Work Text:
Jimin merangkulnya, mendempet pipi sambil tersenyum. Bolos sekolah malah pergi nonton bioskop. Menghabiskan waktu karena tiga bulan lagi Jimin akan lulus SMA.
Jarinya menggeser linimasa.
Keduanya tiduran di kasur. Foto diambil dari atas, mengekspos kasur penuh buku. Jimin membuatkannya puisi, “Aku mengagumi malam dan siang yang bersama tanpa bertemu muka. Rindunya seberat cinta di kelopak mata.” Ya, Jimin menatapnya dalam.
Menggeser lagi.
Jimin tidur kasurnya. Menginap karena orang tuanya pergi ke luar kota. Dia memberikan ciuman pertamanya saat itu. Bibir Jimin bergetar tapi matanya tetep terpejam. Bibir Jimin seperti jeli. Jungkook suka jeli.
Tapi jelinya dimakan orang.
Belum pasti tapi Jungkook sudah kepalang emosi sampai menghajar pria tersebut. Jimin tak bergerak sedikitpun dari sofa saat pria tersebut terjungkal dan mengaduh keras. Ingin mengumpati. Jimin paling anti membawa orang asing ke kamarnya. Kalau begitu pria tadi sungguh—telponnya bergetar.
“Halo, Kookie-ya? Ka-kamu sedang apa?”
“Makan ramen.”
“Di mana?” Matanya menelusuri jejeran rak Circle-K,
“Ada apa?”
Ada jeda panjang disana. Suara napas Jimin memburu, “Aku—hmm—sepertinya bermimpi kamu kemari, ke Seoul. Ah—Jungkook!”
“Ya?”
“Aku tidak pernah tidur dengan siapapun kecuali denganmu—maksudku, yang menyentuh dikasurku—kau paham kan?”
Senyumnya tersungging. Kenapa mereka berdua tak pernah jujur saja?
