Work Text:
"Sugohaesseumnida" ucap Jeongwon ramah kepada semua orang yang berada di ruang operasi sebelum berjalan keluar. Senyum dibalik maskernya tak dapat menutupi rasa bahagianya atas kelancaran operasi salah satu malaikat kecilnya yang berlangsung selama 2 jam tersebut.
Terimakasih Tuhan, atas karunia-Mu.. Terimakasih karena telah memberikan kesempatan hidup untuk salah satu malaikat kecil-Mu..
Rasa syukur tak henti-hentinya ia ucapkan dalam hatinya yang paling dalam. Selama lebih dari 20 tahun belajar dan bekerja sebagai seorang dokter, tidak mudah baginya untuk bisa menerima segala ketetapan Sang Maha Kuasa. Baginya, melihat anak-anak kecil tersebut kesakitan, merelakan kepergian pasien yang sudah ia rawat untuk berhari-hari bahkan berbulan-pada pada napas terakhirnya, maupun menyampaikan segala kabar duka kepada orangtua pasien kecilnya, bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Itu sering kali menyakitkan hingga membuatnya ingin menyerah dan pergi dari segala kenyataan yang ada.
Hingga suatu saat, ia bertemu dengan seorang wanita yang ia tak pernah sangka akan membolak-balikan hidupnya sedemikian rupa. Wanita yang sedingin musim dingin.. Wanita yang akan mengajarinya tentang kehidupan yang sesungguhnya.. His woman, His world, His forever sunshine...
Ia tak sabar untuk segera menemui wali pasien yang sudah menunggu di ruang tunggu. Ia bahagia karena bisa menyampaikan kabar baik ini.
Ah, ia teringat untuk mengirimkan pesan kepada sang wanita untuk mengajaknya makan siang bersama. Ia tak sabar untuk segera menemui sang wanita dan bercerita tentang kabar bahagianya hari ini. Namun, saat membuka ponselnya, yang ia dapatkan adalah 10 panggilan tak terjawab dan sebuah pesan. Tanpa berpikir panjang, ia pun segera bergegas ke tempat yg ia harus datangi.
---
"Dimana?" tanya Jeongwon dengan wajah penuh kekhawatiran saat ia sampai UGD. Bong Kwanghyun yang saat itu berada didepannya menunjuk kasur tempat orang yang Jeongwon cari.
"Gwaenchana??"
"Appa..." ucap si gadis kecil sambil menangis dan menunjuk tangannya yang dibalut perban putih.
"Aigoo.. gwaechana Suji-ya. Appa disini" Jeongwon pun segera memeluk putri kecilnya tersebut.
"Choesonghamnida Suji Abeonim. Saat disekolah tadi Suji ingin membantu mengambilkan mainan temannya yang ada di atas lemari, tapi ia terjatuh saat mencoba mengambilnya. Mohon maaf karena kami kurang perhatian sehingga kejadian ini dapat terjadi. Choesonghamnida" ucap sang guru sambil membungkukkan badannya merasa bersalah.
"Tidak, tidak apa2 seonsaengnim.. itu bukan salah anda."
"Aigoo, Ahn Suji.. Kau menangis karena ada appa-mu ya?” Lee Ikjun yang tiba-tiba datang mengalihkan perhatian Jeongwon. “Tadi ia tidak menangis sama sekali kok saat diperiksa maupun diobati. Ah, bahkan ia juga tertawa saat kutunjukkan Bidulgi”
“Ah.. michin.. Kenapa kau menunjukkan hal seperti itu kepada anakku? Aku lebih khawatir dia ketularan keanehanmu itu tau gak? Lagi pula kenapa kau bisa ada disini? Kau tidak ada jadwal operasi apa?” ucap Jeongwon
“Aigoo..cih benar-benar tak tahu rasa terimakasih. Suji-ya.. kalau besar jadi seperti ibumu saja ya jangan seperti ayahmu ini.”
“Oh.. Jeongwon-ah, maaf aku baru datang sekarang.. Tadi ada pasien darurat. Suji tidak apa-apa.. hasil CT scan menunjukkan kalau dia hanya terkilir dan perlu dibalut selama 2 minggu. Kemudian kau bisa kontrol ke dokter ortopedi untuk tahu lebih pastinya " ucap Bong Gwanghyun
"Syukurlah.. Gomawo Gwanghyun-ah"
“Napa cuman Gwanghyun aja si?? Kenapa ke aku nggak hah?” ucap Lee Ikjun tak terima.
“Dakcheo!”
"Aigoo.. kalian sudah 45 tahun dan masih bertengkar seperti anak TK. Apa kalian tidak sadar disini masih ada guru-nya Suji? Dwaesso Jeongwon-ah.. Ah ani.. lain kali cukup belikan aku ice latte di kafe bawah. Tadi Suji juga sangat kooperatif dan nggak nangis sama sekali waktu diperiksa. Dia malah banyak bercerita kalau ia suka makan cheese cake di kafe karena rasanya enak."
“Benarkan? Nah itu karena aku menunjukkan gerakan bidulgi ku” ucap Lee Ikjun dengan bangga
"Geurae Suji-ya? Kamu mau cheese cake di kafe bawah?" ucap Jeongwon mengabaikan celotehan Lee Ikjun yang menurutnya tidak penting itu.
Si gadis kecil itupun mengangguk kemudian menghapus air matanya "Aku ingin sekali makan cheese cake. Ah.. aku juga mau chocolate cake. Appa.. boleh kah aku beli 2?"
“Haa.. ia benar-benar putri Jang Gyeoul” ucap Lee Ikjun
"Iya boleh. Habis ini beli ya sama Appa. Ah terimakasih banyak Seonsaengnim sudah menemani Suji. Apa anda punya waktu untuk bergabung bersama saya dan Suji? Saya ingin membelikan sedikit makanan untuk rasa terimakasih"
"Tidak usah repot-repot Suji Abeonim. Sepertinya saya tidak bisa ikut karena harus segera kembali ke sekolah. Ah, tadi saya juga diberitahu oleh Minkyung Seonsengnim kalau Suho sudah dijemput pamannya, Gaeul samchon?"
"Ah iya"
"Kalau begitu saya pamit dulu. Terimakasih. Suji Annyeong” ucap sang guru melambaikan tangannya sebelum beranjak pergi.
“Jeongwon-ah, karena bu Guru nggak bisa ikut, gimana kalau aku saja yang menggantikannya? Oke? Aku cuman minta 1 kue aja kok, ya ya?
“Minggir.. urus urusanmu sendiri Lee Ikjun.. untuk sehari saja, tolong, aku minta dengan sangat berhentilah menjadi berisik, arraseo? Kajja Suji-ya.. Ah jangan dengarkan kata-kata samchon yang satu itu ya..” ucap Jeongwon meninggalkan sahabatnya yang terdiam dan tampak mengutuknya dalam hati karena ucapannya tersebut.
---
Jeongwon melihat putrinya memakan 2 cake yang ada didepannya secara bergantian dengan sangat lahap.. Lee Ikjun dan semua orang yang mengenal putrinya dengan baik tahu, ia benar-benar mirip Jang Gyeoul, meskipun sedang sakit tapi nafsu makannya masih besar.
"Suji-ya!" Jeongwon dan putrinya pun menoleh ke arah suara yang dituju.
"Eomma" tangisannya kembali pecah saat ia tahu ibunya telah datang.
Gyeoul pun berlutut dan memeluk putri kecilnya itu "Gwaenchana? Kenapa bisa sampai jatuh nak? Eomma benar2 khawatir saat mendengar kabar tentangmu"
"Aku tadi jatuh saat ingin membantu mengambil mainannya Hyewon eomma.. maafkan aku"
"Gwaenchana. Eomma nggak marah. Tapi lain kali jika kamu tidak bisa mengambilnya sendiri, bilang ke Seonsaengnim ya."
Suji mengangguk dan mengelap air matanya "Eomma, aku ingin digendong"
"Hm?" Gyeoul dan Jeongwon saling berpandangan satu sama lain.
