Actions

Work Header

That’s Okay (That's Just My Love)

Summary:

Hari itu, Jongin datang ke kantor dalam keadaan bete karena sahabat/adik iparnya, Sehun, kelakuannya makin ngelunjak di rumah, belum lagi segala kesialan yang entah mengapa menimpanya sepagian. Hasilnya? Jongin salah upload foto ke akun Instagram klien yang ia kelola. Tapi kalau boleh jujur, ada lagi yang Jongin lebih takuti daripada dimarahi klien dan diomongin netizen.

Title taken from none other than D.O.'s 'That's Okay' and 'My Love'

Notes:

An EXO Jaksel/anak ahensi AU that no one asked for. A little bit of note here: there will be lots of local Jakarta-specific/Indonesian slangs in this fic, so if you understand bahasa Indonesia and/or Malay and you find anything you don't quite get the meaning of, feel free to ask me in the comment section!

UPDATE ON 27 OCT 2024: FIC INI SELESAI! Mohon baca dari awal ya, karena ada yang diubah lagi. Thank youuu dan mohon maaf telah menunggu lama!

(See the end of the work for more notes.)

Chapter 1: “Sehun bangsat.”

Chapter Text

Jongin Kim berlari sekencang mungkin di stasiun MRT yang cukup ramai, menerjang para penumpang lain yang entah mengapa jalannya lambat banget pagi ini. Ia juga nggak menghentikan lajunya ketika menaiki eskalator, tidak mempedulikan orang-orang yang ia tabrak dengan tubuhnya yang tinggi tegap. Salah sendiri berdiri di sisi kanan, itu kan jalur buat orang-orang yang mau buru-buru.

Setelah berjibaku dengan calon penumpang lainnya, Jongin sampai di platform MRT dengan nafas terengah-engah dan kemeja basah oleh keringat. Di papan elektronik, tertera jadwal kedatangan kereta berikutnya. Syukurlah, Jongin masih punya sisa waktu tiga menit lagi untuk bernapas.

“Sehun bangsat,” Jongin mengumpat.

Jongin merasa tidak ada lagi yang memihaknya di rumah sejak Sehun menikah dengan abangnya, Junmyeon. Ibu mereka, Mama Kim, bahkan lebih sering memanjakan Sehun ketimbang Jongin, padahal yang anaknya beliau siapa, coba? 

Seketika Jongin mengutuk dirinya sendiri karena sering mengajak Sehun main di rumahnya waktu SMA dulu—gara-gara ini, sahabatnya yang tengil itu jadi naksir Junmyeon, terus bertahun-tahun mengejar si abang sampai akhirnya pacaran dan menikah. 

Nah, pagi ini, Jongin jadi kesiangan bangun gara-gara nggak bisa tidur akibat oknum bernama Sehun Oh-Kim berisik banget di kamar semalaman. Untung kamar Mama Kim jauh di lantai bawah. Saking dendamnya, Jongin sampai melabrak Sehun di ruang makan tadi pagi ketika melihat si saudara ipar jalannya agak mengangkang.

“Woy, lo kalo lagi bottoming bisa nggak sih suaranya dikecilin dikit?” Jongin mengeplak bagian belakang kepala Sehun ketika ia hendak duduk sebelahan di meja makan.

”Semaleman gue denger gradak-gruduk dari kamar kalian, tau nggak? Untung nggak denger yang lain-lain,” Jongin kini duduk sambil melipat tangannya di dada. Ia terdengar kesal sekali.

Junmyeon yang sedang minum kopi tersedak begitu mendengar perkataan Jongin; sementara itu Sehun, yang wajahnya berseri, hanya bisa nyengir jahil.

“Wah, gimana ya, Ni,” Sehun dengan santainya menjawab Jongin, “Gejolak asmara di dalam dada gue tuh, meledak-ledak.”

Jawaban asal Sehun membuat Junmyeon, yang sebenarnya blushing parah karena malu, nggak bisa menahan tawanya. 

“Ya artinya gue semaleman denger kalian, berak,” Jongin memijat kepalanya karena stress nggak bisa tidur, “masak gini aja harus gue bilangin?!”

“Sorry, Ni,” Junmyeon meminta maaf kepada adiknya sambil mengusap air matanya, “udah, gue nggak tau mau ngomong apa lagi.”

