Actions

Work Header

Bride of the Cursed Castle

Summary:

Saat berlibur bersama keluarganya di daerah pegunungan, Chan tanpa sengaja menemukan kastil tua tersembunyi di tengah hutan.

Rasa penasaran membawanya pada sebuah ritual yang seharusnya tidak pernah ia lakukan.

Sekarang, empat pria terkutuk yang ia bangunkan menganggap Chan sebagai istri mereka—dan tidak ada jalan keluar dari kastil itu.

Chapter 1: The Beginning of Desire

Chapter Text

Chan dan keluarganya sedang berlibur di sebuah vila di kawasan pegunungan. Liburan panjang kali ini membuat keluarganya memutuskan untuk mencari suasana yang lebih sejuk dan tenang daripada hiruk pikuk di kota.

 

Udara dingin di tempat villa Chan menginap di sore hari itu terasa menusuk sampai ke tulang, membuat Chan berkali-kali meniup telapak tangan sendiri sebelum mendekatkan jaket tebalnya.

 

Baginya, ini adalah pengungsi yang dia butuhkan.

 

Villa yang disewa keluarganya terletak agak terpencil, jauh dari keramaian, dengan pemandangan hutan pinus yang lebat tepat di sisi bangunannya.

 

Chan melangkah keluar dari teras vila, membiarkan sandal tipisnya menginjak rerumputan yang mulai basah oleh embun. Chan cuma bermaksud mencari angin sebentar karena merasa bosan di dalam vila.

 

Namun, entah kenapa, matanya seolah-olah terlihat pada kegelapan di balik barisan pohon pinus.

 

Langkah kakinya seolah dituntun, semakin membawa jauh ke arah pepohonan. Semakin jauh dia berjalan, kabut mulai turun dengan cepat, menelusuri jejak vila di belakangnya.

 

Suasana jadi makin sunyi—bahkan suara jangkrik pun tiba-tiba hilang.

 

Tiba-tiba, di balik rimbunnya semak dan pohon-pohon tua yang meliuk aneh, Chan melihat sebuah bangunan yang sangat kontras dengan villa modern tempatnya menginap. Bangunannya tampak seperti sisa-sisa kastil tua. Dindingnya yang terbuat dari batu hitam tertutup lumut tebal dan tanaman merambat yang melilit kuat.

 

Logikanya bilang ' kembali  ke villa sekarang ', tapi ada rasa penasaran yang menggelitik di ulu hatinya, mengalahkan rasa takut yang mulai merambat di tengkuknya.

 

"Cuma lihat sebentar," gumam Chan meyakinkan dirinya sendiri. Suaranya terdengar kecil, kabut segera hilang hilang.

 

Dia mendorong pintu kayu berat yang sudah miring. KREEEET ... Suara engsel yang berkarat itu membuat Chan berjengit, bahunya naik secara spontan karena kaget.

 

Begitu kaki Chan melangkah masuk, dia tersentak hingga hampir terjajar mundur.

 

Alih-alih ruang tamu yang berantakan atau penuh debu dan bau apek, di hadapannya terbentang sebuah lorong panjang yang bersih dan sangat mewah. Bau wangi kayu gaharu dan melati samar tercium di udara, hangat dan memabukkan. Obor-obor di dinding menyala secara otomatis dengan api biru keemasan, berakhirnya jalan berbatu yang seolah-olah mengundangnya untuk masuk lebih dalam.

 

"Halo... Apa ada orang?"

 

Tak ada sahutan. Suaranya menggema, memantul dari dinding batu ke dinding batu lainnya hingga ujung lorong.

 

Chan meremas ujung jaketnya, jari-jarinya gemetar, tapi rasa ingin tahunya justru semakin menjadi-jadi.

 

Dengan nafas yang mulai pendek, Chan berjalan perlahan. Setiap langkahnya menimbulkan suara tuk-tuk yang teratur di lantai batu. Tidak ada apapun yang menarik di sepanjang lorong, kecuali keheningan yang terasa berat, seolah-olah dinding-dinding itu sedang memperhatikannya.

 

Sampai akhirnya, dia sampai di sebuah ruangan melingkar yang sangat besar—ruangan utama kastil tersebut. Di sana, suasana berubah. Langit-langitnya sangat tinggi, hampir tak terlihat titik di kegelapan.

 

Empat buah peti mati berdiri tegak, mengelilingi ruangan itu seperti penjaga yang membisu.

 

Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.

 

Chan mendekat ke salah satu peti, jemarinya yang gemetar mencoba mencari celah di pinggiran kota yang tertutup. Ia menarik napas dalam, lalu mencoba menarik tutup peti itu dengan seluruh tenaganya sampai wajahnya memerah.

 

Namun, peti itu tetap bergeming, seolah terkunci rapat oleh kekuatan gaib yang tak kasat mata.

