Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-07-20
Words:
8,894
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
10
Hits:
170

Perennial

Notes:

(See the end of the work for notes.)

Work Text:

Chimon melangkah cepat dengan kotak bekal di tangannya, khawatir dengan petang yang hampir berakhir. Ia tidak bisa terlambat mengingat betapa kerasnya lelaki itu terhadap waktu.

Untungnya, jagat masih menyambut doanya. Latihan klub basket di kampusnya baru saja berakhir saat kedua kakinya menginjak tepi lapangan. Sambil mengatur napasnya yang tak beraturan, matanya sibuk mencari lelaki berambut comma hair di sekitar lapangan.

“Sing!”

Si pemilik nama menoleh, lalu melambaikan tangannya. Ia memberikan tanda tunggu tanpa suara, setelahnya kembali berbincang dengan teman-temannya.

Chimon mengangguk pelan meski Sing tak lagi melihat ke arahnya. Sembari duduk bersandar ke pagar pembatas lapangan, ia meremat pelan lututnya yang diperban. Sakitnya baru terasa kembali.

Sekitar tiga puluh menit yang lalu, Chimon hampir tertabrak motor yang melaju cepat. Ia berhasil menyingkir, tetapi keseimbangannya gagal terjaga dan membuatnya terjatuh. Lukanya terbilang ringan, tetapi ia menyempatkan diri untuk mampir ke klinik kampus.

Saat perawat di kliniknya meminta Chimon untuk beristirahat, lelaki itu memilih untuk melanjutkan perjalanan. Ia sudah terlanjur janji membawakan kotak bekal kosong dari kamar Sing.

“Hey.” Sing akhirnya menghampiri Chimon sambil menyeka keringat di dahinya. Begitu tiba di hadapan Chimon, ia menjatuhkan tasnya ke aspal dan melepas jersey-nya, memperlihatkan otot perutnya. “Kelas kamu udah selesai dari jam 5, kan? Kok baru sampai?”

Chimon–yang tanpa sengaja berpapasan dengan otot perut Sing saat bangun dari posisinya–segera mengalihkan pandangannya. Ia berdeham pelan, “Tadi sempat jatuh di jalan, jadinya mampir dulu ke klinik.”

“Kebiasaan ya, suka banget jatuh,” Sing menggeleng pelan, lalu memakai pakaian ganti yang ia ambil dari dalam tas. “Ada yang luka, enggak?”

“Ada, tapi luka ringan aja. Masih aman, kok.” Chimon menjawab dengan cengiran kecil. Selanjutnya, ia menyodorkan kotak bekal yang sedari tadi digenggamnya. “Ini kotak bekalnya. Mau buat apa?”

Sing menerima kotak bekalnya. Selepas memasukkan benda itu ke dalam tas, Sing menyampirkan tasnya ke punggung. “Punya Jan itu, mau aku balikin. Abis ini aku mau ketemu dia, bantuin dia ngerjain tugas.”

Ah, ternyata punya Jan. Lidah Chimon seketika terasa kelu, tak tahu harus merespons apa. Sebagai gantinya, Chimon hanya mengangguk dengan pandangan terkunci ke arah lapangan yang sudah kosong.

“Malah ngelamun.” Sing menepuk lembut lengan Chimon. “Aku pergi duluan ya, mau jemput Jan. Kamu balik sendiri aman, kan?”

Chimon tak mungkin menahan kepergian teman kecilnya itu. Tak ada alasan yang tepat untuk melakukannya. Seperti pajangan kucing di dashboard mobil Sing, Chimon lagi-lagi mengangguk.

“Oke.” Sing mengulurkan tangannya, mengusap pelan kepala Chimon. “Duluan, ya.”

Usapan itu mengakhiri pertemuan singkat mereka. Chimon, dengan degupan yang masih terasa, menatap punggung Sing hingga lelaki itu hilang dari pandangannya. Kini, hanya ada dirinya dan bayangannya yang hampir lenyap dimakan gulita.

 

– Perennial –

 

“Siapa orang paling hebat di hidup kamu?”

“Sing! Sing Harit!”

Chimon tertawa pelan kala memori itu kembali terbesit. Jawaban yang konyol, pikirnya. Meski saat ini terasa memalukan, Chimon kecil tak pernah menyesali jawaban itu.

Bagi Chimon kecil, tak ada figur sehebat Sing Harit.

Ia teman pertamanya, orang pertama yang memberikannya hadiah, orang pertama yang membantunya mengerjakan tugas sekolah, dan bahkan orang pertama yang mengajarkannya cara mengendarai sepeda.

Chimon kecil bisa melakukan banyak hal berkat Sing Harit, bocah pemberani yang serba bisa.

Kendati lahir dari keluarga berkecukupan, Sing tak terganggu dengan latar belakang Chimon. Lelaki itu bahkan sangat dekat dengan ibu panti yang menjaga Chimon sejak kecil karena terlalu sering berkunjung.

Sempurna sudah terasa seperti nama tengahnya. Sing lahir seperti tokoh protagonis dari dalam buku, seperti kesatria yang sengaja diciptakan oleh ibu peri.

Tak ada yang bisa menggantikan lelaki itu, bahkan hingga Chimon beranjak dewasa. Sing masih jadi segalanya dalam berbagai sisi, hanya saja dengan rasa yang turut serta.

Namun, apa pun yang Chimon rasakan, ia sudah bertekad untuk menahan dan menguburnya. Memiliki teman seperti Sing sudah sangat cukup, ia tak berani meminta lebih.

“Chi?” Lamunan panjang Chimon terputus kala mendengar suara dari balik pintu depan. Saat ia menoleh, kepala Sing sudah menyembul. “Belum tidur, kan?”

“Belum, kok.” Chimon mengakhiri posisi berbaringnya di sofa, lalu terduduk dengan tangan yang menopang dagu. Matanya melirik jam dinding sebelum kembali memperhatikan Sing yang tengah melepas sepatu. “Tumben udah pulang jam segini.”

“Malas lama-lama, ada pacarnya Jan. Tiba-tiba datang dia.”

“Lah, terus kamu izin balik duluan?”

“Iya, aku bilang aja Achi sakit. Kalau alasan yang lain, Jan pasti curiga.”

Chimon mendengus. Sebelum ia membuka mulutnya untuk berkomentar, Sing lebih dulu membungkamnya. Lelaki berbadan atletis itu tiba-tiba merebahkan badannya ke atas sofa dan menjadikan paha Chimon sebagai bantalan, membuat yang lebih kecil sedikit terperanjat.

Meski ini bukan kali pertama Sing melakukannya, Chimon masih tak terbiasa. Tak akan pernah terbiasa jika ia masih menaruh rasa terhadap Sing. Khawatir gelagat anehnya terendus, Chimon akhirnya mendorong badan Sing.

“Berat, ah.” Bukannya jatuh, badan Sing justru hanya terguncang karena lelaki itu sibuk menahan tubuhnya. “Kan ada bantal di kamar.”

Sing menggeleng pelan, lalu memejamkan matanya. “Sebentar aja, abis ini aku pindah ke kasur. Numpang tidur, ya.”

Chimon berdecak, tetapi hatinya justru bergemuruh. Malam ini sepertinya akan terasa sangat panjang.

“Kok kayak enggak suka gitu?” tanya Sing. Matanya ternyata sudah terbuka sejak tadi. Saat Chimon menundukkan sedikit kepalanya untuk menatap Sing, lelaki itu sudah mengangkat satu alisnya dengan mata memicing.

“Iyalah, jadi sempit soalnya.”

“Sejak kapan kamu jadi pelit begini?” Sing mengulurkan tangan dan mencubit pipi tirus Chimon, membuat lelaki yang lebih kecil itu mengaduh. Puas dengan cubitannya, Sing akhirnya menyingkir dengan sendirinya. “Kamu enggak punya soda, ya?”

Chimon menggelengkan kepalanya. “Enggak ada, udah dihabisin Nanon.”

Sing yang semula ingin bangun untuk mengecek kulkas mendadak kembali terduduk. Kedua tangannya tiba-tiba dilipat di depan dada, menandakan bahwa lelaki itu mulai serius dengan pembahasannya.

“Nanon lagi? Seberapa sering dia main ke sini?”

“Ya … sering? Kan kita sekelas, jadi sering ngerjain tugas bareng.”

Sing manggut-manggut. “Kayaknya dia suka deh sama kamu.”

Mata Chimon mendelik, terkejut dengan lontaran asal tersebut. Entah dari mana pikiran itu datang, tetapi Chimon sangat yakin bahwa Nanon hanya menganggapnya sebagai teman biasa.

“Kok bisa mikir gitu?”

“Dia sering beliin kamu makan ….”

“Kan kamu juga.”

Sing mengatupkan bibirnya, ada benarnya juga. “Suka ngajak jalan?”

“Kamu juga kan kalau lagi senggang?”

“Suka pulang bareng ….”

“Kamu bahkan suka nginep di sini.” Chimon bersungut. “Kalau bareng terus sama aku, bukan berarti suka, kan? Kamu aja enggak suka sama aku.”

“Aku suka sama kamu.”

Ucapan singkat itu sukses mengacak-acak benak Chimon. Jantungnya bergemuruh tiga kali lipat dari biasanya, sedangkan pikirannya sudah melanglang buana entah ke mana. Apa kini dirinya boleh berharap?

“Sukanya beda tapi, bukan suka yang begitu. Eh, enggak ….” Sing merangkul pundak Chimon, lalu menepuk bahunya pelan. “Lebih ke sayang, sih. Kalau enggak sayang mah udah aku dorong dari dulu ke selokan.”

Sia-sia saja Chimon berharap. Berbeda dengan Sing yang tertawa di tempatnya karena sukses mengejek Chimon, yang lebih kecil justru menyingkirkan rangkulan Sing dan mendorong lelaki itu untuk menjauh.

“Enggak lucu.” Chimon berjalan menjauh, meninggalkan Sing yang termangu. “Aku tidur duluan, jangan lupa kunci pintunya.”

Sing menatap punggung Chimon, masih terkejut dengan gelagat yang ditunjukkan teman setengah masa hidupnya itu. “Padahal yang bagian selokan bercanda, kok dia marah?”

 

– Perennial –

 

Deringan panjang sukses membangunkan Chimon dari tidur lelapnya. Dengan kesadaran yang belum terkumpul sepenuhnya, tangan Chimon menggapai ponsel dari atas nakas.

“Halo?”

“Achi, udah bangun?”

Sing ternyata yang menghubunginya. Mendengar suara yang sudah sangat familiar itu membuat Chimon membuka mata, lalu menoleh ke sisi samping kasurnya. Ternyata lelaki itu memang sudah pergi.

“Kamu ada matkul Fotografi kan siang ini? Tadi aku ketemu Pak Wira, katanya dia enggak bisa ngajar. Paling digeser nanti kelasnya. Kamu tetap ke sini aja ya nanti, langsung ke kantin.”

“Ngapain ke kantin?”

“Makan bareng aku.”

Dahi Chimon mengernyit, bingung dengan gelagat Sing yang tidak biasa. Padahal, mereka terbilang jarang makan siang bersama. Kalaupun mereka bertemu di kantin, Sing pasti sedang bersama teman-temannya.

“Engga ah, di kamar aja.”

“Sebentar aja, sekalian aku mau ngasih buku yang mau kamu pinjam. Nanti malam aku enggak bisa ke kamar kamu soalnya.”

Chimon menghembuskan napasnya pelan, terpaksa mengalah. Setelah mengiyakan permintaan Sing, Chimon akhirnya terbangun dan terduduk di tepi kasur.

Malam tadi, ia tak langsung memejamkan mata. Chimon sempat menangis sebentar, melampiaskan amarahnya yang tak bisa ia luapkan. Ia marah kepada dirinya sendiri, marah karena sempat berani berharap.

Tak sepantasnya ia merasa senang dengan ucapan Sing semalam. Seharusnya ia sadar bahwa Sing tak pernah menganggapnya lebih dari teman dekat. 

Berkat tenaga yang Chimon keluarkan untuk menangis, ia berhasil tidur tanpa khawatir dengan Sing yang ada di sampingnya. Ia terbebas dari belenggu arik semalam.

Baru saja Chimon ingin membuka aplikasi pesan di ponselnya, suara ketukan dari pintu depan terdengar. Tanpa perlu repot-repot mengecek, Chimon sudah tahu siapa pelakunya. Hanya dia yang selalu mengetuk pintu kamarnya.

Selang beberapa detik, pintu kamarnya akhirnya terbuka, menampilkan Nanon dengan kemeja kotak-kotak dan celana loose jeans-nya. Tak seperti perawakannya yang rapi, wajah lelaki itu justru kusut total.

“Kebiasaan Pak Wira, dadakan banget. Bukannya dari malam ngasih tahunya.”

Chimon tertawa pelan sambil melihat ke arah waktu di layar ponselnya. “Masih dua jam lagi kelasnya, kenapa cepat banget siap-siapnya?”

“Ya, lagi pengen aja, kenapa sih.” Nanon merebahkan badannya ke atas kasur, menatap ke langit kamar Chimon. “Mana kelas selanjutnya masih lama lagi.”

“Mau ikut gua aja, engga?” tawar Chimon. “Nanti siang gua mau ke kantin, ketemu Sing. Sekalian makan di sana aja.”

“Oh, ketemu abang kesayangan lu itu,” ejek Nanon.

Chimon spontan memukul perut Nanon, membuat yang dipukul mengaduh pelan. “Dia seumuran gua ya, kenapa juga jadi abang gua.”

“Tapi kan lebih tua dari gua.”

“Gua juga lebih tua dari lu, enggak ada itu lu panggil abang sama sekali.”

Nanon mendecih sambil mengambil bantal yang tergeletak tak jauh darinya. “Males banget.”

“Emang aneh lu mah. Jadi gimana, mau ikut enggak?”

“Ikutlah, males gua sendirian sampai sore.”

“Yaudah, minggir dulu.” Chimon bangun dari kasurnya, lalu mendorong badan Nanon hingga lelaki itu hampir terjatuh.

Nanon yang sudah kepalang kesal akhirnya memukul Chimon dengan bantal. “Kamar mandi lu di luar kocak, apa urusannya sama gua yang rebahan?”

Chimon hanya menanggapi ocehan Nanon dengan tawa. Sambil melihat Chimon yang beranjak pergi, Nanon memeluk bantal yang ia pegang sedari tadi. Belum sempat matanya terpejam, dahinya dibuat sedikit menekuk.

“Bau siapa ini? Kok lain, kaya bukan bau Chimon.”

 

– Perennial –

 

Chimon dan Nanon berjalan beriringan menuju kantin fakultasnya. Sama seperti Nanon, Chimon juga sudah rapi dengan tas selempangnya. Mereka berdua memutuskan untuk menetap di kampus selepas makan di kantin.

Begitu tiba di ambang kantin, kepala Chimon menoleh ke kanan dan kiri, mencari keberadaan Sing. Belum sempat batang hidung lelaki itu terlihat, Nanon sudah lebih dahulu menepuk pundaknya.

“Tuh, ada di situ.”

Chimon mengikuti arah tunjuk Nanon dan mendapati Sing. Benar saja, lelaki itu sedang bersama teman-teman seangkatannya. Baru kali ini Sing mengajaknya makan bersama teman-temannya.

Dari jauh, riuh percakapan Sing dan teman-temannya sudah terdengar. Hal yang sangat biasa, bahkan bagi anak-anak di fakultasnya. Gerombolan Sing memang terkenal bermulut besar, tidak ada yang bisa tenang barang sedetik.

“Sing, ada kesayangan lu itu,” ucap salah satu dari mereka saat menyadari kehadiran Chimon. Laporan itu bahkan disampaikan dengan suara yang besar hingga beberapa orang di sekitar mereka menoleh.

Chimon mati-matian menahan malu sambil mendekat ke meja mereka, sementara Sing menoleh dengan wajah sumringah. Namun, saat menyadari kehadiran Nanon, senyum di wajah lelaki itu langsung sirna.

“Oh, halo, Nanon.”

Nanon mengangguk, menanggapi sapaan Sing. “Halo, Bang.”

“Duduk, duduk. Geser woi kalian.”

Setelah beberapa anak bergeser, Chimon akhirnya duduk di hadapan Sing, sementara Nanon berada di sampingnya. Suasananya terasa sangat kikuk bagi Chimon dan Nanon karena keduanya tak terbiasa bergaul dengan anak-anak angkatan atas.

“Oh, iya.” Sing membuka percakapan, lalu menunjuk temannya satu per satu. “Ini Mond, White, Tay, sama Off.”

Chimon mengangguk ke arah teman Sing satu per satu. “Chimon.”

Mond tertawa saat Chimon memperkenalkan diri. “Udah tahu itu mah. Dari jaman ospek juga siapa yang enggak kenal Chimon.”

Sangat memalukan, tetapi yang dikatakan Mond memang benar. Banyak kakak tingkat yang mengenal Chimon sejak masa orientasi dan semuanya karena Sing.

Lelaki itu dikenal oleh banyak orang sehingga kedekatannya dengan Chimon menarik banyak perhatian. Terlebih lagi, Sing sering terlihat menghampiri Chimon di berbagai kesempatan.

“Kalau yang satunya siapa?” tanya White yang duduk tepat di samping Mond.

“Nanon, Bang. Seangkatan sama Chimon. Izin nimbrung ya, Bang.”

“Oke, dibawa santai aja, ya.” Kali ini Tay yang menyahut, ia berada persis di samping Nanon. Sambil berbicara, tangannya menepuk pundak Nanon pelan.

“Chimon sama Nanon pesan makan dulu aja. Kita udah pesan tadi, tinggal tunggu diantar ke sini.”

Sing menyetujui ucapan Off. Ia melihat ke arah Chimon sambil bersiap bangun dari kursinya. “Kamu mau makan apa?”

Chimon langsung menggeleng saat menyadari niat Sing. “Aku pesan sendiri aja.”

Gapapa, sekalian mau beli minum.”

“Aku belum tahu mau makan apa, jadi mau lihat-lihat dulu.”

“Ehem.” Off memotong percakapan keduanya. “Yang begini bilangnya kagak pacaran coba.”

Ucapan Off sukses mengundang tawa, kecuali dari Chimon dan Sing tentunya. Chimon bahkan menyikut lengan Nanon karena lelaki itu ikut menertawainya.

“Sing sih yang paling aneh. Wajar aja Jan enggak mau sama dia, kelakuannya udah kayak naksir Chimon dari orok,” sahut Mond.

“Ngawur anjir pembahasannya,” potong Sing. “Nanon mau apa? Biar sekalian dipesanin juga.”

“Gua nasi goreng aja satu, Bang. Jangan pedas, ya.”

Sing mengangguk, lalu kembali melihat ke arah Chimon. “Yaudah ayo, sekalian aja jalannya.”

Tak ingin kembali berdebat dan menjadi bahan olokan yang lain, Chimon akhirnya bangun dari kursinya. Ia menepuk pundak Nanon sebentar untuk pamit sebelum mengekori Sing yang sudah berjalan lebih dulu.

Belum lama melangkah, Chimon tiba-tiba kehilangan keseimbangannya. Jika Sing tidak berbalik dan menahan lengannya dengan cepat, Chimon sudah pasti tersungkur ke lantai. 

“Hati-hati jalannya,” tegur Sing sambil membantu Chimon berdiri kembali. “Kok bisa tiba-tiba mau jatuh?”

“Buru-buru tadi jalannya,” ucap Chimon asal. Ia malas ditegur lebih lanjut oleh Sing.

Bukan Chimon namanya kalau enggak jatuh, Sing biasanya akan mengucapkan kalimat itu jika melihat keteledoran Chimon. Pasalnya, Chimon tak hanya sering limbung dengan sendirinya, ia bahkan bisa menjatuhkan barang di sekitarnya.

Untungnya, selama beberapa waktu terakhir, Sing mulai jarang mengomentari Chimon yang terjatuh. Hal yang mulai disyukuri oleh lelaki yang lebih pendek itu.

“Jadi, mau makan apa?”

“Kayaknya nasi goreng aja, yang lain engga ada yang menarik.”

Keduanya pun berjalan menuju kios yang menjual nasi goreng. Setelah memesan, Sing mengeluarkan beberapa lembar uang dari sakunya. Namun, belum sempat uang itu diserahkan, Chimon segera menahannya.

“Aku aja yang bayar.”

“Gapapa Chi, aku aja.”

Chimon menggeleng, kembali menolak. 

“Chimon.” Sing mulai menatap temannya itu dengan serius. “Aku paling enggak suka ya kalau kamu tolak kayak gini.”

“Uang aku masih ada, Sing. Udah cukup kamu bayarin kuliah aku.”

Topik itu lagi. Sing mati-matian menahan rasa kesalnya, merasa tak suka dengan topik yang kembali dibahas itu.

“Aku enggak suka ya kamu bahas ini lagi.”

“Aku juga enggak suka kalau sering kamu bayarin kayak gini.”

Meski pertengkaran mereka tak terdengar begitu keras, beberapa orang yang lalu lalang sukses dibuat menoleh. Dari jauh, teman-teman Sing dan bahkan Nanon pun menyadari adanya sesuatu yang tak biasa.

“Serius kamu mau bahas di sini?”

“Kamu sendiri kan yang pernah janji buat enggak asal ngeluarin duit lagi kayak gini. Kenapa dilakuin lagi?”

Suara Chimon tak meninggi, tetapi ucapan itu cukup menusuk hati Sing. Baru kali ini Chimon berani membalas ucapannya dan ia tak suka akan hal itu.

“Apa salahnya sih Chi bayarin kayak gini doang?”

“Sepele banget ternyata ya, Sing?”

“Ya, emang sepele kan? Kamu yang perbesar sendiri.”

Tutur Sing berhasil membawa pilu. Ternyata, sebesar apa pun perjuangannya, orang seperti Sing yang selalu ada di sekitarnya pun tak bisa menghargai itu. Sebelum air mata jatuh dari pelupuk matanya, Chimon berjalan meninggalkan lelaki itu.

Samar-samar ia bisa mendengar beberapa orang menanggil namanya. Seberapa besar suara itu memanggil namanya, Chimon tak bisa menghentikan langkahnya. Tidak dengan air mata yang mulai turun membasahi wajahnya.

 

– Perennial –

 

Chimon terlambat kuliah dua tahun.

Memakai almamater yang sama dengan Sing terasa seperti mimpi yang sulit digapai, tetapi Chimon tak berhenti berharap. Meski ia terus ditolak dalam berbagai pengajuan beasiswa, asanya masih terpupuk.

Maka dari itu, Chimon mati-matian bekerja selama dua tahun. Ia menyewa tempat tinggal kecil selepas keluar dari panti, lalu mengambil tiga hingga lima pekerjaan sekaligus selama dua tahun. Semuanya ia lakukan, mulai dari menyajikan minuman di kafe, mengantar paket, hingga menjadi pramusaji di sebuah restoran.

Sing tahu seberapa besar perjuangan Chimon. 

Meski Sing sangat menghargai usaha Chimon, ia tak bisa terus-terusan melihat lelaki itu kesulitan. Ia sempat menawarkan diri untuk meringankan biaya kuliah Chimon, tetapi bantuan itu langsung ditolak. Chimon tak mau bergantung pada Sing seumur hidup.

Setelah berhasil mengumpulkan uang, yang diyakini cukup hingga tiga semester, Chimon akhirnya mengikuti tes lagi untuk berkuliah. Untungnya, ia berhasil diterima. Namun, sebelum resmi berkuliah, Chimon sudah berpikir untuk kembali bekerja.

Ia berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, mencari kafe atau restoran di sekitar kampus yang sekiranya menerima mahasiswa untuk bekerja paruh waktu.

Sing, yang mengetahui rencana Chimon, tak menunjukkan kesepakatannya. Bagi Sing, berjuang selama dua tahun terakhir sudah sangat cukup. Ia tak mau melihat Chimon bersusah payah selama menempuh pendidikannya.

Oleh karena itu, tanpa bertanya untuk kali kedua, Sing langsung melunasi seluruh biaya kuliah Chimon.

Bukannya bersyukur dan berterima kasih, Chimon justru marah ketika mengetahuinya. Ia mati-matian menghubungi pihak kampus, meminta biaya yang dibayarkan pihak lain untuk dikembalikan. Sayangnya, pihak kampus tak mengindahkan permintaannya.

Seberapa besar amarahnya melanda, Chimon tak pernah bisa memaki Sing. Ia hanya bisa menangis hingga Sing diliputi rasa bersalah. Saat itu, Sing berjanji bahwa ia tak akan pernah mencampuri urusan pengeluaran Chimon lagi.

Namun, janji itu dipatahkan kali ini. Meski hanya sekadar bantuan makan, itu akan tetap terhitung sebagai bantuan bagi Chimon.

Dan lelaki kecil itu tak menyukainya. Semakin banyak bantuan yang Sing berikan kepadanya, semakin besar juga kasihnya harus pupus.

Untuk kali pertama, Chimon berharap tak pernah berteman dengan Sing. Sepertinya, orang yang terlahir dengan sendok emas tak akan pernah bisa mengerti seperti apa rasanya memikul beban karena bantuan kecil dari orang lain.

Setelah beberapa jam menangis, kepala Chimon mulai terasa nyeri. Air matanya tak lagi berderai, tetapi pikirannya mulai dilanda kobaran. Tahu-tahu ia sudah dilanda beribu kegetiran.

Ia menyesal telah meninggalkan Nanon, khawatir dengan tanggapan teman-teman Sing setelah melihatnya angkat kaki tanpa pamit, dan bertanya-tanya apakah tindakannya tadi cukup berlebihan.

Pikirannya yang beradu dan begitu pelik itu membuat Chimon berteriak, melampiaskan reaksinya pada kehampaan. Sesudah mengacak-acak rambutnya dan menendang-nendang udara, Chimon mengeluarkan ponselnya dari saku celana, berniat mengutarakan maaf kepada Nanon.

Setelah mengetuk layar, deretan notifikasi langsung membubuhi pandangannya. Ada sepuluh panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk dari Sing. Tanpa membuka ruang obrolannya, Chimon membaca pesannya satu per satu dari bagian notifikasi.

Chi, aku minta maaf ya.

Maaf aku udah kelewatan.

Aku minta maaf banget.

Kamu pasti nangis ya? Maaf jadi bikin kamu nangis.

Aku jadi gak tenang mau basket.

Aku ke kamar kamu ya nanti malam.

Belum sempat ia mencerna timbunan pesan itu, sebuah panggilan masuk terpampang di layarnya. Tanpa berpikir dua kali, Chimon segera mengangkatnya.

“Sumpah, lu bikin khawatir banget. Lu gapapa?”

Suara itu langsung terdengar tanpa mengizinkan Chimon menyapa lebih dulu. Sambil terkekeh kecil, Chimon melipat tangannya dan menutupi mata dengan lengannya.

“Aman kok, aman. Sorry banget jadi ninggalin lu tadi.”

“Bagus, deh.” Ada jeda dalam suara Nanon. “Tapi beneran, kan?”

Chimon tertawa hambar mendengar pertanyaan berulang Nanon.

“Si anjir, gua serius ini. Malah ketawa.”

“Beneran aman. Gua malah yang enggak enak karena ninggalin lu sendiri.”

“Yailah, gua bukan anak kecil. Enggak usah mikirin apa-apa, pikirin dulu aja perasaan lu.”

Rasa sendu kembali meliputi. Padahal, beberapa detik lalu Chimon yakin bahwa dirinya sudah baik-baik saja. Sambil mendengar ucapan Nanon berikutnya, Chimon berusaha kerasa mengatur napasnya.

“Gua enggak akan nanya lu ada masalah apa. Tata dulu aja perasaan lu pelan-pelan, enggak usah mikirin soal kelas hari ini juga. Kalau ngerasa udah berat dan enggak bisa dipikul sendiri, cari gua. Lu bisa ceritain semuanya ke gua. Gua ada di sini, enggak akan ke mana-mana.”

Suara Chimon tak lagi terdengar, hanya ada keheningan yang menyapu waktu. Ketika Nanon ingin memastikan lagi bahwa Chimon baik-baik saja dan masih berada di ujung panggilan, lirih isakan mulai terdengar.

Kali ini, bukan hanya eluh yang berderai dari pelupuk mata Chimon, tetapi juga letih yang tertimbun selama bertahun-tahun. Keduanya pergi menanggalkan riak ego yang selama ini Chimon jaga. Ia tak lagi bisa menahannya.

 

– Perennial –

 

Suara petikan gitar masih terdengar meski jam sudah menunjukkan pukul satu malam. Tak seperti dua puluh menit sebelumnya, senarnya kini dimainkan dengan acak hingga menimbulkan nada yang tak beraturan.

Begitu terus hingga sebuah buku terlempar, mengenai sang pemain gitar.

“Aduh!”

Sing berhenti memetik sinarnya dan berganti mengelus bagian belakang kepalanya. Setelahnya ia menoleh, melihat ke arah Mond yang berdiri di ambang pintu dengan tangan yang berkacak pinggang.

“Lu bisa liat jam, enggak?”

Bibir Sing mengerucut sambil menaruh gitar Mond ke atas karpet. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk mengembalikan semangat hidupnya. Rasanya, dirinya hanya mengawang selama beberapa minggu ini.

Tak sampai semenit kemudian, suara yang nyaring kembali terdengar. Kali ini bukan dari senar yang dipetik dengan asal, tetapi dari laring yang tak bersalah. Mond akhirnya kembali keluar dari kamarnya, kali ini dengan buku yang lebih tebal.

“Sumpah, lu pergi sekarang. Pergi atau gua lempar lagi pakai buku? Mending lu ke kamar White deh, jangan di sini.”

Sing kembali memajukan bibirnya setelah berteriak tanpa sebab, seolah-olah menunjukkan kesedihan mendalamnya. “Enggak dibukain pintunya.”

“Ya, elu-nya tolol. Siapa yang mau bukain pintu kalau lu berisik mulu kayak gini tiap malam?” Mond akhirnya membuka pendekatan baru. Alih-alih menimpuk kepala Sing untuk kedua kalinya, ia memilih duduk di sofa. “Sekarang lu cerita deh ada apaan.”

“Apa yang kenapa?”

Mond yang sudah kepalang gemas akhirnya menumbuk kepala Sing dengan kepalan tangannya sendiri, membuat sang pemilik kepala mengaduh lagi. “Lu tuh jadi begini setelah Chimon ngilang. Lu berdua ribut kenapa gua tanya?”

“Wajar enggak sih gua uring-uringan? Chimon selalu ada di sekitar gua selama sepuluh tahun, tapi dia tiba-tiba aja hilang selama hampir sebulan. Dihubungin enggak bisa, kamarnya juga kekunci.”

“Enggak menjawab, dodol. Ditanya apa, jawabnya apa.” Mond mendengus, mencoba bersabar dengan tingkah temannya itu. “Lu abis ngapain sampai Chimon ngilang begitu? Kalian ribut soal apa waktu di kantin?”

“Gua cuma mau bayarin makanan dia, tapi dia malah bahas soal uang kuliahnya yang gua bayarin, terus gua ….”

“Hah? Gimana?”

Sing terdiam sejenak, mencoba membaca ekspresi Mond yang langsung berubah. Setelahnya, ia berujar pelan, “Gua bayarin uang kuliah dia.”

“Lu gila, ya?”

“Gua bayarin enam semester aja kok, sisanya ….”

“Enam semester, Sing Harit?” Mond memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya, tak tahu harus marah atau mencekik orang yang duduk di lantai kamarnya itu. “Gua tau lu kaya, tapi bukan begitu cara kerjanya, anjir. Dia juga masih ada orang tuanya kan yang bisa biayain dia.”

“Dia enggak punya orang tua.”

Mond tak henti-hentinya dibuat terperanjat. Mulutnya bahkan terbuka lebar, tak tahu harus mengatakan apa lagi. Kali ini, Sing benar-benar harus dipukul.

“Mana buku yang tadi gua lempar? Sini, kali ini gua bikin bonyok beneran lu.”

“Salahnya di mana? Gua cuma mau bantuin dia kok, enggak ada niat yang lain. Gua udah anggap dia kayak keluarga gua sendiri.”

“Gini ya, anak mantan menteri.” Mond mencengkeram kuat bahu Sing sebelum kembali menjelaskan. “Enggak semua orang hidupnya kayak lu yang bisa dapat apa pun dengan mudah dan mungkin Chimon salah satunya. Enggak semua orang mau dibantu dengan cuma-cuma, Sing.”

“Jalan kerja dunia enggak semudah yang lu bayangkan, Sing. Sebagai teman, tugas lu tuh cuma dua, dukung semua yang dia lakuin atau kasih dia bantuan ketika dia minta. Lu pasti ngebantu dia juga tanpa dia minta, kan? Ketebak orang kayak lu, mah.”

“Susah, Mond. Lu enggak ngerasain soalnya. Gua tuh selalu mau ngasih yang terbaik buat dia, gua selalu mau mempermudah jalan dia. Tanpa dia minta pun gua akan ngasih cuma-cuma.”

“Soalnya perasaan lu lain, monyet. Bukan teman doang.”

Mond akhirnya melepaskan cengkeraman tangannya. Di saat wajahnya masih serius, Sing justru tertawa karena kalimat yang menurut Mond tidak lucu sama sekali.

“Lucu banget lu. Kenapa sih demen banget jodoh-jodohin gua sama Chimon?”

“Kagak ada yang jodohin, lu sendiri yang nunjukin.”

“Lah, gua mah suka sama Jan. Kalau enggak suka sama dia, ngapain gua rela nunggu dia putus sama pacarnya?”

“Beda, Sing. Beda.” Mond bangun dari sofanya, lalu berjalan ke arah kulkas untuk mengambil sekaleng soda. Sambil membuka kalengnya, ia menatap ke arah Sing yang tak terima dengan pernyataannya. “Sekarang gua tanya, selama hampir empat minggu ini lu lebih banyak ngomongin Chimon atau Jan?”

“Chimon, tapi kan ….”

“Lu lebih stres pas Chimon enggak ada atau pas Jan enggak ada?”

“Mond, logikanya enggak ….”

“Lu lebih pilih Chimon yang hilang dari hidup lu atau Jan yang hilang dari hidup lu selamanya? Pilih dah salah satu.”

Sing berhasil dibuat bungkam. Kali ini, pertanyaan tersebut cukup membuat batinnya berseteru, memikirkan jawaban apa yang tepat. Seberapa keras ia meyakini bahwa dirinya tak menyukai Chimon lebih dari teman, ia tetap bergidik saat membayangkan tak ada Chimon di hidupnya.

“Kata gua mending sekarang lu balik ke kamar, pikirin matang-matang soal perasaan lu. Lu udah dewasa, Sing, jadi harusnya lu juga sadar kalau tindakan lu ke Chimon itu lebih dari sekadar teman.”

 

– Perennial –

 

“Kalau kita bukan teman, pasti kamu udah aku pacarin, Chi.”

“Aneh. Ada banyak orang di luar sana padahal yang bisa kamu pacarin.”

“Iya, tapi enggak ada yang kayak kamu.”

Sing mengingat kembali percakapan lawas itu. Meski Sing melontarkan isi pikirannya itu dengan asal, ia sempat mereka beberapa adegan di kepalanya, membayangkan apa yang akan terjadi jika Chimon menjadi pacarnya.

Ketika hal itu ia lakukan, tak ada yang terasa ganjil. Sebaliknya, ia justru merasakan adanya sesal yang menjalar. Sing tak mengerti dengan perasaannya saat itu, bahkan hingga di titik Chimon mengabaikannya.

Ada banyak orang yang mendekati Sing dan ia bisa memilihnya kapan pun. Ada yang cantik, ada yang tampan, ada yang baik, bahkan ada yang kaya. Namun, tak ada yang seperti Chimon.

Setiap kali ia mendekati seseorang, tanpa sadar ia akan membandingkan orang itu dengan Chimon.

Chimon tak pernah membuatnya menunggu lama saat mereka ingin bepergian, Chimon selalu ingat bahwa ia tak suka makanan pedas, Chimon selalu ada di sampingnya saat ia sakit, Chimon tak pernah menuntutnya untuk selalu bisa, dan masih banyak lagi.

Selain itu, ia membenci orang yang tak menyukai Chimon.

Saat Sing mengencani seseorang, ia akan menjadi pribadi yang terbuka. Lelaki itu akan menceritakan banyak hal tentang kehidupannya. Nahasnya, sebagian besar kehidupan Sing dipenuhi oleh Chimon. Tak ada kisah yang diceritakan tanpa ada Chimon di dalamnya.

Achi ini, Achi itu, Achi begini, Achi begitu.

Semuanya hampir tentang Chimon. Pada akhirnya, orang yang mengencani Sing akan berakhir membenci Chimon. Pilihannya hanya dua, pasrah dan bersabar dengan kedekatan keduanya atau meminta putus.

“Pacaran aja sana sama Chimon.”

Sing hampir sering mendengar pernyataan itu dari orang di dekatnya, tetapi mengapa ia tak pernah sadar?

Sing menggeleng, masih tak terima dengan pikirannya. Ia tak pernah menyukai Chimon lebih dari teman. Jika ia ada rasa dengan Chimon, ia pasti sudah menyadarinya sejak lama. Lagi pula, ia masih ada rasa ketertarikan dengan orang lain, seperti Jan misalnya.

“Abang Sing?”

Kepala Sing terangkat dan lamunannya lenyap. Tanpa disadarinya, kelas yang seharusnya dihadiri Chimon sudah berakhir dan beberapa anak sudah pergi meninggalkan kelas.

“Eh, Nanon.” Mata Sing melirik ke dalam kelas, mencari keberadaan temannya yang sudah lama hilang. “Chimon masih belum masuk kelas?”

Nanon mengangguk sambil menggaruk tengkuknya. “Iya, Bang. Chimon izin kelas lagi.”

Dahi Sing mengernyit, bingung dengan jawaban Nanon. Ini sudah sebulan Chimon menghilang dan artinya dia sudah melewatkan kelas lebih dari tiga kali. Sejak kapan kampusnya mengizinkan siswa untuk izin lebih dari tiga kali?

“Serius?” Nanon kembali mengangguk, tak memberikan penjelasan lebih lanjut. “Kamu juga enggak tahu dia di mana?”

Nanon menggeleng cepat. “Enggak tahu, Bang. Tapi tadi dia telepon, katanya dia mau ketemu Abang besok malam di kamarnya.”

“Chimon ada di kamarnya sekarang?”

“Kayaknya belum, Bang. Tadi pagi masih kekunci pintunya.”

Sing hanya bisa mengangguk pasrah. Fakta bahwa Chimon tak mengabarinya sama sekali dan lebih memilih menghubungi Nanon membuat dirinya sedikit terpukul. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada itu.

Thanks ya, Non.”

 

– Perennial –

 

Selama sepuluh tahun bersama, Sing pernah tak bertegur sapa dengan Chimon selama dua pekan. Itu pun terjadi karena Sing harus fokus pada ospeknya. Kala itu, jarak dua jam dari kampus ke tempat tinggal Chimon terasa cukup jauh.

Namun, rindu yang menggerayangi Sing jauh lebih melelahkan. Akhirnya, selama dua tahun tak berada di lingkungan yang sama, Sing akan mengunjungi Chimon setiap akhir pekan. Begitu terus hingga Chimon memberi kabar bahwa ia diterima di kampusnya.

Meski dua pekan tanpa Chimon terasa sangat panjang, Sing tak pernah gugup ketika bertemu lagi dengan temannya. Namun, kali ini terasa berbeda. Ia sudah kalut tanpa sebab selama menunggu lift tiba di lantai asramanya hingga menekan buku telapak tangannya tanpa sadar.

Achi udah enggak marah, kan?

Saat pintu lift terbuka, Sing segera masuk ke dalam, lalu menekan tombol lantai kamar Chimon yang sudah tertanam di luar kepalanya. Setelah pintu lift tertutup, Sing melihat ke arah pantulan dirinya dan tanpa sadar mengomentari pakaiannya.

Ini terlalu rapi enggak, ya? Biasa aja kan, ya? Achi ngerasa aneh enggak ya nanti?

Ya, Sing berdandan untuk pertama kalinya hanya untuk menemui Chimon. Selepas kelas sorenya berakhir, ia langsung pulang dan mandi, lalu berganti pakaian. Hal yang tak pernah ia lakukan sebelumnya, terlebih hanya untuk datang ke kamar Chimon.

Apa sekalian nginep aja ya nanti?

Sing menggelengkan kepalanya dengan cepat. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar tak karuan karena membayangkan dirinya tidur di kamar Chimon. Ia refleks menampar pipinya beberapa kali untuk menyadarkan dirinya hinggu pintu lift terbuka.

Sembari melangkah menuju kamar Chimon, Sing meyakinkan dirinya bahwa tak ada yang berubah antara dirinya dan Chimon. Semuanya akan tetap sama seperti sepuluh tahun terakhir. Chimon akan terus ada di sampingnya, begitu pun sebaliknya.

Ia hanya perlu meminta maaf, lalu mereka akan kembali berteman seperti biasanya.

Sing menghembuskan napasnya begitu tiba di depan pintu kamar Chimon. Untuk pertama kalinya, Sing mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum membukanya.

“Chi? Kamu ada di dalam?”

Tidak ada sahutan. Setelah beberapa waktu dimakan keheningan, suara pertama yang terdengar adalah barang jatuh dari kamar Chimon. 

“Chi?” Sing mengetuk pintu lagi dengan tidak sabar. Pada ketukan kesembilan, pintu akhirnya terbuka, memperlihatkan orang yang selama ini Sing cari. Rasa resah yang sebelumnya meliputi mendadak hilang saat wajah yang ia nantikan muncul kembali.

“Maaf lama, aku ….”

Belum sempat Chimon mengakhiri ucapannya, tubuhnya tiba-tiba tersentak karena Sing yang memeluknya dengan erat. Tanpa sadar bibir lelaki yang lebih mungil itu terangkat, tersenyum karena gerakan mendadak itu.

“Maafin aku.”

“Aku udah enggak marah kok.”

Alis Sing sedikit terangkat mendengarnya. Ia menghentikan pelukannya, lalu bergerak mundur untuk menatap Chimon. “Serius? Terus kenapa kamu hilang lama banget?”

“Ada yang harus aku urus.” Chimon menjauh dari tubuh Sing, kembali masuk ke dalam dengan tempo yang sangat lambat. “Maaf aku enggak ngabarin, ya.”

“Kamu ngurus apa sampai harus ngilang sebulan? Kamu bahkan bolos kelas, Chi.”

Chimon masih berjalan dengan lambat, kali ini dengan kepala yang menoleh ke arah Sing, memberikan isyarat ke lelaki itu untuk masuk dan menutup pintunya.

“Ibu panti sakit, jadi aku bantu.” Chimon akhirnya mendudukkan dirinya ke sofa. “Kamu tahu kan banyaknya.”

Sing mengangguk, paham maksud Chimon. Anak di panti memang ada banyak dan Sing bisa memaklumi itu. Namun, ada yang aneh. Sing menyadari ada yang berubah dari Chimon, tetapi ia tak bisa menyebutkannya.

Pada akhirnya, Sing memilih untuk duduk di samping Chimon, mengabaikan pikirannya yang sempat melanglang buana.

“Sekarang gimana? Masih ada yang diurus?”

Chimon tak menjawab. Ia sibuk memandang ke arah lain, seolah menghindari tatapan Sing. Sebelum Sing kembali berbicara, Chimon menghembuskan napasnya pelan.

“Aku sempat jatuh.”

“Hah?” Sing memperhatikan Chimon dengan seksama, mencoba mengikuti arah pembicaraan temannya itu. “Jatuh gimana?”

“Pas di panti, jatuh di tangga. Jadi aku harus pakai kursi roda.”

“Kamu serius?”

Ketika Chimon mengangguk, Sing segera mengedarkan pandangannya. Benar saja, ternyata ada kursi roda di depan pintu kamar mandi.

Sing seketika merasa tak berguna. Di saat dirinya terluka, Chimon selalu ada di sampingnya. Namun, kali ini, ketika Chimon terluka dengan keadaan yang tidak terbayangkan, ia tak ada di sisinya.

Dengan pandangan yang sendu, Sing meraih tangan Chimon. Ia memijat  jari-jemari Chimon sambil menahan tangisnya.

“Sakit, ya? Terus kenapa tadi masih bukain pintu sambil berdiri?”

“Aku mau coba aja tadi.”

Sing mengusap pelupuk matanya, tak ingin menangis. Tak biasanya ia menjadi pribadi yang cengeng seperti ini. Entah mengapa, membayangkan Chimon terluka seorang diri membuatnya tak kuasa menahan air mata.

“Besok kamu ke kelas?” Chimon mengangguk sebagai tanggapan. “Besok aku antar.”

“Engga usah, Nanon mau ….”

“Aku aja, besok aku enggak ada kelas.”

Tampaknya, Chimon tak bisa membantah lebih lanjut. Ia pun hanya bisa mengangguk, masih dengan tangan yang digenggam oleh Sing. Sepertinya, ia tak perlu merasa sendiri selama beberapa waktu ke depan.

 

– Perennial –

 

Sejak Chimon memakai kursi roda, Sing tak pernah meninggalkan lelaki itu. Ia akan mengekori ke mana pun si kecil pergi, baik sekadar pergi ke kamar mandi atau menuju kelas. Sing senantiasa membantu Chimon dalam mendorong kursi rodanya.

Sing juga tanpa sadar sudah menetap di kamar Chimon, hampir menjadikan kamar itu sebagai miliknya. Barangnya sedikit demi sedikit mulai berpindah karena Sing selalu ada di samping Chimon, mulai dari bangun tidur hingga mereka terlelap lagi.

Awalnya, Sing hanya bertekad mengantar Chimon setiap kali ia ingin bepergian keluar kamar. Namun, saat menyadari bahwa kecerobohan Chimon telah bertambah hingga lima kali lipat, Sing tak bisa dibuat tenang.

Sejak memakai kursi roda, motorik Chimon terlihat sangat buruk. Ia semakin sering menjatuhkan barang, bahkan ketika lelaki itu hanya ingin mengambil gelas untuk minum. Entah sudah berapa banyak barang yang Chimon pecahkan karena kecerobohannya semakin tak terkendali.

Namun, tak seperti beberapa bulan lalu, Sing tak pernah melontarkan komentar lagi. Jika dahulu Sing akan menegurnya dan memintanya untuk berhati-hati, kini Sing hanya akan memungut pecahan barangnya dengan serius sambil memastikan tak ada sisa yang bisa terinjak.

Sing juga menjadi pribadi yang lebih protektif. Setiap kali Chimon ingin pergi meninggalkan kamar atau kampus seorang diri, Sing akan menahan kursi roda lelaki itu dan tak membiarkannya pergi ke mana pun.

Ia tak pernah mengizinkannya, tetapi tidak untuk kali ini. 

Saat Sing ingin mengantar Chimon kembali ke kamarnya, Nanon tiba-tiba datang menghampirinya, meminta izin untuk mengajak Chimon ke suatu tempat. Alasannya karena mereka ingin mengerjakan tugas bersama.

Awalnya, Sing ingin mengantar keduanya ke tempat tujuan, memaksa ikut. Namun, ketika Chimon berkata bahwa ia hanya ingin pergi berdua bersama Nanon, Sing tak bisa menolak permintaan itu.

Sepertinya, Sing juga perlu waktu untuk diri sendirinya.

“Sing, sehat lu?” Begitu sapaan yang Sing dengar kala dirinya tiba di belakang kampus, menghampiri teman-temannya yang sedang bersantai sembari menunggu kelas berikutnya.

“Apa dah, kayak enggak pernah liat gua aja,” sahut Sing.

White menepuk pundak Sing, mengajak lelaki itu untuk duduk. “Chimon ke mana? Biasanya abis kelas udah ngacir aja lu pergi buat nemenin dia.”

“Lagi sama Nanon. Ada tugas yang mau dikerjain katanya.”

“Oalah.” Tay tertawa meledek. “Pantesan lesu, dia ternyata yang ditinggal.”

“Giliran ditinggal aja baru nyariin kita.”

Ucapan Off berhasil mengundang tawa, tetapi tidak dari bibir Sing. Lelaki itu sibuk mencibir, tak terima dirinya menjadi bahan ejekan.

Setelahnya, dunia terasa sunyi bagi Sing karena lelaki itu tenggelam dalam pikirannya, terisolasi dari bising yang ada di sekitarnya. Hari-hari Sing sudah terasa datar selama beberapa minggu ini, tetapi tak ada kekecewaannya di dalamnya.

Sing menikmatinya karena ada Chimon di dalamnya. Ia bahkan lebih sering memikirkan Chimon dibandingkan dirinya akhir-akhir ini, seperti tak rela mengabaikan si kecil meski sesaat. Rasanya, Sing bisa kehilangan Chimon kapan pun jika ia berhenti memikirkan lelaki bermata almond itu. 

“Sing, ayo temanin gua ke kantin.”

Sing mengangkat kepalanya, melihat ke arah Mond yang sudah berdiri di depannya. Awalnya Sing ingin menolak karena tak ada tenaga untuk melangkah kembali, tetapi Mond memberikan isyarat untuk meninggalkan teman-temannya yang lain.

Sepertinya, ada yang ingin lelaki itu bicarakan.

Pada akhirnya, Sing bangun dan mengekori temannya itu. Dengan rasa enggan yang masih menyelimuti, Sing hanya berjalan sambil memandangi jalanan dengan pandangan yang kosong.

“Gimana soal obrolan kita waktu itu? Udah lu pikirin?”

Sing mencoba menerka obrolan mana yang Mond tuju karena mereka sudah jarang menghabiskan waktu bersama. Selama lebih dari sebulan ini, Sing lebih banyak menghabiskan waktunya dengan Chimon.

Ah, soal Chimon.

“Udah.” Ada jeda di sana. “Kayaknya ada yang salah.”

Dahi Mond dibuat mengernyit, sementara matanya sedikit mencerling. “Apa yang salah?”

“Gua enggak bisa nemuin perasaan yang lu maksud. Selama sebulan ini, perasaan gua masih sama aja ke Chimon.” Sing mengantongi tangannya ke dalam saku. “Tapi, kalau disuruh pilih, gua lebih baik kehilangan orang lain dibanding Chimon.

“Dia ….” Sing mengatupkan bibirnya. Rasa aneh itu kembali merengkuh dirinya. Rasa tak biasa yang seakan ingin melalapnya hidup-hidup. Rasa yang mengulitinya selama beberapa minggu ini. “Segalanya buat gua. Gua enggak bisa tanpa dia.”

“Jadi?”

“Gua sayang Chimon, lebih dari apa pun.”

Langkah keduanya terhenti. Berbanding terbalik dengan wajah Sing yang terlihat sendu, Mond justru tersenyum cerah.

“Karena perasaan yang lu cari udah ada dari lama di sana. Lu cuma salah mengartikannya aja selama ini.” Mond menepuk lengan temannya itu. “Good job, Sing.”

 

– Perennial –

 

Sing terduduk di sofa dengan kedua kaki yang bergerak tak nyaman. Percakapan terakhirnya dengan Mond masih membekas di benaknya, membuatnya tak bisa fokus dengan suara orang di seberang sana.

“Sing? Ke mana kamu?”

“Eh, iya, Ma,” sahut Sing cepat. “Gimana, Ma?”

“Kamu tuh ya, Mama dari tadi ngomong juga.”

“Maaf Ma, aku sambil ngerjain tugas soalnya.”

Bohong, Sing terpaksa harus berbohong. Bisa habis dirinya jika ibunya tahu ia sedang melamunkan Chimon.

“Besok Mama nemenin Oma kontrol lagi. Kamu mau ikut, enggak? Oma katanya mau ketemu, udah lama juga kan kamu enggak pulang.”

“Enggak bisa, Ma. Aku udah semester enam ini, tugas lagi banyak-banyaknya.”

Lagi-lagi lelaki itu berbohong. Padahal, alih-alih mengerjakan tugas, ia lebih memilih tinggal bersama Chimon di kamar.

“Yaudah, nanti aja kamu pulang pas liburan semester. Oh, iya, Chimon sehat kan? Udah lama Mama enggak dengar kabarnya.”

Mendengar nama Chimon disebut, Sing langsung mengalihkan pandangannya ke layar. “Lagi pakai kursi roda dia gara-gara jatuh dari tangga bulan lalu.”

Suara terperanjat sedikit terdengar dari panggilan telepon itu. “Ya ampun, udah sempat ke rumah sakit belum? Kenapa enggak dibawa ke Tante aja buat diperiksa?”

“Dia udah sempat ke rumah sakit sendiri,” jelas Sing. “Aku udah nawarin buat dibawa lagi ke rumah sakit Tante, tapi dianya nolak. Katanya minum obat sama kontrol aja cukup.”

“Kok bisa-bisanya kamu biarin dia ke rumah sakit sendiri?”

Pertanyaan itu sukses merangsek masuk ke relung hatinya. Bahkan ia pun sering merutuki dirinya sendiri karena pertanyaan yang sama. Hingga saat ini, membiarkan Chimon terluka seorang diri masih menjadi penyesalan terbesarnya.

“Waktu itu Mama sempat liat orang mirip Chimon di rumah sakit.” Pengakuan Mamanya sukses menarik fokus Sing. Ia segera meraih ponselnya, mendekatkannya ke depan wajah. “Mama liat di poli saraf waktu antar Oma, tapi enggak mungkin dia kan? Ngapain juga dia ke sana.”

“Salah orang kali, Ma.”

“Mama juga mikir gitu, tapi Oma yakin banget itu Chimon.”

Chimon tak mungkin pergi ke poli saraf. Lelaki itu sempat meyakini Sing bahwa ia hanya terluka di bagian kaki dan hanya membutuhkan sedikit perawatan. Sebab itu, ia tak mungkin pergi mengunjungi poli tersebut.

“Salah lihat pasti, tahu sendiri kan penglihatan Oma udah enggak begitu bagus.”

“Hush, kamu tuh,” tegur Ibu Sing. “Yaudah kalau gitu, sehat-sehat ya kalian. Kabarin orang rumah ya kalau ada apa-apa.”

Setelah Sing menanggapi beberapa pesan ibunya, bunyi bip akhirnya terdengar, tanda bahwa panggilan telah berakhir. Baru saja Sing ingin menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, pintu depan tiba-tiba terbuka.

Chimon dan Nanon akhirnya tiba, tetapi dengan kondisi yang tak biasa. Sing langsung berdiri saat melihat Chimon datang dengan mata terpejamnya. Belum sempat ia bertanya, Nanon memberikan isyarat untuk tenang.

“Dia ketiduran, kayaknya enggak usah dibangunin.”

Sing mengangguk setuju. “Yaudah, Abang yang pindahin aja ke kamar. Makasih banyak ya, Non.”

Setelah Nanon pamit mengundurkan diri, Sing mendekati Chimon dan mengangkat tubuhnya. Ia membawa tubuh Chimon perlahan sebelum merebahkannya ke atas ranjang.

Biasanya Sing membenci orang yang menyentuh kasur tanpa berganti pakaian tidur, terlebih lagi setelah mereka beraktivitas penuh di luar ruangan. Namun, untuk kali ini ia tak mempermasalahkan hal itu. Sing justru melepaskan sepatu dan kaos kaki Chimon, lalu menyelimuti temannya yang sudah terlelap itu.

Setelah dipikir kembali, Chimon banyak berubah selama beberapa pekan ini. Ia tak lagi menanggapi celetukan aneh Sing, tidak lagi mengomentari cuplikan video pendek yang ia lihat di aplikasi ponselnya. Ia lebih banyak diam.

Ketika Sing di depannya, ia hanya memperhatikan Sing dengan tatapan yang begitu dalam. Tak banyak berkomentar, tetapi Sing tahu bahwa kehadirannya banyak disyukuri Chimon.

Sing mendekatkan tubuhnya, merengkuh tubuh Chimon dengan erat. Benar kata Mond, tak ada perasaan ganjil yang baru karena perasaan itu sudah ada di sana sejak lama. Sing selalu merasakan gejolak kasih yang menguar setiap kali memeluk temannya itu, tetapi ia selalu salah mengartikannya.

“Tetap sama aku ya, Chi. Aku sayang kamu.”

 

– Perennial –

 

Sing melirik arloji yang melingkari lengannya berulang kali. Sesekali ia menghembuskan napas sambil menatap ke arah pintu dengan gelisah. Dosennya tak kunjung datang.

Kemarin malam, dosen yang mengampu mata kuliah Penulisan Skenario menghubunginya, memintanya datang ke kampus pagi-pagi untuk mengumpulkan tugas perbaikan. Dengan sangat terpaksa, Sing akhirnya meninggalkan Chimon seorang diri. Ia sempat ingin menghubungi Nanon, tetapi Chimon menahannya dan mengatakan bahwa ia tak apa sendiri.

