Work Text:
Kalau kalian bertanya-tanya apa kelemahan Kak Juhoon, sudah tentu aku terlalu bisa menjawab, terlalu mengetahui dan kali ini akan aku bagi satu rahasia lain yang sangat menyenangkan. Kak Juhoon memiliki kelemahan tentang lidahku, kakakku yang cantik itu akan merinding kemudian jatuh lemas ke dalam pelukan ketika sedikit saja ujung lidahku bertemu dengan kulitnya. Bagaimana caranya aku bisa tahu tentu dari banyak sekali permainan kami yang melibatkan lidah juga kulit bersentuhan satu sama lain. Aku ingat sekali suatu hari sedang main game di ruang tengah, ada Mama yang suapi Kak Juhoon mangga dan aku merajuk kecil karena hanya Kakakku yang diberi mangga sedangkan aku tidak, jadi Mama suruh aku agar lebih mendekat—duduk di sebelah Kak Juhoon agar bisa bergantian disuapi. Tapi lama kelamaan di dekat Kakak aku jadi sedikit tidak fokus, aroma parfumnya sungguh manis apalagi pada lehernya yang imut … bau itu sedikit menyengat dan aku jadi penasaran bagaimana rasanya di lidah. Aku tahu … kembali ke aturan awal, tidak ada orang waras yang mau menjilat leher kakaknya sendiri tapi karena aku jauh dari kata itu, maka sepertinya mudah saja melakukan semua hal yang aku inginkan. Jadi aku menunggu Mama untuk mencuci piring bekas mangga kami, kemudian dalam sekali tarikan nafas aku langsung menghapus jarak dengan Kak Juhoon supaya bisa menyapukan lidah pada lehernya yang pucat.
Lembut, sedikit manis dan asin kemudian harum karena parfum beraroma permen masih menusuk di rongga hidung. Kejadian itu begitu cepat, aku tidak mau Mama sampai menemukan kami dalam keadaan tidak wajar terutama karena Kak Juhoon malah meloloskan desahan pelan hingga aku membekap mulutnya dengan telapak tangan. Jejak basah menghiasi leher, Kak Juhoon bersandar pada tubuhku dan aku hanya bisa berpura-pura tidak terjadi apapun hingga Mama pergi dari ruangan itu entah akan ke mana. “Bodoh … bagaimana kalau Mama tahu,” Kak Juhoon membenamkan wajah pada bahuku dan kami berakhir seperti orang tolol karena tertawa dengan konyol. Semenjak saat itu aku tahu kalau Kak Juhoon menyukainya, dia akan menjadi lemas jika terkena sapuan lidahku dan aku senang sekali menyapukan milikku padanya. Aku sayang Kak Juhoon, aku menyukai semua bagian dari Kak Juhoon termasuk jika itu hal yang lagi-lagi seharusnya tidak wajar. Kak Juhoon suka dimakan, Kak Juhoon suka ketika aku memainkan lidah pada kemaluannya yang berwarna merah muda pekat. Milik Kak Juhoon bukan seperti milikku, aku punya penis sedangkan Kak Juhoon vagina cantik yang selalu basah bahkan ketika aku tidak menggoda sekalipun.
Aku betah berlama-lama di sana, terutama ketika kami baru pulang sekolah dan dia belum pipis selama seharian, akan ada aroma khas yang lebih tajam dari lubang kencing dan klitorisnya jadi sensitif sekali. Kemarin, baru kemarin aku beri Kak Juhoon orgasme dari sana, menenggelamkan kepalaku di antara kakinya dan wajahku pada liang kemaluan, menyapukan lidah rata di sana-sini sambil menahan agar tidak terjepit oleh paha yang sesekali akan mengatup karena geli. “Sudah … sudah. Adik Keonho sudah.” Aku tahu dia serius, jika kata “adik” sudah terdengar, maka tinggal menunggu beberapa detik sampai akhirnya dia didatangi nikmat. Hari itu aku sengaja bermain sedikit nakal, mulutku tidak berhenti mengerjai dengan menyedot kuat pusat kenikmatan Kak Juhoon kemudian menggigitnya main-main. Klitoris itu berdenyut seperti marah, aku bisa merasakan kulit Kak Juhoon merinding dengan perut bawah mengeras dan desahan memenuhi ruangan—pertanda kalau pelepasannya akan sangat nikmat. Maka dengan sedikit menyeringai aku mempercepat tempo, menggesek hidung, mulut hingga seluruh wajah di kemaluan Kak Juhoon agar basah terkena cairan kemaluannya yang asin, selanjutnya mencubit puting susu dengan kedua tangan dan mulut fokus menghisap vagina.
mmpshhh
Aku keheranan, itu basah dan panas … ah, air seni membasahi Kak Juhoon dan lelaki itu malah semakin menjepit kepalaku dengan paha karena dilanda orgasme yang nikmatnya bertubi-tubi. Jadi karena tidak ada yang bisa dilakukan, aku minum air seni Kak Juhoon, menyatukan bagian dari tubuhnya kepada tubuhku sambil mengusir haus yang sedari tadi memang berada di tenggorokan.
