Work Text:
Seokjin sangat benci dengan takdir yang mengharuskannya kerja paruh waktu sebagai pencuci mobil. Terlebih di hari kerja siang bolong begini, jarang sekali ada orang yang datang untuk cuci mobil. Sudah empat jam ia hanya duduk-duduk dan bermain gim sambil menunggu ada mobil yang datang.
Jika bukan karena ia butuh uang, seratus persen ia sudah pergi dari tempat becek bau mesin itu. Apalagi kelakuan karyawan di sana sangat semena-mena. Mentang-mentang anak baru dan yang termuda, Seokjin sering disuruh menunggu dan mengurus pelanggan seorang diri, sementara mereka pergi entah ke mana. Tapi setidaknya, jika sendirian begini, Seokjin lebih bebas menyetel musik keras-keras tanpa ada yang memarahi atau mengomentari selera musiknya.
Tepat ketika baterai ponselnya sudah merah kekurangan daya, satu mobil sedan hitam memasuki wilayahnya.
Ah, mobil itu.
Seokjin sangat hafal dengan mobil BMW dengan nomor polisi akhir JNK dan pajangan kelinci kecil di dasbornya. Sekali seminggu, mobil itu pasti datang untuk dicuci.
Kendati sering datang, Seokjin tidak begitu sering berbicara dengan pemiliknya. Interaksi mereka hanya sebatas bicara, "Ini kuncinya, Mas Jungkook," dan pemiliknya akan menjawab, "Oke, makasih." Tidak seperti pelanggan lain yang suka menggoda Seokjin, Jungkook lebih sering menunggu sambil mendengarkan lagu atau membaca majalah yang tersedia.
“Siang. Kayak biasa?” sapa Seokjin ramah.
“Iya. Luar dalam, ya. Gue tunggu di sana.” Jungkook menyerahkan kuncinya dan segera duduk di kursi tunggu yang tidak jauh dari tempat pencucian mobil. Tangannya penuh dengan tas dan beberapa barang yang perlu ia selamatkan sebelum mobilnya basah dicuci.
Seokjin segera mengulurkan gulungan selang yang sedari tadi menganggur. “Eh? Aneh banget. Kok airnya enggak keluar?” gumam Seokjin kebingungan. Ia terus menekan-nekan tombol selangnya sambil berdoa airnya keluar.
SRAAT!
Air mendadak menyembur sedikit kencang dari ujung selang. Seokjin sedikit bersyukur airnya sudah keluar, sebelum menyadari selang tersebut mengarah ke Jungkook yang sedang membaca majalah. Panik, Seokjin melempar selang tersebut ke sembarang arah dan segera menghampiri Jungkook.
“Waduh, maaf! Maaf banget, ya. Tadi gue lagi benerin selangnya, tapi enggak nyadar ujung selangnya ngarah ke sini.” Seokjin meminta maaf sambil berulang kali membungkuk.
“Eh, iya. Enggak apa-apa, kok. Gue cuma basah sedikit juga. Nanti juga kering,” ucap Jungkook tidak begitu mempermasalahkan kecerobohan Seokjin.
Seokjin kembali ke mobil Jungkook. Ia membuka satu per satu pintu mobil untuk mengecek ulang jika ada barang yang tertinggal. Seokjin sudah yakin tidak ada barang lagi, kecuali satu kotak berwarna putih yang ada di belakang jok pengemudi.
Gambar vibrator yang terpampang di kotak tersebut dan sekotak kondom di sebelahnya membuat Seokjin berpikir-pikir lagi untuk mengembalikannya ke empunya. Bagaimana jika Jungkook merasa risih karena barang miliknya yang sifatnya privasi, ditemukan oleh pencuci mobil sepertinya?
Tapi Seokjin tidak punya pilihan lain.
"A-anu, maaf. Ini ada … ketinggalan … takut nanti basah kecuci." Seokjin menyerahkan dua barang tersebut. Mata Seokjin masih terpaku pada kedua barang tersebut meskipun sudah berpindah tangan.
"Kenapa liat-liat? Lo baru pertama kali liat ginian?" tanya Jungkook tertawa kecil.
