Work Text:
Lebih dari sepekan setelah perjumpaan saya dengan Sancaka, saya masih belum mampu mengenyahkan sosoknya dari dalam pikiran saya. Semua tentang pria itu bersemayam dengan nyaman dalam ingatan, dan siap muncul untuk menghantui saya setiap kali tak ada hal lain yang sedang mengisi kepala. Terkadang, dengan kurang ajar, ingatan itu bahkan muncul di antara hal lain yang mengokupasi pikiran.
Misalnya saja, ketika beberapa hari yang lalu, salah seorang rekan kerja saya sedang menikmati canapé. Canapé dengan topping tuna, lebih tepatnya. Persis dengan kudapan yang disantap Sancaka malam itu saat kami saling sapa. Saya seketika teringat akan momen itu. Ketika Sancaka melahap canapé di tangannya dengan penuh semangat. Terlalu bersemangat hingga ia meninggalkan noda di sudut bibirnya yang mendorong saya untuk menciptakan interaksi pertama kami (bahkan, mungkin, itu akan menjadi interaksi yang terakhir kali pula). Saya menawarkan meminjamkan sapu tangan saya ketika menyadari pria manis itu kesulitan menemukan miliknya (atau bahkan memang tidak membawanya?). Dan saya memberikan nama saya padanya (mungkin juga sebagian hati saya untuknya). Sebaliknya, dia—sebentar. Saya baru ingat kalau Sancaka belum mengembalikan sapu tangan itu kepada saya. Oh, rupanya bukan hanya hati saya yang tertawa olehnya. Sapu tangan saya pun mengalami nasib serupa. Tapi, tidak—saya tidak mengeluh. Dia boleh mencuri apapun dari saya sebanyak yang ia mau—pikiran, hati, atensi, sapu tangan. Apa saja. Semua pikiran itu membuat saya seolah tersenyum tanpa sebab (menurut pandangan orang lain) di hadapan orang lain. Saya yakin, ucapan ‘Pak Ghani stres, ya’ sudah berada di ujung bibir mereka.
Lalu, terakhir kali, Sancaka mengacaukan hari saya ketika saya berjumpa dengan seorang pejabat pemerintahan yang mengenakan jas yang persis dengan yang melekat pada tubuh Sancaka kala itu. Tapi, tentu saja, kain yang memeluk tubuh Sancaka tampak melekat dengan sempurna. Panjangnya pas. Ukurannya begitu sesuai sehingga membingkai tubuhnya yang menghadirkan pikiran liar dalam kepala saja. Misalnya, pikiran seperti: seperti apa tubuh Sancaka di balik lapisan kain yang membungkusnya? Jas yang, saya yakini, sama persis namun bisa terlihat begitu berbeda hanya karena figur di baliknya bukanlah orang yang sama. Untuk Sancaka, pakaian yang melekat di tubuhnya seperti sebuah anjungan dan dialah bintang utamanya. Untuk orang ini—si pejabat ini—pakaian itu hanya berfungsi untuk menutup tubuhnya. Tak ada manfaat lainnya. Pakaian itu bahkan terlihat sedikit aneh di tubuh pejabat ini. Seperti pakaian yang terpaksa dibeli hanya karena dia menyukai modelnya, tetapi tidak memedulikan fakta bahwa ukurannya tidak sepenuhnya sesuai. Saya refleks mendengus pelan di hadapannya yang segera menghadirkan sebuah pertanyaan dari pejabat itu. Tentu saja, saya tidak sepolos dan sebodoh itu untuk berkata jujur bahwa saya sedang membandingkan penampilannya dengan penampilan seorang pria yang saya temui di sebuah pesta beberapa pekan yang lalu. Jadi, saya jawab saja dengan, “Maaf, tiba-tiba saja, saya teringat obrolan saya dengan asisten saya. Mari kita lanjutkan saja di dalam. Bapak ingin minum apa? Biar kami siapkan.” Dan, pejabat pemerintahan itu tidak mengungkit lagi soal saya yang tiba-tiba mendengus di sela sesi perkenalan kami dan fokus pada bagaimana ia ingin dijamu hari ini.
