Actions

Work Header

Ain't It Fun

Summary:

Orang-orang pada sibuk kumpul keluarga, eh si papah dan si kecil malah bikin anak di kamar!!!

Notes:

Maaf kalo kepanjangan 😭 Aku suka nulis yang detail soalnya mweehehehe. Fic ini lebih detailed dan lebih porno dan taboo dibanding fic sebelumnya, so aku harap kalian baca tags dulu yaw. I hope you guys like it. Cerita ini adalah sambungan dari fic yang ini: https://archiveofourown.org/works/72701966?view_full_work=true

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Malam itu, rumah keluarga Park sedang ramai dan dipenuhi oleh tetamu. Kediamannya yang luas memang sering dijadikan tempat berkumpul bagi keluarga besar mereka. Entah apa yang menjadi alasan mereka berkumpul. Mungkin salah satu anggota keluarga Jay lagi berulang tahun, atau ayah dan ibunya sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Semua orang berbincang-bincang di kelompok mereka masing-masing. Para wanita dan ibu-ibu berkumpul di dekat jendela, merasakan angin dingin malam hari sambil berbincang mengenai tren fashion yang sekarang sedang viral. Pria-pria dewasa terlihat mengerubungi televisi di ruang tamu, menonton pertandingan sepak bola yang sepertinya lagi di momen-momen genting. Para remaja dan anak-anak entah sibuk bermain di halaman samping pavilion atau sibuk memantau gadget di tangan mereka. Namun, di mana kah sosok pria dewasa dan anak cantiknya yang menjadi pemeran utama di cerita ini?

 

Kita harus pergi ke beberapa jam sebelumnya. Hari itu Jay bekerja agak lama di kantor, alhasil ia datang telat ke acara keluarga di rumahnya sendiri. Ketika ia sampai, orang-orang sedang berjamu di ruang makan. Beberapa orang menyapanya hangat dan menanyai kabarnya, termasuk istrinya dan tentunya anak kesayangannya, Sunoo. Ia pun mencium pipi Sunoo dan langsung bergegas duduk di samping istrinya yang ia juga beri kecupan hangat. Sesekali ia membalas pertanyaan yang dilontarkan keluarganya layaknya basa basi semata. Ia lebih suka memandang Sunoo yang duduk di depannya, yang sedang makan dengan lahap. ‘Ah, anak kesayanganku cepat banget tumbuhnya’ batinnya sambil meminum wine yang ada di depannya. Jay memandang anaknya lama dengan tatapan yang tentu saja orang normal tak bisa tebak maksudnya. Mereka mungkin berpikir bahwa Jay sangat menyayangi Sunoo dan merasa gemes padanya. Yang tak mereka tahu adalah ada niat kotor yang bersembunyi di balik tatapan yang terlihat sayang itu. Niat kotor yang seharusnya tidak ada dalam pikiran seorang ayah ketika melihat darah dagingnya sendiri.

 

Waktu berlalu dengan cepat, jamuan itu sudah berakhir dan kini keluarga besar itu sedang berbaur di dalam rumah besar itu. Jay bergabung dengan anggota keluarga yang lain di ruang tamu, dan Sunoo diarahkan oleh bundanya untuk bermain bersama para sepupunya. Sunoo bermain kejar-kejaran di halaman belakang rumah. Anak ceria itu berlari dengan penuh tenaga, menghindari anak-anak lain yang mengejarnya. Senyum sumringahnya dapat membuat siapapun yang melihat terpana akan kelucuannya. Pipi gembul yang gampang kemerahan itu sudah seperti buah tomat sekarang, dahinya berpeluh keringat yang turun dan bermuara di lehernya. Rambut Sunoo sudah lepek, kering karena keringat dan agak kotor dengan debu yang entah dari mana asalnya. Lama kelamaan Sunoo merasa lelah, dan satu hal yang menarik tentang bocah 9 tahunan ini adalah dia merasa kantuk yang intens ketika ia lelah. Maka dengan sisa tenaganya ia pamit pada teman bermainnya dan berjalan ke arah rumah dengan harapan untuk tidur. 

 

Ketika ia masuk, yang pertama terlihat oleh matanya adalah jam dinding di dapur. Jarum jam menunjukkan bahwa saat itu sudah pukul setengah sepuluh malam. Ia lanjut berjalan ke dispenser untuk menenggak segelas air dingin yang menurutnya sangat menyegarkan sekaligus membuatnya semakin mengantuk. Sunoo lalu menuju ke ruang tamu besar dan ketika ia masuk, tatapannya langsung tertuju ke arah seberang ruangan, di mana televisi besar milik papahnya berada. Tentu saja, Jay juga berada di sana, dengan mata yang terpaku pada layar dengan resolusi tinggi itu, mencoba memprediksi apa yang akan terjadi dengan tim bola yang ia dukung. 

 

Seperti yang kita tahu, Sunoo adalah anak yang manja dan sangat lengket dengan papahnya. Di usianya yang sekarang ia masih bergantung banyak pada papahnya, salah satunya adalah masalah istirahat. Sunoo lebih gampang tidur jika ia dikeloni oleh papahnya, dan orang tuanya tentu saja setuju karena ini berarti Sunoo bisa mendapatkan lebih banyak waktu istirahat jika tidurnya nyenyak, dan mereka juga tak akan terganggu.

 

Maka dengan kebiasaan ini, Sunoo pun berjalan menuju ke arah kerumunan pria-pria dewasa itu, mencari papahnya untuk minta dikelonin. “Papah…” katanya pelan sesaat setelah ia akhirnya berada di samping papahnya, Jay awalnya tidak sadar karena masih fokus menonton, namun tepukan Sunoo pada pundaknya sukses merebut perhatian Jay. Anak kesayangannya itu terlihat sangat lelah, dengan mata yang mengatup membuka khas anak kecil yang sedang mengantuk. Jay pun langsung mengerti mau anaknya tanpa harus diminta oleh Sunoo. Dengan itu dia pun bangkit berdiri dan berbasa-basi pada orang-orang di sana untuk meninggalkan acara nobar mendadak itu. “Gue ke atas bentar ya bro. Mau ‘nidurin anak gue dulu” ujarnya pada beberapa orang di sebelahnya yang Sunoo jujur kurang kenal. 

 

Sunoo lalu meminta Jay untuk menggendongnya, dengan alasan kakinya terlalu lelah untuk menaiki tangga yang cukup tinggi. Dengan percaya diri ia tunjukkan muka memelas lucunya yang tentu saja ampuh dan membuat Jay luluh. Si papah lalu menggendong anaknya itu dengan gampang. Posisi Sunoo menghadap padanya, kedua tangan mungilnya mengalungi leher Jay, dan ia menyandarkan pipi kirinya pada pundak kanan Jay. Sementara itu Jay menahan berat anak cantiknya itu di pundak dan pantatnya dengan kedua tangannya.

 

Jay lalu membawa Sunoo naik ke lantai atas, dan seiring ia menaiki satu per satu tangga marmer itu, ia dapat mencium bau keringat Sunoo. Hal ini karena posisi leher kanan Sunoo yang terekspos di samping ceruk lehernya sendiri, yang baunya langsung disambut oleh penciuman pria berumur 37 tahun itu. Jay memperlambat langkahnya di tengah tangga itu untuk menghirup aroma keringat anak cantiknya. Bau keringat itu sangat khas, dan ia hanya bisa mendapatnya dari Sunoo. Pada saat itu juga, pikirannya yang semula bersih, yang semula hanya memikirkan bagaimana caranya agar Sunoo bisa tidur lebih cepat, kini memikirkan hal lain. Wah gila, ayah bejat satu ini sekarang lagi sange karena bau keringat anaknya sendiri.

 

Ini bukan pertama kalinya Jay mencuri kesempatan untuk melakukan perbuatan ini. Jay sering mencium bau badan anaknya ketika ia memandikan Sunoo, yang tentu saja bukan merupakan hal yang Sunoo pernah sadari. Bahkan pada beberapa kesempatan, ia sesekali mengambil pakaian anaknya yang penuh keringat lalu dibawa ke kamarnya untuk ia hirup bau tengiknya sambil melampiaskan nafsunya. Salah satu tangan kekar miliknya itu biasanya membekap mulut dan hidungnya sendiri dengan bagian ketiak kaus atau celana dalam Sunoo, sementara tangannya yang lain digunakan untuk mengocok kejantanannya sampai akhirnya badannya tertutup oleh pejuhnya sendiri.

 

Jay saat ini sudah sampai di lantai dua, beberapa sentimeter saja dari anak tangga terakhir. Hidungnya mengendus leher dan kepala belakang Sunoo dengan rakus, mencoba memasukkan bau memabukkan itu sebanyak-banyaknya ke dalam aliran pernapasannya. Tubuh Jay memanas, di bawah sana kontolnya mulai menegang dan tonjolan celananya mulai menggesek paha Sunoo. Pikirannya kalang kabut, lantai di bawah sedang penuh oleh keluarga besarnya, sementara ia sedang setengah mati menahan nafsunya untuk tidak menyantap Sunoo sekarang juga. Jay berdiri lama di sana, mempertimbangkan apa yang sebaiknya ia lakukan. 

 

Pikiran Jay semakin kalut, dan pada akhirnya kesadarannya kalah dengan gairah liarnya sesaat setelah Sunoo tak sengaja menggesek gundukan kontolnya dengan pantat kecilnya. Sunoo yang awalnya heran karena papahnya hanya diam berdiri di lorong lantai dua itu kini mulai menyadari apa yang akan terjadi padanya ketika ia melihat Jay yang sibuk menempelkan hidungnya di lehernya dengan tatapan nafsu yang Sunoo sudah hafal. Sunoo hanya bisa diam, membiarkan papahnya melakukan apa saja pada lehernya. Jay kini berjalan mengarah ke kamar Sunoo yang ada di pojok lorong kanan. 

 

Jay kini sudah menghentikan aktivitasnya pada bagian atas badan Sunoo dan sekarang ia memopong badan Sunoo sambil berjalan tergesa-gesa. Pada saat itu, jarak dari tangga ke kamar Sunoo terasa sangat jauh menurutnya. Tentu saja hal ini karena Jay sudah sange berat sekaligus mengutuk kesadarannya sendiri yang memilih melakukan hal gila ini. Jay tahu kalau saat ini rumahnya sedang penuh dengan orang-orang yang tiap saat bisa menerobos masuk ke kamar Sunoo dan memergokinya. Apa yang mungkin akan terjadi jika salah satu dari mereka melihat dirinya yang sedang berada sangat dalam pada tubuh anaknya? Apa yang akan orang itu lakukan saat ia melihat Jay sedang memperkosa darah dagingnya sendiri? 

 

Berbagai pertanyaan itu menghantui pikiran Jay, namun gairahnya tetap tak mau kalah. Anak cantik miliknya ini sedang membuat tubuhnya bergelora akibat nafsu yang kepalang gila. Ia harus merasakan tubuh Sunoo sekarang juga. Obsesinya terus mendorong Jay untuk langsung saja mengacaukan memek ketat si kecil menggemaskan di dekapannya itu dengan kontol perkasanya. Maka dengan langkah terakhir, akhirnya ia sampai ke dalam kamar Sunoo. Jay mengunci pintu di belakangnya, kemudian menatap kamar yang mencerminkan keluguan anaknya itu. Berbagai plushie favorit Sunoo tergeletak rapi di kepala kasur, yang ditutupi oleh seprai dengan motif kartun pelangi dan awan. Dapat Jay rasakan kontolnya semakin mengeras. Jay memikirkan berbagai skenario seks yang bisa ia lakukan pada anak cantiknya di kamar itu, dan pemikiran itu semakin memperparah nafsunya. Jay akan menyetubuhi anaknya untuk yang kedua kali semenjak waktu pertama mereka melakukannya dua minggu lalu. Jay sudah berusaha menahan nafsunya untuk tak mencabuli Sunoo setiap kali tingkah anaknya itu membuat dirinya sange, dan dua minggu terakhir ini adalah waktu yang sangat berat baginya. Sunoo dengan sejuta tingkah kelucuannya telah menjadi cobaan yang sangat menguji pikiran dan perbuatan Jay.

 

Jay sudah tidak peduli dengan pertanyaan-pertanyaan yang memutar di pikirannya sesaat lalu. Ia tak peduli jika ada yang masuk ke kamar Sunoo dan mendapatinya sedang mengawini anaknya. Hell, bahkan menurutnya hal itu justru membangkitkan gairahnya sekarang. Jay membayangkan sedang dipergoki oleh orang lain tepat pada saat ia menyemburkan pejuhnya di dalam memek Sunoo, dan ini membuat rudalnya semakin keras. Orang-orang akan menganggapnya sebagai binatang, dan dia bahkan bisa masuk penjara. Sungguh, pria gila ini sudah tak bisa ditolong lagi. Janjinya pada teman-temannya di bawah tadi berubah menjadi hal yang sangat ironis. Jay berkata kalau dia mau ke lantai atas untuk menidurkan anaknya yang sudah lelah. Mereka tidak tahu kalau sekarang, kalimat itu punya dua arti. Satunya beneran, satu lagi sialan.

 

Jay lalu mendudukkan Sunoo di atas ranjang berukuran double xl yang ada di sudut kamar itu. Dia sendiri memposisikan dirinya bersimpuh di depan Sunoo. Jay dapat merasakan dinginnya ubin kamar itu pada lututnya akibat pendingin ruangan yang sedari tadi menyala. Jay lalu mensejajarkan wajahnya dengan wajah Sunoo lalu menangkup pipi kanan Sunoo, sementara yang lebih muda mengalihkan perhatiannya dari lutut pria di depannya itu untuk menatap Jay. 

 

Sunoo adalah anak yang pintar, pada saat itu juga ia tahu apa yang papahnya sedang rencanakan. Ada rasa takut yang ia rasakan karena ia masih mengingat kejadian dua minggu lalu itu. Saat itu tubuhnya merasakan rasa sakit yang luar biasa dan hal ini membuat bulu kuduknya berdiri. Akan tetapi, bukan hanya itu saja yang membuat bulu kuduknya berdiri. Sunoo juga ingat dengan jelas sensasi menegangkan dan melegakan saat tubuhnya dirangsang oleh papahnya. Maka dengan rasa takut, antusias sekaligus penasaran, ia menatap mata hitam Jay dan tangannya meraih pergelangan tangan papahnya yang kini sedang mengelus tengkuknya. 

