Actions

Work Header

Rating:
Archive Warnings:
Category:
Fandom:
Relationship:
Characters:
Additional Tags:
Language:
Bahasa Indonesia
Stats:
Published:
2026-01-08
Words:
2,261
Chapters:
1/1
Comments:
4
Kudos:
119
Bookmarks:
7
Hits:
2,824

Midnight Intrusion

Summary:

As a rich man, Renjun had faced many problems, but this one was beyond anything he had ever imagined. there was a robbery in his big house that night, but money wasn’t the only thing being taken away.

Notes:

people on twitter saw it first, follow @norenbliss on twitter if you love this work ⁠♡

(See the end of the work for more notes.)

Work Text:

Sebagai pengusaha sukses dan pria kaya, Renjun pastinya telah banyak mengalami berbagai jenis masalah. Entah itu pencurian data, penipuan investor, bahkan guna-guna dari kompetitor iri, dan sebagainya. Maka itu, ia tak pernah main-main soal keamanan, setidaknya 2 orang security terlatih selalu berjaga di rumahnya setiap hari. Rumahnya juga telah dipasangi sistem keamanan canggih, sejalan dengan bidang keahlian perusahaan yang dijalankannya.

Namun, tak ada yang bisa mempersiapkannya untuk hari itu.

Renjun dan keluarganya tengah tertidur nyenyak ketika tiba-tiba suara sesuatu yang pecah merasuk ke indra pendengarannya. Bagaikan tombol alarm, tubuhnya langsung menegang dan menyadari ada sesuatu yang salah. Sayangnya, sebelum sempat melakukan apapun, beberapa pria bertopeng dan bersenjata telah mendobrak pintunya dan menodongkan senjata api ke wajah mereka.

Renjun dan istrinya diseret ke ruang tamu lantai bawah, dimana 2 anaknya beserta seorang pembantu dan 2 security telah diikat bersamaan.

"Daddy! Help us, daddy!" Teriak kedua anaknya; Jun (7) dan Jia (5) ketika melihat kedua orang tua mereka ikut turun.

Tanpa diduga, seorang anggota rampok terdekat menampar kedua anak itu dengan keras. Suaranya menggema di ruangan, membuat mereka syok hingga otomatis terdiam.

Darah Renjun mendidih. Ia memberontak meski tangannya dicengkram erat, "Jangan begitu! Mereka hanya anak kecil, brengsek!"

Perampok yang mencengkram Renjun, yang diduga sebagai ketuanya, membisikkan dengan dingin. "Buat anakmu diam atau kami habisi sekarang juga." Ucap pria itu sambil menodongkan pistol di pelipis Renjun.

Istri Renjun, Laura, melotot panik melihat suaminya diancam dengan senjata api. Dengan tergesa-gesa ia ambil bicara, "Anak-anak, kesayangan mommy, sekarang kita nurut aja ya? Jangan bikin om-nya marah."

"I-iya sayang, jangan berisik ya apapun yang terjadi? Nyawa kalian bisa dalam bahaya. Kalau diminta diam, kalian diam, okay? Daddy baik-baik aja, mommy juga." Pria 34 tahun itu berusaha menenangkan anak-anak nya meski dirinya sendiri sebenarnya sudah gemetaran dan berkeringat dingin. Untungnya, anaknya langsung mengangguk paham. Terlihat jelas bahkan 2 bocah itu juga mencoba kuat dengan menahan rengekan mereka.

Sang istri kemudian dilempar ke kerumunan anak dan anak buah mereka yang diikat, sementara Renjun dihentak kasar dari kerah bajunya. "Kau. Tunjukkan brankas."

"Ba-baik. Akan kulakukan apapun, asal jangan sakiti keluargaku."

Anak dan istrinya kembali histeris ketika kepala keluarga mereka diseret dari kerahnya melalui tangga. Dari segala pilihan manusiawi, ketua rampok itu memilih membuatnya pontang panting di tangga bagaikan mainan tak berharga.

Bokong membentur setiap anak tangga, pinggang yang sesekali ikut terbentur dan leher yang agak tercekik. Meski begitu, ia tetap berusaha mengucapkan bahwa ia baik-baik saja di depan keluarga yang menyaksikan penyeretannya.

Setelah sampai di ruangan yang dituju, Renjun langsung dilempar ke depan brankas. "Buka!" Perintahnya tegas.

"Ba-baik, sebentar." Meski gemetaran, ia coba yang terbaik untuk mengetikkan kata sandi kotak penyimpanan itu.

"Ulur waktu atau pura-pura lupa sebentar saja, satu orang di bawah sana ditembak." Ancamnya dingin. Wajah Renjun dipenuhi horor mendengarnya.

"Ja-jangan. Sedang saya usahakan." Ia melanjutkan, namun jarinya yang gemetar, membuatnya kembali salah tekan. "Maaf, tidak sengaja, demi Tuhan. Bi-biar saya coba lagi."

"Waktumu satu menit lagi sebelum satu anggota rumah ini ditembak mati."

Dan ketika bunyi klik itu akhirnya terdengar, Renjun akhirnya bisa bernafas sedikit. "Ini! Sudah terbuka."

Tanpa mengulur waktu, si ketua dan satu anak buahnya langsung memasukkan segala isi brankas itu ke dalam tas mereka. Tak hanya gepokan uang, namun ada batangan emas dan juga file-file penting, yang sepertinya bernilai bahkan lebih dari 5 miliar yang diekspektasikan.

Renjun kira ini sudah berakhir, namun ia sadar dirinya salah besar ketika dirinya ditodong pistol dan dipaksa berjalan masuk ke kamar utama.

"Jaga pintunya." Titahnya pada sang anak buah yang masih menggenggam tas berat berisi miliaran rupiah itu.

"Baik, bos."

Setelah di dalam kamar, Renjun langsung dilempar ke lantai. Wajahnya nyaris menghantam pinggiran ranjang jika saja tangannya tak menahan.

Apa ini waktunya?
Dia mau menghilangkan bukti dan mengeksekusi ku di sini?
Mereka sudah mendapatkan yang mereka inginkan. Apa aku akan dimusnahkan?

Dengan ketakutan itu, Renjun berbalik badan dan bersujud di bawah kaki sang ketua perampok, air mata tak mampu lagi ia tahan. "Tolong jangan bunuh saya. Ambillah apapun yang kalian inginkan di rumah ini, tolong biarkan saya hidup. Saya dan keluarga saya. Tolong pak, jangan bunuh saya." Ia sangat takut, untuk dirinya dan keluarganya. Tangannya tak henti-hentinya menangkup di depan dada dengan air mata yang berderai putus asa.

Namun, pria itu malah tersenyum padanya.

Renjun tak salah lihat. Renjun yakin pria itu sempat tersenyum padanya, meski ia tak tahu apa makna dibalik itu.

Pria bertopeng dengan figur tinggi, dada bidang, dan rahang tegas itu perlahan memasukkan pistol ke kantongnya. Lalu berjalan mendekat dan menyentuh dagunya.

"Bangun."

"Apa?"

"Jika mau hidup, turuti aku."

Renjun mengangguk cepat, air mata menetes ke wajahnya. " Iya, apapun. Sebutkan saja."

Daripada langsung melakukan sesuatu, ia malah tersenyum yang… dingin dan misterius. Melihatnya, sekujur tubuh Renjun merinding, hingga ia refleks bergerak mundur. Ia tak tahu apa, namun ia yakin itu bukan pertanda baik.

Ketua itu berjalan maju, dan Renjun juga terus mundur menghindar, hingga akhirnya punggung Renjun membentur dinding. Pria tersenyum lagi, yang lebih horor daripada sebelumnya.

Dan ketika tangan besar itu mencengkeram tubuhnya lagi, Renjun menutup mata sekeras mungkin, bersiap akan kemungkinan terburuk.

'Tuhan, ampuni aku jika aku mati sekarang' rapalnya dalam hati di setiap detiknya.

Namun bukannya peluru, melainkan sebuah sentuhan di bibir yang mendarat padanya. Sebuah ciuman yang melibatkan lidah mencoba menyusup masuk melalui bibir kecil Renjun yang bergetar. Mencuri nafas pria beranak dua itu seketika.

Tanpa menunggu reaksinya, pria itu kemudian membanting tubuh Renjun ke kasur dan menahan kedua tangannya di atas kepala.

Menarik diri sedikit, suara pria itu menggeram di wajahnya. "Inilah yang ku maksud dengan menurutiku." Bisiknya, mengelus leher dan rahang Renjun perlahan, mengirimkan sensasi elektrik ke seluruh tubuh. "Jangan melawan. Aku bisa membunuhmu hanya dengan satu peluru." dengan satu tangan yang melingkari leher Renjun, menjadi peringatan absolut bahwa pria ini yang memiliki kendali sekarang.

Dunia Renjun seketika berputar— Apa ini? Dari segala kemungkinan, kenapa pria ini menciumku?

Kebingungannya bertarung dengan ketakutan saat pria itu tiba-tiba menarik celana piyamanya. Kain itu melorot dengan mudah atas tarikan tegas pria itu di pakaiannya. Gerakan pria itu tergesa—apalagi ketika ia tarik kaki Renjun agar mendekat sepenuhnya padanya. Namun anehnya, ia tidak kasar. Hanya tegas, tapi tak membuat goresan dari sentuhan tangan pria itu di pahanya. Tak menyakiti, malah mengirim percikan tak terduga ke seluruh tubuh Renjun.

Kriminal berbadan gagah itu melucuti celananya sendiri, kemudian menarik baju Renjun, memperlihatkan tubuh halus yang bersinar di bawah sinar redup dan suhu sejuk. Pupilnya bergetar, pikirannya berteriak kabur namun tubuhnya membeku.

Sosok bertopeng itu menatapnya dalam, sebelum kemudian menunduk dan menciumnya lagi. Tangannya menangkup belakang kepala Renjun,, memastikannya tak kemana-mana. Lidah bermain lihai, menggigit dan menjilat hingga membuat Renjun secara refleks membukakan pintu untuknya menjelajah lebih dalam.

Bibirnya kemudian bergerak menjilat, menggigit lehernya. Mengundang satu rintihan tak sadar dari mulut manisnya. Pria di atasnya tersenyum puas.

Tak mungkin.
Ini tak mungkin terjadi.
Dia seorang kriminal.
Ini tindak kejahatan.
Aku seharusnya tidak menyerahkan diri.

Namun, cara lelaki itu menyentuhnya, seakan menyangkal label itu.

Kedua ibu jari bergerak melingkar di puting yang perlahan mengeras di bawah sentuhan, dan dengan mulut yang bertahan pada lehernya, Renjun tak bisa melawan refleks untuk tak melengkung ke arahnya.

Tidak ada kekerasan—mengejutkan. Hanya sentuhan yang terasa seperti menyembah setiap inci tubuhnya. Tanpa Renjun sadari, nafasnya memburu dan wajahnya memerah.

Jeno terus mengecup dan menjilat tubuh terekspos itu, dari leher, bahu, hingga ke dada dan perut.

Kenapa pria ini... begitu lembut? Dan cara pria itu menyentuhnya, seakan ini sesuatu yang telah ia impikan sejak lama.

Sebuah desah kembali lolos ketika pria itu dengan lembut menyentuh pucuk kemaluan Renjun dan memutar-mutar jempolnya di sana.

"Ahhh—Kenapa? Kenapa kamu lakukan ini?"

"Sshh... Obey me, baby."
"Atau mau, anak istrinya tahu kamu lagi diapain sekarang?"

Renjun menggeleng cepat. "Jangan... tolong jangan."

Lelaki itu tersenyum dan mengusap rambut halus Renjun. "Jeno." Ia memperkenalkan diri tanpa diminta. "Ucapkan itu saat kau mendesah."

Dengan itu, ia merogoh kantongnya. Menemukan sebotol pelumas yang nampaknya memang ia siapkan sedari awal, dan melumuri jarinya dengan itu.

Renjun lebih dari tahu untuk membungkam mulutnya sendiri ketika jari pria itu mulai memasuki lubangnya. "Mhhrmhh!!!"

"Sshhh. Inhale, exhale..." Ucap pria itu sambil memasukan dan mengeluarkan jarinya secara beritme ke dalam Renjun. Anehnya, Renjun secara otomatis menuruti setiap perkataannya.

Ketika dilihatnya wajah itu tak terlalu tertekuk lagi, Jeno memasukkan jari kedua. "Terus, breath regularly, yeah, like that." Bisik Jeno di telinga Renjun.

Di jari ketiga, Renjun harus menggigit bibirnya sendiri untuk menahan desah yang terlalu sulit untuk ditahan.

Sang perampok menampar pantatnya sebelum memasukkan penis besar yang telah dilumuri gel itu ke dalam.

Tubuh Renjun seketika melengkung. Sensasi ini, jauh lebih dahsyat dari 3 jari tadi. Tiada apa-apanya dibanding ini. Ia melenguh putus asa ketika dilihatnya bahkan penis itu belum masuk sepenuhnya. Jeno menyeringai melihat reaksinya.

Dan ketika akhirnya masuk sepenuhnya, tubuh Renjun serasa terbelah dua, perih memenuhi lubang analnya yang tak pernah merasakan sentuhan seperti ini sebelumnya. Air mata tercipta dari betapa menyakitkan saat penis itu menembus dirinya. Renjun terengah-engah, mencoba sekuat tenaga untuk tak berteriak.

Namun rasa takut dan malu melebihi segalanya. Ia tak bisa membuat keluarganya tahu apa yang sedang ia alami di ruangan ini. Maka, ia menyumpal mulut dengan tangannya sendiri untuk meredam teriakan.

Jeno tersenyum melihat Renjun seakan sudah memahami keadaan dan bisa berinisiatif sendiri.

"Good boy," Usapnya di wajah Renjun, setelah penisnya berhasil masuk sepenuhnya.

Satu tangan mencengkram pinggang Renjun, satu lagi menggenggam sebelah kaki Renjun ke atas. Jeno kemudian bergerak perlahan, menyesuaikan diri dengan dinding anal Renjun yang menyambutnya dengan kenikmatan hakiki. Jeno menggigit bibirnya, menahan diri untuk tak bergerak kasar di awal.

"Kita pelan dulu," ucapnya menahan nafas. "Ughh, fuck...."

Napas Renjun tersendat.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Kenapa perampok ini memperlakukanku begini?
Dan mengapa sentuhan ini, daripada violasi, lebih terasa seperti pemujaan oleh kekasih?

Kepala Renjun pusing. Oleh segala kemungkinan, oleh segala sentuhan pria itu di tubuhnya.

Tanpa ia sadari, pemikiran tadi lewat di kepalanya saat ia menatap ke mata Jeno, yang juga menatapnya tak kalah dalam. Ada gairah besar dan sesuatu yang tersembunyi di dalam sana.

Bulir keringat dari dahi Jeno jatuh ke dada Renjun. Aroma maskulin memenuhi indra penciumannya, nafas panasnya menggelitik leher.

Jeno menciumnya lagi ketika pandangan mereka terkunci ke satu sama lain.

Renjun tak mengerti lagi. Ini tindakan kriminal. Tapi kenapa setiap dorongan Jeno terasa seperti pemujaan? Kenapa tubuhnya menyambut? Yang paling mengerikan bagi Renjun adalah saat dimana kakinya secara otomatis membuka lebih lebar, seakan ingin mempermudah akses Jeno meraihnya.

“Fuck… so tight,” desis Jeno, satu tangan mencengkram pinggang Renjun, satu lagi mengangkat kakinya lebih tinggi. “Lihat ini… lubangmu menghisap ku seperti tak mau lepas. Kamu mungkin takut, tapi tubuhmu jujur, Renjun.” Renjun menangis pelan. Bukan karena sakit, tapi karena kenikmatan yang memalukan.

Jeno menunduk, menciumnya dalam-dalam sambil terus menggoyang pinggulnya. Semakin cepat dan intens, dorongan pendek yang tepat mengenai titik sensitif Renjun berulang kali. “You’re so perfect—haaa… baby…”

"Ahh.... ahh..." desah Renjun perlahan. Ia menutup matanya malu ketika rintihan sensual itu terus keluar menghancurkan harga dirinya. Tapi menahannya, jauh lebih sulit daripada mengeluarkannya.

"Jeno. Sebut namaku, sayang."

"Jeno—ahhh... Kenapa... kamu lakukan ini, ke aku?"

Jeno fokus pada rintihan dan mengabaikan pertanyaannya. "Iya hhhh, begitu. That's it, baby. Moan my name."

Jeno mempercepat gerakannya setelah Renjun berhasil mendesahkan namanya. Setiap tarikan nafas, setiap desah, menjadi bahan bakar Jeno untuk bergerak lebih liar.

Renjun merasa mulas setiap melihat pemandangan penis itu memenuhinya. Menimbulkan tonjolan bergerak di perut ratanya. Belum lagi suara tepukan kulit basah yang panas.

Namun dari semua suara di ruangan, desah Renjun tetap menjadi yang bervolume paling besar dan memalukan.

Mereka kadang mengatasinya dengan ciuman, kadang juga Renjun sendiri telah mengerti untuk meredamnya dengan menggigit pundak Jeno ketika sensasi di tubuhnya terlalu membanjiri dan memaksanya untuk menjadi terlalu vokal. Meninggalkan bekas di pundak kekar itu.

Satu tangannya melingkari leher Jeno, sedangkan satunya lagi mencengkram sprei sekuat tenaga seakan dirinya akan benar-benar terbelah dua jika ia melepas sedikit saja.

Di momen itu, Renjun bukan lagi sosok suami yang cerdas dan tangguh, bukan lagi sosok ayah yang keren dan dijadikan teladan.

Ia hanya seorang lacur untuk seseorang yang menerobos segala teknologi dan keamanan rumahnya. Seseorang yang begitu perkasa yang membuatnya tak berdaya.

Dan ketika Jeno membawa tangannya untuk memeluknya sepenuhnya, mendekap tubuh bidang itu sambil menerima setiap dorongan penuh rasa, Renjun tahu harga dirinya telah mati.

“Yeah, cling to me like I'm your lifeline, baby.” bisik Jeno serak di telinganya. Ia menampar pantat Renjun lagi, dua kali, cukup keras hingga meninggalkan rasa perih yang nikmat. “You love it, don’t you? Love my cock inside you.”

Renjun hanya bisa menggeleng lemah. Senikmat apapun sensasi itu di tubuhnya, ia tak bisa mengakuinya. Meski seluruh tubuhnya panas, meski ia akan hilang akal jika Jeno berhenti bergerak sedetik saja, meski tubuhnya terus mengkhianatinya.

Seperti kini, kepalanya terlempar ke belakang berkali-kali setiap kali Jeno mendorong lebih dalam. “Ampuni aku, Jeno… ahh—ampuni aku…”

Sensasi itu terlalu kuat.
Terlalu unik.
Sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Setelah 30 menit penuh kenikmatan yang memalukan, Renjun mencapai klimaks duluan. Cairan putih membasahi perutnya sendiri dan sedikit ke wajah Jeno yang berada di antara kakinya. Tubuhnya kejang, dinding anal meremas kuat penis Jeno hingga membuatnya menggeram menggila. “Fuck…”

Jeno menarik Renjun dari pinggulnya, untuk memastikan lubang itu menerimanya lebih dalam. Yang lebih kecil pun melenguh ketika hangat itu mulai menyemprot ke dalamnya, membuatnya basah dan penuh.

Nafasnya tersengal, namun tatapannya penuh kepuasan. Jeno tersenyum dan menampar wajah manis itu pelan. Hanya perlahan, bukan untuk menyakiti.

Ia kemudian menyatukan dahi mereka, dan berbisik di telinganya, "Come to me for every 100 million returned."

Cairan putih seketika membasahi paha mulusnya ketika pria itu menarik diri. Renjun hanya bisa terdiam. Otaknya tak bisa memproses apapun lagi. Tidak setelah sentuhan pria itu di tubuhnya, tidak setelah bisikan tidak masuk akal itu di telinganya.

Notes:

Klo rame lanjut part 2