Work Text:
Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana bisa cowok yang merupakan abangmu sejak kecil berakhir merangkap segalanya bagimu? Seorang kakak, ayah, ibu, teman, pacar, kakek, nenek, apa saja. Semua peran dia mainkan dalam kehidupanmu. Dia sudah seperti badut pelawak yang bergonta-ganti topeng untuk menghibur sang putri, sudah seperti seorang aktor kelas dunia yang sangat lihat berganti-ganti peran, memastikan peran-peran orang lain di hidupmu sudah cukup digantikan oleh dia.
Kamu yang tumbuh seperti itu jelas tidak berpikir itu aneh. Kamu pikir peran seorang abang memang sudah seharusnya begitu. Kalau ada yang tanya, apakah Caleb pacarmu? Maka kamu akan jawab, “Oh, bukan, dia abangku.” Lalu ada lagi yang bertanya, apakah kamu sudah punya pacar? Kamu akan jawab, “Enggak. Buat apa? Aku udah punya abang.”
Tentu orang-orang di sekitarmu bingung mendengar jawabanmu. Ah, mungkin maksudnya abangnya terlalu galak untuk dia bisa punya pacar—pikir orang-orang yang tidak mau ikut campur lebih jauh atau sekadar tidak mau menyinggungmu. Namun, tidak banyak juga yang terang-terangan menunjukkan khawatirnya, seperti tetanggamu dulu di rumah lama, yang sering membicarakan hubunganmu dengan Caleb, padahal orang itu bayar token listrik rumahmu saja tidak. Siapa dia sampai bisa menghakimi kalian begitu, kan?
Setelah Oma meninggal saat kamu duduk di kelas satu bangku SMA, Caleb mengajakmu pindah ke kota lain. Ke kota besar, ke lingkungan yang lebih modern di mana orang-orangnya tidak suka menyampuri urusan rumah orang lain. Tinggal bersama di rumah baru yang tidak besar, namun sangat nyaman dan lebih dari cukup untuk kalian berdua.
“Adek nanti sekamar sama Abang aja, ya. Kamar yang lain kita bikin jadi bioskop kecil-kecilan, oke?” Itu yang Caleb ucapkan saat itu, yang langsung diikuti dengan anggukan antusias darimu. Lagipula, kamu tidak bisa menolak ide Caleb yang sangat brilian, menyulap ruangan 4x5m itu menjadi ruangan menonton dengan televisi 60 inci, pengeras suara, sofa yang empuk, selimut, dan meja pendek untuk menaruh camilan.
Rumah itu kamarnya memang hanya dua. Satu yang 4x5m itu, dan satu kamar utama yang lebih luas di lantai atas, berukuran sekitar 6x7m, dengan kamar mandi dalam dan jendela besar yang menyambung dengan balkon. Tentu semua sudah direncanakan oleh Caleb semenjak dia membeli rumah itu. Benaknya sudah membayang-bayangkan skenario biadabnya, yang kini akhirnya bisa ia wujudkan setelah Oma tiada, dan hanya tinggal kalian berdua.
Kamu dan abangmu pun beradaptasi di tempat baru. Kalian membersihkan rumah baru itu bersama, menata furnitur-furnitur dibantu evol Caleb, sampai akhirnya rumah baru itu benar terasa seperti tempat pulang baik bagi kamu maupun Caleb.
Hari-hari berjalan seperti biasa. Kamu pergi ke sekolah baru, sementara abangmu pergi kuliah menyambi magang. Kalian tidak begitu kekurangan—makanya Caleb bisa membeli rumah baru ini di lingkungan yang aman dan terhitung sedikit elit—semua berkat Oma Josephine yang dulu adalah peneliti terkenal, yang membawa pulang banyak piagam dan penghargaan akademik. Beliau meninggali kalian tabungan hidupnya, karena hanya kalian berdua keluarga yang dimilikinya. Yah, walaupun tidak satupun dari kalian yang sedarah.
Kamu sudah tidak menangis lagi ketika mengingat Oma, sudah bisa mengikhlaskan beliau yang sudah berpulang. Caleb bilang, kalau kamu terlalu banyak bersedih, nanti Oma di atas sana akan ikut sedih juga. Kamu berdua tidak ada yang mau membuat oma yang sangat kalian sayangi itu bersedih, jadi kalian berdua membuat janji untuk terus hidup dengan senang agar Oma di atas sana bisa tenang.
Kamu lagi-lagi menjadi siswi yang berprestasi di sekolah barumu, membuat banyak teman baru, namun kamu lebih sering di rumah. Setiap mau keluar untuk pergi main, abangmu akan membuat alasan apapun agar kamu diam di rumah. Kamu tidak masalah dengan itu. Toh, abangmu selalu punya agenda menyenangkan di rumah. Main bersama abangmu selalu lebih menarik ketimbang pergi main dengan teman-teman sekolahmu.
Setiap malam, abangmu akan menepuk-nepuk punggungmu, mendekapmu dengan lengan kekarnya, menciumimu sampai kamu tertidur. Aneh? Tidak—setidaknya bagimu. Caleb selalu begitu. Jadi, bukannya itu hal yang wajar? Kan, dia abangmu.
Tangannya sewaktu-waktu akan memasuki piyamamu, meremas-remas payudaramu yang tidak dilapis bra, sambil bilang, “Abang gemes sama tete Adek. Tapi kalau orang lain yang pegang, nggak boleh, ya. Adek harus teriak. Cuma Abang yang boleh pegang-pegang Adek begini, karena Abang nggak akan jahat sama Adek. Abang kan abangnya Adek.”
Oma bisa sungguhan menangis di atas sana melihat kelakuan brengsek Caleb, namun Caleb sendiri tidak menganggap itu salah. Memangnya kenapa? Dia sayang kok, denganmu. Dia tidak ada niat menyakitimu sedikitpun. Dia hanya tidak mau kamu pergi darinya, bersama yang lain. Kamu kan, adiknya. Memangnya salah seorang Abang berharap bisa selamanya bersama adiknya? Caranya adalah urusan Caleb, yang penting niat Caleb baik.
Lama kelamaan, Caleb menjadi lebih berani. Kecupan di bibir yang biasa dia berikan sejak kalian masih kecil kini berubah menjadi ciuman dalam. Lidah Caleb menyusuri gigi-gigimu, mengajak gulat lidahmu di dalam mulutmu. Ketika kamu bertanya, kok gini ciumnya, Abang? Caleb akan menjawab, “Soalnya Abang makin sayang sama Adek. Adek juga kan udah SMA, udah gede. Ciumnya orang gede tuh gini, Dek. Lagi, ya?”
Caleb juga akan mengajakmu mandi bersama sering-sering, membersihkan badanmu yang mulai berbentuk seiring bertumbuhnya kamu. Caleb akan menyuruhmu berjongkok, membersihkan kemaluanmu dengan air hangat. Ketika kamu bertanya, Abang nggak jijik pegang itu Adek? Caleb akan menjawab, “Ngapain jijik, Sayang. Abang udah mandiin Adek sejak Adek masih kecil. Lagian nggak ada yang jijik dari badan Adek.”
Kamu dipaksa Caleb untuk berpikir semua itu adalah hal yang normal. Dimanipulasinya cara berpikirmu dengan sedemikian rupa agar kamu bisa berpikir seperti itu. Kamu pun menjadi lebih terbuka dan blakblakan dengan Caleb, tidak lagi punya sedikit pun ruang privasi dari abangmu tercinta.
Tentu hal tersebut membuat Caleb melayang tinggi ke bulan, mengetahui semua rencananya berhasil. Ia sudah menahan bertahun-tahun lamanya hanya karena ia menghormati Oma, jadi sekarang rasanya seperti Caleb dibebaskan dari belenggu dan dibiarkan terbang bebas ke angkasa.
Dan malam itu pun terjadi. Kamu baru saja naik ke bangku kelas dua SMA waktu itu. Bukan lagi anak kecil, tapi belum juga menjadi orang dewasa.
Kamu sedang menunggu abangmu di ranjang sembari berselancar di handphone-mu, menonton film di salah satu aplikasi streaming. Kamu seperti biasanya tidak pakai dalaman—kata abangmu, pakai dalaman saat tidur tidak baik. Kamu berbaring menyamping, matamu sudah terpejam-pejam saat kantuk mulai menyerang.