 

Mata Sunoo bergerak mengikuti gerakan tangan Jay di tengkuknya, dan sesekali ia balik menatap papahnya yang kini sedang menyeringai padanya. Sunoo merasa malu dan canggung ditatap dengan intens oleh papahnya, seakan tahu bahwa tak seharusnya si ayah menatap anaknya dengan kabut gairah menutupi korneanya. Namun Sunoo adalah anak yang polos, dan anak kecil ini sebenarnya pemalu. Sunoo kerap merasa kesusahan untuk menyampaikan apa yang dia mau kepada papahnya. Entah itu ketika ia meminta untuk dibelikan es krim mint choco, untuk diantarkan ke disney world, ataupun untuk dimaini tubuhnya oleh papahnya. Sunoo tak tahu bagaimana meminta papahnya untuk langsung saja mengenakkan badannya. Hal terbaik yang bisa dia lakukan adalah mendesah pelan untuk memberi tahu si ayah bahwa ia menikmati sentuhan Jay pada lehernya.

 

Jay juga sangat mengenali sifat anaknya ini. Dia telah menghabiskan banyak waktunya untuk menebak apa yang Sunoo mau, sehingga ia juga sudah terlatih. Jay menyadari reaksi anaknya yang kini memejamkan matanya menikmati perbuatan si ayah. Jay mendekatkan wajahnya pada wajah Sunoo, dapat ia dengar bibir ranum itu basah dengan air liur yang keluar karena desahan Sunoo yang kini semakin keras. Maka dengan itu, Jay langsung paham bahwa anak cantiknya ini juga mendambakan hal yang sama dengannya. Jay merasa bangga pada dirinya sendiri karena dia tak perlu bekerja banyak untuk meyakinkan anak cantiknya untuk mau dikerjai oleh dirinya.

 

Suasana di kamar itu semakin intens. Jay sudah menempelkan bibirnya pada bibir Sunoo, mengajaknya berciuman. Jay memimpin pertandingan silat mulut ini, mencari dominasi lebih seakan posisi kuasanya sebagai ayah terhadap anaknya sendiri masih kurang menggairahkan. Jay melahap kedua bibir Sunoo dengan rakus, merasakan rasa manis dari lip balm yang dipakai anaknya yang kini sudah nyaris hilang dan diganti dengan rasa air liur Sunoo. Yang lebih muda tentu saja kewalahan, papahnya terlalu kuat untuk ia imbangi. Maka dengan itu ia membiarkan Jay mengambil alih kendali. Bibir kasar Jay itu terasa memabukkan bagi Sunoo dan ia juga dapat merasakan jejak manis wine-like di sana. Anak kecil itu rindu akan rasa tersebut.

 

Sunoo melekatkan kedua tangannya di kedua pundak Jay dan menepuk bidang tubuh kekar itu pelan, meminta papahnya untuk memberinya waktu menarik napas. Jay menghentikan ciuman mereka dan ia dapat melihat anaknya sedang ngos-ngosan, pipinya lebih merah dari sebelumnya. “Kamu cantik banget hari ini, doll. Selalu cantik buat papah” puji Jay sambil mengelus kepala kasar Sunoo karena rambut yang kering. Sunoo kini yang sudah mendapat kendali atas napasnya hanya bisa tersipu malu. Ia suka sekali dipuji oleh papahnya. Jay lalu mencium ubun-ubun Sunoo karena merasa gemas akan reaksi anak cantiknya itu. 

 

Jay merasa kesusahan menahan nafsu liarnya, ia dapat merasakan celana dalamnya di bawah sana sudah basah oleh precum. Ia mengalihkan fokusnya kembali pada Sunoo untuk menahan dirinya agar tak tergesa-gesa dan mengikuti dorongan tersebut. Jay melihat anaknya itu sedang menatapnya dengan konstan, menunggu pergerakan Jay untuk melanjutkan aktivitas mereka. Matanya sempat turun ke daerah selangkangan Jay dan hampir saja melihat tonjolan kontol keras Jay yang gagal karena yang lebih tua lebih dulu merapatkan pahanya untuk menyembunyikan benda pusaka itu. Jay tak mau Sunoo sadar betapa sangenya dia sekarang. Dia tahu Sunoo itu bisa saja kelepasan dan memohon pada papahnya untuk melakukan hal-hal gila jika ia sadar bahwa kejantanan papahnya sudah sekeras itu. Jay takut ia juga lepas kendali dan langsung meruda paksa anak kecil itu tanpa persiapan.

 

Jay menegakkan badannya sambil mensejajarkan kedua wajah mereka. “Papah boleh cium kamu lagi, doll?” tanyanya kepada putra kecilnya itu. Sunoo memberi anggukan manja yang sejujurnya tak berarti bagi Jay karena walaupun Sunoo tak mengizinkannya, dia akan tetap mencium Sunoo. Namun Jay tetap bertanya karena ia senang melihat reaksi Sunoo saat ia mengiyakan permintaannya dengan bibir yang mengerucut dan mata yang malu menatapnya. Jay kembali meraup bibir Sunoo dan menciumi anaknya itu sedalam yang ia bisa. 

 

Ciuman ayah dan anak itu sangat basah sampai keduanya dapat mendengar suara kecipak keluar dari pertemuan mulut mereka, yang menurut Jay terdengar sangat seksi apalagi sambil berharmoni ria dengan desahan Sunoo yang sesekali kelepasan dari mulut manisnya. Tangan Jay turun dari leher Sunoo menuju ke area dada kecil di bawah leher itu, meraba setiap senti dada Sunoo yang masih tertutup oleh kaus tipis. Jay sesekali menghentikan ciuman mereka untuk mengambil napas dan lalu lanjut mencipok setiap sudut mulut Sunoo. Hal ini terus berlanjut beberapa saat sampai Jay akhirnya puas bermain dengan bibir Sunoo. Maka dengan raupan terakhirnya pada bibir Sunoo, Jay meraih puting susu kiri Sunoo dan mencubitnya dari luar kaus yang dipakai si kecil.

 

Sunoo tersentak dari sensasi memabukkan yang papahnya berikan di mulutnya dan memekik merasakan getaran di dadanya. Matanya melotot terkejut namun kembali menutup ketika Jay menarik putingnya dengan licik. Sunoo suka dengan sensasinya, sehingga ia melenguh pada papahnya. “Papah…..” desahnya sambil tak sengaja menggigit bibir bawahnya. Jay kewalahan melihat anak centilnya yang merespon tiap stimulus yang ia berikan sebagaimana yang ia mau. “Sunoo suka? Suka, ya? Dicubit pentilnya begini sama papah?” Jay melontarkan pertanyaan-pertanyaan ini pada Sunoo untuk membuat anaknya semakin terangsang. Sunoo hanya bisa bergumam, tak bisa membentuk satu kata pun untuk menjawab papahnya. “Good boy. Sunoo pinter banget, sayang” ujar Jay yang semakin nafsu melihat anaknya yang rupawan.

 

Sunoo mendesah lebih keras ketika Jay memainkan puting kanan Sunoo bersamaan dengan puting kiri. Tangan kecilnya mengepal dan menekan pahanya, sementara jari-jari kakinya menekuk. Bulir-bulir keringat kembali jatuh dari pelipisnya dan membasahi mukanya. Jay merasa erangan Sunoo semakin keras dan ia tak mau orang-orang di bawah sana tahu apa yang ia sedang lakukan pada putranya itu. Untungnya Jay masih sadar diri. Oleh karena itu ia membungkam mulut Sunoo dengan mulutnya, kemudian menggigit bibir Sunoo dan melepas ciumannya. Jay membawa mulutnya ke depan telinga kanan Sunoo kemudian berbisik, “Be quiet cantik. Sunoo masih ingat kan sama yang papah bilang?” tanyanya pada anak itu. 

 

Rangsangan Jay di dada Sunoo berhenti sesaat. Ia menatap anaknya, menunggu respon Sunoo untuk pertanyaannya tadi. Sunoo yang tak kunjung mengerti membuat Jay menyerah dan kini ia harus memutar otaknya untuk menghasut Sunoo agar tak mengeluarkan suara yang berlebihan. “Papah kan pernah bilang, kalau pelajaran kita ini rahasia” ujarnya memulai hasutan itu. Tangan Jay mengelus tengkuk Sunoo pelan, membuai Sunoo dalam taktik liciknya. “Kalau kamu teriak-teriak gitu, nanti orang-orang jadi tau dong sama pelajaran rahasia kita” lanjut Jay yang kini memberikan beberapa kecupan kecil di pipi Sunoo. Jay lalu menegakkan badannya dan melipat tangannya di dadanya, yang terlihat agak seram di mata Sunoo. “Nanti kalau orang lain tau, kita ga bisa main kayak gini lagi lho” ujarnya sambil mendekatkan wajahnya pada Sunoo. “Sunoo mau papah berhenti bikin Sunoo keenakan?” tanyanya dengan nada yang tegas. 

 

Sunoo pun sukses terjerumus ke dalam perangkap papahnya. Sunoo yang tak mendengar kata ‘doll’, panggilan kesayangan yang selalu Jay berikan padanya, menjadi ketakutan. Sunoo menggelengkan kepalanya sambil meringis yang terkesan seperti permohonan di telinga yang lebih tua. “No, papah. Sunoo ga mau. Sunoo janji bakalan diam” jawabnya dengan nada memelas yang seperti musik bagi Jay. “Sunoo mau terus dienakin sama papah. Please, papah” sambungnya yang menunjukkan bahwa Jay menang telak. Sungguh luar biasa, Jay tega memanfaatkan rasa takut Sunoo untuk keuntungan dirinya sendiri. Namun apa yang bisa ia lakukan saat anak kecil di depannya ini dengan tidak sadar sedang memelas untuk disetubuhi olehnya? Sebagai ayah yang baik, bukannya Jay harus mengandalkan segala cara untuk mewujudkan mau anaknya tanpa ada gangguan?

 

Jay tersenyum melihat Sunoo yang menuruti maunya. Ia pun menarik badannya menjauh sedikit dari Sunoo dan mengelus pundak serta kepala si kecil untuk memberikan afirmasi pada putra cantiknya. “Nah, gitu dong sayang. Good choice, Sunoo. Pinter banget anak papah” ujarnya sambil tersenyum yang melegakan perasaan Sunoo. Jay juga melontarkan kata-kata yang sedari tadi Sunoo tunggu, yaitu “I love you so much, doll.” Sunoo memekik kecil kegirangan karenanya. Jay lalu mengecup bibir Sunoo sekilas dan mencium dahi yang basah itu juga. 

 

Jay lalu berdiri dan mundur beberapa langkah untuk melepas ikat pinggang hitam yang melingkari tubuhnya. Ia letakkan benda itu sembarangan. Ia juga menyimpan handphone miliknya di meja belajar Sunoo yang ada di sebelah mereka. Badan Jay sudah panas dan barang-barang itu terasa berat. Sunoo mengikuti gerakan badan Jay dengan seksama, menatap bagaimana tubuh kekar itu terlihat sangat menawan baginya. Pakaian Jay yang rapi, rambutnya yang tersisir apik, seluruh tampilannya yang membuat pria itu terlihat sangat berwibawa. Sunoo suka sekali melihat papahnya. 

 

Jay terkekeh merespon tingkah Sunoo yang menurutnya sangat lucu. “Like what you’re seeing, sayang?” tanyanya menggoda anak kecilnya itu. Sunoo gelagapan dan malu karena tertangkap basah sedang mengidamkan ayahnya sendiri. Jay pun memecah keheningan itu. “Semua ini…” katanya sambil membawa tangannya sejajar ke kepalanya, kemudian menunjuk semua bagian tubuhnya hingga sampai ke kakinya, “..... miliknya Sunoo, kok.” sambung yang lebih tua sambil mengedipkan matanya ke arah anak cantiknya. “Just like you, doll. Sunoo itu kepunyaan papah. Semuanya.” kata Jay yang kini menunjuk jarinya pada anak kecil itu. Jay pun kembali bersimpuh di depan Sunoo untuk menatap paras cantik kesayangannya. Sunoo yang sudah salah tingkah setengah mati meluapkan reaksinya dengan mencium bibir Jay beberapa kali sambil cekikikan.

 

Jay tertawa melihat anaknya yang tak tahan dengan godaan cheesy yang ia lontarkan. “Sunoo suka banget ya sama papah” katanya pelan. Ia mengelus pipi Sunoo dan memberi kecupan lembut di sana. “Well, papah juga suka banget sama kamu, sayang.” Kecupan itu turun ke bibir merah Sunoo, dan si ayah pun melumati bagian tubuh anaknya itu. “Sunoo dari tadi ngeliatin papah terus, ya? Sekarang giliran papah yang lihat kamu ya sayang” ujar Jay. Matanya dapat melihat Sunoo yang kembali terangsang cuma karena cipokan itu. Jay kembali memberikan ciuman singkat di bibir yang membuatnya ketagihan itu. Tentunya tak hanya bagian itu yang membuat Jay ketagihan. Tanpa menunggu lagi, Jay pun berkata pada si kecil cantik di depannya, “buka baju kamu, doll. Papah mau liat badan cantik kamu, sayang.” Layaknya anak yang berbakti pada ayahnya, Sunoo pun menarik bajunya lepas dari tubuh mungilnya, memberikan tontonan bagi si ayah. “Cantik. Anak papah semuanya cantik, selalu cantik” pujinya pada anak kecil yang sangat ingin ia perkosa itu.

