Actions

Work Header

Hadiah Pemenang

Summary:

Perang saudara antara dua negara itu akhirnya mencapai titik akhir dengan menobatkan Ryomen Sukuna sebagai pemenang.

Pihak yang kalah dipaksa menyerahkan satu persembahan sebagai tanda kepatuhan mutlak.

Sukuna selalu tahu bahwa harta paling berharga bagi saudaranya itu adalah anaknya sendiri. -Itadori Yuuji-.

Dan untuk memberikan lebih banyak rasa sakit akibat kekalahan yang menimpa saudaranya itu, Sukuna meminta Yuuji secara khusus untuk dijadikan hadiah kemenangan untuknya.

Chapter 1: Mimpi buruk dengan mata terbuka

Chapter Text

 


⚔️
⚔️
⚔️

 

 

 

Di kerajaannya, Itadori Yuuji dikenal dengan banyak cara, tapi yang paling sering diucapkan orang adalah... matahari.

Ia selalu tersenyum, memandang dunia dengan muncul yang hangat, menghasilkan tiap kegelapan yang ada di sudut kerajaannya yang tak tersentuh. Yuuji hafal jalan-jalan kecil di ibu kota, tahu rumah siapa yang kehabisan makanan, siapa yang butuh bantuan mengangkat udara, siapa yang hanya perlu ditemani bicara. Ia membantu tanpa merasa sedang berbuat baik. Ia hanya… berpikir bahwa sudah sepatutnya dia seperti itu.

Pagi hari ia muncul di pasar, sore di barak pengungsi, malam di rumah sakit darurat. Selalu dengan lengan baju digulung, rambut berantakan, dan wajah yang begitu teduh untuk masa perang. Rakyatnya sudah terbiasa melihat putera kerajaan itu bolak-balik untuk membantu para pekerja menjalankan tugasnya menjaga dan membantu warga yang terdampak perang.

"Yuuji-sama, kamu tidak seharusnya melakukan ini, kamu harus tetap berada di istana untuk menunggu kedatangan ayahmu." kata orang-orang.

Yuuji hanya tersenyum. "Aku bisa menunggunya selagi melakukan ini. Bagiku, ini sama pentingnya seperti menunggu kepulangan ayah."

Dan ayahnya-- itulah pusat dari semua penantian itu. Setiap hari, Yuuji menghitung waktu bukan dengan jam, melainkan dengan kabar perang. Ia percaya ayahnya akan pulang. Pasti pulang. Dengan luka mungkin, dengan lelah pasti, tapi tetap pulang. Yuuji menyiapkan cerita-cerita kecil untuk dibagikan nanti, tentang kota yang bertahan, tentang orang-orang yang masih tersenyum.

Ia percaya pada akhir yang baik.

Ia selalu percaya.

Karena ayahnya, Itadori Jin- adalah raja yang bijaksana—penyayang, tegas, dan disegani. Ia memimpin kerajaan dengan wibawa yang kuat. Namun kini, ia terpaksa turun ke medan perang akibat konflik dengan negara tetangga.

Negara itu dulunya bagian dari kerajaan ini. Raja terdahulu membagi wilayahnya menjadi dua dan memberikannya kepada kedua putranya. Ayahnya menduduki wilayah selatan, sementara saudaranya menguasai wilayah utara. Awalnya hubungan mereka baik-baik saja, hingga terungkap bahwa wilayah selatan menyimpan tambang dan sumber daya alam yang melimpah.

Sejak saat itu, saudaranya menginginkan wilayah tersebut. Ia bermaksud menyatukan kembali kedua kerajaan seperti semula—namun di bawah kekuasaannya seorang diri.

Sebagai seseorang yang tidak terlalu mementingkan jabatan, ayahnya sebenarnya tidak setuju jika harus melepaskan takhta. Baginya, kedamaian lebih utama daripada mahkota. Namun niat saudaranya untuk merebut seluruh wilayah mengubah segalanya.

Bukan rahasia lagi bahwa saudaranya memerintah dengan kejam. Pajak hukuman, hukuman yang dijatuhkan tanpa ampun, dan rakyat hidup dalam ketakutan. Setiap tahun, jumlah orang yang melarikan diri dari wilayah utara ke selatan terus meningkat.

Melihat itu, dia tak bisa hidup diam. Ia membayangkan nasib rakyatnya jika mereka jatuh ke tangan yang salah. Kekhawatiran itulah yang akhirnya membuatnya mengangkat pedang demi melindungi mereka yang ia pimpin.

Meski begitu, Yuuji tidak merasa khawatir. Baginya, ayah pasti akan menang. Ia yakin sang raja akan pulang dengan senyuman yang sama seperti saat berangkat. Dan ketika hari itu tiba, seluruh kerajaan akan menyambutnya dengan sorak sorai dan kebanggaan.

