—” belum selesai bicara mulutnya dihalau telapak tangan Renjun asal.

“Diem Jeno,” Mata pria yang lebih kecil tak lepas dari dalam ruang isolasi, “lihat rambut Jay. Sesuatu di dalam rambutnya.”

Kedua astronot itu mendekat ke kaca pemisah, memperhatikan lebih dekat benda aneh yang baru kali ini mereka lihat.

Jay terlihat ragu dan berapa kali berkata dengan nada yang lebih keras tapi Che berkali-kali menenangkan. Baru kali ini mereka mendapati warna kulit Jay lebih kuning dari biasanya. Guratan coklat yang mengkilat-kilat jadi semakin kentara apalagi saat Che memeluknya dari belakang. Yang paling mencolok sebenarnya bukan rambut Jay namun sesuatu yang muncul dari balik rambutnya, sepertinya potongan tubuh yang lebih padat panjang dan besar. Sesuatu itu berserabut pink dibagian ujungnya dan bergerak-gerak seperti tentakel ubur-ubur. Seperti ekor tapi muncul di sembunyikan di antara rambut. Saat Che menyingkirkan rambut agar bagian itu lebih terlihat, Jay memejamkan mata dan mengeram rendah. Tangan Jay bertumpu pada kaca pemisah kala Che mengelus ujung serabutnya. Che sempat terhenti dan memandangi Renjun, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri berapa kali. Seolah paham, Renjun segera menyelipkan tubuhnya ke antara kaca dan tubuh teman setimnya. Tangan Jeno juga ditarik melingkari pinggangnya seperti apa yang Che dan Jay lakukan.

“Jeno mau cium,” katanya tiba-tiba. Tapi yang diminta malah melempar tatapan bingung sampai Renjun harus mengulanginya lagi, “Cium, Jeno. Setubuhi aku sekarang.”

Tetap Renjun lah yang meraup bibir itu duluan karena tidak ada pergerakan dari lawan bicaranya. Celananya yang sejak tadi sudah melorot kini makin turun hingga lutut. panggulnya provokatif bergerak menggesek kepemilikan pria di belakangnya. Jeno pun mau tak mau berpegangan teralis di atas kaca dan kakinya menahan di teralis bawah. Titik dimana Jeno kembali medesah adalah awal bagi Renjun lupa bahwa di hadapananya ada dua alien yang juga sedang mengejar kenikmatan, lupa mereka berada 400.000 km dari bumi dan tengah di ruang kerja, lupa punya teman tidur berdarah china yang meminta keseriusan hubungan sekembalinya bertugas. Sekarang, semua yang ada di dalam Renjun hanya Jeno.

Hanya Jeno.

Apalagi saat tangan Jeno menjelajai tubuhnya dan mengelus pintu belakangnya. Jika badai titik merah di Jupiter semakin mengecil tiap tahun, badai dalam diri Renjun malah semakin kencang kala jari itu mengetuk masuk. Rasanya sakit setelah sekian lama tak disambangi. Tapi rasa sakit itu teralihkan oleh lehernya yang dijamah lagi.

“Dari skala 1 hingga 10, kamu 12,” Jeno berbisik sebelum mengulum leher Renjun sebelum naik ke bibir, memunculkan desahan panjang karena bersamaan jari panjangnya mulai bergerak.

“Mhh—Jeno!”

Dari semua aspek, Jeno juga sempurna. Nyatanya Renjun baru saja mematahkan argument IQ tinggi tidak menarik di ranjang, nyatanya hanya lewat sentuhan Jeno sudah membuat Renjun gila. Ciumannya gila. Hisapannya gila. Walau sedikit banyak menyalahkan 5 bulan tanpa senggama sebagai faktor utama.

Desahan Renjun beradu dengan desahan Jay. Hembusan uap air yang menempel di sisi kaca muncul dan hilang bergantian. Renjun bisa melihat Che yang bahagia dari senyum lebarnya sekalipun terlihat mengerikan dengan ukuran gigi 3 kali lebih besar dari manusia bumi. Renjun menempelkan tangannya pada kaca dimana tangan Che bertumpu di kaca. Sepertinya mereka sedang tos. Jeno malah mendapati itu menggemaskan.

Jeno bersiap; mengeluarkan kepemilikannya dan mulai menggesekan pada liang senggama. Renjun menahan tangan Jeno cepat, “T-tunggu.”

Tapi Jeno melepas cengkramnnya, mengelus pipi Renjun lembut dan mengecup sekilas, “Aku tau. Kita ga bisa nyusupin kondom ke sini, kan?”

