Work Text:
“Kita jemput Chacha ke FE dulu, ya, Jun. Pak Kadir hari ini nggak masuk, jadi gue harus drop dia dulu ke kantor bokapnya.”
Renjun yang sebelumnya sibuk memilih lagu langsung menghentikan kegiatannya dan melirik Haechan yang juga sedang memandangnya balik dengan penuh ekspektasi. Malam ini sebenarnya Renjun dan Haechan mau minum-minum dengan teman-teman SMAnya di sebuah klub di bilangan Senopati. Nah, maka dari itu mereka tadinya berencana untuk siap-siap sekaligus pregame dulu di apartemen Haechan. Sebenarnya ini lebih ditujukan buat Renjun sih, soalnya yang bakalan ribet dandan dan butuh pregame hanya Renjun. Haechan nggak lelet ketika siap-siap seperti dirinya dan dia juga nggak minum hari ini karena harus nyupirin Renjun. Maka dari itu Haechan minta izin ke Renjun. Mana sekarang sudah pukul setengah enam, dan kantor Papanya Chacha berada di kawasan Tb. Simatupang. Bisa-bisa mereka baru sampai ke apartemen Haechan pukul 8 malam, padahal Renjun butuh waktu seenggaknya tiga jam untuk siap-siap. Tapi Renjun juga nggak sampai hati kalau harus membiarkan Chacha naik kendaraan umum jam segini, pasti super macet dan sumpek. Chacha yang merupakan pacar Haechan selama 2 tahun terakhir sudah Renjun anggap sebagai teman dekatnya juga, saking seringnya ia diajak ikut (baca: jadi nyamuk) ketika mereka berdua berkencan.
“Nggak apa-apa, lah! Kasian anjir pacar lo kalau disuruh naik ojol jam segini. Nanti kalau nggak keburu gue lanjut dandan di mobil aja. Jeno reservenya masih jam 11 juga, kan? Bokapnya nggak apa-apa nungguin dia gini? Kenapa nggak dianterin sekalian sampe rumahnya aja?”
Mobil Haechan sekarang sudah berjalan keluar dari parkiran FISIP dan menuju ke FE untuk menjemput Chacha, “Nggak apa-apa, gue udah beberapa kali drop dia ke kantor bokapnya habis kelas sore. Gue juga udah bilang ke bonyoknya kalau gue ada kegiatan kampus jadi cuma bisa nurunin di kantor bokapnya. Itu aja mereka udah seneng banget karena anaknya gue anterin, jadi tenang aja.” Renjun tersenyum masam, dasar gemini, “Bener-bener ya lo mentang-mentang udah dianggep mantu jadi bisa seenaknya ngibul.” Balasnya sengit, yang membuat pria di sebelahnya tertawa renyah. Ada sedikit rasa getir di lidahnya ketika dia harus mengeluarkan kata-kata mantu. Berbeda dengan gebetan atau htsan Haechan yang lalu-lalu, cuma Chacha yang bisa bikin Haechan si Buaya FISIP bertahan di sebuah hubungan selama dua tahun. Biasanya baru tiga bulan Haechan sudah chat atau jalan sama orang baru. Meskipun sekarang hubungan keduanya sudah berjalan selama dua tahun tapi mereka masih sangat lengket, bahkan keluarga masing-masing sudah luar biasa dekat.
Renjun yang keasyikan melamun tidak menyadari bahwa sekarang mereka sudah mendekati halte FE, “Neng, kiw, maghrib-maghrib sendirian aja? Ayo masuk mobil abang, ntar digondol genderuwo, lho!” Goda Haechan sambil mengedip-ngedipkan matanya genit. Kaca jendela sebelah Renjun sudah dibuka agar Chacha dapat mendengar dan melihatnya. Chacha yang tadinya sibuk memainkan HP terlonjak kaget, lalu mendengus ketika melihat ekspresi genit sang pacar. Ia pun beranjak dari duduknya dan membuka pintu belakang mobil pacarnya tersebut. Renjun yang menyadari itu langsung buru-buru membuka seatbelt, “Eh, eh, Cha, tukeran dulu. Masa lo di belakang, sih?” Perempuan manis berambut pendek sebahu itu membalas dengan cengiran, “Ya ampun santai aja kali, Jun. Gue kan nanti juga turun di kantor Papa. Lo duduk di depan aja nemenin si Bau.”
Kemudian Chacha terlihat sibuk merogoh totebagnya, “Nih, gue beliin roti bakar buat lo berdua sama pisang bakar keju susu spesial buat Renjun. Abisin ya, Jun. Jangan sampe jackpot lagi kayak bulan lalu. Lo tuh udah tau badan kecil minumnya banyak tapi nggak pernah makan dulu sebelum mabok. Kalau lo sakit nanti yang nemenin gue belanja siapa? Haechan nggak seru diajak ke Sephora.” Cerocos Chacha, sambil melambai-lambaikan plastik kresek putih berisi pisang dan roti bakar di celah antara kursi penumpang dan supir.
“Ih, sayang, kok yang dikasih cuma Renjun doang, sih? Aku kan mau juga pisang bakar.” Rengek Haechan sambil memanyunkan bibirnya, yang dibalas Chacha dengan pukulan pelan di bahunya, “Kamu nggak aku ingetin makan aja inisiatifnya udah tinggi, gimana kalau aku beliin? Kasian itu Renjun, bener-bener tinggal tulang sama kulit. Kamu kalau ke kantin nggak pernah ngingetin dia makan apa?” Keduanya kini sibuk bercekcok ria, sedangkan Renjun masih tertegun memandang kresek putih yang ada di pangkuannya.
Chacha memang sangat cocok disandingkan dengan Haechan. Mukanya tipikal perempuan Jawa tulen yang teduh dan ayu. Perawakannya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Pas. Itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan Chacha. Semua aspek fisiknya proporsional dan enak untuk dilihat. Dari segi otak pun Chacha bisa di adu. Selama tiga tahun berkuliah, dia nggak pernah sekali pun mencicipi nilai B+. Ketika Haechan bercerita bahwa ia sedang mendekati Chacha pada awal tahun kedua kuliah, Renjun diam-diam berdoa pada semesta bahwa Chacha nggak sesempurna yang diceritakan. Setidaknya dia punya sifat yang menyebalkan, deh. Tapi ternyata Renjun kurang beruntung, it seems like the Universe takes its time to make Chacha. Tentu saja Chacha sangat perhatian, bukan hanya ke Haechan tapi juga kepada Renjun. Ia juga sangat supel, di mana seluruh teman Haechan juga sekarang jadi teman Chacha, termasuk Renjun. Tidak berhenti disitu saja, Chacha juga rajin beribadah. All kill. Ketika pertama kali dikenalkan, kedua orang tua Haechan langsung terpincut dengan Chacha. Orang tua mana yang nggak senang kalau anaknya dapat pacar cantik, pintar, baik, dan rajin ibadah?
Pisang bakar keju susu di hadapannya nggak lagi bisa membuatnya berselera. Pikirannya sekarang membuatnya kenyang duluan. Renjun masih cukup tahu diri untuk nggak memposisikan dirinya sebagai orang yang tepat bersanding dengan Haechan. Dari sisi manapun, Renjun nggak akan pernah bisa menang dari Chacha. Sudah lah terhalang fisik dan otak, Renjun masih harus tertampar realita pula. Renjun is aware that his best friend is painfully straight . Jika ingin berandai-andai bahwa sahabatnya itu juga menyukai pria dan membalas perasaannya, nggak mungkin juga mereka bisa terus bahagia berdua.
Meskipun nggak pintar-pintar amat, Renjun nggak kelewat bodoh sampai nggak menyadari bahwa norma heteronormatif masih dianut kuat oleh masyarakat di sekelilingnya. Keluarga dan teman-temannya hanya segelintir kecil masyarakat yang mau menerima dua anak adam menjalin kasih. Mau berusaha sekuat apapun, ia sadar bahwa akhirannya ia akan kalah telak jika coba-coba melawan takdir. Tulus aja nggak cukup buat bikin kisah cintanya berjalan sesuai dengan keinginannya. Sudah cukup kebodohannya di masa lalu yang membuatnya menyimpan rasa kepada sahabatnya hingga kini. Nggak perlu, lah, ia perburuk keadaan yang sekarang dengan berharap bahwa akan datang mukjizat sehingga ia bisa bersanding dengan Haechan, karena ia tahu sampai kapan pun hal itu nggak akan pernah datang.
______________
I'll be the boyfriend in your wet dreams tonight
Noses on a rail, little virgin wears the white
Renjun mengecek kembali refleksi dirinya di kaca. Kini ia bukan lagi seperti mahasiswa tingkat akhir yang hanya bisa tidur selama empat jam setiap harinya. Kantung matanya yang sangat gelap dan cekung itu berhasil tertutupi dengan baik, thanks to concealer high-end yang minggu lalu dibelinya. Nggak sia-sia dia nge-splurge 450 ribu untuk sebuah concealer, karena sekarang ia terlihat seperti habis tidur 8 jam. Riasan wajahnya simpel, yang penting ia nggak lagi kelihatan seperti mayat hidup. Bajunya yang dipilih juga seadanya, hanya atasan satin berwarna krem yang dipadukan dengan skinny jeans ketat andalannya yang membuat pantatnya terlihat bagus. Tapi sepertinya ada yang kurang. Diperhatikannya lagi tampilannya dari atas ke bawah. Rambut? Udah oke, sengaja dibuat sedikit berantakan sehingga tampilannya lebih effortless. Baju? Hmm, sepertinya kancing ketiganya harus dibuka. He definitely doesn't want to look like a prude. Celana? Check. Sepatu? Converse belel, tapi orang-orang bakalan terlalu mabuk buat sadar kalau sepatunya jelek. Oke, dia cukup presentable buat ikut dugem malam ini. Renjun juga berterima kasih kepada dirinya beberapa hari lalu karena sudah iseng shaving seluruh tubuh. Seenggaknya dia nggak malu-maluin banget kalau nanti dibungkus sama orang habis dugem.
Renjun kemudian menghampiri Haechan yang sudah menunggu di ruang tengah. Mendengar langkah kaki mendekat Haechan pun menengadahkan kepala ke sumber suara, “Anjir, cakep banget lo malem ini.” Ia bersiul pelan, sambil memerhatikan Renjun dari ujung kepala hingga ujung kaki, “Harus gue jagain bener-bener nih cowok gue kalau kayak gini. Jangan sampe diambil orang.” Goda Haechan, yang membuat lawan bicaranya itu salah tingkah, “Apaan, sih? Ayo cepet, bawain soju gue juga. Udah jam 10 nih nanti telat.” Balasnya sewot, nggak mau ambil pusing pujian sahabatnya itu. Haechan memang suka terlalu mudah melempar pujian kepadanya, sehingga ia tahu betul bahwa ia nggak boleh memasukkan ke dalam hati.
Selama perjalanan Renjun terus menegak soju yang sengaja ia bawa dari rumah hingga hampir habis. Niatnya sekarang bukan lagi agar naik duluan sehingga lebih hemat minum, tapi lebih untuk menghilangkan rasa aneh di seluruh tubuhnya akibat pujian yang tadi dilontarkan asal oleh Haechan. Laki-laki gemini memang brengsek, nggak pernah sadar bahwa omongan manisnya itu bisa punya efek besar ke orang lain.
______________
Awalnya Renjun menolak ajakan Jeno untuk turun ke dance floor, Renjun sumpek sendiri melihat banyaknya orang di sana. “Ayo Jun, kapan lagi coba joget sama gue? Mumpung pawang lo lagi ke toilet.” Memang temannya yang satu itu paling jago mempersuasi orang lain, ia membumbui ajakannya dengan melambai-lambaikan kotak rokok rasa menthol yang masih setengah penuh ke depan muka Renjun, “Nih, sisanya buat lo. Lupa beli rokok, kan?” Sial. Siapa yang nggak tergoda kalau ditawari rokok gratis? Masih setengah penuh pula. Ia pun merebut kotak rokok itu dan berjalan mendahului Jeno ke dance floor.
Turns out, Jeno can make the dance floor experience more bearable for him. Renjun sampai lupa kalau ia paling benci berada di tempat yang sesak akan orang karena terlalu sibuk menertawai gerakan-gerakan absurd yang ditunjukkan Jeno. Orang-orang di sekelilingnya pun ikut tersenyum geli melihat tingkah sahabatnya itu. Tawa Renjun adiktif, Jeno bersumpah bahwa ia rela melakukan apa saja jika itu dapat membuat Renjun terus tertawa. Hampir-hampir pria jangkung itu melakukan gerakan b-boy jika tidak diberhentikan oleh Renjun, “EH, EH, JEN! KOTOR ANJIR! JANGAN NGADI-NGADI!”
______________
Jeno dan Renjun terlalu sibuk bersenda gurau dengan satu sama lain sampai tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang sedang mengawasi keduanya dari table sewaan mereka. Haechan yang sedang duduk di sofa sampai lupa akan redbull dan rokok yang ada di tangannya karena terlalu fokus menonton kedua sahabatnya yang berada di dance floor. “Jeno caper banget anjing,” batinnya. Teman-temannya yang lain sering mengingatkan kalau terkadang ia terlalu berlebihan dalam menunjukkan perhatiannya kepada pria kelahiran Maret itu. “Perhatian lo ke Chacha aja kadang kalah sama perhatian lo ke Renjun, Chan. Lo suka kelewat cemburu kalau kita lagi di deket Renjun. Padahal status kita semua sama, Chan, sama-sama temen Renjun, bukan pacar. Lo nggak ada hak buat ngejauhin Renjun dari kita. Toh, Renjun masih single juga.” Ujar Jaemin ketika mereka sedang ada acara menginap di rumah Jeno, “Lo bahkan lebih rela buat nganterin Renjun yang cuma sakit perut ke rumah sakit dibandingkan nonton Chacha yang waktu itu pertama kali jadi moderator seminar skala nasional.”
Mengingat omongan pedas temannya itu membuat Haechan tersenyum kecut. Jaemin ada benarnya, sih. Waktu itu Haechan memaksa Renjun agar diperbolehkan untuk mengantar pria itu ke rumah sakit karena ia sudah berhari-hari demam dan sakit perut, padahal Chacha ada acara penting. Untungnya tindakannya saat itu terjustifikasi karena ternyata Renjun sakit usus buntu dan harus dioperasi. Chacha, yang kelewat baik, bahkan sampai ikut membantu Haechan merawat Renjun di rumah sakit.
Tapi nggak salah juga, kan, perhatian sama sahabat sendiri? Perilaku protektifnya ini semata-mata karena ia sayang kepada Renjun. Siapa, sih, yang mau sahabatnya kenapa-kenapa? Itu pula alasan Haechan untuk selalu jadi orang yang terdepan dalam menjaga Renjun agar nggak dipermainkan oleh cowok-cowok nggak bertanggung jawab di luar sana. Itu salah satu gunanya sahabat juga, kan?
______________
Now and then, you miss it, sounds make you cry
Some nights, you dance with tears in your eyes
I came to visit, 'cause you see me like a UFO
That's like never, 'cause I made you use your self-control
And you made me lose my self-control, my self-control
Jam menunjukkan pukul dua belas lewat lima belas, tandanya sekarang musik yang dipakai mulai berganti ke lirik yang lebih seduktif. Jeno sudah meninggalkannya sendiri untuk make out dengan entah siapa di ujung sana. Setelah jager bombnya yang ketiga, Renjun merasa mendapatkan suntikan kepercayaan diri. He decided to let it all loose tonight. Menutup matanya, Renjun membiarkan tubuhnya bergerak sendiri mengikuti irama musik. Malam ini akan menjadi malamnya. Nggak akan dia biarkan pikiran tentang Haechan ataupun Chacha mengganggu malamnya.
Renjun tiba-tiba merasakan sepasang tangan memeluk pinggulnya dari belakang. Lebih terkejut lagi ketika ia menyadari bahwa pemilik dari tangan itu adalah Haechan.
Haechan menyandarkan kepalanya ke bahu Renjun. Tubuh bagian depannya kini menghimpit tubuh bagian belakang Renjun. Badannya mengikuti gerakan pria yang lebih kecil itu. Ia lalu membisikkan lirik lagu yang sedang diputar DJ tepat di samping telinga Renjun, yang membuat badan Renjun menggigil. Jarak yang begitu sempit antar keduanya membuat Renjun bisa mencium aroma parfum maskulin Haechan yang kini sudah bercampur dengan bau rokok dan sedikit bau keringat. Semua sensasi yang ia rasakan sekarang lebih memabukkan daripada sebotol soju dan tiga shot jager bomb yang sejak tadi malam ditegaknya.
Renjun membalikkan badannya dan menatap lamat-lamat mata sahabatnya itu. Ia menyalahkan seluruh alkohol yang dikonsumsinya malam itu sampai ia berani melakukan hal setolol ini. Kedua tangannya ia sampirkan ke pundak Haechan, badannya masih berayun mengikuti irama musik. Seiring dengan tangannya yang sekarang mulai menuruni dada pria yang lebih muda itu, pandangan Renjun juga perlahan turun ke arah bibir tebal Haechan. Terbawa suasana, Haechan ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. Sebelum bibir keduanya dapat bertemu, Renjun menolehkan kepalanya ke samping.
Ini gila. Apa yang terjadi malam ini sudah melewati batas. Tapi entah kenapa ia tidak bisa mendorong Haechan menjauhi tubuhnya. Saat itu juga seluruh ruangan terasa berputar, his third shot has fully kicked in and knocked him up. Ingatannya mulai samar setelah itu. Renjun tidak lagi bisa membedakan yang mana halusinasi yang mana realita. Tapi memorinya bercumbu panas dengan Haechan di dalam mobil pria itu terasa terlalu nyata untuk sebatas jadi fragmen dari imajinasinya.
______________
Entah bagaimana ceritanya, tapi sekarang ia sudah telanjang bulat di atas kasur Haechan. Kedua kakinya mengangkang lebar, tidak bisa ditutup karena ada Haechan yang sedang sibuk menjilati lubang senggamanya. Tidak berhenti disitu, kedua tangan pria itu memainkan putingnya, membuat tubuhnya menggelinjang akibat seluruh stimulasi yang diterimanya.
“Hngghh— Anjing Chan enak banget…” desahnya, tubuhnya tidak berhenti menggeliat karena lidah Haechan yang tiada henti menjilat-jilat labianya. Lidah pria itu perlahan bergerak ke atas. Disentilnya gundukan sensitif yang berada di bagian atas vaginanya itu dengan lidahnya. Lalu ia membuat gerakan memutar, memijat kelentit pria itu dengan lidahnya. Renjun mengerang kaget, stimulasi yang diberikan Haechan membuat tubuhnya serasa disengat listrik. Melihat reaksi lawan mainnya itu, Haechan langsung menghisap klitorisnya dengan kuat dan menggunakan kedua ibu jarinya untuk menyibak bibir vagina Renjun. Haechan kemudian menjauhkan kepalanya dari selangkangan Renjun, memandangi lubang senggama sahabatnya itu yang sudah merah merona dan basah oleh lendir yang bercampur dengan liur, “Memek lo baru gue jilatin aja udah becek banget, Jun. Senafsu itu ya lo sama gue?”
Meskipun tidak sepenuhnya sadar, tapi Renjun masih punya malu untuk tidak menjawab pertanyaan pria yang sedang berada di antara selangkangannya tersebut. Lebih baik ia tidak orgasme daripada harus menjawab pertanyaan cabul itu.
Seakan tahu jalan pikirannya, Haechan melanjutkan omongannya, “Kalau lo nggak mau jawab, gue tinggal sekarang.” Ancam Haechan, sambil menarik tubuhnya menjauh ke Renjun. Tidak, ternyata dirinya sudah terlalu jauh terbawa nafsu. Tanpa sadar tangannya sudah meraih pergelangan tangan Haechan, “Iya. Mau dijilatin lagi memeknya. Please, Chan…” dicengkramnya pergelangan tangan pria itu, meminta belas kasihan dari yang lebih muda, “Please… jangan tinggalin gue… lakuin apa aja yang lo mau asalkan jangan ditinggalin kayak gini…”
______________
Jari-jari panjang Haechan terus menumbuk titik nikmat yang ada di dalam lubang senggamanya. Ketiga jarinya ditekukkan ke atas, menggenjot vagina Renjun tanpa ampun. “Jun dengerin.” Tangan kirinya menekan kedua pipi Renjun, berusaha untuk menarik atensi pria kecil itu kembali kepadanya, “Dengerin seberapa becek memek lo gara-gara gue colmekin.” Suara kecipak basah dari lubang senggamanya menggema ke satu ruangan kamar itu, diiringi dengan suara deru nafasnya sendiri, “Jeno bisa bikin lo seenak ini nggak?” Jari-jari itu semakin brutal mengocok vaginanya dengan tempo cepat, membuat Renjun mengangkat-angkat pinggulnya keenakan. Tidak bisa berhenti mendesah, mulut dan dagunya kini sudah basah dengan salivanya sendiri, “Jeno bisa nggak bikin lo enak sampe ngeces-ngeces cuma gara-gara dikobelin? Jawab.” Ibu jarinya kini membuat gerakan memutar pada klitoris Renjun. Tambahan stimulasi tersebut membuat seluruh tubuhnya bergetar, dadanya membusung ke atas, dan kakinya mulai menghentak-hentak kasur, “Nggak… Ah! Cu— cuma Haechan. Hngghh— terus Chan… enak banget… enak banget itilnya disodo—Ah! Fuck, iya terus!” desahannya kini tidak lagi koheren. Renjun sudah terlalu jauh tenggelam dalam kenikmatan yang diberikan jari-jari Haechan pada lubang hinanya. Memeknya terasa ngilu dan nikmat, sepertinya sebentar lagi ia akan—
“Kok memek lo udah kedut-kedut aja, sih? Gaya lo udah kayak lonte tadi, mau dijogetin semua orang. Ini baru sebentar di sodok-sodok memeknya udah mau keluar aja.” Gerakan tangannya sengaja diperlambat, membuat Renjun mengerang frustrasi. Jika saja stimulasi intens tadi bertahan hingga beberapa detik lebih lama, maka Renjun sekarang sudah bisa mencapai puncaknya, “Maaf Chan, nggak genit… Ah! Nggak akan genit lagi…” Rengekan itu disambut tawa oleh Haechan. Jari-jarinya masih memompa vagina Renjun dengan malas, “Yaudah, sabar aja dulu. Tadi gue bisa, tuh, sabar nontonin lo sama Jeno, jadi sekarang lo harus bisa sabar nggak keluar dulu.”
Haechan memperhatikan Renjun yang masih memejamkan matanya sambil berusaha mengatur nafasnya karena sudah hampir sampai ke pelepasan. Renjun benar-benar terlihat berantakan. Wajahnya basah oleh campuran peluh, air mata, dan saliva. Kemaluannya terlihat merah dan bengkak. Lendirnya mengotori paha dalam hingga kasur yang ada di bawahnya.
Ketiga jarinya secara sengaja ia cabut dari vagina Renjun, menarik kembali segala stimulus yang sebelumnya ia berikan kepada pria berdarah Cina itu.
Belum sempat Renjun melancarkan protes, ia sudah dibungkam oleh jari telunjuk, tengah, dan manis dari tangan kanan Haechan yang merangsek masuk secara paksa ke mulutnya, “Jilat. Sampe bersih.” Ketika Renjun mengulum dan menjilati buku-buku jarinya, Haechan mulai memberikan tanda pada paha mulus itu. Menggunakan telapak kirinya, Haechan menggosok-gosokkan tangannya di atas lipatan daging yang sudah sangat basah oleh cairan kemaluan itu, dengan sengaja semakin mengotori selangkangannya.
Tidak mau buang waktu lebih lama lagi, ia langsung menancapkan jari manis dan tengahnya ke dalam lubang becek Renjun dan membuat gerakan menggunting. Pria yang berada di bawah kukungannya itu sontak memekik kaget, yang dimanfaatkannya untuk mendorong jari-jarinya semakin dalam ke kerongkongan lawan mainnya tersebut. Seluruh indera pendengaran Haechan dipenuhi oleh bunyi-bunyi cabul dari mulut Renjun yang kini mengeluarkan desahan yang lebih mirip dengan suara tersedak, ditambah lagi dengan suara becek dan lengket dari liang basahnya karena genjotan jari-jari panjangnya.
“Udah mau keluar ya?” Tanya pria itu penuh provokasi. Perasaan euforik menjalar di tubuhnya karena dapat merasakan liang sahabatnya mulai berkedut-kedut hebat, “Jawab dong, sayang. Mau keluar nggak?” Renjun hanya bisa menatap Haechan sayu. Jawaban yang ingin disampaikan terbungkam oleh jari-jari Haechan, sehingga hanya suara tersedak yang mampu dikeluarkan mulutnya, “Kasian banget disiksa memeknya sampe bego. Enak banget ya sampe nggak bisa jawab?” Tungkai bagian bawah Renjun ikut bergerak naik turun saking kuatnya pompaan tangan Haechan dalam kemaluannya. Jari-jari panjang Haechan dengan presisi terus menumbuk titik nikmat yang ada pada rahimnya. “Yaudah, keluar sana.” Jempolnya kini ikut mengusap-usap kelentit Renjun dengan kasar. Stimulasi dari luar dan dalam vaginanya secara bersamaan membuat tidak butuh waktu lama sampai seluruh tubuhnya menggelinjang hebat. Matanya memutih, dan kemaluannya menyemburkan cairan orgasme dengan deras. Cairan keruh itu merembes lewat sela-sela jari Haechan, mengotori kasur yang ada di bawahnya.
Haechan menyeringai puas ketika menonton bagaimana Renjun mencapai ekstasi. Tangannya terus menepuk-nepuk vagina bengkak itu, meskipun sekarang liangnya sudah berkedut karena kelebihan stimulasi. Renjun hanya bisa mengaduh minta ampun.
______________
Haechan menyampirkan kedua kaki Renjun pada kedua bahunya, dan memposisikan tangan kirinya di samping kepala Renjun. Tangan kanannya memegang batang kemaluannya yang sudah terbungkus kondom ekstra tipis. Digesek-gesekkannya kepala penis itu ke lipatan vagina Renjun dan dengan sengaja melewatkan lubang senggamanya, menimbulkan rengekan dari yang lebih tua.
Menyaksikan bagaimana lubang Renjun yang sudah sangat merekah dan basah, Haechan jadi ingin cepat-cepat menyumpal liang becek itu dengan penisnya dan membuat sahabatnya itu semakin lupa dunia. Tanpa aba-aba, ia langsung menusukkan batang tebalnya itu ke dalam lubang senggama Renjun.
“Ah! Fuck— anjing, lo gede banget, Chan.” Dinding rahimnya kini meregang perih, berusaha menyesuaikan diri dengan ukuran penis Haechan yang di atas rata-rata. Di atasnya Haechan mendesis nikmat, “Jun, memek lo sempit banget.” Haechan menggertakkan giginya. Kini seluruh kejantanannya sudah sepenuhnya masuk ke dalam vagina Renjun. Ia dapat merasakan bagaimana liang yang sempit, basah, dan hangat itu menyelubungi seluruh batang kemaluannya, “Bangsat, memek lo enak banget Jun.” racaunya, Haechan benar-benar dibuat gila oleh Renjun. Ia tidak menyangka bahwa lubang senggama sahabatnya itu akan seenak ini.