Sing berjanji untuk pergi sebentar. Namun, sudah hampir sejam berlalu, dosen yang ia tunggu tak kunjung datang. Kalau tahu begini, ia tak akan datang dengan terburu-buru.

Ketika ia masih asyik merutuki dosennya yang terlambat, suara langkah kaki akhirnya terdengar. Sing menoleh dengan cepat dan untungnya langkah kaki itu berasal dari orang yang memang ia nanti.

“Maaf telat, ya.” Bu Dara datang tergopoh-gopoh sambil memeluk tumpukan berkas. “Saya diminta ke gedung direktorat dulu tadi.”

Sing hanya bisa mengangguk. Bagaimanapun, ia tak mungkin memaki orang yang lebih tua darinya itu. 

Menyadari bahwa dosennya kesulitan membuka pintu, ia segera bangun dari kursi dan membukakan pintu. Setelahnya, ia mengekori Bu Dara menuju ke meja kerjanya.

Di ruangan tersebut ada dosen lainnya yang Sing kenal. Beberapa di antaranya sempat mengajar Sing di awal semester, tetapi kini mereka mengajar anak-anak di angkatan Chimon. Sing ingin melempar senyum kepada dosen-dosen itu sebagai bentuk hormat, tetapi mereka terlalu larut dalam sebuah obrolan.

Pada akhirnya, Sing hanya meletakkan lembaran tugasnya ke meja Bu Dara, lalu pamit meminggalkan ruang tersebut. Belum sempat ia mencapai pintu, nama Chimon samar-samar masuk ke gendang telinganya.

“Berarti dia enggak akan bisa menyelesaikan kuliah, ya?”

Sing terkejut bukan main mendengarnya, sedikit sangsi bahwa Chimon yang dibahas merupakan Chimon yang sama dengan miliknya. Lelaki itu tak pernah mengeluhkan masalah apa pun terkait perkuliahan. Lagi pula, biaya kuliahnya saja sudah lunas.

“Kemungkinan iya. Tanda-tandanya sudah seperti tahap lanjutan soalnya.”

“Dia sempat lapor ke saya soal sakitnya, tapi saya lupa namanya. Baru tahu saya soalnya ada penyakit kayak begitu.”

“ALS kalau tidak salah, ya? Sempat saya cari-cari di internet, bahaya banget ternyata. Kasihan saya.”

Percakapan dosen-dosen itu cukup membuat Sing kalut. Ia melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut, lalu merogoh ponselnya dengan gemetar. Ia harus tenang, masih ada kemungkinan bahwa ia salah mendengar.

Sayangnya, semesta tak berpihak padanya. Meski berulang kali ia memperbarui situs pencarian di ponselnya, hasilnya tetap sama. Tak ada penjelasan yang jauh dari frasa gangguan saraf dan kata-kata seperti kelumpuhan serta kematian.

Kematian. Dunia pasti sedang bercanda.

Sing mencoba mencari kesadarannya meski wajahnya sudah pias. Akalnya mulai menyatukan potongan-potongan janggal yang muncul selama beberapa bulan–bahkan tahun–terakhir.

Semuanya terasa masuk akal sekarang. Kecerobohan Chimon selama beberapa tahun terakhir, barang yang lebih sering pecah sebulan terakhir, Chimon yang menghilang selama sebulan, dan ibunya yang melihat Chimon mengunjungi poli saraf.

Kenapa Chimon membohonginya selama ini?

Sing berlari cepat, lebih cepat dari temponya selama latihan basket. Ia tak peduli pada wajahnya yang basah karena derai air mata, tak peduli pada orang yang berseru dongkol karena tertabrak dirinya, tak peduli pada teriakan Mond setelah berpapasan dengannya.

Ketakutan yang merengkuhnya selama beberapa pekan terakhir akhirnya terjawab. Atmanya mencoba memberi tanda selama ini, tetapi Sing terlampau bodoh untuk menyadarinya.

Jika Chimon pergi darinya, arah mana lagi yang harus ia tuju?

 

– Perennial –

 

Chimon bergerak tak nyaman di kasurnya, mulai jengah dengan sunyi yang melanda. Dentingan jam dinding bahkan terasa lebih nyaring daripada biasanya, menyadarkan Chimon bahwa ia benar-benar kesepian.

Pergerakannya semakin terbatas dalam beberapa pekan terakhir sehingga tak banyak yang bisa Chimon lakukan. Meski jenuh kerap kali menyembul, Chimon masih bisa menghalaunya berkat kehadiran Sing.

Tanpa ia sadari, memperhatikan aktivitas Sing sudah menjadi hobi barunya.

Kini, ketika hobi barunya itu tiada, Chimon tak bisa melakukan apa pun selain berdiam dan menunggu Sing pulang. Menantikan aktivitas apa yang akan Sing lakukan setelah tiba di kediamannya.

Chimon spontan menggelengkan kepala, menolak pikirannya itu. Ia tak boleh terbiasa dengan kehadiran Sing. Jika terus seperti ini, ia akan bergantung kepada lelaki itu.

Pada akhirnya, Chimon memutuskan untuk melakukan hal sederhana seperti mengecek ponselnya.

Biasanya, lelaki itu akan meminta bantuan Sing untuk mengambil ponselnya dari atas nakas dengan dalih malas bergerak. Namun, kali ini ia harus berusaha sendiri.

Chimon menggerakkan tangannya perlahan sambil meyakinkan dirinya bahwa ia masih bisa bergerak. Ia hanya perlu meraih ponselnya dengan hati-hati, lalu meletakkan benda panjang itu di dekat wajahnya.

Sayangnya, keyakinan itu tidak bisa dipertahankan. Tak lama setelah kedutan halus merambat di sepanjang lengannya, genggamannya tiba-tiba terlepas, membuat ponselnya jatuh tepat ke wajahnya.

Sia-sia saja ia melakukan fisioterapi kemarin. Tangannya bahkan masih menolak untuk dikendalikan.

Chimon memejamkan matanya, menahan denyutan yang menjalar ke seluruh wajahnya. Sakit memang, tetapi batinnya jauh lebih sakit.

Perlahan air mata membendungi pelupuk matanya. Tak ingin menahan lukanya lebih lama, Chimon akhirnya membiarkan wajahnya tersapu eluh. Membiarkan tangisnya keluar sejadi-jadinya.

Setelah payah dalam berjalan, sekarang tangannya pun tak mau diatur. Apa lagi yang akan hilang darinya setelah ini? Suaranya? Atau bahkan napasnya?

Isakan Chimon semakin memenuhi ruangan. Seberapa keras ia berusaha, tak pernah ada yang berjalan sesuai keinginannya. Rasanya seperti seluruh asanya ditarik satu per satu. Ia tak dibiarkan untuk bermimpi.

Selama dua puluh tahun bernapas, Chimon selalu percaya bahwa hal baik akan datang di kemudian hari. Mungkin bukan hari, tapi masih ada esok. Sekarang, membayangi hari esok pun terasa memilukan. Ia lelah berpura-pura.

Apa pernah ada hal baik di hidupnya selama ini?

Ada. Ada Sing yang selalu menjadi pelengkap hidupnya.

Tetap sama aku ya, Chi. Aku sayang kamu.

Kalimat itu kembali terngiang, membawa kabut yang tak berujung. Seharusnya, Chimon bahagia mendengarnya. Seharusnya, ia membalas pelukan Sing dan berkata bahwa ia juga menyayangi lelaki itu.

Namun, ia tak bisa. Tak bisa jika dirinya bisa lenyap sewaktu-waktu dari bentala ini.

Nahasnya, suara-suara dari benaknya menyerukan hal yang sebaliknya. Batinnya beradu, tak terima dengan sikap akal sehatnya. Sekali saja, sekali saja batinnya ingin diberi kesempatan. Ia ingin menghabiskan sisa waktunya dengan Sing.

Masih dengan ratapan yang belum usai, pintu kamar tiba-tiba terbuka, memperlihatkan Sing dengan tampilannya yang kacau. Lelaki itu menangis di ambang pintu.

Keduanya saling melempar pandang, larut dalam duka. Detik berikutnya, Sing menghampiri Chimon dan mendekap lelaki itu dengan erat. Ia tak berucap apa pun, tak melontarkan seribu satu pertanyaan dari kepalanya. Ia hanya ingin merengkuh Chimon selama yang ia bisa.

Malam itu, keduanya berbagi afeksi yang sudah lama tertahan, menghabiskan waktu dengan air mata yang terus luruh. Hanya ada tangis dan waktu yang membeku.

 

– Perennial –

 

“Jadi, sekarang kalian pacaran?”

Sing menoleh, sedikit terkejut dengan kehadiran Mond. Ia menggeleng pelan sambil meluruskan kedua kakinya, lalu melihat ke arah luar lapangan, memandangi orang-orang yang berlalu lalang.

“Enggak, kita kayak biasa aja.”

Ada banyak hal yang ingin Mond sampaikan kepada temannya itu, tetapi tampaknya ia perlu menahan diri. Ia tak ingin salah berbicara dan berakhir membuat temannya itu tenggelam dalam kesedihan. Setahun terakhir sudah cukup berat bagi Sing maupun Chimon.

“Lu sama Chimon udah yakin mau cuti?”

“Iya, ada rumah sakit di Jepang yang punya layanan khususnya.” Sing mengambil tas di sisinya, lalu membuka jersey-nya untuk berganti pakaian. “Kondisinya makin enggak membaik soalnya, jadi gua harus gerak cepat.”

Mond, yang belum berniat mengganti pakaian basketnya, hanya bisa mengangguk. Sedikit banyaknya ia tahu kondisi Chimon karena sempat mengunjungi anak itu di kamarnya beberapa hari lalu.

“Kapan berangkatnya?”

“Paling cepat lusa. Berkasnya udah diurus semua.”

Mond mengangguk, lalu menepuk pundak Sing, menutupi kesedihan akan fakta bahwa ia tak akan bisa lulus di tahun yang sama dengan temannya itu.

Take care, Sing. Kabarin gua dan teman-teman yang lain ya kalau ada apa-apa. Sorry gua enggak bisa nemenin kalian ke bandara.”

“Santai, kan emang gua yang larang.” Sing tertawa sambil menyampirkan tasnya ke punggung. Setelah kembali memakai sepatunya, Sing menepuk pelan lengan temannya itu. “Thanks, ya. Lu banyak bantu gua selama ini.”

“That's what friends do, Sing.”

Sing mendengus akan respons temannya itu. Meski begitu, ia tetap tersenyum sebelum pergi meninggalkan lapangan, pamit untuk kali terakhir sambil melambaikan tangannya.

Jam di arlojinya sudah menunjukkan hampir pukul tujuh saat ia tiba di depan pintu kamar Chimon. Setelah memutar kenop dan membuka pintunya, Nanon yang pertama kali muncul di pandangannya.

“Oi, Bang.” Nanon segera menyimpan ponselnya ke saku begitu Sing masuk ke dalam.

“Chimon udah makan?”

Nanon mengangguk sambil mengingat-ingat kegiatan apa saja yang ia lakukan hari ini.

“Tadi sih Bang, sekitar jam tiga. Itu juga cuma beberapa sendok aja. Abis itu dia minta pakai BiPAP lagi.”

“Sesak lagi napasnya?”

“Kayaknya iya, Bang. Tadi napasnya kedengaran agak berat juga.”

Sing mendekat ke daun pintu untuk mengintip Chimon. Mata lelaki itu terpejam. Hanya ada suara dengungan halus yang berasal dari alat bantu pernapasannya.

“Oke, Non. Makasih ya udah jagain Chimon tadi.”

“Gua yang harusnya makasih, Bang,” ujar Nanon. Setelahnya, ia bangun dari sofa dan beranjak menuju pintu depan. “Pamit ke kamar dulu ya, Bang.”

Sembari menaruh tasnya ke atas sofa, Sing menoleh dan melambaikan tangannya hingga pintu tertutup. Kini, yang tersisa hanya dirinya dan Chimon.

Sing berjalan menuju kamar mandi, membasuh tubuhnya hingga benar-benar bersih, kemudian berganti pakaian. Ia tak ingin menemui Chimon dengan tubuhnya yang penuh keringat meski ia yakin lelaki itu tak akan keberatan.

Selang lima menit berikutnya, Sing sudah berada di atas ranjang. Ia mendekat secara perlahan, ingin memandangi Chimon tanpa adanya jarak. Memastikan bahwa lelaki itu masih bernapas di dekatnya cukup banyak menenangkannya.

Saat tangan Sing menyentuh dahi Chimon, mata lelaki itu perlahan terbuka. Bukannya menjauh, Sing memilih untuk mengusap dahi yang lebih kecil dengan lembut.

“Kebangun, ya?” 

Tak ada jawaban dari bibir lelaki itu, hanya ada keheningan yang memenuhi ruang. Chimon tak menunjukkan reaksi sedikit pun, hanya menatap Sing lamat-lamat sambil menikmati usapan di dahinya. Sepertinya, Chimon masih mencoba memproses pandangan di depannya.

“Achi mau makan?” Masih tak ada ada jawaban. Namun, di detik berikutnya, Chimon berusaha menggerakkan sedikit tubuhnya. Tanpa perlu dijelaskan, Sing paham keinginan lelaki itu. “Sabar ya, aku bantu lepasin.”

Sing melepaskan alat bantu pernapasan yang sudah digunakan Chimon selama berjam-jam, lalu beranjak untuk mematikan mesinnya. Setelahnya, ia kembali menatap Chimon, melihat ke arah lelaki yang sedang berusaha membuka mulutnya itu.

Chimon tampak berusaha keras mengeluarkan suara, tetapi tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Tanpa sadar Sing sudah menggigit bagian dalam bibirnya, menahan nyeri yang muncul di dadanya. Ia masih tak terbiasa dengan pemandangan ini.

Seberapa menyakitkannya pemandangan itu, Sing tahu bahwa yang dirasakan Chimon jauh lebih menyakitkan. Oleh sebab itu, ia tak boleh menunjukkan kesedihannya. Ia harus membantu Chimon untuk bangkit dari keterpurukannya saat ini.

“Kenapa? Achi mau apa?”

Sing terduduk di tepi kasur, menimbang-nimbang apa yang hendak dilakukan Chimon. Namun, seberapa keras ia berusaha memahaminya, Sing masih tak tahu apa yang diinginkan lelaki itu.

“Pe ….” Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dan bibirnya kembali terkatup. 

“Peluk? Achi mau dipeluk?” 

Butuh waktu lama bagi Chimon untuk menggerakkan kepalanya sedikit ke bawah. Seharusnya, Sing menertawakan permintaan itu. Pasalnya, Chimon sering menggerutu atau berdecak saat Sing memeluk badannya.

Namun, untuk kali pertama, lelaki itu meminta dipeluk lebih dulu.

Dengan air yang menggenang di sudut matanya, Sing kembali menaiki ranjang dan mendekap orang di hadapannya itu. Tak ada jarak di antara mereka hingga Sing bisa merasakan tarikan napas Chimon yang cukup berat.

Sing mati-matian menahan eluhnya saat mengelus punggung Chimon. Ketika lelaki itu kembali memejamkan matanya, pandangan Sing semakin mengabur. 

Tolong, jangan sekarang.

Suara Sing yang tercekat sedikit terdengar, terlihat jelas bahwa lelaki itu masih berupaya menahan isak tangisnya. Ia tak berani memanggil nama temannya itu, tak berani membayangkan apa yang terjadi di detik berikutnya.

Dengan sisa kesanggupannya, Sing meraih tangan Chimon, menggenggamnya dengan erat. Semakin kalut pikirannya, semakin kuat juga genggamannya. Walau tarikan napas Chimon sudah terdengar memprihatinkan, Sing masih meyakini dirinya bahwa Chimon hanya merasa lelah.

Kamu cuma mau istirahat sebentar, kan?

Seolah menjawab kecemasan Sing, jari Chimon tiba-tiba mengusap lengannya. Hanya usapan kecil dengan jari kelingking, tetapi mampu membuat air mata Sing runtuh. Ia menangis sekeras-kerasnya sambil mendekap tubuh Chimon lebih kuat.

Beberapa bulan lalu, dengan sisa tenaga di jari-jemarinya, Chimon sempat mengetikkan pesan yang cukup panjang. Pesan itu ia kirim ke ruang obrolan mereka yang sudah usang.

Aku sekarang punya kode jari. Ibu jari kalau lapar, jari telunjuk kalau haus, jari tengah berarti kamu ngeselin, jari manis kalau mau ke kamar mandi.

Sing tertawa ketika membaca pesan itu. Ia akhirnya mengirim pesan balasan meski Chimon berada persis tepat di depannya.

Kalau jari kelingking?

Itu buat maaf, terima kasih, dan aku sayang kamu.

Seiring menghilangnya napas Chimon, Sing menenggelamkan wajahnya di pundak lelaki itu, masih mengeluarkan isakannya yang tak berujung. 

Esok, tak ada lagi wajah Chimon yang bisa ia tatap sepanjang hari. Esok, tak ada lagi badan Chimon yang perlu ia angkat ke kamar mandi. Esok, hanya ada dirinya dan sisi kasur Chimon yang kosong.

 

– Perennial –

 

Raksi petrikor perlahan timbul, beriringan dengan awan padat yang mulai menyelimuti langit. Meski cuaca kian tak bersahabat, kedua tangan yang bergetar itu tetap pada posisinya, menggenggam papan di depannya dengan kuat.

Saat guntur pertama menghantam aspal, beberapa orang mulai bepergian, sementara sisanya masih berada di samping-nya sambil mengusap punggung atau pundaknya. Meski di sekitar Sing masih terasa penuh, ia tetap dilanda kekosongan.

Sing menatap bingkai foto yang terpajang di depan papan, di atas tanah basah yang menggunung. Meski orang yang ada di bingkai itu tersenyum, Sing tak bisa mengangkat sudut bibirnya sama sekali. Tak ada lagi yang bisa membuatnya tersenyum.

Ketika rinai hujan mulai tandang, Sing turut melepas air matanya, membiarkan rintik turut menyapu isakannya. Dengan sesak yang mengasak, Sing mengelus bingkai foto Chimon untuk terakhir kalinya.

Sampai ketemu di kehidupan berikutnya, ya. 

Notes:

Hi, hi. Terima kasih sudah membaca karya SingChimon pertamaku! Semoga sesuai dengan yang kalian harapkan, ya. Jadi gimana, seru tidak? Semoga bisa jadi mimpi buruk kalian ya malam ini, xixixi.

Anyways, aku berencana membuat karya lanjutan dari cerita ini. Mungkin akan menggunakan sedikit unsur fantasi karena aku mau menceritakan pertemuan Sing Chimon di kehidupan yang berbeda, tentunya dengan kisah yang berbeda juga.

Kalau ditanya kapan mau buat, jujur belum tahu. Tunggu idenya ya, hehe.

Alright, that's all from me. Meet me in another story, ya! See ya!