 

Jay menatap bagian atas badan Sunoo dengan seksama, mulai dari mukanya, kemudian turun ke leher si kecil yang saat ini sudah penuh oleh bercak merah akibat gigitan si ayah sedari tadi. Perhatian Jay lalu beralih ke klavikula yang menonjol dan juga ceruk leher yang ada di atas tulang itu. Jay menyentuh bagian itu, bergantian meraba kedua ruas tulang yang meliuk itu sementara matanya menatap wajah Sunoo untuk melihat respon anaknya. Jay mendapati Sunoo yang mukanya semakin merah, dan bibir bawahnya digigit oleh si cantik. Jay lalu menurunkan sentuhannya ke area tengah dada Sunoo, menelusuri tulang dadanya mulai dari area atas di mana kedua klavikula itu melekat lalu terus turun hingga sampai ke tulang xiphoid. 

 

Jay lalu menggunakan kedua tangannya untuk menjamah kedua sisi samping badan Sunoo, dari ketiak sampai ke pinggang rampingnya, berulang-ulang yang membuat Sunoo merasa geli. Sesekali ia tergelak karenanya, yang membuat si ayah merasa gemas. Tiap kali Sunoo tergelak, Jay akan membubuhi perutnya dengan ciuman untuk membuat si kecil semakin kegelian. Di tengah kegiatan bejat itu, seorang ayah dan seorang anak itu masih sempat bercanda.

 

Momen hangat ini sayangnya tak berlangsung lama. Nafsu Jay kini sudah kembali, dan dengan dorongan birahi itu, Jay bangkit berdiri lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Sunoo untuk membawa tubuh anaknya dalam dekapannya, tentunya tanpa aba-aba pada si kecil. Sunoo kaget dibuatnya, dan instingnya menyuruhnya untuk berpegang pada pundak papahnya. Dalam proses ini, kepala Sunoo tak sengaja terbentur dengan dagu Jay. Badannya yang lengket karena keringat menempel pada dada bidang milik yang lebih tua. Kaki kiri Jay yang sebelumnya ia letakkan di atas kasur untuk menopang tubuhnya kini ia tarik kembali dan ia berjalan dari ujung kasur itu menuju ke headboard kasur yang ada di ujung lain. 

 

Jay membawa kedua tubuh mereka naik ke atas kasur. Jay duduk bersimpuh, kemudian menurunkan badan mungil Sunoo dari dekapannya secara perlahan. Setelah Sunoo terbaring dan melepaskan tangannya dari pundak si ayah, yang lebih tua lalu memposisikan badan Sunoo tegak lurus dengan sandaran kasur. Kedua tangan Sunoo dibuka lebar, menunjukkan kedua ketiak mulus miliknya langsung pada papahnya. Kedua kaki Sunoo juga direntangkan oleh Jay, kemudian ia letakkan masing-masing kaki indah itu di tiap sisi tubuhnya. Jay mencondongkan tubuhnya dan membawa wajahnya ke atas dada Sunoo. Ia dapat melihat kedua pentil Sunoo sudah menegang. “Look, doll. Pentil kamu keras banget, sayang” serunya yang langsung membuat Sunoo malu. 

 

Karena sudah tidak tahan, Jay langsung menjilat pentil kanan Sunoo. Ia memutar pentil itu dengan lidahnya dan menghisapnya dengan keras. Stimulasi ini ia lakukan bergantian dan tangan kanannya juga ia sibukkan dengan menstimulasi pentil kiri Sunoo. Jay dapat mendengar Sunoo meracau di atas sana, yang membuat Jay panik sekilas. Jay menggunakan tangannya yang lain untuk membungkam mulut Sunoo sebelum desahan si kecil menguat. 

 

Sunoo juga paham, sehingga ia kembali menggigit bibir bawahnya untuk menahan suara keluar dari bibirnya. Namun Sunoo tak bisa menahannya lama, dan ia merasa kacau karena rangsangan papahnya di dadanya sangat nikmat. Tangan Jay yang menutup mulutnya juga membuatnya sesak, dan dengan kalang kabut ia pun mendorong lengan si ayah. Jay yang menyadari keadaan Sunoo lalu menghentikan kegiatannya di bawah sana dan mencium Sunoo. Jay tahu ia harus membuat Sunoo sediam mungkin agar kegiatan mereka tak akan ketahuan oleh orang-orang yang ada di rumah itu. Maka dengan itu, di sela ciuman panas yang sedang terjadi, ia pun mengambil kedua tangan Sunoo dan meletakkannya di belakang kepalanya. “Jangan berisik, doll. Jambak rambut papah aja, sayang” ucap Jay pada anaknya itu sebelum ia kembali turun dan melecehkan kedua puting itu seperti sebelumnya. 

 

Sunoo kembali merasa terangsang dan dengan susah payah ia menahan desahannya, takut pada si ayah yang akan memarahinya jika ia tak menuruti suruhan papahnya. Ada nada dominansi yang bisa ia dengar pada perkataan terakhir yang papahnya lontarkan padanya, dan itu membuat si kecil sangat khawatir. Sunoo pun mencoba menjambak rambut papahnya, dan ia harus akui bahwa hal ini sangat membantunya menahan desahan dan rintihan yang muncul. Si ayah yang merasakan rambutnya ditarik asal-asalan tentu saja merasa sakit, namun ini adalah hal yang rela ia hadapi asalkan anak cantiknya itu tak membocorkan perbuatan bejatnya dengan desahan gilanya yang bisa didengar oleh siapapun. 

 

Pelecehan yang terjadi di kamar itu terus berlangsung, dan Jay kini merasa rencananya kembali berjalan mulus. Kini mulutnya sudah berpindah ke pentil kiri si kecil, dan tangannya memelintir pentil lainnya. Kedua puting Sunoo semakin keras, badannya juga kini bergetar akibat stimulus yang terus-terusan mengacaukan kendalinya pada tubuhnya sendiri. Jay dapat merasakan reaksi Sunoo, dan hal ini membuatnya semakin semangat. Maka ia pun menggigit puting kecil yang ada di mulutnya itu sementara jari-jarinya mencubit puting yang lain. Sunoo semakin menggila karenanya. Jambakan Sunoo semakin kuat, yang membuat mulut Jay meringis di tengah-tengah gigitan yang ia berikan pada anaknya itu.

 

Kegiatan gigit-cubit itu berlangsung cukup lama, mungkin ada 10 menitan kalau menurut Jay. Setelah pria kekar itu puas mendekam di dada kecil anak cantiknya itu, ia pun kembali naik untuk memberi ciuman dalam pada Sunoo. Jay menelusuri tiap gigi dan gusi si kecil sambil sesekali mengajak lidah Sunoo untuk berduel dengan lidahnya sendiri, yang tentu saja tak sanggup Sunoo saingi. Sunoo dapat merasakan bibir tebal papahnya menghajar tiap sudut mulutnya dengan rakus, dan Sunoo sangat menyukainya. Begitu juga dengan Jay yang merasakan bibir mungil Sunoo di setiap pertemuan kedua mulut mereka. Jay bahkan merasakan rasa anyir besi yang kemudian ia sadari adalah dari darah yang keluar dari bibir bawah Sunoo yang ia gigit dengan keras tadi. Jay merasa hilang akal sekarang. Stimulus yang ia berikan pada anak cantiknya ternyata terasa sangat nikmat bagi Sunoo sampai-sampai si cantik melukai dirinya sendiri hanya karena menahan desahan yang sebenarnya adalah salah si ayah.

 

Selanjutnya, ciuman Jay turun ke leher Sunoo. Ia jilati leher itu dan memberikan gigitan-gigitan kecil. Jay lalu berhenti untuk menatap Sunoo, dan ia mendapati anaknya itu sudah menangis keenakan. Ketika ia meletakkan tangannya pada dada Sunoo, ia dapat merasakan tubuh mungil di bawahnya itu memanas. Keringat membanjiri muka Sunoo dan lehernya juga sudah basah. Saat Sunoo memalingkan wajahnya ke samping, ia juga bisa melihat seprai di bawah kepala Sunoo sudah basah. Hal ini membuat Jay penasaran dengan ketiak Sunoo. Jay berpikir bahwa ketiak itu pasti juga sudah keringatan sekarang. Dan benar saja, saat ia membuka kedua tangan Sunoo ia dapat melihat kedua ketiak itu sudah mengkilap karena keringat. Hidung yang lebih tua dapat menangkap aroma keringat yang sedikit tengik. Rasanya Jay bisa ngecrot instan di saat itu juga, saking memabukkannya bau itu baginya.

 

Jay mendekatkan wajahnya ke ketiak kiri Sunoo. Hembusan napasnya yang menabrak ketiak Sunoo membuat yang lebih muda kaget. Ia melihat papahnya yang kini menempelkan hidung besarnya di bawah sana, berusaha menghirup bau ketiaknya sebanyak mungkin. Sunoo terheran melihat pemandangan tak biasa itu, namun respon penasarannya tak jadi ia utarakan karena kini papahnya sudah menjilati ketiaknya itu. Sunoo merasakan sensasi yang aneh, yang sangat wajar karena ini adalah pertama kali baginya. Perlahan dan perlahan, ia merasa terbiasa dengan sensasi itu. Sunoo tak menyangka bahwa ia suka ketika ketiaknya dijilat oleh papahnya. 

 

Stimulasi baru, reaksi baru. Rasanya lebih intens dibandingkan rasa ketika si ayah memainkan pentilnya. Kini Sunoo kembali merintih, yang tentu saja ia tahan sekuat tenaga sementara tangannya kembali menjambak rambut papahnya. “Papah…… Enak…..” Sunoo merintih pelan. Jay merasa puas mengetahui bahwa Sunoo suka ketika ketiaknya dijilat olehnya. Sunoo-nya selalu suka akan rangsangan apapun yang Jay berikan pada tubuh kecilnya. Bagi Jay, tubuh Sunoo adalah miliknya sepenuhnya. Jay adalah satu-satunya yang memiliki kendali penuh pada segala hal di hidup Sunoo. Jay bisa dengan bebas menggunakan tubuh Sunoo untuk melampiaskan nafsunya kapan pun dan di mana pun ia mau, seperti yang ia sedang lakukan. Rumahnya penuh oleh banyak manusia, sementara dirinya sedang sibuk melecehkan darah dagingnya sendiri.

 

Hasrat Jay akan anak cantiknya itu semakin parah. Pria dewasa itu bisa merasakan batang kelaminnya semakin mengeras di bawah sana. Semangatnya semakin menggebu-gebu namun ia belum puas menikmati ketiak si mungil. “Sayang…” desahnya pelan di sela-sela aktivitasnya di sana. “Ketek kamu enak banget, sayang” ucap mulutnya yang kemudian menggigit kulit sensitif Sunoo. Sementara itu, Sunoo hanya bisa mengangguk sebagai respon. Anak kecil itu bahkan tak mampu menyusun kalimat sederhana karena otaknya sudah bodoh dijajah gairahnya sendiri. Jay lalu pindah ke ketiak kanan anaknya dan ia memberikan rangsangan yang sama. Sesekali ia jilat bidang kulit itu, memindahkan keringat si cantik langsung ke mulutnya. Tak lupa ia gigit dan hirup setiap inci bagian tubuh itu. Sunoo hanya bisa meracau pelan dan menghentakkan kaki-kakinya saking tak kuasa menahan nikmat.

 

Jay kini tak harus sembunyi-sembunyi mencuri kesempatan untuk menghirup pakaian Sunoo, karena kini anaknya itu sudah tahu akan fetish papahnya tersebut. Jay tak tahu sudah berapa banyak keburukan dirinya yang sudah ia tunjukkan pada anak cantiknya itu. Namun Jay tak peduli, kesadarannya sudah rusak. Ia tak peduli jika ia sudah mengacaukan mental Sunoo. Ia juga tidak takut akan apa yang anaknya akan sadari ketika ia berumur lebih tua nanti, itu adalah masalah masa depan. Jika Sunoo rusak, maka mereka berdua akan rusak bersama-sama. Dan menurut pria sinting itu, hal ini adalah hal yang sangat romantis.

 

Setelah Jay puas memporak porandakan kedua ketiak Sunoo, kini ia menargeti perut Sunoo. Jay menciumi perut itu, mulai dari bidang di bawah dada Sunoo, dan turun sampai ke pusarnya. Tak lupa ia berikan kecupan pada pinggang ramping Sunoo yang terlihat sangat rapuh itu. Sungguh, badan Sunoo bisa membuatnya masuk rehab. Jay sangat terobsesi dengan segala hal tentang tubuh Sunoo. Sementara itu, yang lebih muda sudah lama tertipu muslihat Jay. Ia tidak menyadari bahwa perlakuan bejat papahnya ini adalah bentuk cinta yang salah. Sunoo sangat menyukai tiap saat ketika ia dan papahnya melakukan pelajaran rahasia seperti ini. Sunoo suka menerima pujaan dan sentuhan yang diberikan oleh sang ayah. Buktinya saat ini, ia sedang memandang papahnya yang sibuk mencium bagian tengah tubuhnya. Sensasi geli yang ia rasakan membuatnya sangat senang. 

 

Jay kini sudah maju dan mendekatkan badannya kembali pada anaknya. Pada posisi berlutut di atas kasur itu, ia menatap Sunoo. Sementara itu, yang lebih muda juga mengikuti gerakan sang ayah. Mata mereka bertemu, dan Sunoo memalingkan wajahnya karena malu ditatap papahnya layaknya orang belum makan tiga hari. Jay menyeringai, menyukai sikap submisif anaknya itu. Perlahan, Jay menurunkan kedua tangannya untuk mengaitkannya dengan tangan-tangan kecil yang lebih muda. Ia menggenggam kedua telapak tangan Sunoo dan membawanya naik ke samping kepala Sunoo, kiri dan kanan. Kemudian Jay memajukan mukanya dan membawa Sunoo dalam ciuman panas. Sunoo membalas ciuman itu dengan sisa tenaga yang ia miliki. 