"Sudah hampir sebulan perang berlangsung, dan belum ada kabar dari yang mulia." Salah satu pelayan Yuuji, Junpei- membawakan kotak obat ke arah Yuuji yang dengan telaten tengah membalut luka salah satu prajurit yang bertugas di perbatasan.

"Tidak apa-apa, Junpei. Ayah hanya belum sempat menulis surat." Senyum ramah itu terus terpasang di wajah polosnya.

"Aku khawatir... Yuuji-sama.."

Yuuji tidak langsung menjawab. Masih sibuk berkutat dengan perban dan obat-obatan. Begitu dia selesai, dia langsung menoleh ke Junpei dan tersenyum.

"Jangan khawatir, Junpei. Ayah pasti menang."


 

 

.
.
.

 

Klang !

"Ha…?"

Suara derak borgol di pergelangan tangan terdengar nyaring. Yuuji membeku sepersekian detik, masih mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

Semuanya berlangsung begitu cepat. Sekelompok prajurit tak dikenal tiba-tiba menerobos istana, mengobrak-abrik setiap ruangan. Mereka tidak mencari harta ataupun dokumen. Mereka hanya mencari satu hal—

Dirinya.

Beberapa pelayan dan pengawal terluka saat mencoba menghalangi. Melihat itu, Yuuji yang geram langsung menghampiri mereka. Namun belum sempat berbuat banyak, tubuhnya sudah dilumpuhkan. Dalam sekejap, borgol terpasang di kedua tangannya.

"Apa…? Apa maksudnya ini…?" Yuuji masih berusaha memahami keadaan.

Prajurit itu hanya terkekeh pelan melihat wajahnya yang kebingungan.

"Nak, kujelaskan sekali lagi. Jin Itadori sudah kalah. Sekarang dia menjadi tahanan perang."

Yuuji mencoba menarik napas saat mendengarkan—namun gagal. Setiap tarikan terasa menyakitkan, menekan dada hingga sesak.

“Jadi…?” suaranya tertahan di sisa konsistensi. "Apa yang kalian inginkan dariku? Menjadikanku budak? Raja kalian yang diperintahkan kalian menangkapku?"

Prajurit itu sempat terpana melihat keteguhan sang pangeran. Apalagi setelah kabar kekalahan ayahnya, sorot matanya belum goyah.

"Tidak. Lebih baik dari itu," katanya. "Kau akan dijadikan hadiah."

Tatapan Yuuji menukik.

"Jangan menatap kami seperti itu. Ini tawaran," sela prajurit lain. "Raja kami mau berdamai dan membiarkan ayahmu tetap memimpin, selama kami bebas mengeruk sumber daya di wilayah kalian. Sebagai penutupnya… dia meminta hadiah lain."

Keduanya tertawa pelan saat alis Yuuji semakin menegang.

"Berbanggalah, Itadori Yuuji—putra tunggal raja selatan. Raja kami memintamu sebagai tanda damai. Mulai sekarang, hidupmu, pilihanmu, dan masa depanmu… semuanya menjadi milik raja kami."

“JANGAN BERCANDA!!”

Klang !

Penyok borgol di kedua tangan melengking tajam. Yuuji meronta, mendorong, berusaha melepaskan diri. Otot lengannya menegang, namun dua prajurit yang menahannya jauh lebih besar. Usahanya sia-sia.

“Jangan bicara omong kosong di hadapanku!” teriakannya, suaranya pecah oleh amarah. "Aku tidak akan ke mana-mana! Rumahku di sini! Hidupku milik rakyat negeri ini! Rajamu tidak berhak satu inci pun atas diriku! Ayah mungkin kalah—tapi dia tidak akan membiarkanku pergi dari tempat ini! Ayah—umph—!"

Salah satu prajurit membekap mulut kasar, lalu mendorongnya ke dinding. Punggung Yuuji membentur tembok dingin, membuat nafasnya tersentak.

“Kau pasti dibesarkan dengan penuh cinta di tempat ini,” ujar prajurit itu datar. "Tapi dunia bukan negeri dongeng. Di sini, yang kuat dan berkuasa."

Ia menekan bahu Yuuji agar tetap diam.

“Ayahmu kalah karena dia lemah. Karena itu dia tak bisa memilih apa-apa.” Ia menatap tajam. "Ini bukan soal dia setuju atau tidak. Sejak awal kami datang untuk mengambil mu, bukan meminta izin."

“Ayolah, kita kehabisan waktu.” Prajurit yang satu lagi melangkah lebih dulu, nadanya tidak sabar.

Prajurit yang menahan Yuuji menoleh, lalu menghela napas berat— lelah menghadapi perlawanan yang menurutnya sia-sia. Jedanya di wajah Yuuji terlepas, namun tangannya beralih menarik rantai borgol di persahabatan sang pangeran.

Tarikan itu kasar.

Langkah Yuuji langsung goyah, terseok mengikuti arah paksa. Sepanjang lorong istana, beberapa pengawal dan pelayan yang tersisa mencoba menghadang. Pedang mereka terhunus, wajah dipenuhi kemarahan dan ketakutan.

Namun Yuuji menggeleng cepat.

Mata mereka sempat bertemu—cukup untuk memberi perintah tanpa kata. Mundur.

Ketika salah satu prajurit mengangkat belati sebagai ancaman, maka pengawal itu terpaksa dihentikan. Yuuji tahu, lawan mereka tidak seimbang. Prajurit-prajurit ini jelas tentara militer dilatih. Ia tidak ingin ada darah yang tumpah karena pemberontakan yang tak akan mengubah hasil.

Ia terus diseret hingga ke halaman depan.

Sebuah kereta kuda telah menunggu. Pintu dibuka secara kasar, lalu tubuh Yuuji didorong masuk tanpa aba-aba. Belum sempat ia menyeimbangkan dirinya, sehelai kain hitam sudah menutupnya, menghapusnya sepenuhnya.

Gelap.

Di balik kegelapan itu, jantung masih bergejolak. Saya tidak percaya. Ayah yang begitu ia banggakan—bisa kalah dari raja yang bahkan tak mampu merawat rakyatnya sendiri.

Tidak masuk akal.

Raja itu pasti berbuat curang. Pasti ada tipu daya di balik kemenangan ini. Karena bagaimanapun… ayahnya adalah petarung terbaik yang ia kenal.

Di balik kain hitam yang menutup kepalanya, dunia terasa menyempit. Hanya ada suara roda kereta, derap kuda, dan detak jantungnya sendiri yang semakin keras.

Yuuji menunduk, borgol di tangannya berderak pelan saat ia mengepalkan tinju. Napasnya masih belum stabil.

Ia mencoba membayangkan wajah ayahnya—seperti terakhir kali ia lihat. Tegap. Tersenyum. Penuh keyakinan saat berjanji akan pulang.

Janji itu masih terngiang jelas.

Ayahnya bukan hanya raja yang bijak. Ia petarung yang ditempa puluhan medan perang. Luka-luka di tubuhnya adalah bukti. Yuuji tumbuh dengan cerita kemenangan yang tak terhitung jumlahnya.

Karena itu… kekalahan ini terasa mustahil.

Bagaimana mungkin seseorang seperti dia bisa ditundukkan? Ditawan?

Pikiran itu menolak masuk akal. Setiap kali ia mencoba mempercayainya, justru dadanya terasa semakin sesak.

Namun, bagian terdalamnya berbisik—bahwa mungkin ayahnya terluka. Mungkin sekarang ia berada dirantai, diperlakukan hina, atau lebih buruk lagi…

Yuuji menggertakkan gigi, memaksa bayangan itu pergi.

Tidak.

Ayahnya pasti masih hidup. Pasti sedang menunggu kesempatan untuk bangkit. Untuk keadaan umum. Untuk pulang.

Dan saat hari itu tiba… Yuuji bersumpah, dia akan tetap berada di sisi ayahnya, apa pun yang harus dia korbankan.

.
.


“Hahahaha! Injak dia!”

“Hei, suruh dia berlutut!”

“Lihat—raja besar sepertinya. Berakhir kira-kira.”

Suara tawa dan memenuhi ruangan begitu Yuuji didorong masuk. Bau besi, keringat, dan darah bercampur di udara.

Dan di sanalah ia.

Ayahnya.

Terduduk di lantai yang dingin, tubuhnya sedikit membungkuk. Wajah yang dulu selalu tegap kini dipenuhi luka lebam dan sayatan kering. Bibirnya pecah. Salah satu mata sembab. Jirah kebanggaannya sudah tak ada, diganti borgol dan rantai yang mengikat ikatan tangan dan kaki.

Rantai itu bahkan berkarat.

Seolah-olah mereka tidak mengira manusia, hanya tawanan yang boleh dipermainkan.

Dada Yuuji langsung merasakan ditusuk sesuatu yang tak terlihat.

“AYAH!!” Teriakannya pecah, nyaring, penuh retak.

Kepala sang raja yang semula tertunduk langsung tersentak. Mata membelalak saat mendengar suara itu --suara yang terlalu ia kenal. Terlalu ia melindungi sepanjang hidupnya.

Dan saat menemukan Yuuji—raut itu langsung runtuh. Terkejut. Tak percaya. Lalu… takut.

“Yuu…ji…?” suara serak, napasnya pendek seolah paru-parunya ikut terluka.

“Ayah—!”

Yuuji mencoba berlari mendekat, namun lengannya langsung ditarik kasar. Cengkeraman prajurit di sisinya begitu kuat hingga tulangnya terasa akan patah. Ia meringis, tapi tetap meronta.

Di sisi lain, sang raja panik.

Ia memaksa tubuhnya bangkit, rantai di pergelangan kakinya berderak keras saat ia menarik diri ke depan. Namun panjangnya tidak cukup. Rantai itu ditahan di tengah ruangan, memaksanya berhenti beberapa langkah sebelum bisa menyentuh anak itu.

“…Yuuji…!” napasnya berburu. Matanya bergetar. "Apa yang kamu lakukan di sini?! Pergi! Pergi dari sini!"

“Ayah terluka!” Yuuji meronta semakin kuat. "Lepaskan aku! Aku harus—"

“JANGAN MENDEKAT!” Bentakan itu pecah. Yuuji bahkan terhenyak sejenak saat mendengarnya.

Air mata tertahan di sudut mata sang raja. “Kamu tidak mengerti…” suaranya melemah, pecah di tengah napas yang berantakan. “Tempat ini bukan milikmu… Jangan lihat ayah dalam keadaan seperti ini… Pergilah, nak… Ayah mohon…”

Yuuji dihentikan.

Untuk pertama kalinya—ia melihat ayahnya bukan sebagai raja, bukan sebagai petarung… tapi sebagai seorang ayah yang ketakutan.

Takutnya ikut hancur bersamanya.

Wajah Yuuji perlahan jatuh.

Segala sesuatu yang terjadi, semua penjelasan para prajurit, semua penyayang yang ia pegang sejak tadi... runtuh dalam satu waktu.

Ini nyata.

Ayahnya kalah. Ditawan. Dirantai. Terluka… tanpa pun mengobatinya.

Dan yang paling menyakitkan—

Ia tak bisa menjangkaunya, meski hanya sekilas.

 

.
.

 

 

“Wah… pertemuan yang mengharukan sekali.”

Suaranya menggema. Dalam suasana santai namun, membuat seluruh ruangan langsung sunyi.

Tawa para prajurit lenyap seketika. Mereka menunduk serempak, pandangan jatuh ke lantai. Tak ada lagi maksudnya. Tak ada gerakan berani.

Hanya langkah.

Pelan. Teratur. Tanpa tergesa-gesa dan terasa menekan.

Yuuji langsung waspada. Sementara di seberang sana, ayahnya justru semakin pucat. Kecemasan yang tadi sudah besar kini berubah menjadi ketakutan yang nyata.

Suasana ruangan berubah saat sosok itu masuk. Udara terasa berat, menusuk paru-paru. Seolah jadi pertanda, bahwa bergerak tanpa izin sudah cukup untuk membuat nyawa melayang saat itu juga.

Yuuji mengedarkan pandangan mencari sumber tekanan itu.

Lalu ia menemukannya.

Tinggi. Besar. Tubuhnya kekar seperti tembok hidup. Wajahnya keras, dipahat garis-garis tegas tanpa kehangatan. Rambut merah muda orang tuanya… sekilas mirip dengan milik ayahnya. Namun di kepalanya, warna itu tampak pembohong, berantakan seperti duri yang siap melukai siapa pun yang mendekat.

Manik matanya merah kelam. Tajam. Menatap Yuuji seperti dia sedang menilai barang dan bukannya manusia.

Tapi dari semua itu, yang paling mengganggu… adalah senyumnya.

Senyum tipis. Sombong. meremehkan. Seolah-olah dunia selalu berada dalam genggaman telapak tangan.

Dada Yuuji.

Ayahnya adalah raja yang kuat. Petarung yang tak terpecah di matanya.

Namun pria ini —bahkan tanpa bergerak pun— sudah terasa mengerikan.

Auranya seperti bencana alam. Tak bisa ditebak kapan pun datangnya, tak bisa dihentikan saat menghancurkan. Apa pun yang dilaluinya seolah hanya menyisakan sisanya.

Mereka seharusnya setara. Sama-sama raja.

Namun jurang di antara mereka terasa begitu lebar.

Jika ayahnya berdiri di sisi terang—

Maka pria ini berdiri di sisi paling gelap… cukup pekat untuk menelan cahaya itu sekaligus.

“SUKUNA!!”

Suara Jin menggema keras, serak namun dipenuhi murka. Ia meronta hingga rantai di pergelangan tangan berderak kasar.

"Aku sudah mengakui kekalahanku! Wilayah itu sudah kuserahkan padamu! Kau bisa menyiksaku, menjadikanku bawahanmu—bahkan membunuhku jika kau mau!" napasnya memburu, matanya memerah. “Tapi kenapa- kenapa kau membawa Yuuji ke sini?!”

“Hm?” Alis Sukuna terangkat. Lebih seperti bosan. “Tentu saja aku bisa membunuhmu.”

Ia berjalan pelan ke arah Jin, langkahnya santai sambil melewati taman padahal sebenarnya itu adalah ruang yang penuh dengan aroma darah. Saat melewati sang raja yang terikat, ia bahkan tidak meliriknya.

Langkahnya terus berlanjut, menuju Yuuji.

Setiap derapnya membuat bahu para prajurit menegangkan. Sementara Yuuji, meski waspada, tak punya ruang untuk mundur.

Sukuna berhenti tepat di depannya.

Jarak mereka begitu dekat hingga Yuuji harus mendongak hanya untuk menatap wajahnya. Senyum tipis itu masih ada, membuat bulu kuduk Yuuji berdiri.

“Tapi kalau aku membunuhmu…” lanjutnya pelan, “…itu akan membosankan. Sama saja seperti aku mengakhiri penderitaanmu dengan cepat.”

Dan tanpa peringatan, tangannya bergerak! Cepat dan kasar.

Ia menangkup wajah Yuuji lalu mengangkatnya begitu saja. Pijakan sang pangeran hilang seketika. Tubuhnya terangkat hanya dengan satu tangan yang memegang rahangnya.

“Khh—!”

"Yuuji-!!" Jin panik dengan tindakan itu.

“Aku memikirkan sesuatu yang lebih menyenangkan,” bisiknya rendah, “untuk menambah penderitaanmu.”

Napas Yuuji langsung tercekik. Cengkeraman itu besar, kasar, menekan rahangnya hingga sakit. Ia refleks memegangi pergelangan tangan Sukuna, mencakar berusaha lepas.

“A-akh… a-yah—” suara putus-putus.

“YUUJI!!”

KLANG !

Rantai Jin berdentang lagi saat ia memaksa maju. Ia menarik ikatannya sampai logam itu menggores kulitnya sendiri.

Namun jaraknya tidak berkurang.

Ia hanya bisa menatap. Melihatnya terangkat, tercekik, dan meronta tanpa bisa ia jangkau.

“KENAPA?!” oke pecah. “KENAPA KAU MELAKUKAN INI?! YUUJI TIDAK SALAH APA-APA! INI HANYA PERTARUNGAN DI ANTARA KITA!”

Ia jatuh pingsan, rantai menegangkan di kedua tangannya.

"Siksa saja aku! Bunuh aku kalau kau mau! Tapi jauhkan tanganmu darinya..!"

Suaranya berubah parau, seperti bukan lagi raja yang memerintah, hanya ayah yang sedang memohon.

“SUKUNA! AKU MOHON PADAMU… AKU MOHON LEPASKAN DIA..!!”

Di tengah berbohong itu Sukuna tersenyum. Sepertinya permohonan itu adalah bagian yang paling menghibur dari semuanya.

“Lihat dirimu…” gumamnya pelan, masih mengangkat Yuuji di udara. “Raja besar yang begitu dihormati… sekarang memohon seperti ini.”

Cengkeramannya menguat.

Jari-jarinya menekan rahang Yuuji hingga tulang anak itu berderit halus. Kakinya yang menggantung menendang kosong, berusaha mencari pijakan yang tidak ada.

Napasnya semakin pendek.

“A-akh—”

"Siksa aku sesukamu! Jangan dia! Jangan lakukan ini! Kuberikan apapun! Apapun..! Tapi bebaskan putraku..!" Jin memohon semakin putus asa saat melihat Yuuji semakin lemah di tangan pria itu.

Sukuna menjual kepala, seolah sedang mempertimbangkan tawaran itu.

Lalu... Dia menurunkan Yuuji sedikit. Cukup untuk membuat sang pangeran bisa menarik napas setengah putus. Harapan sekilas melintas di mata Jin. Namun detik berikutnya-

BRUK!

Tubuh Yuuji dibanting ke lantai dengan keras.

Udara di paru-paru Yuuji langsung keluar paksa. Ia terbatuk keras, tubuhnya melengkung refleksif menahan sakit.

“YUUJI!!”

Sukuna menginjak punggungnya sebelum ia sempat bangkit.

Tidak keras, hanya untuk menahannya tetap di lantai. Untuk menunjukkan bahwa ia bisa menekan lebih dalam kapan saja ia mau.

“Kau salah paham, Jin.” suaranya tenang. “tentu saja aku bisa melakukan apapun padamu. Lagipula akulah pemenang perang ini.”

Ia menunduk sedikit, rambut merah mudanya jatuh tipis diantara dahinya.

“Aku hanya berpikir, bagaimana jika aku sekarang menyiksamu lewat anak ini?”

Tumitnya menekan sedikit lebih kuat. Yuuji mengerang tertahan.

“Bukankah itu terdengar jauh lebih menarik?”

Jin membelalak. Amarah dan ketakutan bercampur jadi satu di wajahnya.

“JANGAN BERCANDA!!” suaranya gemetar.

Sukuna tertawa pelan. “Bercanda? Kau tahu apa yang paling kejam dari perang?” tanyanya ringan. “Bukan membunuh rajanya.” Ia mencengkeram rambut Yuuji, memaksa wajah pemuda itu terangkat agar bisa melihat ayahnya yang terbelenggu.

“Melainkan membuat raja itu hidup cukup lama, untuk melihat semua yang ia lindungi perlahan hancur dihadapannya.”

Tatapan Jin retak seketika.

Dan di lantai, dalam cengkeraman itu Yuuji masih mencoba menatap ayahnya, meski pandangannya mulai kabur.

Sementara Sukuna… Menikmati setiap detiknya.





.
.

 

Hening itu menggantung lama di ruangan.

Jin menangis tanpa suara. Bahunya bergetar pelan, kepalanya tertunduk dalam. Ia bahkan tak sanggup menatap wajah putranya sendiri. Rantai di tangannya sudah tak lagi bergerak. Kehilangan sisa tenaga untuk melawan.

Di sisi lain, Sukuna tampak menikmati suasana itu. Rintihan tertahan, napas patah-patah, dan tangis pilu. Semuanya seperti hiburan baginya.

Sementara disisinya, Yuuji berusaha bernapas.

Tubuhnya masih terasa sakit sejak dibanting ke lantai. Untuk sesaat, ia benar-benar merasa tubuhnya seolah hancur dan tulangnya patah. Kekuatan yang dimiliki pria itu bukanlah main-main. Dan perlahan, Yuuji mengerti kenapa orang seperti ini bisa mengalahkan ayahnya.

Dia bukan raja biasa.

Dia monster.

Perwujudan bencana dan kerusakan dalam tubuh manusia. Auranya saja sudah cukup membuat udara terasa mati. Dia bisa menyapu apapun hanya dengan merentangkan tangannya.

Namun meskipun begitu, Yuuji tak melihat sedikit pun keagungan dalam dirinya. Meski dia lebih kuat dari ayahnya, dia tidak lebih tinggi wibawanya dari sang ayah.

Karena bagi Yuuji, seseorang yang menikmati menyiksa orang lain… bukanlah raja. Bukan pemimpin.

Ia hanya diktator yang kebetulan diberi kekuasaan.

Seorang pengecut yang merebut kebahagiaan orang lain untuk mengisi kehampaannya sendiri.

Di mata Yuuji—

Sukuna bukan penguasa yang harus dihormati.

Dia… hanyalah orang jahat.

“…lepaskan aku, sialan…” Gumaman rendah itu nyaris tenggelam di antara nafas beratnya namun cukup jelas untuk membuat Sukuna menoleh.

Ia menatap Yuuji yang masih merintih, wajahnya pucat, napasnya berantakan, tapi sorot matanya menyala.

“Apa katamu?” tanya Sukuna pelan.

“Kubilang…” Yuuji menelan darah di sudut bibirnya, lalu mengangkat wajahnya sedikit. “…lepas. Bajingan.”

Hening sesaat.

Alih-alih marah, Sukuna justru menelisik. Tatapannya menyusuri wajah pemuda itu lebih dalam, membaca sesuatu yang tak terlihat di permukaan.

Tekad.

Kegigihan.

Api yang keras kepala.

Semuanya… tampak familiar.

Hampir sama.

Mirip Jin.

Sukuna mengingat semua laporan yang pernah ia dengar. Putra tunggal raja selatan adalah sosok yang dibesarkan dalam cinta, dilindungi dari kerasnya dunia. Pangeran berhati lembut yang turun langsung membantu rakyatnya. Matahari kecil bagi kerajaannya.

Seseorang seperti itu… seharusnya rapuh. Takut sakit. Takut mati.

Namun yang Sukuna lihat sekarang berbeda.

Mata itu tidak memohon. Tidak gemetar. Bahkan setelah dibanting, dicekik, dan diinjak, api di dalamnya belum padam.

Sukuna menyipit pelan.

Sepertinya kalau hanya siksaan fisik... tak akan cukup untuk mematahkannya.

Senyum tipis kembali terangkat di sudut bibirnya. “Aku bisa menebak kenapa ayahmu begitu menyayangimu, nak.”

Suara Sukuna rendah, seperti pujian. Ia berjongkok, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan Yuuji yang masih berusaha bangkit meski napasnya berat.

“Kau anak yang menarik.” Ia menatap lurus, tajam dan tenang. “Dengan kepribadian seperti ini… aku yakin suatu hari kau bisa memimpin, menggantikan ayahmu.” Senyumnya tipis. “Tapi… sayangnya, ayahmu sudah bukan raja lagi sekarang.”

Rahang Yuuji menegang. “Jangan permainkan ayahku!” bentaknya serak. “Kau pasti berbuat licik untuk menang! Ayah adalah petarung hebat! Kau pasti menusuknya dari belakang!”

Hening.

Seketika itu juga, suhu ruangan terasa turun.

Tatapan Sukuna yang semula santai… tiba-tiba mendingin.

Ia mengakui keberanian Yuuji. Bahkan mungkin menikmatinya. Tapi dituduh tanpa bukti adalah hal lain. Dan Sukuna benci sekali dengan orang-orang yang mengatakan hal-hal tanpa bukti.

“Mulutmu itu…” gumamnya pelan, “...sepertinya perlu diajari.”

“Apa—”

Belum sempat Yuuji menyelesaikan kata-katanya, Sukuna sudah lebih dulu bergerak. Ia menariknya berdiri.

“Kh—!”

Tarikan itu panas dan menyakitkan. Yuuji terpaksa bangkit meski tubuhnya menolak. Kakinya terseret mengikuti langkah besar Sukuna.

Ia diseret melewati Jin.

Untuk sesaat, mata ayah dan anak itu bertemu. Penuh panik. Penuh ketidakberdayaan.

“Yuuji—” suara Jin pecah, namun tubuhnya tak bisa bergerak lebih jauh dari batas rantai.

Sukuna tidak peduli. Ia terus menyeret Yuuji dengan kasar hingga sampai di hadapan singgasananya.

Sang Raja kemudian menghempaskan tubuh di kursi kebesarannya dengan santai. Hanya dengan satu tarikan kuat, ia merenggut Yuuji ke atas pangkuannya, memaksa pemuda itu tunduk dalam kuasanya.

Tubuh Yuuji tersentak hebat. Bunyi logam dari borgol di pergelangan tangannya berdentang nyaring, memecah keheningan ruangan yang mencekam.

Punggungnya yang gemetar membentur dada bidang di belakangnya— keras, kokoh, dan tak menyisakan sedikit pun ruang untuk menjauh. Lengan besar Sukuna langsung melintang di depan tubuh Yuuji, mengunci pinggang dan dadanya dalam satu dekapan protektif yang mustahil untuk dilepaskan.

Sukuna menyeringai tipis. Perlahan, ia menundukkan kepala, membenamkan wajahnya di lekuk leher Yuuji yang menegang kaku.

“Ngh—”

Yuuji refleks memalingkan wajah. Matanya terpejam rapat dengan rahang yang mengeras, berusaha sekuat tenaga meredam suara apa pun agar tidak lolos dari bibirnya.

Namun, getaran kecil dari tubuh yang gemetar itu justru memancing kekehan rendah dari Sukuna.

Aroma pemuda itu mulai tercium samar, hangat, dan lembut. Harumnya seperti bunga yang baru mekar, semanis kue yang baru saja keluar dari tungku. Seperti matahari musim semi yang tidak tahu cara membakar, namun sanggup menghangatkan segalanya.

Meleleh.

Pekat.

Lengket.

Dan manis.

Seringai Sukuna semakin melebar. Sepertinya, permainan ini akan jauh lebih menyenangkan dari yang ia bayangkan sebelumnya.

Tangannya yang kasar mulai bergerak, menyusup ke balik pakaian Yuuji tanpa izin. Sentuhan yang mendadak itu membuat tubuh sang pangeran langsung menegang hebat, menggeliat dalam usaha sia-sia untuk menahan invasi tersebut.

“Apa—apa yang kau lakukan?! Bajingan—hentikan itu!”

“Diam,” bisik Sukuna rendah tepat di ceruk telinganya. Suaranya berat. “Aku sedang menjamah mu.”

Amarah Yuuji langsung menyala. Ia meronta sekuat tenaga, mencoba melepaskan diri dari dekapan yang mengunci tubuhnya. Namun, usahanya sia-sia. Sejak awal, jurang kekuatan di antara mereka sudah terlalu lebar untuk dijembatani.

Napas Yuuji tertahan saat jari-jari besar yang kasar itu menekan lebih dalam melalui lapisan kain. Gerakannya lambat dan disengaja, seolah Sukuna sedang menyesap setiap reaksi kecil dari tubuh yang dipaksa untuk tunduk.

Sensasinya terasa janggal.

Bukan sekadar geli, melainkan sesuatu yang memicu gejolak asing, membuat tubuhnya ingin menolak, namun tak punya kuasa untuk benar-benar pergi.

Dan justru di situlah Sukuna tertawa pelan, sebuah suara yang terdengar puas sekaligus berbahaya.

Lalu...

Tiba-tiba saja Sukuna meraih salah satu putingnya. Meremas dadanya dengan gerakan yang Yuuji tidak mengerti dan memainkannya. Ia memutar-mutar jarinya disekitar itu, membuat Yuuji gelisah seketika. Cengkraman tangan Yuuji di lengan Sukuna sudah menancap meninggalkan bekas.

Rasanya geli dan panas. Seakan seluruh ruangan tiba-tiba saja di sorot oleh sinar matahari. Meski begitu, hanya perutnya yang tergelitik dan acapkali Sukuna menarik putingnya, ia merasakan sarafnya seperti ikut tertekan karena itu.

Nafasnya memendek. Sukuna menjamah dadanya tanpa ampun. Memainkannya, menggelitiknya, memutarnya bahkan meremasnya dengan gerakan yang aneh. Yuuji tidak tahu berapa lama ia bisa bertahan agar tidak mengeluarkan suara aneh karenanya.

"Jangan tahan suara indah mu. Biarkan ayahmu mendengarnya."

Tangan Sukuna yang antara lain meraih rahangnya. Menyusupkan dua jari besarnya ke bibir Yuuji dan mengecap lidahnya yang basah. Rasanya kering, besar dan tebal. Jari-jari itu memaksanya untuk membuka mulut. Yuuji sedikit dialog dengan apa yang Sukuna lakukan. Belum lagi, ia selalu menjilati berbarengan ketika putingnya ditarik. Rasanya, seperti kekuatan lepas sedikit demi sedikit hingga ia tidak punya kekuatan untuk melawan.

Tidak...

Ini.

Ini bertujuan. Menjijikan. Disentuh seperti ini.

Oleh orang yang menghancurkan ayahnya sendiri-- betapa ironisnya.

Yuuji tidak bisa membiarkan ini terus terjadi.

Tapi dia juga tidak bisa melawan.

Tenaga lelaki ini kuat, besar dan kokoh. Dia mencengkram Yuuji seperti elang yang mengunci tikus. Dan tubuh Yuuji tidak bisa melakukan hal lain selain menerima sentuhannya.

Padahal, pukul saja Yuuji. Pukul saja Yuuji sampai babak belur. Atau sampai mati. Kenapa dia malah melakukan hal seperti ini?

"Masih bertanya kau menghinaku? Hm?" Suara itu terdengar di telinga Yuuji. Menghembuskan sisi nafas yang begitu panas hingga menyilaukan. Yuuji memejamkan mata kian erat begitu lidah Sukuna menyapu cuping telinga yang memerah.

"..si..sial.." Yuuji merintih di sela-sela jari Sukuna yang memainkan lidahnya.

"Sepertinya masih." Sukuna terlihat santai. "Tapi tenang, aku punya sesuatu yang lain untukmu. Barangkali itu bisa membuatmu jadi sedikit sopan padaku."

Laki-laki itu mengecup punggung Yuuji. Lalu dengan hati-hati menyingkapkan sesuatu dari balik celananya. Sesuatu yang keras, besar, tebal dan tegak yang berada tepat di tengah-tengah antar kedua paha Yuuji yang terbuka.

Benda itu berkedut dan Yuuji langsung pucat pasi saat melihatnya.

Meski ia menahannya sedari tadi. Meski ia mati-matian berusaha tegar sejak ia diseret ke kursi penuh kebiadaban ini. Meski dia menutupi kekhawatirannya dengan nyala api kemarahan yang dia miliki. Nyatanya dia tidak bisa menyembunyikan ketakutan yang ada dalam dirinya sejak pertama Sukuna mendudukkan dirinya di pangkuannya.

Tanpa sadar, air matanya mengalir. Ia menatap wajah ayahnya yang putus asa di tengah ruangan. Meronta-ronta berusaha mendekatinya sejak tadi. Meski begitu, semua sia-sia. Kemarahan ayahnya hanya memberi banyak luka di tubuhnya. Yuuji terisak, dan untuk pertama kalinya membiarkan tubuhnya gemetaran karena memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

"A..ayah.. tolong aku.." permintaan itu kecil. Tanpa suara dan putus asa.

Sukuna tertawa saat mendengarnya. Ia mengangkat wajah Yuuji agar bisa menghadap ayahnya dengan lebih jelas.

"Lihatlah, Jin. Penderitaanmu akan dimulai dari sini."


Bersambung.