Tiba-tiba, kasur king size yang biasa kamu tiduri bersama abangmu itu sedikit melesek. Sepasang lengan kekar memelukmu dari belakang, sebuah kecupan mendarat di pipimu.
“Adek udah ngantuk?” Caleb berbisik rendah. Air menetes dari rambutnya yang sedikit basah, mendarat di dahimu.
“Hmm…” kamu menggeliat sedikit, mendekat ke tubuh hangat dan besar Abangmu. Matamu masih terpaku pada handphone-mu, memaksa dirimu untuk bangun sedikit lebih lama demi menamatkan film yang sedang kamu tonton.
Caleb terkekeh rendah, mencium pipimu lagi. “Adek tuh udah ngantuk. Taruh, yuk, handphone-nya,” ucapnya lembut, mengambil handphone-mu yang sudah hampir terjatuh.
Kamu menggeliat lagi, kali ini mengubah posisimu jadi menghadap dada bidang abangmu yang telanjang, hanya mengenakan boksernya. Kamu membenamkan wajahmu di sana, menghirup aroma sabun dan deodoran abangmu dalam-dalam. “Abang wangi…”
Caleb menaruh handphone-mu di nakas, lalu balik memelukmu lagi. “Abang kan habis mandi, Sayang.”
Tangan Caleb mulai lagi, meremas-remas bongkahan pantatmu lembut. Tangannya yang lain mengelus-elus rambutmu, membuatmu semakin mengantuk.
“Adek…”
“Iya, Abang?”
Tangannya yang semula meremas-remas bongkahan pantatmu kini naik ke punggungmu, menyelusup masuk ke bawah piyamamu.
“Abang sayaaang banget sama Adek,” bisiknya di telingamu, mengelus-elus kulit lembutmu. “Adek mau nggak, bantu Abang?”
“Hm?” Kamu mendongak, matamu sudah setengah menutup ketika kamu melihat ke mata dengan iris lembayung Caleb. “Bantuin apa, Abang?”
Tangan brengsek Caleb berpindah mengambil tanganmu, meletakkannya di gundukan besar pada boksernya. Kamu yang sudah terbiasa diajak mandi bareng dan dipegang-pegang oleh Caleb pun tidak kaget, hanya heran. “Kenapa, Abang? Kok keras banget?”
“Iya… Sakit banget, Dek… Adek mau ya, bantuin Abang?” Caleb menggunakan tatapan memelasnya, mengarahkanmu untuk mengelus-elus gundukannya.
Kamu tersenyum—masih setengah mengantuk—dan mengangguk kecil. “Adek bantuin.”
Caleb langsung tersenyum senang. “Makasih, ya. Sini cium dulu.”
Caleb menempelkan bibirnya ke bibirmu, melumatnya perlahan dan lembut. Tangannya bergerak mengeluarkan penisnya dari dalam bokser, membantu tanganmu yang lebih kecil memegang penis tebalnya itu.
Kamu menurut saja saat Caleb mengarahkan tanganmu untuk mengurut penisnya naik-turun. Ciumannya semakin dahsyat di bibirmu, lidahnya mengobok-obok mulutmu.
“Haa… Adek…” desah Caleb ke mulutmu. Ia menarik wajahnya sedikit, melihat ke matamu yang mulai sayu, tampaknya dimabuk ciuman si abang. Tangannya masih menuntun tanganmu untuk mengurut penisnya.
“Ahh… Enak, Dek…” erangnya rendah, mencium tepat di ujung bibirmu. “Adek mau Abang bikin enak juga?”
Kamu memiringkan kepala sedikit, penasaran. “Enak gimana, Abang?”
Caleb tersenyum. “Ada. Adek percaya Abang, kan?”
Kamu mengangguk ragu, namun mempercayai Abangmu sepenuhnya.
“Adek buka baju, ya. Abang bantuin.”
Setelah tidak berbalut satu helai kain pun, kamu kembali berbaring di kasur. Abangmu menurunkan boksernya, meloloskan kejantanannya yang besar dan berurat. Kepalanya sedikit keunguan saking ereksinya, cairan bening membasahi kulitnya.
Kamu pun bergidik melihatnya. “Abang… Ini kenapa kaya gini?”
Caleb hanya tersenyum. “Nggak papa, Dek.” Ia memposisikan dirinya di antara kedua kakimu, menciummu lagi. Tangannya mendorong pahamu untuk membuka, mengelus-elus area dekat selangkanganmu.
Mulai merasa aneh di bawah sana, kamu mengeluarkan suara-suara panas, membuat Caleb semakin gila. “Abang… Itu Adek gatel…”
Caleb menarik wajahnya sedikit, memandangi wajahmu yang tampak sangat cantik, pasrah di bawahnya. “Itu namanya memek, Adek. Coba bilang yang jelas.”
Pipimu semakin memerah. “M-memek Adek gatel, Abang…”
Oh, hampir saja Caleb mendesah menyedihkan mendengar omongan jorok adiknya. Cowok dua puluh dua tahun tersebut mulai menyentuh vaginamu yang sudah basah, mengeksplor vaginamu dengan jari telunjuknya.
Kamu mendesah lagi. “Abang kenapa dimainin…” Pahamu menutup secara otomatis, namun Caleb menahannya agar tetap terbuka dengan badan besarnya.
“Abang bikin enak, Adek. Biar nggak gatel lagi. Ya?”
Matamu menatap matanya ragu, namun akhirnya kamu mengangguk. “Iya…”
Seperti mendapat lampu hijau—yang padahal dia manipulasi agar menyala—Caleb menurunkan badannya, sampai mukanya berada tepat di depan vaginamu yang masih rapat.
Tanganmu bergerak menutup wajahmu, malu bukan main. “Abang… Kenapa diliatin gitu, sih…”
Caleb memang sedang memandangi kemaluanmu. Dua ibu jarinya membuka lipatan-lipatan bibir bawahmu, menampakkan lubang kecilmu yang basah dan berkedut-kedut. Senyum cabul tercetak di wajah tampannya. Lidahnya menjulur keluar, mencicipi perawan adiknya.
“Ah! Abang!”
“Ahh… Nngh… diem dulu, Adek…” Caleb terus menjilati kemaluanmu seperti anjing yang kehausan, sesekali menyedot-nyedot tonjolan kecil di atas lubangmu sembari mendesah-desah sendiri.
Tidak pernah merasakan ini sebelumnya, bola matamu berputar keenakan. Tanganmu menjambak rambut kecokelatan abangmu pelan. “Ah… Abang, udah… Geli…”
Caleb mendongak sedikit, masih menjilat-jilat lipatanmu. Matanya sayu menatapmu, tangannya menekan-nekan lubangmu. “Abang masukin jari Abang, ya?”
Kamu langsung berusaha menutup pahamu lagi, menggeleng kecil. “Ma-masukin ke mana…?”
“Ke sini,” ucapnya enteng, menekan-nekan lubang kecilmu.
“Nggak… Nggak mau… Nanti sakit…”
Caleb tersenyum, membuka pahamu lagi dengan lembut. “Nggak papa, Adek… Adek tadi bilang mau bantu Abang? Adek bilang percaya sama Abang?”
Kamu diam sebentar, masih ragu.
“Adek… Sakitnya cuma sebentar. Cuma sedikit. Tapi Abang cuma mau bikin Adek enak juga… Adek percaya kan, sama Abang?”
Kamu menatap matanya lagi. Netra lembayung itu kini menggelap, memandangimu sayu, seperti memantraimu untuk menurut saja dengan perkataannya. Kamu menghembuskan nafas pelan, mengangguk kecil.
Caleb tersenyum lebih lebar, jarinya mendorong-dorong pelan ke dalam lubangmu. “Abang bakal pelan-pelan… Tahan, ya.”
Jari tebal dan kasar Caleb memasuki lubangmu perlahan. Caleb memandanginya, makin ereksi lagi melihat jari tebalnya menembus lubang kecilmu. Caleb menggerak-gerakkan jarinya sedikit, membuatmu menggeliat resah, mendesah-desah antara nikmat dan sedikit perih di selangkanganmu.
“Enak, kan? Nih, memek Adek becek banget. Jari Abang disedot-sedot sama lubang Adek.” Wajah Caleb bergerak turun lagi, menjilati cairanmu, lalu menghisap-hisap kelentitmu.
“Ahh… Abang…” Kamu menjambak rambut Caleb lagi, kakimu menegang di samping kepala Caleb.
Di saat kamu lagi enak-enaknya, tiba-tiba abangmu yang menyebalkan itu menarik wajah dan jarinya, membuatmu merengek kesal.
“Abang kenapa berhenti…? Adek masih mau…”
Caleb terkekeh, berganti posisi menjadi duduk di antara kakimu. Tangannya mengurut penis besarnya yang sekeras batu sekarang, kepalanya semakin keunguan dan testisnya sedikit membiru. “Abang nggak tahan… Adek bantu Abang dulu, ya?”
Kamu menengok ke bawah, menatap penis gendutnya. “Itu… mau diapain?”
Caleb menurunkan badannya, menghalangi pandangmu pada kemaluan kalian yang bergesekan. “Adek percaya sama Abang, kan? Mau bantu Abang, kan? Diem dulu, ya?”
Tangannya menggerakkan penisnya untuk bergesekan dengan kemaluanmu yang basah dan berkedut-kedut, kepalanya mendorong-dorong seperti mau membobol lubang sempitmu—karena memang.
Kamu mendongak, menggelengkan kepalamu, takut. “Nggak mau… Nggak bakal muat… Itu Abang gede banget…”
“Muat, Dek. Abang bikin muat. Udah, ya, Adek diem dulu?”
Kamu masih menggeleng. Mulai frustrasi digerogoti nafsu, abangmu membekap mulutmu dengan tangan besarnya, memposisikan penisnya di lubang kecilmu.
“Mmh! Nnngh!!” Kamu semakin menggeleng ketakutan, mendorong Abangmu, namun Caleb sudah kepalang sange. Cowok brengsek itu menahanmu di bawahnya dengan evol-nya, membuat badanmu berkali-kali lipat lebih berat, menempel pada kasur.
“Maaf ya, Adek… Abang janji bakal bikin Adek enak abis ini… Tahan dulu ya, sakitnya…”
Caleb pun memajukan pinggulnya, membuat penis besarnya menyeruak masuk ke dalam lubangmu. Ia masuk perlahan, sampai penisnya menabrak sesuatu.
Caleb rasanya hampir gila. Ia akan membobol keperawanan adiknya sendiri, gadis yang sudah sejak kecil diurusnya, yang menjadi satu-satunya manusia terpenting di hidupnya. Telinganya sampai berdenging sedikit, tubuhnya melemas. Cowok itu mendesah dengan nada agak tinggi, memelukmu erat.
Caleb menghentakkan pinggulnya maju, memecah perawanmu. Kamu menjerit di balik tangan abangmu, menangis merasakan perih di kemaluanmu ketika selaput daramu dirobek oleh penisnya. Rasanya tubuhmu bagai dibelah dua.
Caleb mendesah lagi, menciumi puncak kepalamu. Mulutnya mengucap maaf berulang kali layaknya memanjatkan doa, namun pinggulnya tidak sejalan dengan mulutnya. Abangmu yang brengsek itu memompamu pelan, tangannya masih membungkam mulutmu. Menggantikan evol-nya, badannya yang besar menindih badanmu yang lebih kecil, tidak berdaya di bawahnya.
“Ahh… Abang udah nahan lama banget, Dek… Udah bertahun-tahun… Abang udah capek… Maafin Abang, ya… Abang janji bakal jadi abang yang lebih baik habis ini… Abang cuma minta ini sekali aja…”
Caleb meracau sembari… terisak? Kamu sedikit kaget, tapi tidak bisa apa-apa. Tubuhmu ditindih tubuh besar Caleb, dipeluknya erat sehingga wajahmu berdempetan dengan dadanya yang basah oleh keringat.
Abangmu terus menggempur kemaluanmu, makin lama makin cepat. Lubangmu semakin basah, membuat suara becek kemaluan kalian yang sedang beradu memenuhi ruangan. Lama kelamaan, kamu mulai merasa enak—walaupun belum sepenuhnya merasa nyaman di bawah sana—jadilah kamu mulai mendesah-desah di balik tangan Caleb.
Mendengarnya, Caleb akhirnya memelankan gerakannya, memberanikan diri untuk mengangkat sedikit tubuhnya demi melihat wajahmu. Kamu menatap balik sepasang mata sembab itu dengan matamu yang sama sembabnya. Wajahmu memerah, air mata menghiasi pipimu membuat kulitmu sedikit berkilauan terkena cahaya temaram rembulan yang mengintip dari celah-celah gorden jendela besar di kamar kalian.