Seokjin menggeleng salah tingkah. Tentu bukan pertama kalinya Seokjin melihat barang itu. Seokjin memperhatikan kotak vibrator tersebut karena merek dan modelnya sama persis dengan vibrator kesukaannya di rumah. Namun, Seokjin tidak mungkin menjelaskan demikian. Tidak pada pelanggannya.
Melihat muka Seokjin memerah, entah kenapa Jungkook jadi ingin mengusilinya. "Lo mau coba nyuci sambil pakai ini? It's clean. Gue emang baru beli." Jungkook menawarkan terus terang.
Seokjin terbelalak. "H–hah? Enggak lah, y–ya kali."
"Yakin?" Jungkook memberikan tawaran untuk kedua kalinya.
Apa daya. Seokjin hanya pekerja paruh waktu bodoh yang tidak mampu membohongi diri sendiri. Pikirannya yang sedari tadi teringat akan nikmatnya vibrator miliknya membuatnya tidak bisa menolak. Lagipula, sekali-kali bolehlah mencoba hal baru: mencuci mobil sambil mengenakan vibrator.
"K–kalau gue pakai ... boleh tolong lo yang atur remote-nya? Karena gue enggak mungkin pegang remote sambil cuci mobil." Seokjin sudah siap minta maaf dan membatalkan tawaran Jungkook jika ia terkesan banyak mau. Bisa-bisanya ia dipinjamkan vibrator dan malah meminta pemiliknya untuk mengaturnya.
"Oke." Alih-alih merasa direpotkan, Jungkook justru senang diberi kendali. Ia membuka kotak tersebut dan menyerahkan isinya pada Seokjin.
"Kalau gitu, gue ke kamar mandi dulu."
Belum dua langkah Seokjin bergerak, Jungkook menghalangi jalan Seokjin. "Pasang di sini juga enggak apa-apa. Enggak ada siapa-siapa, kan. Cuma gue doang."
Seokjin seharusnya menolak karena malu. Tapi, toh ia sudah terlanjur mempermalukan diri dengan menerima pinjaman vibrator milik pelanggannya. Jadi, sekalian saja.
Seokjin lalu menurunkan ritsleting jumpsuit denimnya, melepas separuh bajunya hingga pangkal pahanya yang putih mulus terpampang jelas. Dengan cepat, Seokjin memasukkan vibrator itu ke dalam liangnya sendiri. Tebal dan panjangnya kisaran tiga jari orang dewasa. Seokjin tidak sengaja mendesah ketika vibrator tersebut sudah masuk secara utuh di dalamnya.
Jungkook memalingkan wajah untuk menelan ludah, setengah tidak percaya pencuci mobil langganannya bisa terlihat seseksi itu—bahkan ketika vibratornya sama sekali belum menyala.
"Siap?" tanya Jungkook setelah Seokjin merapikan kembali bajunya seperti sebelumnya. Seokjin mengangguk.
Jungkook menyetel vibrator tersebut dengan level rendah sebagai permulaan. Seokjin tidak bereaksi apa-apa. Ia sudah terbiasa untuk sekadar menahan getaran level satu. Seokjin masih bisa lanjut bekerja sebagaimana mestinya.
"A-ah." Seokjin mulai meringis ketika merasakan getaran di liangnya kini sedikit lebih hebat dari sebelumnya. Level dua.
"Lo enggak mau lepas jumpsuit lo aja? Atau buka separuh?" tanya Jungkook melirik iba tonjolan pada bagian bawah jumpsuit Seokjin yang terlihat sesak.
Seokjin menggeleng. Rupanya masih sedikit waras untuk tidak membuka bajunya di tempat terbuka. Seokjin lanjut menyirami mobil Jungkook.
"Ah, shit!" Seokjin tidak bermaksud mengumpat dalam depan pelanggannya sendiri. Namun ia tidak kuasa menahan nikmatnya getaran di bawah sana yang sudah mencapai level tiga.
