Work Text:
First sports day for Keonho, the sixth one for Martin.Though the former is a newcomer, dia nggak begitu teruja. Lain pula dengan Martin, yang sudah seminggu lebih awal sering keluar untuk mengitari kawasan perumahan mereka, going for a run katanya.
“Wanna go?” Martin bertanya kepada Keonho yang duduk tegak dengan Macbook yang diletakkan di atas meja belajar, lagi-lagi karena ‘Mama nggak suka gue slouching’.
“Nah” Dengan pantas dia menolak ajakan Martin.
“Gak mau prepare for sports day? It's tomorrow loh”
“I’m just going for attendance anyways” Kalo nggak diwajibkan kehadiran semua pelajar, Keonho bahkan nggak mau menjejakkan kakinya ke mini stadium nanti.
“Oh, okay. Bye then, might go for a jog somewhere further deh. I’m going with my friends”
“Yeah, whatever” Keonho melambaikan tangannya, namun matanya masih memandang lamat layar Macbook nya.
“Have you seen the list? Kok adek lu masuk acara?”
Martin was busy stretching his limbs when Juhoon suddenly spewed out his words.
“What?” Mulutnya terlopong, what? Sports Day is tomorrow, dan dia baru tahu adeknya mengikuti acara? Bukannya Keonho hadir hanya karena perlu?
“Lah? Lu nggak tau? Relay 4x400, mana lawan sama gue” Seonghyeon menyela meskipun sibuk mengikat tali kasutnya sendiri.
Martin makin melopong, hah? Relay? 400 meter? Adeknya?
“Don't play with me cok, show me the list”
Mampus, beneran! An official list, with Keonho full government name. 4x400. Representing the Blue Team.
“The fuck? How is he gonna run the whole lap? Udah seminggu gue ngajak dia jogging, dia nolak terus”
Martin sedikit ragu, dia tau kok Keonho nggak sepayah itu dalam olahraga, tapi dia khuatir loh. The chances of his brother getting injured with no proper training are higher!
“Liat aja besok deh, bisa jadi dia cuman pelari cadangan”
Martin memerhatikan Keonho yang menghempas pintu mobil pelan. Dia nggak mau bertanya lanjut, soal Keonho yang tiba-tiba masuk acara.
“Why are you fretting?” Martin menegur pelan.
“Hari ini bakalan panas banget, adek nggak suka” Keonho memeluk tasnya erat, pakaiannya nggak begitu menggambarkan dia bakalan memasuki kategori 4x400.
Soalnya, dia masih menggunakan tracksuit serta baju olahraga dengan logo sekolah. Berbeda dengan Martin yang dengan santai menggunakan celana selutut dan kaos polos, it's Sports Day bro! Dress code is practically nonexistent!
Jadi makin ragu deh Martin, emang bener ya Keonho bakalan ikut lari?
“Might not be able to follow you around deh hari ini, unless adek yang mau ikut abang”
Keonho hanya bergumam kecil, tidak terganggu dengan bicara Martin.
“Find me somewhere with a shade deh, adek nggak tau layout mini stadium nya gimana”
Keonho bahkan tidak peduli tentang booth yang dibuka oleh rakan sekelasnya, dia pusing banget sekarang. Matahari makin terik, karena kategori acaranya memang dijadwalkan pada tengah hari. Ini sudah kali kedua dia membaluri tubuhnya dengan sunscreen.
Martin sudah menghilang entah ke mana, dia nggak tau. Sedikit sahaja lagi acaranya akan mulai. Maka dengan itu, dia mengambil tasnya yang berisi dengan pakaian olahraga.
Hey, dia mengaplikasikan konsep physics ya. Baju olahraga nya sekarang hanya akan bikin larian nya terbatas, more resistance. Jadinya, he's gonna change into someghinh more sporty.
Celana pendek berwarna hitam yang seharusnya mencapai lututnya ternyata udah kekecilan, malah celana pendek itu memperlihatkan paha dalamnya. Untung saja nggak ngetat.
Not really an issue, matanya bisa menangkap kelibat ahli track and field yang menggunakan compression legging. Nyetak banget!
He's so ready to lose, but he's just going to run as fast as he can anyways. Keonho bahkan masih nggak percaya, why is he chosen to be the last runner? Blue Team udah nggak punya ahli lain ya?
Akhirnya dia keluar dari cubicle itu, tanpa sadar ada seseorang yang sedang sibuk menata rambutnya di hadapan kaca besar sudah menoleh ke arahnya.
“Eh? Keonho?”
Oh shit, of course the former head prefect, James, would pay a visit to his school Sports Day!
Keonho bingung sendiri hendak menyapa atau nggak, jadinya dia hanya tersenyum kecil lalu mengangguk pelan dan mendekati James yang sudah membalikkan tubuhnya.
“Have you seen Martin?” Nggak tau mau ngobrol apa.
“His event masih lama kan? I think he's around the track deh, mau cheer for Seonghyeon”
Tanpa sadar Keonho mengepal tangannya. Hello, abang? Why does abang malah support mantan adek? Please cheer for adek instead!??
Nggak bisa juga dia menyalahkan Martin sepenuhnya, soalnya dia nggak memberitahu dia dipilih menjadi pelari juga. Takut banget kalo dipaksa mengejar pace abangnya!
“Oh, I’m also running… bisa temenin aku ambil bib nggak?” Keonho hanya berbasa basi, lagipula dia memang memerlukan bantuan untuk memasang bib larian.
“Sure” Nggak sadar aja sorot mata James malah fokus ke pahanya, gila… kalo dia jadi Martin pun dia bakalan risk it all!
“Yo, look at that juicy thigh” Juhoon mempamerkan senyum nakal, dengan lancang mulutnya menegur.
Keonho dan James jalan beriringan, akhirnya mereka bertemu dengan mereka bertiga
“Hey! Watch your mouth!” Wajah Keonho memerah telak, what was that? Juhoon udah gila ya? Keonho udah bodo amat, dia memukul keras lengan Juhoon, what's wrong with abang’s friends?
“Bukannya lu pake tracksuit tadi? Kok malah pake shorts?”
Lagi-lagi Martin melopong. Erm, hello world? Ini paha adeknya udah kemana-mana emangnya gak papa ya? Dia bahkan nggak sempat menjeling ke arah Juhoon, maaf dia salfok melihat paha Keonho.
Juhoon wasn't wrong, that thigh is juicy as hell! Cuman Martin should be the one to say that out loud!
Paha Keonho keliatan menggoda banget…. milky thigh…. Martin nyesel nggak pernah meninggalkan tanda di paha itu. And the way Keonho's thigh keliatan plumpy banget… Martin would do anything to fuck that milky thigh asap.
Seonghyeon juga megerjapkan matanya bingung, last time he checked, Keonho thigh wasn't this thicc. Like that THICC! Kutukan mantan ya ini? Tanpa malu dia malah menghulurkan tangannya, he's going against Keonho anyways.
“Let's have a fair game, kamu- eh no, lu last runner juga kan?” Maaf deh Seonghyeon malah kelepasan pake aku-kamu.
Keonho hanya melihat tangan yang dihulurkan itu lama, agak ragu hendak menyambut ajakan berjabat tangan itu. Dengan perlahan dia mengalihkan pandangan nya pada Martin untuk memperlihatkan reaksinya.
Martin sekadar mengangkat kedua bahunya, Keonho could do whatever he wants.
Setelah sekian lama, kulit Keonho dan Seonghyeon akhirnya bertemu. Senyum kecil mulai terbit di wajah Seonghyeon.