Caleb bersumpah itu adalah pandangan terindah sekaligus paling menyakitkan di sepanjang hidupnya.
Caleb kembali terisak, menangkup wajahmu dengan lembut dan hati-hati, layaknya menyentuh barang mudah pecah. “Maaf… Sakit, ya? Abang minta maaf…” Cowok itu mencium bibirmu dalam-dalam, menyalurkan permintaan maaf dan rasa sakitnya melihat adiknya yang paling dia cinta itu menangis karena dia.
Kamu menarik sedikit wajahmu, hatimu ikut sakit melihat abangmu yang paling kamu cinta itu juga menangis. “Abang kenapa nangis…?” tanyamu serak.
“Abang udah nyakitin Adek… Abang egois… Nggak mikirin Adek… Maaf… Maaf… Maaf—“
“Abang, udah… Adek nggak mau lihat Abang sedih…” kamu ikut menangis lagi, tanganmu bergerak untuk mengusap air mata Caleb. “Abang gerak lagi… Adek udah nggak papa… Jangan gini…”
Mata Caleb melebar. “Gerak… lagi…?”
Kamu mengangguk kecil, mukamu semakin memerah. “Adek nggak papa… Beneran…”
Caleb diam sebentar, sebelum akhirnya mengangkat kakimu, menekuknya ke atas, membuat pahamu menempel ke perutmu.
“Adek beneran, ya… Kalau masih sakit bilang, kali ini Abang janji bakal berhenti.”
Kamu mengangguk lagi, menyiapkan diri. Ketika abangmu mulai menggenjotmu lagi, desahan demi desahan kecil meloloskan diri dari bibir cantikmu. Caleb menindihmu dengan badan besarnya lagi, memompa lubang kawinmu dalam-dalam.
Pria itu memandangi wajahmu yang keenakan, otaknya sudah habis digerogoti nikmat. Pikirannya kosong, hanya tersisa adik tersayangnya yang sekarang mengangkang pasrah di bawahnya. Payudaramu yang bulat dan kenyal bergoyang-goyang seirama dengan hentakan pinggul Caleb, helai rambutmu berserakan di atas bantal, kemaluanmu menelan kemaluannya habis.
“Enak kan, Adek? Abang enak kan, ngentotnya? Memek Adek dimelarin kontol Abang enak, kan?”
Telingamu memanas mendengar omongan biadab Caleb yang menuntut validasi darimu, namun anehnya vaginamu makin berasa gatal.
“Nngh… Ahhn… Kontol Abang kenapa dijepit…?” Caleb mendesah kencang tanpa malu, bola matanya berputar keenakan saat vaginamu tiba-tiba menjepit penisnya kencang. “Suka ya, Abang ngomong jorok?”
Malu, kamu menutup wajahmu dengan tangan, masih mendesah-desah tertahan. Tangan Caleb menarik kedua tanganmu lembut, menciuminya satu persatu.
“Jangan ditutup wajahnya… Abang mau lihat muka Adek… Adek Abang yang cantik…” Caleb menjilati jarimu, seakan-akan sedang menyembah setiap inci dari badanmu. “Desah yang kenceng, Adek… Nggak usah ditahan…”
Kamu menggeleng kecil, masih malu. Melihat itu, senyum usil Caleb muncul di bibir tipis dan keringnya, dan itu tidak pernah jadi kabar baik untukmu—apapun konteksnya. Tanpa aba-aba, Caleb menarik penisnya sampai hampir keluar dari lubangmu, lalu menghentakkannya sedalam mungkin, menabrak bibir rahimmu.
Desahan keras dan panjang akhirnya lolos dari bibirmu, punggungmu menekuk saking nikmatnya. “Nngh! Abang!”
Caleb tersenyum puas, mulai menggenjotmu cepat. “Pinter adek Abang… Terus ya, desah yang kenceng. Bikin Abang makin gila, Sayang.”
“Hnngh!” Kamu sudah tidak bisa berkutik, hanya bisa mendesah-desah menyedihkan sembari abangmu menidurimu dengan panas.