”Iya, nggak usah ngomong apa-apa lagi lo, Bang,” kata Jongin sambil manyun.

Mama Kim datang membawa kopi di dalam french press-nya lalu duduk di sebelah Jongin.

“Abang sama Sehun kan udah nikah. Emangnya kamu, terakhir Mami dikenalin sama cowok atau cewek yang lagi deket sama kamu kayaknya udah lama banget deh,” ujar Mami Kim, yang membuat Jongin semakin uring-uringan.

“Ihhhh. Mami kok nggak ngebelain Nini, sih!”

Tawa Sehun makin kencang. Buset, shameless banget sih jadi orang!

“Sehun… behave, Yang. Masih pagi,” Junmyeon menegur suaminya.

“Sorry, ye. Tahan-tahanin dulu lah, rumah kita masih 3 bulanan lagi kelarnya,” Sehun menjawil dagu Jongin, yang hanya bisa memutar matanya.

“Duit lo kan banyak tuh. Kenapa nggak beli headphone aja?”

Perjalanan MRT dari stasiun pertama ke stasiun dekat kantor Jongin di Jakarta Selatan cukup singkat, hanya berdurasi sekitar 20 menit. Jongin berdiri berpegangan di palang depan pintu kereta sepanjang perjalanan sambil mengunggah sebuah Instagram story untuk salah satu kliennya, Delight Cosmetics, sebuah brand makeup lokal yang tengah naik daun. 

Setelah itu, ia juga mengunggah Instagram story dengan sebuah selfie manyun yang ia ambil diam-diam di MRT, berikut caption keluhannya: “Capek bener semua orang jalannya LELET [emoji marah] Makanya punya kaki panjang dong!”

Ketika kereta tiba di stasiun tujuan, Jongin pun bergegas keluar. Ia masih harus berjalan kaki sekitar 10 menit untuk sampai ke gedung kantornya, The Elyxion.

Jongin melewati bagian belakang kantor di mana banyak cafe, kios minuman trendy, dan restoran take away berada untuk mampir ke coffee shop kecil langganannya, 24/7 (yang sebenarnya nggak buka 24 jam juga, sih). Sepertinya pagi ini Jongin membutuhkan asupan kafein lebih, sehingga ia memesan segelas besar iced latte dengan extra shot.

Setelah membayar dan mengambil pesanannya, Jongin lanjut berjalan ke lift untuk naik ke lantai 12 di mana kantornya, sebuah PR agency bernama Ex’Act, berada. Kini Jongin sudah berada di dalam lift dan ia menyesap kopinya, namun wajahnya seketika berubah masam.

“Anjing, pait banget,” Jongin mengutuk iced lattenya. Bukannya Jongin nggak kuat minum kopi tanpa gula, tapi sepertinya 24/7 mengganti house blend mereka untuk minuman espresso-based ke blend biji kopi lain yang terasa lebih gosong dan pahit dari biasanya.

Tiba-tiba, terdengar suara seseorang yang sangat familiar.

“Kalo pahit dikasih gula dong, Jong,” Mas Donghae, salah satu vice president Ex’Act, nyengir melihat Jongin yang shocked berat ditegur dirinya.

Duh, kok pagi ini udah banyak banget sih kesialan yang menimpa Jongin.


Jongin akhirnya tiba di kantor Ex’Act. Chanyeol, yang cubicle-nya terletak di sebelah kanan Jongin, tampak sedang mengobrol dengan Yixing, yang berada di sisi kiri Jongin. Mereka berdua adalah gengnya Jongin di kantor: Chanyeol Park adalah senior account executive (AE) di tim yang sama dengan Jongin, sedangkan Yixing Zhang adalah senior AE di tim yang berbeda. Keduanya sudah bekerja di Ex'Act beberapa tahun lebih dulu dari Jongin, yang baru bergabung sekitar dua tahun lalu.

Jongin kini memegang posisi sebagai content manager untuk beberapa klien, dua di antaranya adalah Delight Cosmetics dan Vroom Vroom, sebuah platform jual-beli khusus sparepart otomotif. Namun, karena masih belum mendapat social media manager yang bisa bekerja freelance untuk tim mereka, Jongin hingga kini merangkap posisi tersebut bersama Seulgi, yang juga menjabat posisi yang sama dengannya.

“Kusut bener muka lu,” Chanyeol menyapa Jongin yang kini sudah duduk bersandar di kursinya, masih dengan ekspresi masam. Iced latte Jongin yang terletak di meja kini sudah terlihat seperti air kopi karena es batunya sudah banyak yang mencair.

“Kayak bajunya,” bukannya menghibur, Yixing malah menambah penderitaan Jongin.

“Nggak bisa tidur gueee,” Jongin mengacak-acak rambutnya dengan frustasi, “pengen pindah tapi kasian kalo nyokap sendiri.”

“Kenapa emang? Sirik sama kakak lu?” Yixing bertanya.

“Si Sehun mentang-mentang disayang nyokap gue terus makin ngelunjak di rumah!” Jongin mengeluh, bibirnya manyun. “Kayak nggak pernah bikin salah aja gitu di mata nyokap sama kakak gue!”

Yixing dan Chanyeol tentunya mengenal siapa Sehun dan Junmyeon, mereka pernah bertemu beberapa kali termasuk di acara makan-makan ulang tahun Jongin yang Mama Kim adakan untuk pamer skill bikin nasi tumpeng. Untung nasi tumpengnya beneran enak.

Chanyeol merangkul Jongin dengan ekspresi jahilnya. “Utututu… ada apa, Jongin sayang? Sini dong cerita sama Om Loey.”

Jongin buru-buru melepaskan dirinya dari rangkulan Chanyeol. “Najisss! Nggak mau gue punya sugar daddy kayak lo!”

“Kagak cocok lu jadi sugar daddy, Yeol,” Yixing ikut menimpali, “meskipun muka-muka kayak lo gini cocok buat diporotin, sih.”

“Berarti muka banyak duit, dong?” Chanyeol nyengir lebar.

“Apaan. Komuk lo polos gitu, gampang dipalakinnya,” jawab Yixing, yang lalu menjadi korban tabokan Chanyeol.

“Yaa aminin aja dah,” Jongin berkata seraya menaruh laptopnya di atas meja, lalu membukanya. Entah mengapa, Jongin mempunyai feeling kalau hari itu akan terasa sangaaat panjang.

Seraya menghela napas, Jongin mengecek aplikasi yang ia gunakan untuk menjadwalkan konten media sosial klien yang ia tangani. Ada satu postingan feed Instagram Delight Cosmetics yang baru akan otomatis terunggah jam makan siang nanti, tentang promosi buy 1 get 1 lip tint rilisan terbaru mereka. Ogah banget kena omel Baekhyun kalau sampai telat ngepost!

“Cariin gue pacar dong,” Yixing tiba-tiba meminta tolong kedua temannya.

“Lah, cewek yang kemaren matched di Bumble itu gimana?” Chanyeol bertanya.

Gagal maning, son. Kena ghosting lagi dah gue,” Yixing menghela napasnya.

Pandangan Jongin pun tertuju ke casing handphone Yixing yang sedikit… unik. “Ya lagian lu pake casing hape aja Shaun the Sheep, Bang. Cari yang polos, yang lakik gitu ngapa,” kata Jongin.

“Ih lucu tau! Lo aja yang ga pernah nonton! It’s a cinematic masterpiece, man, ” Yixing membela diri dan serial kartun favoritnya. “Eh tapi, kalo aja dulu abang lu nggak balikan sama si Sehun, udah gue embat kayaknya.” 

Tak lama setelah acara tumpengan tersebut, Junmyeon sempat putus sama Sehun, dan Yixing memanfaatkannya untuk mepet abangnya Jongin yang merupakan primadona di law firm tempatnya bekerja. Kapan lagi punya pacar lawyer handal yang ganteng? Pasti Oma bakal langsung setuju, begitu pikir Yixing saat itu.

Jongin melipat tangannya di dada. “Lu cakep sih Bang, terus jayusnya nyambung, lagi. Tapi mana mau si Sehun ngelepasin abang gue begitu aja, orang ngegebetnya dari SMA.”

Yixing, yang masih saja berusaha mencari pacar bukannya bekerja, bertanya ke Chanyeol. “Yeol, kok si Baekhyun mau sih sama lu? Coba gue satu account sama kalian, bisa sekalian ngemodusin deh.”

