Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 1 of AKU
Stats:
Published:
2026-07-14
Words:
1,011
Chapters:
1/1
Kudos:
5
Hits:
23

AKU dan sebuah penyesalan

Summary:

Borne bilang semua akan baik-baik saja asal mereka tetap bersama. Lantas kenapa saat semua tak baik-baik saja, Borne malah meninggalkannya.

Notes:

Bermula dari rangbor edit yang gua buat

Work Text:

 Kamu tinggalkan aku sendiri

Bersama kaca pecah dan luka bernanah

Kesalahan apa yang telah kuperbuat?

Tak mungkin rasa ini dibuat-buat

Lantas apa kau juga dihakimi sepertiku?

Ataukah hanya aku?

Biarlah semua ini hanya datang padaku

Asal kamu baik-baik saja


°°°


Saya ingat saat berada di buaian ibu. Saya ingat bagaimana ibu memberi saya kasih sayang dan kehangatan. Saya juga tak akan lupa bagaimana semua itu menghilang. Bersamaan dengan suara hak sepatu yang meninggalkan teras rumah. Disertai teriakan yang memilukan.

Saya pikir masih bisa merasakan kehangatan itu dari wanita lain. Tapi Cinta tak bisa memberikannya. Sebaliknya, saya mendapat kehangatan yang berbeda dari Borne.

"Jadi kamu nolak aku karena kamu gay?" Sore itu di rumahnya, Cinta berucap pelan disertai tawa. Tidak ada perasaan benci. Hanya sebuah kesadaran yang menghantam otak. Tapi saya tetap merasakan rasa bersalah.

Saya meminta maaf dalam hati. Minta maaf atas semua sakit hati yang dideritanya. Cinta adalah wanita tercantik yang saya kenal. Wanita baik hati yang dulu sempat saya pandang sebelah mata.

"Maksud kamu apa, Cinta?” saya bertanya seolah tak mengerti. Jari saya sibuk menulis jawaban dari tugas kelompok yang sedang kami kerjakan. Sebab saya pikir itu hanya candaan.

Saya tak ingat pernah membagi rahasia ini dengan orang lain. Rahasia ini hanya milik kami berdua. Bukan karena saya tak percaya diri. Tapi saya tak mau orang menghakimi kamu, Borne.

Cinta memperpendek jarak di antara kita. Membisikkan kalimat yang membuat saya tertegun.

"Semua orang udah tahu, Rangga."


°°°


Tangan saya meremat buku tipis dalam genggaman saya. Buku berjudul 'AKU' yang sudah saya baca berulang-ulang. Hadiah dari seseorang.

Saya menuntut penjelasan. Tapi kenapa kamu hanya berdiri diam di depan saya, Borne? Saya ingin kamu memberi tahu saya apa yang terjadi. Lantas untuk apa kita hanya terdiam di sini? Saya ingin menanyakan banyak hal.

 

Kenapa orang-orang bisa tahu?


Kenapa kamu hanya terdiam?


Kenapa orang-orang mencaci saya dan mengasihani kamu?

"Kamu ngomong apa ke mereka?" Tapi saya hanya mampu mengucapkan satu pertanyaan. Dan kamu tak kunjung menjawab. Saya hampir melangkah pergi sebelum akhirnya kamu berucap.

"Kita udahan aja."

Jangankan menjawab pertanyaan saya. Kamu bahkan tak mau menatap mata saya. Dulu kamu bilang semua akan baik-baik saja. Saya ingat sorot hangat matamu saat kita berjalan bersama. Hanya kita. Kamu membuat saya tenang. Seolah semua masalah akan selesai saat saya menyelami tatapanmu.

"Kamu belum jawab pertanyaan saya!." Saya tak pernah ingin menuntut jawabanmu, Borne. Saya tak ingin terdengar seperti mereka. Saya tak ingin mendesak kamu. Tapi saya juga tak ingin merasakan semua ini sendirian.

Mereka bilang saya menyimpang. Mereka bilang kamu tertekan dengan perasaan saya. Mereka bilang kamu normal dan saya tidak normal.

Dulu saat saya dipenuhi masalah, kamu akan bilang, 'Semua akan kembali normal.' Tapi kenapa kamu bersikap seperti ini pada saya? Apa karena normal yang kamu maksud adalah untuk mereka dan bukan untuk saya? Apa saya tidak normal di matamu?

"Borne." Saya tak peduli kata mereka. Saya tak peduli kalau saya dibenci. Saya sudah terbiasa. Saya hanya ingin kamu menatap saya dan bilang kalau kamu akan ada bersama saya. Saya kehilangan kesabaran sebab bibirmu tak lagi berucap. Saya memagutnya ke dalam ciuman yang pernah kita bagi. Berharap kamu akan membalasnya dan jujur pada dirimu sendiri. Jujur kalau kamu masih mencintai saya.

Tapi kamu malah mendorong saya mundur. Seolah saya hanya orang asing, seolah kamu tak pernah membayangkan masa depan bersama saya, seolah bukan kamu yang tersenyum dan memberi saya buku ini sebagai hadiah, seolah kita tak pernah berciuman mesra di dalam mobilmu. Seolah kamu memang normal dan saya tidak.

Kamu meninggalkan saya sendirian di sini. Sekarang dan selamanya.

Saya pulang dengan putus asa. Bapak menyambut saya dengan hangat tapi hati saya masih membeku. Bapak memberi saya sebuah kabar. Menyuruh saya untuk berkemas dalam beberapa hari. Saya harap bisa pergi lebih cepat. Sebab semua yang ada di sini terasa asing.

Saya menuruti bapak. Mengemas baju dan beberapa buku yang tak bisa saya tinggalkan berdebu. 'AKU' ada di sana. Saya harusnya meninggalkannya hingga dimakan rayap. Tapi saya malah membawanya ke meja. Saya nyalakan lampu dan mulai membaca buku itu untuk terakhir kalinya.

Saya termenung hingga tengah malam. Bukan karena saya selesai membaca buku itu untuk kesekian kali. Tapi karena masih ada pertanyaan yang tak terjawab. Saya memikirkan kesalahan apa yang saya perbuat. Kemudian saya sadar. Saya tetaplah salah meskipun tidak bersalah. Karena saya tidak normal. Dan kamu pun begitu, Borne. Tapi biarlah ini menjadi kesalahan saya.


°°°


Bapak menyodorkan ponsel kepada saya.

"Sekadar say good bye?" Bapak bertanya. Tak ingin saya pergi dengan penyesalan. Beliau jelas tahu laki-laki yang sering datang ke rumah itu bukan 'teman' saya. Tapi bapak tak menuntut jawaban dan membiarkan saya sendiri.

Saya menolak tawaran bapak. Bukan tak mau. Tapi karena ia sudah mengucapkan selamat tinggal lewat cara yang lain.

Tapi mata saya tetap berkhianat. Terus menoleh ke belakang seolah seseorang akan datang padahal saya bahkan tak bilang akan pergi. Saat bandara semakin ramai dan pesawat mulai mendekati waktu keberangkatan, logika saya sudah kalah. Saya berjalan menjauh dengan ponsel bapak di tangan. Berusaha menekan nomor seseorang dengan jemari yang bergetar. Saya ingin mendengar suaranya untuk terakhir kali.

Tut... tut...

Saya menunggu dengan jantung berdegup. Hanya untuk berakhir dengan menyedihkan. Saya sadar saya tak lagi berharap lebih. Semuanya selesai di sini.


°°°


"Borne!"

Borne menoleh saat seseorang memanggil namanya. Pak Wardiman berjalan mendekat dengan wajah lega. Di tangannya ada sebuah bingkisan dengan sampul coklat beserta secarik kertas di atasnya. Ia memberikan bingkisan itu pada Borne. Borne jelas tahu siapa pengirimnya. Ia ingat bagaimana Rangga akan menceritakan tentang Pak Wardiman. Pak Wardiman adalah satu-satunya teman Rangga.

"Kenapa bukan Rangga yang ngasih?" Bodohnya Borne mempertanyakan sesuatu yang pasti. Padahal dari awal Borne yang mengakhiri semua. Kenapa ia sekarang malah mengharapkan Rangga ada di depannya dengan senyum manisnya? Apa ia lupa bagaimana dirinya membebankan semua kepada Rangga?. Atau bagaimana Rangga menuntut penjelasan yang tak bisa Borne berikan. 

"Rangga belum pamit ke kamu?" Agaknya Pak Wardiman tak tahu apa yang terjadi di antara mereka.

"Pamit?" Borne merobek bingkisan dengan hati-hati. Menemukan sebuah kata 'AKU' mengintip dari balik bingkisan. Borne mengelus kertas di atasnya. Ia tatap puisi yang ditulis Rangga itu dengan hati yang bergejolak.

"Rangga sudah pergi ke New York."

Series this work belongs to:

  • Part 1 of AKU