“Adek nggak tahu, ya? Adek selalu bikin Abang gila… Abang selalu ngebayangin kita ngewe… Abang ambil perawan Adek, Adek ambil perjaka Abang… Abang udah nonton banyak banget bokep… Abang bayangin pemeran ceweknya itu Adek, semua demi bisa ngentotin Adek yang enak gini… Abang berhasil, kan? Enak, kan, ngentotnya Abang?”
Otakmu rasanya seperti sedang korslet, badanmu mengejang di bawah badan besar abangmu. “Enak… Enak, Abang…”
Caleb terengah-engah, meringis senang seperti orang gila. “Enak apanya, Adek? Coba bilang yang jelas.”
Kamu rasanya mau menangis, antara malu dan dimabuk ekstasi. “Memek… Memek Adek… Enak…”
Caleb mendesah menyedihkan, memompa lubangmu makin cepat. “Apa yang bikin memek Adek enak?”
“K-kontol… Kontol Abang bikin… memek Adek enak…”
Caleb mendesah lagi, kepalanya rasanya mau meledak mendengar omongan kotor adiknya.
“Ahh… Nngh… Adek… Abang nggak kuat… Abang keluarin di dalem, ya? Adek lagi aman hari ini… Abang crot-in di dalem, ya? Muncratin peju Abang di rahim Adek?”
Kamu yang sudah mabuk kepayang hanya mengangguk-angguk, membiarkan Caleb melakukan apa yang dia mau. Rasanya kamu sudah di puncak ketika tiba-tiba, kamu merasakan sesuatu akan keluar.
“Abang… Adek mau pipis…”
“Pipisin kontol Abang aja… Ayo, barengan sama Abang…”
“T-tapi nanti pesing…”
Lagi-lagi Caleb mendesah menyedihkan mendengar omongan polosmu. “Nggak, Adek… Yang keluar bukan pipis beneran, Abang janji… Ayo keluar sama Abang…”
Sudah tidak bisa berpikir lagi, kamu pun mengeluarkan cairanmu saat itu juga, mendesah dan merengek kencang, mencengkeram seprai kasur. Merasakan penisnya yang tiba-tiba makin dijepit dan disedot kuat-kuat oleh vaginamu serta dihangatkan oleh cairanmu membuat Caleb sampai pada puncaknya. Ia menghentakkan penisnya dalam-dalam, melukis dinding rahimmu dengan cairan spermanya yang kental dan lengket.
Pria dua puluh dua tahun itu terengah-engah, menciummu dalam-dalam, pinggulnya terus menghentak pelan namun dalam ke lubangmu. Kamu mencium balik abangmu, masih mendesah-desah ke dalam mulut Caleb.
Setelah kabut ekstasi mulai memudar, Caleb jatuh ke sampingmu, menarikmu ke pelukannya tanpa melepas tubuh kalian yang menyatu di bawah sana. Peduli setan apabila besok akan susah dilepas, toh Caleb hanya perlu membuatmu basah saja. Lagipula, kalau bisa selamanya menyatu seperti ini, Caleb tidak akan minta hal lain di sisa hidupnya.
Caleb mencium keningmu dengan sayang. Dielusnya lembut rambutmu, seperti lanjut meminta maaf karena sudah sempat egois tadi.
“Adek… Adek nggak benci Abang, kan?”
Kamu mendongak, alismu mengerut sedikit. “Benci kenapa?”
“Abang udah ambil perawan Adek…” ucapnya—lagi-lagi sendu—sembari tangannya menyematkan helai rambut yang jatuh di wajahmu ke belakang telingamu. “Abang udah nyakitin Adek… Abang egois…”
Kamu menghela nafas, menggelengkan kepala. “Adek enggak papa. Adek kan udah bilang.” Tanganmu menangkup wajah Caleb, tampak kecil di sana. “Lagian, Abang tadi cuma minta bantuan Adek. Abang juga tadi janji bikin Adek enak kalo Adek tahan sakit sedikit, kan? Abang nggak bohong sama Adek. Abang nggak pernah bohong sama Adek.”
Caleb terpana sebentar mendengar jawabanmu, sebelum tersenyum kecil. “Adek Abang beneran udah gede, ya?”
Kamu tertawa kecil, mengecup bibir kering abangmu yang kali ini sedikit empuk karena habis berciuman panas denganmu berkali-kali saat kalian bercinta tadi.