Chanyeol tersenyum bangga campur bucin karena merasa beruntung bisa menaklukkan Baekhyun Byun, CEO dan founder Delight Cosmetics yang terkenal paling cakep (cenderung pretty, malah) dan handal dalam berbisnis, namun juga terkenal paling seram. Pokoknya, tim Jongin jangan sampai bikin salah deh kalau nggak mau dicecar jam 12 malam di grup Whatsapp klien dan agency.

“Gini-gini Baekhyun bilang kalo gue tipe dia banget, tau!”

“Oh, sub top gitu maksudnya?” kata Yixing dengan asal.

Wajah Chanyeol memerah karena malu, namun ia tak dapat menyembunyikan senyumnya.

“Anjing,” katanya mengutuk Yixing, yang sekarang malah ngakak. “Kagak gitu, woy! Tanya aja Jongin kalo nggak percaya, orang dia yang nyamperin gue waktu main di Exodus!”

Di tengah kesibukannya di agency, Chanyeol tetap menyalurkan hobi bermusiknya sebagai DJ saat weekend. Nama panggungnya adalah Loey dengan spesialisasi house dan hip hop, ia biasa main di sebuah klub kecil yang lagi hits di kawasan Senopati bernama Exodus. Tapi ia kadang main techno atau city pop, tergantung tema party dan mood DJ Loey saja lah.

“Wah Bang, coba lu waktu itu ikutan kita. Epic banget si Chanyeol tau-tau muter dangdut,” Jongin tertawa mengingat-ingat saat Baekhyun menghampiri sang DJ yang mendadak salah tingkah di balik desk-nya.

“Taeeee. Gile, dari semua pelawak yang pernah gue tonton, kayaknya Chanyeol panik belom ada yang ngalahin lucunya,” Yixing pun ikut tertawa. 

“Ah ya udah sih, yang penting si Baek bilang dia makin naksir gua gara-gara itu,” Chanyeol membela diri. “Katanya gue adorable gitu lho.”

Jongin meledek Chanyeol dengan pura-pura muntah. Chanyeol seketika memutar kursinya untuk menghadap Jongin.

“Jangan sok-sokan nggak mau lu, lu sempet naksir sama gue kan waktu baru masuk sini?” Chanyeol (dengan pedenya) menuduh Jongin.

“Dih kepedean! Orang selera gue yang mungil-mungil gitu kok!” kata Jongin mengelak tuduhan temannya itu.

Yixing dan Chanyeol saling berpandangan penuh arti. 

“Oh… yang mungil-mungil galak kayak Kyungsoo gitu kan, Ni?” Yixing meledek Jongin, yang sekarang gelagapan.

Shit, emang se-obvious itu ya gue naksir bos gue sendiri? Pikir Jongin.

Semua tim (atau account, bahasa ahensinya) di Ex’Act melapor ke Kyungsoo Do, head of business intelligence and analytics. Meskipun Kyungsoo sepantaran dengan Yixing, ia merupakan sosok yang disegani di kantor karena (gosipnya) jenius, lulus sekolah lebih cepat dari usia pada umumnya, kuliah S1 dan S2 di US dengan beasiswa full sampai studinya selesai. Singkat kata, banyak yang ingin menjadi Kyungsoo, namun di saat yang bersamaan banyak juga yang sirik dengannya.

Sebenarnya Kyungsoo bukan bos yang galak, hanya saja orangnya memang serius. Masalahnya, perlakuan Kyungsoo ke Jongin tuh keliatan beda banget kalau dibandingkan dengan dia ke anak-anak Ex’Act lainnya. They’re in no way subtle, duh.

“A-apaan sih?! Gue lagi nggak deket sama siapa-siapa kok!” Jongin berusaha mengelak, namun Yixing dan Chanyeol sudah terlalu curiga.

“Siapa ye satu-satunya orang yang dibeliin KoKoBap paket yang paling mahal pas meeting tempo hari, pake milk tea pula,” selidik Chanyeol. 

KoKoBap adalah chain rice box take away yang cukup terkenal di kalangan pekerja kantor The Elyxion karena harganya yang cukup terjangkau. Menu favorit Jongin adalah Geprek Korea Rice Box yang menggunakan saus gochujang (red pepper) dengan omelette.