Jadi Jeno mengecup bibirnya lagi selagi menyilangkan kaki Renjun. Perlahan dia menyelipkan miliknya di antara pangkal paha Renjun dan mulai bergerak, menyenggol vital Renjun, memunculkan sensasi aneh yang menyenangkan. Baru kali ini mencoba posisi ini dan rasanya aneh namun malah terasa candu. Awalnya lambat namun makin lama permainan Jeno semakin liar sampai-sampai tubuh Renjun terhentak ke depan dan dadanya makin menghimpit kaca.

Renjun jadi membayangkan bagaimana nikmatnya sodokan Jeno di dalam tubuhnya jika di luar saja sudah sebegini nikmatnya. Tanpa sadar Renjun jadi membandingkan, ukuran Jeno lebih tebal dari dokter spesialis kulit teman tidurnya. Penis keduanya yang saling berdesakan kala Jeno menghentak maju. Sial, hanya melihatnya saja membuat Renjun semakin naik. Suka melihat ukuran keduanya yang kontras termasuk warna milik lawan mainnya yang lebih gelap. Terlihat maskulin bagi Renjun.

Apalagi saat satu tangan Jeno memelintir dan menarik titik nikmat di dadanya. Yang Renjun bisa lakukan hanya mengocok miliknya sendiri selagi memanggil nama teman setimnya menjadi racauan erotis.

Jeno sampai pada putih disusul Renjun di sekon berikutnya. Sari pati keduanya menyatu dan mengambang di udara. Renjun jadi tertawa melihat cairan itu malah seperti gumpalan slime jika di luar angkasa. Ingin bergerak mengambil tisu di lemari seberang namun tubuhnya tertahan Jeno yang masih memeluk perutnya erat. Napas laki-laki itu juga masih belum teratur. Renjun bisa merasakan hembusan napasnya di leher karena kepalanya menyender di bahu. Kepala Jeno diusak lembut, tidak tahan untuk tak menghadiahi kecupan asal di hidung dan pipi.

Setelah bertahan dalam sebuah momen, Renjun melepaskan diri untuk membersihkan kekacuan. Ternyata dia tak menemukan tisu namun ada plastik yang bisa dipakai. Toh tujuannya sama-sama dibuang. Berdoa saja tidak ketahuan orang lain.

Renjun sudah merapikan pakaiannya dan kembali ke dekat kaca, mengamati Che dan Jay yang belum selesai. Jeno yang baru selesai berpakaian langsung ikut bergabung di belakang Renjun, memeluk tubuh teman setimnya lagi.

“Ngapain?” Renjun melempar tatapan aneh.

“Nyaman aja,” sambil menggeleng.

Dinding mulut dalam digigit. Renjun mengulum senyuman.

Kembali pada tablet berisi catatan. Tiba-tiba tangan Jeno masuk area pandangan, mencoret beberapa kalimat dan melingkari bagian gambar.

“Rambut yang kayak belalai ini kayaknya genitalia mereka. Tadi waktu aku mulai pakai kaki kamu—”

“Pakai banget tuh bahasanya?”

“Ya.. ngelakuin itu, Che ngelepas ikatan rambutnya dan ngehubungin sama punya Jay. Serabutnya saling menyatu dan kilatan di punggung mereka makin kentara. Mataku sampai sakit waktu lihat.”

“Apa iya? Aku gak sadar.”

“Enak banget ya sampai ga sadar?”

Renjun tidak menjawab, tapi dari curi pandang Jeno, Renjun lagi-lagi menggigit dinding mulutnya.

“Mereka ekspresif juga ya, sama kayak kita tadi—”

Belum selesai kalimatnya, teriakan Jay mendistraksi. Kaitan rambut keduanya terlepas dan Che kembali mencium bibir Jay. keduanya saling menjauh dan mengatur napas masing-masing. Beberapa saat setelahnya, kilatan dari guratan coklat di punggung keduanya berangsur menghilang. Keduanya tampak lelah tapi memutuskan beristirahat di sisi ruangan yang berlawanan.

Sepertinya sesi hari ini benar-benar harus dicukupkan. Sudah selesai. Namun pelukan Jeno pada pinggang Renjun belum. Bahkan saat Renjun melayang ke panel pengaturan untuk pemulihan perangkat lunak.

“Jeno aku mau nyalain kamera.”

“Boleh cium dulu ga?”

Renjun mengangguk. Dia membalikan badan. Entah kenapa rasanya pipinya panas padahal tadi sudah melakukan kegiatan yang lebih panas. Bibir itu kembali bertemu. Kali ini lebih lembut dan intim dari ciuman penuh nafsu sebelumnya.

Harusnya Renjun segera memulihkan piranti dan menyusun laporan, atau harusnya dia menyiapkan alasan masuk akal jikalau ditanya atasan kenapa kamera mati lebih lama dari perjanjian. Tapi ternyata menulis “276 Elwood Avanue, Arizona” dan menyelipkan ke saku Jeno jauh lebih utama.

Notes:

Visit me @ollaoreo in Twitter