Juhoon dan Martin saling berpandangan, bocah itu masih gamon kah? Mampus, kayaknya Martin salah langkah deh.
Their group chat won't stop buzzing tonight karena Seonghyeon delulu. Biasanya kalo udah kayak gitu, Martin harus repot-repot menghantar selfie nya dengan Keonho yang sedang berpelukan to shut him up.
“Mau bet nggak siapa menang?” Juhoon bertanya, bulir peluh sudah menghiasi pelipis mereka berdua. James sudah mengundurkan diri, dia memilih untuk menebar pesonanya di booth.
“Sure” Martin sudah sedia mengeluarkan dompetnya, namun segera ditahan oleh Juhoon.
“Don't feel like betting money. Gini deh, gue bet Keonho bakalan menang. So if he actually wins, let me do something”
Dahi Martin segera berkerut, dia udah hapal banget dengan kebejatan Juhoon. Dia nggak peduli sih, but not his brother please.
“Maksud lu ‘something’? What's in it for me?”
“I will bribe the kid yang bakalan measure your long jump. Lu nggak usah repot sok athletic deh. I will make sure you win”
Martin terkekeh pelan, oh hell, emang kayak gini deh mereka biasanya.
“Tell me, what do you want?”
“Let your brother sit on my lap, that's all, I swear. Won't do much to your precious little brother”
Juhoon mengangkat kedua tangannya ke udara, melihat riak wajah Martin yang sudah berubah.
“That's not really up to me, you know? I don't really know what's on his mind”
Martin memberikan alasan, namun tidak sepenuhnya menolak. Cuman pangkuan doang kan? Juhoon won't be able to do much, mini stadium ini rame. And Martin didn't whore Keonho out, quite safe right?
Lagipula, nggak mungkin Seonghyeon kalah kan?
“Fucker, kok lu kalah sama adek gue?” Martin mencengkram rambutnya sendiri, kok malah dia yang frustasi Seonghyeon kalah?
“Abang! Look, I won!” Belum sempat Martin menyambung makiannya, tubuhnya dipeluk dari belakang oleh Keonho yang memekik gembira menunjukkan medalnya.
“Congrats, nerd. Oh, you're sweaty” Martin membalas pelukannya sambil mengusap rambut yang masih menitikkan peluh di ujungnya.
“But, I won!” Keonho melepaskan pelukannya, bibirnya menekuk ke bawah. Abang doesn't really seem happy with him winning. Kenapa ya?
“Of course, adek. Mau ice cream nggak? Let's go see the food stalls deh”
Mereka berdua pergi menjauh, meninggalkan Seonghyeon terlantar di track. James dan Juhoon hanya tertawa, goblok.
“Kok lu bisa came in second deh? Bukannya lu pede banget bakalan menang?” James menendang pelan kaki Seonghyeon yang masih belom recovered from his loss.
“I was ahead, tiba-tiba Keonho motong gue. I could've sprinted again, tapi gue malah slow down waktu liat shorts dia rode up higher”
Napas Seonghyeon masih terengah, tai banget punya temen kayak gini. Nggak ada yang bawain minuman atau apa pun!
Parah banget. James sampe speechless.
“Congrats, man. Makasih udah kalah, gue bet Keonho yang menang tadi” Tawa Juhoon meledak menjadi-jadi, dia sebenarnya nggak berharap banyak Keonho bakalan menang.
Gak nyangka aja, today is his lucky day.
“Mind if we join?” Meja bulat yang hanya memiliki 4 kerusi itu tentu sahaja tidak mencukupi buat mereka berlima.
Keonho bahkan mengerutkan wajahnya nggak suka, it's supposed to be him and Martin doang. What's with the others following them?
Dia memperhatikan notifikasi dari Martin, keningnya bertaut sempurna.
give ur seat to Juhoon
what
hes the only one standing up
why should i be the one standing?
go sit on his laps
abang ihh
cant i just sit on yours :(
abang gak bisa pangku adek
my event starts after this
abanggg
adek malu
he wont do anything to you
if he does
scream
what r u even saying rn
Keonho akhirnya berdiri dari duduknya, napasnya terhela berat. He sensed something was odd, but what could it be? Alasan Martin yang nggak bisa memangkunya agak logik, namun jika dipikirkan , it won't take long for Keonho to finish his ice cream.
Nggak bakalan bikin paha Martin kebas maupun pegal karena mangkuin. So, what's wrong?
“Kok lu berdiri? Duduk aja, champ” Juhoon sengaja berpura-pura tidak tahu. Part of his usual routine, playing clueless.
“I’m offering you my seat”
“Nanti lu duduk dimana?”
“On….your laps?” Keonho ragu-ragu mau menjawab, dia bahkan tidak menatap wajah Juhoon, karena dia menatap dalam wajah Martin.
Surprisingly, Martin nodded with acknowledgement, not even an ounce of jealousy shown. Could it be? Martin sebenarnya bisa berbagi Keonho, cuman bukan dengan Seonghyeon?
“Okay, sure. Sini” Juhoon menyelesakan dirinya, sebelum menepuk pahanya sendiri, mengisyaratkan supaya Keonho menduduki dirinya.
“Sorry if I'm heavy” Cicit Keonho pelan, tubuhnya bergidik saat Juhoon merehatkan tangan di paha Keonho yang tersingkap itu.
Martin melirik ke arah mereka sesekali, sebelum akhirnya membuka mulut.
“Adek, your ice cream”
Keonho didn't even realised ice creamnya sudah meleleh mengenai tangan Juhoon yang masih betah diletakkan di atas pahanya.
“Oh! Sorry, Juhoon. I don't have tissue” Keonho merutuki dirinya sendiri, kok bisa aja dia ketinggalan wet tissue nya? Padahal selalu dia bawa.
“Are you sure nggak ada?” Tangan Juhoon yang bersih mulai bergerak merogoh poket Keonho, berpura-pura mencari paket tisu itu.
“Nggak ada…” Suara Keonho lirih berbisik, soalnya tangan Juhoon lebih mirip mengusap sensual daripada merogoh poketnya.
James dan Seonghyeon masih bengong, what is actually happening right now? Lagi-lagi Seonghyeon, kok Martin kayak cuek aja adeknya digerayangi?
“Just lick it”
Solusi yang diberikan oleh Keonho secara spontan itu masuk akal, namun balasan Juhoon malah membuatnya ingin segera meloncat kabur dari pangkuan Juhoon.
“Gue nggak suka ice cream, lu aja yang jilat”
Martin sedaya upaya menahan dirinya daripada menendang pelan kaki Juhoon dari bawah meja, tadi kan janji cuman mau pangkuan? Nggak ada perjanjian Keonho bisa jilatin tangan Juhoon ya!
“Eh? No”
Juhoon mati-matian menahan tawanya, damn. Nggak heran Martin bener-bener smitten dengan Keonho. Must've been so nice to have Keonho wrapped around his fingers.
“Abang”
“Ya?”
“I left something in your car. Temenin adek”
Dalam hati Martin, dia udah mau mengetawakan Juhoon. Baru sebentar aja Keonho duduk di pangkuannya, udah langsung mau kabur.
“Yeah, let's go”
It took everything for Juhoon to refrain himself from slapping that perky butt in front of him. Dia nggak mau digebukin Martin di khayalak ramai. Save him some face lah!
“Kok Martin biarin adeknya pangkuan sama lu?”
James segera bertanya, sejak tadi dia hanya mendiamkan diri, fokus dengan kejadian aneh di hadapan matanya.
“Gue bet Keonho bakalan menang, and I won. That's why Martin kayak gila waktu lu kalah” Juhoon menunjuk ke arah Seonghyeon yang baru mengangkat wajahnya.
“Fuck ass, that's why dia nyalahin gue kalah”
Terjawab sudah persoalan Seonghyeon, dia kira Martin was just being an asshole.
“Apa yang ketinggalan?” Martin unlocked his car.
“Nothing, adek cuman mau air cond”
Mendengar itu, Martin akhirnya ikut masuk ke dalam mobil, lalu menyalakan mobilnya. Anything for adek.
“How long before your event?”
“Bit more than half an hour? Not sure, tunggu announcement aja”
Martin menghela napas lega, gila enak banget wajahnya diterpa dingin ac di saat matahari sedang terik di luar. Jadi malas deh harus ikut acara lagi.
“Oh. Mau blow job nggak? Let me cheer for you now, adek nggak mau panas-panas di sana”
Gak jadi dingin, tubuh Martin terasa kembali panas mendengar tawaran Keonho itu. Blowjob? Di parking lot? Right before Martin’s event? To cheer him up?
Hell, yeah! Dia semangat banget sekarang! Martin immediately moved his seats to the back, leaving enough space for Keonho to kneel.
“Abang bisa cum kan kalo cuman blowjob?” Keonho takut-takut bertanya, jangan bilang Martin cuman bisa keluar kalo ngentot aja!
Martin tertawa pelan, guess he has to let loose deh.
“Bisa kok, don't think too highly of me”
Dia menurunkan celananya, membebaskan kontolnya yang gak pernah gagal ngaceng kalo di dekat Keonho.
“Abang smells nice” Keonho mengendus pangkal kontol Martin, lama kelamaan hidung bangirnya malah merambat ke perut bawah abangnya.
Merasa geli, Martin segera menahan kepala Keonho, dan adeknya langsung mendusel di telapak tangannya. Woah, kayak kucing.
“Sange?”
“Hmm, yeah. Tapi gak papa, I can wait”
“Sange karena dipangku Juhoon?”
Keonho makin mendusel, bahkan tangannya menggenggam sebelah lagi tangan Martin
“Abang marah, ya?”
Martin hampir tertawa, how could he be mad? Dia nggak bakalan jadi hypocrite deh, seeing Keonho’s flushed face waktu dipangku oleh Juhoon, really turned him on. He doesn't really mind sharing adeknya, just to get that reaction out of Keonho again.
“Mau sama Juhoon atau sama abang?”
“Both”
Suara Keonho bahkan hampir tidak dapat didengar, cuman Martin aja yang menerka dari gerak mulutnya.
“As if you could handle us both, nerd”
Martin mengarahkan kontolnya yang sudah menegang sempurna untuk menampar pelan pipi Keonho yang memerah karena cuaca…ataupun karena pikirannya sudah melayang.
Dengan kedipan mata yang menggoda, Keonho melahap habis-habisan kontol Martin tanpa memutuskan kontak mata, mulut hangatnya membuat Martin tersenyum sendiri.
It's a wonder Keonho could give the most mind blowing head, tapi masih payah dalam ciuman. Deepthroat juga dijabanin, tapi kalo diajak beradu lidah, Keonho kaku banget.
Genggaman Keonho pada pangkal kontolnya membuat Martin tersenyum geli, could adek do it with no hands?
“Bisa kan masuk semua? Coba jangan pake tangan”
Keonho yang sedang mengemut kepala kontol itu hingga pipinya kempot, segera mengeluarkan kontol Martin.
“Mulut adek pegel nanti. Kontol abang gedee!”
“Bisa kok, coba dulu”
A pliant little brother who won't be able to say no, perlahan mulai bekerja lagi. No hands, just his warm mouth enveloping almost all of the length.
“Pinter” Martin memainkan surai legam Keonho, membuat raut wajah Keonho segera berubah.
Jangan bilang kalo-
“Ukhhh! Mmfh! Grhh!” Keonho menepuk kuat paha Martin supaya berhenti menahan kepalanya, memaksa untuk memasukkan semua.
Dengan perlahan, Martin melepaskan pegangannya pada surai Keonho.
“Haa- abang…” Keonho menyeka sudut bibirnya yang sudah berlepotan dengan liurnya sendiri, nafasnya terengah-rengah saat wajahnya dipejuin secara tiba-tiba.
Abang could cum this fast? Kok sebelum ini he took way too long to finish?
“Okay-okay, sorry. Come, sit on my lap. Let me wipe your face”
Martin menepuk pahanya, mengisyaratkan Keonho supaya mendudukkan dirinya. Padahal baru tadi dia menegah Keonho daripada menduduki pangkuannya cuman karena mau menuntaskan bet dengan Juhoon.
“Abang” Keonho memanggil pelan, kepalanya direhatkan di dada bidang Martin.
“Yeah?”
“I lied”
Martin mengerutkan alisnya, what? Belum sempat dia bertanya lanjut, Keonho duluan menyela.
“Adek nggak bisa tahan sange, just a quickie, please?”
Hoho, Martin mati-matian menahan dirinya dari tertawa geli. As expected, adeknya needy banget.
“Oh iya? Tapi udah mepet nih, my event is starting really soon”
Keonho hanya mendiamkan dirinya, cuih! Udah keluar langsung gak mau ngenakin!
“Not even a quickie?”
“Nggak bisa, adek. Lu mau gue kecapekan terus kalah, ya?”
“Do your best then” Keonho mengecup pipi Martin, sebelum kembali melangkah ke passenger seat. Dia lebih rela menunggu di dalam mobil daripada berpanasan di luar.
“I won”
Keonho yang leka memainkan hpnya hampir sahaja berteriak kaget saat pintu mobil kembali dibuka oleh Martin, mempamerkan gold medal yang dikalungkan di lehernya.
“Congrats, abang” Dia hanya memandang sekilas, memberikan thumbs up. He's too drained now.
“Capek?” Martin bertanya, meskipun fokus nya masih dengan pemanduannya.
Keonho hanya bergumam mengiyakan. Keningnya bertaut, kok Martin kayak mengikuti mobil di hadapan mereka? Bahkan route mereka seharusnya lurus, namun Martin malah mengikut mobil di hadapan yang mengambil left turn.
“Where are we going?”
“Juhoon’s apartment”
Mulut Keonho melopong, what? Ngapain!
“For what?” Dia segera meletakkan hpnya, abang ngomong apa sih?
“Don't you want both of us? I thought you were serious, gue udah terlanjur bilang sama Juhoon tadi”
Keonho sampe speechless, what? Martin actually told his buddy?
“Abang! How could you!”
Wajah Keonho terasa menghangat dan tentunya memerah, he thought it was just one of Martin's dirty talks! Lagipula, abang pun nggak yakin Keonho bakalan bisa ‘handle’ both of them at the same time.
“Oh, nggak mau ya? Jujur aja sama abang, do you want to do it with him or not? Kalo nggak mau, kita hang out aja”
Kalo begini, Keonho harus berperang dengan dirinya sendiri. Dia nggak tau harus berekspektasi seperti apa. Waktu Juhoon ikut menjadi penonton, Keonho was embarrassed out of his wits. Gimana kalo Juhoon ikut-ikutan?
“Hey? Mau atau nggak?”
“Mm….. would you be mad if adek mau?”
Tawa Martin membuyarkan perasaan gusar di hati Keonho, namun malah menggantikan rasa gusar itu dengan rasa kesal.
“Don't laugh at me, stupid!” Keonho memalingkan wajahnya, urgh, abang jahat!
“Promise, I won't. Juhoon might be better than your ex”
“Abang! Why brought him up, lagi?!”
Tenang, mereka nggak se-desperate itu untuk ngentot. Martin and Juhoon lagi smoking di balcony. Lebih tepatnya Juhoon, karena Martin cuman vaping.
“He's aware of this, kan?” Juhoon bertanya dengan sangsi, never once dia menyangka bakalan bisa ikutan menikmati Keonho. Martin had put up an invisible barrier.
“Tolol, lu kira gue sebrengsek itu ya? I’m taking good care of him” Tawa Martin meledak, sesekali menoleh melalui sliding door, memperhatikan gerak geri Keonho yang malah sibuk memerhatikan 3D Printer di dalam sana.
“Real good, huh?” Juhoon menyunggingkan senyuman sinis, Martin; brother of the year!
“Damn good, help my brother out, yeah? Bring out more of his slutty nature. Dia masih nggak jujur sama diri sendiri”
Puntung rokok itu dimatikan di dalam ashtray, mereka berdua kembali masuk ke dalam. Keonho yang sedari tadi masih melihat 3D Printer yang sedang bekerja.
“New project? Filament nya mahal ya? Worth it nggak?” Soalan bertubi-tubi itu membuat Juhoon tertawa, nerd alert.
“Nggak, gue cuman butuh spares untuk circuit. Mahal sih, tapi lebih durable”
Martin memasang riak wajah jengkel, dasar nerds!
“Abang! Adek mau ini!” Keonho membalikkan tubuhnya, menghadap Martin yang memutarkan matanya malas.
“Bisa 3D print buttplug lu nggak? Kalo bisa, gue beliin deh”
Juhoon tertawa, mulai deh those playful banters. Bagus sih, nggak bikin suasana tegang banget.
“I thought you lived with your parents?” Keonho menggigit pelan straw nya, sekadar berbasa-basi.
“I’m only here on weekends, and for special occasions”
Keonho hanya ber oh ria, abangnya malah nggak tau malu bikin instant noodles di dapur. Come back, abang!
“Nervous?” Juhoon bertanya, sejak tadi melihat Keonho menggigit straw, udah mirip kayak bunny.
“Ha? Oh…malu juga sih” Keonho menundukkan wajahnya, abang, faster! Adek gak mau ngomong sama temen abang lagi!
Juhoon semakin merapatkan jarak mereka, meletakkan tangannya di atas paha sintal Keonho.
“Don't be, just think of me as a catalyst”
“Catalyst? For what?”
“Two is better than one, just saying” Juhoon kept it ambiguous, namun Keonho sudah menangkap arah obrolan mereka.
Ugh! Temen abang juga jorok!
“Lah? Udah mau mula ya? Gue baru mau makan” Martin baru muncul sambil menatang semangkuk mi.
“Nggak kok, cuman ngobrol aja”
Juhoon masih mengelus pelan paha Keonho, sesekali merambat hingga ke paha dalamnya. Namun apabila tubuh Keonho bergidik, dia akan menarik kembali tangannya.
Empunya apartment itu sedang merapikan kamarnya, meninggalkan abang-adek itu untuk bercengkrama.
“Mau 3D Printer nggak?” Martin menunjukkan mesin itu menggunakan dagunya.
“Mau” Nggak usah ditanya pun Keonho mau, dari tadi dia masih fokus dengan mesin itu.
“Convince Juhoon to not use condom. Kalo bisa, gue beliin deh”
“What? Aneh banget! That's his choice mau pake atau nggak!”
“Exactly, kalo adek bisa convince Juhoon to go raw, abang beliin deh”
“Lu duluan aja, it's okay” Martin membantu Keonho melepaskan pakaiannya, meskipun Keonho bisa sendiri. Sengaja aja mempamerkan ‘kemesraan’ abang-adek itu kepada Juhoon.
“Bentar dulu cok. Keonho, tell me, what's your limit?”
“Hm? Not sure, abang knows better”
Juhoon memicingkan matanya kepada Martin, kok kayak manipulative ya?
Menyadari dirinya diberikan tatapan tajam, Martin segera menggelengkan kepalanya, yo, he didn't do shit!
“Rephrase ayat lu, nerd. Don't villainise me”
“Huh? I just said you know better, ada yang salah? Abang selalu bikin adek enak”
Someone wipe that smug smile off Martin’s face now!
“See? Perfectly healthy relationship”
Juhoon hanya berdecih pelan, muak banget melihat Martin yang malah ketawa.
“So you're good with everything? Spanking?”
“Not too fond, but abang loves spanking me. Maybe….I’m grown used to it” Dengan perlahan Keonho mendudukkan dirinya di atas kasur yang empuk itu.
“Oh yea, lu cuman bisa ngentotin memeknya. His hole is mine” Martin menyela, he's setting the boundaries.
“Tck, fine. Spread your legs, Keonho”
“Ha? Langsung masuk aja?”
Juhoon tertawa, Keonho udah terlalu biasa dimanjakan oleh Martin. He has to set his game up, then.
“Sit on my face aja deh, I will eat you out”
“Malu….” Keonho meronta kecil saat tangannya yang menutupi wajah ditahan ke belakang oleh Martin.
“Jangan malu, it's just us three”
Martin sengaja menekan perkataan ‘three’, membuat Keonho yang baru mau menurunkan tubuhnya ke atas wajah Juhoon kembali ragu.
This is absurdly crazy.
Juhoon yang menyadari Keonho kembali ragu, segera mencengkram paha Keonho supaya langsung menduduki wajahnya.
“Ah! I'm heavy!” Keonho malu-malu melihat ke bawah, cuman mata Juhoon yang keliatan, karena memeknya sudah menutupi separuh dari wajah kecil Juhoon.
Martin yang sudah berganjak ke samping kasur untuk melihat hanya tertawa kecil, poor nerd. Pasti takut banget kalo tanpa sengaja bikin Juhoon sesak napas. Nggak tau aja si Juhoon demen dicekek.
Lidah yang menyapa klitorisnya sebentar membuat tubuh bergetar, belum sempat Keonho mendesah, Juhoon duluan memberikan jilatan panjang di labia nya.
“Enak, adek?”
“Abang… adek malu…” Cengkraman pada kepala katil itu makin mengerat, hingga kukunya bertukar putih.
“Malu? Kok gerak sendiri?” Martin tertawa geli, Keonho pasti nggak sadar pinggulnya bergerak sendiri mengikuti jilatan Juhoon.
“Abang….” Suara Keonho makin lirih, meminta perhatian Martin.
“Shh, don't call for me. Bukan abang yang ngenakin adek, panggil Juhoon aja”
“Juhoon…” Terasa asing di lidahnya, namun sedotan kuat di itilnya membuat Keonho makin nggak coherent.
“Ahh- Juhoon! Enak… lagi…”
Remasan kuat pada pantatnya dari Juhoon membuat Keonho makin malu, namun dia nggak bisa menahan desahnya sendiri.
Tusukan lidah Juhoon kembali beralih ke liang memeknya, menusuk pelan dengan lidahnya. Lidah tebal itu menyelinap masuk, membuat Keonho hampir terjungkal ke belakang.
Menyadari itu, Juhoon mengangkat paha Keonho, menjauhkan sedikit wajahnya dengan memek Keonho yang sudah banjir..