Jongin hanya bisa menelan ludah. Memasuki bulan kedua pacaran, ia belum berdiskusi dengan Kyungsoo apakah mereka akan go public dengan hubungan mereka atau tetap backstreet.

“Yaudah deh, adek lu gimana si Sooyoung?” tanya Yixing, yang masih belum juga menyentuh kerjaannya.

“Baru jadian dia sama cowoknya. Aneh gitu sih orangnya, cuma kayaknya baik,” Chanyeol menggumam sambil membalas email dari klien Vroom Vroom.

“Tuhan… di mana jodohku,” Yixing mengeluh sambil bersender dan berputar-putar di kursi kantor berodanya.

“Udeeh, kerja dulu mendingan,” Jongin nyeletuk.

Di tengah keheningan kantor Ex’Act, tiba-tiba handphone Chanyeol berdering nyaring. Ia tersenyum lebar ketika melihat caller ID “Baekhyunee ❤️” dan membuatnya segera mengangkat telpon dari si yayang.

“Halo Ebeeeb. Tumben nel– ” sapaan riang Chanyeol segera terputus oleh teriakan Baekhyun di telpon.

“SI JONGIN SALAH NGUPLOAD STORY!!” 

“Hah?! Oh… “ Chanyeol segera melirik Jongin, yang sedang menyusun kembali content schedule di Google Sheets sambil menghentakkan kepalanya mengikuti irama musik. “Selamat paginya mana?”

“Ihhh kamu sempet-sempetnya ya! Mana orangnya?! Dari tadi nggak ada yang jawab di grup!” Baekhyun terdengar geregetan.

“Ada di samping aku, sih. Tapi masak nggak mau nyapa pacarnya dulu, sih? Met pagi, manis– “

Baekhyun akhirnya memainkan kartu asnya, “Chanyeol Park! No head for you for one month!”  

“E-eh waduh, jangan dong say– eh Baek,” Chanyeol mengubah suaranya agar terdengar serius dan business-like. “bentar ya Mas Baekhyun.” 

Ia lalu menyerahkan handphonenya ke Jongin, “Oi, cowok gue mau ngomong sama lu.”

Jongin menatap Chanyeol dengan penuh tanya, namun tetap menerima telponnya. “Halo Baekhyun?”

“JONGIN, LO NGAPAIN NGUPLOAD SELFIE LO KE AKUN DELIGHT?!” Baekhyun terdengar panik di telpon.

Jongin seketika merasa lemas. “Hah…?”

“Untung tadi udah gue hapus. Kok bisa sih salah account! Pokoknya hari ini Seulgi ya yang megang Delight!” 

Jongin menelan ludahnya. Dimarahi klien sih sudah sering, tapi kesalahan yang satu ini berarti mengekspos siapa mimin akun Instagram Delight Cosmetics ke dunia. “Oh, waduh, iya maaf Baek. Kayaknya tadi gue nggak teliti belom switch account.”

Lima menit kemudian, Jongin merasa energinya terkuras setelah mendengar ocehan Baekhyun. Tak lama setelah Jongin menyerahkan handphone Chanyeol kembali ke pemiliknya, muncullah satu notifikasi dari Slack:

Kyungsoo Do: @Jongin Kim, nanti ke ruangan saya setelah makan siang ya.

“WADUH!” Jongin berseru. Oh no, tandanya nggak bakal ada acara makan siang ngumpet-ngumpet sama yayang hari ini. 

“I’m so fucked,” Jongin mengeluh sambil mengacak-acak rambutnya.

Chanyeol bersiul dengan riang. “Waduh Jongin, mau diapain sama Mas Bos, tuh?” Jongin melirik ke Chanyeol dengan judes, yang tentunya tidak menghentikannya untuk terus menggodanya, “Or should I say, Mas Pacar?”

Okay, that’s it. Jongin segera meraih tasnya dan melangkah keluar workspace Ex’Act tanpa berkata apa-apa lagi.

Yixing dan Chanyeol berpandangan setelah kaget melihat Jongin yang moodnya berubah drastis.

“Bego lu, Yeol,” ujar Yixing.