Rangsangan yang semakin kuat membuat Seokjin akhirnya menuruti saran Jungkook untuk membuka separuh bajunya. Namun ternyata salah. Dingin dan licinnya air sabun di jendela mobil menempel langsung pada ereksinya, membuatnya semakin gila. Sementara mainan kecil di lubangnya sudah mencapai level tertinggi.
"Ah, fuck, fuck!" Seokjin meremas kencang spons di tangannya ketika ia akhirnya sampai di puncak. Cairannya tumpah di kaca jendela yang baru saja ia bersihkan.
"Yah, jadi kotor lagi, kan," ucap Jungkook mendekat melihat hasil permainannya. "Gimana, sih? Lo yang bersihin, lo juga yang kotorin. Jadi harus kerja dua kali, kan?" tanyanya memalsukan dengan nada kecewa.
Jangankan mengucap kata maaf atas spermanya yang mengotori jendela mobil Jungkook, mengatur napas saja Seokjin sudah tidak bisa.
Jungkook kembali bertanya, "Butuh bantuan?"
"Please … help."
Jungkook berlagak tidak paham. "Ya udah, sini gue bantuin cuci mobilnya." Ia hendak mengambil spons di tangan Seokjin sebelum Seokjin menahan tangannya.
"B-bukan itu … bantu gue–" Seokjin mengarahkan tangan Jungkook pada bokongnya, berharap Jungkook mengerti bahwa ia butuh sesuatu yang nyata di dalamnya.
"Oh, bantu lepasin? Jadi udahan, nih?" tanya Jungkook sambil melepas vibratornya dari Seokjin.
Seokjin melenguh merasakan kehampaan pada lubangnya, sekaligus memberi sinyal pada Jungkook bahwa ia butuh lebih. Ia menundukkan kepalanya di tepi atap mobil, menyembunyikan wajah dan harga diri yang sudah nihil.
"Berarti kalau yang ini udahan, ganti yang asli aja, ya?" Jungkook memainkan ujung jarinya di permukaan lubang Seokjin, menghasilkan ringisan penuh antisipasi dari mulut Seokjin.
"M-mau. Please," pinta Seokjin sudah tidak tahu malu.
Jungkook masuk ke mobil untuk mengambil lubrikan yang tersimpan di laci dasbornya. Sambil menikmati pemandangan si pencuci mobil yang separuh badan cantiknya sudah terekspos, Jungkook mengocok miliknya sendiri.
Satu tamparan mendarat di bokong mulus Seokjin sebelum Jungkook benar-benar memasukinya. "Sambil lanjut cuciin mobil gue. Enak aja lo gue bayar, malah gabut, enak-enak."
Merasa bukan tantangan yang seberapa, Seokjin mengangguk cepat. Apapun akan ia lakukan asalkan ia bisa disetubuhi Jungkook detik itu juga. Keduanya menuang cairan untuk urusan yang berbeda. Jungkook dengan pelicinnya, Seokjin dengan sabun cuci pada sponsnya.
Jungkook mendorong miliknya masuk dalam satu hentakan, disusul pekikan nyaring Seokjin yang sedari tadi berlagak mampu menerima ukuran Jungkook.
"Sempit banget. Gila, ya. Enggak pernah main sama pelanggan lain emangnya, hm?" Seokjin tidak tahu harus menganggap itu pujian atau hinaan. Di satu sisi, ia senang bisa menghimpit milik Jungkook dengan baik. Di sisi lain, Seokjin berani sumpah: semesum-mesumnya ia, tidak pernah terpikir olehnya untuk disetubuhi oleh pelanggannya di tempat kerja, apalagi di tempat terbuka begini. Tapi Jungkook adalah satu-satunya pengecualian.
"Aah, penuh banget. Fu–" Bahkan untuk mengumpat saja, Seokjin tidak sanggup. Konsentrasinya untuk membersihkan mobil pun perlahan buyar.
"Cuci yang bener," perintah Jungkook tepat di telinga Seokjin seraya terus menghantam liangnya semakin cepat.