"Suji-ya. Appa yang gendong aja ya. Eomma baru selesai operasi pasti capek"
“Sirheo! Maunya sama Eomma. Dulu kalau Suji sakit selalu digendong Eomma, kenapa sekarang nggak boleh?" tangisan Suji pun kembali pecah.
"Oppa. Kalau ku pangku aja nggak apa kok. Mau ya Suji Eomma pangku?" yang kemudian dijawab oleh anggukan kecil.
Tak lama setelah itu, putri kecil mereka pun tertidur.
"Gwaechana Gyeoul-ah? Pasti berat memangku Suji. Bagaimana kalau kita pindahkan saja ke ruanganku biar bisa tidur disana"
"Gwaenchana oppa. Ia baru saja memejamkan mata, kita tunggu 15 menit lagi sampai ia benar-benar terlelap. Aigoo, putri kecilku sudah sebesar ini ternyata. Ia bahkan membantu temannya meskipun itu pada akhirnya melukainya seperti ini. Rasa empatinya itu benar-benar seperti Appa nya"
"Ani.. itu lebih mirip kamu yeobo"
Gyeoul pun hanya tersenyum sambil merapikan rambut sang putri "Lihatlah wajahnya, 100% seperti Ahn Jeongwon. Setiap orang yang bertemu dengan Suji pasti akan berkata bahwa ia adalah versi perempuan dari Oppa.. Sedih sekali, aku hanya bisa menyumbangkan kedua lesung pipi diwajahnya. Suho pun begitu. Padahal mereka berdua tinggal di perutku ini selama 8 bulan lebih. Hmmft"
"Gyeoul-ah. Jangan membuatku merasa bersalah gitu deh. Aku yakin adik mereka nanti 100% mirip Gyeoul-ie. Hm?"
"Geurae? Ku harap begitu" Gyeoul mengusap perutnya yang sudah cukup membuncit itu, buah hati ke tiga mereka yang akan segera datang ke dunia ini 4 bulan lagi. "Ah geundae oppa, saat kita pertama kali memberitahu Suji dan Suho kalau mereka akan memiliki adik 2 bulan yang lalu, respon mereka sangat senang sekali. Tapi kenapa akhir-akhir ini terutama Suji menjadi lebih sering marah dan murung ya? Apa karena aku tidak bisa sering menemaninya bermain? Aku jadi merasa bersalah.."
"Gwaenchana Gyeoul-ah. Itu adalah hal yang biasa saat seorang saudara mengalami kecemburuan ketika tahu akan punya adik. Kita bisa memberitahunya pelan2 kalau kita akan tetap peduli dan menghabiskan waktu dengan mereka. Gyeoul-ie pun bukan tidak ingin bermain dengan mereka, tapi karena kondisi lah yg mengharuskanmu untuk bed-rest. Jangan menyalahkan dirimu, oke?"
"Baiklah oppa. Sepertinya Suji sudah terlelap. Aku hanya perlu visit ke beberapa pasien sebentar lalu selesai. Oppa ada kegiatan lain?"
"Tidak ada. Aku akan menunggu Suji diruanganku. Lalu kita pulang oke? Suho juga sudah menunggu dirumah bersama Gaeul. Sini Suji aku gendong"
Mereka bertiga pun beranjak dari kafe tersebut untuk segera menapaki perjalanan kehidupan mereka selanjutnya. Bagi Gyeoul, kehadiran Ahn Jeongwon adalah musim semi dari penantiannya selama ini yang berhasil bertahan dalam musim dingin yang panjang. Namun, bagi Ahn Jeongwon, kehadiran Gyeoul adalah hadiah dari Tuhan kepadanya untuk terus menjalani musim demi musim dengan penuh rasa syukur dan semangat demi keluarganya kecilnya, ibunya, malaikat-malaikat kecilnya di rumah sakit, maupun teman-temannya. Jang Gyeoul adalah malaikat yang dikirimkan Tuhan sebagai pesan baginya bahwa setiap hari akan selalu ada matahari yang terbenam dan terbit, bahwa kehidupan tidak hanya berhenti pada kegelapan namun juga akan ada secercah cahaya yang muncul. Dan keluarganya adalah sinar mentari yang akan selalu menyinari hari-harinya kedepan.
END