 

Ciuman itu berakhir ketika Sunoo kehabisan napas. Jay lalu melepaskan genggamannya pada tangan Sunoo. Kini tangannya menelusuri kedua kaki Sunoo, mulai dari paha atasnya. Jay meraba kaki itu pada paha bawahnya juga, kemudian pada betis dan sampai di pergelangan kaki yang lebih muda. Jay baru sadar kalau pergelangan kaki anaknya muat sepenuhnya di dalam kepalan tangan besarnya. Setelah itu, Jay mengangkat kedua kaki Sunoo dan menyandarkannya di dada bidangnya. Hal ini dilakukannya agar ia bisa lebih mudah menelanjangi anak cantiknya itu. “Sunoo, doll. Buka celana sama daleman kamu, sayang” ujar Jay yang dibalas dengan anggukan oleh Sunoo. Maka sesudah itu, Jay menarik pakaian anaknya ke atas hingga tanggal dan membuat Sunoo menjadi telanjang bulat. Tubuh menawan anaknya itu terekspos begitu saja dan Jay dapat melihat keadaan Sunoo yang sangat rentan itu. “Gorgeous. Anak papah cantik banget” puji Jay yang masih tak percaya ia bisa kembali melihat tubuh telanjang Sunoo dalam aktivitas seksual.

 

Sunoo merasa malu karena tatapan papahnya semakin gelap dan ia juga khawatir akan diperlakukan dengan kasar oleh papahnya seperti dua minggu lalu. Akan tetapi, ia juga menantikan sensasi nikmat saat tubuhnya bersatu dengan tubuh si ayah. Hal yang sama juga dirasakan oleh yang lebih tua. Jay sangat ingin untuk langsung melesakkan kontol perkasanya ke dalam liang senggama si kecil tapi dia juga tahu jika ini hanya kali kedua bagi mereka, Sunoo tentu belum terbiasa. Maka dengan itu, ia harus menyiapkan tubuh Sunoo agar si cantik bisa menampung alat perkosanya dan juga menerima tenaga kuat miliknya nanti.

 

Hal yang Jay lakukan selanjutnya adalah kembali melebarkan kedua kaki Sunoo dan meletakkannya di kedua sisi pinggang kokohnya. Hal ini membuat badan Jay langsung bertemu dengan paha dalam Sunoo. Jay dapat melihat memek cantik Sunoo di bawah sana. Kelamin anaknya itu sudah memerah dan basah akibat cairan vaginal dan juga keringat. Pemandangan ini membuat darah pada tubuh Jay semakin turun ke batangnya. Jay semakin menggila ketika ia mengambil panties tipis yang Sunoo kenakan tadi, dan ia melihat keadaan kainnya yang sudah basah. Naluri bejatnya pun menyuruhnya untuk membawa bagian sempak yang basah itu ke hidungnya. Dengan sekuat tenaga Jay menghirup aroma memek dan keringat yang menempel di sana, dan ia sangat menyukai aroma itu. Mata Jay terpejam dan mulutnya mengeluarkan geraman rendah, menikmati bau tubuh anaknya di sana. Sunoo yang melihat si ayah hanya bisa tercengang, tetapi ia juga suka melihat papahnya yang head over heels terhadapnya.

 

Jay menatap kelamin Sunoo dan matanya menghitam, tak kuasa menahan nafsunya. Ia pun memundurkan tubuhnya menjauhi anaknya itu dan memposisikan mulutnya di depan paha dalam Sunoo. Jay memajukan wajahnya dan ujung hidungnya bertemu dengan itil Sunoo. Dari posisi ini Jay semakin merasakan aroma khas memek anaknya yang memabukkan itu. Jay lalu menyentuh area paha dalam Sunoo pelan, mengelusnya untuk semakin merangsang si kecil. Bibir luar memek Sunoo yang tebal itu lalu ia jilat, yang ia lakukan bergantian pada kedua daging tembem itu. Jari-jarinya juga tak ia biarkan menganggur. Jay mencubit bagian bibir dalam yang lebih tipis sambil diselingi dengan gesekan yang lumayan kasar pada bagian itu. 

 

Jay melahap kelamin Sunoo dengan liar. Kini lidahnya bergerilya di lubang pipis dan itil Sunoo. Secara bergantian ia jilat dan hisap agar ia bisa merasakan bagaimana rasa keseluruhan memek Sunoo. Setelah puas dengan itil Sunoo, maka Jay kembali turun untuk memakan memek anaknya itu. Jay membuka liang senggama Sunoo dengan tangannya dan ia langsung melesakkan lidahnya ke dalam sana, mencoba untuk meregangkan lubang mungil itu. Hal ini Jay lakukan menggunakan jari telunjuk dan tengah yang ditempel di kedua bibir memek itu lalu ia lebarkan sampai jari-jarinya membentuk huruf V. Layaknya kelamin anak kecil, bibir Sunoo memang masih sangat sempit dan ini sempat membuat Jay kesusahan. Namun, ia adalah ahli ruda paksa, Jay tentu bisa mengatasinya. Ketika mulutnya sibuk melahap bagian dalam memek si cantik, maka jari-jarinya akan sibuk menggesek itil Sunoo, dan begitu juga sebaliknya.

 

Setelah puas menggunakan mulutnya untuk menggerayangi lubang mungil Sunoo, Jay lalu menggantikan lidah tebalnya dengan jari-jarinya yang juga  tak kalah tebal. Kedua jari tangan kirinya masih bertengger pada bibir kelamin Sunoo, menarik lubang kecil itu dari persembunyiannya di belakang labia anaknya itu. Jay lalu menggesekkan jari telunjuk tangan kanannya pada bibir dalam Sunoo, membasahi jari itu dengan cairan Sunoo sendiri. Setelah ia rasa cukup, Jay lalu memasukkan jari itu ke dalam liang ketat milik si anak. Sunoo meringis cukup kuat karena sensasi perih, namun Jay tak menghiraukan keluhan itu. Jay justru mempercepat pergerakannya dan melesakkan jarinya semakin dalam, merasakan bagaimana liang cantik itu mengapit jarinya. 

 

Jay memaju mundurkan jari telunjuknya, memperkosa memek anaknya itu dengan jarinya sendiri. Rintihan Sunoo terdengar semakin keras di atas sana, namun desahan ‘ssshhhh’ yang Jay lontarkan cukup membuat si kecil terdiam paham. Nafsu Jay semakin menguat dan kini ia menarik jari telunjuknya hampir keluar sepenuhnya, dan menambahkan jari tengahnya sebagai alat menggauli si anak. Tekanan kedua jari panjang ini semakin membuat Sunoo kalang kabut, ia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri karena ia merasa ia akan berteriak karena ulah si ayah. Sementara itu, Jay kini sudah mencolok liang senggama Sunoo dengan kuat, dan Jay juga membuat gerakan menggunting di dalam sana. Hal ini membuat lubang anaknya itu melebar, perlahan-lahan membesar dan makin siap untuk disetubuhi oleh si ayah. Suara kecipak kecil keluar dari kelamin Sunoo yang menandakan bahwa lubang si kecil sudah sangat basah, melumasi liang mungil yang lebih muda.

 

Jay sesekali akan menghentikan aktivitasnya sesaat untuk melihat bagaimana respon anaknya terhadap rangsangan yang ia berikan, dan Sunoo tentunya sangat menyukainya. Layaknya pelanggan yang puas atas layanan yang si ayah berikan, Sunoo memberikan ulasan mantapnya dengan desahan dan rintihan kecil yang ia jujur tak tahu sampai kapan bisa ia tahan. Badan Sunoo juga ikut berkomentar dengan setiap lekukan dan kejangan yang membuat seprai di bawahnya jadi kusut. Menurut Jay, darah dagingnya ini terlihat sangat cantik sekarang. Badan mungil anaknya berantakan. Air mata membasahi pipi Sunoo, dan tubuhnya berkeringat hebat. Memek Sunoo memerah dan Jay dapat melihat bibir tebal itu mengkilap karena cairan yang keluar dari lubang kemaluan si cantik. Itil Sunoo juga sudah menegang dan sangat sensitif, membuat mulut Sunoo mengerang kelepasan tiap Jay meraba bagian itu.

 

Pikiran Jay semakin melayang, dapat ia rasakan tubuhnya memanas dan kontolnya cenat cenut di bawah sana. Sunoo juga tak kalah kacau, rangsangan yang sedari tadi diberikan oleh papahnya membuat birahinya kalut. Tak seharusnya sensasi seksual ini dirasakan oleh Sunoo yang hanya berumur 9 tahun, dan papahnya lebih paham akan maksiat ini. Namun, tak ada yang bisa menyelamatkan Sunoo dari papahnya dan tak ada yang bisa menahan Jay untuk tak melecehkan anaknya itu. Jay terlalu cinta dengan Sunoo, dan ia akan menghalalkan segala cara untuk membuat anaknya menjadi miliknya seutuhnya.

 

Maka dengan nafsu bejat yang semakin mengendalikan pikiran dan perbuatannya, Jay bangkit dari kasur itu dan meninggalkan Sunoo yang terbaring lemas di sana. Mata coklat si kecil menatap si ayah yang kini berdiri tegap di sampingnya. Sunoo dapat melihat muka tegas papahnya yang disinari lampu kamar itu, menatap dirinya sendiri dengan seringai yang menghiasi wajah ganteng itu. Sunoo menatap Jay dengan seksama saat yang lebih tua membuka kancing-kancing kemeja putihnya dengan cekatan. Sunoo bisa bersumpah jika tadi Jay masih menggunakan dasi, namun sepertinya sudah copot di tengah percumbuan mereka tadi. Ketika Jay selesai membuka kancing lengannya, maka baju kantor itu ia buka dan lempar sembarangan ke lantai. Sunoo dapat melihat kaus singlet ketat yang basah karena keringat. Hal ini membuat otot-otot besar papahnya terjiplak dengan jelas, dan Sunoo sangat suka melihatnya. Ketika kaus singlet itu lepas, Sunoo pun terpesona melihat bagian atas tubuh si ayah.

 

Selanjutnya, Jay menanggalkan celana panjangnya, mengekspos paha dan kakinya pada si kecil. Sunoo memekik pelan ketika ia melihat gundukan besar yang menonjol di bawah pusar papahnya, membayangkan tongkat perkasa yang ada di balik sempak hitam itu. Dan ketika si ayah melepas celana dalamnya, Sunoo menganga melihat betapa besar dan tegangnya kontol papahnya. Batang kelamin Jay menegak ke arah Sunoo, dan ia dapat melihat anaknya itu menelan ludah takut. Yang lebih tua lalu mengocok kontol keras itu, dan matanya tak memutus kontak dengan anak kecil yang ada di depannya. Jay melangkah maju mendekati kasur, dan begitu juga dengan Sunoo yang merangkak ke ujung untuk semakin dekat dengan papahnya. Jay lalu dapat melihat biji pelernya sudah membiru akibat tak kunjung melepaskan pejuh.

 

Jay langsung menyuruh Sunoo untuk bermain dengan kontol besar itu. “Buka mulut kamu, doll. Jilat kontol papah” perintahnya pada anaknya. Sunoo lalu mengangguk dan membawa kepala kontol berurat itu ke mulutnya, menjilati precum yang dari tadi ternyata sudah membasahi kontol dan juga bulu jembut si ayah. Jay memejamkan matanya merasakan bagaimana lidah kecil anaknya itu menyentuh lubang kencingnya yang sangat sensitif. Sensasi geli dan nikmat dapat ia rasakan ketika itu terjadi. 

 

Rasa itu semakin menguat hebat ketika Sunoo mengulum palkonnya, melingkarkan bibir mungilnya pada daging itu. “Hisap, sayang. Hisap kontol papah” pintanya pada Sunoo dengan nada yang sangat memelas. Permintaannya langsung Sunoo kabulkan ketika yang lebih muda menghisap palkon itu. Sunoo dapat merasakan rasa precum ayahnya yang asin dan sedikit amis itu. “Rasanya asin, pah” ujar Sunoo yang kini sudah melepaskan palkon itu dari mulutnya. Jay, tanpa ada rasa menyesal pun tertawa melihat keluguan anaknya itu. “That means you’re doing it right, doll” balas yang lebih tua. “Sekarang kulum kontol papah, sayang” lanjut Jay sambil mengocok batangnya lalu mengarahkannya ke mulut Sunoo lagi. Batang itu masuk perlahan ke rongga mulut kecil Sunoo, dengan pelan memenuhi mulutnya dan hampir membuat Sunoo tersedak sebelum si kecil mendorong pinggul sang ayah. 

 

Jay sadar bahwa dirinya terlalu cepat memaksa anaknya itu untuk menerima kejantanannya yang besar. Tak ada setengah dari panjang kontol itu masuk ke mulut Sunoo, tapi si kecil sudah tersedak. Perbedaan ukuran mereka sangat jauh, dan anehnya ini semakin membuat Jay nafsu. Ada sensasi yang menegangkan ketika ia membayangkan bagaimana badan besarnya mengungkung badan kecil anaknya dan menyetubuhi si cantik sesuka hatinya. Namun ia masih cukup sadar untuk tak melukai Sunoo, sejauh mungkin yang ia bisa tahan. Maka dengan itu ia memberikan ciuman singkat pada bibir Sunoo, merasakan precum-nya sendiri pada mulut kecil itu sebelum akhirnya ia mengarahkan kontolnya untuk kembali masuk. 

 

Sunoo paham mau papahnya, sehingga ia pun membuka lagi mulutnya. “Kita coba lagi ya sayang. Papah masukin pelan-pelan” ucap Jay sambil mendorong kejantanannya. Ia memasukkannya sejauh yang bisa si kecil terima dengan nyaman. Ketika percobaan itu sukses, Jay takjub melihat bagaimana cantiknya Sunoo dengan mulutnya yang penuh dengan kontol papahnya sendiri. Tak mau berlama-lama, Jay pun menyuruh Sunoo untuk menghisap bagian kontol si ayah yang ada di mulutnya dengan satu seruan “Hisap!” yang ia lontarkan pada Sunoo. Ketika sensasinya sampai di otak Jay, pria itu pun spontan mendesah keenakan. Sedotan anaknya terasa sangat nikmat. Anaknya itu cepat menangkap pembelajaran yang ia berikan. 