Seokjin mulai kewalahan ketika tiap dorongan dari Jungkook membuat kedua puting sensitifnya semakin menempel dengan permukaan mobil yang licin dengan sabun. "Aah, enak banget! Engg—enggak kuat. Aah!" Seokjin terus merengek kenikmatan, tidak peduli jika suaranya sampai ke toko sebelah.
Jungkook mendesis pelan ketika otot-otot di sekitarnya konstan menyempit. Jika dari sebelumnya tahu Seokjin senikmat ini, harusnya setiap hari saja ia membawa mobilnya untuk dicuci.
"Ah, Jungk—hah, mau kelu—Ah!" Seokjin sampai lebih cepat dari omongannya sendiri. Cairannya tumpah mengaliri kaca jendela mobil untuk kedua kalinya.
Kepayahan Seokjin tidak pengaruh apa-apa bagi Jungkook. Ia justru membalikkan badan Seokjin untuk melihat betapa cantiknya Seokjin ketika dimabuk orgasmenya sendiri.
Dan Seokjin sudah menyerah dengan urusan cuci-mencuci. Ia menyandarkan pundaknya pada atap mobil, menengadah tak berdaya. "Fuck, aah, gue baru—ahh, baru keluar." Cukup munafik ketika ia protes, tetapi dalam hatinya tetap menikmati.
Jungkook menyeringai. "Peduli setan." Diangkatnya kedua paha Seokjin untuk mempermudahnya menemukan titik kenikmatan Seokjin. Tangannya meraih leher jenjang Seokjin, sedikit menekannya hingga Seokjin tersedak.
Bibir merah Seokjin terbuka lebar ketika gerakan Jungkook semakin liar. Namun, keinginannya untuk mendesah hebat terhalang oleh cengkeraman tangan Jungkook di lehernya.
Kedutan di sekitar Jungkook membuatnya akhirnya melepas genggamannya pada Seokjin. Ia hanya fokus melesakkan miliknya semakin dalam. Nafas dan gerakannya semakin tak beraturan. Pemandangan si pencuci mobil cantik yang keenakan, juga pijatan liangnya membuat Jungkook hampir gila. "Ahh. Gue keluarin di mana?"
"Di dalem. Di dalem aja, please." Seokjin memohon dengan suaranya yang putus-putus. Tenggorokannya sudah kering lantaran mendesah terus-menerus. Tubuhnya semakin bergetar ketika Jungkook mendaratkan lidahnya di telinganya, lalu turun ke dada indahnya. "Ahh, Jungk—enggak tahan. Mau muncrat lagi. Aah!" Rengekannya semakin menjadi-jadi.
Jungkook tertawa. "Lagi?" Mengetahui Seokjin akan keluar untuk ketiga kalinya, Jungkook mempercepat ritmenya.
Desahan keduanya seirama ketika Jungkook melesakkan penisnya hingga titik terdalam, menumpahkan spermanya di lubang Seokjin. Pun Seokjin kembali keluar dengan payah. "Ah, penuh banget." Seokjin kegirangan merasakan cairan Jungkook yang tak tertampung dan menetes di pahanya.
Jungkook perlahan melepaskan persatuan dirinya di lubang Seokjin. Keduanya menyapu peluh masing-masing dan mengatur napas dengan leluasa. Jungkook mendaratkan ciuman penutup pada bibir manis Seokjin.
"Gila," ucap Seokjin yang wajahnya kembali memerah.
"Banget," tambah Jungkook yang masih tertawa mengingat apa yang baru dilakukan keduanya.
Seokjin bangun dan turun dari atap mobil. Ia memakai kembali jumpsuit-nya yang sudah basah keringat dan sabun. "Kalau gue ketahuan dan dipecat, gue tuntut lo, ya."
"Tapi kalau enggak dipecat, boleh dong gue tiap hari ke sini?"
Yah, setelah terus-terusan dibuat melayang seperti barusan, Seokjin mana bisa menolak. Namun, kali ini ia memilih bermain pintar. "Boleh, tapi harganya naik kalau mau yang kayak tadi."
Tawa keduanya pecah mengisi kekosongan tempat cuci mobil itu.
Oh, dan jangan tanya bagaimana nasib mobil Jungkook yang tak kunjung bersih.