 

"Keras sekali," gumam Chan menyerah.

 

Karena gagal membuka peti, perhatian Chan teralihkan pada sebuah meja batu yang terletak tepat di pusat aula. Di atas meja itu, ada sebuah benda yang membuat dahi Chan berkerut sekaligus membuat wajahnya memanas. Sebuah benda yang panjang, tegak, dan memiliki bentuk yang sangat akrab di mata—menyerupai penis buatan yang ia simpan rahasia di rumahnya.

 

Chan mendekat, tangannya gemetar saat mencoba menyentuh benda itu.

 

"Empuk..." bisiknya.

 

Teksturnya sangat mirip dengan kulit manusia, lengkap dengan urat-urat menonjol yang terasa nyata di bawah jemarinya. Namun bedanya, benda ini terasa lebih besar dan kokoh, seolah-olah memiliki nyawa tersendiri.

 

Ia kemudian menunduk, memperhatikan detail ukiran-ukiran yang ada di permukaan meja batu tersebut.

 

Napas Chan tertahan.

 

Ukiran itu menggambarkan seorang wanita yang duduk di atas meja ini, membiarkan benda pusaka tersebut mengisi vaginanya sampai dalam.

 

Di panel ukiran selanjutnya, Chan melihat pemandangan yang lebih gila, begitu benda itu masuk, peti-peti yang tadinya terkunci rapat tiba-tiba terbuka, tumpukan tumpukan emas, permata, dan perhiasan berlian yang berkilauan.

 

Chan menoleh sebentar, matanya bergantian menatap peti-peti yang membisu itu dan benda di hadapannya. Ia merasa ruangan itu tiba-tiba menjadi sangat sempit dan panas.

 

"Kalau aku coba... apa harta karun itu benar-benar akan keluar?"

 

Chan menarik nafas panjang sampai dada membusung, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian pembohong.

 

Tangannya perlahan meraih benda itu, merasakan lingkarannya yang jauh lebih besar dan kokoh dibandingkan miliknya di rumah. Ukurannya yang dominan seolah-olah sedang menantang Chan. Chan merasakan bagian bawahnya berdenyut nyeri, sebuah sensasi panas mulai mengalir ke area sengkangnya.

 

Sebagai laki-laki istimewa yang memiliki anatomi tubuh berbeda, ada dorongan aneh yang muncul di ingatan. Antara keinginan untuk mencoba sensasi baru dan janji akan harta yang terpampang di ukiran itu.

 

Dengan tekad yang sudah bulat namun tangan yang masih gemetar, akhirnya Chan menurunkan celananya hingga jatuh di sekitar mata kaki. Sambil sesekali melirik ke arah empat peti yang masih tertutup rapat seolah takut ada yang mengawasinya, Chan membiarkan bagian bawah tubuhnya terekspos sepenuhnya di tengah ruangan yang sunyi itu.

 

Udara dingin kastil yang menyentuh kulit polosnya membuat Chan sedikit berjengit, bulu kuduknya berdiri bukan hanya karena suhu, tapi juga karena adrenalin.

 

Chan duduk di pinggiran meja, ia mengangkat satu kakinya. Jemarinya yang ramping mulai bekerja, menyentuh dirinya sendiri dengan gerakan memutar yang lembut. Ia mencoba merangsang lubrikasi alami agar bagian bawahnya siap menerima benda besar itu.

 

"Ahhh... ssttt..."

 

Desahannya menggema, memantul di dinding-dinding batu tinggi dan pilar-pilar megah ruangan itu. Gema suaranya seolah memberi nyawa pada ruangan yang tadinya mati.

 

Semakin ia bermain dengan dirinya sendiri, semakin suaranya memenuhi setiap sudut, seolah-olah kastil itu sendiri sedang mendengarkan tiap nada gairah yang Chan keluarkan.

 

Chan memejamkan matanya erat, kepalanya mendongak saat ia merasakan sensasi panas mulai menjalar dari sentuhan tangannya sendiri.

 

Di bawah cahaya obor yang remang-remang, kulit Chan tampak berkilau karena keringat tipis yang mulai muncul, menciptakan kontras yang indah dengan meja batu yang dingin di bawahnya.

 

Setelah merasa cukup basah dan siap, Chan bangkit berdiri di atas meja batu itu dengan kedua kaki yang terbuka lebar, memposisikan dirinya tepat di atas benda misterius tersebut.

 

Ia sempat terdiam sejenak, menatap benda itu dengan napas yang memburu.

 

Dengan gerakan perlahan, Chan menepuk pelan permukaan benda tersebut—semacam gestur untuk membebaskannya dari debu yang tak terlihat sekaligus untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini benar-benar terjadi.

 

Jemarinya yang gemetar kini meraih batang benda besar itu untuk mengarahkan posisinya. Dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Chan mulai menurunkan tubuhnya, menekan benda itu agar masuk ke dalam lubangnya.

 

Begitu ujung benda yang tumpul dan besar itu menyentuh bibir lubangnya, rasa penuh yang luar biasa langsung menghampiri, membuat Chan tersentak kecil.

 

"Nghhh... ahh..."

 

Chan memejamkan matanya erat-erat sampai bulu matanya bergetar, sementara kepalanya mendongak ke arah langit-langit kastil. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan erangan saat ia memaksa tubuhnya sendiri untuk terus turun, membiarkan benda kokoh itu masuk inci demi inci hingga memenuhi dirinya sampai ke dalam. Otot-otot di paha dan perutnya menegang hebat. Rasa penuh yang mendesak dari dalam membuat napas Chan semakin pendek dan tidak beraturan.

 

Tangannya mencengkeram pinggiran meja batu dengan sangat kuat sampai buku-buku jarinya memutih, mencari tumpuan saat ia merasakan sensasi yang begitu dominan dan nyata, seolah benda itu memang diciptakan khusus untuk merengkuh bagian terdalam tubuhnya.

 

Begitu seluruh batang benda itu terkubur di dalam dirinya, Chan terduduk diam sebentar, mencoba mengatur napasnya yang memburu.

 

Ia sempat mengedarkan pandangan ke sekeliling aula, berharap mendengar suara terbuka dari peti-peti itu. Namun, kuil itu tetap hening. Tidak ada peti yang terbuka, tidak ada emas yang keluar.

 

Anehnya, rasa kecewa Chan hanya bertahan sedetik.

 

Begitu dia merasakan bagaimana benda keras dan hangat itu memenuhi dirinya, Chan tidak lagi peduli pada perhiasan. Ia mulai menggerakkan pinggulnya naik dan turun, memacu dirinya sendiri pada benda pusaka tersebut.

 

"Ahh! Enak...rasanya beda...nghhh, lebih enak dari dildoku!"

 

Chan memejamkan mata rapat-rapat, mendongak dengan bibir yang terbuka. Setiap memancarkan urat-urat benda itu terasa seperti aliran listrik yang membakar sarafnya.

 

Chan sudah lupa kalau tujuan awalnya adalah mencari tahu tentang rasa penasarannya.

 

Sekarang, satu-satunya yang ia inginkan adalah merasakan betapa dalamnya benda ini bisa mengisi kekosongannya.

 

Chan tenggelam dalam dunianya sendiri, tidak menyadari bahwa meski peti-peti itu belum terbuka, udara di dalam kuil itu mulai bergetar hebat seiring dengan gerakan pembohong pinggulnya.

 

 

Sensasi dari benda besar itu benar-benar menghancurkan pelestarian Chan. Tekstur urat yang keras dan padat terus menggerus dinding vaginanya hingga titik sarafnya mencapai batas maksimal.

 

"NGHHH—AHHH!"

 

Tubuh Chan mengejang hebat di atas meja batu tersebut. Ia mengalami orgasme yang sangat dahsyat, jauh lebih kuat dari biasanya.

 

Cairan miliknya meluber keluar dari sela-sela penyatuannya dengan benda pusaka itu, membasahi ukiran lingkaran di permukaan meja batu.

 

Chan terkulai lemas, nafasnya tersengal-sengal dengan dada yang naik turun tak beraturan, sementara benda itu masih tertanam di dalam, mengisi penuh vaginanya yang masih berdenyut pasca klimaks.

 

Dalam keadaan lemas dan mata yang masih setengah terpejam karena sisa nikmat, Chan perlahan membuka matanya.

 

Suasana kuil yang tadinya hening kini berubah total.

 

BRAKKK! Suara gedebuk keras dan menyalakan kayu bergema di seluruh aula.

 

Satu per satu, peti yang mengelilingi ruangan itu terbuka lebar secara bersamaan. Namun, bukannya emas atau berlian yang keluar, sosok-sosok yang muncul dari dalam sana membuat Chan merinding.

 

Dari dalam peti-peti itu, muncul pria-pria tampan dengan perawakan yang sangat sempurna. Kulit mereka dicat putih seputih porselen, kontras dengan jubah hitam mewah yang menutupi tubuh tegap mereka. Mereka berdiri dengan aura yang sangat kuat, dan semuanya mengarahkan pandangan ke satu titik: Chan.

 

Chan engkol di atas meja.

 

Pemandangan dirinya yang berantakan, telanjang bagian bawah dengan vagina yang masih menelan benda pusaka itu, dan cairan yang meluber di mana-mana, menjadi tontonan bagi empat pasang mata yang menutupinya dengan mengoyak lapar.

 

Lapar yang mereka tunjukkan bukan karena ingin memangsa nyawa, melainkan nafsu yang sudah tertahan selama ratusan tahun.

 

"Sungguh Berbagai yang sangat menggairahkan, istriku."