Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2021-05-23
Words:
1,022
Chapters:
1/1
Comments:
2
Kudos:
13
Bookmarks:
1
Hits:
140

Night Changes.

Summary:

“Keabadian hanya memberimu luka, Kai.”

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Senyum ia lontarkan ketika menerima sebuket bunga, setelah menyodorkan dua lembar uang ia melangkah kembali menuju mobil besar berwarna hitam miliknya. Pria jangkung itu menaiki mobil tersebut dan pergi meninggalkan lahan parkir.

Ia mengemudi sambil sesekali melirik kearah buket bunga yang didominasi oleh bunga telang dan mawar merah. Tak sabar untuk memberikannya pada seseorang yang berharga.

 


 


“Aku pulang,”

Hueningkai melepas kedua sepatu kulitnya dan menaruh keduanya di rak tempat sepatu dengan rapi. Setelah itu ia membawa kakinya menuju ruangan.

Ia membuka pintu ruangan tersebut dan tampaklah seorang pria tua yang tengah terduduk diatas ranjang. Kulit yang menua dan keriput, helai-helai rambut yang memutih dan tubuh yang ringkih.

Meski begitu, Beomgyu-nya tetap menawan. 

Hueningkai berjalan mendekati Beomgyu dengan buket yang ia sembunyikan dibalik punggungnya. Beomgyu yang menyadari kehadiran kekasihnya, menoleh. “Selamat datang,”

Suara dan nada bicaranya masih sama, tidak ada yang berubah.

“Kamu nyembunyiin apa?” tanya Beomgyu, sadar akan keberadaan buket bunga yang disembunyikan oleh Hueningkai.

Hueningkai tersenyum, “tadi aku melipir sebentar.” ucapnya lalu menunjukkan buket bunga yang ia sembunyikan.

“Bunga telang dan bunga mawar, cantik seperti kamu.”

Beomgyu menerima buket bunga tersebut dan sontak menghirup aromanya. Senyumnya mengembang namun sayu, “Terima kasih,”

“Aku akan membuka jendela agar udara segar masuk.” 

Beomgyu mengangguk, atensinya masih terpaku pada buket yang didominasi oleh bunga telang dan mawar. Perpaduan warna antara bunga telang dan mawar yang di tata sedemikian mungkin agar terlihat cantik dan menarik.

Jarang-jarang Hueningkai membawakan buket bunga, membuat Beomgyu penasaran. Kenapa harus bunga telang? Bunga ini biasanya dipakai untuk membersihkan mata bayi.

Tapi tidak apa, bunga ini terlihat cantik. Dengan mawar sebagai sandingannya. 

Sweetheart sudah makan?” tanya Hueningkai. Beomgyu menggeleng untuk menanggapi.

“Syukur deh, tadi aku beli bubur. Sebentar ya,” 

Hueningkai melangkah keluar kamar untuk mengambil bungkusan yang sempat ia taruh diatas meja. Ia mengeluarkan isinya perlahan, setelah menyiapkan semua, Hueningkai kembali kedalam kamar.

Ia menarik kursi kayu dan menempatkannya di sebelah ranjang Beomgyu dan duduk diatasnya. “Aku suapin,”

Lagi-lagi Beomgyu tersenyum, Hueningkai sangat lembut dan perhatian kepadanya. Meskipun umur dan waktu telah menggerogoti tubuhnya secara perlahan.

 


 


Sudah genap enam puluh delapan tahun umurnya, dan selama itu Hueningkai menjaganya dengan hati-hati. Beomgyu dibawa oleh Hueningkai ke kediamannya setelah mereka resmi menikah. 

Acara pernikahan mereka hanya dihadiri oleh orang terdekat, lebih tepatnya para pekerja di rumah Beomgyu juga tiga orang sahabat Beomgyu. Setelah pernikahan nya selesai, Beomgyu tak berhenti sesenggukan.

Ia sangat merindukan kedua orangtuanya juga sahabat terdekatnya, Anne. 

Beomgyu marah kepada Hueningkai saat ia tahu pria yang lebih muda darinya menumbalkan Anne untuk keabadiannya. Sangat murka bahkan Hueningkai sampai kelimpungan menghadapi Beomgyu.

Lima tahun lamanya Beomgyu marah, akhirnya mereka berdamai. Jangan tanya karena apa. Sudah lebih dari puluhan tahun kejadian tersebut berlalu, tapi Beomgyu terkadang rindu pada Anne. 

Sweetheart?”

Beomgyu sontak tersadar dari lamunannya, “Ah ..., iya? Kenapa?”

“Hari ini kamu banyak bengongnya, apa ada yang menganggumu?” tanya Hueningkai sembari mengelus surai Beomgyu.

“Tidak ..., mungkin karena sudah tua jadi lebih sering bengong.” 

Saat ini keduanya sedang berada di ruang keluarga, menonton televisi sembari menikmati cemilan. Hari sudah malam, kelelawar beterbangan diluar sana dan  bintang-bintang di langit menyinari bumi.

Mendengar balasan Beomgyu, Hueningkai menggertakan giginya. “Kenapa ... kenapa kamu tidak mau jadi abadi bersamaku?”

“Kita sudah sepakat untuk tidak membahas ini, Kai.”

“Aku hanya heran! Sekaligus kecewa, kau adalah tunanganku, takdirku. Kau memiliki hak untuk hidup abadi, bersamaku. Kalau saja kau memilih untuk hidup abadi, maka tubuhmu tidak akan menua!” semprot Hueningkai emosi.

Beomgyu mengelus pipi pria itu, menenangkannya.

“Aku hanya ingin abadi, bersamamu. Menghabiskan hari-hari penuh canda tawa, suka duka dan juga kasih,” jeda Hueningkai, “Kamu masih punya waktu ... aku bisa mengubah hidupmu yang sebentar menjadi abadi dan juga mengembalikkan kondisi tubuhmu ー”

“Kai, sayang. Look at me.” 

Kedua tangan Beomgyu menangkup pipi Hueningkai dan membuat keduanya saling tatap. 

“Keputusanku gak bakal berubah, aku gak mau kehidupan yang abadi.” ucap Beomgyu tenang.

“Kenapa?”

“Dua kali Kai, dua kali aku kehilangan eksistensi orang yang paling aku sayang. Aku rindu, aku mau ketemu mereka, Kai. Tapi aku gak bisa, mereka udah bahagia di surgaー”

“Kalau begitu jadi abadi, sama aku! Aku bakal selalu ada buat kamu, no matter what.” potong Hueningkai.

Beomgyu menghela napas, ia tersenyum sendu.

“Kehidupan abadi hanya kasih kamu luka, Kai.”

“And you’ll experience that pain, someday.”

 


 


Hueningkai turun dari mobil hitamnya, tak lupa sebuket bunga yang baru saja ia beli dari toko bunga langganannya.

Buket yang didominasi oleh bunga telang dan mawar, di tata sedemikian rupa agar terlihat cantik dan menawan dengan perpaduan warna dari kedua bunga tersebut.

Senyuman terpampang indah di wajah paripurnanya, menanti pertemuannya dengan yang terkasih.

Ia menghentikan langkahnya di depan pusara dengan batu nisan yang masih bersih dan terawat. Tentu saja, kekasihnya layak mendapat tempat peristirahatan terakhir yang rapi dan bersih.

“Good morning, Sweetheart. How’s Nirvana?” sapa Hueningkai lalu berjongkok di sebelah pusara dengan batu nisan bertuliskan Huening Beomgyu.

Ia menaruh buket bunga diatas pusara Beomgyu, senyuman Hueningkai sudah berganti dengan raut sendu.

Hueningkai mendongak ke atas untuk menahan air matanya yang di rasa akan lolos kapan saja. Hatinya tidak bisa menahan sedih setiap kali menjumpai Beomgyu, tepatnya pusara Beomgyu.

Terkadang memori melintas di benaknya secara tiba-tiba, memori saat Beomgyu masih berada di sisinya. Terkadang, suara si manis berdengung di benak Hueningkai, menghantui harinya.

 


“Kai!”

“Kai, sudah makan? Tadi aku beli macaroon, Kai suka macaroon kan?”

“Kai tampan, hanya punyaku!”

 


Hueningkai menunduk. Air mata nya ia biarkan lolos. 

“Kamu bener, hidup abadi cuma ngasih rasa sakit. Ah, how can i continue my life without you, Sweetheart?”

“Setiap hari, setiap saat aku selalu mikirin kamu. Biasanya aku bisa langsung peluk kamu tapi sekarang sudah gak bisa.”

“Sudah gak ada yang bakal nasehatin aku kalau aku makan manis-manis terus, gak ada lagi yang puk-puk aku kalau aku lagi kalut, gak ada lagi yang bakal nyanyiin lagu tidur kalau aku susah tidur.”

“I lost my comfort place, i’m losing you.”

Angin berhembus, menerpa surai Hueningkai. Rumput-rumput ikut bergerak mengikuti hembusan angin, menemani kesendirian Hueningkai. Burung-burung gereja berkicau, tidak merdu namun memekikkan telinga.

Tiga puluh menit Hueningkai singgah di pusara kekasihnya, melepas rindu walau mereka sudah beda dunia. Akhirnya ia berdiri dan memutuskan untuk pulang, walau berat untuk meninggalkan yang terkasih.

“Aku pulang dulu, tunggu aku disana ya, manis.” ucapnya dengan senyuman hangat.

Notes:

Hai, there! Terima kasih sudah membaca cerita ini!