“On your back aja, payah juga adek lu” Juhoon membaringkan tubuh Keonho pelan, lalu melirik ke arah Martin yang hanya tersenyum tipis.
“Don't be mean to him, nanti nangis loh”
Keonho segera menggelengkan kepalanya, dia nggak cengeng!
“Oh, mau nangis? Nangis aja, gue makin suka kalo lu sampe nangis”
Mata Keonho segera membulat, what is wrong with this dude!
“Hiks- udah! Juhoon! Stop lapping on my pussy…. I just came” Cengkraman kuat pada surai Juhoon serta pahanya yang mengapit kuat sisi kepala Juhoon tidak diendahkan.
“Uh- abang…bantuin adek….”
“Mau abang bantuin gimana?” Martin akhirnya mendekat, mengelus pelan pucuk kepala adeknya.
“Make him stop… adek ukh- too much!”
Juhoon akhirnya menjauhkan wajahnya yang mengkilap, entah karena peluh ataupun dari memek Keonho yang nggak berhenti ngucur.
“That's all you could do, huh? ‘Waa waa’ that's what you sound like right now” Juhoon mengejek, telapak tangannya dirapatkan ke memek Keonho.
“Can I?” Bukannya bertanya dengan Keonho, Juhoon malah meminta izin daripada Martin.
“Not too hard, nanti bocor memeknya”
Tawa mereka menggelegar, mengabaikan Keonho yang merengek tidak terima.
“Ihh! Don't spank my pussy! I did nothing wrongg! Abang ihh, help me!”
“You're so vocal during sex, kok di sekolah lu diem aja?” Tamparan pelan pada memeknya berjaya bikin Keonho kicep.
“Hey, jawab” Lagi-lagi memeknya di tampar, Juhoon jadi gemes sendiri mau nampar dengan lebih kuat.
“Mmn- abang.. uh abang seems to like it when I’m loud…”
“Ohh, so you're catering to abang’s wants?”
“I wanna be- ukh good for abang”
Juhoon jadi iri dikit, so malleable for Martin, untung Keonho adek Martin dan bukan adeknya. He would've asked for more.
“Liat abang lu, so smug” Juhoon memegang dagu Keonho, memalingkan wajahnya supaya memandang ke arah Martin yang tersenyum sendiri.
“Wanna wipe that smile off his face?” Senyum ambigu yang menghiasi wajah Juhoon bikin Keonho ikut penasaran.
“How?”
Juhoon’s plans kinda flunked, soalnya ego Martin makin dibawa tinggi oleh Keonho.
Niatnya cuman mau Martin melihat wajah adeknya up close saat Juhoon hit it from the back, tapi that little slut malah nawarin blow job buat abangnya. Gagal deh mau cuckold Martin.
“Abang suka nggak disepongin adek?” Matanya berkedip sayu, lidahnya sibuk menjilat kontol Martin.
“Pay attention to Juhoon too, adek” Martin menyibak rambut depan Keonho, gak usah nanya, wajahnya sumringah banget.
“Malu…”
“Masih malu?” Juhoon bertanya, kontolnya menampar pelan itil Keonho, membuatnya mengeluh pelan.
“Masih… I can't stop thinking how awkward it's gonna be after this…”
Oh, itu ternyata yang mengganggu pikirannya sedari tadi. Martin dan Juhoon kompak saling berpandangan, dengan Martin yang segera membuat gestur supaya Juhoon menahan tawanya.
“Nggak kok, I will act like nothing happened afterwards” Juhoon segera menidakkan, meskipun dia mati-matian menahan tawanya.
Why worry now? Nanti aja.
“Really? You won't go around and cepuin gue punya memek?”
“Why would I do that?”
“Oh… just asking” Keonho menggapai tangan Martin yang masih menahan surainya, berusaha menutup gugup nya sendiri.
“Can I?” Juhoon bertanya pelan sambil melebarkan tungkai Keonho dengan lebih lanjut. Jujur dia udah sange banget liatin memek tembem Keonho.
“Slowly, yeah? I don't know what to expect” Keonho berbisik lirih, akhirnya menoleh kebelakang dan bertentang mata dengan Juhoon.
“Sure, bilang aja kalo sakit or anything” Small nod from Keonho was all it took for Juhoon to slide inside.
Oh damn, now he gets Martin who's willing to do anything for Keonho. Selain dari karena Keonho emang likeable, memeknya juga legit. Not to mention Seonghyeon yang gamon, could it be because of this fat pussy?
Juhoon mendiamkan dirinya, he didn't move at all, just relishing the heat enveloping his cock.
Keonho mengeluh pelan, it's different from abang’s.
“Adek? Are you okay?” Martin bertanya apabila genggaman pada tangannya melemah, tubuh Keonho hampir ambruk namun sempat ditopang oleh Juhoon dari belakang.
“Wait- um… I-”
“Ngomong yang jelas, adek”
“I’m losing my mind” Bisik lirihnya, membuat Martin kembali tersenyum.
“Oi, adek gue bilang kontol lu enak”
“I didn't say that! Uhh-” But he implied so, right?
Martin hanya tertawa geli, dia mendekat dan berbisik tepat di telinga Keonho.
“Ask him to go raw”
“No!”
“Mau 3D Printer atau nggak?”
Dengan napas yang memberat, akhirnya Keonho kembali bersuara.
“Hey, can you pull out for a while?” Keonho menoleh ke belakang.
“Yeah, sure” Juhoon mengeluarkan kontolnya kembali, mengernyit hairan apabila Keonho malah membalikkan tubuhnya supaya menghadap Juhoon.
“Gak usah pake kondom, bisa gak?”
“Kenapa?”
“I like it raw…”
Juhoon nggak masalah mau pake kondom atau nggak, cuman memang kebiasaannya aja. But getting asked to not wear one? Oh he would take it off right here and then, tapi dia juga mau mengusili Keonho.
“Gak takut hamil?”
“I can't, kalo gue bisa, abang probably knocked me up first”
“Ohh, jadi lu mau dihamilin Martin?”
“Shut up!!” Keonho segera menepis tangan Juhoon, dia bergerak sendiri melepaskan kondom itu, might as well dia aja yang take it off!
Baru sahaja dia ingin melepaskan kondom itu, tangannya ditahan oleh Juhoon.
“Emangnya gue ada ada bilang you can take it off yourself?” He swatted Keonho's hands, membuat Keonho mengaduh pelan.
Martin nggak pernah main tangan!
“Abang…. sakit… your friend is a meanie” Tanpa ragu Keonho langsung membalikkan tubuhnya kembali, gelendotan kepada Martin sambil berpura-pura menahan tangis.
“Ask him properly lah” Martin menolak pelan tubuh Keonho supaya masuk ke rangkulan Juhoon pula.
“Aww, must've been frustrating right? Udah keseringan dimanja sama abang lu? Crybaby”
Juhoon makin menggila menjahili Keonho yang sebentar lagi pasti bakalan menumpahkan air matanya yang sudah tergenang di pelupuk matanya
“Mau nangis? I’m a meanie ya?” Juhoon sengaja menengadahkan wajah Keonho, memperlihatkan matanya yang sayu dan wajahnya yang sudah basah dengan air mata.
“Quit it!” Keonho meronta saat tubuhnya dibaringkan di atas kasur, dia masih mau mendrama!
“Come on, I will fuck you raw if you cry harder”
“Mau…”
“Martin, lu aja deh yang bikin adek lu nangis”
“Nggak mau, anjir! Tuh dia udah nangis!” Martin nggak habis pikir, gimana caranya mau bikin Keonho nangis?