Setelah beberapa saat, Haechan mulai menggerakan pinggulnya dengan tempo sedang. Renjun yang berada di bawahnya mulai mendesah dengan keras. Ketika Renjun dirasa sudah siap, Haechan menarik mundur pinggulnya hingga hanya menyisakan kepala penisnya di dalam vagina Renjun. Tanpa aba-aba, ia menghujam lubang itu dengan satu sentakan kuat, yang membuat bola mata Renjun berputar ke belakang.
“Liat gue,” panggilnya, sambil masih terus memompa penisnya keluar masuk lubang senggama Renjun dengan tempo cepat. Renjun yang berada di bawah kukungannya hanya mampu membuka setengah matanya, “Cuma. Gue. Yang. Bisa. Bikin. Lo. Kayak. Gini.” Setiap kata-katanya diberi penekanan dengan menyodokkan penisnya secara kasar ke liang vagina Renjun, menusuk-nusuk titik nikmat yang ada di dalamnya. Tangannya kirinya kini menjambak dengan kasar rambut hitam pria di bawahnya itu, membuat empunya membelalakkan mata kaget.
Mata keduanya kini bertemu, suasana di ruangan itu mendadak menjadi sangat intim. Haechan sengaja memilih posisi seperti ini. Malam ini hanya dialah yang boleh ada di pikiran Renjun. “Enak ya lobangnya dientotin sahabat sendiri?” Pancingnya lagi. Tangan yang sebelumnya digunakan untuk menjambak rambut Renjun itu kini sudah turun menggosok-gosok kasar klitoris Renjun yang sudah luar biasa bengkak. Anjing, memek Renjun sekarang semakin mengencang ketika gumpalan saraf itu diputar-putar oleh jemarinya.
“Enak… Ah! Enak banget— hghh, mau dikontolin terus…! Uhh, mau—fuck, lagi! Ah, Mau lagi! Mau disodok itilnya terus!” Renjun sudah tidak dapat lagi mengontrol bicaranya. Yang ada di otaknya hanya Haechan, Haechan, dan Haechan. “Lagi… lagi! Iya terus! Ah…! Chan, lo enak banget sodok memek gue!” Racaunya, tangannya kini menggaruk punggung pria yang lebih muda itu hingga menimbulkan bekas luka.
“Chan, entotin yang kenceng!” Pinta Renjun, yang disambut decakan oleh Haechan, “Emang lonte nggak tahu diri. Nggak cukup ya cuma dikasih kontol satu?” Kaki kanannya dipijakkan di samping pinggul Renjun, lalu kemaluannya didorong masuk dengan brutal. Posisi yang sekarang memudahkannya untuk menggenjot lubang itu dengan lebih cepat dan kasar.
Suara tabrakan antar kulit, dibarengi dengan rintihan Renjun, membuat Haechan benar-benar hilang akal. Ia menggeram setiap kali liang itu berkedut dan mencengkram kejantanannya. Renjun sama hilangnya dengan Haechan, lubangnya tidak berhenti diobrak-abrik oleh kontol besar sahabatnya itu. Renjun dibuat hampir sinting setiap kali g-spotnya ditusuk oleh kepala kontol Haechan yang gendut. Belum lagi kelentitnya yang diputar dan dicubit tanpa ampun. Oh, oh! Renjun mau keluar lagi!
“Chan… ah! Ah! Udah deket! Mau keluar!” Tubuhnya kini mulai bergetar hebat. Bibir tebal Haechan meloloskan desahan keras, ia dapat merasakan otot senggama Renjun yang semakin mengetat karena nikmat. “Bilang mau keluar. Bilang memek lo gue buat muncrat-muncrat malem ini.” Sentakan pinggulnya sengaja dipercepat, membuat Renjun semakin kelojotan, “Teriak, biar tetangga gue bisa denger kalau memek lonte lo sampe pipis-pipis gue entotin.” Omongan cabul itu membuat Renjun semakin larut dalam nafsu, dan akhirnya, “Aahh! Haechan…! Fuck—Liat memek gue muncrat! Memek muncrat…!”
Tubuh kecilnya itu sekarang kejang-kejang hebat. Pandangannya buram oleh air mata. Dari celah senggamanya menyembur cairan bening yang amat deras, membuat genangan pada kasur yang ada di bawahnya. Haechan yang menyaksikan bagaimana Renjun mencapai putihnya serasa ikut melayang. Gerakan pinggulnya semakin tidak beraturan. Ia pun memagut kasar bibir pria di bawahnya, dan menusukkan penisnya sedalam mungkin. Pada beberapa sentakan setelahnya, ia ikut mencapai klimaks. Tubuhnya langsung ambruk ke depan. Renjun dapat merasakan cairan sperma yang hangat memenuhi kondom pria itu.