 

Kegiatan ini terus berlanjut dan semakin membuat Jay kacau. “Sekarang maju mundurin mulut kamu, doll. Sepong kontol papah, sayang” ucap Jay yang suaranya semakin meninggi akibat serangan birahi. Sunoo pun melakukan hal yang papahnya minta. Anak kecil itu menyepong kontol papahnya sendiri dengan antusias. Badannya tengkurap di atas kasur  sementara si ayah berdiri sambil bergetar merasakan nikmat mulut anaknya itu. Tangan kanan Sunoo pun Jay raih dari atas kasur dan ia taruh di atas batang kontol yang tak masuk ke mulut Sunoo. “Kocok, sayang. Kontol papah kocokin pake tangan kamu” perintah Jay di sela-sela gumaman sangenya. Sunoo pun menggenggam batang kontol Jay, jari kelingkingnya bersentuhan dengan pangkal kontol Jay yang berbulu lebat itu. Sunoo memaju mundurkan tangannya pada ruas kontol sang ayah, yang membuat bagian kontol yang ada di dalam mulutnya itu semakin bergesek dengan bibir dan lidahnya sendiri.

 

Hal ini semakin membuat Jay awut-awutan. Anaknya itu sangat pandai memuaskan birahinya. Rangsangan yang Sunoo berikan semakin menjadi-jadi, dan Jay yang semakin kewalahan kemudian melepaskan tangan Sunoo dan membawa tangan besarnya ke belakang kepala yang lebih muda. Jay lalu mengeluarkan kontolnya hingga hanya ujung palkonnya saja yang tersisa, dan kemudian mendorong kembali dengan tujuan untuk menggauli mulut anaknya dengan kejantanannya sendiri. Jay mengulangi dorongannya lagi dan lagi, mencoba memuaskan nafsunya sendiri sementara Sunoo pontang panting menerima sodokan dari papahnya. Dorongan itu semakin dalam, semakin cepat dan semakin membuat Sunoo mual. Sesekali ia tersedak namun Jay tak menghiraukannya. Sunoo yang tak bisa mengontrol mulutnya membuat kontol Jay bersentuhan dengan gigi Sunoo di dalam sana. Hal ini tentu saja perih bagi Jay namun ia tetap melecehkan mulut kecil itu karena sensasinya sangat nikmat.

 

Hal ini terus berlanjut sampai Sunoo terisak menangis. Mukanya memerah, napasnya semakin tak beraturan, namun Jay tak peduli. Bahkan ia sangat menyukai betapa kacaunya si kecil di bawah sana. Tubuhnya dengan suka rela ia berikan pada papahnya sendiri untuk digauli. Sunoo adalah berkah yang Jay sangat syukuri. Sebuah alat pemuas nafsu yang sangat rapuh dan cantik. Sempurna baginya, seorang ayah bejat yang memerlukan anak yang patuh dan takut padanya. Khayalannya semakin membuat Jay sange dan ia dapat merasakan kontolnya mulai memompa pejuh di dalam sana. Maka dengan ini, Jay menghentikan sodokan kontolnya di mulut Sunoo. Ia hanya ingin memuncratkan pejuhnya di dalam memek Sunoo.

 

Jay yang mulai sadar akan apa yang ia telah perbuat kini merasa panik. Ia dapat melihat Sunoo yang mukanya memerah. Napas si kecil juga sesak akibat perlakuan sang ayah. Ia pun berlutut di atas lantai dan mengusap muka Sunoo pelan sambil mengecup sudut-sudut wajah cantik itu untuk menenangkan anaknya. “Maaf, sayang. Papah kelepasan” ujarnya lembut, memanipulasi anaknya karena dia tak menyesali perbuatannya. Sunoo tentu saja terbuai, karena ia sekarang mulai tenang kembali. Hal yang sama juga Jay rasakan, karena tadi ia hampir saja ngecrot di dalam mulut Sunoo. Ironisnya, manipulasi itu membantu dirinya sendiri juga.

 

Jay berdiri dan mengangkat tubuh Sunoo dengan mudah, membawanya ke pelukannya. Jay berniat menenangkan Sunoo dengan memeluk si kecil dan mengelus punggungnya. Ia pikir jika Sunoo dapat tidur pulas ketika ia melakukan hal ini, maka mungkin hal ini juga bisa menenangkannya. Dan benar saja, Sunoo kembali rileks. Napasnya teratur dan ia mulai terdiam menikmati kenyamanan yang papahnya berikan. Sayangnya hal yang sama tak Jay rasakan. Jay kini sadar bahwa kedua tubuh telanjang mereka bersentuhan. Kedua kaki Sunoo mengapit di pinggangnya, membuat memeknya bersentuhan langsung dengan kontol Jay. 

 

Jay pun meringis. Sunoo-nya baru saja tenang namun ia sudah sange lagi. Maka Jay berhati-hati naik ke atas kasur dan membaringkan tubuh mungil Sunoo di sana, dan meletakkan bantal empuk milik si kecil di bawah kepalanya. Tubuh besarnya mengurung Sunoo dalam posisi Jay yang bertumpu pada kedua siku dan lututnya. Hal ini membuat kontolnya jauh dari memek Sunoo. Ia pun melihat raut wajah Sunoo yang tenang, cantik sekali di bawah penerangan cahaya kamar itu. 

 

Ia pun membawa anaknya itu dalam ciuman yang dalam, menunjukkan rasa sayangnya. Ia juga memberi kecupan di leher dan telinga Sunoo, yang disambut dengan gumaman pelan dari yang lebih muda. “Sekarang, pelajaran terakhir, ya sayang?” ucap Jay lembut di kuping telinga Sunoo. “Papah mau main seks sama Sunoo. Boleh kan sayang?” lanjutnya. Pertanyaan ini retoris. Namun Jay tetap menunggu respon Sunoo. Sunoo terdiam sebentar sebelum akhirnya mengangguk mengiyakan. Sejujurnya ia juga dari tadi mewanti-wanti seks dengan papahnya. Maka dengan itu Jay pun kembali mencium Sunoo sementara tangannya meraba setiap inci badan Sunoo. Manusia bejat ini sudah tidak sabar untuk menyetubuhi anak cantiknya itu.

 

Tangannya terus turun hingga ke memek Sunoo dan Jay memberikan beberapa sentuhan di bawah sana, membuat si empunya melenguh karena sensasi hangat tangan si ayah yang menyentuh area sensitif itu. Jay mengelus bibir tembem milik Sunoo itu dengan agak kasar, dan setelah jari-jarinya basah akibat cairan vaginal si kecil, Jay memasukkan jari telunjuk dan tengahnya ke dalam memek Sunoo untuk memberikan akses yang lebih lebar lagi pada liang senggama anaknya itu. Mulutnya masih setia pada bibir Sunoo di atas sana. 

 

Setelah Jay merasa bahwa memek Sunoo sudah siap ia gagahi, maka ia memutuskan ciuman mereka dan menjauhkan tangan kanannya dari selangkangan kecil di bawahnya itu. Tangan kekar itu kini mengocok kontol tegangnya yang ia sudah arahkan ke depan lubang memek Sunoo. Jay menundukkan kepalanya lalu meludahkan kontolnya sendiri, sementara sosok kecil yang akan digagahi menatap bagaimana air liur itu keluar dari mulut seksi papahnya dan mendarat tepat di atas kontol itu. Mata Sunoo terfokus pada aktivitas papahnya yang meratakan air liur itu pada palkon si ayah dan juga sebagian pada batangnya. Kini batang perkasa itu sudah basah dilumasi oleh yang lebih tua.

 

Jay melihat kejantanannya yang berukuran jauh lebih besar dari pada lubang memek Sunoo, yang terbilang sudah longgar karena sudah dikerjai olehnya. Jay sangat suka dengan perbedaan ukuran antara dirinya dan anaknya itu. Sunoo itu sangat kecil, lemah, tak berdaya, sementara dirinya sangat gagah, kuat, dan mendominasi anaknya itu. Sunoo sangat mudah dikuasai dan diperalat olehnya. Keberadaannya di dunia ini bukan hanya sebagai anaknya, namun juga sebagai alatnya untuk memuaskan nafsunya. Maka dengan pikiran yang terlampau kacau itu, Jay menggerakkan tangannya untuk mendorong kontolnya masuk ke dalam lubang persetubuhan Sunoo. 

 

Palkon Jay perlahan masuk ke dalam memek anaknya itu. Kondisi liang Sunoo yang sudah basah dan liur Jay yang melumasi kontol besar itu terbukti sangat membantu. Saat palkon itu sepenuhnya masuk, ada bunyi ‘plop’ kecil yang timbul akibat beceknya memek kecil Sunoo. Kelamin si kecil mengapit bagian kontol si ayah dengan sangat ketat. Jay mengerang duluan, mulutnya menghembuskan napas kasar. Sunoo yang juga merasakan tekanan pada bagian selangkangannya itu juga hampir memekik nyaring jika si ayah tidak membungkam mulutnya dengan telapak tangannya yang besar. Jay kemudian mendesis ‘ssshhhh’, menyuruh anaknya untuk diam. Pikirannya kalang kabut karena walaupun hanya palkonnya yang masuk tapi rasanya sudah sangat nikmat.

 

Jay kemudian meludahi telapak tangannya dan menggunakan cairan itu untuk melicinkan bagian kontol panjangnya yang belum masuk. Ia juga membasahi bukaan memek Sunoo karena bagian itu mulai kering. Jay lalu membawa Sunoo ke dalam dekapannya, tangannya memeluk tubuh lemas anaknya, dan ia pun diam sebentar membiarkan si kecil terbiasa dengan daging tebal yang sedang memperkosanya sekarang. Sementara itu, Sunoo merasa dekapan papahnya terlalu kuat dan ia sedikit kesesakan di bawahnya. Sunoo bertahan pada bagian samping dada papahnya, kuku-kukunya sedikit tertanam pada kulit si ayah yang entah ia lakukan karena kesakitan atau keenakan. Kepalanya terkurung di antara dada bidang dan leher papahnya, dan Sunoo pun tak sadar mencium leher jenjang itu.

 

Jay juga merasakan ciuman Sunoo yang menggelikan itu. Jay tahu kalau Sunoo sudah kembali nyaman, dan sebuah ide kacau muncul di pikirannya. Sesaat setelah itu, Jay mendorong pinggulnya dan membuat kontolnya semakin masuk ke dalam memek kecil Sunoo. Sunoo yang merasakan tekanan yang tiba-tiba itu lalu berteriak di dalam dekapan papahnya. Kaki Sunoo melebar dan menendang udara, dengan sia-sia mencoba menyalurkan rasa sakit yang ia alami. Jay melepas pelukannya dan Sunoo pun menangis. Isakannya diredam oleh Jay yang mencium Sunoo. Tangan yang lebih tua merangsang itil Sunoo dengan elusan dan cubitan, dengan harapan mengalihkan perhatian si cantik dari rasa sakit itu.

 

Sunoo berhenti merintih, namun ia masih menangis dalam diam. Ia menatap Jay dengan mata yang sayu dan bibir yang cemberut. Si biang keladi alih-alih menenangkan anaknya itu malah tersenyum puas. Tangannya mengelus kepala Sunoo, sementara matanya memandang anaknya dari kepala sampai kaki. “Kamu cantik banget kayak gini, doll. My beautiful little baby” ucap Jay dengan nada yang sedikit membuat Sunoo takut. Jay tanpa sadar menunjukkan sisi barunya pada anak kecil itu, sisi menyeramkan yang Sunoo harap tak akan ia lihat lagi. Oh, Sunoo yang malang.

 

Jay lalu memberikan aba-aba pada Sunoo untuk melanjutkan penetrasinya pada memek anaknya itu. Kontolnya belum banyak yang masuk, namun ia sudah memenuhi lebih dari setengah liang senggama si kecil. “Papah masukin lagi, ya sayang?” ucap Jay yang kembali menegakkan badannya, melihat dengan jelas penyatuan keduanya di bawah sana. “Be a good boy and hold it for daddy, ya?” lanjutnya sambil memegang kontolnya dengan tangan kanannya dan mendorong batang tegang itu semakin masuk ke dalam sana, sementara tangan kirinya mengelus pipi Sunoo. Matanya menatap anaknya dengan lembut, memanipulasi si kecil agar ia tenang. 

 

Sunoo awalnya heran karena ini pertama kalinya si ayah menggunakan kata “daddy” untuk menyebut dirinya sendiri, namun pikirannya langsung teralihkan ketika ia merasakan kontol papahnya memasuki memeknya semakin dalam. Sunoo menahan rintihannya sekuat tenaga, tekanan yang ia rasakan semakin parah. Jay yang paham Sunoo sedang kesusahan kini memasukkan jari-jari tangan kirinya ke dalam mulut Sunoo, membiarkan si kecil menggigit jari-jarinya sebagai pelampiasan rasa sakit. Rasanya nyeri tapi dia sadar kalau Sunoo lah yang paling merasa tersiksa sekarang.

 

Setelah beberapa saat yang menyakitkan bagi yang lebih muda, akhirnya kontol si ayah sukses memenuhi liang senggamanya. Sunoo yang dapat mengetahui sejauh mana papahnya berada di dalam sana lalu menghembuskan napas lega. Memeknya sangat perih, dan tekanan kontol besar papahnya pada setiap inci bagian dalam memeknya sangat menyiksa pikiran dan badannya. Namun si ayah yang kini sudah berhenti dan kembali menciumi pipi dan lehernya membuatnya sadar bahwa tak ada lagi ruang yang bisa papahnya masuki di dalam sana. Semuanya baik-baik saja, untuk sekarang.

 

Jay tak merasakan hal yang sama. Tak ada rasa takut yang ia rasakan. Pikirannya semakin kacau. Memek anaknya yang mengapit kontolnya di dalam sana membuatnya merem melek. Ia dapat merasakan palkon miliknya bertemu dengan leher rahim anaknya itu. Sekali lagi, Jay sukses memperkosa anak cantiknya itu. Ketatnya liang senggama si kecil memijiti setiap inci bagian kejantanannya yang berada di dalam sana. Rasanya sangat hangat, sempit, membuat pria bejat ini malah merasa nyaman bersarang di dalam memek anaknya sendiri. Itu juga yang membuatnya menciumi muka Sunoo, menunjukkan rasa sayang dan puasnya  terhadap si cantik dan servisnya malam ini.

 

Kini mereka sedang bertukar ludah. Bibir Jay memagut bibir kecil Sunoo dalam ciuman yang panas. Tangan yang lebih tua mengelus tengkuk anaknya, berusaha membawa ciuman itu lebih dalam. Jay sangat suka dengan rasa manis bibir anaknya. Namun ia punya prioritas sekarang. Kontolnya sudah kedut-kedut di dalam memek Sunoo, meminta si empunya untuk mengacak-acak liang senggama kecil itu sampai ia puas. 

 

Maka dengan itu, Jay menempelkan dahinya ke dahi Sunoo, menatap Sunoo dengan intens. “Papah mulai seks kita, sayang. Tahan sakitnya, cantik” ucapnya lalu mencium Sunoo lagi. Badannya bangkit menjauh dari Sunoo dan ia mengapitkan kedua kaki kurus si cantik ke kedua sisi pinggangnya. “Papah janji bakalan bikin Sunoo keenakan, lebih enak dibanding yang kemarin malahan!” serunya dalam upaya meyakinkan Sunoo. Kini kedua tangan kekarnya memegang pinggang seksi anaknya itu, memberi sentuhan dan remasan yang tak ada pentingnya selain membuat Sunoo geli.

 

Setelah melihat Sunoo menganggukkan kepalanya memahami maksud si ayah, maka Jay mulai bergerak. Perlahan ia mundurkan pinggulnya, mengeluarkan sedikit kontolnya dari dalam memek Sunoo sambil menikmati gesekan yang terjadi seiring kejantanannya bergerak. Kemudian setelah memek Sunoo kosong setengahnya, ia kembali mendorong kontol itu masuk, melesak dan secara resmi mulai memperkosa darah dagingnya sendiri. Jay menggigit bibirnya ketika ia merasakan sensasi menggilakan akibat kontolnya yang masuk dengan cepat ke dalam tubuh Sunoo. Sementara itu yang sedang diperkosa kembali meringis akibat tekanan kontol papahnya yang melebarkan rongga memeknya secara paksa.

 

Jay lalu memaju mundurkan pinggulnya, membuat batangnya yang keras itu merodok tiap inci memek Sunoo di dalam sana. Ia menikmati setiap tekanan yang ia berikan pada bagian tubuh Sunoo yang lemah itu, sementara Sunoo menahan sakit yang ia rasakan akibat birahi liar papahnya. Sunoo tetap bertahan karena ia menunggu rasa nikmat yang papahnya janjikan. Dan memang, perlahan-lahan rasa nyeri itu mulai berganti dengan rasa yang nikmat. Papahnya sungguh tahu bagaimana membuat dirinya keenakan seperti saat ini.

 

Jay juga menyadari perubahan reaksi Sunoo. Napas anaknya mulai teratur dan kakinya tak segaduh tadi. Kontolnya juga dapat merasakan liang senggama si cantik yang mulai licin akibat memek Sunoo yang kembali memproduksi cairan pelumas. Hal ini tentu saja semakin membuat Jay kalang kabut. Kontolnya semakin lancar melecehkan putranya itu. Maka dengan itu Jay mempercepat tempo rodokannya, keluar dan masuk meninggalkan jejak-jejak DNA di liang persetubuhan Sunoo. DNA yang sama dengan yang ia gunakan untuk membuat Sunoo hadir di dunia ini. 

 

Sunoo yang semakin kacau akibat gerakan papahnya yang meliar itu kini menangis keenakan. Mulutnya penuh dengan air liurnya, membuat gumaman yang keluar dari mulutnya tak dapat Jay dengar dengan baik. Jay sangat bahagia melihat keadaan Sunoo saat ini. Ketika ia mendekatkan badannya pada anaknya itu dan mencium Sunoo, ia dapat merasakan betapa panasnya kulit Sunoo. Tubuh Sunoo yang kecil membuat Jay dapat mendengar dengan jelas detak jantung si kecil yang tiap saat semakin cepat. Ketika ia turun menyaksikan penyatuan keduanya, ia dapat melihat seprai di bawah paha dalam Sunoo sudah basah akibat cairan memek Sunoo yang terus keluar dari sela-sela rongga memek dan kontol besar si ayah. Jay langsung sadar bahwa anaknya itu mau ejakulasi.

 

Dan benar saja, Sunoo klimaks setelah beberapa hujaman kontol si ayah membentur memeknya. Dengan sensasi awal, tubuhnya mengejang. Sunoo menutup mukanya dengan tangannya, menahan mulutnya agar tak teriak dan juga karena ia malu pada papahnya. Tubuhnya melengkung ke atas, membusungkan pentilnya pada si ayah dan kakinya menghentak asal-asalan. Jay menghentikan gerakannya untuk memberi kesempatan bagi anaknya untuk menikmati klimaks pertamanya malam ini. Jay lalu mencium mulut Sunoo yang sebenarnya masih terengah-engah mencoba mengatur pernapasannya sendiri. 

 

Badan Jay yang lebih besar dari Sunoo mengharuskannya melengkungkan badannya tiap kali ia mencium Sunoo dalam posisi ini, sehingga keduanya sekarang sedang melengkungkan badannya masing-masing. Jay seketika tertawa karenanya, sedangkan Sunoo mengira papahnya menertawai bagaimana kacau kondisi dirinya sekarang. “Gimana, doll? Enak?” tanya Jay pada si kecil yang ia lihat sedang memalingkan wajahnya malu. Yang ditanya hanya bisa mengangguk. “Kok pertanyaan papah gak dijawab, sayang?” Jay bertanya lagi. “Keenakan banget sampe ga bisa ngomong, ya?” lanjutnya sambil mencolek pipi kemerahan milik Sunoo. Yang digoda pun hanya bisa menggumam, “Papah…..” sambil mencibirkan mulutnya gemas dan menumbuk pelan lengan atas Jay. Anaknya ini sangat lucu dan manja, dan Jay menyukainya.

 

Setelah melihat Sunoo puas, maka Jay merasa ia juga ingin mencari kepuasan bagi dirinya sendiri. Maka dengan itu, badannya kembali menegak. Ia menarik keluar kontolnya dan menyisakan bagian kepalanya saja di dalam memek Sunoo, yang direspon oleh si kecil dengan lenguhan karena kelaminnya masih sensitif. Ketika batang keras itu keluar, Jay dapat melihat sedikit bercak darah pada kejantanannya. Jay juga melihat ada darah di rongga memek anaknya. Tampaknya ia juga sudah merusak sisa selaput dara anaknya yang masih tertinggal saat ia memerawani anaknya itu dua minggu lalu. Jay kemudian mengeluarkan palkonnya, membiarkan memek Sunoo kosong melompong. Ia pun merangkak, mengangkangi badan Sunoo dan membawa kontolnya ke depan mulut Sunoo. Jay membawa kepala Sunoo naik dengan menyandarkannya pada kepala kasur. “Sepong kontol papah lagi, sayang” ujarnya pada Sunoo. Laki-laki mesum ini memang sudah gila!

 

Jay tak membiarkan Sunoo melihat kontolnya lama, karena ia tak mau Sunoo ketakutan lagi jika si kecil melihat darah di kontolnya itu. Seketika anaknya membuka mulut kecilnya, ia langsung melesakkan kontolnya ke dalam sana. “Sepong, sayang. Be a good boy for me” ucapnya yang tentunya dituruti oleh Sunoo. Hal ini membuat Sunoo merasakan bagaimana rasa memeknya sendiri, dan juga rasa darah keperawanannya. Jay bergidik melihat pemandangan yang ia rasa sangat menggairahkan itu. “Kulum sedalam mungkin, doll. Ah! Enak banget. Sayang!” serunya. Tangannya menopang dahi kepalanya yang semakin pusing akibat anaknya sendiri. 

 

Jay tak mau berlama-lama melecehkan mulut Sunoo. Ia pun kembali ke bawah sana, menemui bagian paha dalam Sunoo dengan area kejantanannya sendiri. Tangannya kembali memposisikan kaki Sunoo pada pinggangnya dan tangannya mencengkam pinggang kecil anaknya itu. Ia lalu membasahi kontol perkasanya dengan cairan memek Sunoo yang tertinggal di sana, dan menambahinya dengan air liurnya sendiri untuk melumas kontolnya. “Papah masukin lagi, ya sayang?” ucapnya sambil melesakkan kontolnya ke dalam memek Sunoo. Sunoo dapat menahan rasa sakit penetrasi itu dengan lebih baik sekarang, sehingga ia hanya mengangguk dan menyaksikan bagaimana kontol panjang itu memenuhi liang senggamanya. 

 

Ketika memek Sunoo kembali penuh oleh kontol papahnya, mereka berdua terdiam menikmati stimulasi yang enak pada area penyatuan keduanya di bawah sana. Namun hal ini tak berlangsung lama karena Jay langsung menggerakkan kejantanannya keluar masuk lubang anaknya itu, mencari kenikmatan yang hanya ia bisa rasakan sendiri. Sensasi yang ia rasakan saat ia meniduri anaknya sendiri sungguh sangat memuaskan baginya. Kini tangannya mencengkram pinggang Sunoo lebih keras. Jay memaju mundurkan badan Sunoo di atas kasur itu, mencoba membuat sodokannya semakin jauh ke dalam memek Sunoo.

 

Sunoo pun gelagapan karena ia bisa merasakan gerakan papahnya semakin cepat. Tiap hentakan yang Jay lakukan di bawah sana membuat kontol Jay terus-terusan mendorong leher rahim Sunoo. Dan bagi yang lebih muda, rasanya sangat intens. Campuran rasa sakit dan nikmat membuat bingung otaknya yang belum berkembang itu. Ia hanya bisa menutup matanya dan mulutnya menganga keenakan kayak pelacur profesional. Kakinya bergerak tak beraturan karena sakit yang anak kecil itu rasakan saat leher rahimnya dilecehkan oleh kontol papahnya, tetapi tangis yang keluar adalah air mata kenikmatan. 

 

Jay juga sadar dan ia mengalami hal yang sama. Sensasi nikmat itu membuat tubuh besarnya menegang. Otot-ototnya berkontraksi dan ia dapat merasakan detak jantungnya meningkat. Tiap aliran darah yang memenuhi kontolnya semakin membuat bagian yang ia banggakan itu semakin membesar. Apalagi melihat kondisi anak cantiknya yang juga kembali menegang semakin membuatnya naik birahi. Namun Jay belum puas mencabuli anaknya. Maka dengan itu ia menghentikan rodokannya pada memek Sunoo. Ia belum mau ejakulasi, sehingga ia harus mengalihkan fokusnya sesaat. 

 

Jay melihat Sunoo yang kaget karena papahnya yang tiba-tiba berhenti membuatnya keenakan. Jay lalu mencium Sunoo, mencoba menikmati bibir yang ia sangat sukai itu untuk meng-edging kontolnya. (Edging = menahan stimulasi secara sengaja sebelum klimaks untuk memperpanjang durasi dan membuat sensasi ejakulasi terasa lebih intens nantinya). Setelah beberapa saat, tubuh Jay kembali rileks dan pikirannya lebih jernih sekarang. Ia dapat melihat Sunoo yang juga terengah-engah mengatur napasnya. Saat itu pikiran Jay langsung tertuju pada fakta bahwa ia hanya pernah menyetubuhi Sunoo dengan posisi missionary saja. Ada banyak pelajaran yang harus Jay didik pada anaknya itu.

 

Sunoo melihat papahnya yang terdiam di atasnya. Matanya tertuju pada mulut si ayah yang ngos-ngosan, mengikuti ritme keluar masuknya napas yang lebih tua. Jay kemudian menarik badannya menjauh dari Sunoo. Dari sudut itu ia dapat melihat penyatuan keduanya, bagaimana memek anaknya menelan kejantanannya yang besar itu. Ia sangat ingin mencoba memasukkan kontol miliknya jauh lebih dalam. Oleh karena itu Jay mengeluarkan batang keras itu sepenuhnya untuk mengganti posisi seks mereka. Ketika kontol itu keluar, ada sedikit cairan vaginal yang keluar dari memek si kecil, yang terjadi bersamaan dengan lenguhan Sunoo yang ia lantunkan tak sadar. Sensasi yang ia rasakan ketika si ayah menyeret kontolnya keluar terasa sangat nikmat. 

 

Jay tak membiarkan Sunoo bertanya soal apa yang baru saja terjadi. Si ayah langsung memeluk Sunoo, kemudian memutar badan kecil itu membelakanginya. Setelah itu ia buat Sunoo bersimpuh pada lututnya, sama seperti apa yang ia lakukan. Jay mencium punggung anaknya itu, memberikan kecupan sayang di atas kulit putih mulus anaknya yang disambut dengan tawa kecil oleh Sunoo. Perbedaan tinggi mereka mengharuskan Jay untuk menunduk agar ia bisa menyentuh punggung si cantik. Jay lalu menggenggam kedua siku Sunoo dan mendorong badan mungil itu ke bawah dengan cepat. Dorongan papahnya pada badan Sunoo sangat kuat sehingga ia langsung terjatuh di atas kasur itu dengan posisi merangkak. Jay membuat Sunoo menopang tubuhnya sendiri dengan kedua siku dan lututnya sementara kepalanya terantuk ke kasur, yang membuat anaknya itu menunggingkan pantatnya tinggi di hadapan yang lebih tua.

 

Jay menyaksikan bagaimana indahnya Sunoo di posisi ini. Pantatnya yang tergolong berisi untuk anak seusianya sedang memamerkan memeknya yang kini sudah merah dan mulai longgar. Cairan memek itu juga turun membasahi paha Sunoo, memperparah keadaan untuk Sunoo. Jay merasa mulutnya penuh dengan ludah saking gak tahan melihat betapa seksi darah dagingnya itu. Tanpa menunggu, Jay pun langsung meraih memek Sunoo dengan tangannya dan mengocok kelamin kecil itu dengan jari-jarinya. Sementara itu, Sunoo hanya bisa meredam desahannya dengan menempelkan mulutnya di salah satu bantal yang ada di sana.