Juhoon finally caved in, he took the condom off and laid it on Keonho's flat stomach.
“Udah bisa dientot belum? Or do you need a moment?” Juhoon menepuk pelan pipi Keonho yang masih basah, sebelum menyeka air matanya.
“No, fuck me now” Keonho menghela napasnya pelan, baru Juhoon doang aja dia udah kewalahan. How about abangnya?
Nevermind, abang asked him to pay attention to Juhoon.
“Wait, go slow!”
“Iya, cengeng”
“Hn- Juhoon! Too deep!”
“Nggak suka?”
“That's my womb entrance, genius! Jangan makin dalamm uhh”
“Oh kalo gue stupid ya? Kok adek panggil Juhoon genius?” Martin mencelah.
“Ih abangg! Jangan ngajak adek ngobrol! Ukhh- mentok banget” Keonho udah pusing banget, Juhoon masih juga menghentak kontolnya dalam-dalam.
“Jangan makin di kempot dong, nanti makin dalam kontol gue”
Tangan Keonho yang nganggur di sisi tubuhnya di bawa untuk diletakkan di perut bawah Juhoon, lalu ditolak pelan ke belakang.
“Wait, it's really too much”
Juhoon akhirnya mengangguk dan mulai dengan ritme baharu yang lebih perlahan.
“How about now?”
“Ahh- yeah- better” Keonho memejamkan matanya rapat-rapat saat telinganya menangkap bunyi sesuatu. Something lewd.
It's his own pussy squelching… It's so embarrassing.
“Memek adek lu becek banget ya?” Unprovoked, Juhoon dengan lantang menegur.
“Yea, nggak perlu extra lubricant”
Juhoon makin semangat, the way his own cock glistens with Keonho's slick setiap kali dikeluarkan membuatnya tersenyum sendiri.
“Bisa squirt kan?” Dia mencuri perhatian Keonho dengan mengelus pipinya lagi, membuat sang empunya dengan perlahan membuka matanya.
“I can't differentiate mau squirt or pipis… I can't guarantee gue bisa squirt” Wajahnya makin memerah saat Martin tertawa geli mendengar perkataannya.
“No issues with cumming right? Abang lu bikin dengkul lu geter nggak?”
Martin wiggled his eyebrows, memastikan Keonho bisa melihat wajahnya yang menunjuk tanda bakalan menjahilinya.
“Tell him adek, what have I done to you. All the way from the start”
Juhoon tidak menggesa, namun dia yakin riak mukanya gave it away.
Dengan tarikan nafas pelan, Keonho akhirnya membuka mulutnya.
“After I drank what you gave me -uhh at the party, I may or may not have…touched myself on the way home”
“I haven't sobered up yet… but I found myself in my own bedroom…. memek gue gatel banget… I never touched myself before…so all I could do was… ah I’m not telling you, gue malu” Makin lama, suaranya makin pelan.
“Jadi gimana lu sampe ngentot sama abang lu?”
“I… went to his bedroom”
“Willingly?” That's equivalent to walking into the tiger's den.
“I don't know what else to do… I thought abang could help”
“Keterusan sampe sekarang ya?”
Juhoon picked up his pace, hingga Keonho gagal menahan desahannya.
“Mngh- yes yes there…ohhh you're good at this”
“Want more?”
“Don't bruise my cervix…. sakit..”
“Nggak kok, relax”
Juhoon wasn't necessarily evil, dia menuruti permintaan Keonho. How could he not bruh, Keonho is too pretty to be denied.
“How about your armpit? Abang lu pernah jilatin ketek lu nggak?”
Mata Keonho segera membulat, what the fuck? He unconsciously menyelipkan tangannya di bawah keteknya.
Martin segera memaki pelan. Anjing, Juhoon! Malah buka kartu!
“Oh, nggak pernah ya? Your abang is such a huge pervert, I found a whole album dedicated for you armpit”
“No way…” Keonho berbisik tidak percaya. He does remember, when they were little, Martin suka banget tickles his armpits. And he thought nothing of it!
“Yes way, come now. Tunjukin ketek lu” Jangan lupa, Juhoon juga yang ngaceng melihat ketek mulus Keonho!
“Nggak mau! Aneh banget ih kalian!”
“Of course you won't listen to me. Oi, Martin suruh adek lu pamerin keteknya”
“Abang! Hey- uhh it's ticklish!” Keonho udah mulai pusing, memeknya digenjot tanpa ampun, both of his armpits juga dijilat oleh mereka berdua. Dia mau berteriak, freak!
“Stop- hhh licking my armpits… I’m close… stop…”
This might be Keonho's end! He might explode from the unwavering waves of humiliation, namun pelepasan nya juga bisa dirasakan makin hampir.
“Want more?”
“Nghh- mau!”
Salah Keonho karena mempercayai Juhoon, karena malah jilatan pada keteknya yang makin intens, bukan genjotannya!
“Juhoon! Not there!”
“Then, where?”
“Don't do this to me! Memek gue udah mau bocor!”
“Bocor or mau pipis?”
“Just fuck my pussy harder! Please let me cum”
“Beg a little more”
“Fuck you! Come on! Mau cum! Ghhkk- don't be mean!”
“Watch your mouth, gue bukan Martin” Sekadar mengingatkan kok, Juhoon meant no harm. Dia yakin Keonho bakalan di pampered habis-habisan selepas ini oleh Martin.
“Jahat! Juhoon jahat! Come on! Just bruise my womb or whatever! I don't care now! I have to cum!”
At least Juhoon succeeded in bringing out his inner slutty side.
“So desperate now? Bukannya tadi lu malu?”
He successfully denied Keonho of his orgasm. Keonho hanya mengeluarkan suara protes pelan, he's boneless even without cumming.
“Udah nggak mau cum lagi? Kok diem?” Juhoon hendak meraih pipi yang memerah itu namun segera ditepis.
“I hate you!” Kilat mata Keonho yang awalnya sayu sekali malah membara sekarang.
“Iya iya, lu cuman sayang abang lu doang” Juhoon memutarkan matanya malas, spoiled brat!
“Don't tease him too much deh, adek gue ngambek nanti” Intervention from Martin membuat Juhoon makin semangat mau ngerjain Keonho.
“Muka gue kayak peduli nggak?” Shallow thrusts itu malah berubah menjadi dalam dan intens, membuat Keonho tanpa sadar merangkul punggung Juhoon.
“Bukannya lo benci gue? Kok tiba-tiba peluk?”
“Don't… I’m close… Please, Juhoon…. Gue nggak kuat… Hngh- Please breed my pussy…”
“Slut” Juhoon menampar kuat paha dalam Keonho sambil menggeram rendah, so desperate for a release.
Oh shit, Martin panik sekarang.
“Ahh! Huu- don't- mmmnh Don't call me that!! Nghhhhh I’m cumming!”
“Why not? Only slut yang bakalan nangis-nangis minta memeknya dipejuin”
Keonho masih dibawa tinggi oleh pelepasannya, namun air matanya kembali membanjiri wajahnya.
“I'm not a slut…” Bisiknya lirih.
“But you're so slutty”
“No…. I’m abang’s good boy…”
“You're a good boy and a slut, Keonho. Being a slut doesn't necessarily means you're not a good boy”
“But… Seonghyeon called me a slut… and I felt bad…”
“He doesn't mean it that way, hang on, can I really breed your pussy?”
“Yeah…” Keonho menutup matanya erat-erat, merasakan sensasi memeknya dipenuhi sedikit demi sedikit.