“Adek sayang banget sama Abang. Adek mau sama Abang terus..”
Wah. Caleb ingin rasanya terbang ke langit ketujuh dan berteriak kegirangan, mengabari para malaikat di atas satu persatu bahwa adiknya berkata demikian padanya.
“Kalau Abang mau minta lagi, Adek nggak masalah. Yang tadi nggak perlu jadi yang terakhir. Adek punya Abang seutuhnya.”
Kamu tersenyum kecil, lalu pandanganmu teralih ke hidung Caleb. Cairan merah mengalir dari lubangnya, membuatmu mendelik.
“Abang! Abang mimisan!”
Caleb mengerjap, bahkan tidak sadar kalau saja kamu tidak bilang. Memang adiknya hebat sekali. Bisa membuat abangnya yang gagah dan keren menjadi semenyedihkan ini.
Kamu tersenyum sendiri mengingat kejadian tiga tahun lalu itu. Abangmu selalu disanjung-sanjung semua orang, dipuji-puji karena ketampanan dan kecerdasannya. Tapi saat bersamamu—terutama saat malam itu—Abangmu memang tampak benar-benar menyedihkan. Meskipun begitu, semua itu hanya membuatmu semakin mencintai abangmu yang kadang menyebalkan itu.
Namun yang lebih lucu, Caleb tampaknya masih berpikir kamu sepolos itu. Abangmu tidak tahu, kamu sudah terekspos ke pornografi sejak kamu duduk di bangku SMP. Abangmu tidak tahu, trope hentai favoritmu adalah incest. Abangmu tidak tahu, sebelum pindah rumah dan tidur bersama, kamu bermain dengan tubuhmu sendiri hampir setiap malam di kamarmu, menonton video porno sambil membayangkan Caleb. Yang Caleb tahu, kamu baru mulai menonton video porno setelah Caleb mengambil keperawananmu.
Dan lebih lucunya lagi, Caleb tampaknya juga masih berpikir kamu tidak sadar selama ini dia memanipulasi pikiranmu. Kamu tidak bodoh, dan kamu bukan anak kecil lagi. Kamu adalah siswi berprestasi di sekolah, dan kamu bergaul dengan banyak orang. Kamu tahu setidaknya sedikit-banyak tentang dunia. Kamu tahu ketika seseorang sedang berusaha memanipulasi pikiranmu. Kamu mengerti bahwa perlakuan abangmu kepadamu tidaklah pantas sebagai seorang kakak.
Sengaja kamu biarkan, karena kamu amat menyayangi abangmu. Sengaja kamu menjatuhkan diri ke dalam semua perangkap yang dibuat Caleb, hanya untuk menyenangkan hati si abang. Dengan begitu, Caleb akan terus fokus padamu. Caleb akan selamanya menjadi milikmu. Bila nanti Caleb berani mengalihkan pandangannya darimu barang sedikit saja, kamu bisa dengan mudah menggaetnya kembali ke pelukanmu dengan gelagat polosmu yang palsu, namun bisa menipu abangmu yang disanjung-sanjung jenius itu.
Ah, dipikir-pikir kamu sama gilanya dengan Caleb. Jangan-jangan kalian sebenarnya betulan sedarah. Kalau tidak, bagaimana mungkin kalian bisa semirip ini?
“Adek! Abang pulang!” suara abangmu terdengar dari lantai bawah, membuyarkan lamunanmu. Kamu berdiri, berlarian kecil keluar kamar dan menuruni tangga, menghampiri abangmu.
“Abang!” kamu melompat ke pelukannya, yang dibalas kekehan si lebih tua, memelukmu balik.
“Halo, Sayang. Abang bawain cake kesukaan Adek. Kita makan bareng, yuk? Sambil nonton di ruang bioskop?”
Kamu mengangguk, mencium pipi abangmu.
Enak saja, kalau abangmu nanti harus bersama yang lain. Kalian sudah bersama sejak kecil, dan kalau ada yang berani mencoba memisahkan kalian, kamu akan habisi siapapun yang berani berdiri di antara kalian.
Nggak ada yang boleh milikin Abang. Abang kan udah punyaku dari dulu.
Akan terus begitu, selama nafasku masih hangat dan berhembus.
