Actions

Work Header

Rating:
Archive Warning:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Series:
Part 3 of Of Lepus and Oriole.
Stats:
Published:
2026-06-10
Words:
745
Chapters:
1/1
Comments:
1
Kudos:
4
Hits:
47

ambang batas

Summary:

—dan racun yang paling berbahaya sering kali bukanlah racun yang menyakitkan di awal, melainkan yang datang tanpa disadari dan membuat korbannya terbiasa dengan kehadirannya.

[ Prompt 3 : Poison ]

Notes:

Genshin Impact © Hoyoverse

ambang batas © Amarine_Celia

"Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas fiksi ini."

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Cairan bening berkilau samar di bawah cahaya temaram lampu minyak.

Pada genggaman Lohen, sebuah tabung kimia diputar-putar malas. Sepasang manik penuh selidik memandangi bagaimana cairan di dalam sana bergerak mengikuti momentum sentrifugal dan meninggalkan selapis tipis jejak pada dinding kaca sebelum jatuh kembali. Setitik cahaya seolah terperangkap dalam pusat pusaran dan ikut tertelan olehnya.

Sekarang adalah waktu yang Lohen nantikan. Selama tiga bulan terakhir, Lohen habiskan untuk menyempurnakan racun di tangannya. Tiga bulan dengan dua puluh tujuh percobaan tanpa henti sampai tibalah hari penentuan ini.

Kelinci percobaannya, tentu saja, dirinya sendiri. Tidak ada objek penelitian yang lebih baik dan jujur dari tubuhnya sendiri.

Lohen senantiasa menuliskan tiap perubahan yang ia rasakan ke dalam sebuah jurnal, termasuk yang saat ini tengah ia lakukan. Tidak ada keragu-raguan dalam caranya menggoreskan tinta di atas kertas, bahkan terkesan terburu-buru karena ia tidak sabar lagi menunggu.

Persiapannya selesai. Ia puas dan tersenyum ganjil. Sekarang, ia hanya perlu meneguk sekaligus isi dalam tabung tersebut dan melihat hasil kerjanya.

Tabung kimianya lalu diangkat.

"Bersulang!" Lohen berseru seolah mengajak malaikat maut bersulang bersamanya. Bibirnya menyentuh tepi tabung dan cairan bening langsung mengalir masuk dalam mulutnya. Perlahan, ia bisa merasakan sensasi dingin pada kerongkongannya.

Mulanya tanpa rasa, seperti yang seharusnya. Tapi lama-kelamaan, rasa getir menyeruak. Pekat dan menusuk.

Lohen mengambil penanya lagi dan mulai mencatat perubahan yang terjadi.

Ini belumlah seberapa. Hampir semua racun yang pernah ia injeksikan ke dalam tubuhnya, bersifat sama. Lohen malah menikmati tiap rasa sakit yang timbul perlahan-lahan menggerogoti tubuhnya.

Sensasi pertama muncul, sebuah kehangatan aneh yang berawal dari lambungnya, lalu menyebar dengan cepat.

Lohen mengerutkan kening. Kehangatan itu berubah menjadi panas. Dadanya mulai terasa sesak. Napas pun menjadi sedikit lebih berat.

Lohen masih mampu menulis hingga ujung-ujung jemarinya mulai kesemutan dan mati rasa. Keringat dingin sebesar bulir-bulir jagung membasahi pelipis. Jantungnya beritme kacau. Ketika Lohen mencoba tetap sadar, dunianya mendadak terasa miring lalu berputar. Tubuhnya limbung. Sikutnya tidak sengaja menyenggol botol-botol kaca lain hingga berserakan jatuh dan pecah. Semua terjadi begitu cepat dan yang Lohen sadari sesudahnya adalah ia yang tersungkur menghantam lantai.

Segala kegaduhan itu jelas saja menarik perhatian sosok Illuga yang baru saja tiba. Pintu ruangan Lohen didobrak paksa sampai menghantam dinding dengan keras, "Tuan Lohen!"

Lohen masih mampu mendengar langkah kaki yang tergesa-gesa mendekati dirinya, "Tuan Lohen! Kau dengar aku?!"

Lohen bisa merasakan Illuga mencoba menopang tubuhnya dan ia menemukan wajah lelaki itu dengan kekalutan yang jelas tergambar di sana.

Lucu.

Lohen tidak pernah membayangkan Illuga mampu berekspresi demikian. Andai saja bisa ia bingkai dan ia pajang di sudut kamarnya yang sepi, pasti akan sangat menghibur.

Satu tangan Illuga kini menopang tengkuknya dan yang lainnya menggenggam pipinya. Hangat. Penenang yang sungguh Lohen butuhkan.

Rasanya Lohen ingin tertawa, kalau saja paru-parunya tidak terasa terbakar.

Entah sudah kali keberapa dalam hidupnya, ia menenggak berbagai macam racun untuk membentuk resistensinya sendiri. Sudah berkali-kali pula ia terbaring di lantai seperti saat ini, bahkan hingga mulutnya berbuih. Namun, tidak pernah sekali pun ada seseorang yang tampak begitu takut kehilangannya.

Tidak ada kecuali Illuga.

Di ambang kesadarannya yang mulai terurai, Lohen seketika memikirkan sesuatu yang menggelikan.

Racun-racun yang ia pelajari sampai detik ini, memiliki karakteristiknya masing-masing. Ada yang cepat bekerja ataupun perlu waktu lebih lama; dan racun yang paling berbahaya sering kali bukanlah racun yang menyakitkan di awal, melainkan yang datang tanpa disadari dan membuat korbannya terbiasa dengan kehadirannya.

Terdengar ironis.

Lohen menghabiskan bertahun-tahun membangun kekebalan terhadap berbagai macam kemungkinan, tetapi ia tidak pernah menyadari bahwa dirinya telah diracuni oleh sesuatu yang jauh lebih mematikan.

Namanya adalah cinta; racun yang ternyata sanggup menyusup ke dalam sistem tubuh Lohen tanpa disangka.

Cinta datang tidak melalui injeksi paksa maupun dilarutkan dalam cawan berisi anggur. Cinta datang dari hal-hal sesederhana percakapan yang berlangsung lama atau kebiasaan mencari satu sosok tertentu ketika memasuki ruangan.

Setetes demi setetes tanpa Lohen sadari sampai cinta itu kini menjadi bagian dari dirinya.

Di saat dunianya kian menggelap dari tepian netranya, Lohen menyadari bahwa ia mencintai Illuga jauh lebih dalam daripada yang ia kira.

Illuga berdecih kecil, "Jangan tidur. Aku akan mencari penawar—"

Lohen mengangkat tangannya dengan susah payah dan berhasil meraih kerah Illuga.

Illuga sempat membeku, "Tuan Loh—!"

Dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, Lohen menarik Illuga lebih dekat lalu menyatukan bibir mereka dalam satu ciuman.

Illuga tidak menyanggah dan membiarkan ciuman mereka bertahan. Ketika saatnya mereka terpisah, Illuga sengaja menempelkan keningnya pada kening Lohen.

"Bodoh …" Desis Illuga setengah terisak, "Jangan mati …"

Lohen tersenyum samar sebelum kesadarannya menghilang.

"Aku tidak akan mati. Bahkan dari racun paling mematikan di dunia sekalipun."

.

.

[]

Notes:

ini lohen nya ga mati ya gusy cuma pingsan aja!! /gaktega
gimana nih pull lohen nya teman timunss?? ><

Series this work belongs to: