Work Text:
Malam itu hujan turun tipis di luar rumah. Tidak deras, selain membuat suara kota terdengar jauh dan lampu jalan memantul samar di jendela ruang tamu.
Jam hampir lewat tengah malam ketika pintu rumah akhirnya terbuka. Martin masuk sambil menarik napas panjang. Hoodie hitamnya masih bau studio. Tas laptop menggantung lelah di bahu. Dan kepalanya rasanya penuh suara beat revisi, deadline, telepon produser, meeting yang tak selesai-selesai.
Tapi langkah Martin langsung berhenti begitu melihat ruang tamu gelap nan sunyi. Tidak ada suara televisi. Tidak ada lampu dapur yang biasa sengaja dinyalakan oleh Juhoon. Bahkan tidak ada aroma makanan hangat.
Rumah terasa begitu kosong. Martin langsung mengeluarkan ponsel. Chat terakhir dari Juhoon empat jam lalu.
“jangan lupa makan”
And that’s it.
Martin menekan lidah ke pipi dalamnya. Mulai merasa tidak nyaman. Ia berjalan ke kamar. Kosong.
Balkon. Kosong.
Dapur. Kosong.
Perasaan aneh mulai naik pelan. Karena tiba-tiba Martin menyadari ia bahkan tak tahu Juhoon biasanya pergi ke mana jika keluar sendiri.
Pintu akhirnya kebuka lagi sekitar lima belas menit kemudian. Martin langsung menoleh cepat.
Juhoon masuk sambil membawa totebag kecil dan payung lipat basah. Pipinya sedikit memerah terpapar udara malam. Begitu lihat Martin ada di rumah, Juhoon jelas kaget.
“…kamu pulang.”
Kalimat biasa. Tapi Martin yang sudah panik sedari tadi malah langsung berdiri.
“Kamu dari mana?” Nada suara Martin lebih tajam dari yang ia maksud.
Juhoon berhenti sebentar. “Keluar bentar.”
“Ke mana?”
Juhoon mulai bingung, karena Martin jarang bertanya detail begini. “Aku jalan aja.”
“Sendiri?”
“Iya, terus nggak sengaja ketemu Seonghyeon tadi.”
Ada sesuatu di dada Martin yang langsung tertarik kasar begitu mendengarnya. “Seonghyeon?”
Juhoon mengangguk kecil sambil membuka sepatu. “Tadi ketemu di jalan. Jadi ngobrol bentar.”
Martin tertawa pendek, terdengar terlalu hambar. “Ngobrol bentar sampe jam segini?”
Juhoon akhirnya mengangkat kepala. Ia langsung menangkap jika Martin sedang marah. Bukan lelah biasa. Bukan kesal biasa. Benar-benar marah. Juhoon langsung menarik napas pendek. “Aku nggak lihat jam.”
“Lucu ya.”
Juhoon langsung mengernyit. Nada bicara Martin mulai terasa asing. Martin berjalan mendekat beberapa langkah.
“Kamu pergi tanpa bilang. Chat nggak dibalas. Telepon juga nggak.”
“Aku nggak bawa HP.”
“Terus kenapa nggak bilang dari awal?”
Juhoon mulai lelah sendiri. Karena ini aneh. Sangat aneh. Sudah dua hari Martin tidak pulang. Lalu sekarang malah Juhoon yang diinterogasi. “Aku cuma keluar bentar.”
“Bentar apanya, Juhoon?” Nada suara Martin naik.
Mendengar itu langsung membuat Juhoon diam sepersekian detik. Martin tidak pernah bicara sekasar itu kepada Juhoon. “Aku cuma ketemu temen, emang apa salahnya?”
“Tanpa bilang ke aku dulu?”
Juhoon tidak habis pikir dengan isi percakapan ini. Lalu tanpa sadar membalas pelan, “Ke kamu yang mana?”
Martin langsung diam.
Dan Juhoon melanjutkan, masih dengan suara kecil yang tak biasa terdengar setajam ini. “Kamu bahkan nggak pulang dua hari.”
“Aku kerja.” Martin langsung defensif.
“Aku tahu.”
“Aku kerja buat kita.”
“Aku juga tahu.”
“Terus kenapa kamu bikin aku panik kayak gini?!” Suara Martin akhirnya benar-benar pecah.
Tubuh Juhoon langsung membeku. Itu bentakan pertama selama mereka menikah. Martin sendiri ikut terkejut dengan dirinya. Tapi emosinya sudah kepalang naik.
“Kalau kamu merasa sendirian harusnya ngomong ke aku! Bukan malah pergi sama orang lain!”
Juhoon langsung menatap Martin lebih lama. Matanya mulai memerah. Bukan karena marah, tapi karena sakit hati.
“Aku pergi minum kopi.”
Martin ketawa frustasi sambil mengusap wajah kasar. “Bukan soal kopinya, Juhoon!”
“Terus soal apa?”
“Soal kamu yang lebih milih cerita ke orang lain dibanding ke suami kamu sendiri!”
Kalimat itu akhirnya dilepaskan tepat di titik paling sakit bagi Juhoon. Selama ini Juhoon justru terus mencoba mengerti Martin. Menunggu, memaklumi, tidak menuntut apapun. Sampai rasa sepinya sendiri Juhoon telan pelan-pelan.
Tapi sekarang bahkan semua perasaan itu diperlakukan seperti kesalahan. Seolah yang valid di sini hanya kekhawatiran Martin padanya.
Dan untuk pertama kalinya, suara Juhoon ikut naik. “Aku bahkan nggak cerita apa-apa ke dia!”
Martin langsung membalas lagi. “Tapi kamu pergi sama dia!”
“Aku ketemu dia nggak sengaja!”
“Terus maunya kamu apa sih, Kim Juhoon?!”
Kedua netra Juhoon bergetar menatap wajah Martin. Mendadak segala hal mengenai lelaki tinggi di depannya ini sangat amat asing di mata Juhoon. Sumpah demi apapun, Juhoon tidak mengenal Martin yang ada di depannya ini.
Sementara di detik yang sama juga Martin langsung menyesal.
Karena wajah Juhoon berubah. Bukan marah. Tapi terlihat jelas ia terluka. Pelan-pelan Juhoon menarik napas dalam. Tangannya gemetar kecil sekarang.
Lalu akhirnya Juhoon kembali bersuara pelan. “Aku cuma pengen pulang dan ketemu suamiku.”
Martin langsung kehilangan semua amarahnya saat itu juga. Kalimat itu tidak terdengar menuduh sama sekali. Itu justru terdengar sangat menyedihkan.
Rumah kembali sunyi. Hujan di luar masih turun kecil. Martin akhirnya melangkah mendekat refleks dan panik. “Sayang…”
Tapi Juhoon mundur setengah langkah. Dan itu… itu lebih menyakitkan dari bentakan tadi bagi Martin. Selama ini Juhoon tidak pernah menghindarinya.
“Udah selesai marahnya?” tanya Juhoon pelan sekali sekarang.
Martin langsung diam.
“Aku ngerti kamu capek. Aku ngerti kamu khawatir.” Mata Juhoon mulai berkilauan dipenuhi air mata. “Tapi cara kamu ngomong ke aku barusan…” Ia berhenti sebentar dengan napasnya yang goyah.
“Jahat banget, Martin.”
Martin ikut hancur mendengar pengakuan Juhoon. “Sayang, aku nggak maksud—”
“Aku sakit hati banget sama omongan kamu,” lirih Juhoon memotong kalimat Martin. Juhoon menatap Martin tidak percaya, “Kayak kita gak pernah saling cinta aja selama ini."
Dan itu jauh lebih menusuk dibanding teriakan apa pun. Juhoon jarang sekali membicarakan langsung soal perasaannya. Martin langsung maju lagi spontan. Tapi di saat yang sama Juhoon mundur sekali lagi.
“Jangan dulu.”
Martin tersentak di posisinya.
“Jangan ngomong atau sentuh aku.” Air mata Juhoon akhirnya jatuh juga. Suaranya tetap tenang, tetap lembut. Yang justru membuat Martin semakin merasa bersalah.
“Tiga hari, don't talk nor touch me. Sampe otak jenius kamu itu dipake secara waras.”
Setelahnya Juhoon langsung masuk ke kamar tanpa membanting pintu atau menangis keras. Benar-benar hanya pergi. Meninggalkan Martin sendirian di ruang tamu dengan rumah yang mendadak terasa terlalu besar.
Pagi selanjutnya setelah pertengkaran hebat semalam, rumah mereka terlampau sunyi. Bukan sunyi nyaman. Bukan sunyi malas di pagi hari. Namun sunyi yang berat.
Martin bahkan tidak benar-benar tidur semalaman. Ia hanya berbaring di sofa ruang tengah, masih memakai hoodie semalam, lampu dapur menyala, dan pikirannya berputar terus persis kaset rusak.
“Terus maunya kamu apa sih, Kim Juhoon?”
Kalimat itu terus berputar-putar di kepala Martin. Yang semakin dipikir, semakin terasa kejam. Karena Martin tahu, sangat tahu, jika Juhoon tak pernah menuntut banyak.
Tak pernah memaksa, apalagi meminta Martin milih dia dibanding pekerjaannya. Juhoon hanya ingin pulang dan bertemu Martin. Dan orang yang sangat ingin Juhoon temui itu malah membentaknya semalam, setelah dua hari penuh mereka sama sekali tidak bertemu.
Martin menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil duduk membungkuk di sofa. Seumur hidupnya, ia tidak pernah bicara dengan nada setinggi itu kepada Juhoon.
Bahkan selama pacaran pun tidak pernah. Lantas sekarang yang paling membuat Martin takut bukan soal Juhoon marah. Melainkan soal tatapan Juhoon semalam—tatapan orang yang benar-benar terluka.
Sekitar jam enam pagi, Martin mendengar suara pintu kamar dibuka pelan. Refleks ia langsung berdiri. Di situlah Martin melihat Juhoon.
Oversized sweater abu-abu. Rambut agak berantakan. Wajah pucat. Dan mata Juhoon yang bengkak parah.
Jantung Martin langsung terasa diremas. Itu pertama kalinya selama mereka bersama, Martin bisa melihat jelas Juhoon habis menangis lama.
Bukan mata merah biasa. Ini bengkak yang menjadikan kelopak mata Juhoon memberat. Hidungnya masih sedikit merah. Dan wajahnya kelihatan terlalu kelelahan.
Martin langsung melangkah mendekat.
“Sayang…” panggil Martin dengan suaranya yang serak.
Tapi Juhoon bahkan tidak menoleh. Ia berjalan lurus ke dapur. Martin langsung ikut beberapa langkah di belakangnya.
“Sayang…”
Masih tidak dijawab. Juhoon membuka kulkas, mengambil air dengan tangannya tanpa bersuara. Terlalu tenang. Itu jauh lebih membuat Martin panik dibanding jika Juhoon teriak marah.
“Juhoon, please…”
Masih tak ada respons. Bahkan kontak mata pun tidak. Seolah Martin benar-benar tak ada di ruangan itu. Dan Martin baru menyadari inilah maksud dari tiga hari itu.
Juhoon benar-benar menarik akses dirinya dari Martin. Tidak ada sentuhan. Tidak ada jawaban. Tidak ada tatapan. Martin langsung semakin kacau. Karena biasanya sekesal apa pun, Juhoon tetap akan menoleh, menjawab pendek, atau minimal mendengarkan.
Tapi sekarang? Nothing.
Juhoon menaruh gelas pelan di meja. Lalu mulai membuat kopi sendiri. Martin melihat punggungnya lama, seiring rasa bersalahnya semakin menjadi-jadi.
Sebab semalam setelah Juhoon masuk kamar, Martin sempat berdiri lama di depan pintu. Berniat meminta maaf, ingin masuk, dan memeluk tubuh kecil Juhoon.
Tapi suara Juhoon pelan dari balik pintu hanya, “Please jangan sekarang.”
Tanpa membantah, Martin langsung tidak berani lagi.
Sekarang, pagi ini, Martin kembali menyadari jika Juhoon benar-benar menangis semalaman sendirian di kamar. Sementara Martin ada tepat di balik pintu itu.
Martin akhirnya pelan mendekat lagi. “Juhoon…” Kali ini suaranya hampir putus, “Aku minta maaf.”
Juhoon berhenti sebentar. Sempat Martin langsung berharap kecil, namun beberapa detik kemudian Juhoon lanjut mengaduk kopinya lagi tanpa melihat Martin sama sekali.
Dan entah kenapa, itu jauh lebih menghancurkan dibanding jika Juhoon membentaknya balik.
Tiga hari itu terasa seperti hukuman paling sunyi yang pernah Martin alami. Juhoon benar-benar melakukan apa yang ia ucapkan. Bukan sekadar silent treatment kekanak-kanakan. Juhoon hanya menghapus keberadaan Martin dari rutinitasnya.
Dan itu jauh lebih menyesakkan.
Hari pertama, Martin masih berpikir nanti malam mungkin Juhoon akan luluh.
Hari kedua, Martin mulai kehilangan arah. Karena Juhoon rupanya serius. Sangat serius.
Juhoon bangun pagi, memasak sarapan sendiri, makan sendiri, mencuci piring sendiri. Semua dilakukan dengan tenang, pelan, dan rapi. Persis seperti biasanya.
Bedanya Martin tidak ada di dalam dunianya lagi. Padahal Martin ada di sana. Secara fisik bahkan selalu dekat.
Martin mencoba menyapa, tidak dijawab. Martin tanya selembut mungkin apakah ada yang bisa ia bantu, Juhoon hanya melewatinya begitu saja.
Bukan dingin yang penuh benci. Just… absence.
Martin mulai melihat selama ini Juhoon memang sudah terbiasa sendirian. Maka dari itu Martin mulai mengikuti Juhoon diam-diam.
Juhoon duduk menonton TV, Martin duduk di ujung sofa sambil membuka laptop dan mengerjakan draft lagu. Sesekali mata Martin mencuri-curi lirik pada Juhoon dibanding layar laptopnya.
Kadangkala Juhoon tertidur sebentar di sofa, tangan Martin refleks ingin merapikan selimutnya. Tapi begitu teringat—jangan sentuh aku dulu—tangan Martin berhenti di udara.
Hari kedua, Martin bahkan tidak berniat pergi ke studionya sama sekali. Produser lain sampai heran saat Martin memberitahukan ia akan bekerja dari rumah saja untuk beberapa hari ke depan.
Padahal kenyataannya, Martin takut meninggalkan rumah. Takut jika Juhoon pergi. Takut jika Juhoon semakin jauh. Takut jika tiga hari itu berubah menjadi sesuatu yang permanen.
Jadi Martin memilih tetap berada di dekat Juhoon. Terlalu dekat malah.
Juhoon sedang membaca buku di balkon, Martin duduk beberapa meter dari sana sembari mixing lagu. Juhoon memasak, Martin pura-pura sibuk membuka email di kitchen island.
Dan yang paling membuat Martin hancur adalah Juhoon sama sekali tidak goyah. Sebab Juhoon sudah terbiasa sendirian, selalu punya cara meraih benda-benda di tempat yang tinggi, membuka tutup-tutup botol yang butuh tenaga lebih banyak, atau mengangkat alat bersih-bersih yang cukup berat.
Tanpa marah dan tanpa menangis lagi. Juhoon hanya hidup seperti biasa tanpa Martin.
Hari ketiga sore, Juhoon keluar rumah untuk membeli sesuatu ke minimarket dekat kompleks. Langsung saja tanpa banyak berpikir, Martin meletakkan laptopnya sembarangan dan mengikuti Juhoon.
Martin berada beberapa langkah di belakang. Juhoon jelas sadar. Tapi tidak mengatakan apa-apa. Mereka berjalan dalam diam.
Lampu jalan mulai menyala. Udara sore terasa lebih dingin di luar sini. Selama tiga hari terakhir, Martin benar-benar memperhatikan hidup Juhoon.
Cara Juhoon berjalan pelan sendirian, masuk minimarket tanpa tujuan lama, berdiri bingung di depan rak minuman beberapa menit, lalu akhirnya hanya membeli mie, susu, dan snack kecil.
Sunyi sekali. Martin mendadak sadar sesuatu yang membuat dadanya nyeri. Ini yang Juhoon lakukan setiap kali Martin di studio.
Juhoon melakukannya sendirian. Pulang ke rumah besar yang kosong. Makan sendiri. Memilih snack sendiri. Menonton TV sendiri. Tidur sendiri.
Sementara Martin selama ini selalu berpikir dirinya bekerja keras untuk mereka berdua, untuk kita katanya. Tapi “kita”-nya sendiri ternyata sering tinggal satu orang.
Saat keluar dari minimarket, Juhoon duduk sebentar di bangku depan toko sambil memegang kantong plastik kecil. Martin berdiri beberapa langkah dari sana. Tidak berani duduk dekat. Martin memperhatikan Juhoon yang benar-benar tampak mentally exhausted.
Lampu minimarket memantul samar di mata Juhoon yang masih sedikit bengkak. Martin sekarang mengerti jika selama ini, yang paling kesepian dalam pernikahan mereka… bukan dirinya.
Malam turun pelan-pelan sewaktu Juhoon memutuskan pulang dari minimarket. Jalanan di sekitar mereka sunyi. Hanya ada suara gesekan alas kaki dengan aspal dan kantong plastik kecil di tangan Juhoon yang sesekali berisik pelan.
Sementara Martin masih setia berdiri di belakangnya sambil menahan napas sendiri. Martin tahu tiga hari itu hampir selesai. Dan anehnya, Martin justru semakin takut.
Takut dengan apa yang akan Juhoon bicarakan setelah ini.
Begitu sampai di depan rumah, Juhoon membuka pintu tanpa banyak suara. Juhoon masuk lebih dulu, melepas sandal, menaruh kantong belanja di meja. Lalu tiba-tiba berhenti.
Martin yang sedang menutup pintu langsung menoleh bingung. Juhoon berdiri diam di ruang tengah. Tatapannya lurus ke depan. Pada foto pernikahan mereka yang tergantung di dinding.
Foto yang diambil setahun lalu. Martin ingat jelas hari itu. Juhoon memakai jas putih tulang. Senyumnya lebih cerah dari hari-hari biasanya dan selalu terlihat cantik. Sementara Martin di foto itu tampak bahagia setengah mati sampai matanya nyaris hilang karena senyum.
Dan sekarang, Juhoon hanya menatap foto itu lama.
Martin langsung panik. Panik sekali. Karena otaknya yang sudah kacau tiga hari ini langsung lari ke mana-mana.
“Kenapa Juhoon lihat foto pernikahan kita?”
“Juhoon nyesel kah nikah sama gue?”
“Dia mau pergi?”
“Apa jangan-jangan Juhoon mau minta cerai?!”
Dada Martin langsung dingin.
“Sayang…” Suara Martin pecah duluan.
Juhoon tidak menjawab. Itu cukup membuat Martin kehilangan sisa ketenangannya. Martin langsung berjalan cepat mendekati Juhoon.
“Sayang…”
Juhoon akhirnya menoleh pelan bersama wajahnya masih terlihat jelas kelelahan. Itu yang membuat Martin semakin tidak tahan.
“Aku minta maaf.”
Sunyi.
“Aku salah. Aku tahu aku salah.” Napas Martin mulai goyah. “Aku nggak seharusnya bentak kamu. Aku nggak seharusnya ngomong kayak gitu. Aku cuma panik dan—”
Martin berhenti sendiri karena suaranya mulai serak. Juhoon masih diam di tempatnya.
Dan Martin betul-betul tidak sanggup lagi. Tiga hari terakhir itu sudah cukup bagi Martin menyadari dan memahami jika dirinya bisa bertahan lelah kerja, bisa bertahan dari tekanan industri, bisa bertahan begadang berhari-hari.
Tapi Martin tidak bisa bertahan jika Juhoon berhenti melihatnya. Jadi detik berikutnya, Martin langsung turun berlutut dengan kedua lututnya di lantai ruang tengah. Memohon dengan sangat kepada Juhoon.
Tubuh kecil dihadapannya itu terlihat terkejut hampir kembali mencoba mundur, “Martin—”
“Aku serius.” Suara Martin gemetar sekarang.
Ini pertama kalinya Juhoon melihat Martin setakut itu. Martin yang biasanya percaya diri, selalu punya jawaban, selalu terlihat kuat, malam ini benar-benar runtuh.
“Aku nggak mau kehilangan kamu.”
Martin langsung menunduk sambil menggenggam ujung hoodie Juhoon. Hati-hati sekali. Seolah takut Juhoon akan hilang jika ia pegang terlalu erat.
“Kalau kamu masih marah, marah aja. Kalau kamu mau aku tidur di luar kamar seminggu juga nggak apa-apa.” Napasnya patah-patah, “Tapi jangan tinggalin aku.”
Juhoon langsung membeku. Sebab ia tidak pernah sedikit pun terpikir untuk meninggalkan Martin. Namun Juhoon juga tidak berbohong jika dirinya sudah sakit hati dengan segala ucapan Martin sebelumnya.
Melihat Martin ternyata selama tiga hari ini genuinely ketakutan jika pernikahan mereka selesai, Juhoon tidak berpikir sejauh itu. Tentu saja itu membuat hati Juhoon bertambah sakit.
Martin akhirnya mengangkat kepala. Matanya memerah sama lelahnya, dan penuh takut.
“Aku tahu aku akhir-akhir ini nggak ada. Aku tahu aku bikin kamu merasa sendirian.” Air mata Martin akhirnya jatuh juga. “Tapi jangan nyerah sama aku, please.”
Juhoon kembali menyadari lelaki yang kini berlutut di depannya sekarang bukan Martin yang marah malam itu. Ini Martin yang takut kehilangan rumahnya.
Adegan selanjutnya yang paling membuat Martin terkejut. Sebab tanpa aba-aba Juhoon ikut turun berlutut di depannya. Pelan-pelan seolah lututnya kehilangan tenaga.
Martin langsung panik. “Eh, sayang—”
Tapi Juhoon lebih dulu mengangkat kepala. Matanya sudah penuh air lagi. Untuk pertama kalinya sejak tiga hari terakhir, tatapan itu akhirnya benar-benar melihat Martin—tidak lagi mengabaikannya.
Suasana rumah langsung terasa terlalu sunyi. Martin bahkan bisa mendengar napas Juhoon yang gemetar. Lalu Juhoon bersuara pelan.
“Peluk aku.”
Martin langsung runtuh detik itu juga. Tanpa berpikir lagi, Martin langsung menarik Juhoon ke dalam pelukannya. Martin memeluknya erat. Sangat erat.
Seolah tiga hari terakhir itu akhirnya pecah di sana. Begitu tubuh mereka menempel, Juhoon langsung menangis. Bukan air mata diam seperti sebelumnya. Bukan menangis yang ditahan.
Ini benar-benar pecah. Suara tangis Juhoon langsung tumpah ruah di bahu Martin. Tubuhnya gemetar. Tangan Juhoon mencengkram hoodie Martin kuat-kuat.
Seolah selama tiga hari itu, Juhoon memaksa dirinya tetap tegak dan sekarang akhirnya tak ada kekuatan tersisa.s
Martin langsung ikut gemetar. “Maaf… maaf banget… sayang aku minta maaf…” ucap Martin seperti mantra di tiap-tiap raungan Juhoon. Lagi. Dan lagi. Dan lagi.
Setiap beberapa detik. Martin baru menyadari Juhoon benar-benar sesakit itu. Martin mungkin tidak akan bisa memaafkan dirinya sebab sampai detik ini Juhoon tidak menangis sambil memarahinya.
“Maaf aku bentak kamu, aku nggak maksud nyakitin kamu sumpah. Aku panik… aku takut…” Martin bicara sambil terus mengusap belakang kepala Juhoon.
Dan Juhoon hanya menangis semakin kencang. Sampai napasnya berantakan. Sampai bahunya naik-turun.
Martin ikut panik mendenganya. “Hey, hey, aku di sini. Aku di sini. Maaf… maaf…”
Sembari mencium rambut Juhoon berkali-kali, tangan Martin tidak berhenti menenangkan punggung Juhoon.
Di sela tangisnya, Juhoon akhirnya berusaha bicara patah-patah, “Aku… aku kira…” Napasnya goyah lagi, “Aku kira kamu udah capek sama aku…”
Martin langsung merasa jantungnya diremas. “Jangan ngomong gitu…”
“Aku takut kamu pulang cuma buat ganti baju…”
Martin langsung memeluk Juhoon lebih erat. Ternyata selama ini Juhoon juga ketakutan. Ketakutan ditinggalkan pelan-pelan di dalam rumah yang sama.
Kepala Martin langsung menggeleng berkali-kali sambil menangis juga. “Nggak. Nggak pernah. Aku pulang karena ada kamu, sayang.”
Dan itu kalimat paling jujur yang keluar dari Martin selama berbulan-bulan terakhir.
Tangis Juhoon masih belum menandakan akan berhenti. Malah semakin pecah begitu Martin terus minta maaf sambil memeluknya erat.
Semua yang Juhoon tahan selama berbulan-bulan rasanya runtuh malam itu. Semua rasa sepi. Semua kecewa. Semua malam yang terlalu sunyi. Semua sarapan dingin yang dimakan sendirian. Martin bisa merasakan itu semua dari cara tubuh Juhoon gemetar di pelukannya.
Juhoon menangis sampai napasnya berantakan, sampai suaranya serak. Martin terus mengusap punggungnya pelan. “Maaf… aku minta maaf. Aku di sini sekarang…”
Tapi justru itu yang membuat Juhoon semakin menangis. Karena Martin baru ada sekarang. Bukan waktu-waktu sebelumnya saat ia butuh Martin.
Pelan-pelan Juhoon mulai bicara lagi di sela tangisnya. Patah-patah yang kadang terpotong napasnya sendiri. “Aku… aku kadang pengen minta kamu pulang…”
Martin langsung menutup mata. Suara Juhoon pelan sekali di telinganya. Seperti Juhoon sudah terlalu lama menahan diri untuk meminta sesuatu.
“Aku pengen kamu temenin aku ke tempat baru… atau… makan sarapan lebih lama dikit…” Napas Juhoon langsung goyah lagi. “Atau cuma… dipeluk sebentar sebelum kamu pergi…”
Martin langsung menunduk semakin dalam di bahu Juhoon. Hal-hal yang Juhoon inginkan ternyata sederhana sekali. Dan Martin bahkan gagal mengabulkan itu.
“Tapi aku lihat kamu sibuk terus…” Air mata Juhoon jatuh lagi, “jadi aku nggak pernah tega buat bilangnya.”
Martin mengeratkan pelukannya pada tubuh Juhoon. Sampai rasanya takut Juhoon akan hancur jika ia lepas.
“Aku sedih banget, Martin… aku beneran sedih…”
Selama ini Martin pikir Juhoon baik-baik saja. Atau setidaknya masih bisa bertahan. Namun ternyata Juhoon pelan-pelan tenggelam sendirian.
“Aku sempet mikir…” Juhoon berhenti karena tangisnya naik lagi. Tangannya mencengkram hoodie Martin kuat-kuat, “Kalau menikah bikin aku sesedih ini…”
Napas Martin sejenak tersendat sebelum Juhoon menyelesaikan kalimatnya.
“…aku nggak tahu lagi alasan buat bertahan di sini apa.”
Martin langsung pucat. Benar-benar pucat. Karena itu bukan ancaman. Itu pengakuan paling jujur dari seseorang yang sudah terlalu kesepian.
“Jangan bilang gitu…” Suara Martin langsung pecah. Tangannya buru-buru megang wajah Juhoon. Hati-hati sekali seperti menyentuh sesuatu yang retak.
“Please jangan bilang gitu…” Air mata Martin jatuh terus sekarang.
Sialnya baru malam itu Martin sadar Juhoon bukan hampir pergi karena tidak lagi cinta. Juhoon hampir pergi karena terlalu lama merasa sendirian di dalam cinta itu sendiri.
Tangan besar Martin masih memegang wajah Juhoon dengan hati-hati. Jempolnya terus mengusap air mata di pipi Juhoon, padahal air matanya sendiri tidak berhenti jatuh.
Belum sempat Martin benar-benar menenangkan dirinya sendiri ketika Juhoon bicara lagi.
“Jangan nyakitin aku lagi…”
Martin langsung menjeda napasnya sesaat. Itu jelas bukan kalimat marah. Itu permohonan. Permohonan Juhoon yang masih cinta, tapi mulai takut cintanya tidak cukup untuk bertahan.
Juhoon sampai harus menarik napas beberapa kali sebelum melanjutkan kalimatnya. “Aku masih mau bertahan di sini…”
Tangannya gemetar kecil sewaktu terangkat menyentuh tangan Martin yang masih berada di pipinya. “Aku masih mau sama kamu…” Air matanya jatuh lagi, “Tapi aku capek kalau harus sendirian terus.”
Martin langsung menggeleng cepat. “Nggak, sayang, aku bakal berubah, aku janji…”
Tapi Juhoon buru-buru lanjut sebelum keberaniannya hilang. Nada suaranya sekarang benar-benar terdengar takut. “Karena aku juga takut…”
Martin langsung diam.
“Aku takut kalau suatu hari nanti aku udah terlalu capek buat nunggu kamu pulang.”
Air mata Martin langsung jatuh lagi. Juhoon tidak pernah bicara sejujur ini sebelumnya. Juhoon selalu menahan, memahami, mengalah, dan tetap lembut. Sampai Martin lupa jika orang sebaik Juhoon juga punya batas.
“Aku takut hari dimana aku bener-bener nggak kuat itu datang…” Napas Juhoon mulai berantakan lagi, “Dan kamu telat sadar.”
Lengan Martin langsung menarik Juhoon ke dalam pelukan lagi. Erat sekali. Menyatakan dengan jelas bahwa Martin takut kehilangan Juhoon detik itu juga.
“Nggak bakal. Nggak bakal aku biarin sampai sejauh itu,” balas Martin cepat-cepat. “Aku yang salah. Aku terlalu sibuk. Aku pikir selama kita masih satu rumah semuanya bakal baik-baik aja.”
Martin sampai gemetar sendiri. Juhoon tidak pernah minta kemewahan. Juhoon hanya minta ditemani dan bisa-bisanya Martin gagal melihat itu sampai semuanya hampir retak.
Juhoon di pelukannya masih menangis pelan. Lebih lemah sekarang, mungkin tenaganya juga sudah banyak terkuras. Pun Martin bisa merasakan sendiri betapa lama Juhoon menahan semua ini sendirian.
“Aku nggak butuh kamu selalu ada,” ucap Juhoon hampir berbisik di dada Martin. “Aku cuma butuh kamu jangan bikin aku merasa sendirian.”
Kalimat itu langsung masuk ke dada Martin lebih dalam dibanding semua bentakan dan tangisan di tiga hari terakhir.
Kini akhirnya Martin ngerti inti semuanya. Bukan soal studio. Bukan soal pekerjaan. Bukan soal minimarket atau teman yang ditemui Juhoon secara tak sengaja itu.
Tapi soal Juhoon perlahan kehilangan rasa 'punya pasangan' di dalam rumah mereka sendiri.
Martin langsung mencium puncak kepala Juhoon berkali-kali. “Maaf… maaf aku bikin rumah kita jadi sesepi itu…”
Tangannya terus usap punggung Juhoon pelan. Dan malam itu setelah berbulan-bulan dipenuhi kesibukan, Martin kini berhenti memikirkan deadline, lagu, dan studio. Persetan itu semua, kini hal paling berharga yang hampir Martin hilangkan sedang menangis di pelukannya.
Butuh beberapa menit tambahan sampai tangis mereka pelan-pelan mereda. Meski rasa sakitnya tidak langsung hilang, yang paling penting adalah semua yang selama ini dipendam berhasil keluar.
Juhoon masih bersandar lemas di dada Martin, sementara Martin terus mengusap punggungnya perlahan.
Rumah mereka masih sunyi. Lampu ruang tengah redup. Dan di lantai ruang tamu itu, dua orang yang hampir kehilangan satu sama lain akhirnya berhenti pura-pura kuat.
Martin menarik napas panjang. Matanya masih memerah. Pikirannya juga masih berantakan. Tapi sekarang satu hal terasa jelas, ia tidak mau lagi membuat Juhoon merasa sendirian.
Tubuh Martin akhirnya mundur sedikit, cukup untuk melihat wajah Juhoon yang habis basah dengan mata yang kembali membengkak dan embusan napas lelah.
Hati Martin selalu langsung nyeri lagi. Tangannya pelan merapikan rambut Juhoon yang nempel di pipi. “Masih mau marah sama aku?” tanya Martin berusaha meringankan suasana di sekitar mereka.
Juhoon langsung tersenyum tipis di tengah sisa tangisnya, “Masih.”
Martin malah hampir menangis lagi. Karena bahkan jawaban itu terdengar jauh lebih lembut. “Well, I deserve, sih.”
Juhoon ikut menarik napas panjang. Setelah tiga hari ini, bahkan terhitung dengan Martin yang tidak pulang selama dua hari penuh sebelumnya, yang berarti sudah lima hari, akhirnya Juhoon tidak menghindari sentuhan Martin lagi.
Malah pelan-pelan bersandar lebih dekat. Martin langsung menutup mata sebentar. Hanya saat ini baru Martin bisa bernapas normal lagi setelah ditolak berhari-hari.
Tangannya refleks memeluk Juhoon hati-hati. Bukan erat karena takut kehilangan sekarang,. melainkan erat karena akhirnya mereka sama-sama kembali.
Martin lalu lihat sekeliling ruang tamu yang sedikit berantakan oleh kantong minimarket masih di meja, laptopnya masih menyala, hoodie-nya kusut, dan mereka masih duduk di lantai.
Ia tertawa kecil. “Kayaknya kita nyelesain krisis rumah tangga dengan cara paling jelek.”
Juhoon ikut tertawa kecil juga dengan suara seraknya itu. Suara yang sudah mampu membuat Martin merasa dunianya kembali berada di tempat yang seharusnya.
Martin akhirnya mengusap bawah matanya sendiri agak cepat. “Bentar…”
Kemudian ia buru-buru berdiri. Mengambil tisu. Mematikan laptop. Menggeser barang-barang asal supaya tidak terinjak. Gerakannya masih kacau karena sama-sama selesai menangis juga.
Dan Juhoon hanya memperhatikan. Martin lalu kembali lagi di depan Juhoon sambil berjongkok. Masih kelihatan berantakan. Hidung merah dan mata sembabnya. Tapi sekarang tatapannya terpusat hanya pada Juhoon.
“Yuk pindah ke kamar.”
Juhoon diam sebentar sebelum mengangguk kecil. Dan Martin langsung menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Juhoon, satunya lagi di punggungnya.
“Hah? Tunggu! Martin, aku bisa jalan.”
“Aku tahu.”
Martin tetap mengangkat Juhoon dengan sangat hati-hati. Seperti sedang membawa sesuatu yang nyaris pecah. Juhoon refleks melingkarkan tangan pada leher Martin.
Dan jujur… itu sedikit membuat dada Martin sesak lagi. Sebab beberapa jam lalu, Martin pikir ia mungkin sudah kehilangan semua ini
Perjalanan pendek menuju kamar mereka terasa anehnya intim. Tidak ada lagi teriakan atau ego yang dijunjung tinggi. Hanya dua orang lelah yang akhirnya berhenti saling menebak dan mulai saling mendengar.
Begitu sampai kamar, Martin menurunkan Juhoon pelan di kasur. Lalu tanpa banyak berpikir, Martin juga ikut naik dan langsung membawa Juhoon ke pelukannya lagi.
Juhoon tertawa kecil. “Baru juga pindah.”
“Aku takut kamu ilang lagi,” ujar Martin sembari mencium pelipis Juhoon. Dan kali ini, Juhoon tidak menjauh.
Kamar mereka pada dasarnya memang selalu menjadi tempat yang menyimpan banyak tenang. Hujan di luar kedengarannya semakin deras. Di dalam sini napas mereka perlahan mulai semakin stabil.
Juhoon masih ada di pelukan Martin, kepalanya bersandar penuh di dada Martin sambil sesekali mengusap sisa air matanya sendiri.
Sementara Martin terus memainkan jemari Juhoon pelan. Tidak buru-buru membuka percakapan lagi. Malam ini Martin akhirnya belajar jika mendengar itu tidak bisa sambil defensif.
Beberapa menit berlalu sebelum Martin akhirnya buka suara lebih dulu. “Sayang…”
Juhoon mengangkat kepala sedikit.
Martin tersenyum tipis melihatnya. “Aku boleh nanya sesuatu?”
“Hm?”
Martin diam sejenak, seperti sedang menyusun kata-katanya supaya tidak salah lagi. “Apa yang bikin kamu merasa lebih baik… pas aku lagi di studio?”
Juhoon ikut-ikutan diam juga. Lantas Martin buru-buru melanjutkan sebelum Juhoon mulai menjawab aku nggak apa-apa. Karena sekarang Martin sudah tahu Juhoon sering sekali bohong soal dirinya sendiri demi menjaga orang lain.
“Aku nggak minta kamu nyuruh aku berubah total.” Tangan Martin pelan usap buku jari Juhoon. “Aku tahu kerjaanku bakal tetap sibuk. Aku juga tahu kamu bakal nggak enakan kalau aku tiba-tiba ngorbanin semuanya buat kamu.”
Juhoon langsung terlihat merasa ketahuan. Sebab memang itu yang ada di pikirannya. Martin menghela napas pendek melihat tebakannya benar, “Tuh kan.”
Lalu Martin menyandarkan dahinya pada dahi Juhoon. “Tapi aku mau belajar bikin kamu nyaman. Aku mau kamu tetap betah di sini, di rumah ini, di hubungan ini.”
Mata Juhoon langsung panas lagi. Kalimat itu terasa seperti Martin akhirnya benar-benar melihat kesepiannya.
“Aku nggak mau kamu bertahan cuma karena cinta. Aku mau kamu juga bahagia.”
Juhoon langsung menutup mata sejenak. Jujur saja itu yang selama ini Juhoon tunggu. Bukan Martin berhenti kerja. Bukan Martin meninggalkan mimpinya. Tapi Martin yang sadar jika Juhoon juga perlu ditemani.
Beberapa detik Juhoon hanya diam.
“Aku suka kalau kamu ngabarin.”
Martin langsung fokus penuh. “Kayak chat? Voice note? atau video call?”
Juhoon terkekeh, “Martin… jangan meeting sambil video call juga.”
Martin langsung menyengir malu. “Pernah ya?”
“Kamu bahkan pernah tidur sambil headset masih nyala.”
Martin menutup wajahnya sebentar. Akhirnya mereka bisa tertawa lagi tanpa rasa berat. Kemudian Juhoon melanjutkan kalimatnya, “Aku suka kalau kamu kasih tahu kapan pulang, meskipun telat.”
“Okay.”
“Aku suka kalau kamu makan, beneran makan, bukan kopi doang.”
Martin mengangguk patuh.
“Kadang… aku cuma pengen ditanyain hari ini aku ngapain.”
Martin langsung diam. Padahal itu permintaan yang sangat sederhana. Dan Martin jarang melakukan itu akhir-akhir ini.
“Aku bisa lakuin itu,” balas Martin lembut. “Harus, bahkan.”
Juhoon tersenyum kecil saat Martin akhirnya mencium keningnya lebih lama. Kali ini tidak ada rasa takut kehilangan di sana. Hanya Martin dan Juhoon yang akhirnya mulai belajar bahwa cinta tidak cukup hanya dirasakan. Cinta juga harus dibuat terasa.
"Aku sayang banget sama kamu," lirih Martin sembari menghirup rambut Juhoon menciumnya sekali lagi, "Sekali lagi aku minta maaf, ya. Maaf bikin kamu sakit hati."
Dalam pelukan Martin, kepala Juhoon mengangguk pelan. "Iya, aku juga sayang sama kamu. Jangan diulangin lagi ya, nanti aku sedih lagi."
Martin sedikit menjauhkan kepalanya dan menatap mata Juhoon dengan serius, "Aku janji ini nggak akan keulang lagi. Makasih udah maafin aku."
Senyuman tipis muncul di wajah Juhoon, ia mengangguk lagi. "Sama-sama."
Selanjutnya Martin mengecup bibir dan pipi Juhoon bergantian, sebelum ditutup dengan kecupan panjang di dahi Juhoon sebagai ucapan selamat malam.