______________
Keep a place for me, for me
I'll sleep between y'all, it's nothing
Keep a place for me
It's nothing, it's nothing
It's nothing, it's nothing
Ketika bangun, Renjun disambut dengan rasa sakit yang luar biasa pada kepalanya. Sekarang seperti ada orang yang memukul-mukul kepalanya dengan palu, rasanya seperti ingin pecah! Tolong ingatkan dia untuk nggak minum secara berlebihan lagi.
Kemudian Renjun mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Thank god, kamar yang ditidurinya masih sangat gelap. Jendela kamar itu masih tertutup gorden, sehingga tidak meloloskan cahaya matahari ke dalamnya.
Sebentar. Ini kan kamar Haechan, bukan kamar tamu yang biasa ditumpanginya?
Rasa panik mulai menyergap tubuhnya. Perlahan, memori bekas semalam memasuki pikirannya. Pening di kepalanya semakin menjadi-jadi. Nggak, nggak mungkin. Ini cuma mimpi basahnya, kan? Nggak mungkin ia sebegitu bodohnya bercinta dengan sahabatnya sendiri yang sudah punya pacar?
Renjun langsung menyingkap selimut yang menutupi badannya. Pemandangan di depannya benar-benar membuatnya limbung. Tubuhnya yang polos tanpa busana memperlihatkan paha dalamnya yang penuh dengan bekas berwarna biru campur ungu. Renjun merasa linglung, mana Haechan sekarang? Ada sebagian kecil dari dirinya yang masih berharap kalau ini bukan ulah dari sahabatnya.
Ting!
Notifikasi dari handphonenya membuyarkan seluruh pikiran kalut Renjun. Dengan sigap, ia langsung menekan password dan membuka kunci hpnya tersebut. Tadi ternyata hanya notifikasi dari Jeno yang men-tagnya di Instagram.
Tunggu.
Di bawahnya ada pesan dari Haechan.
Tidak ingin memberi kesempatan bagi dirinya untuk merasakan ragu, Renjun langsung men-tap notifikasi itu dan membaca isinya dengan hati-hati.
“Good morning Renjun. I bet your head is killing you right now. Worry not, gue udah taro air panas (mungkin pas lo baca ini udah anget) sama panadol di bedside table.”
Renjun melirik ke arah nakas. Benar saja, ternyata dari tadi ada gelas berisi air hangat dan panadol di sebelahnya. "Renjun bodoh", runtuknya pada diri sendiri.
“Maaf gue nggak bisa nemenin lo sampe bangun. Hari ini hari ulang tahun neneknya Chacha, jadi gue harus ikut acara perayaannya. I’m also very sorry if I overstepped last night. Maaf kalo gue udah kelewatan. I regret everything that I’ve done last night. Can we talk again after this?”
Mual. Hanya itu yang dapat dirasakannya sekarang. Renjun langsung berlari ke arah toilet, dan mengeluarkan semua isi perutnya ke dalam kloset. Setelah tidak ada lagi yang bisa dimuntahkannya, Renjun dengan gontai berjalan ke arah shower. Tubuhnya terasa luar biasa kotor sekarang. Bukan karena keringat, tapi karena jijik yang teramat sangat. Disetelnya temperatur air yang paling panas, lalu dibiarkan kulit tubuhnya perlahan memerah karena diguyur dengan air bersuhu tinggi.
Renjun sampai lupa berapa kali ia mandi pada siang itu. Ia hanya berharap setiap kali tubuhnya digosok kasar maka ikut luruh pula dosa yang ia lakukan kemarin malam.
Renjun nggak siap menghadapi Haechan, seenggaknya dalam waktu dekat ini. Maka ia bergegas membereskan barang-barangnya dan memesan taksi online. Ia nggak kuat jika harus berlama-lama berdiam di tempat itu.
Setelah menitipkan kunci ke resepsionis, Renjun buru-buru memasuki taksinya yang sudah menunggu di lobby. Ketika sudah duduk di dalam taksi, Renjun baru bisa mulai memproses semua yang terjadi.
The reality slowly sinks in. Everything will never be the same for him after this. He blamed it all on his selfishness. Now, he can only watch how his life is slowly crumbling down right in front of his eyes.
I, I, I know you gotta leave, leave, leave
Take down some summertime
Give up, just tonight, 'night, 'night
I, I, I know you got someone comin'
You're spittin' game, oh, you got it
Yeah