Semua tentang Sancaka memang membuat saya nyaris gila.
Parasnya yang menawan mendorong saya untuk mengabadikannya dalam sebuah potret yang akan saya bingkai dan saya letakkan di atas meja kerja saya. Dan, setiap kali sensasi tegang melanda, dengan harapan perasaan itu mereda, saya akan memandangi wajahnya. Dan senyumnya.
Ah, senyumnya. Senyuman singkat yang ia perlihatkan saat itu bahkan memiliki ruang khusus dalam memori saya. Manis sekali. Membayangkannya saja mampu menghadirkan rasa manis di ujung lidah saya. Bagaimana kalau saya mencecapnya langsung dari asalnya—merasakannya langsung dari bibirnya?
Lagi-lagi, pikiranmu liar sekali, Ghani.
“Mas Ghani?”
Sekarang, saya terngiang-ngiang akan suaranya. Sopan. Lembut. Sama dengan yang saya dengar malam itu ketika dia melafalkan nama saya. Mas Ghani. Sepertinya, saya harus pergi menemui psikolog (atau psikiater?) setelah ini. Lama-lama, sosok Sancaka dapat mengganggu keseharian saya. Sebetulnya, saya tidak masalah diganggu oleh manusia serupawan Sancaka. Tapi, jika dibiarkan terus-menerus, saya khawatir pikiran-pikiran itu justru akan berdampak pada hubungan saya dengan orang lain.
“Mm, halo? Mas … Ghani, ‘kan?”
Saya mengerjap. Suaranya tetap tidak berhenti. Dan, sekarang, saya malah membayangkannya berdiri di hadapan saya. Sancaka, dalam balutan kaos Polo berwarna nilajada (yang entah bagaimana terlihat begitu pas berpadu dengan warna kulitnya yang sedikit pucat), berdiri di balik kursi yang ada di seberang saya dan menatap saya lekat. Apakah saya benar-benar sudah kehilangan kewarasan?
Saya mengerjap. Sekali lagi. Sosok itu tak kunjung hilang dari bayangan saya. Atau, jangan-jangan, ini memang bukan sekedar imajinasi? Jangan-jangan, Sancaka memang berada di hadapan saya?
Saya berdeham pelan sebelum akhirnya membalas sapaannya, “Ah, halo juga.” Saya mengulas senyum tipis, menahan diri untuk tidak mengembangkan senyum terlalu lebar karena terlalu girang mendapati sosok yang menghantui pikiran saya benar-benar muncul di depan mata. “Sancaka, betul?”
Sancaka balas tersenyum, kelihatan lega. “Betul. Saya Sancaka.” Sesaat kemudian, senyuman itu menjelma sebagai gestur malu-malu yang menggemaskan di mata saya. “Ternyata Mas masih ingat saya.”
“Saya tidak mungkin tidak ingat dengan kamu.” Saya bukan sedang menggombal. Saya memang tidak bisa berhenti memikirkannya sejak pertemuan pertama kami di pesta. “Maaf, tadi saya tidak langsung menyapa kamu karena sedang memikirkan sesuatu.”
“Urusan pekerjaan?”
“Betul sekali.” Saya memang pembohong ulung. Tapi saya lakukan ini bukan semata ingin membohongi Sancaka. Saya tidak ingin menakutinya hanya dengan berkata jujur bahwa saya sibuk memikirkannya daripada memikirkan pekerjaan. “Kamu baru saja datang?” Saya balas bertanya.
“Iya, Mas. Saya baru saja pesan dan mau cari tempat duduk saat saya lihat Mas Ghani duduk di sini dan saya memutuskan buat menyapa.” Kalimat panjang pertama yang saya dengar dari mulut Sancaka. Pria itu bertutur dengan hati-hati dan sopan. Ia tidak bicara dengan buru-buru, seolah ingin memastikan segala yang tertutur dari bibirnya tidak salah. “Sekaligus mengucapkan terima kasih.”
“Kalau begitu, duduk dulu di sini, Sancaka.” Saya menunjuk kursi kosong di hadapan saya. Tidak salah kalau saya memilih meja ini tadi. Siapa sangka saya akan kedatangan kejutan berupa seorang pria menawan seperti Sancaka? Dan Sancaka, tanpa bertanya atau melayangkan protes, segera mengambil posisi di hadapan saya. “Omong-omong, terima kasih buat apa?”
“Untuk … yang di pesta waktu itu.” Sancaka menjawab—kali ini, alih-alih terdengar hati-hati, ia seperti sedang meragu.
Saya terdiam dan mencoba memutar kembali ingatan akan malam itu yang sudah saya putar ratusan kali dalam beberapa hari terakhir.
“Mas Ghani bilang ke Bapak kalau kita sempat mengobrol. Padahal interaksi kita cuma … begitu saja.”
“Oh?” Jawaban Sancaka membuat saya terkejut. “Memangnya, itu penting?”
Sorot matanya berubah. “Penting sekali, Mas. Bapak ingin saya lebih banyak bergaul dengan orang lain.” Sancaka kelihatan bersungguh-sungguh saat mengatakannya. “Jawaban Mas membuat Bapak berpikir kalau saya … sudah mencoba bergaul dengan Mas Ghani. Bapak kelihatan senang sekali.”
“Ah, begitu.” Saya seperti disadarkan pada kemungkinan hubungan Sancaka dengan Pengkor. Pengkor menyebut Sancaka sebagai kesayangannya. Dan Sancaka menganggap validasi Pengkor adalah segalanya. Hubungan seperti apa yang mungkin dimiliki keduanya?
“Mas Ghani sudah lama kenal dengan Bapak?” Pertanyaan Sancaka menyadarkan saya dari lamunan singkat itu.
Saya menopang dagu sambil menggumam, “Lumayan. Tapi saya belum pernah lihat kamu sebelumnya.” Ini adalah upaya saya untuk mencari tahu soal hubungan mereka. Entah berhasil atau tidak.
“Ah. Saya memang baru-baru ini tinggal dengan Bapak, Mas,” jelas Sancaka. “Dan pesta kemarin adalah pesta kedua yang saya hadiri dengan Bapak.”
“Oh.” Mereka tinggal bersama? Pengkor bahkan tidak tinggal dengan anak-anak angkatnya. Lantas, siapa Sancaka bagi Pengkor? Tidak ada satu pun kemungkinan jawaban yang mampu menenangkan hati saya saat ini. Sial.
“Dan ini.” Tiba-tiba saja, Sancaka menyodorkan selembar kain yang entah berasal dari mana. Saya tidak sempat menyadarinya karena, lagi-lagi, sibuk tenggelam dalam pusaran pikiran yang saya ciptakan sendiri. “Maaf, saya nggak langsung kembalikan sapu tangan Mas waktu itu. Tapi, ini sudah saya cuci.”
Saya meraih sapu tangan itu. Sapu tangan milik saya. Jemari saya tak sengaja (atau sengaja) bersentuhan dengan telapak tangan Sancaka yang sedikit kasar. Jika saja saya mampu, sudah pasti saya hentikan waktu. “Kamu bawa sapu tangan ini ke mana-mana?” tanya saya padanya. Penasaran. Pasalnya, bagaimana mungkin, ia kebetulan membawa sapu tangan itu dan berjumpa dengan saya?
Sancaka tertawa dengan gugup. “Iya, Mas. Karena … saya nggak tahu kapan saya bisa jumpa sama Mas Ghani lagi.”
Saya juga tidak tahu kapan saya bisa jumpa denganmu lagi, Sancaka.
“Terima kasih, ya, Sancaka.” Saya menarik sapu tangan itu mendekat ke arah saya dan, seketika, tercium aroma yang sedikit asing namun menenangkan bagi saya. Perpaduan wewangian dari vanila, amber, dan cedarwood. Sepertinya, aroma Sancaka sedikit menempel pada sapu tangan saya sekarang. Kalau saya sudah hilang akal, saya pasti sudah membawa secarik kain itu ke hidung dan menghirup aromanya seperti tak ada hari esok. Tapi, sekali lagi, saya tidak ingin menakuti Sancaka.
“Kembali kasih, Mas Ghani.” Sancaka tersenyum. Manis. Manis sekali. Jauh lebih manis dari yang saya saksikan malam itu.
“Pesanan atas nama Sancaka!” Seruan dari konter pengambilan pesanan membuat saya dan Sancaka serentak menoleh ke sumber suara.
Sancaka kembali menatap ke arah saya dan, sembari beranjak dari kursinya, dia berkata, “Saya ambil pesanan saya dulu, ya, Mas.”
Saya hanya membalas dengan senyuman, mempersilakannya untuk mengambil pesanannya. Pandangan saya tak dapat beralih darinya. Saya mengamati punggungnya dengan seksama namun seketika berhenti sesaat sebelum dia membalikkan badan dan kembali ke meja saya. Hanya ketika dia sudah berada cukup dekat, saya mendongak lagi, menatap ke arahnya. Saat itulah, saya menyadari bahwa pesanan Sancaka diletakkan di dalam kantong plastik. “Oh? Take away?”
“Ah? Iya, Mas. Saya masih harus bertemu Bapak setelah ini.” Sancaka tetap berdiri, tidak kembali menempati kursinya.
“Oh, begitu.” Sebisa mungkin, saya berusaha untuk tidak terdengar kecewa saat melepasnya pergi. “Kalau begitu, saya tidak bisa menahan kamu lebih lama di sini, ‘kan?”
“Maaf, Mas Ghani.” Sancaka kelihatan menyesal. Saya harap, itu karena dia masih ingin berlama-lama di sini. Bersama saya.
“Nggak masalah. Bapak pasti sudah menunggu kamu.”
“Mm, oke.” Bibir Sancaka kembali membuka, seperti hendak mengatakan sesuatu namun ia meragu dan mengatupkannya kembali. Hingga akhirnya, ia menyampaikan, “Saya permisi dulu, ya, Mas. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk yang kemarin.”
“Sama-sama, Sancaka.” Saya mengulas senyum kecil untuknya. “Hati-hati di jalan.”
Sancaka membalas dengan senyuman kecil. Masih manis. Ia lantas beranjak pergi meninggalkan saya.
Saya menghela napas keras-keras dan memutuskan untuk tidak lagi memandanginya. Lagi-lagi, saya kembali disibukkan dengan pikiran soal hubungan Sancaka dan Pengkor. Satu hal yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benak saya selama beberapa hari terakhir. Mulanya, saya pikir, kemunculan Sancaka hari ini adalah hasil manifestasi saya. Sayangnya, itu mungkin adalah cara semesta mengingatkan saya akan kemungkinan benih patah hati yang saya tuai di kemudian hari. Jika saja saya bisa memilih untuk tidak bertemu dengan Sancaka, itu yang akan saya pilih. Jika saja saya bisa menghindari garis interaksi dengannya, itu yang akan saya pilih.
Sayangnya, segalanya telah terjadi. Saya hanya dapat mengucap satu harapan: jika Sancaka memang bukan ditakdirkan untuk saya, saya harap seluruh perasaan ini mereda.
“Mas Ghani?” Suara itu lagi.
Saya mendongak. Rupanya, Sancaka kembali muncul di hadapan saya. Napasnya terengah. Butiran keringat menetes dari pelipisnya. “Ya?” balas saya, sedikit khawatir.
“Saya boleh minta kartu nama Mas Ghani? Supaya saya bisa … hubungi Mas Ghani lagi di lain waktu.”
Oh.