“Enak?” Entah Martin menujukan pertanyaan kepada siapa, namun Juhoon duluan yang menyahut.
“The best in a while, let me hit again, yeah?” Juhoon terkekeh pelan, though he believes this threesome won't occur twice.
“Tanya dong sama adek gue”
“Am I on par with Martin?” Juhoon mengalihkan perhatiannya, meskipun dia yakin Keonho nggak bakalan bisa menjawab.
He's in a daze, he came once again mid thrust dan sejak itu otaknya udah kopong.
“Adek” Martin memanggil pelan sambil mengelus pipinya, jadi yakin kalo adeknya lost in pleasure and probably his thoughts too.
It took him a while to bring Keonho back, he seems to be awfully quiet with Juhoon. Kalo sama Martin, he's just a blabbering mess.
Juhoon yang sudah selesai dengan ronde pertama perlahan menarik keluar kontolnya, he fed that hungry pussy real good. Pejunya ikutan keluar saat kontolnya dikeluarkan.
“Your turn now” Dia beranjak keluar dari kamarnya, he's in dire need of hydration..
“Hey? Juhoon ngentotin elu too rough atau gimana?”
“Ha? I can't talk now” Keonho is still boneless after his second orgasm.
“Why not?”
“It's confusing”
Martin terkekeh pelan, too big of a revelation ya? Dengan pantas dia merangkul tubuh Keonho, membiarkan adeknya gelendotan.
“Slut shaming is a thing, you know? It's surprisingly normal during sex, tapi kalo adek nggak suka. Just say it beforehand”
“It's not like… I’m totally against it… cuman adek takut… what if I… like it?”
“Be honest to yourself, adek. Don't hold yourself back”
Keonho hanya bergumam sebagai balasan, suara derap kaki yang terdengar membuatnya makin menyembunyikan wajah di ceruk leher Martin.
“Here you go” Juhoon menyodorkan botol minuman itu kepada Martin, yang disambut baik.
“Hey, don't space out for too long. Minum dulu”
Too late, Keonho was too overwhelmed, his whole body shut down.
“Kenapa adek lu?”
“You opened a whole new world for him, langsung passed out dia. Smoke break dulu, yuk?”
If it weren't for the constant rocking, Keonho bakalan ketiduran lebih lama. He's still in a daze, namun rasa penuh di bawahnya memaksa supaya membuka matanya.
What's happening? He's still as naked as he was before, namun tubuhnya terasa hangat.
Of course he would be warm, ternyata tubuhnya dipeluk erat dari belakang oleh Martin, sedangkan wajah Juhoon begitu hampir dengan wajahnya sendiri.
“Adek lu udah bangun”
“What are you guys doing…”
“Filling you up” Juhoon memberikan jawaban singkat.
“Since when?”
“A while since you were gone, Martin told me it's okay”
“Why am I facing you?”
Lah? Salah Juhoon kah kalo Martin yang berkeras cuman dia yang bisa ngentotin lubang Keonho?
“Ask your brother”
Keonho berusaha untuk menggapai tubuh yang berada di belakangnya.
“Abang”
“Ya?”
“Did you cum yet?”
“Udah. Gak sadar?”
“No”
Jujur Keonho bingung, he could only lean forward, tapi dia malu harus bertatapan langsung dengan Juhoon!
“Mau cium?”
Wajah Keonho memerah telak, dia baru menyadari ternyata cuman Martin sahaja yang menyumpel lubangnya. Kenapa Juhoon juga ikutan menghimpit tubuhnya?
“Answer him, adek”
“Nggak mau, nanti adek diledek lagi”
“Just a peck then” Juhoon masih berusaha, he felt bad melihat Keonho terkulai lemas di atas kasur, even when Martin assured it's fine.
Keonho dengan perlahan mempertemukan bibir mereka, he's such a mess for agreeing to this….
“You taste like cigarettes”
“Life's hectic” Juhoon tertawa pelan, akhirnya melepaskan ranum itu.
“Adek, wanna try something new?” Martin memberikan jilatan panjang di belakang leher Keonho, membuat tubuh adek nya menegang menahan geli.
“Uh- bakalan sakit atau nggak?”
“Nggak kok, bakalan enak banget, as long as adek mau”
“Bilang dulu… abang mau ngapain”
“Could you take both of us at the same time? Adek mau gak memek sama lubangnya dienakin sekaligus? Pasti mau kan?”
“Ha… emangnya bisa kalo dimasukin dua-dua?” Keonho menelan liurnya, mampus… kayaknya dia bakalan dipake sampe teler.
“Bisa, adek”
“Tapi nanti kalo sampe memek sama lubang adek rusak gimana?”
“Bukannya emang udah rusak ya? Abang lu bilang lu pipisin kasur di rumah” Juhoon menyahut, masih belum puas menjahili adek temannya itu.
“Hey! Lu mau kasur elu dipipisin juga ya!”
“I don't mind”
“Harus gini ya?” Keonho bingung sendiri, kakinya masih lemah namun dipaksa untuk melebarkan tungkainya di tiap sisi tubuh Juhoon yang tiduran.
“Kenapa? Gak mau liat muka gue?” Juhoon menarik dagu Keonho supaya wajah mereka makin merapat.
“I want to face abang”
“Gimana dong? He has to plow your ass from behind, gak ada cara lain”
“But-”
“Just for a while”
Keonho menelan protesnya, sebentar? Dia yakin hingga matahari terbenam pun dia bakal digas terus!
“Do you mind if I'm loud?”
Juhoon makin gemes sama junior nya ini.
“Weren't you loud before?
“No… I held back”
“Harus heboh ya kali ini, we will grant you the stars kalo lu extra loud”
“Hhah! Kalian gila ya!? Tunggu -mmnh dulu!”
“It's not even in the same hole, santai dong”
“Stupid! Penuh banget ini! What if my perineum ripped?!”
Juhoon pusing deh, nyesel banget dia suruh Keonho jadi heboh. Kayak gak pernah di anal aja!
“Nggak bakalan robek kok, ini lu caper ya?” Juhoon menyentak pelan kontolnya supaya makin dalam.
“Shut up! I said wait!”
“Memek lu jangan dikempot, lubang lu ikut ngetat juga” Juhoon menegur apabila melihat Martin meringis saat Keonho mengetatkan lubangnya.
“I can't help it… keluarin kontol lu dulu… nggak bisa..”
Juhoon memutarkan matanya malas, namun dia tidak juga mengeluarkan kontolnya, why should he?
“Abang…penuh banget..” Keonho tahu Juhoon nggak akan meladeni rengekannya, maka perhatiannya kembali dialihkan.
“What do you want me to do, adek?” Martin mengernyit bingung, ini perasaan nya aja atau memang Keonho yang manja?
“Kok abang ngomong kayak gitu? Abang gak suka adek lagi?”
Bruh, Juhoon kayak lagi nonton soap opera, dia kira Martin yang manipulatif ternyata si kecil itu yang diam-diam lebih berkuasa.
“Jangan repotin abang lu, ini mau dientot aja lama banget” Cibiran nya membuat Keonho makin cemberut.
Juhoon promised they would grant even the stars for Keonho but he made Keonho reach the stars instead.
“Fuck- uhh enak banget dipenuhin- lagi lagi! Don't stop- ahh peningg”
“Who's better, adek? Abang atau Juhoon?”
“Nnnh- both ahh enak banget”
“Choose one only” Juhoon segera menyela, he's too competitive now.
