Work Text:
"Kapan kau akan mengatakannya?"
Hari itu hujan, tetapi suara Umemiya bahkan lebih jelas dibanding rintik air yang mulai terdengar dari luar. Tatapan sendunya tertuju pada sosok Kaji yang duduk di sudut ruangan. Tatapan yang belum pernah dia berikan kepada orang lain, termasuk teman-temannya. Namun, hari ini Umemiya memberikan tatapan tersebut pada Kaji. Seolah-olah, dia sudah mengetahui nasib apa yang akan menimpa Kaji nantinya.
"Mungkin, Hiiragi akan mengerti jika kau memberitahu—"
Ucapan Umemiya terhenti di tengah jalan saat dia mendengar suara batuk yang keluar dari mulut Kaji. Adik kelasnya itu terus terbatuk-batuk tanpa henti selama sepuluh menit yang membuatnya tambah khawatir. Tak lama kemudian Kaji tertawa remeh. Tawanya terus menggema di ruang kelas yang sudah kosong.
"Lalu? Apa yang akan terjadi setelah aku memberitahunya? Apakah Hiiragi-san akan menyukaiku kembali?" Kaji menjawab dengan sinis. Mengabaikan rembesan darah yang mulai terbentuk di sudut bibirnya. Pun mengabaikan rasa sesak yang mulai membuatnya kesulitan untuk bernafas.
"Tapi kita juga tidak tahu bagaimana perasaan Hiiragi yang sebenarnya sebelum kau memberitahunya kan?"
Umemiya berusaha membujuk Kaji dengan alasan-alasan yang terdengar masuk akal, tetapi Umemiya langsung mengerti kalau itu adalah hal yang sia-sia saat suara Kaji kembali memotong ucapannya.
"Umemiya-san, memang apa yang kau ketahui tentang Hiiragi-san?"
Tatapan Kaji terlihat kosong. Walaupun Umemiya bisa mengetahui dengan pasti bahwa Kaji tidak menatapnya. Sebaliknya, mata Kaji hanya memandang hamparan kelopak tulip kuning dan osmanthus yang baru saja dia muntahkan.
"Kau tahu ... Aku tidak berharap dia membalas perasaanku," Kaji menjeda ucapannya. Dia hampir tersentak karena sengatan nyeri yang menjalar di seluruh dadanya.
"Aku juga tidak ingin memberitahunya. Tidak masalah jika dia tidak mencintaiku, tetapi bagaimana jika dia memintaku untuk operasi saja agar perasaan ini bisa menghilang?"
Tatapan Umemiya kian sendu saat memperhatikan kondisi Kaji. Sudut mulut anak itu sudah penuh dengan rembesan darah. Begitu pula dengan jari-jari tangannya yang kini sudah berwarna merah. Tubuh Kaji bergetar hampir seperti orang yang sedang kejang-kejang. Seolah-olah, dia berusaha sangat keras untuk menahan rasa sakitnya.
"Jadi, Umemiya-san, tolong jangan katakan apapun pada Hiiragi-san. Aku sudah membuatnya kerepotan selama ini. Jadi kali ini, aku yang akan bertanggungjawab dengan perasaanku sendiri. Aku akan terus membawa perasaan ini bahkan jika aku harus mati nantinya, tetapi tolong ... Tolong jangan katakan apapun pada Hiiragi-san. Tolong jangan memberitahu orang lain."
Permohonan Kaji terdengar lirih. Suaranya parau seperti habis menelan pecahan kaca. Umemiya tak sampai hati melihat kondisi adik kelasnya yang mengenaskan seperti itu, sehingga dia akhirnya menghampiri Kaji.
Umemiya memeluk tubuh ringkih Kaji dengan lembut. Juga menepuk kepalanya dengan ringan seolah sedang memberikan kenyamanan. Dia berusaha untuk mengabaikan betapa dinginnya kulit Kaji yang berada di bawah pelukannya. Juga mengabaikan deru nafas Kaji yang perlahan makin pelan.
"Lain kali bungamu akan tumbuh di tempat yang seharusnya. Lain kali bungamu akan serupa dengan tulip merah."
Umemiya menghentikan ucapannya ketika dia merasakan dada Kaji sudah berhenti bergerak. Kemudian, Umemiya menghela nafas—berusaha mati-matian untuk menahan tangisannya. Dia memeluk tubuh ringkih Kaji yang sudah lemas dengan lebih erat.
Mungkin tak lama lagi tubuh itu akan terbujur kaku tanpa kehidupan. Mungkin tak lama lagi semua orang akan merasa kehilangan. Namun, apa gunanya semua itu sekarang? Lagipula, Kaji hanya membutuhkan satu orang, tetapi semuanya sudah terlambat sekarang. Kaji tetap tidak akan kembali walau orang itu memiliki penyesalan.
"Lain kali, aku yakin kau akan memiliki lebih banyak waktu untuk menyatakan perasaan. Jadi, kali ini beristirahatlah dengan tenang."
