Chapter Text
Mahardika, biasa dipanggil Mas Dika oleh majikannya, adalah seorang pria matang berusia 35 tahun dengan wajah tampan, rahang tegas, dan tubuh tegapnya yang berotot. Sudah lebih dari 12 tahun ia bekerja sebagai sopir pribadi keluarga Suryadinata—salah satu keluarga terkaya dan paling berpengaruh di ibukota. Ia tinggal di rumah besar keluarga tersebut dan sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Setiap tiga bulan sekali, keluarga Suryadinata tetap memberikannya cuti seminggu untuk mengunjungi istri dan anaknya yang ada di kampung.
Dulu Dika adalah sopir pribadi Pak Erwin, sang kepala keluarga. Namun sejak Habel—anak bungsu Pak Erwin—masuk SMP, tugasnya beralih sepenuhnya menjadi sopir pribadi gadis itu.
Habelia Cassandra Suryadinata kini berusia 16 tahun. Ia baru saja naik kelas dua SMA. Wajahnya masih terlihat manis dan imut, tapi tubuhnya sudah berubah drastis. Dalam waktu dua tahun terakhir, susunya membesar pesat menjadi ukuran yang sangat montok, pinggulnya pun ikut melebar, dan bokongnya semakin bulat serta terlihat kenyal. Baru saja satu tahun lebih ia di SMA, tetapi Seragam SMA-nya sudah sangat ketat.
Yang membuat Dika semakin gelisah setiap harinya adalah sifat Habel yang jahil. Gadis itu sejak setahun terakhir suka sekali menggoda dirinya. Mulai dari memakai rok yang terlalu pendek saat ke sekolah, sengaja membungkuk di depannya sampai Dika bisa melihat belahan dada atau isi roknya, hingga yang paling sering adalah mengganti baju di dalam mobil sambil “tak sengaja” memperlihatkan tubuhnya.
Habel tahu Mas Dika sudah menikah dan punya anak di kampung, tapi ya mau bagaimana lagi? Entah karena letupan hormon remaja yang meledak-ledak atau apalah itu, Ia sudah lama menyukai Mas Dika dan perasaannya pada pria itu tidak bisa dibohongi.
Sore itu, Mercedes Benz E-Class hitam meluncur pelan meninggalkan gerbang sekolah swasta termahal di ibukota. AC mobil menyala dingin, tapi suasana di dalam terasa semakin panas. Habel duduk di kursi penumpang depan dengan seragam putih yang dua kancing teratasnya sudah dibuka, memperlihatkan belahan dadanya yang besar dan pulen itu.
“Mas Dika, cari tempat parkir dong,” pinta Habel dengan suara manja yang sudah sangat Dika kenal. “Aku mau ganti baju, gerah banget hari ini.”
Dika pun hanya diam saja dan mencari tempat parkir di deretan ruko yang sepi dan sudah tutup. Begitu mobil berhenti, ia langsung hendak membuka pintu untuk keluar. Namun, Habel segera menahan lengannya.
“Di sini aja, Mas,” katanya tegas namun manja. “Panas di luar. Kasian Mas nunggu lama di luar. Udah, Mas di sini aja, nanti kalo Mas nggak nurut, aku bilangin papi loh.”
Dika menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ancaman itu bukan main-main. Akhirnya ia tetap duduk di balik kemudi, meski hatinya gelisah karena lagi-lagi ia disuguhkan pemandangan seksi luar biasa yang sayangnya terlarang untuk ia nikmati.
Habel tersenyum puas melihat kepatuhan Dika. Tanpa membuang waktu, ia membuka semua kancing kemejanya. Kini hanya menyisakan bra hitam yang jelas salah ukuran. Bagaimana tidak? Susu besar dan penuh milik Habel itu terlihat tumpah ke mana-mana, meluber keluar dari cup bra yang terlalu kecil, hampir membuat bra itu tak mampu menahan beban dan volume susu besar gadis itu.
Dika langsung cepat-cepat memalingkan wajahnya ke luar jendela, berusaha menghindari pemandangan itu. Habel hanya terkekeh kecil melihat reaksi Dika. Ia menjangkau ke jok belakang, mengambil paperbag berisi kaos gantinya.
“Ihh, tetekku kayaknya makin besar deh, Mas. Masa aku beli bra selalu nggak bisa nampung tetek aku sih, mana sempit banget, padahal aku udah yakin ukuran bra aku itu 34B,” keluh Habel dengan nada yang manja yang dibuat-buat; ia merasakan teteknya itu meluber keluar di bagian atas.
“Ukuran bra kamu 36D itu, Non. 34B mah kekecil—” Mata Dika membulat kaget saat mulutnya tanpa sadar membalas omongan Habel. Ia yang sedari tadi melempar wajah keluar jendela mobil pun reflek memandang Habel yang duduk di sebelahnya, dari situ ia pun bisa melihat tetek Habel yang tumpah-tumpah dari branya, bahkan ia bisa melihat areola Habel mengintip dari balik bra tersebut.
Dika menelan ludah. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan itu. Ia ingin mengalihkan pandangannya lagi, tapi entah mengapa lehernya tetap mengunci posisinya.
Habel menoleh ke arahnya, bibirnya melengkung nakal. “Mas Dika kok tahu banget ukuran tetek aku? Kayak pernah pegang aja.”
Dika panik, napasnya memberat seolah kelimpungan mencari jawaban. “S-Saya cuma asal nebak aja kok, Non.”
Habel mendekat, suaranya menjadi lebih rendah dan menggoda, “Gimana kalo Mas pegang tetek aku beneran? Biar Mas yakin ukurannya… jadi aku nggak salah beli bra terus deh,” ucap gadis cantik itu dengan senyuman nakalnya.
Dengan begitu santainya, kedua tangannya beranjak ke arah punggungnya, lalu ia pun membuka kaitan pada branya sehingga bra hitam itu langsung melonggar dan jatuh ke pangkuannya, membuat susu besar itu akhirnya terbebas dari bra sempit yang sedari tadi mengimpitnya.
Dua gundukan besar, berat, dan padat itu bergoyang indah. Bentuknya bulat sempurna dengan sedikit berat di bawah, kulitnya begitu mulus. Sementara, puting susunya sangat mancung dan besar, berwarna pink kecokelatan yang cantik, berdiri tegak dan menonjol dengan sempurna. Areolanya pun juga cukup lebar, membuat puting itu terlihat semakin menggoda dan mengundang. Dika terpana. Matanya tak bisa lepas dari pemandangan susu telanjang Habel yang luar biasa indah dan menggairahkan itu.
“Pegang aja, Mas…” ujar Habel pada sopir gantengnya itu. “Aku izinin kok.”
Dika menggeleng sungkan, suaranya bergetar, “J-Jangan, Non.”
Namun, Habel langsung meraih tangan kanan Dika dan menempelkannya kuat-kuat ke susu kirinya yang telanjang.
“Non!” ujar Dika yang terkejut saat merasakan tekstur kenyal saat telapak tangannya dipaksa menangkup susu majikannya itu.
“Pegang yang bener pake tangan kamu dua-duanya, Mas!” tuntut Habel penuh kuasa.
“T-tapi, Non. I-ini nggak bener!” ujar Dika merasa bersalah berat, tapi tangan kanannya tidak juga ditarik. Ia bisa merasakan kelembutan luar biasa dan pulennya tetek Habel. Puting mancung itu tak berhenti menggesek telapak tangannya, lalu perlahan terasa semakin mengeras di sana.
“Kamu kan mau bantu cariin ukuran bra untuk aku, Mas. Apanya yang nggak bener, hm?” goda Habel sambil tersenyum nakal. Ia mencondongkan tubuhnya lebih dekat, lalu menarik tangan kiri Dika dengan paksa.
Kini kedua tangan besar Dika benar-benar menangkup payudara Habel yang montok. Meski telapak tangannya lebar, dada Habel yang begitu besar itu masih meluber keluar di sela-sela jarinya.
“Mmnhh… gimana menurut kamu, Mas? Beneran 36D nggak?” tanya Habel sambil menggigit bibir bawahnya, suaranya mulai mendesah karena remasan Dika.
“Mas, kok bengong!” goda Habel sambil terkekeh geli.
“I-Iya bener kok, Non… Tetek Non Habel memang ukurannya 36D,” sahut Dika tergagap. Ibu jarinya tanpa sadar mengelus puting mancung itu hingga semakin keras dan menonjol.
“Mngghhh…” desah Habel saat Dika menekan-nekan putingnya dengan ibu jari. Sementara. tubuh kecil itu tersentak keenakan dengan punggungnya melengkung sehingga dada gadis cantik tersebut kian membusung ke arah sang sopir.
Semakin lama remasan Dika semakin berani. susu Habel yang lembut, hangat, dan berat itu terasa sangat candu di tangannya. Namun, tiba-tiba ponsel Habel yang tergeletak di dashboard pun berdering keras. Habel melirik ke arah ponselnya dan melihat nama yang muncul di layar.
Papi Sayang.
Dika yang melihat siapa penelpon tersebut pun sontak melepaskan kedua tangannya dari dada Habel dengan cepat. “M-Maaf, Non!” kata Dika yang sedikit gentar, takut apabila Habel bercerita tentang aksinya barusan.
“Ihh, papi gangguin aja,” kata Habel seraya mengambil ponselnya, lalu mengangkat panggilan tersebut dengan dada yang dibiarkan telanjang, membuat mata Dika tak berhenti melirik dengan ujung ekornya.
Sial, Dika pun baru menyadari bahwa gundukan di bawah celananya pun ikut membesar dan terasa menyempit di dalam sana.