“I can't! Oh heavens, I'm so greedy for having two cocks at the same time” Tanpa sadar, tubuhnya ikut bergerak mencuba untuk mengikut gerakan mereka, namun segera ditahan oleh Martin dari belakang.
“No, adek”
“Why… oh- I think I’m close”
“Don't move, just take what you're given”
“Uhh noo! I want moree!”
“Kok adek jadi needy banget sih?”
“I don't know… I just want more…”
“Kalo Juhoon mau threesome lagi gimana? Adek sanggup nggak?”
“I can't think nowww. Ask me later nghh”
“Just a simple yes or no, Juhoon udah nungguin itu”
Maaf, otak Keonho kopong dirojok dua kontol, he's just a blubbering mess namun bicaranya sempat ditangkap oleh mereka berdua.
“Hukh- yess ohh ‘m closeeee”
Keonho meletakkan tangannya di atas dada Juhoon, menopang beban tubuhnya. He's such a mess, dengan lidah yang tanpa sadar melet keluar hingga mengalirkan liur.
“Adek lu udah gone banget nih, kayak puppy” Juhoon tertawa geli sambil mengarahkan dua jarinya tepat di hadapan lidah yang terjulur keluar itu.
“Suck on my fingers, will ‘ya?”
Keonho didn't even try to suck, dia cuman mengulum pelan, he's too caught up in bliss to function.
Tangannya yang awalnya kokoh menahan beban tubuhnya, perlahan melemah sebelum tubuhnya ambruk sepenuhnya di atas tubuh Juhoon.
“Hnggh- adek mau keluarr! Memek sama lubang adek rusakk! Enak banget huu! Adek nggak tahannn!”
“Fuck fuck fuck- memek adek bocorrr! Moveeee! Nanti kasur Juhoon banjir hiks- unnghh muncratt!”
Tubuhnya tersentak-sentak karena pelepasannya yang intens, punggungnya membusur, hampir sahaja pantatnya yang dipaksa menungging itu ikutan turun, namun Martin tanpa ampun mencengkram pinggulnya erat-erat.
“Gak papa, muncratin aja. Shh, jangan teriak”
“Ahhh- abanggg! Juhoonn! Enakkk! Don't stoppp!” Keonho tau his throat would be sore from all those screaming, but that's not his biggest concern right now.
“Bukannya adek nggak suka kalo langsung gerak?”
“I don't mind nowww! Mau muncrat lagiii! Fuck me hardd”
“Di memek atau lubang lu?”
“Bothhh! Come onn! Fuck both of my holes harddd!”
Akal sehatnya makin menipis, he's just a mere hole now.
Martin jadi yakin, Keonho's next orgasm might be his most intense one. Jadinya, dia mengisyaratkan Juhoon supaya ‘menyentuh’ adeknya.
Great minds think alike, Juhoon segera paham maksud Martin. Dengan perlahan, tangannya menyelinap ke bawah, ibu jarinya digunakan untuk mengucek itil Keonho yang dianggurkan.
“Ohhh! Juhooonnn! Jangan kucekin itil guee! Gelii”
“Boong ya? Kok memek lu makin ngempotin kontol gue?”
“Don't touch my clittt! Abang- uh abang please helppp! Adek nggak kuatt!”
“Juhoon bakalan bikin memek adek enak, jangan ditahan dong tangannya”
“Nggak bisaaa! I can only cum once more! Kalian masih belum keluarr!” Keonho meringis sendiri, bakalan habis memek sama lubangnya dikerjain mereka berdua!
“Bisa. Shh jangan teriak lagi, just enjoy it”
Keonho hanya mengangguk, melepaskan cengkramannya pada pergelangan tangan Juhoon. Dia memejamkan matanya erat-erat, selain karena ingin menikmati pelepasannya yang semakin hampir seiring dengan kucekan intens pada itilnya, dia juga menahan malu.
His pussy is way more honest compared to his mouth, dia bisa merasakan makin lama, kontol Juhoon makin leluasa merojok karena lendir jernihnya makin gencar keluar. The obscene sounds of skins, serta geraman rendah dari mereka berdua bikin Keonho menggenggam erat bantal di sisi kepala Juhoon buat melampiaskan rasa nikmatnya.
He can hear his own breath hitched, hampir serentak dengan gerakan mereka berdua. They don't move in sync, namun setiap rojokan dalam dari mereka bikin tubuh Keonho bergeter hebat. Nggak pernah gagal menghantam sweet spot nya serta prostrate.
“Can- uhh please…. Can you guys come too?.... let's wrap it up… I’m drained”
“Sabar ya adek, just a bit more”
“How close are you?” Juhoon menghentikan kucekan nya, membuat Keonho tanpa sadar mengeluh pelan.
“Why did you stop…”
“Kenapa? You're gonna cum unannounced? Kalo mau cum, be loud about it”
“How loud do I have to be….”
“As loud as you're with your brother”
“No… that's for him only…”
10/10, emang Keonho yang paling jago kasih makan ego Martin.
“Hear that? He's still mine” Martin cekikan, he's gonna splurge his money on Keonho's 3D Printer or whatever his nerdy hobbies are.
“Stop talking… -nnh can you guys cum now? I’m close”
“Stay still then”
Both Juhoon and Martin starts fucking mercilessly, and that's all it took for Keonho to squirt all over the place. It can't be helped, he's ruined now.
“Ohhh! I’m actually cumming so hard ughhh memek- uhh rusakkk! Memek adek nggak bisa berhenti muncrat! Tolonggg! Hnghh- please stop! Nanti adek ketagihan dientot!”
“Shh, iya iya. Gak papa kalo ketagihan” Martin ran his fingers through Keonho's hair, trying to soothe his trembling brother.
“Nnh- memek sama lubang adek penuhhhh! Don't pull out firstt nanti memek adek bocor lagii! Abangg! Juhoon! Jangannn!”
“You're so loud, kok gak pernah kepergok sama maids lu?” Dengan nafas yang terengah, Juhoon bertanya. Fuck, that was the best sex he had in a while.
“Bet they all know at this point, he's even louder at home” Martin just shrugged it off, yang penting gak ada yang cepuin.
“Hnn- I’m bloated.. you guys came so much…My belly is filled…” Keonho mengusap perutnya sendiri yang sudah tidak serata sebelumnya, his belly is bulging with cum!
“Adek”
“Can't talk now” Bisik Keonho pelan, he's too high on dopamine.
“Udah bisa pull out belum?”
“No”
“Gue kebelet mau pipis” Martin makin mengeratkan pegangannya pada pinggul Keonho.
“Just pee inside” Keonho berbisik lemah, namun bicaranya dapat ditangkap oleh mereka berdua.
Juhoon membulatkan matanya, hello? Dia bilang gak papa kalo Keonho yang pipisin kasurnya, bukan Martin!
“Pull out, man. Jangan pipisin kasur gue”
“Nah, you pull out. I'm bringing him with me to the toilet”
“Mau ngapain lu?” Juhoon mengernyit bingung, nggak capek kah?
“Aftercare plus plus” Martin tertawa renyah,
“Abanggg! Adek nggak bisa keluar lagii!” Keonho kembali merengek saat Martin dengan sigap menggendongnya.
“Who?” Maaf, Martin kembali ingin menjahili adeknya.
“Who what?” Keonho mengerutkan alisnya, abangnya ngomong apa sih?
“Who asked?”
“Fuck off!” Jika sahaja Keonho nggak takut dirinya diturunkan dari gendongan, dia pasti akan memukul keras dada abangnya!