 

Tak puas bermain dengan jari-jarinya, Jay lalu menjilat dan menggigit memek Sunoo. Ia dapat merasakan betapa basahnya memek itu dan aroma yang keluar semakin menyengat dan memabukkannya. Tak lupa pula itil si kecil ia permainkan dengan tangan kirinya yang mencubit dan memilin daging itu, membuat si empunya kelojotan. Sunoo bahkan bergumam memanggil papahnya dengan nada-nada yang terdengar merdu bagi Jay. Ia sudah tak peduli apakah suara anaknya itu terdengar. Tanpa sadar ia juga meraih kontolnya dengan tangan kanannya dan mulai mengurut batang itu seirama dengan lenguhan si cantik.

 

Stimulasi yang papahnya berikan membuat Sunoo menggila. Ia dapat merasakan bahwa tubuhnya mengejang, napasnya menderu dan jantungnya berdetak cepat. Ia tahu bahwa ia akan ejakulasi untuk yang kedua kali. Maka dengan erangan “Papah!!!” yang terdengar cukup kuat oleh Jay, si kecil pun orgasme. Kali ini sensasi yang datang jauh lebih intens, dan membuat tubuh Sunoo melemah saking luar biasanya orgasme itu. Jay menghentikan cumbuannya di belakang sana dan membiarkan Sunoo menikmati klimaks itu. Sunoo menangis dalam diam, otaknya tak bisa terhubung dengan indera manapun di tubuhnya. Yang ia rasakan hanyalah nikmat surgawi tak hingga yang sampai membuat lututnya menyerah. Badan Sunoo jatuh ke atas kasur, dan memeknya membasahi seprai di bawahnya. 

 

Jay juga merasa gila melihat anaknya sudah keluar dua kali sementara ia belum juga crot. Jay sudah tak peduli keadaan anaknya bagaimana. Ia haru mencari kenikmatan bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu ia pun menarik bantal lain yang ada di atas kasur itu dan meletakkannya di bawah perut si kecil. Hal ini membuat pantat Sunoo kembali naik dan memamerkan memek kecil yang baru saja klimaks itu. Jay mengocok kontolnya sebentar, batangnya sudah licin karena precum-nya sendiri. Maka dengan itu Jay segera memasukkan kembali kejantanannya itu ke dalam memek Sunoo, dengan hentakan yang cepat. Sunoo, masih linglung karena orgasmenya seketika kaget merasakan kontol besar papahnya meregangkan liang senggamanya.

 

Sunoo yang merintih kaget dan kesakitan tak dihiraukan oleh Jay. Badannya sibuk merasakan bagaimana lubang sempit anaknya itu menjepit kontolnya dengan ketat. Tiap otot di dalam memek Sunoo memijat kontol sensitifnya nikmat. Matanya merem melek merasakan nikmat memperkosa anak kecil itu. Paha berotot Jay dengan mudah mengapit seluruh pantat Sunoo, sementara tangan kekarnya memegang pinggang Sunoo dengan erat layaknya jangkar kapal di dasar laut. Sunoo tak bisa menggerakkan bagian bawah tubuhnya dan hanya bisa menerima setiap hentakan yang papahnya lakukan pada memeknya. 

 

Posisi mereka ini juga membuat Jay masuk semakin dalam. Kontol besarnya masuk ke celah antara bukaan rahim yang sebelumnya tak bisa ia raih ketika melakukan seks dengan posisi missionary. Kini hampir semua batangnya bisa masuk dan bahkan jembut lebatnya yang semakin dekat ke memek Sunoo mulai terasa oleh yang lebih muda. Jay sendiri juga tidak menyangka jika liang senggama Sunoo mampu menampung segini banyaknya. “Oh Sunoo, kamu memang diciptain buat papah. Memek kamu pas banget buat papah, sayang!” seru Jay di sela genjotannya. Sinting, memang.

 

Sunoo juga tak kalah kacau. Ia juga bisa merasakan bagaimana kontol papahnya mengeroyok bagian terjauh di dalam kelaminnya. Hal ini memperparah sensasinya, karena memek Sunoo semakin meregang. Akan tetapi, rasa sakit yang lebih parah ini juga diimbangi dengan sensasi nikmat yang semakin intens juga. Sunoo hanya bisa memanggil papahnya dengan desahan yang ia tak bisa tutupi, dan tentunya hal ini menjadi bahan bakar bagi si ayah untuk bergerak semakin kasar. Kontolnya ia tarik jauh lalu ia masukkan dalam, berulang-ulang sampai suara becek bisa terdengar keluar dari penyatuan mereka. 

 

Jay makin naik nafsu, pikirannya gelap dan matanya menghitam. Mulut Jay komat-kamit antara memuji Sunoo dengan kata cantik, baik, pintar; ataupun mendesah nama Sunoo dan kata enak bergantian. Aksi Jay semakin kasar, dan kini ia menarik pinggang Sunoo ke atas dan membuat si kecil kembali ke posisi merangkak a la doggy style. Genggamannya di pinggang Sunoo mengeras seraya ia memaju mundurkan tubuh Sunoo, menyodok memek Sunoo kalang kabut.

 

Si ayah dan anaknya itu berada di posisi ini cukup lama. Jay yang merasakan kontolnya semakin tegang kini tahu jika ia akan crot. Dan dengan ini pula ia menghentikan genjotannya untuk meng-edging kontolnya untuk yang kedua kali. Jay yang berhenti membuat Sunoo jatuh ke atas kasur karena lututnya melemah. Seperti tadi, ia pun mengeluarkan kontolnya dari liang senggama si kecil, lalu memberikan ciuman di leher belakang Sunoo. Kemudian ia pun mengangkat badan Sunoo dan mempertemukan kedua muka mereka untuk bergabung dalam ciuman yang sangat basah. Sunoo bersimpuh di kedua lututnya dan tangannya merangkul leher Jay yang duduk bersila sambil memegang dada dan pinggang Sunoo bergantian. 

 

Jay melihat anaknya itu sudah berantakan. Matanya merah akibat menahan lelah sambil merasakan nikmat saat dicabuli olehnya. Tubuhnya keringatan, yang tentunya sangat Jay sukai. Bercak-bercak maroon juga dapat Jay lihat di beberapa bagian tubuh kecil itu, yang merupakan saksi bisu sentuhan mulut dan jari yang lebih tua. “Gimana, dollie? Sunoo suka dienakin sama papah?” tanya Jay. Yang ditanya hanya bisa mengangguk. Sunoo lalu menyandarkan kepalanya di pundak Jay, meminta papahnya untuk memeluknya. Tentu saja Jay mengindahkan permintaan si cantik. 

 

Jay lalu membaringkan tubuhnya ke atas kasur, dan ia juga membaringkan Sunoo di samping kirinya. Ia menjadikan lengan atasnya sebagai sandaran bagi kepala anaknya itu. “Sunoo lebih suka posisi mana?” tanya Jay sambil menghadap ke yang lebih muda. Sunoo terdiam, mencoba membandingkan posisi mana yang lebih ia sukai. “Yang barusan, pah” jawab Sunoo kemudian, dengan malu-malu tentunya. Jay pun terkekeh gemas. “Oh, gitu….” balas Jay dengan nada yang menggantung kemudian menciumi tangan Sunoo. “Sunoo mau coba cara lain, gak?” tanya si ayah. Sunoo yang penasaran pun mengangguk lagi, mempersilahkan si ayah untuk menggauli tubuhnya kembali.

 

Sunoo yang penurut ini sungguh membuat Jay kacau. Sunoo dengan sangat polos selalu mengiyakan apapun yang ia suruh, membuat dirinya dengan mudah menodai anaknya itu. Jay tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Ia pun melanjutkan aktivitasnya. Jay membaringkan badan Sunoo menyamping, menghadap ke arah kiri kasur dan membelakangi dirinya. Kemudian ia menggeser paha kanan Sunoo, membuka paha dalam itu agar memek kecil anaknya muncul. Kemudian Jay mengelus lipatan kelamin yang tebal itu sambil merasakan bagaimana lembutnya bibir memek si cantik. Lalu Jay juga memposisikan tubuhnya untuk berbaring menyamping berhadapan dengan bagian belakang badan Sunoo. Ia menaikkan badannya sedikit untuk menyesuaikan posisi kontolnya agar berada di depan bukaan memek anaknya. 

 

Dengan sekali hentakan, kejantanan Jay kembali masuk ke dalam lubang persetubuhan Sunoo. Sunoo melenguh merasakan tekanan itu, sementara Jay mengumpat ketika otot memek Sunoo mengurut kontolnya di dalam sana. Jay menyetubuhi anaknya itu dengan posisi spooning. Dari posisi ini Jay tidak bisa melihat ekspresi Sunoo, namun ia bisa menikmati betapa cantiknya punggung dan pantat Sunoo. Punggung anaknya itu tak sebanding dengan punggung besarnya. Pantat Sunoo yang seksi lalu Jay remas, meninggalkan rona kemerahan di atas kulit putih kenyal itu. 

 

Jay lalu memeluk Sunoo dari belakang, dan ia posisikan tangan kanannya mengelilingi pinggang Sunoo. Telapak tangannya berada di bagian perut bawah Sunoo, di antara pusar dan memeknya. Di sini ia dapat merasakan tonjolan yang timbul setiap kali ia menusuk memek Sunoo dengan kontol panjangnya. Tentu saja hal ini membuat pikiran Jay semakin gelap. Tubuh anaknya yang kecil ini sedang ia kacaukan dengan alat perkosanya yang perkasa itu. Untuk merasakan bagaimana gerakan kontolnya di dalam sana, maka Jay menekan perut Sunoo. Ini membuat yang lebih muda merintih dan kakinya mengejang. Sensasi yang Sunoo rasakan begitu dahsyatnya sampai memeknya mengeluarkan lebih banyak cairan. 

 

Kedua manusia ini semakin menggila. Jay mengawini anaknya dengan ritme yang semakin cepat. Kejantanannya tak bisa masuk sejauh sebelumnya, namun rasanya tetap nikmat ketika ia menekan perut Sunoo. Sesekali, Sunoo memiringkan kepalanya dan menatap dirinya, dan saat itulah Jay mencium bibir Sunoo. Leher Sunoo tak lupa ia hujani dengan cumbuan untuk merangsang si cantik semakin jauh. Ketika Jay melakukan ini, maka Sunoo akan secara tak sengaja menyempitkan memeknya, sehingga kontol Jay serasa diperas oleh memek Sunoo. 

 

Selang beberapa menit, Jay kembali menghentikan gerakannya ketika ia merasa mau klimaks, meng-edging kontolnya untuk ketiga kali. Ketika batang keras itu keluar, Jay bisa melihat betapa merahnya kontol miliknya. Rasanya, kejantanannya itu akan meledak akibat ulah liarnya sendiri. Jay segera bangkit dan mengangkat badan mungil Sunoo untuk dipindahkan ke posisi seks baru. Jay mendekap badan Sunoo dengan posisi badan Sunoo yang setengah tergantung pada badan si ayah. Kedua tangannya memegang pundak Jay erat, sementara kedua kakinya tersandar di atas paha Jay yang sedang bersimpuh. 

 

Jay melihat kontolnya bertemu dengan perut Sunoo. Ia kembali mengingat bagaimana senjatanya itu menonjol dari dalam perut anaknya, dan ini membuatnya makin sange. Tanpa menunggu, Jay langsung mengangkat kedua tubuh mereka keluar dari kasur, dan berjalan ke arah sofa kecil yang ada di kamar Sunoo. Ia lalu menurunkan Sunoo dari gendongannya dan mendudukkan badan kekar miliknya di atas sofa itu. Setelah merasa nyaman, Jay lalu melebarkan kedua kakinya sehingga kontol beruratnya langsung berdiri tegak. Sementara itu, Sunoo berdiri dengan kaki sedikit menyilang, melihat kelamin papahnya yang ia tahu sebentar lagi akan menyatu dengan kelaminnya. 

 

Sunoo menggigit jarinya layaknya anak kecil yang sedang malu. Tentu saja ia masih malu ditatap oleh papahnya yang tampan itu, yang kini memamerkan kontolnya sambil mengocok batang itu pelan di hadapannya. “Sini, dollie. Kita ganti posisi baru” ujar Jay sambil menepuk pahanya untuk memberi sinyal pada Sunoo. Tangannya yang lain masih tetap mengocok kontolnya. Sunoo yang penurut itu kemudian berjalan mendekat ke papahnya. Ketika badannya cukup dekat untuk Jay raih, maka yang lebih tua mengangkat badan si kecil naik ke atasnya. Posisi Sunoo sekarang adalah berhadapan dengan papahnya, dengan kedua kakinya yang duduk mengangkang di atas paha si ayah. 

 

Sunoo menundukkan kepalanya untuk melihat kontol papahnya yang sekarang menegak di depan memeknya. Ia menelan ludahnya karena masih tak terbiasa melihat bagaimana besarnya batang milik si ayah. Jay juga menyadari gerak gerik Sunoo yang gelisah, namun otaknya sudah berada terlalu jauh untuk peduli. “Sekarang kita ganti posisi ya, sayang?” mulai Jay untuk melanjutkan aksinya. Ia rasa ia tak akan bisa menahan pejuhnya lagi. Jay menggerakkan kontolnya menepuk bukaan memek Sunoo di balik bibir memek tembemnya itu. “Habis ini papah bakalan pejuhin memek kamu. Biar kamu makin pinter, makin sehat. Okay, dollie?” sambungnya sambil menggoda liang Sunoo dengan kepala kontolnya.

 

Iming-iming yang ia lontarkan itu diterima begitu saja oleh Sunoo. Kini anak kecil itu mengangguk antusias, senang memikirkan bagaimana enaknya saat papahnya klimaks di dalam tubuhnya dua minggu lalu. Sunoo sudah benar-benar dickmatized. Jay menyeringai melihat kepatuhan anaknya. Ia pun menggesekkan kontolnya naik turun di sepanjang bukaan memek Sunoo yang sempit itu. “Papah masukin ya, sayang? Be a good boy for daddy, ok?” ucap Jay yang disambung dengan hentakan kontolnya yang masuk perlahan ke dalam memek Sunoo. Keduanya menikmati bagaimana batang besar itu masuk dan menekan memek kecil dalam penyatuan tubuh yang tabu itu.

 

Ketika kontolnya masuk sepenuhnya ke dalam memek si anak, Jay menghembuskan napasnya dengan berat akibat sensasi nikmat. Sunoo yang merasakan kontol si ayah yang kembali meraih bagian liang senggama terdalamnya juga mendesah dan merintih keenakan. Jay membawa Sunoo ke dalam pelukannya sebentar untuk menenangkan kekacauan anaknya itu. Setelah ia rasa Sunoo cukup tenang, ia menurunkan pinggulnya, mengeluarkan sebagian besar kontolnya kemudian menghujamkannya lagi ke dalam dengan ritme yang sedang namun pasti. Kontol Jay yang pada titik ini sudah sangat sensitif langsung beraksi dan memberikan stimulan meriah bagi badan pria dewasa itu.

 

Sunoo juga sangat menikmati goyangan papahnya di bawah sana. Ia mengalungkan tangannya di leher Jay, membiarkan si ayah memimpin persetubuhan mereka. Saat ini, ia hanyalah seorang pemuas nafsu untuk papahnya. Namun tak apa, sebab Sunoo juga suka diperlakukan seperti ini oleh pria yang merawatnya sedari kecil. Sunoo merasa semua ini normal, tak ada yang salah dari apa yang sedang mereka lakukan. Papahnya tak akan melukainya, karena papahnya sangat sayang kepadanya. Sunoo merasa ia adalah anak yang paling beruntung di dunia, dan papahnya adalah sosok ayah terbaik yang pernah ada.

 

Jay dapat merasakan Sunoo menatapnya dengan dalam, namun ia tak tahu apa artinya. Pikirannya sudah dialih kontrol oleh kejantanannya. Gerakan naik turunnya semakin cepat. Ia pun menciumi Sunoo dengan rakus, sampai membuat si kecil kesusahan bernapas. Ia juga memberikan cupang di leher dan dada Sunoo, yang harus ia raih dengan susah karena harus menunduk untuk meraih bagian itu. Darah dagingnya ini ada di genggamannya sekarang; figuratively, karena ia yang memegang kuasa di dalam permainan ini sebab Sunoo-nya membiarkannya memperkosa dirinya walaupun ia tahu bahwa Jay adalah papahnya: dan literally, karena tangan Jay kini mencengkram pinggang Sunoo lagi, memperparah memar yang sedari tadi ia lukis di atas kulit si kecil.

 

Genjotan Jay semakin cepat dan semakin kuat, dan Sunoo kewalahan menerimanya. Tubuhnya kembali terangsang, memulai tumpukan nafsu yang ia tahu akan berakhir menjadi luapan klimaks yang ketiga kali baginya di malam ini. Kakinya menendang tak karuan, sering kali mengenai sofa bagian bawah. Matanya terpejam dan mulutnya mendesis, merasakan stimulasi yang semakin intens. Sementara itu, yang sedang menggenjot juga kewalahan dengan tubuhnya sendiri. Jay dapat merasakan kontolnya semakin menegang di dalam sana, biji pelernya semakin memberat memproduksi pejuh yang banyak. Darah juga semakin terkumpul di dalam kontolnya, yang ia tahu Sunoo juga bisa merasakannya karena rintihan anaknya itu semakin lama semakin keras. Sunoo sedang kesakitan….. dan keenakan.

 

Mulut Jay melantunkan segala macam pujian yang membuat Sunoo semakin mabuk cinta. Ia sangat menyukai bagaimana papahnya sangat menikmati tubuhnya. “Oh… sayang…. Enak banget kamu”, “Aduh sayang, memek kamu bikin papah gila”, “Sempit banget, doll”, dan “Good boy, good boy”, adalah beberapa kalimat yang Jay ucapkan pada Sunoo sembari kontolnya terus memperkosa anaknya itu. Sementara itu Sunoo hanya bisa mendesahkan kata “Papah” karena otak anak-anaknya tak bisa merespon dengan layak.

 

Jay terus menggagahi Sunoo dengan posisi face off cowgirl dalam kurun waktu yang cukup lama. Saat ini tubuh mereka menyatu bagaikan sepasang kekasih yang merindu lama. Tak seharusnya seorang ayah dan anak kecilnya berada di titik ini. Namun semuanya sudah terlalu jauh, dan Jay harus menyelesaikan apa yang ia mulai. Oleh karena itu, dengan kontol yang sudah kaku akibat pejuh yang sudah di ujung tanduk, Jay meraih badan Sunoo dan mendekapnya erat sebelum kontolnya melaju dengan tempo secepat mungkin yang ia bisa. Hal ini membuat Sunoo tersentak ke atas dan ke bawah, membuat memeknya semakin tertusuk oleh kontol papahnya. Jangan tanya bagaimana rasanya bagi kedua insan ini.

 

Desahan Sunoo berubah menjadi erangan dan Jay membungkam anaknya itu dengan cipokan kasar. Ia melepaskan tangan kirinya dari pelukan untuk mencubit pentil kanan Sunoo dalam upaya membuat klimaks si kecil semakin cepat keluar. Sunoo mendesah di sela-sela ciuman mereka, tak kuasa menerima ciuman di mulut yang ditambah dengan sensasi enak di dadanya dan jangan lupa pula batang kontol Jay yang menjajahi memeknya. Sunoo merasa klimaksnya semakin dekat, dan Jay juga bisa merasakan bagaimana dinding memek Sunoo menyelimuti kontolnya dengan nikmat. 

 

Jay melihat Sunoo yang porak poranda. Mulutnya segera terisi oleh air liur sesaat setelah si ayah menghentikan ciumannya. Leher Sunoo lebam, begitu pula dengan bagian dadanya. Perut bawahnya menonjol, menunjukkan pada Jay di mana letak kontolnya di dalam sana. Memek Sunoo semakin berair dan memerah. Sempit ia rasakan di dalam sana. Ia pun kembali naik dan melihat tangan besarnya yang menghiasi pinggang Sunoo, bahkan hampir menutupi seluruh pinggang si kecil. Beda besar yang kontras antara badan kecil anaknya dan badan kekar miliknya itu sungguh menjadi sensasi yang paling memabukkan bagi Jay.

 

Jay seketika membayangkan apa yang akan terjadi jika ia menghamili Sunoo. Jay membayangkan aktivitas seks mereka ini berlangsung sampai Sunoo pubertas. Setelah Sunoo mendapatkan menstruasinya yang pertama kali, maka ia akan langsung memperkosa Sunoo dengan sangat dalam. Jay akan menanamkan benih-benih cintanya di dalam rahim anaknya itu dan membuat Sunoo menjadi hamil dengan anaknya. Betapa gilanya ia membayangkan anaknya sendiri melahirkan anaknya yang lain, yang juga menjadi saudara Sunoo sendiri. 

 

Betapa gilanya Jay membayangkan tubuh anak kecilnya ini membesar, perutnya membuncit akibat janin yang ia ciptakan sendiri dari hasil pelecehan. Jay membayangkan betapa lucunya Sunoo jika badannya yang kecil itu membuncit, dan putingnya mengeluarkan air susu serta memeknya akan jauh lebih sensitif. Sunoo pasti akan terlihat sangat cantik bagi Jay. bagaimana pun itu, Jay akan selalu mencintai Sunoo. Pikiran kejinya ini menjadi rangsangan terakhir yang Jay alami. Ia dapat merasakan memek Sunoo sudah sangat sempit, menandakan anaknya itu juga akan klimaks. Pijitan rongga memek Sunoo membuat si ayah tak kuasa membendung pejuh di dalam kontolnya, dan dengan itu, keduanya orgasme bersamaan.

 

Sunoo klimaks kayak manusia kesetanan. Ia berteriak dalam mulut yang terkatup, menahan suaranya. Napasnya ngos-ngosan dan tubuhnya sangat panas. Nikmat yang ia rasakan sungguh seperti keajaiban dunia. Beberapa detik setelah klimaks itu pecah, Sunoo juga pipis. Memek Sunoo klimaks bersamaan dengan lubang pipisnya mengencingi paha dan perut Jay akibat sensasi seks yang luar biasa itu. Jay juga bisa merasakan air kencing Sunoo di badannya, dan menurutnya hal ini sangat seksi. Sementara itu Sunoo hanya bisa menangis akibat kewalahan ditambah malu karena ia tak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.

 

Sementara itu, Jay berada di nirvananya sendiri. Jay mengeluarkan banyak sekali pejuh di dalam memek Sunoo. Jay tak menghitung, namun mungkin ada lebih dari 15 semburan pejuh yang keluar. Ia terus menggenjot Sunoo, dan kontolnya keluar masuk menyelimuti seluruh bagian liang senggama Sunoo dengan pejuhnya. Di beberapa hentakan terakhir, ia menusuk memek Sunoo ke bagian yang terdalam, menyentuh bukaan rahim Sunoo. Di dalam sana ia mengeringkan pejuh yang masih banyak tersisa dari kontolnya. Hal ini membuat sebagian pejuh milik si ayah masuk ke dalam rahim anaknya itu. Tiap semprotan pejuh yang keluar membuat badan Jay menggigil dan menegang keenakan. 

 

Mulut Jay menggeram rendah, matanya melotot menatap Sunoo, dan dadanya membusung seiring napasnya bergerak, layak binatang di masa kawin. Tak lupa juga ia tekan perut Sunoo yang menonjol untuk merasakan kontolnya dari luar tubuh anaknya itu. Rasanya Jay ingin menetap di dalam memek Sunoo selamanya. Sensasinya seenak itu ia rasakan. Sementara itu, Sunoo juga bisa merasakan betapa hangatnya semprotan pejuh papahnya di dalam tubuhnya. Tiap pejuh yang keluar membuat perutnya semakin hangat, dan badannya semakin nyaman. Sunoo sangat suka dipejuhin oleh papahnya. Seks kali ini sangat luar biasa nikmat bagi kedua manusia itu.

 

Jay memberikan beberapa waktu bagi mereka berdua untuk mengejar euforia orgasme masing-masing. Ia mengelus punggung Sunoo, meyakinkan anak itu bahwa si ayah tidak apa-apa dikencingi oleh anaknya itu. “It’s okay, dollie. Papah ga marah, justru papah suka. Jangan pernah malu kalo ngerasa enak, sayang” ujarnya berulang-ulang pada yang lebih muda sampai Sunoo tenang. Kelamin mereka masih menyatu di bawah sana. Butuh waktu yang cukup lama bagi kontol Jay untuk melemas saking intensnya orgasme yang ia alami. 

 

Perlahan-lahan, seiringan dengan kontol Jay yang melemas, pejuh kentalnya keluar dari memek Sunoo dan membasahi paha Jay. “Cantik banget kamu, sayang. My Sunoo… my doll” ucap Jay sambil memandangi paha dalam Sunoo kemudian seluruh tubuh si kecil. Sunoo tersenyum lemah, badannya terlalu capek untuk menanggapi papahnya. Ia juga sangat mengantuk. Oleh karena itu Jay bangkit namun tak melepaskan kontolnya dari memek Sunoo. Ia berjalan ke arah kasur dan membaringkan anaknya itu di sana. Seprai itu berantakan, namun tak basah lagi. Mungkin mengering ketika mereka sibuk bercocok tanam di atas sofa.

 

Jay menyempatkan dirinya sebentar untuk menjilat memek Sunoo, merasakan bagaimana rasa dari campuran  keringat, darah, cairan vaginal milik si kecil dan juga pejuh miliknya yang ada di memek itu. Sungguh, bagi Jay rasanya sangat enak. Ia juga mengecupi memek Sunoo gemas. Jay lalu mengelap seluruh tubuh Sunoo dengan baju yang si cantik pakai tadi. Secara teliti Jay membersihkan sampai ke paha dalam Sunoo yang basah. Jay terus membayangkan betapa menawannya Sunoo sehabis ia kacaukan. 

 

Ia juga terkekeh mengingat bagaimana ia membayangkan bagaimana jika Sunoo hamil karenanya. Mungkin untuk kemudian hari, pikirnya. Yang Jay pikirkan saat ini adalah membuat Sunoo nyaman. Maka setelah mengganti pakaian anaknya dengan set yang baru, ia pun menyelimuti Sunoo dan mencium bibirnya pelan. “Good night, dollie. Makasih udah bikin papah enak” bisiknya pada telinga Sunoo yang hanya terdengar sekilas oleh Sunoo. Anak kecil itu pun menjemput mimpinya.

 

Jay merapikan kamar Sunoo. Ia membalikkan keadaannya seperti semula, menghilangkan bukti-bukti aksi bejatnya dari ruangan itu. Jay lalu mengelap badannya dari keringat dengan baju Sunoo, dan ia pun mencium campuran bau keduanya sekilas. Jay lalu memakai bajunya lagi dan setelah ia sudah rapi, ia mencium pipi Sunoo dan mengelus kepala kecil anaknya untuk menunjukkan kasih sayang terakhir sebelum akhirnya ia keluar dari kamar Sunoo dan menutup pintunya. Ia meninggalkan Sunoo yang badannya masih memerah dan kelaminnya yang masih kacau. 

 

Jay pun bergabung dengan kerumunan yang masih ramai di lantai bawah rumahnya itu. Semua orang terlihat tak menyadari apa yang sedari tadi terjadi di atas sana. Ketika istrinya bertanya padanya mengenai ketidak hadirannya yang cukup lama, ia hanya menjawab dengan ringkas bahwa Sunoo susah untuk tidur. Dan dengan begitu saja, semua orang melanjutkan cengkrama mereka, begitu juga dengan Jay. Sekali lagi, ia lolos dari konsekuensi aksi busuknya. Malam ini tak akan menjadi malam terakhir baginya untuk bersenang-senang dengan anak kecilnya yang cantik itu.

Notes:

Eh jujur aku gatau ini masih ada yang nunggu apa engga wkwkwk. Kalau ada review or pertanyaan, kirim aja yaa. Aku suka banget sama feedback orang-orang yang baca fic aku!! Atau kalau ada saran or rec untuk fic selanjutnya aku juga terima!!

Series this work belongs to: